Seruan Masjid

Khadimul Ummah wa Du'at

CARA ISLAM MENGENTASKAN KEMISKINAN

CARA ISLAM MENGENTASKAN KEMISKINAN

cropped-dmdi-logo-warna.png

CARA ISLAM MENGENTASKAN KEMISKINAN

CARA ISLAM MENGENTASKAN KEMISKINAN

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاۤءِ وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْعٰمِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالْغٰرِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَابْنِ السَّبِيْلِۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ ۝٦٠ (اَلتَّوْبَةُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Kemiskinan dan ketimpangan ekonomi masih menjadi tantangan serius yang membayangi kehidupan masyarakat Indonesia. Menurut Bank Dunia, sekitar 60,3% penduduk Indonesia atau sekitar 171,8 juta jiwa hidup di bawah garis kemiskinan internasional sebesar US$6,85 per kapita per hari (berdasarkan PPP 2017), standar yang digunakan untuk negara berpendapatan menengah atas seperti Indonesia sejak 2023 dengan GNI per kapita US$4.870. Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat kemiskinan nasional pada September 2024 hanya sebesar 8,57% atau sekitar 24,06 juta jiwa, berdasarkan garis kemiskinan nasional Rp595.242 per bulan. Perbedaan ini wajar karena perbedaan standar pengukuran, sebagaimana dijelaskan oleh Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti (Merdeka.com, 2 Mei 2025).

 

Selain kemiskinan, Indonesia juga menghadapi ketimpangan ekonomi yang sangat mencolok. Global Inequality Report 2022 menempatkan Indonesia sebagai negara keenam dengan ketimpangan kekayaan tertinggi di dunia, di mana empat orang terkaya memiliki kekayaan lebih besar dari total kekayaan 100 juta penduduk termiskin. Oxfam (2023) mencatat bahwa kesenjangan antara yang terkaya dan termiskin di Indonesia tumbuh lebih cepat dibandingkan negara lain di Asia Tenggara dalam dua dekade terakhir. Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah kemiskinan dan ketimpangan bersifat struktural, yang dipicu oleh penerapan sistem kapitalisme—seperti pencabutan subsidi BBM dan dominasi konglomerasi atas sektor strategis—serta lemahnya peran negara dalam menyediakan layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur bagi rakyat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Dalam Islam, kemiskinan tidak hanya dilihat dari sisi materi, tetapi juga dari kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (dharûriyyat) dengan cara yang menjaga martabat dan keimanan. Dalam al-Quran, orang miskin disebut sebagai faqîr dan miskîn, yang keduanya berhak menerima zakat. Firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ:

اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاۤءِ وَالْمَسٰكِيْنِ...

“Sesungguhnya sedekah itu hanya untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin...” (QS. at-Taubah [9]: 60).

 

Menurut Imam Ibn Katsir, faqir lebih membutuhkan dibanding miskin, sementara Abu Hanifah berpendapat bahwa orang miskin lebih parah kondisinya dibanding faqir. Syaikh Abdul Qadim Zallum menjelaskan bahwa fakir adalah orang yang penghasilannya tidak cukup untuk kebutuhan pokok, sementara miskin adalah orang yang tidak memiliki apa-apa dan tidak meminta-minta. Rasulullah bersabda:

لَيْسَ الْمِسْكِينُ الَّذِي يَطُوفُ عَلَى النَّاسِ تَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ وَلَكِنْ الْمِسْكِينُ الَّذِي لَا يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ وَلَا يُفْطَنُ بِهِ فَيُتَصَدَّقُ عَلَيْهِ وَلَا يَقُومُ فَيَسْأَلُ النَّاسَ

”Bukanlah orang miskin itu orang yang berkeliling (meminta-minta) kepada manusia, yang diberi sesuap dua suap, sebutir dua butir kurma. Akan tetapi, orang miskin adalah yang tidak memiliki kecukupan, namun tidak diketahui orang sehingga tidak diberi sedekah, dan tidak berdiri untuk meminta-minta kepada manusia.” (HR. Muttafaq ‘alaih).

 

Kemiskinan dan kefakiran dalam Islam diukur dari ketidakmampuan memenuhi kebutuhan hidup yang mendasar, seperti makan, pakaian, dan tempat tinggal. Dalam hal ini, orang miskin berhak menerima zakat hingga dapat mengangkat kemiskinannya dan mencukupi kebutuhannya (Zallum, Al-Amwâl, hal. 143). Kefaqiran dan kemiskinan yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Quran dan hadits ini menunjukkan bahwa kedua kondisi tersebut adalah hasil dari ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan dasar yang wajar dalam hidup.

 

Sistem ekonomi Islam menekankan prinsip keadilan (al-‘adl), yang menjadikan distribusi kekayaan merata sebagai tujuan utama. Islam menolak sistem yang hanya menguntungkan segelintir orang kaya (QS. al-Hasyr [59]:7) dan menekankan peran negara dalam mengelola sumber daya untuk kesejahteraan rakyat. Negara Islam atau Khilafah, bertanggung jawab untuk memastikan pemenuhan kebutuhan dasar setiap individu, termasuk pangan, sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan. Negara juga berperan aktif dalam sektor strategis seperti pertanian, perdagangan, dan industri untuk mencegah pemusatan kekayaan pada segelintir orang atau korporasi, sebagaimana ditegaskan oleh Al-Maliki dalam Politik Ekonomi Islam (2001).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Dalam Islam, cara mengentaskan kemiskinan dimulai dengan; Pertama, pengaturan kepemilikan yang adil. Al-Quran menegaskan bahwa harta tidak boleh hanya beredar di antara orang kaya saja. Firman-Nya :

كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةً ۢ بَيْنَ الْاَغْنِيَاۤءِ مِنْكُمْۗ

”...Agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian...” (QS. al-Hasyr [59]: 7).

 

Sumber daya alam seperti minyak, gas, dan tambang harus menjadi milik umum yang dikelola negara demi kesejahteraan rakyat, bukan dikuasai oleh individu atau korporasi. Sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan hari ini, yang menyerahkan pengelolaan aset strategis kepada individu atau korporasi, telah menyebabkan akumulasi kekayaan di segelintir orang, bertolak belakang dengan prinsip Islam yang menekankan kepemilikan umum dan pemerataan kekayaan (Syaikh Taqiyuddin an-Nabhâni, An-Nizhâm al-Iqtishâdi fî al-Islâm).

 

Kedua, mekanisme seperti zakat, infak, dan sedekah dalam Islam memastikan redistribusi kekayaan yang merata. Ketiga, setiap lelaki dewasa yang mampu wajib mencari nafkah sesuai dengan kemampuannya, sebagaimana firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ:

لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مِّنْ سَعَتِهٖۗ

”Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya...” (QS. ath-Thalâq [65]: 7).

 

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam juga menegaskan bahwa mencari nafkah halal untuk keluarga dan membantu tetangga maka ia akan datang pada Hari Kiamat dengan wajah bagaikan bulan purnama (HR. al-Baihaqi). Negara juga berperan penting dengan menyediakan lapangan kerja melalui kebijakan ekonomi yang berorientasi pada sektor riil seperti perdagangan, pertanian, dan industri.

 

Keempat, negara dalam Islam wajib menjamin pemenuhan kebutuhan dasar rakyat seperti pangan, sandang, papan, pendidikan, dan pelayanan kesehatan secara cuma-cuma. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus.” (HR an-Nasa’i).

Semua mekanisme ini hanya dapat terlaksana jika negara menerapkan syariah Islam secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan, yang seharusnya diwujudkan dalam pemerintahan, khususnya di negeri ini. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

PEMBATASAN KELAHIRAN BUKAN SOLUSI KEMISKINAN

PEMBATASAN KELAHIRAN BUKAN SOLUSI KEMISKINAN

cropped-dmdi-logo-warna.png

PEMBATASAN KELAHIRAN BUKAN SOLUSI KEMISKINAN

PEMBATASAN KELAHIRAN

BUKAN SOLUSI KEMISKINAN

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَاۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ ۝٦ (هُوْدٌ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Isu pengendalian angka kemiskinan di Jawa Barat sempat menjadi sorotan setelah Gubernur Dedi Mulyadi pada akhir April lalu merencanakan program bantuan sosial (bansos) dengan syarat partisipasi dalam program Keluarga Berencana (KB), khususnya bagi pria. Dedi meyakini bahwa tingginya angka kemiskinan berkaitan erat dengan jumlah anak yang banyak pada keluarga prasejahtera. Ia menyebut banyak warga miskin di Jawa Barat memiliki lebih dari dua anak. Namun, rencana tersebut menuai kritik dari berbagai pihak, termasuk Komnas HAM dan MUI, karena dianggap tidak sensitif dan melanggar hak asasi. Menanggapi hal itu, Dedi kemudian memberikan klarifikasi bahwa KB tidak harus dilakukan melalui vasektomi, tetapi bisa dengan berbagai metode yang sesuai nilai-nilai masyarakat.

Dalam dunia medis, dikenal dua prosedur untuk menghentikan kemampuan reproduksi pria, yakni kebiri dan vasektomi. Keduanya membuat pria tidak dapat lagi menghasilkan sperma untuk membuahi sel telur. Bedanya, kebiri dilakukan dengan mengangkat testis, sedangkan vasektomi hanya memutus saluran sperma (vas deferens) tanpa mengganggu fungsi seksual.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Islam sebagai agama yang sempurna memiliki panduan yang jelas terkait perencanaan kelahiran dan batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar. Dalam Islam, baik kebiri (al-ihshâ’) maupun vasektomi dihukumi haram karena keduanya merusak kemampuan reproduksi secara permanen. Keharaman kebiri ditegaskan dalam hadits riwayat al-Bukhari ketika Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam melarang para sahabat yang ingin dikebiri saat berperang tanpa istri. Islam justru mendorong umatnya untuk menikah dan memperbanyak keturunan, sebagaimana sabda Nabi;

تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ، إِنِّي مُكَاثِرٌ الْأَنْبِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

”Menikahlah kalian dengan wanita penyayang dan subur (berpotensi melahirkan anak yang banyak). Sungguh aku akan membanggakan diri (dengan sebab banyaknya jumlah kalian) di hadapan para nabi pada Hari Kiamat” (HR. Ahmad No.12808).

 

Ulama seperti Imam Al-Imad bin Yunus rahimahullâhu juga melarang pasangan suami-istri mengambil tindakan medis untuk mencegah kehamilan secara permanen. Meskipun vasektomi dapat dioperasi ulang, peluang kehamilan tetap kecil dan biayanya mahal.

Program vasektomi dan tubektomi termasuk bentuk pembatasan kelahiran (tahdîd an-nasl) yang hukumnya haram, terlebih bila dipaksakan oleh negara kepada rakyat. Pemaksaan semacam itu dianggap bentuk kezaliman. Islam tidak melarang pengaturan kelahiran (tanzhîm an-nasl) selama dilakukan atas kesepakatan pasangan suami istri, dengan tujuan yang dibenarkan secara syar’i seperti menjaga kesehatan ibu atau mengatur jarak kelahiran anak demi kesejahteraan keluarga. Dalam hal ini, pengendalian kelahiran boleh dilakukan secara temporer.

Syariah membolehkan metode ’azl (senggama terputus), sebagaimana diriwayatkan dari Jabir radhiyallâhu ’anhu bahwa para sahabat melakukan ’azl di masa Rasulullah dan tidak dilarang (HR. Muslim No.1440). Maka, penggunaan alat kontrasepsi modern seperti kondom, IUD, pil atau suntik KB juga dibolehkan selama tidak membahayakan kesehatan. Jika menimbulkan mudarat, harus dihentikan dan diganti metode lain. Keputusan KB tetap menjadi hak pasangan, bukan kebijakan yang memaksa, apalagi dijadikan syarat untuk mendapat layanan negara.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Anggapan bahwa pertambahan jumlah anak atau populasi menjadi penyebab kemiskinan adalah pandangan keliru yang bersumber dari teori Malthus, yang menyatakan populasi tumbuh lebih cepat daripada produksi pangan. Teori ini tidak terbukti, bahkan bertentangan dengan akidah Islam yang meyakini bahwa rezeki setiap makhluk telah dijamin oleh Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ, sebagaimana firman-Nya:

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَاۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

”Tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah Yang memberi rezekinya. Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Hûd [11]: 6).

 

Dalam ayat lain, Allah melarang membunuh anak karena takut miskin:

 

وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ اِمْلَاقٍۗ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَاِيَّاكُمْۗ اِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْـًٔا كَبِيْرًا

”Janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin. Kamilah Yang akan memberikan rezeki kepada mereka dan kepada kalian. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (QS. al-Isrâ’ [17]: 31). Karenanya, perencanaan ekonomi tidak boleh didasarkan pada ketakutan terhadap jumlah penduduk.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Sesungguhnya penyebab utama kemiskinan adalah penerapan sistem kapitalisme yang rusak, yang memungkinkan kekayaan hanya dikuasai segelintir elit. Menurut Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), 50 persen aset nasional dikuasai oleh 1 persen orang kaya di tanah air, dan pada saat yang sama 60 juta warga (menurut Bank Dunia) jatuh miskin dan ada 7,8 juta pengangguran. Kekayaan alam dieksploitasi tanpa menyejahterakan rakyat sekitar, seperti yang terjadi di Sulawesi Tengah. Ketimpangan ekonomi ini memperparah kemiskinan, sementara negara justru menyalahkan rakyat miskin karena memiliki banyak anak, bukannya memperbaiki distribusi kekayaan dan menyediakan jaminan kesejahteraan sebagaimana mestinya.

Sudah cukup bukti bahwa kemiskinan dan kesengsaraan umat hari ini bersumber dari penerapan ideologi kapitalisme yang batil. Karena itu, sudah saatnya ideologi ini ditinggalkan dan digantikan dengan Islam, satu-satunya ideologi yang haq dan paripurna. Islam sebagai sistem kehidupan menawarkan solusi nyata dan membawa keberkahan serta ridha Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ jika diterapkan secara menyeluruh. Bukankah derita umat saat ini cukup menjadi pelajaran? Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍ

”Musibah apa saja yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan kalian sendiri, sementara Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian).” (QS. asy-Syûrâ [42]: 30). WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

INDONESIA DARURAT KEKERASAN SEKSUAL

INDONESIA DARURAT KEKERASAN SEKSUAL

cropped-dmdi-logo-warna.png

INDONESIA DARURAT KEKERASAN SEKSUAL

INDONESIA DARURAT

KEKERASAN SEKSUAL

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۝٩٧ (اَلنَّحْلُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Kekerasan seksual terhadap perempuan kini menjadi persoalan serius yang menghantui berbagai lapisan masyarakat di Indonesia. Kasusnya terus meningkat, pelakunya semakin beragam. Ruang-ruang yang seharusnya aman justru menjadi tempat terjadinya pelecehan. Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) mencatat hingga April 2025 terdapat 5.949 kasus kekerasan terhadap perempuan. Komnas Perempuan juga melaporkan peningkatan lebih dari 50 persen kasus kekerasan seksual dibanding tahun 2023—angka ini diyakini hanya puncak dari gunung es. Mirisnya, pelaku tak hanya berasal dari kalangan asing bagi korban, tetapi juga dari figur yang seharusnya melindungi—guru besar, dokter, tokoh agama, aparat, bahkan anggota keluarga sendiri.

 

Ruang aman bagi perempuan semakin menyempit. Pada transportasi umum tercatat 3.539 kasus kejahatan seksual sepanjang 2022 menurut LPSK, sementara dunia kerja pun tak kalah mengkhawatirkan. Survei Gajimu.com tahun 2022 menunjukkan satu dari 20 pekerja perempuan di industri tekstil, garmen, alas kaki, dan kulit menjadi korban pelecehan seksual, bahkan dengan ancaman pemutusan kontrak. Lebih dari itu, 70 persen pelaku kekerasan seksual adalah orang yang dikenal korban, mulai dari ayah kandung, kakek, guru, hingga aparat negara. Semua ini menunjukkan bahwa Indonesia berada dalam kondisi darurat kekerasan seksual terhadap perempuan, dan membutuhkan langkah nyata serta serius untuk perlindungan dan keadilan bagi korban.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Sebagai negeri dengan mayoritas Muslim, patut kita bertanya mengapa kekerasan seksual terhadap perempuan justru makin meningkat? Padahal negara telah membentuk berbagai lembaga seperti Komnas Perempuan dan mengesahkan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) Nomor 12 Tahun 2022. Namun, faktanya ruang aman bagi perempuan semakin sempit. Hal ini menunjukkan adanya persoalan yang lebih mendasar, yaitu sistem dan budaya sekuler-liberal yang memisahkan agama dari kehidupan. Dampaknya, pornografi bebas dikonsumsi masyarakat—sejak 2005 Indonesia masuk 10 besar negara pengakses situs porno dunia—dan ini menjadi pemicu seks bebas serta kekerasan seksual.

 

Di samping itu, masyarakat menjadi permisif terhadap interaksi bebas antara pria dan wanita. Seolah semua serba boleh. Bukankah ini membuka celah terjadinya perzinaan maupun pelecehan seksual? Perempuan pun kerap dieksploitasi melalui kontes kecantikan, modeling, atau pekerjaan yang menonjolkan penampilan fisik. Perempuan diposisikan bukan sebagai pribadi mulia, tetapi objek pemuas nafsu. Ironisnya, hukum yang ada sering gagal memberi keadilan: korban takut melapor, pelaku dihukum ringan, bahkan tak jarang kasus diselesaikan secara damai.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

        Ini tak akan terjadi jika Islam dijadikan tuntunan. Jadi pedoman dan standar baik-buruk, benar-salah, dan halal-haram. Dalam pandangan Islam, perempuan harus dilindungi.

Islam menetapkan kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam iman dan amal. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

”Siapa saja yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan, sementara dia seorang Mukmin, sungguh akan Kami beri dia kehidupan yang baik. Mereka pun akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. an-Nahl [16]: 97).

 

Hubungan pria dan wanita dibangun atas dasar takwa, bukan hawa nafsu. Islam mendorong kerja sama dalam keimanan, bukan dalam kebebasan yang menjerumuskan. Islam memberikan langkah preventif yang tegas. Di antaranya adalah pertama, perintah menutup aurat dan menjaga pandangan (QS. an-Nûr [24]: 30–31). Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

النَّظْرَةُ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيْسَ مَسْمُومَةٌ، فَمَنْ تَرَكَهَا مِنْ خَوْفِ اللَّهِ، أَثَابَهُ جَلَّ وَعَزَّ إِيْمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِيْ قَلْبِهِ

”Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Siapa saja yang meninggalkan tindakan demikian karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberi dia balasan iman yang terasa manis dalam kalbunya.” (HR. al-Hakim No.7970 dalam Al-Mustadrak 4/313).

 

Muslimah juga diwajibkan mengenakan kerudung (khimaar) dan jilbab yang longgar (QS. an-Nûr [24]: 31; QS. al-Ahzâb [33]: 59).

Kedua, Islam juga mengharamkan khalwat yakni berduaan dengan lawan jenis non-mahram. Mengapa? Karena hal ini membuka pintu setan. Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَلَا لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

”Ingatlah, tidaklah seorang laki-laki itu berdua-duaan dengan seorang wanita kecuali yang ketiganya adalah setan.” (HR. Ahmad No.15936, at-Tirmidzi No.2165 dan al-Hakim No.389).

 

Selain itu, Islam mengharamkan ikhtilâth (campur baur bebas antara pria dan wanita), kecuali dalam muamalah, pendidikan, atau pengobatan.

Ketiga, Islam melarang eksploitasi perempuan, baik melalui kontes kecantikan maupun pekerjaan yang mengeksploitasi fisik. Islam memperbolehkan perempuan bekerja sesuai keahlian, namun dengan menjaga aurat, tidak ber-tabarruj yakni bersolek sehingga menarik lawan jenis. Interaksi harus dilakukan sesuai syariat. Inilah sistem yang benar-benar melindungi kehormatan dan keamanan perempuan secara menyeluruh.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Tindakan preventif saja tidak cukup. Islam juga menetapkan sanksi tegas bagi pelaku kekerasan seksual. Eksploitasi terhadap perempuan dan produksi konten pornografi dikenai hukuman ta’zîr yang jenis serta beratnya ditentukan oleh qâdhi (hakim), bisa berupa penjara, cambuk, atau bahkan hukuman mati jika dianggap sangat berat. Pelecehan seksual seperti catcalling, menyentuh, atau mengintip juga dapat dijatuhi sanksi sesuai tingkat kejahatan. Untuk pelaku pemerkosaan, bila belum menikah (ghayr muhshan), dihukum cambuk 100 kali dan diasingkan setahun. Bila sudah menikah (muhshan), hukumannya adalah rajam hingga mati, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Bila disertai penculikan atau penganiayaan, pelaku bisa dikenai hukuman tambahan. Negara pun wajib melindungi korban dan menjamin pemulihan fisik serta mental mereka.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Wahai kaum Muslim, semua kerusakan ini adalah akibat penerapan sistem kapitalisme-liberalisme yang menjunjung kebebasan tanpa batas dan mengeksploitasi perempuan. Satu-satunya sistem yang benar-benar menjaga kehormatan dan keselamatan perempuan adalah Islam. Islam bukan sekadar agama spiritual, tapi sistem hidup menyeluruh dari Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang menetapkan hukum secara adil dan melindungi seluruh umat. Hukum-hukum Islam seperti di atas hanya akan tegak sempurna dalam naungan pemerintahan Islam (Khilafah Islamiyah). Maka, adakah aturan yang lebih baik daripada aturan Allah? WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

CARA ISLAM MEMBASMI MAFIA PERADILAN

CARA ISLAM MEMBASMI MAFIA PERADILAN

cropped-dmdi-logo-warna.png

CARA ISLAM MEMBASMI MAFIA PERADILAN

CARA ISLAM

MEMBASMI MAFIA PERADILAN

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

 اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًا ۢ بَصِيْرًا ۝٥٨ (اَلنِّسَاءُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Korupsi di Indonesia telah mencapai titik yang memprihatinkan, termasuk merasuk ke lembaga peradilan yang seharusnya menjadi benteng terakhir keadilan. Mantan Menko Polhukam Mahfud MD menyebut praktik jual-beli putusan di pengadilan sebagai tindakan yang "jorok" dan mencerminkan kerusakan moral serta sistemik. Inilah kebobrokan yang luar biasa. Bagaimana rakyat akan mendapatkan keadilan jika pengadilnya sendiri bermasalah?

Memang, tidak semua hakim korupsi. Tapi, kalau sudah beberapa orang hakim tertangkap korupsi, jangan-jangan ini mengindikasikan bahwa mafia peradilan itu benar adanya. Bukan karena gaji mereka kecil, tapi moral mereka yang rusak.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Islam memuliakan profesi hakim (al-qâdhî) karena perannya yang sangat penting dalam menegakkan keadilan. Namun, Islam juga memberikan peringatan keras terhadap hakim yang menyimpang dari hukum Allah. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:

وَاَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ

”Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut wahyu yang telah Allah turunkan.”

(QS. al-Mâidah [5]: 49).

 

Hakim diperintahkan untuk memutuskan hukum dengan adil sebagaimana firman-Nya:

وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ

”Jika kalian menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kalian menetapkan hukum itu dengan adil.”

(QS. an-Nisâ’ [4]: 58).

 

Sebaliknya, hakim yang tidak menetapkan hukum berdasarkan wahyu Allah disebut zalim. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ menegaskan dalam Qur’an Surah al-Mâidah [5] ayat 45 yang artinya: ”Siapa saja yang tidak memutuskan hukum dengan wahyu yang telah Allah turunkan maka mereka itulah kaum yang zalim”.

 

Dalam sistem peradilan sekuler yang tidak mengacu pada hukum Allah, para hakim dan penguasanya sangat rentan melakukan kezaliman. Syaikh asy-Sya’rawi dalam tafsirnya menyatakan bahwa berhukum dengan hukum Allah adalah keharusan agar tidak terjerumus dalam kezaliman.

 

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa hanya satu dari tiga jenis hakim yang akan masuk surga, yaitu hakim yang mengetahui kebenaran dan memutuskan hukum dengan adil. Dua lainnya—yaitu hakim yang tahu kebenaran tapi menyimpang, dan hakim yang memutuskan tanpa ilmu—akan masuk neraka. (HR. Abu Dawud No.1322). Ini menunjukkan betapa besar tanggung jawab hakim di dunia dan ancaman bagi mereka di akhirat.

 

Untuk membasmi mafia peradilan, Islam menawarkan dua pendekatan: personal dan sistemik. Secara personal, hanya hakim yang beriman dan bertakwa kepada Allah yang layak diangkat. Imam an-Nawawi menyatakan bahwa hakim tidak boleh dari kalangan kafir atau fasiq. Hakim yang bertakwa akan bersikap wara’, tidak mudah disuap, dan selalu mengingat firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dalam Al-Qur’an :

فَوَرَبِّكَ لَنَسْـَٔلَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ (92) عَمَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ (93)

”Demi Tuhanmu. Sungguh Kami pasti akan menanyai mereka semua (di akhirat) tentang apa saja yang dulu pernah mereka lakukan.” (QS. al-Hijr [15]: 92–93)

 

Para ulama juga menekankan pentingnya sifat-sifat mulia dalam diri seorang hakim. Fudhail bin ‘Iyadh berkata bahwa hakim hendaknya menangisi dirinya karena beratnya amanah. Syaikh Abu Bakar al-Baghdadi menyebut empat syarat penting bagi hakim: wara’, berilmu, paham, dan selalu bertanya atas apa yang tidak dia ketahui. Dalam Fiqh al-Manhaji, disebutkan bahwa hakim wajib berpemikiran lurus (pemikiran Islami; bukan sekuler, misalnya, pen.), cerdas, dan jauh dari syahwat dan kelalaian.

 

Secara sistemik, Islam memerintahkan adanya pengawasan ketat untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam menegaskan bahwa Allah telah melaknat pemberi suap, penerima suap dan perantara di antara keduanya (HR. Ibn Majah No.2313). Maka, membasmi mafia hukum tidak cukup hanya dengan menaikkan gaji, tetapi dengan membangun sistem berbasis syariah dan mengangkat orang-orang yang layak secara iman dan ilmu.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Karena itu, Islam mendukung pengawasan harta para pejabat, sebagaimana dilakukan oleh Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallâhu ’anhu yang biasa memeriksa kekayaan para pejabat sebelum dan sesudah menjabat. Bila ditemukan kekayaan tak wajar, ia tidak segan menyita harta tersebut. Tindakan ini sesuai dengan firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ:

وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَآ اِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

”Janganlah kalian memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil. Jangan pula kalian membawa harta itu kepada hakim agar kalian dapat memakan sebagian harta orang lain dengan dosa, padahal kalian mengetahui.” (QS. al-Baqarah [2]: 188).

 

Ini menunjukkan bahwa perampasan aset hasil korupsi untuk mengembalikan hak rakyat dibenarkan dalam Islam.

 

Namun semua solusi personal dan sistemik itu tidak akan berhasil di bawah sistem pemerintahan sekuler yang tidak menjadikan syariah sebagai hukum. Untuk itu, diperlukan sistem pemerintahan Islam, yaitu Khilafah, yang berlandaskan aqidah Islam dan menerapkan syariah secara menyeluruh. Hanya dalam sistem inilah peradilan Islam dapat ditegakkan secara sempurna, dan mafia hukum serta kezaliman para hakim bisa diberantas hingga tuntas. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

UPDATE INFORMASI TERBARU