AKIBAT KEGAGALAN SISTEMIK
KHUTBAH PERTAMA
اللهُمَّ
فَصَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
كَانَ
صَادِقَ
الْوَعْدِ وَكَانَ
رَسُوْلًا
نَبِيًّا، وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
يُحْسِنُوْنَ
إِسْلاَمَهُمْ
وَلَمْ
يَفْعَلُوْا
شَيْئًا
فَرِيًّا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
اُوْصِيْنِيْ
نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
وَلَوْ
اَنَّ اَهْلَ
الْقُرٰٓى
اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا
لَفَتَحْنَا
عَلَيْهِمْ
بَرَكٰتٍ
مِّنَ
السَّمَاۤءِ
وَالْاَرْضِ
وَلٰكِنْ
كَذَّبُوْا
فَاَخَذْنٰهُمْ
بِمَا كَانُوْا
يَكْسِبُوْنَ ٩٦
(اَلْأَعْرَافُ)
Alhamdulillâhi
Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang
telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di
tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta
keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Bertakwalah kepada
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana
firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali
dalam keadaan muslim.”
(QS. Âli
Imrân
[3]: 102)
Sungguh takwa adalah
benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh,
hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Di tengah semangat masyarakat
mengejar pendidikan tinggi demi masa depan yang lebih baik, realita pahit
justru menghantui para lulusan sarjana. Pada 2025, Kementerian Ketenagakerjaan
mencatat ada 7,28 juta orang menganggur, termasuk satu juta lulusan universitas.
Keterbatasan lapangan kerja memaksa para sarjana—bahkan mahasiswa aktif—melamar
posisi sebagai Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) tambahan di
Jakarta. Ironisnya, saat rakyat sulit mendapatkan pekerjaan layak, ratusan
pejabat dan politisi justru rangkap jabatan dengan penghasilan sangat besar.
Contohnya, Sekjen Kemenkeu menerima gaji Rp 90,5 juta per bulan, ditambah Rp
2,9 miliar sebagai komisaris Pertamina. Sayangnya, belum ada regulasi yang
melarang rangkap jabatan ini, sehingga kekayaan pejabat terus menumpuk, kontras
dengan rakyat yang berjuang mencari sesuap nasi.
Situasi ini mencerminkan
kegagalan sistemik akibat penerapan sistem ekonomi Kapitalisme yang menimbulkan
ketimpangan sosial dan ekonomi. Sistem ini memusatkan kekayaan pada segelintir
elite—seperti 48% dari 55,9 juta hektare lahan bersertifikat yang dikuasai
hanya oleh 60 keluarga (Tirto.id).
Negara lebih fokus membiayai
proyek-proyek tidak prioritas seperti IKN, sementara abai menyiapkan lapangan
kerja. Beban pajak tinggi dan mahalnya bahan baku membuat banyak perusahaan
lokal gulung tikar, kalah saing dengan produk impor murah seperti dari Cina.
Kapitalisme juga kerap menciptakan krisis ekonomi yang berulang dan struktur
ketenagakerjaan yang tidak stabil, membuat pekerja mudah dipecat dan memicu
gelombang PHK massal. Pada akhirnya, masyarakat miskin semakin sulit mengakses
pekerjaan karena keterbatasan modal dan keterampilan, dan ini memperparah
lingkaran pengangguran.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Sistem pemerintahan Islam
(Khilafah) adalah sistem yang mengatur masyarakat berdasarkan syariah. Dalam konteks
ekonomi, Khilafah memiliki pendekatan khas untuk mengatasi pengangguran. Islam
mewajibkan laki-laki bekerja untuk menafkahi keluarga, sebagaimana firman Allah
Subhânahu Wa Ta’âlâ:
وَعَلَى
الْمَوْلُوْدِ
لَهٗ
رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ
بِالْمَعْرُوْفِۗ
”…Kewajiban ayah untuk menanggung nafkah dan pakaian
mereka secara layak…” (QS. al-Baqarah [2]: 233).
Maka negara dalam sistem Islam
wajib menyediakan lapangan kerja dan menjamin kebutuhan rakyat. Mengabaikan
kewajiban ini berarti melanggar perintah Allah.
Khalifah wajib menerapkan
hukum Allah dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk ekonomi dan pemerintahan,
sesuai firman Allah:
وَاَنِ
احْكُمْ
بَيْنَهُمْ
بِمَآ
اَنْزَلَ
اللّٰهُ
وَلَا
تَتَّبِعْ
اَهْوَاۤءَهُمْ
وَاحْذَرْهُمْ
اَنْ
يَّفْتِنُوْكَ
عَنْۢ بَعْضِ
مَآ
اَنْزَلَ
اللّٰهُ
اِلَيْكَۗ
”Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara
mereka berdasarkan wahyu yang telah Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti
hawa nafsu mereka. Berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak
memalingkan kamu dari sebagian wahyu yang telah Allah turunkan kepada kamu…” (QS. al-Mâidah [5]: 49)
Negara berkewajiban menjamin
kebutuhan dasar rakyat seperti pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan. Negara
juga mendorong tumbuhnya usaha produktif dan melarang sistem ekonomi yang tidak
adil seperti oligarki.
Islam melarang penumpukan
kekayaan di tangan segelintir orang, sebagaimana firman-Nya:
كَيۡ لَا
يَكُونَ
دُولَةَۢ
بَيۡنَ
ٱلۡأَغۡنِيَآءِ
مِنكُمۡۚ
”…Supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang
kaya saja di antara kalian…” (QS. al-Hasyr [59]: 7).
Khilafah melarang praktik
riba, eksploitasi, monopoli, kartel, serta kepemilikan individu atas sumber
daya alam yang strategis. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam pernah
melarang Sahabat Abyadh bin Hammal radhiyallâhu ’anhu untuk menguasai tambang garam yang depositnya melimpah yang ada di
daerah Ma’rib (HR Ibnu Majah). Semua itu demi keadilan distribusi
kekayaan.
Negara Islam akan membangun
industri nasional berbasis potensi sumber daya dan kemampuan rakyatnya, membuka
lapangan kerja luas bagi semua. Negara juga wajib mengelola lahan mati (ihyaa'
al-mawaat), serta mendorong pengembangan sektor jasa dan pertanian. Jika
rakyat belum memperoleh pekerjaan, negara akan memberi bantuan sampai mereka
memperoleh pekerjaan yang layak.
Pendanaan negara diperoleh
dari sumber-sumber syar’i seperti zakat, kharaj, jizyah, fa’i, dan kepemilikan
umum, tanpa memberlakukan pajak tetap. Negara juga wajib menjamin pelayanan
umum seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Khalifah adalah pelayan umat,
bukan sekadar penguasa, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Subhânahu
Wa Ta’âlâ, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam:
الإِمَامُ
رَاعٍ وَهُوَ
مَسْؤُولٌ
عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Imam
(Khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dia
urus." (HR al-Bukhari dan
Muslim).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Oleh karena itu, para pemimpin
negeri ini harus menyadari bahwa sistem ekonomi Kapitalisme telah gagal
memberikan kesejahteraan yang hakiki bagi rakyat. Kegagalan sistemik ini hanya
bisa dihentikan dengan menghapus sistem Kapitalisme dan menggantinya dengan
sistem ekonomi Islam yang bersumber dari Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ,
Tuhan Yang Mahaadil. Hanya sistem Islam yang mampu mewujudkan keadilan dan
kesejahteraan sejati bagi seluruh rakyat.
Saatnya negeri ini menerapkan
sistem Islam secara menyeluruh atas dasar keimanan dan ketakwaan, yang akan
mendatangkan keberkahan dari langit dan bumi. Sebagaimana firman Allah Subhânahu
Wa Ta’âlâ :
وَلَوْ
اَنَّ اَهْلَ
الْقُرٰٓى
اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا
لَفَتَحْنَا
عَلَيْهِمْ
بَرَكٰتٍ
مِّنَ
السَّمَاۤءِ
وَالْاَرْضِ
وَلٰكِنْ
كَذَّبُوْا
فَاَخَذْنٰهُمْ
بِمَا كَانُوْا
يَكْسِبُوْنَ
”Jika saja penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Kami pasti akan
melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka
mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. Karena itu
Kami pun menyiksa mereka disebabkan oleh perbuatan mereka itu.” (QS. al-A’râf [7]: 96). WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
اْلقُرْآنِ
اْلعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيمِ
وَتَقَبَّلَ
اللهُ مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
العَلِيْمُ،
وَأَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
فَأسْتَغْفِرُ
اللهَ
العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ عَلىَ
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
اِلٰهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى
رِضْوَانِهِ،
اللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
اٰلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
اَيُّهَا
النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَـنَّى
بِمَلآ
ئِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلآئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِى
يآ اَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى
اَنْبِيآئِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلآئِكَةِ
اْلمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِي، وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَتَابِعِي
التَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ
اَلاَحْيآءَ
مِنْهُمْ
وَاْلاَمْوَاتِ،
اللّٰهُمَّ أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَاْلمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
اْلمُوَحِّدِيْنَ،
وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
اْلمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَاْلبَلاَءَ
وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ
وَاْلمِحَنَ،
وَسُوْءَ
اْلفِتْنَةِ
وَاْلمِحَنَ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا
اِنْدُونِيْسِيَّا
خآصَّةً
وَسَائِرِ
بُلْدَانِ
اْلمُسْلِمِيْنَ
عآمَّةً يَا رَبَّ
اْلعَالَمِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِناَ فِى
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
اْلآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَا
وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِاْلعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي
اْلقُرْبىَ
وَيَنْهَى
عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِ
وَاْلبَغْي
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
اْلعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلىَ
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ