Seruan Masjid

Khadimul Ummah wa Du'at

ZINA MENGUNDANG BENCANA

ZINA MENGUNDANG BENCANA

ZINA

MENGUNDANG BENCANA

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةًۗ وَسَاۤءَ سَبِيْلًا ۝٣٢ (اَلإِسْرَاءُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya;

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Di tengah upaya meraih bonus demografi dan mewujudkan visi Indonesia Emas, Indonesia justru dihadapkan pada persoalan serius yang mengancam generasi mudanya. Ketika arus liberalisme dan gaya hidup bebas makin mengakar, perilaku seksual di luar pernikahan dan penyimpangan seksual justru semakin dianggap biasa. Padahal, dampaknya sangat nyata dan mengkhawatirkan. Kementerian Kesehatan RI melaporkan peningkatan signifikan kasus sifilis, mencapai 23.347 kasus pada tahun 2024, meningkat 70% sejak 2018. Data BKKBN juga menunjukkan bahwa 59% remaja perempuan dan 74% remaja laki-laki usia 15–19 tahun telah melakukan hubungan seksual. Hal ini berdampak pada lonjakan kehamilan remaja (36 per 1.000 remaja putri), kasus aborsi (750 ribu–1,5 juta per tahun), serta peningkatan penyakit menular seksual, dengan lebih dari 4.500 kasus Infeksi Menular Seksual (IMS) di kalangan muda pada 2024 dan 2.700 remaja 15–18 tahun hidup dengan HIV hingga Maret 2025.

Perilaku seksual menyimpang pun turut menyumbang peningkatan penularan, terbukti dari penggerebekan dua pesta gay di Puncak Bogor yang melibatkan puluhan peserta, 30 di antaranya reaktif HIV dan sifilis. Mirisnya, perzinaan dan hubungan sesama jenis belum dilarang tegas secara hukum. KUHP hanya mengatur sebagai delik aduan, yang artinya tidak bisa diproses tanpa laporan pihak terkait. Padahal, dampak dari perilaku bebas ini sangat luas, bukan hanya merusak individu tetapi juga keluarga dan masyarakat. Jika dibiarkan, cita-cita menuju Indonesia Emas bisa tergelincir menjadi “Indonesia Cemas”.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Islam adalah satu-satunya peradaban yang secara tegas dan total melarang perzinaan serta perilaku seksual menyimpang. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman;

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةًۗ وَسَاۤءَ سَبِيْلًا

”Janganlah kalian mendekati zina. Sungguh zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk” (QS. al-Isrâ’ [17]: 32).

 

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam juga bersabda;

‌مَا ‌مِنْ ‌ذَنْبٍ ‌بَعْدَ ‌الشِّرْكِ ‌بِاللَّهِ ‌أَعْظَمُ ‌عِنْدَ ‌اللَّهِ ‌مِنْ ‌نُطْفَةٍ وَضَعَهَا رَجُلٌ فِي رَحِمٍ لَا تَحِلُّ لَهُ

”Tidak ada dosa, setelah syirik, yang lebih besar daripada dosa seorang lelaki yang menumpahkan spermanya pada rahim yang tidak halal untuk dirinya” (HR. Ibnu Abi ad-Dunya).

 

Beliau juga bersabda;

لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ

”Allah telah melaknat siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Luth” (liwaath/hubungan seks sesama jenis) (HR Ahmad dan at-Tirmidzi), sebagai larangan keras atas hubungan sesama jenis.

 

Islam telah menetapkan solusi mulia dalam mengatur hubungan antara pria dan wanita, yaitu melalui pernikahan. Dengan menikah, hubungan menjadi halal dan mendatangkan ketenangan, cinta, serta kasih sayang, sebagaimana firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang artinya, “Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan istri-istri kalian dari diri kalian sendiri agar kalian merasakan ketenteraman...” (QS. ar-Rûm [30]: 21). Pernikahan menjaga kehormatan, menyalurkan kebutuhan biologis secara syar’i, serta melindungi nasab, hak perwalian, dan hukum waris.

Sebaliknya, perzinaan membawa kerusakan besar dalam kehidupan pribadi dan sosial. Ia menjadi pintu penularan penyakit menular seksual, merusak institusi keluarga, dan menyebabkan banyak bayi lahir tanpa nasab yang jelas atau dibuang bahkan dibunuh. Perzinaan juga mengacaukan sistem hukum terkait keturunan, perwalian, dan warisan. Maka sungguh ironis bila umat dan negara justru membiarkan praktik keji ini terus berlangsung, alih-alih menegakkan hukum syariat yang menyejahterakan.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Peningkatan penyakit menular seksual (PMS) merupakan dampak langsung dari sistem sekuler-liberal yang diterapkan di negeri ini. Sekularisme menyingkirkan aturan agama, termasuk larangan zina dan penyimpangan seksual, sementara liberalisme menjadikan kebebasan individu sebagai asas utama, termasuk dalam urusan seksualitas. Maka tidak cukup jika negara hanya fokus menangani PMS-nya saja tanpa mencabut akar masalahnya yaitu sistem sekuler-liberal yang diterapkan di negeri ini. Solusi sejati hanya dapat ditemukan dalam sistem Islam yang menjaga kehormatan dan kehidupan manusia.

Islam menetapkan sejumlah langkah menyeluruh untuk mencegah perzinaan dan kerusakan moral.

Pertama, negara wajib mendidik masyarakat agar bertakwa dan menjaga diri, termasuk menjaga ’iffah dengan ghaddul bashar (menjaga pandangan), menutup aurat, dan menjauhi zina.

Kedua, negara harus memfasilitasi pernikahan pemuda, termasuk dengan membenahi sistem ekonomi agar tidak menyulitkan mereka dalam membangun rumah tangga.

Ketiga, keluarga dan negara harus membekali pemuda dengan ilmu menuju pernikahan. Dengan begitu pasangan suami-istri terhindar dari konflik dalam rumah tangga dan jauh dari perceraian.

Keempat, negara harus melarang aktivitas yang membuka peluang zina seperti khalwat, ikhtilâth di pesta dan klub malam, serta pornografi dan pornoaksi.

Kelima, Islam menetapkan sanksi tegas atas pelaku zina dan penyimpangan seksual sesuai syariah, tanpa harus menunggu delik aduan. Zina lajang (ghayr muhshan) dihukum 100 cambukan, zina muhshan (sudah menikah) dirajam hingga mati, dan kaum gay dihukum mati. Hukuman dijatuhkan jika ada pengakuan atau empat saksi laki-laki yang menyaksikan langsung perbuatan tersebut.

Keenam, negara wajib mengobati penderita PMS agar tidak menular, dan istri berhak menuntut cerai jika suaminya mengidap penyakit berbahaya. Semua solusi ini hanya dapat diterapkan dalam sistem Islam secara kaaffah, yang hanya mungkin diwujudkan dalam naungan Khilafah. Tanpa itu, kerusakan moral dan penyakit sosial ini mustahil diberantas tuntas.

Sudah saatnya umat menyadari bahwa berbagai kerusakan moral dan penyakit sosial yang merajalela hari ini bukan sekadar masalah individu, melainkan akibat dari diterapkannya sistem hidup sekuler-liberal yang memisahkan agama dari kehidupan. Islam, sebagai satu-satunya sistem hidup yang diturunkan oleh Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ, memiliki seperangkat aturan yang menyeluruh dan solutif untuk menjaga kehormatan, keturunan, dan kesehatan masyarakat. Maka, menerapkan syariah Islam secara kaaffah dalam naungan Khilafah bukan hanya kewajiban syar’i, tetapi juga kebutuhan mendesak demi menyelamatkan generasi dan menegakkan kehidupan yang bersih, bermartabat, dan diberkahi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

MEWUJUDKAN KEKUATAN DAN PERSATUAN HAKIKI UMAT ISLAM SEDUNIA

MEWUJUDKAN KEKUATAN DAN PERSATUAN HAKIKI UMAT ISLAM SEDUNIA

cropped-dmdi-logo-warna.png

MEWUJUDKAN KEKUATAN DAN PERSATUAN HAKIKI UMAT ISLAM SEDUNIA


MEWUJUDKAN KEKUATAN DAN PERSATUAN HAKIKI UMAT

ISLAM SEDUNIA


KHUTBAH PERTAMA


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ۝١٠ (اَلْحُجُرَاتُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya;

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.


Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Di tengah derasnya arus informasi global, dunia menyaksikan satu tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung di Gaza. Lebih dari 20 bulan, rakyat Palestina dibombardir siang dan malam—anak-anak dibantai, rumah sakit dan masjid dihancurkan, serta blokade total diberlakukan. Namun, yang lebih menyakitkan adalah lemahnya respons dari negara-negara Muslim. Dengan jumlah umat Islam lebih dari 1,8 miliar jiwa, tak satu pun pemimpin negeri Muslim yang benar-benar turun tangan secara tegas untuk menghentikan kejahatan ini. Yang terdengar hanya kutukan kosong, diplomasi tanpa hasil, dan bantuan kemanusiaan yang tidak bisa menghadang rudal dan bom. Inilah potret menyedihkan dari keterpecahbelahan Dunia Islam saat ini.

Kondisi ini merupakan buah dari sistem nation-state yang dipaksakan pasca Perjanjian Sykes-Picot 1916, kesepakatan rahasia antara Inggris, Prancis, dan Rusia untuk membagi wilayah Khilafah Utsmaniyah setelah kalah dalam Perang Dunia I. Tujuannya jelas: menghancurkan Khilafah yang selama berabad-abad menyatukan umat Islam, menguasai wilayah strategis dan sumber daya seperti Suriah, Palestina, Irak, dan Jazirah Arab, serta mencegah umat Islam bersatu kembali dalam satu entitas politik global. Kini, dampak perjanjian kolonial itu terasa nyata: umat Islam terkotak-kotak dalam batas nasionalisme sempit yang justru menghalangi persatuan dan pembelaan sejati terhadap saudara-saudara mereka yang tertindas.


Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Perjanjian Sykes-Picot membawa dampak panjang bagi umat Islam, di antaranya: Pertama, menciptakan disintegrasi Dunia Islam dengan meruntuhkan Khilafah Utsmaniyah pada 1924 dan memecah wilayahnya menjadi lebih dari 50 negara bangsa seperti Irak, Suriah, Yordania, dan Arab Saudi. Batas politik baru bernama nation-state yang asing dalam sejarah Islam justru menumpulkan solidaritas antar-Muslim. Ketika Palestina dibantai, negara-negara Muslim hanya berdiam: Mesir menutup Rafah, Yordania sekadar berdemo, Turki mengecam, dan lainnya sibuk menjaga hubungan dengan Barat. Masing-masing negara sibuk menjaga eksistensinya, membuat umat Islam merasa terpisah dan asing satu sama lain.

Kedua, perjanjian ini memicu konflik dan krisis berkelanjutan karena batas negara buatan sering mengabaikan realitas etnis, suku, dan mazhab, seperti yang terlihat di Suriah, Irak, dan Lebanon. Palestina pun dijadikan titik api permanen sejak wilayahnya dijanjikan kepada Yahudi lewat Deklarasi Balfour 1917.

Ketiga, lahirlah hegemoni Barat atas Dunia Islam, baik secara langsung melalui penjajahan maupun tidak langsung melalui sistem politik, ekonomi, dan pendidikan yang disekulerkan dan dijauhkan dari syariah Islam. Singkatnya, Sykes-Picot adalah puncak konspirasi kolonial untuk menghancurkan kekuatan umat, memecah Khilafah, dan menciptakan negara-negara boneka yang tunduk pada Barat penjajah.


Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Penegakan kembali Khilafah merupakan kewajiban yang sangat urgen bagi umat Islam, baik secara syar’i maupun rasional. Pertama, alasan syar’i. Umat Islam adalah satu kesatuan yang diperintahkan untuk bersatu dan tidak berpecah-belah, sebagaimana dalam firman Allah:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

”Sungguh kaum Mukmin itu bersaudara. Karena itu perbaikilah hubungan di antara kedua saudara kalian itu dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat.” (QS. al‑Ḥujurât [49]: 10).

Juga firman-Nya :

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا

”Berpegang teguhlah kalian semua pada tali (agama) Allah dan jangan berpecah-belah…” (QS. Ali Imrân [3]: 103), serta "Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan jangan saling berbantah-bantahan..." (QS. al-Anfâl [8]:46). Penerapan hukum Allah pun diwajibkan (QS. al-Mâidah [5]: 44, 45, 47), yang hanya bisa diterapkan secara menyeluruh melalui Khilafah.

Para ulama seperti Imam al-Mawardi dan Ibn Hazm sepakat tentang wajibnya mengangkat seorang khalifah. Rasulullah Shallallâhu ’alaihi wasallam. juga bersabda: “Siapa yang mati dalam keadaan tidak ada baiat di pundaknya, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah” (HR. Muslim), dan “Jika dibaiat dua khalifah, bunuhlah yang terakhir” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi). Ijmak Sahabat bahkan menunjukkan bahwa pengangkatan khalifah lebih diutamakan daripada pengurusan jenazah Nabi Shallallâhu ’alaihi wasallam.

Kedua, alasan rasional dan faktual. Hanya Khilafah yang mampu menyatukan umat Islam secara hakiki, melampaui batas negara, etnis, dan bahasa. Sistem nation-state warisan penjajah Barat justru memisah-misahkan umat dan menghalangi bantuan nyata dari satu negeri Muslim ke negeri Muslim lain, seperti Mesir yang menutup Rafah atau negara-negara Arab yang pasif saat Gaza dibombardir. Khilafah akan menghapus batas-batas tersebut dan membangun kembali solidaritas global umat Islam sebagai satu tubuh yang utuh.

Lebih dari itu, Khilafah adalah satu-satunya institusi yang mampu menggerakkan kekuatan riil umat Islam. Dengan militer gabungan, kekayaan sumber daya alam Dunia Islam, serta otoritas syar’i untuk memutuskan jihad, Khilafah bisa membela umat Islam yang tertindas seperti di Palestina. Khilafah juga akan melepaskan ketergantungan umat dari kekuatan asing seperti PBB, AS, Rusia, dan Uni Eropa yang selama ini justru menjadi penghalang utama tegaknya keadilan bagi kaum Muslim.


Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Dalam kondisi umat Islam yang terpecah dan tertindas, harapan akan tegaknya kembali Khilafah bukanlah sekadar mimpi atau utopia, melainkan kewajiban syar’i yang didasarkan pada Al-Qur’an, hadits, ijmak sahabat, serta fakta sejarah yang tak terbantahkan. Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam global yang pernah menyatukan umat, menjaga kehormatan Islam, dan membawa rahmat bagi seluruh alam.

Dengan izin Allah Subhânahu wata’âla serta kesungguhan dalam dakwah dan perjuangan, kita yakin Khilafah akan kembali memimpin dunia dengan keadilan, kemuliaan, dan kesejahteraan hakiki; menyatukan kaum Muslim dalam satu kepemimpinan, serta mengembalikan kekuatan umat yang telah lama hilang. Kini saatnya umat Islam bangkit dan menyongsong kembalinya Khilâfah ‘alâ minhâj an-nubuwwah sebagai jalan kebangkitan sejati. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


KHUTBAH KEDUA


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Hal. 8 dari 8


HIJRAH MENUJU ‘KHAYRU UMMAH’

HIJRAH MENUJU ‘KHAYRU UMMAH’

cropped-dmdi-logo-warna.png

HIJRAH MENUJU ‘KHAYRU UMMAH’

HIJRAH MENUJU

‘KHAYRU UMMAH’

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ۝١٨ (اَلْحَشْرُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya;

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Hari ini adalah hari pertama bulan Muharram 1447 Hijriyah. Artinya, baru saja kita menyelesaikan perjalanan hidup kita satu tahun lamanya. Muslim yang cerdas tentu tidak menyambut kehadiran Tahun Baru Hijrah ini dengan kegiatan seremonial belaka. Saatnya kita bermuhasabah. Evaluasi diri.

Bukan hanya terhadap diri sendiri, melainkan juga terhadap kondisi umat ini. Apakah betul umat ini telah meraih kedudukan selaku ’khayru ummah’ (umat terbaik)? Ataukah umat hari ini sebenarnya masih terpuruk? Jika masih terpuruk, tentu penting untuk mencari jalan kebangkitan hakiki agar mereka kembali meraih predikat ’khayru ummah’ (umat terbaik).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Muhaasabah hukumnya fardhu atas setiap Muslim. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman;

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah. Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk Hari Esok (Akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahatahu atas apa yang kalian kerjakan (QS al-Hasyr [59]: 18).

Ibnu al-Qayyim rahimahulLaah berkata, “Ayat ini menunjukkan kewajiban muhaasabah terhadap diri sendiri. Artinya: ”Hendaklah setiap orang memperhatikan amal-amal yang telah dia persiapkan untuk Hari Kiamat; apakah berupa amal salih yang dapat menyelamatkan dirinya ataukah perbuatan dosa yang dapat mencelakakan dirinya?'” (Ibnu al-Qayyim, Ighaatsah al-Lahfaan, 1/84, Maktabah Syamilah).

Siapa saja yang obyektif mengevaluasi keadaan umat pada hari ini akan menyaksikan betapa mereka hari ini sangat terpuruk. Jauh dari predikat ’umat terbaik’. Hampir dalam semua hal kaum Muslim terbelakang, tertinggal dan tertindas oleh umat-umat lain.

Secara ekonomi, kaum Muslim terpuruk. Baik di negeri ini maupun negeri Muslim yang lain. Hanya beberapa gelintir negara yang berpendapatan tinggi. Padahal negeri Islam kaya sumber daya alam.

Secara politik, kaum Muslim lemah, terjajah, dan terpecah belah. Palestina harus berjuang sendiri menghadapi genocida Yahudi. Muslim lain di India, Myanmar, Xinjiang dan Yaman, teraniaya. Jumlah Muslim yang besar, hampir 2 miliar seolah tak ada artinya.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Mengapa kita terpuruk? Sesungguhnya bukan tanpa alasan Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallâhu ’anhu menetapkan awal Kalender Hijrah dimulai dari peristiwa Hijrah Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam Beliau menyatakan;

بَلْ نُؤَرِّخُ لِمُهاجَرَةِ رَسُوْلِ الله، فَإِنَّ مُهَاجَرَتَهُ فَرْقٌ بَيْنَ الْحَقِّ وَاْلبَاطِلِ

Akan tetapi, kita akan menghitung penanggalan berdasarkan Hijrah Rasulullah. Ini karena sesungguhnya hijrah beliau telah memisahkan antara kebenaran dan kebatilan (Ibn Al-Atsir, Al-Kâmil fî at-Târîkh, 1/3).

Hijrah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam dari Makkah ke Madinah merupakan peristiwa penting yang mengubah wajah umat Islam saat itu. Umat awalnya tertindas dan teraniaya di Makkah selama 13 tahun. Setelah hijrah ke Madinah dan menegakkan tatanan masyarakat yang islami dalam sebuah negara, mereka berubah menjadi umat yang mulia, kuat dan disegani.

Inilah makna hijrah yang hakiki. Sebagaimana dijelaskan oleh Ar-Raghib al-Ashfahany (w. 502 H), hijrah berarti keluar dari dârul kufr (wilayah yang menerapkan hukum-hukum kufur) menuju Dârul Îmân (wilayah yang menerapkan hanya hukum-hukum Islam) (Al-Ashfahâny, Al-Mufradât fii Gharîb al-Qur’ân, hal. 833).

Makna hijrah seperti ini semakna dengan apa yang dinyatakan oleh Al-Jurjâni (w. 471 H) dan al-Qurthubi (w. 671 H). Keduanya menyatakan: ”Hijrah adalah keluar atau berpindah dari negara yang diperangi (negara kufur) ke Negara Islam.”  (Al-Qurthuby, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, 5/349; Al-Jurjani, At-Ta’rîfât, 1/83).

Ketahuilah, hijrah Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersama para Sahabat bukanlah melarikan diri dari persoalan. Dengan hijrah, mereka justru menemukan solusi dengan membangun kekuataan dan kekuasaan yang melindungi agama ini. Ini sebagaimana permintaan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan doanya;

وَقُلْ رَّبِّ اَدْخِلْنِيْ مُدْخَلَ صِدْقٍ وَّاَخْرِجْنِيْ مُخْرَجَ صِدْقٍ وَّاجْعَلْ لِّيْ مِنْ لَّدُنْكَ سُلْطٰنًا نَّصِيْرًا

”Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar, dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar, serta berilah aku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.” (QS. al-Isra’ [17]: 80).

Dalam tafsirnya, Az-Zamakhsyari menjelaskan: ”Dikatakan: Ayat ini turun ketika Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam diperintahkan untuk hijrah, yakni agar Allah memasukkan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam ke Madinah dan mengeluarkan beliau dari Makkah. Dikatakan pula: Maksudnya adalah memasukkan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam ke Makkah dalam keadaan menang saat penaklukan dan mengeluarkan beliau dari Makkah dalam keadaan aman dari kaum musyrik.” (Az-Zamakhsyari, Tafsiir Al-Kasyaaf, 2/688, Maktabah Syamilah).

Pembentukan negara yang berdaulat dan disegani serta memberikan perlindungan bagi umat adalah makna “Sulthaan[an] Nashiira” (kekuasaan yang menolong). Kekuasaan ini telah diberikan oleh Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ kepada Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam dalam bentuk negara, sistem dan kekuasaan Islam (Negara Islam). Negara Islam inilah yang benar-benar menolong dan memenangkan Islam dan kaum Muslim. Pasca Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam, Negara Islam ini—yang kemudian disebut dengan Khilafah Islam—menjadi negara adidaya di seluruh dunia sepanjang empat belas abad. Kedigjayaan Khilafah Islam ini terus berlangsung di bawah kepemimpinan Khulafaur-Rasyidin dan para khalifah berikutnya. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

 

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

MEMBEBASKAN PALESTINA, MENGAKHIRI PENGKHIANATAN PARA PENGUASA

MEMBEBASKAN PALESTINA, MENGAKHIRI PENGKHIANATAN PARA PENGUASA

cropped-dmdi-logo-warna.png

MEMBEBASKAN PALESTINA, MENGAKHIRI PENGKHIANATAN PARA PENGUASA

MEMBEBASKAN PALESTINA,

MENGAKHIRI PENGKHIANATAN PARA PENGUASA

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

وَلَا تَرْكَنُوْٓا اِلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُۙ وَمَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ مِنْ اَوْلِيَاۤءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُوْنَ ۝١١٣ (هُوْدٌ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya;

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Dalam sunyi yang penuh luka, Gaza masih memanggil dunia dengan isak tangisnya. Derita belum juga berakhir, sementara ancaman genosida terus membayangi penduduknya yang kian lemah dan tak berdaya. Hingga 15–16 Juni 2025, jumlah korban tewas akibat genosida yang dilakukan Zionis Yahudi telah mencapai sekitar 55.362 jiwa, dengan lebih dari 128.741 orang terluka sejak Oktober 2023. Korban terbanyak adalah perempuan, anak-anak, dan warga sipil yang tak bersalah. Lebih dari 92% rumah serta infrastruktur publik pun luluh lantak, rata dengan tanah.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Ketika tanah kaum Muslim diinjak-injak oleh penjajah dan darah saudara seiman tertumpah tanpa henti, syariat Islam memberikan tuntunan tegas bagi umatnya untuk membela kehormatan, tanah air, dan nyawa sesama Muslim dari agresi musuh.

Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman;

وَقَاتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ

”Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian.” (QS. al-Baqarah [2]: 190).

 Ayat ini menunjukkan bahwa jihad menjadi fardu ‘ain saat negeri kaum Muslim diserang, seperti di Gaza dan Palestina. Para Sahabat Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam berijmak atas kewajiban umat Islam membela negeri mereka dari penjajah. Para ulama pun menegaskan hal ini, seperti Imam Ibnu Qudamah, Imam an-Nawawi, dan Imam al-Mawardi, yang menyatakan bahwa membebaskan negeri Muslim dari musuh, meski dengan pengorbanan jiwa, adalah kewajiban seluruh kaum Muslim dan bagian dari tanggung jawab kepemimpinan Islam.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Di tengah tragedi kemanusiaan yang menimpa Palestina, umat Islam diuji: apakah masih memiliki rasa satu tubuh atau telah terpecah oleh ‘ashabiyah—fanatisme kesukuan, kebangsaan, dan nation-state. Fakta dinginnya respons sebagian penguasa negeri-negeri Arab, seperti Mesir, terhadap penderitaan Gaza menunjukkan betapa dalamnya pengaruh ‘ashabiyah. Padahal Islam memandang ‘ashabiyah sebagai warisan jahiliah yang tercela, karena ia menutup mata dari kebenaran dan keadilan.

Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى الْعَصَبِيَّةِ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى الْعَصَبِيَّةِ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى الْعَصَبِيَّةِ

”Bukan termasuk golongan kami orang yang menyerukan ‘ashabiyah. Bukan termasuk golongan kami orang yang berperang karena ‘ashabiyah. Bukan termasuk golongan kami orang yang mati di atas ‘ashabiyah.” (HR Abu Dawud No.5121). Beliau bahkan menggambarkan ‘ashabiyah sebagai bau busuk yang harus ditinggalkan (HR al-Bukhari dan Muslim).

 

Dalam dunia modern, ‘ashabiyah menjelma menjadi nasionalisme dan sistem negara-bangsa, yang menuntut loyalitas di atas ikatan aqidah. Islam datang untuk menghapus ikatan sempit ini dan menggantinya dengan ikatan iman, sebagaimana firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ

”Sungguh kaum Mukmin itu bersaudara”

(QS. al-Hujurât [49]: 10). dan firman-Nya yang lain;

إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً

Sungguh umat kalian ini adalah umat yang satu"

(QS. al-Anbiyâ’ [21]: 92).

 

Namun sejak runtuhnya Khilafah pada 1924 dan ditegakkannya sistem nation-state hasil perjanjian penjajah seperti Sykes-Picot, umat terpecah dalam lebih dari 50 negara. Derita umat seperti di Palestina, Suriah, dan lainnya dianggap "urusan dalam negeri", sehingga tanggung jawab pun menguap. Padahal Allah telah menegaskan, "Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama maka kalian wajib menolong mereka" (QS. al-Anfâl [8]: 72).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

        Tragedi Gaza bukan hanya tentang genosida brutal atas rakyat Palestina, tetapi juga membuka kedok kemunafikan dan pengkhianatan para penguasa negeri-negeri Muslim, khususnya penguasa Arab. Saat rakyat Palestina dibantai dengan senjata dan dana Barat, para pemimpin Muslim memilih bungkam, netral, atau bahkan menghalangi bantuan dan pembelaan. Rezim seperti Mesir menutup perbatasan Rafah, menangkap demonstran pro-Palestina, dan memadamkan semangat jihad. Mereka bukan pelindung umat, melainkan tembok penghalang yang justru menormalisasi hubungan dengan penjajah Zionis. Dalam pandangan Islam, ini adalah bentuk pengkhianatan besar terhadap umat.

Islam mengecam keras kezaliman dan pengkhianatan tersebut. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ memperingatkan, “Janganlah kalian condong kepada orang-orang yang zalim, lalu kalian nanti akan disentuh api neraka” (QS. Hûd [11]: 113). Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam pun mengingatkan: ”Sungguh jika manusia melihat seorang zalim, lalu mereka tidak mencegah tangannya, Allah nyaris akan menimpakan azab-Nya kepada mereka semuanya” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi). Ibn Hajar menyebut diamnya penguasa dari menolong yang dizalimi sebagai dosa besar. Bahkan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam menegaskan, siapa yang mampu menolong Mukmin yang dihinakan namun tak menolong, akan dihinakan Allah di hadapan seluruh makhluk pada Hari Kiamat (HR al-Hakim dan ath-Thabarani). Ini menjadi peringatan keras bagi para pemimpin Muslim yang abai, bahkan menghalangi perjuangan membela Palestina.

        Umat Islam harus menyadari bahwa para penguasa Muslim saat ini tidak menjalankan peran sebagai junnah (perisai) umat sebagaimana sabda Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam, "Sungguh Imam (Khalifah) adalah perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya” (HR Muslim). Karena itu, solusi hakiki bukan hanya mengutuk penguasa khianat, tetapi mencabut sistem kufur nation-state yang melahirkan mereka, lalu menggantinya dengan Khilâfah ‘alâ minhâj an-nubuwwah yang akan mempersatukan dan menggerakkan kekuatan umat untuk membela agama dan kaum Muslim tertindas, termasuk rakyat Palestina. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

 

 

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

UPDATE INFORMASI TERBARU