MENGAKHIRI PENGKHIANATAN PARA PENGUASA
KHUTBAH PERTAMA
اللهُمَّ
فَصَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
كَانَ
صَادِقَ
الْوَعْدِ وَكَانَ
رَسُوْلًا
نَبِيًّا، وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
يُحْسِنُوْنَ
إِسْلاَمَهُمْ
وَلَمْ
يَفْعَلُوْا
شَيْئًا
فَرِيًّا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ، اُوْصِيْنِيْ
نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
وَلَا
تَرْكَنُوْٓا
اِلَى
الَّذِيْنَ
ظَلَمُوْا
فَتَمَسَّكُمُ
النَّارُۙ
وَمَا لَكُمْ
مِّنْ دُوْنِ
اللّٰهِ مِنْ
اَوْلِيَاۤءَ
ثُمَّ لَا
تُنْصَرُوْنَ ١١٣
(هُوْدٌ)
Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman
dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan
salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu
‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga
akhir zaman.
Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan
sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya;
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah
kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)
Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah
kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan
selamat di dunia dan akhirat.
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Dalam sunyi yang penuh luka,
Gaza masih memanggil dunia dengan isak tangisnya. Derita belum juga berakhir,
sementara ancaman genosida terus membayangi penduduknya yang kian lemah dan tak
berdaya. Hingga 15–16 Juni 2025, jumlah korban tewas akibat genosida yang
dilakukan Zionis Yahudi telah mencapai sekitar 55.362 jiwa, dengan lebih dari
128.741 orang terluka sejak Oktober 2023. Korban terbanyak adalah perempuan,
anak-anak, dan warga sipil yang tak bersalah. Lebih dari 92% rumah serta
infrastruktur publik pun luluh lantak, rata dengan tanah.
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Ketika tanah kaum Muslim
diinjak-injak oleh penjajah dan darah saudara seiman tertumpah tanpa henti,
syariat Islam memberikan tuntunan tegas bagi umatnya untuk membela kehormatan,
tanah air, dan nyawa sesama Muslim dari agresi musuh.
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman;
وَقَاتِلُوْا
فِيْ
سَبِيْلِ
اللّٰهِ الَّذِيْنَ
يُقَاتِلُوْنَكُمْ
”Perangilah di jalan Allah
orang-orang yang memerangi kalian.” (QS.
al-Baqarah [2]: 190).
Ayat ini menunjukkan bahwa jihad menjadi fardu
‘ain saat negeri kaum Muslim diserang, seperti di Gaza dan Palestina. Para
Sahabat Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam berijmak atas kewajiban umat
Islam membela negeri mereka dari penjajah. Para ulama pun menegaskan hal ini,
seperti Imam Ibnu Qudamah, Imam an-Nawawi, dan Imam al-Mawardi, yang menyatakan
bahwa membebaskan negeri Muslim dari musuh, meski dengan pengorbanan jiwa,
adalah kewajiban seluruh kaum Muslim dan bagian dari tanggung jawab
kepemimpinan Islam.
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Di tengah tragedi kemanusiaan
yang menimpa Palestina, umat Islam diuji: apakah masih memiliki rasa satu tubuh
atau telah terpecah oleh ‘ashabiyah—fanatisme kesukuan, kebangsaan, dan
nation-state. Fakta dinginnya respons sebagian penguasa negeri-negeri Arab,
seperti Mesir, terhadap penderitaan Gaza menunjukkan betapa dalamnya pengaruh
‘ashabiyah. Padahal Islam memandang ‘ashabiyah sebagai warisan jahiliah yang
tercela, karena ia menutup mata dari kebenaran dan keadilan.
Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi
wasallam bersabda,
لَيْسَ
مِنَّا مَنْ
دَعَا إِلَى
الْعَصَبِيَّةِ،
وَلَيْسَ
مِنَّا مَنْ
قَاتَلَ عَلَى
الْعَصَبِيَّةِ،
وَلَيْسَ
مِنَّا مَنْ مَاتَ
عَلَى
الْعَصَبِيَّةِ
”Bukan termasuk golongan
kami orang yang menyerukan ‘ashabiyah. Bukan termasuk golongan kami orang yang
berperang karena ‘ashabiyah. Bukan termasuk golongan kami orang yang mati di
atas ‘ashabiyah.” (HR Abu Dawud
No.5121). Beliau bahkan menggambarkan ‘ashabiyah sebagai bau busuk yang
harus ditinggalkan (HR al-Bukhari dan Muslim).
Dalam dunia modern, ‘ashabiyah
menjelma menjadi nasionalisme dan sistem negara-bangsa, yang menuntut loyalitas
di atas ikatan aqidah. Islam datang untuk menghapus ikatan sempit ini dan
menggantinya dengan ikatan iman, sebagaimana firman Allah Subhânahu Wa
Ta’âlâ,
إِنَّمَا
الْمُؤْمِنُوْنَ
إِخْوَةٌ
”Sungguh kaum Mukmin itu
bersaudara”
(QS. al-Hujurât [49]: 10). dan firman-Nya yang lain;
إِنَّ
هَذِهِ
أُمَّتُكُمْ
أُمَّةً
وَاحِدَةً
Sungguh umat kalian ini adalah umat yang satu"
(QS. al-Anbiyâ’ [21]: 92).
Namun sejak runtuhnya Khilafah
pada 1924 dan ditegakkannya sistem nation-state hasil perjanjian penjajah
seperti Sykes-Picot, umat terpecah dalam lebih dari 50 negara. Derita umat
seperti di Palestina, Suriah, dan lainnya dianggap "urusan dalam
negeri", sehingga tanggung jawab pun menguap. Padahal Allah telah
menegaskan, "Jika mereka
meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama maka kalian
wajib menolong mereka" (QS. al-Anfâl [8]: 72).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Tragedi Gaza bukan hanya tentang genosida
brutal atas rakyat Palestina, tetapi juga membuka kedok kemunafikan dan
pengkhianatan para penguasa negeri-negeri Muslim, khususnya penguasa Arab. Saat
rakyat Palestina dibantai dengan senjata dan dana Barat, para pemimpin Muslim
memilih bungkam, netral, atau bahkan menghalangi bantuan dan pembelaan. Rezim
seperti Mesir menutup perbatasan Rafah, menangkap demonstran pro-Palestina, dan
memadamkan semangat jihad. Mereka bukan pelindung umat, melainkan tembok
penghalang yang justru menormalisasi hubungan dengan penjajah Zionis. Dalam
pandangan Islam, ini adalah bentuk pengkhianatan besar terhadap umat.
Islam
mengecam keras kezaliman dan pengkhianatan tersebut. Allah Subhânahu Wa
Ta’âlâ memperingatkan,
“Janganlah kalian condong kepada orang-orang yang zalim, lalu kalian nanti
akan disentuh api neraka” (QS. Hûd [11]: 113). Nabi Shallallâhu ‘alaihi
wasallam pun
mengingatkan: ”Sungguh jika manusia melihat seorang zalim, lalu mereka tidak
mencegah tangannya, Allah nyaris akan menimpakan azab-Nya kepada mereka
semuanya” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi). Ibn Hajar menyebut diamnya
penguasa dari menolong yang dizalimi sebagai dosa besar. Bahkan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi
wasallam
menegaskan, siapa yang mampu menolong Mukmin yang dihinakan namun tak menolong,
akan dihinakan Allah di hadapan seluruh makhluk pada Hari Kiamat (HR
al-Hakim dan ath-Thabarani). Ini menjadi peringatan keras bagi para
pemimpin Muslim yang abai, bahkan menghalangi perjuangan membela Palestina.
Umat Islam harus menyadari bahwa para
penguasa Muslim saat ini tidak menjalankan peran sebagai junnah (perisai) umat sebagaimana sabda Nabi Shallallâhu ‘alaihi
wasallam, "Sungguh
Imam (Khalifah) adalah perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan
berlindung dengannya” (HR Muslim). Karena itu, solusi hakiki bukan
hanya mengutuk penguasa khianat, tetapi mencabut sistem kufur nation-state yang
melahirkan mereka, lalu menggantinya dengan Khilâfah ‘alâ minhâj an-nubuwwah yang akan mempersatukan dan menggerakkan
kekuatan umat untuk membela agama dan kaum Muslim tertindas, termasuk rakyat
Palestina. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
اْلقُرْآنِ
اْلعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيمِ
وَتَقَبَّلَ
اللهُ مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
العَلِيْمُ،
وَأَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
فَأسْتَغْفِرُ
اللهَ
العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ عَلىَ
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
اِلٰهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى
رِضْوَانِهِ،
اللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
اَيُّهَا
النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ بَدَأَ
فِيْهِ
بِنَفْسِهِ
وَثَـنَّى
بِمَلآ
ئِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلآئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِى
يآ اَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى
اَنْبِيآئِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلآئِكَةِ
اْلمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِي، وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَتَابِعِي
التَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ
اَلاَحْيآءَ
مِنْهُمْ
وَاْلاَمْوَاتِ،
اللّٰهُمَّ أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَاْلمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
اْلمُوَحِّدِيْنَ،
وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ الدِّيْنِ،
وَاعْلِ
كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَاْلبَلاَءَ
وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ
وَاْلمِحَنَ،
وَسُوْءَ
اْلفِتْنَةِ
وَاْلمِحَنَ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا
اِنْدُونِيْسِيَّا
خآصَّةً
وَسَائِرِ
بُلْدَانِ
اْلمُسْلِمِيْنَ
عآمَّةً يَا رَبَّ
اْلعَالَمِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِناَ فِى
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
اْلآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَا
وَإنْ لَمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ ! إِنَّ
اللهَ يَأْمُرُ
بِاْلعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي
اْلقُرْبىَ
وَيَنْهَى
عَنِ
اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِ
وَاْلبَغْي
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
اْلعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلىَ
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ