Seruan Masjid

Khadimul Ummah wa Du'at

KEADILAN HANYA ADA  DALAM SISTEM ISLAM

KEADILAN HANYA ADA DALAM SISTEM ISLAM

cropped-dmdi-logo-warna.png

KEADILAN HANYA ADA DALAM SISTEM ISLAM

KEADILAN HANYA ADA

DALAM SISTEM ISLAM

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْاۗ اِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ۝٨ (اَلْمَائِدَةُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Di tengah harapan masyarakat akan tegaknya keadilan, realitas hukum di negeri ini justru menyuguhkan potret yang memprihatinkan. Sistem peradilan yang berakar dari hukum sekuler kerap menjadi sumber kerusakan dan kegaduhan. Salah satu contohnya adalah keputusan Presiden yang memberikan abolisi kepada Thomas Lembong dan amnesti kepada Hasto Kristiyanto. Meski publik menilai Tom Lembong layak dibebaskan karena dianggap korban kriminalisasi, pemberian amnesti kepada Hasto memicu sorotan tajam karena dinilai sarat kepentingan politik dan mencederai rasa keadilan. Dalam sistem sekuler, Presiden memang memiliki kewenangan memberi amnesti, abolisi, bahkan remisi, termasuk kepada para koruptor. Kewenangan absolut ini menjadikan Presiden berada di atas pengadilan, membuka celah intervensi politik, dan melanggengkan ketidakadilan struktural.

Fenomena ini diperparah dengan tajamnya hukum ke bawah namun tumpul ke atas. Rakyat kecil bisa dihukum tegas untuk perkara sepele, sementara para elit, termasuk koruptor, seringkali bebas dari jerat hukum meski merugikan negara hingga ratusan triliun rupiah. Kasus korupsi di PT Pertamina, misalnya, hingga kini tidak jelas penyelesaiannya dan belum ada satu pun tersangka yang ditetapkan. Ketimpangan ini membuat kepercayaan rakyat terhadap hukum terus terkikis. Semua ini merupakan buah dari sistem hukum sekuler yang tidak bersandar pada wahyu Ilahi, tetapi pada akal manusia dan kepentingan penguasa.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Islam menawarkan sistem peradilan yang adil, kokoh, dan terbebas dari intervensi politik. Sistem ini dibangun di atas dasar iman dan takwa, bersumber dari wahyu Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ, bukan dari hawa nafsu manusia. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman,

اِنِ الْحُكْمُ اِلَّا لِلّٰهِۗ يَقُصُّ الْحَقَّ وَهُوَ خَيْرُ الْفٰصِلِيْنَ

”Hak memutuskan hukum itu hanya ada pada Allah. Dia menerangkan kebenaran dan Dialah Pemberi keputusan terbaik.” (QS. al-An’âm [6]: 57),

 

Dalam ayat lain Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:

وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

”Siapa saja yang tidak memutuskan perkara menurut wahyu yang telah Allah turunkan maka mereka itulah para pelaku kezaliman.” (QS. al-Mâidah [5]: 45).

 

 Karena itu, menurut Imam al-Mâwardi, orang kafir tidak boleh menjadi hakim, bahkan untuk sesama orang kafir, karena mereka tidak berhukum dengan hukum Allah (Al-Ahkaam as-Sulthaaniyyah, hal. 110). Dalam Islam, tidak ada ruang kompromi dalam hukum; pengadilan tidak tunduk pada tekanan kekuasaan atau opini publik.

 

Dalam sistem Islam, keputusan hakim (qaadhi) bersifat final dan tidak dapat dibatalkan, bahkan oleh Khalifah, kecuali jika ditemukan kesalahan prosedural, bukti baru, atau ternyata bertentangan dengan nash al-Qur’an, hadits shahih, ijma’ Sahabat, atau qiyas syar’i. Imam al-Mâwardi menegaskan bahwa tidak halal bagi seorang Imam (Khalifah) membatalkan keputusan qaadhi (Al-Ahkaam as-Sulthaaniyyah, hal. 99).

 

Imam an-Nawawi juga menegaskan pentingnya kembali kepada kebenaran dan tidak bersikukuh dalam kesalahan.

وَاِنَّ الرُّجُوْعُ إِلَى الْحَقِّ أَوْلَى مِنَ التَّمَادِي فِي الّبَاطِلِ

”Sesungguhnya kembali pada kebenaran lebih utama daripada tetap bersikukuh dalam kebatilan.” (An-Nawawi, Al-Majmuu’ Syarh al-Muhadzdzab, 20/138), namun ia menambahkan bahwa keputusan hakim yang benar berdasarkan ijtihad syar’i tidak boleh dibatalkan (Al-Majmuu‘, 20/285). Karena itu, dalam sistem peradilan Islam tidak dikenal banding, kasasi, atau intervensi kekuasaan melalui amnesti dan abolisi.

 

Sistem pembuktian dalam Islam pun sangat ketat dan obyektif. Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda;

لَوْ يُعْطَى النَّاسُ بِدَعْوَاهُمْ، ادَّعَى نَاسٌ دِمَاءَ رِجَالٍ وَأَمْوَالَهُمْ

“Andai manusia diberi (hak) hanya atas dasar klaim mereka, niscaya akan ada orang yang mengklaim darah dan harta orang lain.” (HR. Ibnu Majah), serta sabda Beliau;

الْبَيِّنَةُ عَلَى الْمُدَّعِي وَالْيَمِينُ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ

“Menghadirkan bukti adalah kewajiban atas pihak yang menuduh, sementara sumpah adalah keharusan bagi pihak tertuduh.” (HR. at-Tirmidzi).

 

Dengan prinsip ini, tidak ada vonis tanpa bukti, tidak ada yang kebal hukum, dan tidak ada yang dizalimi. Inilah keunggulan sistem peradilan Islam—adil, independen, dan bersandar pada wahyu Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ semata.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Sejarah mencatat betapa sistem peradilan Islam benar-benar menegakkan keadilan tanpa pandang bulu, bahkan terhadap para khalifah sekalipun. Dalam Al-Kaamil fii at-Taariikh (3/98), dikisahkan Sayyidina Ali bin Abi Tahlib radhiyallâhu ’anhu yang saat itu sebagai khalifah, pernah kalah dalam perkara sengketa baju besi melawan seorang kafir dzimmi karena tidak memiliki bukti yang sah, dan beliau menerima keputusan hakim dengan lapang dada. Ketika orang kafir tersebut menyaksikan sendiri keadilan yang luar biasa, dia akhirnya masuk Islam

 

Dalam Taariikh Dimasyq (44/156), disebutkan pula bahwa Khalifah Umar radhiyallâhu ’anhu dengan rendah hati menjelaskan asal usul jubah yang ia pakai saat dikritisi oleh Sahabat Salman al-Farisi radhiyallâhu ’anhu (rakyatnya), menunjukkan sikap tunduk pada kontrol rakyat. Dalam Musannaf Ibn Abi Shaybah (5/539), Umar radhiyallâhu ’anhu  memotong tangan pencuri pada saat ekonomi masyarakat dalam keadaan normal dan tidak menerapkan potong tangan kepada pencuri saat masa paceklik, menunjukkan penerapan hukum yang mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat.

 

Kisah lain dalam Futuuh al-Buldaan (hal.422) menyebutkan bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz memerintahkan agar pasukan Islam keluar dari Samarkand karena penaklukan dilakukan tanpa peringatan atau dakwah sebelumnya. Qaadhi pun memutuskan hal itu dan pasukan menaati keputusan tersebut, hingga akhirnya banyak penduduk Samarkand masuk Islam karena kagum akan keadilan Islam. Dalam Al-Bidaayah wa an-Nihaayah (10/275), diceritakan bahwa Khalifah Harun ar-Rasyid biasa menunjuk hakim-hakim yang adil dan mencopot pejabat yang zalim. Semua ini menjadi bukti bahwa sistem peradilan Islam menjunjung tinggi keadilan, transparansi, dan tidak tunduk pada tekanan politik atau kekuasaan.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Keadilan sejati tidak akan lahir dari sistem sekuler yang menjadikan hukum sebagai alat kekuasaan dan tunduk pada hawa nafsu serta kepentingan manusia. Selama hukum tidak bersandar pada wahyu Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ, selama itu pula ketidakadilan dan kezaliman akan terus merajalela. Islam hadir dengan sistem peradilan yang adil, tegas, dan tidak pandang bulu. Dalam sistem Khilafah Islamiyah, tidak ada seorang pun yang kebal hukum, termasuk Khalifah. Keputusan hakim tidak bisa dibatalkan hanya karena tekanan politik atau kepentingan penguasa.

 

Karena itu, sudah saatnya umat kembali kepada sistem Islam secara kaaffah, termasuk dalam hal peradilan. Hanya dengan menerapkan sistem pemerintahan Islam, yakni Khilafah Islamiyah, seluruh hukum Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dapat ditegakkan secara menyeluruh dan konsisten. Dengan demikian, keadilan sejati akan benar-benar hadir dan dirasakan oleh seluruh umat manusia. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

 

 

 

 

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

HENTIKAN BENCANA KELAPARAN DI GAZA

HENTIKAN BENCANA KELAPARAN DI GAZA

cropped-dmdi-logo-warna.png

HENTIKAN BENCANA KELAPARAN DI GAZA

HENTIKAN BENCANA

KELAPARAN DI GAZA!

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوْا بِطَانَةً مِّنْ دُوْنِكُمْ لَا يَأْلُوْنَكُمْ خَبَالًاۗ وَدُّوْا مَا عَنِتُّمْۚ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاۤءُ مِنْ اَفْوَاهِهِمْۖ وَمَا تُخْفِيْ صُدُوْرُهُمْ اَكْبَرُۗ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْاٰيٰتِ اِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُوْنَ ۝١١٨ (آلِ عِمْرَانَ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Di tengah penderitaan yang berkepanjangan, rakyat Gaza terus menghadapi tragedi kemanusiaan akibat agresi dan blokade keji dari entitas Zionis Yahudi. Tidak hanya serangan militer yang brutal, kini warga Gaza juga dihadapkan pada bencana kelaparan yang disengaja. Blokade total terhadap bantuan logistik seperti makanan dan obat-obatan telah menyebabkan malnutrisi parah, terutama di kalangan anak-anak, ibu hamil, dan menyusui. Data menunjukkan bahwa lebih dari 144 warga meninggal dunia akibat kelaparan, termasuk 88 anak-anak. Badan Pangan Dunia (WFP) menyebut Gaza telah memasuki fase "catastrophic hunger" atau kelaparan tingkat 5 berdasarkan klasifikasi IPC (tingkat kelaparan dan malnutrisi tertinggi di suatu wilayah), dengan sekitar sepertiga warga Gaza tidak makan selama berhari-hari. Dari total 5,5 juta penduduk Palestina, 100% warga Gaza mengalami kerawanan pangan akut, dan lebih dari 70.000 anak membutuhkan perawatan gizi mendesak.

Tidak berhenti di situ, kezaliman rezim Zionis terus berlanjut dengan penghancuran lebih dari seribu truk bantuan pangan serta serangan terhadap kerumunan warga yang mengantri makanan, menyebabkan lebih dari 1.060 orang tewas dan 7.200 terluka sejak Mei 2025. Pernyataan Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, yang menyarankan untuk membiarkan rakyat Gaza kelaparan, menegaskan bahwa kelaparan dijadikan alat genosida. Bahkan, muncul laporan bahwa tepung dalam bantuan pangan yang disalurkan melalui Gaza Humanitarian Foundation—yang diduga didukung Israel dan AS—mengandung zat narkoba, menunjukkan tindakan yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Situasi ini mencerminkan kekejaman sistematis dan pelanggaran hak asasi manusia dalam skala besar yang tak boleh didiamkan.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Sikap rezim-rezim Arab terhadap penderitaan rakyat Gaza menunjukkan bentuk pengkhianatan yang memilukan. Terutama rezim Mesir di bawah Presiden As-Sisi, yang sampai hari ini menolak membuka gerbang perbatasan Rafah—satu-satunya jalur efektif untuk menyalurkan bantuan ke Gaza. Padahal, penyeberangan Kerem Shalom yang lain berada di bawah kendali militer Zionis. Rezim Mesir beralasan bahwa membuka Rafah akan memicu instabilitas dan arus pengungsi, namun pada 2023 mereka justru membuka perlintasan itu demi evakuasi warga negara AS. Ironisnya, penduduk Gaza dan bantuan kemanusiaan tetap dilarang melewatinya.

Lebih dari itu, rezim Mesir juga menekan Imam al-Azhar, Ahmad al-Tayeb, agar mencabut pernyataannya yang mengecam kekejaman Zionis. Ini dilakukan demi menjaga hubungan dengan entitas Yahudi dan kelangsungan negosiasi politik Mesir-Israel. Tindakan semacam ini mencerminkan sikap tunduk kepada musuh-musuh Islam dan mengabaikan penderitaan saudara seiman. Hal ini bertentangan dengan firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dalam QS. Ali Imran ayat 118 yang memperingatkan kaum Mukmin agar tidak menjadikan orang kafir sebagai teman kepercayaan

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوْا بِطَانَةً مِّنْ دُوْنِكُمْ لَا يَأْلُوْنَكُمْ خَبَالًاۗ وَدُّوْا مَا عَنِتُّمْۚ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاۤءُ مِنْ اَفْوَاهِهِمْۖ وَمَا تُخْفِيْ صُدُوْرُهُمْ اَكْبَرُۗ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْاٰيٰتِ اِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُوْنَ

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan teman kepercayaan kalian adalah orang-orang yang berada di luar kalangan kalian. Mereka itu tidak henti-hentinya menimbulkan kemadaratan atas kalian. Mereka menyukai apa saja yang menyusahkan kalian. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, sementara apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepada kalian ayat-ayat (Kami) jika saja kalian paham.” (QS. Âli Imrân [3]: 118).

Lebih menyedihkan lagi, para pemimpin Arab yang bertetangga langsung dengan Gaza tampak tenang dan nyaman dalam kehidupan mereka, sementara rakyat Gaza menghadapi kelaparan akut. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam dengan tegas mengecam orang yang membiarkan tetangganya kelaparan. Sabda Beliau:

لَيْسَ بِمُؤْمِنٍ مَنْ بَاتَ شَبْعَانَ، وَجَارُهُ إِلَى جَنْبِهِ جَائِعٌ وَهُوَ يَعْلَمُ

”Bukanlah Mukmin orang yang tidur dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangga di sampingnya kelaparan, padahal ia tahu.” (HR. Abu Ya’la).

Hadits ini mengingatkan bahwa keimanan bukan sekadar ucapan, tapi harus diwujudkan dalam solidaritas nyata terhadap penderitaan sesama Muslim.

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam juga memperingatkan bahwa siapa pun yang membiarkan kehormatan dan keselamatan Muslim lain direndahkan tanpa memberi pertolongan, maka Allah pun akan meninggalkannya saat ia membutuhkan pertolongan. Sabda beliau: ”Tidaklah seseorang membiarkan (tidak menolong) seorang Muslim di suatu tempat saat kehormatannya dilecehkan dan harga dirinya direndahkan, melainkan Allah akan membiarkan dia (tidak menolong dirinya) di tempat ia ingin mendapatkan pertolongan-Nya. Tidaklah seseorang menolong seorang Muslim di suatu tempat saat harga dirinya direndahkan dan kehormatannya dilecehkan, melainkan Allah akan menolong dia di tempat ia ingin mendapatkan pertolongan-Nya.” (HR. Ahmad).

Maka sungguh hina dan menyedihkan sikap rezim-rezim Arab yang berpaling dari penderitaan Gaza dan malah memilih bersekutu dengan kaum penjajah.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Genosida yang terus berlangsung di Gaza menunjukkan dengan gamblang betapa dunia internasional, termasuk PBB, telah gagal menjalankan peran kemanusiaan. Negara-negara Barat seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa bukan hanya diam, tapi justru menjadi sekutu yang mendukung genosida terhadap rakyat Gaza. Tragisnya, para penguasa di Dunia Islam yang memiliki kekuatan untuk membela dan membebaskan Gaza justru memilih tunduk dan berkompromi dengan penjajah. Mereka menggelontorkan dana triliunan rupiah ke AS, sementara hanya menyalurkan bantuan minim ke Gaza dan menutupi pengkhianatan mereka dengan retorika-retorika kosong.

Wahai kaum Muslim! Sudah saatnya Anda menyadari bahwa tidak ada harapan pada PBB, negara-negara Barat, maupun para penguasa Arab yang bersekongkol dengan penjajah. Solusi dua negara hanyalah ilusi yang tak pernah benar-benar diinginkan oleh entitas Zionis. Jalan satu-satunya untuk membebaskan Gaza adalah melalui jihad fi sabilillah di bawah kepemimpinan Khilafah Islamiyah. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ telah memerintahkan:

وَاقْتُلُوْهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوْهُمْ وَاَخْرِجُوْهُمْ مِّنْ حَيْثُ اَخْرَجُوْكُمْ وَالْفِتْنَةُ اَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِۚ

”Perangilah mereka di mana saja kalian menjumpai mereka. Usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian. Fitnah (kekufuran) itu lebih besar bahayanya daripada pembunuhan.” (QS. al-Baqarah [2]: 191).

Kelak di Hari Kiamat, para penguasa Muslim tidak akan mampu berlepas diri dari tanggung jawab atas kelalaian dan pengkhianatan mereka terhadap penderitaan saudara-saudara mereka di Gaza. Mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas keengganan mereka mengirimkan bantuan dan tentara untuk membebaskan Palestina dari penjajahan. Sungguh, azab Allah sangat pedih bagi mereka yang berpaling dari perintah-Nya dan membiarkan kezhaliman terus berlangsung. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

SAATNYA NEGARA MENERAPKAN SISTEM EKONOMI ISLAM

SAATNYA NEGARA MENERAPKAN SISTEM EKONOMI ISLAM

cropped-dmdi-logo-warna.png

SAATNYA NEGARA MENERAPKAN SISTEM EKONOMI ISLAM

SAATNYA NEGARA MENERAPKAN

SISTEM EKONOMI ISLAM

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ ۝٩٦ (اَلْأَعْرَافُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Di tengah dinamika kebijakan ekonomi nasional, publik dikejutkan dengan vonis 4,5 tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim kepada mantan Menteri Perdagangan 2015–2016, Tom Lembong, dalam kasus impor gula. Vonis ini menuai kontroversi karena didasarkan pada penilaian bahwa Tom menjalankan kebijakan yang condong pada sistem ekonomi kapitalis. Kapitalisme sendiri merupakan bagian dari ideologi Sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Dalam sistem ini, kepemilikan pribadi dijunjung tinggi, termasuk kepemilikan atas sumber daya alam strategis. Dampaknya nyata terlihat: menurut APBN 2024, PNBP dari sektor energi (migas, minerba, dll) hanya sekitar Rp 500 triliun, jauh lebih kecil dibandingkan pemasukan pajak rakyat yang mencapai hampir Rp 2.000 triliun. Ketimpangan lahan pun mencolok—dari 60 juta hektar lahan bersertifikat, setengahnya dikuasai hanya oleh 60 keluarga (data dari Menteri ATR, Nusron Wahid), sementara jutaan rakyat tak punya lahan sama sekali.

Ironisnya, penguasaan sumber daya oleh segelintir oligarki itu justru dilegalkan oleh negara melalui berbagai regulasi, termasuk UU Cipta Kerja yang dibuat bersama oleh DPR dan Pemerintah. Artinya, jika penerapan kebijakan ekonomi kapitalis dianggap sebagai kejahatan, maka aktor utamanya adalah lembaga-lembaga negara itu sendiri. Negara bahkan menjadikan pajak sebagai sumber utama pendapatan, yang pada 2024 menyumbang lebih dari 70% APBN. Selain itu, negara juga aktif dalam praktik riba dengan terus menambah utang berbunga—bunga utangnya saja hampir mencapai Rp 500 triliun di tahun 2024. Semua ini menunjukkan bahwa sistem ekonomi kapitalis bukan dijalankan oleh individu semata, tetapi justru dilembagakan oleh struktur kekuasaan negara.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Al-‘Allaamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani (w.1977), ulama dan pemikir Islam terkemuka sekaligus pendiri Hizbut Tahrir, menyampaikan kritik tajam terhadap sistem ekonomi kapitalis dalam karya monumentalnya Nizhaam al-Iqtishaadi fii al-Islaam. Kritik beliau sangat mendasar.

Pertama, asas Kapitalisme adalah Sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) yang jelas-jelas batil karena bertentangan dengan Islam yang menjadikan wahyu (syariah) sebagai sumber hukum dalam seluruh aspek kehidupan.

Kedua, konsep kepemilikan dalam Kapitalisme batil karena membolehkan individu atau perusahaan memiliki sumber daya milik umum seperti air, tambang, dan migas, padahal dalam Islam semua itu adalah milik umat yang wajib dikelola oleh negara untuk kepentingan seluruh rakyat, baik Muslim maupun non-Muslim.

Ketiga, sistem ekonomi kapitalis hanya fokus pada akumulasi kekayaan, bukan distribusi yang adil, sehingga menciptakan kesenjangan yang sangat tajam antara si kaya dan si miskin—realitas yang nyata di negeri-negeri yang mengadopsi Kapitalisme, termasuk Indonesia.

Keempat, negara dalam sistem ini lebih melayani kepentingan korporasi dan kaum kapitalis daripada rakyat, sebagaimana diungkap Mahfud MD bahwa setiap pasal dalam undang-undang ada harganya, termasuk UU Cipta Kerja yang berpihak pada oligarki.

Kelima, kebebasan ekonomi yang tidak terkendali justru melahirkan berbagai kezaliman seperti monopoli, eksploitasi buruh, serta kriminalitas ekonomi seperti riba dan spekulasi. Karena itu, Syaikh Taqiyuddin secara tegas menolak ideologi Kapitalisme dan menyerukan sistem ekonomi Islam sebagai solusi yang adil dan sesuai wahyu.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

       Menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, hanya sistem ekonomi Islam yang mampu mewujudkan kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan bagi seluruh rakyat. Hal ini dijelaskan dalam kitab Nizhaam al-Iqtishaadi fii al-Islaam. Di antara poin-poin sistem ekonomi Islam:

Pertama, tujuan utama sistem ekonomi Islam adalah distribusi kekayaan secara adil kepada individu, bukan sekadar pertumbuhan atau akumulasi kekayaan nasional (GDP).

Kedua, kepemilikan dalam Islam dibagi menjadi tiga: kepemilikan individu, umum, dan negara. Kepemilikan individu didasarkan pada firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ;

 لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوْاۗ

”...Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan...” (QS. an-Nisâ’ [4]: 32).

 

Kepemilikan umum ditegaskan dalam hadits Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam;

الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ فِي الْمَاءِ وَالْكَلَإِ وَالنَّارِ وَثَمَنُهُ حَرَامٌ

 

“Kaum Muslim berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: air, rumput dan api. Dan harganya adalah haram.” (HR Ibnu Majah No.2463).

Serta contoh nyata pencabutan pengelolaan tambang garam dari Abyadh bin Hammal (HR Ibnu Majah). Adapun kepemilikan negara mencakup kharaaj, jizyah, fai’, anfaal, harta murtad, dan harta tak bertuan. Firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ;

فَاَنَّ لِلّٰهِ خُمُسَهٗ وَلِلرَّسُوْلِ

”...Sesungguhnya seperlima dari ghaniimah itu adalah untuk Allah dan Rasul...” (QS. al-Anfâl [8]: 41) menjadi dasar pengelolaan kekayaan oleh negara demi kemaslahatan umat.

Ketiga, sistem ekonomi Islam melarang kepemilikan harta dari jalan yang haram seperti riba, gharar (ketidakjelasan), maysir (judi), monopoli, dan spekulasi. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman;

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

”...Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba...” (QS al-Baqarah [2]: 275), dan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam melarang jual beli yang mengandung gharar (ketidakjelasan) (HR Muslim). Larangan ini bertujuan menjaga kebersihan transaksi dan keadilan dalam aktivitas ekonomi. Islam tidak memberi ruang bagi praktik ekonomi eksploitatif yang merugikan masyarakat luas. Sebaliknya, Islam mendorong transaksi yang jelas, saling menguntungkan, dan terbebas dari penindasan ekonomi.

Keempat, negara wajib menjamin kebutuhan pokok rakyat seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Syaikh Taqiyuddin menegaskan hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam: ”Imam (Kepala Negara) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari).

Kelima, negara juga wajib menjamin distribusi sumber daya alam secara merata dan melarang privatisasi aset milik umum. Tambang, air, gas, hutan, dan listrik harus dikelola oleh negara demi kepentingan seluruh rakyat, bukan diserahkan kepada individu atau korporasi. Pandangan ini sekaligus merupakan penolakan tegas terhadap privatisasi yang marak dalam sistem ekonomi kapitalis.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Dengan demikian, jelas bahwa negeri ini masih mempertahankan ideologi Kapitalisme beserta subsistemnya, yakni sistem ekonomi kapitalis. Sistem ini telah nyata gagal mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat, karena hanya menguntungkan segelintir orang (oligarki) melalui penguasaan atas sumber daya alam yang seharusnya menjadi milik umum. Ironisnya, perampasan tersebut dilegalkan melalui berbagai undang-undang yang berpihak pada kepentingan pemilik modal, bukan rakyat.

Sudah saatnya negeri ini meninggalkan sistem Kapitalisme dan kembali pada ideologi Islam dengan sistem ekonomi Islam sebagai subsistemnya. Islam menjadikan syariah sebagai dasar pengaturan seluruh aspek kehidupan, termasuk ekonomi, demi keadilan dan keberkahan. Sebagaimana janji Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dalam Al-Qur’an: "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi..." (QS. al-A’râf [7]: 96). Inilah solusi hakiki untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan yang adil bagi seluruh rakyat. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

ANGKA PENGANGGURAN TINGGI AKIBAT KEGAGALAN SISTEMIK

ANGKA PENGANGGURAN TINGGI AKIBAT KEGAGALAN SISTEMIK

cropped-dmdi-logo-warna.png

ANGKA PENGANGGURAN TINGGI AKIBAT KEGAGALAN SISTEMIK

ANGKA PENGANGGURAN TINGGI

AKIBAT KEGAGALAN SISTEMIK

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ ۝٩٦ (اَلْأَعْرَافُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Di tengah semangat masyarakat mengejar pendidikan tinggi demi masa depan yang lebih baik, realita pahit justru menghantui para lulusan sarjana. Pada 2025, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat ada 7,28 juta orang menganggur, termasuk satu juta lulusan universitas. Keterbatasan lapangan kerja memaksa para sarjana—bahkan mahasiswa aktif—melamar posisi sebagai Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) tambahan di Jakarta. Ironisnya, saat rakyat sulit mendapatkan pekerjaan layak, ratusan pejabat dan politisi justru rangkap jabatan dengan penghasilan sangat besar. Contohnya, Sekjen Kemenkeu menerima gaji Rp 90,5 juta per bulan, ditambah Rp 2,9 miliar sebagai komisaris Pertamina. Sayangnya, belum ada regulasi yang melarang rangkap jabatan ini, sehingga kekayaan pejabat terus menumpuk, kontras dengan rakyat yang berjuang mencari sesuap nasi.

 

Situasi ini mencerminkan kegagalan sistemik akibat penerapan sistem ekonomi Kapitalisme yang menimbulkan ketimpangan sosial dan ekonomi. Sistem ini memusatkan kekayaan pada segelintir elite—seperti 48% dari 55,9 juta hektare lahan bersertifikat yang dikuasai hanya oleh 60 keluarga (Tirto.id).

Negara lebih fokus membiayai proyek-proyek tidak prioritas seperti IKN, sementara abai menyiapkan lapangan kerja. Beban pajak tinggi dan mahalnya bahan baku membuat banyak perusahaan lokal gulung tikar, kalah saing dengan produk impor murah seperti dari Cina. Kapitalisme juga kerap menciptakan krisis ekonomi yang berulang dan struktur ketenagakerjaan yang tidak stabil, membuat pekerja mudah dipecat dan memicu gelombang PHK massal. Pada akhirnya, masyarakat miskin semakin sulit mengakses pekerjaan karena keterbatasan modal dan keterampilan, dan ini memperparah lingkaran pengangguran.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Sistem pemerintahan Islam (Khilafah) adalah sistem yang mengatur masyarakat berdasarkan syariah. Dalam konteks ekonomi, Khilafah memiliki pendekatan khas untuk mengatasi pengangguran. Islam mewajibkan laki-laki bekerja untuk menafkahi keluarga, sebagaimana firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ:

وَعَلَى الْمَوْلُوْدِ لَهٗ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِۗ 

”…Kewajiban ayah untuk menanggung nafkah dan pakaian mereka secara layak…” (QS. al-Baqarah [2]: 233).

 

Maka negara dalam sistem Islam wajib menyediakan lapangan kerja dan menjamin kebutuhan rakyat. Mengabaikan kewajiban ini berarti melanggar perintah Allah.

 

Khalifah wajib menerapkan hukum Allah dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk ekonomi dan pemerintahan, sesuai firman Allah:

وَاَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ اَنْ يَّفْتِنُوْكَ عَنْۢ بَعْضِ مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ اِلَيْكَۗ

”Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka berdasarkan wahyu yang telah Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian wahyu yang telah Allah turunkan kepada kamu…” (QS. al-Mâidah [5]: 49)

Negara berkewajiban menjamin kebutuhan dasar rakyat seperti pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan. Negara juga mendorong tumbuhnya usaha produktif dan melarang sistem ekonomi yang tidak adil seperti oligarki.

Islam melarang penumpukan kekayaan di tangan segelintir orang, sebagaimana firman-Nya:

كَيۡ لَا يَكُونَ دُولَةَۢ بَيۡنَ ٱلۡأَغۡنِيَآءِ مِنكُمۡۚ

”…Supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian…” (QS. al-Hasyr [59]: 7).

 

Khilafah melarang praktik riba, eksploitasi, monopoli, kartel, serta kepemilikan individu atas sumber daya alam yang strategis. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam pernah melarang Sahabat Abyadh bin Hammal radhiyallâhu ’anhu untuk menguasai tambang garam yang depositnya melimpah yang ada di daerah Ma’rib (HR Ibnu Majah). Semua itu demi keadilan distribusi kekayaan.

Negara Islam akan membangun industri nasional berbasis potensi sumber daya dan kemampuan rakyatnya, membuka lapangan kerja luas bagi semua. Negara juga wajib mengelola lahan mati (ihyaa' al-mawaat), serta mendorong pengembangan sektor jasa dan pertanian. Jika rakyat belum memperoleh pekerjaan, negara akan memberi bantuan sampai mereka memperoleh pekerjaan yang layak.

Pendanaan negara diperoleh dari sumber-sumber syar’i seperti zakat, kharaj, jizyah, fa’i, dan kepemilikan umum, tanpa memberlakukan pajak tetap. Negara juga wajib menjamin pelayanan umum seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Khalifah adalah pelayan umat, bukan sekadar penguasa, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam:

الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

"Imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus." (HR al-Bukhari dan Muslim).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Oleh karena itu, para pemimpin negeri ini harus menyadari bahwa sistem ekonomi Kapitalisme telah gagal memberikan kesejahteraan yang hakiki bagi rakyat. Kegagalan sistemik ini hanya bisa dihentikan dengan menghapus sistem Kapitalisme dan menggantinya dengan sistem ekonomi Islam yang bersumber dari Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ, Tuhan Yang Mahaadil. Hanya sistem Islam yang mampu mewujudkan keadilan dan kesejahteraan sejati bagi seluruh rakyat.

Saatnya negeri ini menerapkan sistem Islam secara menyeluruh atas dasar keimanan dan ketakwaan, yang akan mendatangkan keberkahan dari langit dan bumi. Sebagaimana firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ :

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

”Jika saja penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Kami pasti akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. Karena itu  Kami pun menyiksa mereka disebabkan oleh perbuatan mereka itu.” (QS. al-A’râf [7]: 96). WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

UPDATE INFORMASI TERBARU