Seruan Masjid

Khadimul Ummah wa Du'at

Al-Quran dan Kekuasaan

Al-Quran dan Kekuasaan

AL-QURAN DAN KEKUASAAN

KHUTBAH PERTAMA

 

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ,

أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا.

 وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

 اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا،

 أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan barakahNya sehingga kita di hari yang mulia ini bisa berkumpul di tempat mulia, bersama dengan orang-orang yang insyaallah dimuliakan oleh Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan alam Nabi akhir zaman Muhammad SAW, sang penerang dan pembawa kabar gembira bagi orang yang beriman.

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Islam adalah agama paripurna. Tak ada satu pun bidang kehidupan umat manusia yang tidak diatur oleh syariah Islam. Tatacara ibadah, akhlak, makanan dan minuman, berpakaian, muamalah hingga politik dan bernegara semua ada aturannya.  Inilah kesempurnaan Islam. Allah berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian untuk kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagi kalian dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian (TQS al-Maidah [5]: 3).

 

Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini sebagai berikut: “Ini adalah nikmat terbesar dari Allah ‘Azza wa Jalla kepada umat ini dengan menyempurnakan agama ini untuk mereka. Mereka tidak membutuhkan lagi agama selain Islam dan nabi selain nabi mereka (Muhammad saw.). Karena itu Allah menjadikan beliau sebagai penutup para nabi. Allah mengutus beliau kepada manusia dan jin. Tidak ada perkara yang halal melainkan apa yang telah beliau halalkan. Tidak ada perkara yang haram melainkan apa yang telah beliau haramkan. Tidak ada agama melainkan yang telah beliau syariatkan.” (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 3/26).

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Pertanyaannya, sudahkah Islam diterapkan secara sempurna?  Sudahkah seluruh kehidupan kita berpijak kepada Al-Quran dan Sunnah?  Padahal Allah SWT berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا

Tidak patut laki-laki Mukmin dan perempuan Mukmin, jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Siapa saja mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata (TQS al-Ahzab [33]: 36).

 

Tidak patut diri kita pribadi mencari aturan di luar Islam. Tidak layak kita sebagai masyarakat mengambil aturan orang kafir. Tidak pantas, negara Muslim dan penguasanya menerapkan aturan yang bersumber dari manusia, terlebih lagi pihak asing. Apalagi dia mengaku seorang Muslim.

 

Ingatlah, sungguh Rasulullah SAW memuji mereka yang selalu merujuk pada syariah Islam. Rasulullah saw. pernah bertanya kepada Muadz bin Jabal ra yang pernah diangkat sebagai gubernur di Yaman mengenai cara dia dalam memutuskan perkara:

“Bagaimana engkau memutuskan jika ada perkara yang diajukan orang kepadamu?” Muadz menjawab, “Saya akan memutuskan dengan Kitab Allah.” Nabi saw. bertanya kembali, “Bagaimana jika tidak engkau temukan dalam Kitab Allah?” Muadz menjawab, “Saya akan memutuskan dengan Sunnah Rasulullah.” Nabi saw. bertanya kembali, “Jika tidak engkau dapatkan dalam Sunnah Rasulullah dan tidak pula dalam Kitab Allah?” Muadz menjawab, “Saya akan berijtihad dengan pemikiran saya dan saya tidak akan berlebih-lebihan.” Beliau lalu menepuk dada Muadz seraya bersabda, “Segala pujian milik Allah yang telah memberikan taufik kepada utusan Rasulullah sesuai dengan yang Rasulullah ridhai.” (HR Abu Dawud).

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Nabi SAW mengingatkan bencana besar akan terjadi manakala kita mencampakkan Al-Quran. Kata Nabi: “Sungguh sumbu Islam itu senantiasa berputar. Karena itu berputarlah kalian bersama al-Kitab (al-Quran) sebagaimana dia berputar. Ingatlah, al-Quran dan kekuasaan akan berpisah. Karena itu janganlah kalian memisahkan diri dari al-Quran. Ingatlah, sungguh akan ada atas kalian para pemimpin yang memutuskan untuk diri mereka sendiri dengan putusan yang berbeda untuk kalian. Jika kalian menentang mereka, mereka akan membunuh kalian. Jika kalian menaati mereka, mereka akan menyesatkan kalian.” (HR ath-Thabarani dan al-Haitsami).

 

Hadis tersebut menggambarkan tiga bencana yang akan menimpa umat: Pertama, Kitabullah terpisah (terlepas) dari kekuasaan. Kedua, para pemimpin memutuskan hukum berbeda antara untuk diri mereka sendiri dan apa yang diberlakukan untuk rakyatnya. Ketiga, para pemimpin itu akan membunuh siapa saja yang membangkang kepada mereka, tetapi akan menyesatkan siapa saja yang menaati mereka.

 

Bukankah ini sudah terjadi di depan mata kita?

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Bagaimana sikap kaum Muslimin menghadapi kondisi itu? Itu pernah ditanyakan para sahabat kepada Nabi. Apa jawab beliau:

كَمَا صَنَعَ أَصْحَابُ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ، نُشِرُوا بِالْمَنَاشِيرَ، وَحُمِلُوا عَلَى الْخَشَبِ، مَوْتٌ فِي طَاعَةِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنْ حَيَاةٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ

 

Lakukanlah sebagaimana yang dilakukan oleh para pengikut Isa bin Maryam. Mereka digergaji dan disalib di tiang kayu (tetapi mereka tetap bersabar, red.). Mati dalam ketaatan kepada Allah adalah lebih baik daripada hidup dalam kemaksiatan kepada Allah (HR ath-Thabarani dan al-Haitsami).

 

Rasulullah SAW menyebutkan bahwa mati dalam ketaatan kepada Allah SWT adalah lebih baik ketimbang hidup dalam kemaksiatan kepada-Nya, apalagi dengan mendukung kezaliman penguasa serta membiarkan Kitabullah terpisah dari kekuasaan.

 

Amar makruf nahi mungkar harus terus dikumandangkan. Ingat kata Nabi SAW:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

Jihad yang paling utama ialah menyatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim (HR Abu Dawud).

 

Semua harus dilakukan dalam rangka menerapkan aturan Allah dalam seluruh aspek kehidupan.

 

 

 

[]

 

 

 

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِن الآيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

 

 

 

 

Khutbah II

 

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

 

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

 عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Wajib Membela Kehormatan Nabi SAW

Wajib Membela Kehormatan Nabi SAW

WAJIB MEMBELA KEHORMATAN NABI SAW

KHUTBAH PERTAMA

 

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ,

أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا.

 وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

 اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا،

 أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan Allah di tempat yang mulia ini, di hari yang mulia, bersama dengan orang-orang yang insyaallah dimuliakan oleh Allah, dalam rangka melaksanakan kewajiban kita sebagai Muslim, shalat Jumat berjamaah. Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah curah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

 

Marilah kita terus berusaha meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah, dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Ingatlah, bekal terbaik bagi kita adalah takwa.

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَاأُوْلِي اْلأَلْبَا

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa, dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”. (QS Al-Baqarah [2]: 197).

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Bagaimana perasaan Anda jika orang tua Anda dihina? Misalnya, orang tua Anda digambar, kemudian ditulis nama orang tua Anda di bawahnya. Di situ dituliskan: tukang zina, tukang mabuk, dan tukang bunuh. Padahal Anda tahu orang tua Anda tak pernah melakukan semua itu? Anda yang masih waras pasti akan marah.

 

Lalu, kalau yang dihina itu adalah Rasulullah SAW, orang paling agung di langit dan bumi, yang kita harapkan syafaatnya kelak di yaumil mahsyar, pasti kita lebih marah lagi!

 

Ulama besar Buya Hamka rahimahulLâh mempertanyakan orang yang tidak muncul ghirah-nya ketika agamanya dihina. Beliau tegas menyatakan, “Jika kamu diam saat agamamu dihina, gantilah bajumu dengan kain kafan.”

 

Di depan mata kita, di zaman ini, baginda Nabi SAW dinistakan.  Lagi-lagi, orang-orang kafir laknatullah di Prancis menerbitkan kembali karikatur penghinaan atas Nabi kita yang mulia.  Dan, tindakan itu didukung oleh pemerintah Prancis di bawah Presiden Emmanuel Macron laknatullah.

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Secara imani, Rasulullah SAW adalah segalanya bagi kita. Cinta kita kepada beliau harus di atas cinta kepada yang lain, bahkan diri kita sendiri. Sabda Nabi:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Belum sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia menjadikan aku lebih dia cintai daripada orang tuanya, anaknya dan segenap manusia (HR al-Bukhari).

 

Mari kita perhatikan kisah ‘Umar bin al-Khaththab ra, sebagaimana penuturan Sahabat Abdullah bin Hisyam ra: Kami pernah mengiringi Nabi SAW. Beliau menggandeng tangan Umar bin al-Khaththab ra. Kemudian Umar berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh engkau sangat aku cintai melebihi apa pun, selain diriku.” Baginda Nabi SAW  menjawab, “Tidak. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, hingga aku sangat engkau cintai melebihi dirimu sendiri.” Lalu Umar berkata kepada beliau, “Sungguh, kalau begitu, sekarang, demi Allah, engkau sangat aku cintai melebihi diriku sendiri.” Beliau lalu bersabda, “Sekarang (baru engkau benar), wahai Umar.” (HR al-Bukhari).

 

Dan, Allah SWT pun mengancam—dengan azab-Nya yang keras—siapa saja yang cintanya kepada Rasul SAW terpalingkan oleh kecintaan kepada yang lain. (QS At Taubah [9]: 24]

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Siapa yang cinta kepada baginda Nabi SAW, kelak akan bertemu beliau di surga. Ada seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Kapan Hari Kiamat itu?” Beliau balik bertanya, “Apa yang sudah engkau siapkan untuk menghadapinya?” Dia menjawab, “Tidak ada, kecuali aku sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Lalu beliau bersabda:

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

Engkau akan bersama dengan yang engkau cintai

(HR al-Bukhari).

 

Orang yang mencintai Allah SWT dan Nabi-Nya juga akan merasakan manisnya iman, sebagaimana sabda beliau:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا

 

Ada tiga perkara yang jika terdapat pada seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman (di antaranya): Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya… (HR al-Bukhari dan Muslim).

 

Lalu apa bukti cinta itu? Taat kepada syariah yang dibawa beliau. Itulah syariah Islam. Sekaligus menjaga kehormatan dan kemuliaan beliau SAW. Dan, tidak menyelisihi sedikit pun perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya.

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Ingatlah, tindakan menista (istihza’) kemuliaan beliau adalah haram dan termasuk dosa besar. Tindakan demikian sama saja dengan menyakiti Allah SWT dan Rasul-Nya. Allah SWT melaknat pelakunya, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا

Sungguh orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknati mereka di dunia dan di akhirat serta menyediakan bagi mereka siksaan yang menghinakan (TQS al-Ahzab [33]: 57).

 

Syeikh al-Islam Ibn Taimiyah menjelaskan batasan tindakan menghujat beliau yaitu: kata-kata yang bertujuan meremehkan dan merendahkan martabat beliau, termasuk melaknat dan menjelek-jelekkan (Ibn Taimiyah, Ash-Sharîm al-Maslûl ala Syâtim ar-Rasûl, I/563).

 

Al-Qadhi Iyadh juga menjelaskan bentuk-bentuk hujatan kepada Nabi SAW. Di antaranya: mencela, mencari-cari kesalahan, menganggap pada diri beliau ada kekurangan; mencela nasab (keturunan) dan pelaksanaan agamanya; menjelek-jelekkan salah satu sifatnya yang mulia; menentang atau menyejajarkan beliau dengan orang lain dengan niat untuk mencela, menghina, mengerdilkan, menjelek-jelekkan dan mencari-cari kesalahannya. Orang yang melakukan demikian termasuk orang yang telah menghujat Rasul SAW. (Al-Qadhi Iyadh, Asy-Syifâ bi Ta’rîf Huqûq al-Musthafâ, hlm. 428).

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Mari kuatkan iman kita di zaman penuh fitnah ini. Taatilah  Allah dan Rasul-Nya.  Gigit kuat-kuat agama ini dengan geraham kita.  Bela kehormatan dan kemuliaan Nabi dengan kemampuan kita.  Dan, mari kita terus berjuang agar warisan Nabi SAW yakni syariah Islam tegak di muka bumi di bawah naungan khilafah ala minhajin nubuwah.

[]

 

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِن الآيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

 

 

 

 

 

 

 

 

Khutbah II

 

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

 

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

 عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Membuktikan Cinta Kepada Nabi SAW

Membuktikan Cinta Kepada Nabi SAW

MEMBUKTIKAN CINTA KEPADA NABI SAW

KHUTBAH PERTAMA

 

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ,

أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا.

 وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

 اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا،

 أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di tempat yang mulia ini, di hari yang mulia, bersama dengan orang-orang yang insyaallah dimuliakan oleh Allah. Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan oleh Allah SWT kepada junjungan kita Nabi SAW.

 

Marilah kita senantiasa berusaha meningkatkan takwa kita kepada Allah SWT dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Mengikuti rambu-rambu yang dibawa oleh Rasulullah SAW dalam menjalani kehidupan.

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Masih dalam suasana bahagia memperingati kelahiran Nabi SAW, sudah sepantasnya kaum Muslim mengingat bahwa beliau datang membawa risalah Islam ke tengah umat manusia. Untuk menegakkan keadilan dan menghilangkan kezaliman.

 

Sebelum Islam datang, kezaliman merajalela. Keadilan sulit dicari. Para raja, kaisar, bangsawan dan orang-orang kaya menguasai hukum di tengah-tengah masyarakat. Orang-orang miskin, kaum wanita, apalagi para budak kerap menjadi korban.

Dalam kondisi seperti ini, Allah SWT mengutus Nabi SAW, sebagai sosok yang adil dan membawa keadilan Islam. Beliau datang untuk melawan berbagai kezaliman.

 

Maka, di sinilah letak pentingnya memahami hubungan makna cinta kepada Nabi SAW dengan perjuangan menegakkan keadilan dan menentang kezaliman.

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Islam itu sendiri adalah agama keadilan. Islam menentang setiap kezaliman. Di dalam al-Quran secara berulang Allah SWT memerintahkan kaum Muslim untuk menegakkan keadilan. Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ

Sungguh, Allah menyuruh kalian memberikan amanah kepada ahlinya, dan jika kalian mengadili manusia, hendaknya kalian menetapkan hukum dengan adil (TQS an-Nisa’ [4]: 58).

 

 

 Dalam ayat yang lain:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ

Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kalian penegak keadilan, sebagai para saksi Allah, walaupun terhadap diri kalian sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabat kalian (TQS an-Nisa’ [4]: 135).

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Adil yang dimaksud, bukanlah adil menurut kapitalisme-liberalisme. Karena, menurut ideologi ini, disebut adil bila setiap orang diberi hak yang sama untuk melakukan apapun seperti berzina, menjadi LGBT, menghina agama; atau bebas menguasai harta apa saja, termasuk sumberdaya alam yang harusnya menjadi milik umum.

 

Keadilan juga bukan sama rata sama rasa sebagaimana pandangan ideologi sosialisme-komunisme yang menghilangkan berbagai bentuk kepemilikan.

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Adil haruslah menurut pandangan Allah SWT. Dalam Islam, adil adalah lawan dari zalim. Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya, Syifa’ al-‘Alil, menjelaskan bahwa makna adil adalah meletakkan sesuatu pada posisinya dan menempatkan sesuatu itu pada tempat selayaknya. Maka, dalam konteks Islam, adil adalah yang sesuai dengan hukum-hukum Islam.

 

Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah menjelaskan bahwa Allah SWT menyebut pemerintahan yang adil adalah pemerintahan yang kembali pada syariah agama (Syifâ’ al-‘Alil, hlm. 276).

 

Imam Abu Ja’far ath-Thabari menafsirkan firman Allah SWT di atas dengan menjelaskan, “Keadilan itu wajib atas kalian, wahai orang-orang beriman. Keadilan mendekatkan kalian pada takwa. Maknanya, sikap adil yang kalian praktikkan akan menjadikan kalian sebagai bagian dari kaum yang bertakwa di sisi Allah. Mereka adalah orang-orang yang takut kepada Allah dan menjaga diri dari (azab)-Nya dengan tidak menyelisihi perintah-Nya atau tidak membangkang kepada-Nya.”

 

Dengan demikian keadilan hakiki yang dituntut Allah SWT adalah menaati dan memberlakukan syariah Islam baik pada diri sendiri, keluarga maupun masyarakat di dalam negara. Inilah keadilan yang sebenarnya.

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Kezaliman adalah dosa besar. Kezaliman adalah musuh agama dan musuh umat. Bahkan Allah SWT telah mengharamkan kezaliman bagi Diri-Nya. Karena itu Allah pun mengharamkan kezaliman antar sesama hamba-Nya. Di dalam hadis qudsi Allah SWT berfirman:

يَا عِبَادِيْ، إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا، فَلاَ تَظَالَمُوْا

“Wahai hamba-hamba-Ku! Sungguh Aku mengharamkan kezaliman atas Diri-Ku. Aku pun mengharamkan kezaliman itu di antara kalian. Karena itu janganlah kalian saling menzalimi.” (HR Muslim).

 

Kezaliman tertinggi adalah mempersekutukan Allah SWT. Dan termasuk kezaliman adalah tidak memberlakukan hukum-hukum Allah SWT tapi berkiblat pada hukum-hukum buatan manusia, sebagaimana dalam sistem demokrasi, sesuai ajaran Montesquieu. Allah SWT berfirman:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Siapa saja yang tidak berhukum dengan wahyu yang telah Allah turunkan, mereka itulah orang-orang zalim

(TQS al-Maidah [5]: 45).

 

Imam al-Baghawi dalam tafsirnya, Ma’âlim at-Tanzîl, mengutip Ikrimah, menjelaskan maksud ayat tersebut, “Siapa saja yang tidak memutuskan hukum menurut wahyu yang telah Allah turunkan karena mengingkarinya maka dia sungguh telah kafir. Siapa saja yang mengakui hukum Allah, namun tidak menjalankannya, maka dia zalim dan fasik.”

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Demi cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya, marilah kita tegakkan keadilan dan lawan kezaliman! Ingatlah, keadilan hanya bisa tegak dengan tegaknya hukum-hukum Allah SWT di muka bumi. Diterapkannya syariah Islam secara kaffah.

 

Mari buktikan kecintaan kepada Nabi SAW dengan berjuang menegakkan syariah Islam. Hanya dengan tegaknya syariah Islam, keadilan bakal tercipta dan kezaliman bakal lenyap.

  

 

[]

 

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِن الآيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

 

 

 

Khutbah II

 

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

 

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

 عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Mewujudkan Cinta Nabi yang Hakiki

Mewujudkan Cinta Nabi yang Hakiki

MEWUJUDKAN CINTA NABI YANG HAKIKI

KHUTBAH PERTAMA

 

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ,

أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا.

 وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

 اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا،

 أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ،اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Alhamdulillah, kita masih dikaruniai Iman dan Islam. Puji syukur ke hadirat ilahi rabbi atas segala nikmatnya. Shalawat dan salam semoga senantiasa dicurahkan kepada junjungan alam Nabi Muhammad SAW.

 

Marilah kita terus berusaha meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah, kapan pun dan di mana pun kita berada. Sungguh, Allah akan muliakan orang-orang yang bertakwa, tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat.

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

 

Kita telah memasuki bulan Rabbiul Awwal, bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.  Berbagai acara biasanya diadakan untuk memperingati hari kelahiran beliau SAW, orang yang paling berjasa bagi kita semua sehingga kita dalam iman dan Islam.

 

Lalu apa wujud cinta kepada beliau?  Menarik apa yang dituturkan Anas bin Malik ra: Seorang Arab berkata kepada Rasul SAW, “Kapan Hari Kiamat?” Rasulullah SAW balik bertanya kepada dia, “Apa yang telah engkau siapkan untuk menghadapi Hari Kiamat?” Dia berkata, “Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.” Beliau bersabda, “Engkau bersama dengan yang engkau cintai.” (HR Muslim, an-Nasa’i, al-Bazzar, dan Ibnu Khuzaimah).

 

Tentu, tak ada seorang Muslim pun yang tidak ingin bersama Nabi SAW kelak. Maka,kecintaan kepada Nabi SAW harus diwujudkan sekarang. Bukan sembarang cinta, apalagi cinta dusta. Tetapi cinta yang nyata dan sempurna.

 

Anas bin Malik ra menuturkan bahwa Rasul SAW bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sampai aku lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.”

(HR al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, an-Nasai, al-Baihaqi, al-Hakim, dan Ibnu Hibban).

 

Itulah mengapa dulu para Sahabat senantiasa berlomba-lomba menunjukkan cinta mereka kepada Rasulullah SAW. Mereka biasa mendahulukan Rasulullah Saw. di atas segala urusan dan kepentingan mereka. Mereka lebih mengutamakan Rasul SAW. atas siapa pun, termasuk atas saudara dan kerabat mereka, bahkan atas orang tua mereka sendiri.

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

 

Rasulullah SAW bersabda:

 

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Ada tiga hal, yang jika ketiganya ada pada siapa saja, niscaya dia merasakan kelezatan iman: Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari selain keduanya; dia mencintai seseorang hanya karena Allah; dan dia benci kembali pada kekufuran sebagaimana dia benci dimasukkan ke dalam neraka

(HR al-Bukhari dan Muslim).

 

Kecintaan hamba kepada Rabb-nya adalah dengan melakukan ketaatan kepada-Nya. Tidak menyalahi-Nya. Demikian juga kecintaan kepada Rasulullah SAW.

 

Wujud cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya adalah dengan menaati syariah-Nya. Ketaatan pada syariah-Nya harus di atas ketaatan pada selainnya, baik tokoh, cendekiawan, ajaran, aturan, paham, hukum, ideologi dan lain-lain.

 

Karena itu, cinta kepada Allah SWT harus dibuktikan secara nyata dengan mengikuti dan meneladani Rasulullah SAW, yakni dengan mengikuti risalah yang beliau bawa. Itulah syariah Islam. Allah SWT berfirman:

 

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah, “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (TQS Ali Imran [3]: 31).

 

Imam Ibnu Katsir di dalam Tafsîr al-Qurân al-Azhîm menjelaskan ayat ini dengan menyatakan, “Ayat yang mulia ini menetapkan bahwa siapa saja yang mengklaim cinta kepada Allah, sedangkan ia tidak berada di jalan Muhammad SAW. (tharîqah al-Muhammadiyyah), maka ia berdusta sampai ia mengikuti syariah Muhammad SAW. secara keseluruhan.

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

 

Jadi cinta yang hakiki akan melahirkan ketaatan. Ketaatan merupakan bukti kecintaan. Adalah dusta, mengatakan cinta kepada Nabi SAW tapi lebih taat kepada selain beliau. Adalah dusta, mengaku umat Nabi tapi petunjuk Nabi SAW diganti oleh petunjuk selainnya serta hukum-hukum yang beliau bawa ditinggalkan dan diganti dengan hukum-hukum yang lainnya.

 

Dengan demikian, pernyataan cinta kepada Nabi SAW harus mewujud dalam kecintaan pada syariah Islam.  Dan  itu akan menghasilkan kerinduan pada penerapannya.  Kerinduan pada penerapan syariah akan melahirkan amal dan perjuangan untuk mewujudkan penerapan syariah secara kâffah.

 

Semua itu akan menjadi kunci mendapatkan penjagaan dari Allah SWT.

Rasul SAW berpesan:

 

احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ

Jagalah Allah niscaya Allah menjagamu.  Jagalah Allah niscaya engkau mendapati Allah di hadapanmu… (HR at-Tirmidzi dan Ahmad).

 

Al-Hafizh Ibnu Rajab di dalam Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam menjelaskan: IhfazhilLâh (Jagalah Allah) maksudnya adalah menjaga hudûd, hak-hak, perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya.  Menjaga semua itu adalah dengan menaati perintah-perintah Allah, menjauhi larangan-larangan-Nya dan tidak melanggar hudûd (batasan-batasan)-Nya. 

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

 

Jika suatu umat atau bangsa tidak menjaga Allah, tidak menjaga hudûd-Nya, menelantarkan syariah-Nya, bahkan memusuhi orang yang memperjuangkan penerapan hudûd dan syariah-Nya, maka Allah tidak akan menjaga umat atau bangsa tersebut. Pasti kerusakan terjadi di mana-mana.

 

Maka, Maulid Nabi SAW ini, mari kita jadikan momentum kembali kepada syariah Islam. Hanya itu yang akan menyelematkan negeri dan umat ini.   Wujudkan cinta kita yang hakiki kepada Nabi SAW.

 

 

[]

 

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِن الآيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

 

Khutbah II

 

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

 

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

 عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

UPDATE INFORMASI TERBARU