Seruan Masjid

Khadimul Ummah wa Du'at

MEWUJUDKAN NEGARA ADIDAYA EKONOMI YANG BERIDEOLOGI ISLAM

MEWUJUDKAN NEGARA ADIDAYA EKONOMI YANG BERIDEOLOGI ISLAM

cropped-dmdi-logo-warna.png

MEWUJUDKAN NEGARA ADIDAYA EKONOMI YANG BERIDEOLOGI ISLAM

MEWUJUDKAN NEGARA ADIDAYA EKONOMI YANG BERIDEOLOGI ISLAM

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى ۝١٢٤ (طه) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Dalam dinamika ekonomi global yang terus berubah, setiap kebijakan dari negara adidaya seperti Amerika Serikat selalu menjadi sorotan dan membawa dampak luas bagi banyak negara. Terlebih ketika kondisi ekonomi dunia sedang berada dalam ketidakpastian dan perubahan politik berlangsung begitu cepat, langkah strategis yang diambil oleh pemimpin dunia akan selalu menjadi bahan perbincangan dan evaluasi, baik dari sisi ekonomi, politik, maupun ideologi.

 

Presiden AS Donald Trump kembali menarik perhatian dunia dengan menerapkan kebijakan tarif impor baru bertajuk "Reciprocal Tariff" sejak 2 April 2025. Kebijakan ini menetapkan tarif minimum sebesar 10% untuk seluruh produk impor ke AS, dan tarif lebih tinggi untuk 57 negara, termasuk Indonesia. Trump menyatakan kebijakan ini bertujuan memperkuat ekonomi domestik, melindungi pekerja lokal, dan menciptakan persaingan dagang yang adil di tengah defisit ekonomi AS.

 

Meski tarif resiprokal lazim digunakan untuk menciptakan keseimbangan perdagangan antarnegara, kebijakan ini dinilai kontradiktif dengan semangat kapitalisme global yang menjunjung perdagangan bebas. Sebagai negara pengusung utama ideologi kapitalisme, AS tetap menggunakan pengaruh hegemoniknya untuk mendikte arah ekonomi global. Reaksi pun bermunculan, mulai dari perlawanan terbuka seperti Cina, hingga diplomasi aktif negara-negara Muslim seperti Indonesia, Turki, dan Malaysia melalui forum G-20 guna menegosiasikan kembali aturan main perdagangan internasional.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Saat ini, negeri-negeri Muslim tidak hanya menghadapi keterpurukan ekonomi, tetapi juga menjadi obyek dominasi negara-negara Barat kapitalis. Dunia Islam telah lama dijadikan sasaran penjajahan dan permainan ideologi asing, termasuk dalam bentuk penguasaan politik dan ekonomi. Barat tidak sekadar menjajah, tetapi juga mengubah negeri-negeri Islam menjadi sekuler, menjauhkan mereka dari sistem Islam yang hakiki. Karena itu, negara-negara adidaya kapitalisme menjadi sumber penderitaan bagi umat Islam, baik dalam bentuk intervensi militer maupun dominasi ekonomi.

 

Realitas ini menunjukkan bahwa sistem kapitalisme global telah terbukti merusak dan melumpuhkan potensi ekonomi umat Islam. Sejak runtuhnya institusi pemersatu umat, yaitu Khilafah Islam pada tahun 1924, negeri-negeri Muslim dipecah-belah dan dipaksa tunduk pada sistem ekonomi asing. Padahal, negeri-negeri Muslim memiliki kekayaan sumberdaya alam yang luar biasa. Namun karena dikuasai oleh kekuatan kapitalis-imperialis, rakyatnya tetap miskin dan negara-negara mereka terjerat utang ribawi. Dalam konteks perang tarif resiprokal yang digagas AS, negara-negara Muslim hanya menjadi korban tanpa daya tawar.

 

Jelas, kondisi ini bertentangan dengan apa yang Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ kehendaki. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:

...وَلَن يَجۡعَلَ ٱللَّهُ لِلۡكَٰفِرِينَ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ سَبِيلًا

”...Sekali-kali Allah tidak akan memberikan jalan kepada kaum kafir untuk menguasai kaum Mukmin.” (QS. an-Nisâ’ [4]: 141).  

 

Ayat ini menunjukkan bahwa kaum Muslim seharusnya tidak tunduk di bawah dominasi kaum kafir. Artinya, umat Islam wajib memiliki kemandirian, termasuk dalam hal ekonomi, agar tidak mudah ditekan dan bisa melakukan perlawanan yang setara terhadap dominasi negara lain.

 

Solusinya adalah dengan kembali kepada sistem ekonomi Islam yang diterapkan oleh Negara Khilafah. Sistem ini memiliki keunggulan komparatif yang tidak dimiliki oleh kapitalisme. Pertama, sistem moneter Islam berbasis pada dinar (emas) dan dirham (perak), mata uang yang memiliki nilai intrinsik dan stabil. Emas dan perak tidak bisa dicetak sembarangan, tidak mudah dimanipulasi, serta sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, sehingga menjamin kestabilan moneter.

 

Kedua, ekonomi Islam menekankan pada sektor riil, melarang riba, pajak, dan spekulasi. Sumber daya alam dalam Islam adalah milik umum yang harus dikelola negara untuk kemaslahatan bersama, bukan untuk kepentingan swasta apalagi asing. Dengan sistem ini, Negara Khilafah akan mandiri secara ekonomi dan mampu bertahan dalam konstelasi perdagangan internasional, termasuk menghadapi perang tarif seperti yang dilakukan AS terhadap negara-negara lain.

 

Jika negeri-negeri Muslim bersatu dan menerapkan sistem ekonomi Islam secara menyeluruh, maka Dunia Islam memiliki potensi besar menjadi adidaya ekonomi dunia. Dengan kekayaan sumber daya alam, bonus demografi, dan posisi strategis dalam jalur perdagangan global, Dunia Islam akan menjadi kekuatan ekonomi yang adil, seimbang, dan penuh berkah—berbeda jauh dari sistem kapitalisme yang eksploitatif dan merusak.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Melawan penjajahan Kapitalisme global adalah kewajiban mendesak bagi kaum Muslim saat ini. Perjuangan politik umat Islam di seluruh dunia harus dilandasi sudut pandang ideologis Islam untuk membangun kembali kekuatan Dunia Islam yang sejati. Penggalangan kekuatan ini tidak boleh bergantung pada negara kapitalis penjajah, tetapi harus dilakukan atas dasar ideologi Islam. Penegakan kembali Khilafah Islam wajib menjadi agenda politik global umat Islam, karena hanya melalui Khilafah umat dapat meraih kemerdekaan hakiki, kekuatan global, serta menyebarkan dakwah Islam ke seluruh dunia sebagaimana kejayaan peradaban Islam di masa lalu.

 

Sudah saatnya negeri-negeri Muslim bangkit dan berpegang teguh pada syariah Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ. Kejayaan hanya dapat diraih dengan menegakkan syariah Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ mengingatkan bahwa berpaling dari al-Quran akan membawa kehidupan yang sempit:

وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ

”Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Qur’an) maka sungguh bagi dia penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkan dirinya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thâhâ [20]: 124).

 

Sementara beriman dan bertakwa justru akan membuka keberkahan dari langit dan bumi.

وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ...

”Andai saja penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka aneka keberkahan dari langit dan bumi…” (QS. al-A’râf [7]: 96). Ketakwaan yang diwujudkan melalui penerapan syariah secara menyeluruh inilah yang akan menjadi jalan menuju kemuliaan dan keberkahan bagi umat Islam di seluruh dunia. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

GAZA TERUS BERSIMBAH DARAH, SOLUSINYA JIHAD DAN KHILAFAH

GAZA TERUS BERSIMBAH DARAH, SOLUSINYA JIHAD DAN KHILAFAH

cropped-dmdi-logo-warna.png

GAZA TERUS BERSIMBAH DARAH, SOLUSINYA JIHAD DAN KHILAFAH

GAZA TERUS BERSIMBAH DARAH,

SOLUSINYA JIHAD DAN KHILAFAH

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

وَاقْتُلُوْهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوْهُمْ وَاَخْرِجُوْهُمْ مِّنْ حَيْثُ اَخْرَجُوْكُمْ وَالْفِتْنَةُ اَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِۚ وَلَا تُقٰتِلُوْهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتّٰى يُقٰتِلُوْكُمْ فِيْهِۚ فَاِنْ قٰتَلُوْكُمْ فَاقْتُلُوْهُمْۗ كَذٰلِكَ جَزَاۤءُ الْكٰفِرِيْنَ ۝١٩١ (اَلْبَقَرَةُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Di saat umat Islam di seluruh dunia menjalankan ibadah Ramadhan dan merayakan Idul Fitri dengan penuh suka cita, penderitaan umat Muslim di Gaza justru semakin memilukan. Sejak 18 Maret 2025, agresi militer Zionis Yahudi kembali dilancarkan, menewaskan setidaknya 1.309 warga Palestina. Serangan membabi buta ini tidak hanya menyasar warga sipil, tetapi juga tenaga medis, jurnalis, dan relawan kemanusiaan. Suasana Ramadhan yang seharusnya penuh kedamaian berubah menjadi duka dan ketakutan yang tiada henti.

 

Blokade terhadap bantuan kemanusiaan yang diperketat semakin memperparah krisis di Gaza. Sebanyak 2,4 juta penduduk terancam kelaparan dan kekurangan obat-obatan, sementara rumah sakit dan fasilitas kesehatan telah hancur dihantam rudal-rudal penjajah. Warga Gaza kini berjuang untuk bertahan hidup tanpa akses medis yang memadai, di tengah runtuhnya infrastruktur dan minimnya perhatian dunia. Gaza terus menangis, sementara dunia nyaris membisu.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Siapa saja yang mengaku Muslim wajib memberikan pembelaan atas penderitaan yang dirasakan saudara seiman, termasuk kaum Muslim Gaza. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam telah berpesan:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman (dengan sempurna) hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. al-Bukhari No.13 dan Muslim No.45). Hadits ini menunjukkan bahwa kesempurnaan iman ditandai dengan rasa cinta dan kepedulian terhadap sesama Muslim. Kaum Muslim itu laksana satu tubuh. Jika satu bagian sakit, seluruh tubuh ikut merasakan (HR. al-Bukhari No.6011 dan Muslim No.2586).

 

Tidak selayaknya seorang Muslim mengabaikan penderitaan Muslim lainnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi, Allah akan mencela orang yang tak menjenguk saudaranya yang sakit, karena sebenarnya Allah ada bersama orang yang sakit tersebut (HR. Muslim No.2569). Maka, perhatian dan bantuan kepada Muslim Gaza bukan sekadar bentuk solidaritas, tetapi juga wujud keimanan. Wajib hukumnya membantu mereka dengan harta, tenaga, doa, dan seruan dakwah.

 

Derita Gaza akhirnya mengundang fatwa jihad melawan zionis Yahudi. Sekretaris Jenderal IUMS, Ali al-Qaradaghi, pada 4 April 2025 menyerukan agar negara-negara Muslim segera bertindak secara militer, ekonomi, dan politik untuk menghentikan genosida. Ia mengecam keras diamnya para pemimpin Arab terhadap tragedi Gaza sebagai bentuk kejahatan besar terhadap umat Islam.

 

Islam tidak mengajarkan penyelesaian melalui diplomasi kosong atau sekadar doa dari mimbar. Jalan syar’i untuk menghentikan penjajahan Zionis atas Gaza adalah jihad fi sabilillah. Allah berfirman:

فَمَنِ اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ

”Siapa saja yang menyerang kalian, seranglah ia secara seimbang dengan serangannya terhadap kalian.” (QS. al-Baqarah [2]: 194).

 

Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ juga memerintahkan untuk mengusir siapa pun yang telah mengusir kaum Muslim:

وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُم مِّنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ

”Perangilah mereka di mana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian.” (QS. al-Baqarah [2]: 191).

 

Qadhi Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa jihad menjadi fardu ‘ain saat negeri Muslim diserang. Bukan hanya kewajiban warga Palestina, tetapi juga Muslim di sekitarnya. Para penguasa negeri-negeri Muslim wajib mengerahkan pasukan untuk membantu Gaza. Allah pun berfirman:

وَإِنِ ٱسْتَنصَرُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ فَعَلَيْكُمُ ٱلنَّصْرُ

 

 ”Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama, kalian wajib memberikan pertolongan” (QS. al-Anfâl [8]: 72).

 

Ironisnya, yang terjadi justru sebaliknya. Para penguasa Arab dan Muslim menutup perbatasan, membiarkan pesawat tempur AS masuk, serta terus berdagang dengan entitas Yahudi. Mereka enggan menggerakkan kekuatan militer yang dimiliki. Diamnya mereka adalah bentuk pengkhianatan besar, dan pengabaian terhadap sabda Nabi:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

 

”Sungguh hilangnya dunia ini jauh lebih ringan bagi Allah dibandingkan dengan terbunuhnya seorang Mukmin tanpa haq.” (HR. an-Nasa’i No.3987 dan Tirmidzi No.1395). Ini adalah pengingat keras agar umat tidak tertipu oleh retorika kosong para penguasa tersebut.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Sesungguhnya nestapa penduduk Gaza mempertegas betapa rapuhnya umat tanpa perisai pelindung yang kuat. Lembaga-lembaga internasional seperti PBB, Liga Arab, dan OKI terbukti tak mampu menghentikan kebiadaban zionis Yahudi yang disokong penuh oleh Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Mereka justru menjadi pendukung utama dengan suplai dana dan senjata. Dalam kondisi seperti ini, umat Islam amat membutuhkan institusi pelindung sebagaimana sabda Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam, "Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai; orang-orang berperang di belakang dia dan berlindung kepada dirinya” (HR. Muslim No.1841). Imam an-Nawawi menjelaskan, Khalifah adalah tameng yang mencegah musuh menyerang dan menjaga keutuhan Islam dengan kekuatannya.

               

Oleh karena itu, derita Gaza, sebagaimana tragedi yang menimpa Muslim Uyghur, Rohingya, dan lainnya, tidak akan terselesaikan tanpa hadirnya Khilafah Islamiyah. Hanya Khilafahlah institusi pemerintahan yang diwajibkan oleh syariah dan mampu menyelesaikan krisis umat secara menyeluruh dengan menerapkan syariah Islam dan mengerahkan jihad fi sabilillah. Khilafah adalah perisai umat yang sejati, penjaga kehormatan kaum Muslim dan pelindung tanah suci Palestina. Sudah saatnya kaum Muslim bersatu menegakkan kembali Khilafah untuk melindungi agama, darah, dan kehormatan mereka. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

BUKTI KESUKSESAN RAMADHAN

BUKTI KESUKSESAN RAMADHAN

cropped-dmdi-logo-warna.png

BUKTI KESUKSESAN RAMADHAN

BUKTI KESUKSESAN RAMADHAN

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنࣖ ۝٩٩ (اَلْحِجْرُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah, yang telah memberikan kita kesempatan untuk menunaikan ibadah Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan. Shalawat serta salam kita haturkan kepada Rasulullah Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat, serta seluruh umatnya yang senantiasa mengikuti petunjuknya hingga hari kiamat.

Bertakwalah kepada Allah, sebagaimana kita taat kepada-Nya saat menjalani ibadah shaum Ramadhan. Takut melanggar larangan-Nya meski kita sendirian dan tak ada yang melihatnya. Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Sebulan penuh kita menjalankan puasa, menahan lapar, dahaga, serta mengendalikan hawa nafsu. Kini, Ramadhan telah berlalu, dan tibalah saatnya kita mengukur apakah Ramadhan kita benar-benar membekas dalam kehidupan kita.

 

Para ulama mengatakan bahwa tanda kesuksesan seseorang dalam menjalankan Ramadhan adalah keberlanjutan amal shalih setelahnya.

 

Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullâh menyatakan;

فَإِنَّ اللّٰهَ إِذَا تَقَبَّلَ عَمَلَ عَبْدٍ وَفَّقَهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ بَعْدَهُ
“Sesungguhnya Allah jika menerima amalan seorang hamba, Allah akan memberi taufik untuk melanjutkan amalan shalih setelahnya.” (Lathâif Al-Ma’ârif, hal. 388)

 

Jika setelah Ramadhan kita tetap menjaga shalat berjamaah, terus membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan menjaga lisan serta hati, serta ketaatan yang lainnya, maka itulah tanda bahwa Ramadhan kita berhasil.

 

Sebaliknya, jika kita bersikap kembali seperti sebelum Ramadhan, tetap tidak bisa mengendalikan hawa nafsu, mengabaikan perintah dan larangan Allah, mencampakkan Al-Qur'an, mengambil pedoman hidup dari orang-orang kafir, berarti kita gagal mencapai hikmah Ramadhan.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Penting kiranya kita belajar kepada generasi awal Islam menyikapi bulan Ramadhan. Para sahabat dan tabi’in bukan hanya beribadah dengan khusyuk selama Ramadhan, tetapi juga merasa sedih saat Ramadhan berlalu.

 

Diriwayatkan oleh Al-Hafidz Ibnu Rajab rahimahullâh mengutip ucapan seorang tabi’in Mu’alla bin Al-Fadhl rahimahullâh;

كَانُوا يَدْعُونَ اللَّهَ تَعَالَى سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُم رَمَضَانَ، وَيَدْعُونَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنْهُمْ

“Dulu mereka (para sahabat), selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan.”

(Lathâif Al-Ma’ârif, hal. 264)

 

Mereka memahami bahwa Ramadhan bukan hanya momen sesaat, melainkan madrasah keimanan yang membentuk karakter seorang Muslim sepanjang tahun. Imam Hasan al-Bashri rahimahullâh berkata, "Sesungguhnya Allah tidak menjadikan akhir amal seorang mukmin selain kematian." (Lathâif Al-Ma’ârif, hal.392). Artinya, tidak ada batasan dalam beramal shalih setelah Ramadhan.

 

Oleh karena itu, sebagai penerima amanah Allah di posisi kita masing-masing, kita harus mempertahankan spirit Ramadhan dalam sebelas bulan berikutnya.

 

Yang jadi pekerja, jadilah pekerja yang amanah. Yang jadi pegawai dan birokrat negara, laksanakan tugas dengan jujur, jangan ambil uang rakyat. Yang jadi penguasa, terapkan aturan Allah, jangan hanya bersumpah di bawah Al-Qur'an tapi meninggal isinya untuk diterapkan. Yang jadi kepala rumah tangga, penuhi amanah sebagai ayah kepada istri dan anak kita. Yang jadi rakyat biasa, taatlah kepada Allah di mana pun dan kapan pun. Ingat Allah selalu mengawasi kita.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Keberhasilan Ramadhan tidak terletak pada bagaimana kita beribadah saat itu, tetapi bagaimana kita tetap konsisten dalam amal shalih setelahnya.

 

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian.” (QS. Al-Hijr [15]: 99)

 

Maka dari itu, marilah kita terus menjaga amal shalih, memperbaiki diri, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah sepanjang tahun, sehingga ketika kita dipertemukan dengan Ramadhan berikutnya, kita telah menjadi pribadi yang lebih baik.

 

Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan memberikan kita keistiqamahan dalam kebaikan. Aamiin. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

TINGGALKAN KEGELAPAN KAPITALISME-SEKULER,  MENUJU CAHAYA ISLAM

TINGGALKAN KEGELAPAN KAPITALISME-SEKULER, MENUJU CAHAYA ISLAM

cropped-dmdi-logo-warna.png

TINGGALKAN KEGELAPAN KAPITALISME-SEKULER, MENUJU CAHAYA ISLAM

TINGGALKAN KEGELAPAN KAPITALISME-SEKULER,

MENUJU CAHAYA ISLAM

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إنَّ الْحَمْدَ لِلهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

الۤرٰۗ كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ەۙ بِاِذْنِ رَبِّهِمْ اِلٰى صِرَاطِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِۙ ۝١ (إِبْرَاهِيْمُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullâh,

Sebentar lagi kita akan meninggalkan bulan Ramadhan yang penuh berkah dan menyambut hari kemenangan, Idul Fitri. Ini adalah momen kebahagiaan bagi kaum Muslimin, bukan hanya karena kita kembali berbuka, tetapi juga karena Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ menjanjikan dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa: kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan saat bertemu dengan-Nya di Akhirat (HR. al-Bukhari dan Muslim).

 

Namun, kebahagiaan sejati bukan sekadar keberhasilan menahan lapar dan dahaga, melainkan ketika kita benar-benar mencapai derajat ketakwaan yang menjadi tujuan utama puasa (QS. al-Baqarah [2]: 183).

 

Sayangnya, kebahagiaan ini masih bercampur dengan kesedihan karena umat Islam masih hidup dalam sistem kapitalisme-sekuler yang mencabut keberkahan dan menjauhkan dari cahaya Islam. Negeri ini dirundung berbagai kezaliman: eksploitasi sumber daya alam oleh oligarki, korupsi yang menggerogoti ekonomi, kemiskinan yang makin parah, hingga dekadensi moral yang merajalela. Semua ini adalah akibat manusia yang menjauh dari aturan Allah:

 

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

”Telah nyata kerusakan, di daratan dan di lautan, karena ulah manusia. Dengan (kerusakan) itu Allah berkehendak agar manusia dapat merasakan sebagian akibat dari ulah mereka itu. Mudah-mudahan (dengan itu) mereka kembali (taat kepada Allah).” (QS. ar-Ruum [30]: 41).

 

Di tengah takbir yang akan segera kita kumandangkan, penderitaan umat Islam di berbagai belahan dunia masih berlangsung. Di Palestina, di Ramadhan ini Zionis Yahudi mengingkari perjanjian gencatan senjata dan menyerang kembali Gaza secara membabi buta. Derita yang sama dialami saudara kita di Myanmar dan Xinjiang, Cina.

 

Mereka tak ada yang menolong. Mereka berjuang sendiri. Sementara penguasa-penguasa Muslim yang bisa menggerakkan tentara untuk membela mereka, hanya menonton penderitaan mereka sambil berpesta di istana-istananya.

 

Sungguh kegelapan masih memayungi kehidupan umat ini. Sampai kapan kondisi ini akan berakhir? Sampai kapan kegelapan ini akan sirna?

 

Hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullâh,

Berakhirnya Ramadhan mestinya menjadi momentum bagi kita untuk sadar, bahwa kita harus bangkit. Kita harus tinggalkan berbagai aturan manusia yang membuat negeri kaum Muslim tercerai berai dan penuh derita.

 

Cukup sudah kita berkubang dalam lumpur kemaksiatan terbesar, yakni mengatur kehidupan dengan sistem kapitalisme-sekuler. Kita harus segera keluar dari kegelapan dunia ini menuju cahaya Islam yang menerangi.

 

Caranya tidak lain dengan bersegera menerapkan hukum-hukum al-Quran. Cukuplah firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berikut menjadi alasan:

اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ

”Apakah sistem hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik hukumnya dibandingkan dengan (hukum) Allah bagi kaum yang yakin?” (QS. al-Mâidah [5]: 50).

 

Islam diturunkan sebagai cahaya yang membimbing umat manusia dari kegelapan menuju kehidupan yang mulia. Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi pedoman hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Allah berfirman:

 

الۤرٰۗ كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ەۙ بِاِذْنِ رَبِّهِمْ اِلٰى صِرَاطِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِۙ

”Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrâhim [14]: 1)

 

Sejarah telah mencatat bagaimana Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam dengan Al-Qur’an berhasil mengubah bangsa Arab dari keterbelakangan menjadi pemimpin dunia. Dari kaum yang buta huruf dan penyembah berhala, mereka bertransformasi menjadi umat yang unggul dalam ilmu, peradaban, dan keimanan. Islam kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia, membebaskan manusia dari kezaliman dan membawa keadilan bagi semua. Dan inilah janji Allah kepada kita:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan buka atas mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’râf [7]: 96)

 

Hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullâh

Karena itu, hanya dengan menerapkan syariah Islam secara menyeluruh, umat ini dapat keluar dari kegelapan peradaban kapitalisme-sekuler dan meraih kembali kejayaan sebagaimana yang telah dicontohkan dalam sejarah Islam. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ telah menurunkan al-Quran sebagai pedoman hidup yang penuh berkah, sebagaimana firman-Nya yang artinya: ”Inilah Kitab al-Quran yang telah Kami turunkan dengan penuh keberkahan. Karena itu ikutilah al-Quran dan takutlah kalian (dari upaya menyelisihi al-Quran) agar kalian dirahmati (oleh Allah)” (QS. al-An’âm [6]: 155). Maka, sudah seharusnya kita menjadikan al-Quran sebagai landasan utama dalam setiap aspek kehidupan, baik secara individu, masyarakat, maupun dalam pemerintahan.

 

Oleh karena itu, sudah saatnya kita menyongsong kembali cahaya Islam, menegakkan kembali hukum-hukum Allah, dan mengembalikan ‘izzah kaum Muslimin dengan menegakkan Khilafah ‘alâ minhâj an-Nubuwwah sebagai pelaksana hukum Al-Quran. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

UPDATE INFORMASI TERBARU