MEWUJUDKAN NEGARA ADIDAYA EKONOMI YANG BERIDEOLOGI ISLAM
KHUTBAH PERTAMA
اللهُمَّ
فَصَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
كَانَ
صَادِقَ
الْوَعْدِ
وَكَانَ
رَسُوْلًا
نَبِيًّا، وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
يُحْسِنُوْنَ
إِسْلاَمَهُمْ
وَلَمْ
يَفْعَلُوْا
شَيْئًا
فَرِيًّا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
اُوْصِيْنِيْ
نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
وَمَنْ
اَعْرَضَ
عَنْ
ذِكْرِيْ
فَاِنَّ لَهٗ
مَعِيْشَةً
ضَنْكًا
وَّنَحْشُرُهٗ
يَوْمَ
الْقِيٰمَةِ
اَعْمٰى ١٢٤
(طه)
Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman
dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan
salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu
‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga
akhir zaman.
Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan
sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah
kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)
Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah
kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan
selamat di dunia dan akhirat.
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Dalam dinamika ekonomi global
yang terus berubah, setiap kebijakan dari negara adidaya seperti Amerika
Serikat selalu menjadi sorotan dan membawa dampak luas bagi banyak negara.
Terlebih ketika kondisi ekonomi dunia sedang berada dalam ketidakpastian dan
perubahan politik berlangsung begitu cepat, langkah strategis yang diambil oleh
pemimpin dunia akan selalu menjadi bahan perbincangan dan evaluasi, baik dari
sisi ekonomi, politik, maupun ideologi.
Presiden AS Donald Trump
kembali menarik perhatian dunia dengan menerapkan kebijakan tarif impor baru
bertajuk "Reciprocal
Tariff" sejak 2 April 2025. Kebijakan
ini menetapkan tarif minimum sebesar 10% untuk seluruh produk impor ke AS, dan
tarif lebih tinggi untuk 57 negara, termasuk Indonesia. Trump menyatakan
kebijakan ini bertujuan memperkuat ekonomi domestik, melindungi pekerja lokal,
dan menciptakan persaingan dagang yang adil di tengah defisit ekonomi AS.
Meski tarif resiprokal lazim
digunakan untuk menciptakan keseimbangan perdagangan antarnegara, kebijakan ini
dinilai kontradiktif dengan semangat kapitalisme global yang menjunjung
perdagangan bebas. Sebagai negara pengusung utama ideologi kapitalisme, AS
tetap menggunakan pengaruh hegemoniknya untuk mendikte arah ekonomi global.
Reaksi pun bermunculan, mulai dari perlawanan terbuka seperti Cina, hingga
diplomasi aktif negara-negara Muslim seperti Indonesia, Turki, dan Malaysia
melalui forum G-20 guna menegosiasikan kembali aturan main perdagangan
internasional.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Saat ini, negeri-negeri Muslim
tidak hanya menghadapi keterpurukan ekonomi, tetapi juga menjadi obyek dominasi
negara-negara Barat kapitalis. Dunia Islam telah lama dijadikan sasaran
penjajahan dan permainan ideologi asing, termasuk dalam bentuk penguasaan
politik dan ekonomi. Barat tidak sekadar menjajah, tetapi juga mengubah
negeri-negeri Islam menjadi sekuler, menjauhkan mereka dari sistem Islam yang
hakiki. Karena itu, negara-negara adidaya kapitalisme menjadi sumber
penderitaan bagi umat Islam, baik dalam bentuk intervensi militer maupun
dominasi ekonomi.
Realitas ini menunjukkan bahwa
sistem kapitalisme global telah terbukti merusak dan melumpuhkan potensi
ekonomi umat Islam. Sejak runtuhnya institusi pemersatu umat, yaitu Khilafah
Islam pada tahun 1924, negeri-negeri Muslim dipecah-belah dan dipaksa tunduk
pada sistem ekonomi asing. Padahal, negeri-negeri Muslim memiliki kekayaan
sumberdaya alam yang luar biasa. Namun karena dikuasai oleh kekuatan
kapitalis-imperialis, rakyatnya tetap miskin dan negara-negara mereka terjerat
utang ribawi. Dalam konteks perang tarif resiprokal yang digagas AS,
negara-negara Muslim hanya menjadi korban tanpa daya tawar.
Jelas, kondisi ini
bertentangan dengan apa yang Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ kehendaki. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ
berfirman:
...وَلَن
يَجۡعَلَ
ٱللَّهُ
لِلۡكَٰفِرِينَ
عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
سَبِيلًا
”...Sekali-kali Allah tidak akan
memberikan jalan kepada kaum kafir untuk menguasai kaum Mukmin.” (QS. an-Nisâ’ [4]: 141).
Ayat ini menunjukkan bahwa
kaum Muslim seharusnya tidak tunduk di bawah dominasi kaum kafir. Artinya, umat
Islam wajib memiliki kemandirian, termasuk dalam hal ekonomi, agar tidak mudah
ditekan dan bisa melakukan perlawanan yang setara terhadap dominasi negara
lain.
Solusinya adalah dengan
kembali kepada sistem ekonomi Islam yang diterapkan oleh Negara Khilafah.
Sistem ini memiliki keunggulan komparatif yang tidak dimiliki oleh kapitalisme.
Pertama, sistem moneter Islam
berbasis pada dinar (emas) dan dirham (perak), mata uang yang memiliki nilai
intrinsik dan stabil. Emas dan perak tidak bisa dicetak sembarangan, tidak
mudah dimanipulasi, serta sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, sehingga
menjamin kestabilan moneter.
Kedua, ekonomi Islam menekankan pada sektor riil, melarang riba, pajak, dan
spekulasi. Sumber daya alam dalam Islam adalah milik umum yang harus dikelola
negara untuk kemaslahatan bersama, bukan untuk kepentingan swasta apalagi
asing. Dengan sistem ini, Negara Khilafah akan mandiri secara ekonomi dan mampu
bertahan dalam konstelasi perdagangan internasional, termasuk menghadapi perang
tarif seperti yang dilakukan AS terhadap negara-negara lain.
Jika negeri-negeri Muslim
bersatu dan menerapkan sistem ekonomi Islam secara menyeluruh, maka Dunia Islam
memiliki potensi besar menjadi adidaya ekonomi dunia. Dengan kekayaan sumber
daya alam, bonus demografi, dan posisi strategis dalam jalur perdagangan
global, Dunia Islam akan menjadi kekuatan ekonomi yang adil, seimbang, dan
penuh berkah—berbeda jauh dari sistem kapitalisme yang eksploitatif dan merusak.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Melawan penjajahan Kapitalisme
global adalah kewajiban mendesak bagi kaum Muslim saat ini. Perjuangan politik
umat Islam di seluruh dunia harus dilandasi sudut pandang ideologis Islam untuk
membangun kembali kekuatan Dunia Islam yang sejati. Penggalangan kekuatan ini
tidak boleh bergantung pada negara kapitalis penjajah, tetapi harus dilakukan
atas dasar ideologi Islam. Penegakan kembali Khilafah Islam wajib menjadi
agenda politik global umat Islam, karena hanya melalui Khilafah umat dapat
meraih kemerdekaan hakiki, kekuatan global, serta menyebarkan dakwah Islam ke
seluruh dunia sebagaimana kejayaan peradaban Islam di masa lalu.
Sudah saatnya negeri-negeri
Muslim bangkit dan berpegang teguh pada syariah Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ.
Kejayaan hanya dapat diraih dengan menegakkan syariah Islam secara total dalam
seluruh aspek kehidupan. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ mengingatkan bahwa berpaling dari al-Quran
akan membawa kehidupan yang sempit:
وَمَنۡ
أَعۡرَضَ عَن
ذِكۡرِي
فَإِنَّ
لَهُۥ
مَعِيشَةً ضَنكًا
وَنَحۡشُرُهُۥ
يَوۡمَ
ٱلۡقِيَٰمَةِ
أَعۡمَىٰ
”Siapa saja yang berpaling dari
peringatan-Ku (al-Qur’an) maka sungguh bagi dia penghidupan yang sempit dan
Kami akan menghimpunkan dirinya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thâhâ [20]: 124).
Sementara beriman dan bertakwa
justru akan membuka keberkahan dari langit dan bumi.
وَلَوۡ
أَنَّ أَهۡلَ
ٱلۡقُرَىٰٓ
ءَامَنُواْ
وَٱتَّقَوۡاْ
لَفَتَحۡنَا
عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٍ
مِّنَ
ٱلسَّمَآءِ
وَٱلۡأَرۡضِ...
”Andai saja penduduk negeri-negeri
beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka aneka
keberkahan dari langit dan bumi…” (QS. al-A’râf [7]: 96). Ketakwaan yang diwujudkan melalui penerapan syariah secara menyeluruh
inilah yang akan menjadi jalan menuju kemuliaan dan keberkahan bagi umat Islam
di seluruh dunia. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
اْلقُرْآنِ
اْلعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيمِ
وَتَقَبَّلَ
اللهُ مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
العَلِيْمُ،
وَأَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
فَأسْتَغْفِرُ
اللهَ
العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ عَلىَ
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
اِلٰهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى
رِضْوَانِهِ،
اللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
اٰلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
اَيُّهَا
النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَـنَّى
بِمَلآ
ئِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلآئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِى
يآ اَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى
اَنْبِيآئِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلآئِكَةِ
اْلمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِي،
وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَتَابِعِي
التَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ
اَلاَحْيآءَ
مِنْهُمْ
وَاْلاَمْوَاتِ،
اللّٰهُمَّ أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَاْلمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
اْلمُوَحِّدِيْنَ،
وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
اْلمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَاعْلِ
كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَاْلبَلاَءَ
وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ
وَاْلمِحَنَ،
وَسُوْءَ
اْلفِتْنَةِ
وَاْلمِحَنَ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا
اِنْدُونِيْسِيَّا
خآصَّةً
وَسَائِرِ
بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ
عآمَّةً يَا
رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِناَ فِى
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
اْلآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَا
وَإنْ لَمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِاْلعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي
اْلقُرْبىَ
وَيَنْهَى
عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِ
وَاْلبَغْي
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
اْلعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ
عَلىَ
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ