DALAM SISTEM ISLAM
KHUTBAH PERTAMA
اللهُمَّ
فَصَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
كَانَ
صَادِقَ
الْوَعْدِ وَكَانَ
رَسُوْلًا
نَبِيًّا، وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
يُحْسِنُوْنَ
إِسْلاَمَهُمْ
وَلَمْ
يَفْعَلُوْا
شَيْئًا
فَرِيًّا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
اُوْصِيْنِيْ
نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوْا
كُوْنُوْا
قَوَّامِيْنَ
لِلّٰهِ
شُهَدَاۤءَ
بِالْقِسْطِۖ
وَلَا
يَجْرِمَنَّكُمْ
شَنَاٰنُ
قَوْمٍ
عَلٰٓى
اَلَّا
تَعْدِلُوْاۗ
اِعْدِلُوْاۗ
هُوَ
اَقْرَبُ
لِلتَّقْوٰىۖ
وَاتَّقُوا
اللّٰهَۗ
اِنَّ
اللّٰهَ
خَبِيْرٌۢ
بِمَا
تَعْمَلُوْنَ ٨
(اَلْمَائِدَةُ)
Alhamdulillâhi
Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang
telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di
tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta
keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Bertakwalah kepada
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana
firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali
dalam keadaan muslim.”
(QS. Âli
Imrân
[3]: 102)
Sungguh takwa adalah
benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh,
hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Di tengah harapan masyarakat
akan tegaknya keadilan, realitas hukum di negeri ini justru menyuguhkan potret
yang memprihatinkan. Sistem peradilan yang berakar dari hukum sekuler kerap
menjadi sumber kerusakan dan kegaduhan. Salah satu contohnya adalah keputusan
Presiden yang memberikan abolisi kepada Thomas Lembong dan amnesti kepada Hasto
Kristiyanto. Meski publik menilai Tom Lembong layak dibebaskan karena dianggap
korban kriminalisasi, pemberian amnesti kepada Hasto memicu sorotan tajam
karena dinilai sarat kepentingan politik dan mencederai rasa keadilan. Dalam
sistem sekuler, Presiden memang memiliki kewenangan memberi amnesti, abolisi,
bahkan remisi, termasuk kepada para koruptor. Kewenangan absolut ini menjadikan
Presiden berada di atas pengadilan, membuka celah intervensi politik, dan
melanggengkan ketidakadilan struktural.
Fenomena ini diperparah dengan
tajamnya hukum ke bawah namun tumpul ke atas. Rakyat kecil bisa dihukum tegas
untuk perkara sepele, sementara para elit, termasuk koruptor, seringkali bebas
dari jerat hukum meski merugikan negara hingga ratusan triliun rupiah. Kasus
korupsi di PT Pertamina, misalnya, hingga kini tidak jelas penyelesaiannya dan
belum ada satu pun tersangka yang ditetapkan. Ketimpangan ini membuat
kepercayaan rakyat terhadap hukum terus terkikis. Semua ini merupakan buah dari
sistem hukum sekuler yang tidak bersandar pada wahyu Ilahi, tetapi pada akal
manusia dan kepentingan penguasa.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Islam menawarkan sistem
peradilan yang adil, kokoh, dan terbebas dari intervensi politik. Sistem ini
dibangun di atas dasar iman dan takwa, bersumber dari wahyu Allah Subhânahu
Wa Ta’âlâ, bukan dari hawa nafsu manusia. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ
berfirman,
اِنِ
الْحُكْمُ
اِلَّا
لِلّٰهِۗ
يَقُصُّ الْحَقَّ
وَهُوَ
خَيْرُ
الْفٰصِلِيْنَ
”Hak memutuskan hukum itu hanya ada pada Allah. Dia menerangkan kebenaran
dan Dialah Pemberi keputusan terbaik.” (QS. al-An’âm [6]: 57),
Dalam ayat lain Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ
berfirman:
وَمَنْ
لَّمْ
يَحْكُمْ
بِمَآ
اَنْزَلَ اللّٰهُ
فَاُولٰۤىِٕكَ
هُمُ
الظّٰلِمُوْنَ
”Siapa saja yang tidak memutuskan
perkara menurut wahyu yang telah Allah turunkan maka mereka itulah para pelaku
kezaliman.” (QS. al-Mâidah [5]: 45).
Karena itu, menurut Imam al-Mâwardi, orang kafir tidak boleh menjadi
hakim, bahkan untuk sesama orang kafir, karena mereka tidak berhukum dengan
hukum Allah (Al-Ahkaam as-Sulthaaniyyah, hal. 110). Dalam Islam,
tidak ada ruang kompromi dalam hukum; pengadilan tidak tunduk pada tekanan
kekuasaan atau opini publik.
Dalam sistem Islam, keputusan
hakim (qaadhi) bersifat final dan tidak dapat dibatalkan, bahkan oleh Khalifah,
kecuali jika ditemukan kesalahan prosedural, bukti baru, atau ternyata
bertentangan dengan nash al-Qur’an, hadits shahih, ijma’ Sahabat, atau qiyas
syar’i. Imam al-Mâwardi menegaskan
bahwa tidak halal bagi seorang Imam (Khalifah) membatalkan keputusan qaadhi (Al-Ahkaam as-Sulthaaniyyah, hal. 99).
Imam an-Nawawi juga menegaskan
pentingnya kembali kepada kebenaran dan tidak bersikukuh dalam kesalahan.
وَاِنَّ
الرُّجُوْعُ
إِلَى الْحَقِّ
أَوْلَى مِنَ
التَّمَادِي
فِي الّبَاطِلِ
”Sesungguhnya kembali pada kebenaran lebih utama daripada tetap bersikukuh
dalam kebatilan.” (An-Nawawi, Al-Majmuu’
Syarh al-Muhadzdzab, 20/138), namun ia menambahkan bahwa keputusan
hakim yang benar berdasarkan ijtihad syar’i tidak boleh dibatalkan (Al-Majmuu‘,
20/285). Karena itu, dalam sistem peradilan Islam tidak dikenal banding,
kasasi, atau intervensi kekuasaan melalui amnesti dan abolisi.
Sistem pembuktian dalam Islam
pun sangat ketat dan obyektif. Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda;
لَوْ
يُعْطَى
النَّاسُ
بِدَعْوَاهُمْ،
ادَّعَى
نَاسٌ
دِمَاءَ
رِجَالٍ
وَأَمْوَالَهُمْ
“Andai manusia diberi (hak) hanya atas dasar klaim mereka, niscaya akan ada
orang yang mengklaim darah dan harta orang lain.” (HR. Ibnu Majah), serta
sabda Beliau;
الْبَيِّنَةُ
عَلَى
الْمُدَّعِي
وَالْيَمِينُ
عَلَى
الْمُدَّعَى
عَلَيْهِ
“Menghadirkan bukti adalah kewajiban atas pihak yang menuduh, sementara
sumpah adalah keharusan bagi pihak tertuduh.” (HR. at-Tirmidzi).
Dengan prinsip ini, tidak ada
vonis tanpa bukti, tidak ada yang kebal hukum, dan tidak ada yang dizalimi.
Inilah keunggulan sistem peradilan Islam—adil, independen, dan bersandar pada
wahyu Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ semata.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Sejarah mencatat betapa sistem
peradilan Islam benar-benar menegakkan keadilan tanpa pandang bulu, bahkan
terhadap para khalifah sekalipun. Dalam Al-Kaamil fii at-Taariikh (3/98),
dikisahkan Sayyidina Ali bin Abi Tahlib radhiyallâhu ’anhu yang saat itu sebagai khalifah, pernah kalah dalam perkara sengketa
baju besi melawan seorang kafir dzimmi karena tidak memiliki bukti yang sah,
dan beliau menerima keputusan hakim dengan lapang dada. Ketika orang kafir
tersebut menyaksikan sendiri keadilan yang luar biasa, dia akhirnya masuk Islam
Dalam Taariikh Dimasyq
(44/156), disebutkan pula bahwa Khalifah Umar radhiyallâhu ’anhu dengan rendah hati menjelaskan asal usul jubah yang ia pakai saat
dikritisi oleh Sahabat Salman al-Farisi radhiyallâhu ’anhu (rakyatnya), menunjukkan sikap tunduk pada kontrol rakyat. Dalam Musannaf
Ibn Abi Shaybah (5/539), Umar radhiyallâhu ’anhu memotong tangan pencuri pada
saat ekonomi masyarakat dalam keadaan normal dan tidak menerapkan potong tangan
kepada pencuri saat masa paceklik, menunjukkan penerapan hukum yang
mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat.
Kisah lain dalam Futuuh
al-Buldaan (hal.422) menyebutkan bahwa Khalifah Umar bin Abdul
Aziz memerintahkan agar pasukan Islam keluar dari Samarkand karena penaklukan
dilakukan tanpa peringatan atau dakwah sebelumnya. Qaadhi pun memutuskan
hal itu dan pasukan menaati keputusan tersebut, hingga akhirnya banyak penduduk
Samarkand masuk Islam karena kagum akan keadilan Islam. Dalam Al-Bidaayah
wa an-Nihaayah (10/275), diceritakan bahwa Khalifah Harun
ar-Rasyid biasa menunjuk hakim-hakim yang adil dan mencopot pejabat yang zalim.
Semua ini menjadi bukti bahwa sistem peradilan Islam menjunjung tinggi
keadilan, transparansi, dan tidak tunduk pada tekanan politik atau kekuasaan.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Keadilan sejati tidak akan
lahir dari sistem sekuler yang menjadikan hukum sebagai alat kekuasaan dan
tunduk pada hawa nafsu serta kepentingan manusia. Selama hukum tidak bersandar
pada wahyu Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ, selama itu pula ketidakadilan dan
kezaliman akan terus merajalela. Islam hadir dengan sistem peradilan yang adil,
tegas, dan tidak pandang bulu. Dalam sistem Khilafah Islamiyah, tidak ada
seorang pun yang kebal hukum, termasuk Khalifah. Keputusan hakim tidak bisa
dibatalkan hanya karena tekanan politik atau kepentingan penguasa.
Karena itu, sudah saatnya umat
kembali kepada sistem Islam secara kaaffah, termasuk dalam hal peradilan. Hanya
dengan menerapkan sistem pemerintahan Islam, yakni Khilafah Islamiyah, seluruh
hukum Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dapat ditegakkan secara menyeluruh dan
konsisten. Dengan demikian, keadilan sejati akan benar-benar hadir dan
dirasakan oleh seluruh umat manusia. WalLâhu
a’lam bi ash-shawâb. []
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
اْلقُرْآنِ
اْلعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيمِ
وَتَقَبَّلَ
اللهُ مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
العَلِيْمُ،
وَأَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
فَأسْتَغْفِرُ
اللهَ
العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ عَلىَ
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
اِلٰهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى
رِضْوَانِهِ،
اللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
اٰلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
اَيُّهَا
النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَـنَّى
بِمَلآ
ئِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلآئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِى
يآ اَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى
اَنْبِيآئِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلآئِكَةِ
اْلمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِي، وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَتَابِعِي
التَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ
اَلاَحْيآءَ
مِنْهُمْ
وَاْلاَمْوَاتِ،
اللّٰهُمَّ أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَاْلمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
اْلمُوَحِّدِيْنَ،
وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
اْلمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَاْلبَلاَءَ
وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ
وَاْلمِحَنَ،
وَسُوْءَ
اْلفِتْنَةِ
وَاْلمِحَنَ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا
اِنْدُونِيْسِيَّا
خآصَّةً
وَسَائِرِ
بُلْدَانِ
اْلمُسْلِمِيْنَ
عآمَّةً يَا رَبَّ
اْلعَالَمِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِناَ فِى
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
اْلآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَا
وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِاْلعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي
اْلقُرْبىَ
وَيَنْهَى
عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِ
وَاْلبَغْي
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
اْلعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلىَ
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ