Seruan Masjid

Khadimul Ummah wa Du'at

MOMENTUM PERUBAHAN DARI KEGELAPAN KAPITALISME-SEKULER MENUJU CAHAYA ISLAM

MOMENTUM PERUBAHAN DARI KEGELAPAN KAPITALISME-SEKULER MENUJU CAHAYA ISLAM

cropped-dmdi-logo-warna.png

IDUL FITRI : MOMENTUM PERUBAHAN DARI KEGELAPAN KAPITALISME-SEKULER MENUJU CAHAYA ISLAM

IDUL FITRI:

MOMENTUM PERUBAHAN

DARI KEGELAPAN KAPITALISME-SEKULER

MENUJU CAHAYA ISLAM

 

KHUTBAH PERTAMA

 

السَّلَامُ علَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

 اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً، لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ واللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

الحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْقُرْآنَ نُوْرًا يُضِيْءُ دُرُوْبَ الْعَابِدِيْنَ، وَشَرَّعَ لَنَا شَرِيْعَةً تُصْلِحُ حَالَ اْلأَوَّلِيْنَ وَاْلآخِرِيْنَ، وَأَخْرَجَنَا مِنَ ظُلُمَاتِ الْجَهْلِ وَالظُّلْمِ إِلَى سَنَاءِ الْهُدَى وَالْيَقِيْنِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً نَجْتَازُ بِهَا ظَلاَمَ الضَّلَالِ إِلَى نُوْرِ الْعِرْفَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ جَاءَ بِالدِّيْنِ الْقَوِيْمِ، فَأَضَاءَ اْلأَرْضَ بَعْدَ عَمَى الْجَاهِلِيَّةِ وَظُلُمَاتِ الطُّغْيَانِ. وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ الْكِرَامُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَإِنَّ اللهَ سُبحَانَهُ وَتَعَالىَ يَقُوْلُ فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: ﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ﴾ [آل عمران: 102]

وَقَالَ الرَّسُوْلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ» [رواه مسلم]

 

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Ma’aasyiral Muslimiin rahimakumulLaah,

Segala pujian hanya milik Allah. Tuhan semesta alam. Dialah Tuhan Yang telah memberi kita kesempatan. Kesempatan untuk menapaki Bulan Suci Ramadhan, mengarungi samudera penghambaan, serta membawa kita ke mimbar kemenangan. Itulah Idul Fitri yang sedang kita rayakan. Dengan penuh kegembiraan.

 

Benar. Hari ini kita berdiri di atas mimbar kemenangan. Kemenangan dalam melawan hawa nafsu dan godaan setan. Kemenangan yang tak hanya dirayakan dengan takbir dan tahmid yang kita lantunkan, tetapi juga dengan sujud dan syukur yang kita tunjukkan.

 

Ma’aasyiral Muslimiin rahimakumulLaah,

Pada hari yang mulia ini kita bergembira. Tentu bukan semata karena kita kembali berbuka, tetapi terutama karena Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ telah menjanjikan dua kebahagiaan kepada orang yang berpuasa. Demikian sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam:

 

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan saat berjumpa (di Akhirat) dengan Tuhannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

 

Karena itu kebahagiaan sejati tentu bukan terletak pada rasa lapar dan dahaga yang mampu kita atasi setiap hari. Juga bukan terletak pada rasa lelah dan kantuk yang sukses kita lewati selama bulan suci. Kebahagiaan sejati adalah saat kita berhasil meraih ketakwaan hakiki. Sebabnya, itulah tujuan utama puasa Ramadhan yang kita jalani. Demikian sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu pernah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah [2]: 183).

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Ma’aasyiral Muslimiin rahimakumulLaah,

Sayangnya kebahagiaan ini masih bercampur dengan kesedihan yang menyayat hati. Ramadhan yang penuh dengan keberkahan ini masih saja kita jalani dalam ruang gelap peradaban. Pasalnya, negeri ini, bahkan Dunia Islam, telah lama tenggelam dalam sistem kapitalisme-sekuler yang mencabut keberkahan. Bahkan menjauhkan manusia dari cahaya Islam.

 

Lihatlah di tanah air kita sendiri. Aneka kezaliman makin menusuk hati. Ragam sumberdaya alam dieksploitasi. Bukan untuk kepentingan rakyat yang merintih setiap hari, tetapi untuk dinikmati oleh segelintir oligharki. Jutaan hektar hutan pun dibabat. Semata-mata demi kepentingan sesaat. Itu pun bukan untuk kemaslahatan rakyat, tetapi untuk menambah pundi-pundi kekayaan para konglomerat.

 

Di sisi lain mega korupsi terus menggerogoti negeri. Utang negara dan bunganya terus membumbung tinggi. Aneka pajak makin membebani. Tanah rakyat begitu mudah dirampas oleh oligarki. Angka pengangguran makin menjadi-jadi. Kemiskinan makin menyesakkan dada.

 

Kita juga menyaksikan dekadensi moral makin fatal. Pinjol dan judol makin tak terkontrol. Aneka kejahatan makin mengkhawatirkan. Dari mulai kasus perzinaan, pemerkosaan, LGBT, narkoba, pembunuhan dan ragam kejahatan yang lain. Hukum makin tumpul ke atas, tetapi makin tajam ke bawah. Akibatnya, keadilan makin jauh dari harapan. Semua kerusakan itu terjadi akibat ulah manusia yang melupakan aturan Tuhan. Demikian sebagaimana Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ nyatakan:

 

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ 

”Telah nyata kerusakan, di daratan dan di lautan, karena ulah manusia. Dengan (kerusakan) itu Allah berkehendak agar manusia dapat merasakan sebagian akibat dari ulah mereka itu. Mudah-mudahan (dengan itu) mereka kembali (taat kepada Allah).” (QS. ar-Ruum [30]: 41).

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Ma’aasyiral Muslimiin rahimakumulLaah,

Di tengah gema takbir Idul Fitri, kita masih menyaksikan penderitaan saudara-saudara seiman yang makin mengiris hati. Mulai dari Myanmar, Xinjiang, Yaman, India hingga Palestina. Darah umat Islam pun terus ditumpahkan. Bahkan Bulan Ramadhan kaum zionis Yahudi justru semakin beringas melakukan pembantaian. Semua ini seolah menegaskan kebenaran firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dalam al-Quran:

 

وَلَا يَزَالُوْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوْكُمْ عَنْ دِيْنِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوْا

”Mereka (kaum kafir) tidak akan berhenti memerangi kalian sampai mereka berhasil mengeluarkan kalian (murtad) dari agama kalian jika saja mereka mampu (berbuat demikian).” (QS. al-Baqarah [2]: 217).

 

Akan tetapi, sungguh ironi. Sebagian penguasa Muslim, terutama para penguasa Arab, bukannya memerangi entitas Yahudi. Mereka justru memilih berdamai dan melakukan normalisasi. Mereka bahkan berteman akrab dengan entitas Yahudi. Padahal Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ tegas telah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى اَوْلِيَاۤءَۘ

”Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman akrab (penolong/pemimpin) kalian.” (QS. al-Mâidah [5]: 51).

 

Para penguasa tersebut begitu tega mengkhianati saudara-saudara mereka. Bahkan mereka berani mengkhianati Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dan Rasul-Nya, yang telah menyuruh mereka melindungi umatnya. Padahal Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ telah berfirman:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

”Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-Nya. Jangan pula kalian mengkhianati amanah-amanah kalian, sementara kalian tahu.” (QS. al-Anfâl [8]: 27).

 

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Ma’aasyiral Muslimiin rahimakumulLaah,

Apakah keadaan ini akan kita biarkan sampai merusak semua sendi kehidupan, termasuk menghancurkan keluarga kita? Jawabannya tentu tidak! Kita harus segera keluar dari kegelapan dunia ini. Menuju cahaya Islam yang menerangi. Caranya tidak lain dengan bersegera menerapkan hukum-hukum al-Quran. Cukuplah firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berikut menjadi alasan:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوْقِنُوْنَ 

”Apakah sistem hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik hukumnya dibandingkan dengan (hukum) Allah bagi kaum yang yakin?” (QS. al-Mâidah [5]: 50).

 

Sesungguhnya agama ini diturunkan untuk membawa umat manusia dari kegelapan menuju cahaya terang benderang. Al-Qur’an pun diturunkan untuk menyelamatkan umat manusia menuju cahaya Ilahi. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ telah berjanji:

 

الر ۚ كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ

 

”Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrâhim [14]: 1)

 

Bukankah kita telah menyaksikan bahwa Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam dengan Al-Qur’an telah membawa bangsa Arab dari kegelapan hidup jahiliyah menuju peradaban agung yang penuh berkah? Membawa bangsa yang buta huruf, penyembah berhala, penuh dengan takhayul dan khurafat menjadi kaum beriman yang berpikiran cemerlang, unggul tak terkalahkan? Selanjutnya cahaya ini dibawa untuk membebaskan umat manusia di dua pertiga dunia menuju kehidupan yang memuliakan setiap insan.

 

Maka apakah pantas seorang muslim meragukan janji Rabbnya terhadap agama ini? Janji yang datang dari langit, dibawa manusia paling mulia dalam kitab yang juga mulia. Bahwa Allah Ta’ala telah berjanji akan mendatangkan keberkahan manakala iman dan takwa terwujud dalam kehidupan. FirmanNya:

 

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوْا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوْا۟ فَأَخَذْنَٰهُمْ بِمَا كَانُوْا۟ يَكْسِبُوْنَ

 

”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan buka atas mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’râf [7]: 96)

 

Ma’aasyiral Muslimiin rahimakumulLaah,

Berbagai kerusakan yang sudah begitu nyata adalah bukti yang tak bisa dibantah bahwa aturan hidup selain Islam hanya mendatangkan kesengsaraan. Komunisme telah bangkrut setelah menciptakan bencana kemanusiaan, dan hari ini kapitalisme juga kita saksikan sedang di ujung ajalnya. Bukankah telah nampak tanda-tanda itu di depan mata?

 

Sedangkan di tangan kita, wahai kaum muslimin, telah ada sistem kehidupan yang mulia, yang telah berhasil menyelamatkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Ideologi yang membebaskan manusia dari perbudakan sesama manusia menuju penghambaan hanya pada Allah sang Maha Pencipta. Ideologi yang mengeluarkan manusia dari kesempitan hidup dunia menuju kelapangan hidup. Ideologi yang membawa manusia keluar dari berbagai kezaliman agama dan aturan lain menuju aturan hidup yang berkeadilan.

 

Sesungguhnya semakin gelap malam justru semakin menunjukkan akan terbitnya fajar yang terang benderang. Demikian pula keadaan umat yang hari ini kian terpuruk, justru pertanda akan datangnya cahaya kemenangan Islam. Dengan syarat, umat ini berjuang hanya untuk memenangkan Islam, bukan yang lain.

 

Alhasil, mari kita akhiri era kegelapan ini. Mari kita campakkan akar penyebabnya. Tidak lain ideologi kaptalisme-sekuler yang terbukti rusak dan merusak semua tatanan yang ada. Mari kita bersegera menghidupkan cahaya Islam. Bukan hanya di sudut-sudut hati. Bukan sekadar di dalam diri pribadi. Tapi juga di tengah-tengah masyarakat dan di dalam institusi negara. Mari kita hidupkan cahaya Islam itu di semua lini kehidupan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ بِالْقَرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. 

 

 

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ كَرَّمَ هَذهِ الأُمَّةَ بِشَرِيْعَتِهِ الْكَامِلَةِ، وَخَصَّ بِهَا بِنُبُوَّةِ نَبِيِّهِ الْكَرِيْمَةِ، وَاَعَزَّهَا بِالْخِلَافَةِ الرَّاشِدَةِ. عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّا بَعْدَهُ. اَرْسَلَهُ بِرِسَالَتِهِ الْقُدْسِيَّةِ، وَاَحْكَامِهِ الشَّرِيْفَةِ، لِمُعَالَجَةِ كُلِّ مُشْكِلَةِ الْحَيَاةِ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَذُرِّيَاتِهِ وَأَصْحَابِهِ، صَلاَةً تَجْلِبُ الْخَيْرَ وَالفَلاَحَ وَرِضْوَانَهُ، فِي  الدِّيْنِ والدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ الْكِرَامُ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ الأُمَّةَ لاَ تَنْهَضُ إلَّا بنُوْرِ الْإِسْلاَمِ، وَلاَ تَخْرُجُ مِنْ أزْمَاتِهَا إِلَّا بِتَطْبِيْقِ الشَّرِيْعَةِ وَأَحْكَامِ الْقُرْآنِ، فَقَدْ قَالَ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿اَللَّهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ﴾ [البقرة: 257]

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «بَشِّرْ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِالسَّنَاءِ وَالرِّفْعَةِ وَالدِّيْنِ وَالتَّمْكِيْنِ فِي الْأَرْضِ» [رواه أحمد]

 

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Ma’aasyiral Muslimiin rahimakumulLaah,

Di tengah kegelapan peradaban dunia saat ini, termasuk kegelapan yang dialami bangsa ini, hanya ada satu cahaya yang mampu menerangi. Itulah cahaya Islam. Cahaya yang bersumber dari al-Quran. Demikian sebagaimana yang Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ firmankan:

 

الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ

“Alif Laam Raa. Inilah Kitab (al-Quran) yang Kami turunkan kepada dirimu (Muhammad) agar kamu mengeluarkan manusia dari berbagai kegelapan menuju cahaya yang terang-benderang. Dengan izin Tuhan mereka, mereka menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa dan Maha Terpuji.” (QS. Ibrâhim [14]: 1).

 

Namun sayang, sebagian kalangan masih tetap menaruh harapan pada sistem demokrasi untuk membawa perubahan. Tentu harapan itu ibarat menanti cahaya dari bara api yang padam. Faktanya, sistem demokrasi inilah—sebagai subsistem dari ideologi kapitalisme-sekuler—yang justru menjadi akar segala persoalan.

 

Padahal Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ telah memberi kita petunjuk yang jelas. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ pun telah memberi kita solusi tuntas. Itulah al-Quran yang merupakan satu-satunya pilihan orang-orang waras. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْ أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ…

“(Itulah) Bulan Ramadhan, yang di dalamnya diturunkan al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia, juga berisi berbagai penjelasan atas petunjuk tersebut, sekaligus sebagai pembeda (antara yang haq dan yang batil)…” (QS. al-Baqarah [2]: 185).

 

Karena itu jalan keluar dari kegelapan ini hanya satu, yakni kembali pada Islam secara kaaffah. Tidak lain dengan menerapkan secara total syariahnya yang penuh berkah. Demikian sebagaimana yang Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ titahkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا ادْخُلُوْا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ

”Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kalian ke dalam Islam secara total! Janganlah kalian menikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu adalah musuh kalian yang sangat nyata.” (QS. al-Baqarah [2]: 208).

 

Sungguh, hanya dengan Islam yang diterapkan secara kaaffah, umat ini akan kembali meraih ‘izzah. Seperti masa Baginda Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam yang mampu mengangkat derajat bangsa Arab menjadi mulia. Seperti masa Khulafaur Rasyidin yang sanggup menaklukkan adidaya Romawi dan Persia. Seperti masa Kekhilafahan Umar bin Abdul Aziz yang mampu mensejahterakan rakyatnya secara merata. Seperti masa Kekhilafahan Abbasiyah dengan segala kemajuan sains dan teknologinya yang luar biasa dan menginspirasi dunia. Seperti peradaban Islam di Andalusia yang menerangi daratan Eropa.

 

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Ma’aasyiral Muslimiin rahimakumulLaah,

Karena itu Idul Fitri hari ini sejatinya bukanlah sekadar perayaan. Ia adalah seruan. Seruan untuk mencampakkan segala bentuk kekufuran. Seruan untuk keluar dari ruang gelap peradaban kapitalisme-sekuler yang dipenuhi oleh aneka persoalan. Sekaligus seruan untuk menegakkan kembali syariah Islam dalam semua aspek kehidupan. Demi membangun kembali peradaban yang berbasiskan al-Quran. Sebabnya, hanya dengan al-Quran kita akan meraih segenap kemuliaan dan keberkahan. Cukuplah firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang menjadi jaminan:

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوْهُ وَاتَّقُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

“Inilah Kitab al-Quran yang telah Kami turunkan dengan penuh keberkahan. Karena itu ikutilah al-Quran dan takutlah kalian (dari upaya menyelisihi al-Quran) agar kalian dirahmati (oleh Allah).” (QS. al-An’am [6]: 155).

 

Untuk itu, mari kita amalkan seluruh isi al-Quran. Mari kita terapkan semua hukum dan aturan al-Quran. Hanya saja, pengamalan dan penerapan semua kandungan al-Quran, termasuk semua hukum dan aturan al-Quran, membutuhkan sebuah kekuasaan. Tidak lain kekuasaan Islam. Kekuasaan Islam itulah yang sejak awal Rasulullah saw. mohonkan kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dan beliau perjuangkan. Demikian sebagaimana yang Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ isyaratkan dalam al-Quran:

وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِيْ مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِيْ مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِيْ مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيْرًا

Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku, masukkan diriku (ke Kota Madinah) dengan cara masuk yang benar, keluarkanlah aku (dari Makkah) dengan cara keluar yang benar, dan berilah aku dari sisi-Mu kekuasaan yang menjadi penolong.” (QS. al-Isrâ’ [17]: 80).

 

Berkaitan dengan ayat di atas, Imam Ibnu Katsir mengutip pernyataan Qatadah rahimahulLaah: “Di dalam ayat ini jelas Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam telah menyadari bahwa beliau tidak punya kesanggupan untuk menegakkan agama ini kecuali dengan dukungan kekuasaan. Karena itulah beliau memohon kepada Allah kekuasaan yang bisa menjadi penolong untuk menegakkan Kitab Allah (al-Quran), untuk menerapkan huduud (hukum-hukum)-Nya, untuk menjalankan kewajiban-kewajiban-Nya dan untuk menegakkan agama-Nya.” (Ibnu Katsir, Tafsiir al-Qur’aan al-‘Azhiim, 5/111).

 

Atas dasar hal demikian, wajar jika para ulama menjadikan agama dan kekuasaan sebagai dua perkara yang tak boleh dipisahkan. Demikian sebagaimana Imam al-Ghazali rahimahulLaah nyatakan:

الدِّيْنُ وَالْمُلْكُ تَوْأَمَانِ مِثْلُ أَخَوَيْنٍ وُلِدَا مِن بْطَنٍ وَاحِدٍ

“Agama dan kekuasaan itu ibarat saudara kembar; seperti dua saudara yang dilahirkan dari perut (rahim) yang sama.” (Al-Ghazali, At-Tibr al-Masbuuk fii Nashiihah al-Muluuk, 1/19).

 

Pasalnya, tanpa kekuasaan, Islam tak bisa ditegakkan. Sebaliknya, tanpa Islam, kekuasaan hanya akan membawa kehancuran. Demikian sebagaimana yang juga Imam al-Ghazali tegaskan:

الدِّيْنُ أُسٌّ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ، وَمَا لَا أُسَّ لَهُ فَمَهْدُوْمٌ وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ

”Agama adalah pondasi, sementara kekuasaan adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki pondasi akan runtuh. Apa saja yang tidak punya penjaga akan rubuh (sirna).” (Al-Ghazali, Al-Iqtishaad wa al-I’tiqaad, 1/76).

 

Kekuasaan dalam Islam, sebagaimana dinyatakan dalam banyak nash syariah, juga  dijelaskan oleh para ulama mu’tabar, tidak lain adalah Khilafah. Inilah yang harus kita perjuangkan. Sebabnya, tanpa Khilafah, hukum-hukum al-Quran mustahil bisa ditegakkan. Itulah mengapa, kaum kafir dulu berusaha menghancurkan Khilafah. Tidak lain agar dengan itu mereka mudah menjauhkan kaum Muslim dari al-Quran. Akibatnya, al-Quran tinggal bacaan dan hapalan, sementara hukum-hukumnya dicampakkan dan ditinggalkan. Tak lagi dijadikan pedoman kehidupan. Akhirnya, kita terus berada dalam era kegelapan. Itulah yang terjadi sampai sekarang. Itu pula yang kaum kafir inginkan.

 

Untuk itu, mari kita songsong kembali cahaya Islam. Mari kita tegakkan kembali kemuliaan kaum Muslim. Mari kita tegakkan kembali al-Quran. Mari kita tegakkan kembali institusi kekuasaan yang mampu menerapkan hukum-hukum al-Quran dalam semua aspek kehidupan. Itulah Khilafah Islam. Khilafah ar-Raasyidah ‘alaa minhaaj an-Nubuwwah. Hanya dengan itu umat ini bisa lepas dari belenggu kegelapan menuju cahaya Islam. Hanya dengan itu pula kita dapat mewujudkan kembali ‘izzah al-Islaam wa al-Muslimiin. Itulah yang diisyaratkan oleh Imam Malik rahimahullâhu:

لَنْ يُصْلِحَ آخِرَ هَذِهِ الأُمَّةِ إِلاَّ مَا أَصْلَحَ أَوَّلَهَا

“Tidak akan pernah bisa memperbaiki kondisi generasi akhir umat saat ini kecuali apa yang telah terbukti mampu memperbaiki kondisi generasi awal mereka.” (At-Tirmidzi, Adhwâ’ al-Bayân [Mukhtashar asy-Syamâíl Muhammadiyyah]), 2/282).

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُوَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Ma’aasyiral Muslimiin rahimakumulLaah,

Terakhir, marilah kita berdoa, dengan penuh kerendahan hati dan kesungguhan jiwa. Semoga Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ menjadikan kita termasuk bagian dari para pejuang Islam, yang turut berkonstribusi mengembalikan ‘izzul Islaam wal Muslimiin. Semoga Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ menerima semua amal kita, mengampuni seluruh dosa kita, sekaligus memberi kita kekuatan untuk terus berjuang di jalan-Nya. Semoga pada hari yang penuh berkah ini, Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ mengabulkan semua doa dan harapan kita.

 

اللَّهُمّ صّلِ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَذُرِّيَاتِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا، وَلِوَالِدِيْنَا، وَلِأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَلِمَشَايِخِنَا، وَلِعُلَمَائِنَا، وَلِدُعَاتِنَا، وَلِلْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِعِزَّةِ اْلإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَلِلشُّهَدَاءِ وَالْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ أَنْتَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا، وَاجْعَلْهُ خَالِصًا لِوَجْهِكَ الكَرِيْمِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ العَتِيْقِيْنَ مِنَ النَّارِ، وَمِنَ الفَائِزِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ انْصُرِ المُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَ المُسْلِمِيْنَ فِيْ فِلِسْطِيْنَ، وَفِي اليَمَنِ، وَفِيْ بُورْمَا، وَفِيْ شِينْجِيَانْغ، وَفِي الهِنْدِ، وَفِيْ كُلِّ مَكَانٍ. اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ عَوْنًا وَنَصِيْرًا، وَأَيِّدْهُمْ بِنَصْرِكَ وَحِفْظِكَ وَرِعَايَتِكَ، وَاخْذُلْ أَعْدَاءَنَا، أَعْدَاءَكَ، وَأَعْدَاءَ الدِّيْنِ مِنَ الْكَافِرِيْنَ الْمُجْرِمِيْنَ الَّذِيْنَ خَذَلَ وَ قَاتَلَ المُسْلِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ أَزِلْ عَنَّا ظُلُمَاتِ الرَّأْسِمَالِيَّةِ وَالشُّيُوْعِيَّةِ، وَأَعِدْ لِهَذِهِ الأُمَّةِ مَجْدَهَا بِتَطْبِيْقِ شَرِيْعَتِكَ. اللَّهُمَّ أَعِدْ نُوْرَ الإِسْلَامِ لِيُنِيْرَ الْعَالَمَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ جُنْدِهِ المُخْلِصِيْنَ.

اللَّهُمَّ أَهْلِكِ الظَّالِمِيْنَ الَّذِيْنَ يُعَادُوْنَ دِيْنَكَ وَيُحَارِبُوْنَ أَوْليَاءَكَ. اللَّهُمَّ زَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ، وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ. اللَّهُمَّ أَنزِلْ عَلَيْهِمْ رِجْزَكَ وَعَذَابَكَ الَّذِيْ لَا يُرَدُّ عَنِ القَوْمِ المُجرِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْ مَكْرَهُمْ فِيْ نُحُوْرِهِمْ، وَأَرِنَا فِيْهِمْ يَوْمًا أَسْوَدَ كَمَا جَعَلْتَهُ فِيْ فِرْعَوْنَ وَقَارُوْنَ وَهَامَانَ.

اللَّهُمَّ عَجِّلْ لَنَا بِقِيَامِ دَوْلَةِ الْخِلَافَةِ  الرَّاشِدَةِ الثَّانِيَّةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، الَّتِيْ تَحْكُمُ بِشَرِيْعَتِكَ الْعُظْمَى وَتَحْمِلُ دَعْوَتَكَ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْهَا وَاقِعًا مَشْهُوْدًا، وَارْزُقْنَا شَرَفَ الْجِهَادِ وَالدَّعْوَةِ فِيْ سَبِيْلِكَ.

اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلَامٌ عَلَى المُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.  تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ، وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

DARI KEGELAPAN KAPITALISME-SEKULER MENUJU CAHAYA ISLAM

DARI KEGELAPAN KAPITALISME-SEKULER MENUJU CAHAYA ISLAM

cropped-dmdi-logo-warna.png

DARI KEGELAPAN KAPITALISME-SEKULER MENUJU CAHAYA ISLAM

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الْحَمْدَ لِلهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

اَللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَوْلِيَاۤؤُهُمُ الطَّاغُوْتُ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِّنَ النُّوْرِ اِلَى الظُّلُمٰتِۗ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَࣖ ۝٢٥٧ (اَلْبَقَرَةُ)

=====

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullâh,   

Tak terasa, kita sudah berada di babak akhir Ramadhan. Tinggal beberapa hari lagi, Ramadhan akan segera berlalu. Tentu dalam dalam suasana penuh rasa haru. Di sisi lain Idul Fitri akan segera datang. Tentu dalam suasana penuh harapan akan kemenangan, juga kegembiraan, setelah menjalankan ibadah puasa selama sebulan. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

”Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan saat bertemu dengan Tuhannya.” (HR al-Bukhari No.7492 dan Muslim No.1151).

 

Namun demikian, kemenangan sejati tidak hanya terbatas pada lapar dan dahaga yang sukses kita atasi setiap hari selama Ramadhan. Kemenangan sejati adalah saat kita mampu meraih predikat takwa. Sebabnya, itulah tujuan utama dari ibadah puasa:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

”Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu pernah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalain bertakwa.” (QS. al-Baqarah [2]: 183).

 

Hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullâh

Sayangnya, di tengah keberkahan Ramadhan, kita masih berada dalam kegelapan peradaban kapitalisme-sekuler. Berbagai persoalan seperti korupsi, utang negara yang membengkak, pengangguran, perampasan tanah, serta ketidakadilan hukum terus menghantui negeri ini. Idul Fitri yang seharusnya membawa kegembiraan justru diwarnai dengan penderitaan rakyat akibat sistem kapitalisme-demokrasi yang menindas. Tidak aneh jika muncul tagar: #IndonesiaGelap.

 

Kondisi serupa juga terjadi di dunia Islam, seperti di Palestina, di mana rakyatnya telah mengalami penjajahan selama lebih dari tujuh dekade dengan dukungan Barat. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ telah memperingatkan dalam firman-Nya:

وَلَا يَزَالُوْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ حَتّٰى يَرُدُّوْكُمْ عَنْ دِيْنِكُمْ اِنِ اسْتَطَاعُوْا

”Mereka (kaum kafir) tidak akan berhenti memerangi kalian sampai mereka dapat mengembalikan kalian dari agama kalian jika saja mereka sanggup.” (QS. al-Baqarah [2]: 217).

 

Ironisnya, banyak penguasa Muslim yang justru menormalisasi hubungan dengan entitas Yahudi dan mengabaikan penderitaan rakyat Palestina. Dunia Islam terus berada dalam cengkeraman hegemoni Barat melalui intervensi politik, ketergantungan ekonomi, dan pelemahan militer. Para pemimpin Muslim lebih banyak menjadi boneka Barat daripada membela rakyatnya sendiri. Ketergantungan pada utang ribawi membuat mereka tidak memiliki kebebasan dalam menentukan kebijakan ekonomi. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ pun telah memperingatkan agar umat Islam tidak menjadikan kaum kafir sebagai pemimpin atau penolong mereka.

وَلَنْ يَّجْعَلَ اللّٰهُ لِلْكٰفِرِيْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ سَبِيْلًا

”Sekali-kali Allah tidak akan pernah memberikan jalan kepada kaum kaum kafir untuk menguasai kaum Mukmin.” (QS an-Nisâ’ [4]: 141).

 

Tak hanya di dunia Islam, sistem kapitalisme-sekuler telah menciptakan berbagai krisis global. Krisis ekonomi terus memperparah kesenjangan sosial, sementara krisis moral menyebabkan dekadensi seperti seks bebas dan LGBT. Eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali juga menyebabkan bencana lingkungan dan perubahan iklim. Di sisi lain, kepemimpinan dunia lebih mengutamakan kepentingan korporasi dibanding kesejahteraan rakyat. Kapitalisme yang menolak hukum-hukum Allah dalam kehidupan hanya membawa penderitaan, sebagaimana firman-Nya:

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا

”Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran) maka sesungguhnya bagi dia penghidupan yang sempit.” (QS Thâhâ [20]: 124).

 

Sebagian orang masih berharap pada demokrasi dan kapitalisme untuk membawa perubahan, padahal sistem ini justru menjadi sumber masalah. Sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan telah mengakibatkan hukum-hukum Allah tidak diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan. Sementara itu, demokrasi memberikan kewenangan kepada manusia untuk membuat hukum sendiri yang penuh kelemahan.

 

Islam, sebagai sistem yang sempurna, telah memberikan solusi bagi setiap persoalan hidup, sebagaimana firman-Nya:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ

”Kami telah menurunkan Kitab al-Quran ini sebagai penjelasan atas segala sesuatu sekaligus sebagai petunjuk, rahmat dan kabar gembira baik kaum Muslim.” (QS an-Nahl [16]: 89).

 

Oleh karena itu, satu-satunya jalan keluar dari kegelapan ini adalah dengan menerapkan sistem Islam secara menyeluruh. Tidak ada sistem yang lebih baik daripada hukum Allah, sebagaimana firman-Nya yang artinya : Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi kaum yang yakin? (TQS al-Mâidah [5]: 50). Hanya dengan kembali kepada Islam dalam seluruh aspek kehidupan, umat dapat keluar dari cengkeraman kapitalisme-sekuler dan meraih kesejahteraan serta keadilan yang hakiki.

 

Hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullâh

Dengan menerapkan Islam secara total, kita, baik di negeri ini maupun di dunia Islam, dapat keluar dari kegelapan menuju cahaya Islam, sebagaimana firman Allah:

اَللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ

 

”Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya.” (QS. al-Baqarah [2]: 257).

 

Kejayaan umat Islam pada masa lalu, seperti pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan Kekhalifahan Abbasiyah, adalah hasil dari penerapan syariah Islam secara menyeluruh, yang menciptakan kemakmuran sehingga hampir tidak ada rakyat yang berhak menerima zakat karena kemakmuran begitu merata dan juga kemajuan ilmu pengetahuan. Hal ini menunjukkan bahwa hanya dengan kembali pada Islam secara keseluruhan, umat Islam dapat meraih kejayaan yang sama.

 

Oleh karena itu, kita harus segera meninggalkan ideologi kapitalisme-sekuler dan kembali pada sistem Islam yang sempurna. Sebagaimana firman Allah yang artinya : “Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi kaum yang yakin?” (TQS al-Maidah [5]: 50).

 

Hanya dengan sistem Islam yang diterapkan secara menyeluruh melalui institusi pemerintahan Islam global, Khilafah ‘alaa Minhaaj an-Nubuwwah, umat ini akan terbebas dari kegelapan menuju cahaya yang terang-benderang. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

AL-QURAN SEBAGAI PEDOMAN HIDUP PRIBADI, MASYARAKAT DAN NEGARA

AL-QURAN SEBAGAI PEDOMAN HIDUP PRIBADI, MASYARAKAT DAN NEGARA

cropped-dmdi-logo-warna.png

MEWUJUDKAN DUA PERISAI UMAT

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الْحَمْدَ لِلهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا كَبِيْرًاۙ ۝٩ (الإسراء)

=====

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullâh,   

Di antara sekian banyak keistimewaan Ramadhan adalah karena Ramadhan adalah Bulan al-Quran. Pada bulan mulia inilah al-Quran diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dan pembeda antara yang haq dan yang batil, sebagaimana firman-Nya;

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ

”Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan yang batil).” (QS al-Baqarah [2]: 185).

 

Bahkan, al-Quran diturunkan pada malam paling istimewa, yaitu Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan (QS al-Qadar [97]: 1-3). Al-Quran adalah cahaya penerang yang membimbing manusia menuju kebenaran, kebahagiaan, dan keselamatan di dunia serta akhirat. Hukum-hukumnya berlaku sepanjang masa, tak lekang oleh waktu dan perubahan zaman. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ menegaskan dalam Surah al-Baqarah [2] ayat 2 bahwa al-Quran adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, dan dalam Surah al-Isrâ’ [17] ayat 9 bahwa ia memberikan kabar gembira bagi kaum Mukmin yang beramal shalih.

 

Dengan membaca, menghafal, memahami, dan mengamalkan al-Quran, umat Muslim dapat menjalani hidup sesuai dengan kehendak Allah, yaitu di jalan yang lurus dan selamat. Sebaliknya, jika mereka berpaling dari al-Quran, mereka akan menghadapi kehidupan yang sempit di dunia dan azab yang pedih di akhirat, sebagaimana diperingatkan dalam Surah Thâhâ [20] ayat 124. Oleh karena itu, setiap Muslim hendaknya menjadikan al-Quran sebagai pedoman utama dalam kehidupan agar selalu berada di jalan kebenaran dan memperoleh ridha-Nya.

 

Hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullâh,

Kehidupan yang sempit saat ini adalah akibat dari berpalingnya manusia dari al-Quran. Padahal, negeri ini memiliki kekayaan alam yang melimpah, namun tidak membawa berkah karena dikelola tanpa mengikuti petunjuk al-Quran. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ telah melarang penumpukan kekayaan pada segelintir orang dalam firman-Nya

…كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ

 

”…Agar harta itu tidak hanya beredar (menumpuk) pada segelintir orang-orang kaya saja di antara kalian.” (QS al-Hasyr [59]: 7). Tetapi faktanya, kekayaan negeri ini hanya dinikmati oleh oligarki. Islam menegaskan bahwa sumber daya alam adalah milik umum yang wajib dikelola negara untuk kesejahteraan rakyat, bukan hanya segelintir pihak.

 

Hawa nafsu membawa manusia pada kesesatan dan kerusakan, sedangkan al-Quran adalah cahaya penerang yang memberikan keberkahan. Firman-Nya :

…قَدۡ جَآءَكُم مِّنَ ٱللَّهِ نُورٌ وَكِتَٰبٌ مُّبِينٌ

”…Sungguh telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan.” (QS al-Mâidah [5]: 15).

 

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda;

اِقْرَؤُوْا القُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ

”Bacalah al-Quran karena ia akan datang sebagai pemberi syafaat bagi sahabatnya pada Hari Kiamat.” (HR Muslim No.804). Sahabat al-Quran adalah mereka yang membaca, memahami, dan mengamalkan isi al-Quran dalam kehidupan sehari-hari. (Daliil al-Fâlihiin, 6/310).

 

Al-Quran tidak hanya menjadi pedoman bagi individu dan masyarakat, tetapi juga bagi negara. Keagungan al-Quran digambarkan dalam firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ bahwa jika diturunkan ke gunung, maka gunung itu akan tunduk karena takut kepada Allah. Firman-Nya;

لَوْأَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

”Andai al-Quran ini Kami turunkan di atas gunung, kamu (Muhammad) pasti akan menyaksikan gunung itu tunduk dan terbelah karena takut kepada Allah. Perumpamaan itu kami buat untuk manusia agar mereka mau berpikir.” (QS al-Hasyr [59]: 21).

 

Abu Hayan al-Andalusi menafsirkan ayat ini sebagai celaan bagi manusia yang keras hatinya dan tidak tunduk pada al-Quran, padahal gunung pun akan tunduk terhadapnya. (Bahr al-Muhîth, 9/251).

 

Al-Quran tidak cukup hanya dibaca dan dihafal, tetapi harus dipahami dan diterapkan dalam kehidupan individu, sosial, dan kenegaraan. Perintah seperti puasa Ramadhan (QS al-Baqarah [2]: 183), hukum qishaash (QS al-Baqarah [2]: 178), dan jihad (QS al-Baqarah [2]: 216) menggunakan kata “kutiba” yang berarti diwajibkan. Namun, saat ini, hanya kewajiban individu yang diamalkan, sedangkan hukum sosial dan kenegaraan banyak diabaikan, termasuk oleh para pemimpin Muslim.

 

Karena itu, individu, masyarakat, dan negara wajib meneladani Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam yang menerapkan hukum-hukum Islam secara kaaffah (QS al-Ahzâb [33]: 21). Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ juga telah memerintahkan kaum Muslim untuk masuk Islam secara keseluruhan (QS al-Baqarah [2]: 208). Dengan demikian, kebahagiaan dan keberkahan hidup hanya dapat dicapai dengan kembali kepada al-Quran dan mengamalkan seluruh hukum-hukumnya dalam semua aspek kehidupan.

 

Hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullâh

Sayangnya, meskipun negeri ini memiliki ribuan pesantren, ulama, dan penghafal Al-Quran, faktanya hukum Al-Quran tidak dijadikan sebagai dasar perundang-undangan negara. Sebaliknya, ideologi kapitalisme sekuler dari Barat justru menjadi sumber hukum, sementara syariah Islam sering ditolak dan dianggap radikal. Padahal, berhukum dengan Al-Quran merupakan bukti keimanan kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ (QS An-Nisâ’ [4]: 65), dan Allah telah menegaskan bahwa tidak ada hukum yang lebih baik daripada hukum-Nya (QS Al-Mâidah [5]: 50). Berhukum selain dengan Al-Quran berarti mengikuti hukum jahiliyah yang jelas bertentangan dengan Islam.

 

Apalagi sudah jelas, akibat mengabaikan al-Quran dan hukum-hukumnya, negeri ini menjadi gelap. Akibat mengabaikan hukum-hukum Allah, negeri ini dipenuhi kemungkaran dan kebatilan. Korupsi triliunan rupiah, judi online, perampasan tanah rakyat, pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, hingga perampokan sumber daya alam oleh kapitalis merajalela. Semua ini adalah akibat berpaling dari petunjuk Al-Quran, sebagaimana digambarkan dalam QS Ar-Rūm [30]: 41 dan QS Thâhâ [20]: 124. Kehancuran moral dan sosial ini hanya dapat dihentikan dengan kembali pada hukum-hukum Islam yang telah Allah tetapkan.

 

Oleh karena itu, penerapan hukum Al-Quran secara kaaffah adalah keharusan, bukan sekadar pilihan. Negara wajib menjadikannya sebagai pedoman dalam seluruh aspek kehidupan, bukan hanya dalam ranah individu dan masyarakat. Bulan Ramadhan ini seharusnya menjadi momentum bagi umat Islam untuk kembali mengamalkan dan menerapkan syariah Islam secara menyeluruh, sebagai solusi atas berbagai permasalahan bangsa ini. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

MEWUJUDKAN DUA PERISAI UMAT

MEWUJUDKAN DUA PERISAI UMAT

cropped-dmdi-logo-warna.png

MEWUJUDKAN DUA PERISAI UMAT

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الْحَمْدَ لِلهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ۝١٨٣ (اَلْبَقَرَةُ)

=====

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullâh,   

Tak ada bulan yang menandingi keistimewaan Ramadhan. Ramadhan dijuluki sayyid asy-syuhuur (pimpinan seluruh bulan) karena begitu berlimpah keutamaannya. Pada bulan ini ditebarkan ampunan dan rahmat Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ. Pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan ini pula ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Itulah Lailatul Qadar.

Pada Bulan Ramadhan Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ menyeru kaum Mukmin untuk melaksanakan ibadah puasa. Demikian sebagaimana firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

 

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS al-Baqarah [2]: 183).

 

Hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullâh,

Secara bahasa, puasa (shawm) bermakna imsâk (menahan), sedangkan secara syar’i, puasa berarti menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami-istri sejak terbit fajar hingga tenggelam matahari. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam menyebut puasa sebagai perisai bagi seorang Mukmin, sebagaimana sabdanya;

الصِّيامُ جنَّةٌ كجُنَّةِ أحدِكُم مِنَ القِتالِ

“Puasa adalah perisai seperti perisai salah seorang dari kalian dalam peperangan.” (HR an-Nasa’i No.2411).

Imam Ibnu Rajab rahimahullâhu menjelaskan bahwa puasa melindungi seorang hamba dari berbagai kemaksiatan di dunia, sebagaimana perisai melindungi seseorang dari serangan musuh (Ibnu Rajab, Jaami’ al-’Uluum wa al-Hikam, 2/139). Selain itu, dalam hadis qudsi, Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ telah berfirman;

الصِّيامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا العَبْدُ مِنَ النّارِ

“Puasa adalah perisai. Dengan perisai itu seorang hamba membentengi dirinya dari siksa api neraka.” (HR Ahmad No.15299).

Puasa yang dijalankan dengan keimanan dan hanya mengharap ridha Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ akan mengantarkan seorang Muslim pada ketakwaan (QS al-Baqarah [2]: 183). Ketakwaan ini mendorongnya untuk menaati perintah Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dan menjauhi segala larangan-Nya, seperti ghibah, kata-kata kotor, kebohongan, riba, zina, dan korupsi. Dengan demikian, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi membentuk pribadi yang senantiasa menjaga ketaatan, bahkan setelah Ramadhan berlalu.

 

Hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullâh

Pertanyaannya, apakah shaum Ramadhan yang telah kita jalankan setiap tahun telah benar-benar menjadi junnah (perisai) untuk diri kita? Sudahkah shaum Ramadhan yang terus berulang setiap tahun membentuk ketakwaan total pada mayoritas Muslim di negeri ini?

Survei Pew Research Center 2024 menunjukkan Indonesia sebagai negara paling religius di dunia, tetapi kenyataan di lapangan bertolak belakang. Banyak pejabat Muslim, tetapi korupsi tetap merajalela, seperti kasus di Pertamina yang merugikan negara hampir Rp 1.000 triliun. Itu belum termasuk total korupsi bernilai ribuan triliun rupiah lainnya di bidang pertambangan, seperti timah, infrastruktur, dan berbagai bidang lainnya. Begitu pula maraknya judi online yang melibatkan 8,8 juta warga dengan perputaran uang Rp 600 triliun serta pinjaman online yang menjerat 18 juta orang dengan total transaksi Rp 69 triliun.

Fenomena ini terjadi karena ajaran Islam telah dipersempit hanya dalam aspek ibadah ritual, sementara aspek lainnya seperti ekonomi, sosial, dan politik dikesampingkan. Inilah paham sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan) yang telah menjadi falsafah di negeri ini. Bahkan, ajaran Islam sering dieksploitasi demi keuntungan politik dan ekonomi, seperti penggunaan citra keshalihan dalam politik menjelang pemilu. Ironisnya, mereka yang menyerukan penerapan Islam secara kaaffah justru dilabeli radikal dan dimusuhi.

 

Padahal, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan bahwa puasa bisa menjadi sia-sia jika tidak membentuk ketakwaan sejati. Sabda beliau:

رُبَّ صَاىِٔمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوْعُ وَالْعَطَشُ

“Betapa banyak orang berpuasa, yang hasil dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga saja” (HR Ahmad No.9683).

Puasa seharusnya menjadi perisai, tetapi tanpa penerapan Islam secara menyeluruh, ia gagal melindungi individu dan masyarakat dari maksiat serta kerusakan sosial.

Selain itu, umat juga kehilangan perisai lain, yakni Imam/Khalifah yang menerapkan Islam secara kaaffah. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda;

إِنَّمَا الإمَامُ جُنَّةٌ

“Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai…” (HR Muslim No.1841).

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa Khalifah melindungi umat dari kejahatan, menjaga kemuliaan Islam, dan memberikan rasa aman. Ketiadaan perisai ini membuat kaum Muslim tercerai-berai, kehilangan perlindungan, dan tidak memiliki kekuatan untuk melawan penjajahan maupun ketidakadilan.

Khilafah yang menjadi pelindung umat dihancurkan oleh Inggris dengan bantuan Kamal Ataturk pada 3 Maret 1924. Sejak saat itu, kaum Muslim dibiarkan tanpa penjaga, sementara musuh-musuh Islam semakin leluasa merampas sumber daya dan melemahkan umat. Bahkan, Khilafah dimonsterisasi agar umat takut terhadap ajarannya sendiri. Imam al-Ghazali rahimahulLâh menegaskan bahwa agama dan kekuasaan adalah saudara kembar;

الدِّيْنُ وَالسُّلْطَانُ تَوْأَمَانِ، وَلِهَذَا قِيْلَ: الدِّيْنُ أُسٌ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ وَمَا لاَ أُسَ لَهُ فَمَهْدُوْمٌ وَمَا لاَ حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ

“Agama dan kekuasaan itu ibarat dua saudara kembar. Karena itu sering dikatakan: Agama adalah fondasi, sementara kekuasaan adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki fondasi akan hancur. Apa saja yang tidak memiliki penjaga akan lenyap.” (Abu Hamid al-Ghazali, Al-Iqtishâd fî al-I’tiqâd, 1/78).

Sudah saatnya umat Islam menyadari bahwa hanya dengan penerapan Islam secara total, ketakwaan sejati dan perlindungan hakiki dapat terwujud.

 

Hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullâh

Wahai kaum Muslim! Bukankah sudah saatnya kita memperbaiki kualitas puasa kita? Tidak lain agar terwujud ketakwaan yang hakiki dan menyeluruh dalam diri kita.

Untuk itu, mari kita menjadikan Ramadhan kali ini untuk memulai perubahan menuju pribadi yang benar-benar bertakwa, yang siap menjalankan dan menegakkan syariah Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ secara kaaffah. Tentu dalam institusi Khilafah. Sebabnya, hanya dengan Khilafahlah segenap ajaran dan hukum-hukum Islam dapat terlaksana sempurna. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

UPDATE INFORMASI TERBARU