CARA ISLAM MENGENTASKAN KEMISKINAN
KHUTBAH PERTAMA
اللهُمَّ
فَصَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
كَانَ
صَادِقَ
الْوَعْدِ
وَكَانَ
رَسُوْلًا
نَبِيًّا، وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
يُحْسِنُوْنَ
إِسْلاَمَهُمْ
وَلَمْ
يَفْعَلُوْا
شَيْئًا
فَرِيًّا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
اُوْصِيْنِيْ
نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
اِنَّمَا
الصَّدَقٰتُ
لِلْفُقَرَاۤءِ
وَالْمَسٰكِيْنِ
وَالْعٰمِلِيْنَ
عَلَيْهَا
وَالْمُؤَلَّفَةِ
قُلُوْبُهُمْ
وَفِى الرِّقَابِ
وَالْغٰرِمِيْنَ
وَفِيْ سَبِيْلِ
اللّٰهِ
وَابْنِ
السَّبِيْلِۗ
فَرِيْضَةً
مِّنَ
اللّٰهِۗ
وَاللّٰهُ
عَلِيْمٌ
حَكِيْمٌ ٦٠
(اَلتَّوْبَةُ)
Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman
dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan
salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu
‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga
akhir zaman.
Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan
sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah
kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)
Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah
kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan
selamat di dunia dan akhirat.
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Kemiskinan dan ketimpangan ekonomi
masih menjadi tantangan serius yang membayangi kehidupan masyarakat Indonesia.
Menurut Bank Dunia, sekitar 60,3% penduduk Indonesia atau sekitar 171,8 juta
jiwa hidup di bawah garis kemiskinan internasional sebesar US$6,85 per kapita
per hari (berdasarkan PPP 2017), standar yang digunakan untuk negara
berpendapatan menengah atas seperti Indonesia sejak 2023 dengan GNI per kapita
US$4.870. Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat
kemiskinan nasional pada September 2024 hanya sebesar 8,57% atau sekitar 24,06
juta jiwa, berdasarkan garis kemiskinan nasional Rp595.242 per bulan. Perbedaan
ini wajar karena perbedaan standar pengukuran, sebagaimana dijelaskan oleh
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti (Merdeka.com, 2 Mei 2025).
Selain kemiskinan, Indonesia
juga menghadapi ketimpangan ekonomi yang sangat mencolok. Global Inequality
Report 2022 menempatkan Indonesia sebagai negara keenam dengan ketimpangan
kekayaan tertinggi di dunia, di mana empat orang terkaya memiliki kekayaan
lebih besar dari total kekayaan 100 juta penduduk termiskin. Oxfam (2023)
mencatat bahwa kesenjangan antara yang terkaya dan termiskin di Indonesia
tumbuh lebih cepat dibandingkan negara lain di Asia Tenggara dalam dua dekade
terakhir. Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah kemiskinan dan ketimpangan
bersifat struktural, yang dipicu oleh penerapan sistem kapitalisme—seperti
pencabutan subsidi BBM dan dominasi konglomerasi atas sektor strategis—serta
lemahnya peran negara dalam menyediakan layanan dasar seperti pendidikan,
kesehatan, dan infrastruktur bagi rakyat.
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Dalam Islam, kemiskinan tidak
hanya dilihat dari sisi materi, tetapi juga dari kemampuan memenuhi kebutuhan
dasar (dharûriyyat) dengan cara yang menjaga martabat dan keimanan.
Dalam al-Quran, orang miskin disebut sebagai faqîr dan miskîn,
yang keduanya berhak menerima zakat. Firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ:
اِنَّمَا
الصَّدَقٰتُ
لِلْفُقَرَاۤءِ
وَالْمَسٰكِيْنِ...
“Sesungguhnya sedekah itu hanya untuk orang-orang fakir,
orang-orang miskin...” (QS. at-Taubah [9]: 60).
Menurut Imam Ibn Katsir, faqir lebih membutuhkan dibanding miskin,
sementara Abu Hanifah berpendapat
bahwa orang miskin lebih parah kondisinya dibanding faqir. Syaikh Abdul Qadim Zallum menjelaskan bahwa
fakir adalah orang yang penghasilannya tidak cukup untuk kebutuhan pokok,
sementara miskin adalah orang yang tidak memiliki apa-apa dan tidak
meminta-minta. Rasulullah bersabda:
لَيْسَ
الْمِسْكِينُ
الَّذِي
يَطُوفُ عَلَى
النَّاسِ
تَرُدُّهُ
اللُّقْمَةُ
وَاللُّقْمَتَانِ
وَالتَّمْرَةُ
وَالتَّمْرَتَانِ
وَلَكِنْ
الْمِسْكِينُ
الَّذِي لَا
يَجِدُ غِنًى
يُغْنِيهِ
وَلَا
يُفْطَنُ
بِهِ فَيُتَصَدَّقُ
عَلَيْهِ
وَلَا
يَقُومُ
فَيَسْأَلُ
النَّاسَ
”Bukanlah orang miskin itu orang yang berkeliling
(meminta-minta) kepada manusia, yang diberi sesuap dua suap, sebutir dua butir
kurma. Akan tetapi, orang miskin adalah yang tidak memiliki kecukupan, namun
tidak diketahui orang sehingga tidak diberi sedekah, dan tidak berdiri untuk
meminta-minta kepada manusia.” (HR. Muttafaq ‘alaih).
Kemiskinan dan kefakiran dalam
Islam diukur dari ketidakmampuan memenuhi kebutuhan hidup yang mendasar,
seperti makan, pakaian, dan tempat tinggal. Dalam hal ini, orang miskin berhak
menerima zakat hingga dapat mengangkat kemiskinannya dan mencukupi kebutuhannya
(Zallum, Al-Amwâl, hal. 143). Kefaqiran dan
kemiskinan yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Quran dan hadits ini menunjukkan
bahwa kedua kondisi tersebut adalah hasil dari ketidakmampuan seseorang dalam
memenuhi kebutuhan dasar yang wajar dalam hidup.
Sistem ekonomi Islam
menekankan prinsip keadilan (al-‘adl), yang menjadikan distribusi kekayaan merata sebagai tujuan utama.
Islam menolak sistem yang hanya menguntungkan segelintir orang kaya (QS. al-Hasyr [59]:7) dan menekankan
peran negara dalam mengelola sumber daya untuk kesejahteraan rakyat. Negara
Islam atau Khilafah, bertanggung jawab untuk memastikan pemenuhan kebutuhan
dasar setiap individu, termasuk pangan, sandang, papan, pendidikan, dan
kesehatan. Negara juga berperan aktif dalam sektor strategis seperti pertanian,
perdagangan, dan industri untuk mencegah pemusatan kekayaan pada segelintir
orang atau korporasi, sebagaimana ditegaskan oleh Al-Maliki dalam Politik Ekonomi
Islam (2001).
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Dalam Islam, cara mengentaskan
kemiskinan dimulai dengan; Pertama, pengaturan kepemilikan yang
adil. Al-Quran menegaskan bahwa harta tidak boleh hanya beredar di antara orang
kaya saja. Firman-Nya :
كَيْ لَا
يَكُوْنَ
دُوْلَةً ۢ
بَيْنَ الْاَغْنِيَاۤءِ
مِنْكُمْۗ
”...Agar harta itu tidak
hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian...” (QS. al-Hasyr [59]: 7).
Sumber daya alam seperti
minyak, gas, dan tambang harus menjadi milik umum yang dikelola negara demi
kesejahteraan rakyat, bukan dikuasai oleh individu atau korporasi. Sistem
ekonomi kapitalis yang diterapkan hari ini, yang menyerahkan pengelolaan aset
strategis kepada individu atau korporasi, telah menyebabkan akumulasi kekayaan
di segelintir orang, bertolak belakang dengan prinsip Islam yang menekankan
kepemilikan umum dan pemerataan kekayaan (Syaikh
Taqiyuddin an-Nabhâni, An-Nizhâm al-Iqtishâdi fî al-Islâm).
Kedua, mekanisme seperti zakat, infak, dan sedekah dalam Islam memastikan
redistribusi kekayaan yang merata. Ketiga, setiap lelaki dewasa
yang mampu wajib mencari nafkah sesuai dengan kemampuannya, sebagaimana firman
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ:
لِيُنْفِقْ
ذُوْ سَعَةٍ
مِّنْ
سَعَتِهٖۗ
”Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya...” (QS. ath-Thalâq [65]: 7).
Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi
wasallam juga menegaskan bahwa mencari nafkah halal untuk keluarga dan
membantu tetangga maka ia akan datang pada Hari Kiamat dengan wajah bagaikan
bulan purnama (HR. al-Baihaqi).
Negara juga berperan penting dengan menyediakan lapangan kerja melalui
kebijakan ekonomi yang berorientasi pada sektor riil seperti perdagangan,
pertanian, dan industri.
Keempat, negara dalam Islam wajib menjamin pemenuhan kebutuhan dasar rakyat seperti
pangan, sandang, papan, pendidikan, dan pelayanan kesehatan secara cuma-cuma.
Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Imam (kepala
negara) adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia
urus.” (HR an-Nasa’i).
Semua mekanisme ini hanya
dapat terlaksana jika negara menerapkan syariah Islam secara menyeluruh dalam
seluruh aspek kehidupan, yang seharusnya diwujudkan dalam pemerintahan,
khususnya di negeri ini. WalLâhu a’lam bi
ash-shawâb. []
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
اْلقُرْآنِ
اْلعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيمِ
وَتَقَبَّلَ
اللهُ مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
العَلِيْمُ،
وَأَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
فَأسْتَغْفِرُ
اللهَ
العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ عَلىَ
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
اِلٰهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى
رِضْوَانِهِ،
اللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
اٰلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
اَيُّهَا
النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَـنَّى
بِمَلآ
ئِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلآئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِى
يآ اَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى
اَنْبِيآئِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلآئِكَةِ
اْلمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِي،
وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَتَابِعِي
التَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ
اَلاَحْيآءَ
مِنْهُمْ
وَاْلاَمْوَاتِ،
اللّٰهُمَّ أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَاْلمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
اْلمُوَحِّدِيْنَ،
وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
اْلمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَاْلبَلاَءَ
وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ
وَاْلمِحَنَ،
وَسُوْءَ
اْلفِتْنَةِ
وَاْلمِحَنَ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا
اِنْدُونِيْسِيَّا
خآصَّةً
وَسَائِرِ
بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ
عآمَّةً يَا
رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِناَ فِى
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
اْلآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَا
وَإنْ لَمْ
تَغْفِرْ
لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِاْلعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي
اْلقُرْبىَ
وَيَنْهَى
عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِ
وَاْلبَغْي
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
اْلعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلىَ
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ