Seruan Masjid

Khadimul Ummah wa Du'at

CARA ISLAM MEMBERANTAS KEJAHATAN SEKSUAL

CARA ISLAM MEMBERANTAS KEJAHATAN SEKSUAL

CARA ISLAM MEMBERANTAS KEJAHATAN SEKSUAL

CARA ISLAM MEMBERANTAS KEJAHATAN SEKSUAL

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةًۗ وَسَاۤءَ سَبِيْلًا ۝٣٢ (اَلْإِسْرَاءُ) 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam.

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Kerusakan besar tidak muncul tiba-tiba, tetapi berawal dari hal kecil yang diabaikan hingga batas benar dan salah kabur, rasa malu memudar, dan amanah ditinggalkan. Dampaknya kini nyata: kejahatan seksual marak di lingkungan pendidikan, dari kampus hingga sekolah dan pesantren, dengan pelaku mulai dari mahasiswa hingga guru, kepala sekolah, bahkan guru besar dan pengelola pondok, menunjukkan tidak ada tempat yang benar-benar aman.

Data 2025 mencatat 6.767 kasus dengan 5.832 korban perempuan; di ranah digital meningkat dari 940 kasus (2020) menjadi 1.846 kasus (2025). Di satuan pendidikan, kekerasan seksual mendominasi 57,65%, melampaui perundungan (22,31%) dan kekerasan fisik (18,89%). Lebih memilukan, pelaku sering orang terdekat, termasuk keluarga sendiri, hingga menyebabkan korban hamil—peringatan serius bahwa kerusakan moral telah meluas dan menuntut perbaikan bersama.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Selama akar persoalan tidak disentuh, upaya yang ada hanya menjadi solusi semu. Hal ini terlihat pada maraknya kekerasan seksual di tanah air; negara dinilai belum mampu melindungi warga meski telah ada UU No. 12 Tahun 2022 (UU TPKS). Faktanya, kasus terus terjadi, sanksi masih diperdebatkan—dari kebiri hingga alasan HAM—dan hukuman penjara dinilai ringan, rata-rata sekitar 87 bulan (7 tahun 3 bulan) untuk pemerkosaan, menunjukkan pendekatan yang masih kuratif dan belum memberi efek jera.

Akar masalahnya adalah cara pandang yang merendahkan perempuan sebagai objek pemuas nafsu dalam ideologi kapitalisme-sekuler, yang diperkuat media dan tingginya akses pornografi, bahkan mendorong sebagian perempuan mengeksploitasi diri dengan narasi “my body is my right”, sehingga kekerasan seksual terus meningkat dan korban pun semakin banyak.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Solusi yang tuntas tidak hanya menghukum akibat, tetapi juga menutup seluruh pintu yang mengarah kepada kerusakan sejak dari akarnya.

Pertama, Islam sebagai sebuah ideologi memberikan solusi yang menyeluruh terhadap kejahatan seksual, mulai dari aspek preventif hingga kuratif, dengan menjadikan iman dan takwa sebagai fondasi utama dalam interaksi pria dan wanita. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

”Kaum Mukmin, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka melakukan amar makruf nahi mungkar” (QS. at-Taubah [9]: 71).

Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

اِتَّقُوا اللهَ فِـي النِّسَـاءِ

”Bertakwalah pada Allah dalam urusan kaum perempuan...” (HR Muslim). Serta sabdanya :

إِنَّمَا النِّسَاءُ شَقَائِقُ الرِّجَالِ

”Perempuan itu saudara kandung laki-laki” (HR Abu Dawud).

Dengan landasan ini, pria dan wanita menjaga kehormatan diri, dan tidak ada ruang bagi pornografi karena diharamkan serta merusak interaksi.

Kedua, Islam juga menetapkan aturan preventif yang jelas dalam menjaga interaksi, yaitu kewajiban menutup aurat dan menjaga pandangan bagi laki-laki dan perempuan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا يَصْنَعُوْنَ

”Katakanlah kepada kaum Mukmin, ”Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka. Yang demikian adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Mahatahu atas apa saja yang mereka perbuat.” (QS. an-Nûr [24]: 30).

Aturan ini bukan untuk mendiskreditkan perempuan, tetapi untuk menjaga kemuliaan dan mencegah timbulnya kejahatan.

Ketiga, Islam melarang segala bentuk interaksi yang membuka peluang maksiat seperti khalwat (berdua-duaan pria-wanita tanpa mahram), pergaulan bebas, serta aktivitas yang merusak seperti pesta dan klub malam.

Keempat, Islam mengharamkan perbuatan mendekati zina dan perzinaan sekalipun dilakukan dengan consent (mau sama mau), sebagaimana firman Allah:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةًۗ وَسَاۤءَ سَبِيْلًا

”Janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina itu perbuatan keji dan jalan yang buruk” (QS. al-Isrâ’ [17]: 32), sekaligus menghalalkan pernikahan sebagai jalan yang sah.

Kelima, Dari sisi kuratif, Islam menetapkan sanksi tegas untuk memberi efek jera. Pelaku pelecehan dikenai sanksi ta’zir seperti penjara, cambuk, atau pengasingan.

Pelaku pemerkosaan dikenai hukuman cambuk 100 kali jika belum menikah atau rajam hingga mati jika sudah menikah, dengan tambahan sanksi bila disertai kekerasan. Korban wajib dilindungi dan direhabilitasi oleh negara. Hukum ini berlaku bagi laki-laki maupun perempuan tanpa diskriminasi. Sementara itu, hukuman kebiri tidak dibenarkan dalam Islam, sebagaimana Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam menolak praktik tersebut dalam hadits riwayat Imam al-Bukhari. Dengan sistem ini, Islam tidak hanya menghukum pelaku, tetapi juga menutup seluruh celah terjadinya kejahatan sejak awal.

Tentu saja pemberantasan tindak kejahatan seksual tidak mungkin bisa dilakukan dalam sistem liberalisme-sekulerisme seperti hari ini. Semua hanya bisa dilakukan dengan pemberlakuan syariah Islam secara kaaffah dalam institusi pemerintahan Islam (Khilafah). Keberadaan Khalifah dalam sistem Khilafah akan menjadi junnah (perisai) yang melindungi rakyatnya. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia
SAATNYA UMAT BERSATU MEMBANGUN KEKUATAN GLOBAL

SAATNYA UMAT BERSATU MEMBANGUN KEKUATAN GLOBAL

SAATNYA UMAT BERSATU MEMBANGUN KEKUATAN GLOBAL

SAATNYA UMAT BERSATU MEMBANGUN KEKUATAN GLOBAL

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ ۝٧ (مُحَمَّدٌ) 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam.

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Di saat dunia dipenuhi kabar perang dan penderitaan, ada satu hal yang patut kita pikirkan bersama: ke mana arah semua peristiwa ini, dan siapa yang benar-benar dibela? Pada 28 Februari 2026, pecah perang AS–Israel melawan Iran. Iran membalas dengan rudal dan drone hingga menutup Selat Hormuz. Meski AS telah menghabiskan sekitar US$12 miliar (Rp203,8 triliun), kekuatannya tidak sepenuhnya efektif dan dukungan Eropa melemah. Upaya damai di Islamabad gagal, bahkan serangan ke Lebanon, termasuk Beirut, menewaskan 254 orang dan melukai lebih dari 1.165 orang.

Dalam gencatan senjata yang rapuh, perundingan tidak menyentuh Palestina dan Gaza. Iran fokus pada kepentingannya, sementara sebagian negara Muslim justru terlihat membantu pihak yang terdesak. Padahal mereka punya kekuatan besar, namun tidak digunakan untuk membela umat. Sementara itu, penderitaan di Al-Aqsha dan Gaza terus berlangsung. Maka pertanyaannya: mengapa negara yang kuat diam, dan siapa sebenarnya yang dibela?

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Dengan berbagai peristiwa dunia yang tengah terjadi, sudah saatnya kita melihat dengan jernih dan mengambil pelajaran yang mendalam. Pertanyaannya sederhana: para penguasa ini sebenarnya melindungi siapa? Apakah mereka benar-benar berdiri bersama umat, atau justru menjadi pelindung kepentingan asing? Fakta menunjukkan bahwa yang mereka jaga adalah stabilitas hegemoni Amerika, dan yang diselamatkan adalah citra kekuatan besar yang mulai melemah. Sementara itu, umat kembali dibiarkan menanggung penderitaan. Allah Subhanahu wata’ala telah mengingatkan dalam firman-Nya:

اَلْمُنٰفِقُوْنَ وَالْمُنٰفِقٰتُ بَعْضُهُمْ مِّنْۢ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوْفِ وَيَقْبِضُوْنَ اَيْدِيَهُمْۗ نَسُوا اللّٰهَ فَنَسِيَهُمْۗ اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ

“Kaum munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama. Mereka menyuruh kepada yang mungkar dan melarang dari yang makruf serta menggenggam tangannya (kikir). Mereka telah melupakan Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah [9]: 67).

Umat Islam sebenarnya memiliki potensi kekuatan yang sangat besar, baik dari sisi militer, sumber daya alam—dengan sekitar 48% cadangan minyak dunia dan 17% cadangan gas—maupun posisi geopolitik strategis seperti Selat Hormuz, Terusan Suez, dan Selat Malaka. Namun, potensi ini belum digunakan untuk membela umat, bahkan sering dimanfaatkan untuk menjaga kepentingan kekuatan besar. Inilah tragedi umat saat ini: bukan karena tidak punya kekuatan, tetapi karena tidak adanya kepemimpinan yang menyatukan sejak runtuhnya institusi politik Islam yang dahulu mempersatukan kaum Muslim.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Dengan begitu panjangnya penderitaan umat, maka sangat penting bagi kita untuk melihat akar persoalan dan arah jalan keluarnya.

Penjajahan atas negeri-negeri Muslim oleh kekuatan Barat masih terus berlangsung hingga hari ini, salah satunya karena umat terpecah dalam sekat nasionalisme. Akibatnya, kekuatan besar yang dimiliki umat tidak pernah benar-benar digunakan untuk melawan. Karena itu, umat Islam tidak boleh diam. Haram bagi kaum Muslim berdiam diri, dan haram pula bagi para penguasa tunduk pada kepentingan penjajah, seperti membuka pangkalan militer untuk AS, mendukung Israel, atau bekerja sama dalam bidang strategis yang merugikan umat. Sejarah telah menunjukkan bahwa kebangkitan tidak lahir dari penguasa yang tunduk, tetapi dari umat yang sadar dan bangkit dengan kekuatannya sendiri.

Umat Islam sejatinya memiliki potensi yang sangat besar. Jika seluruh kekuatan militer, ekonomi, dan politik negeri-negeri Muslim disatukan di bawah kepemimpinan yang independen, maka peta dunia akan berubah. Umat tidak lagi menjadi objek permainan kekuatan global, tetapi menjadi penentu arah sejarah. Karena itu, siklus ketergantungan kepada kekuatan asing harus diputus. Selama umat masih bergantung pada penguasa yang terikat kepentingan luar, selama itu pula penderitaan akan terus berulang. Allah Subhanahu wata’ala telah memberikan janji-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (QS. Muhammad [47]: 7).

Agenda besar umat Islam hari ini adalah menolong agama Allah dan menyatukan kekuatan mereka dalam satu kepemimpinan yang mempersatukan. Persatuan adalah perintah Allah, sebagaimana firman-Nya:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ 

“Berpeganglah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan jangan bercerai-berai.” (QS. Âli Imrân [3]: 103).

Dalam sejarah, ketika umat bersatu di bawah kepemimpinan Islam, mereka merasakan perlindungan dan kekuatan. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ، يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

“Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai; kaum Muslim berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Khilafah bukan sekadar konsep politik, tetapi kewajiban syar’i yang menentukan kemuliaan umat Islam. Tanpanya, umat akan terus berada dalam kelemahan dan penindasan, sebagaimana yang kita saksikan hari ini. ‘Izzah (kemuliaan) yang hilang itu hanya akan kembali ketika umat bersatu di bawah kepemimpinan Islam dan kembali kepada aturan Allah. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَلِلّٰهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُوْلِهٖ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ

“Kemuliaan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Munâfiqûn [63]: 8). Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ، اِهْزِمِ الْيَهُوْدَ وَأَعْوَانَهُمْ، وَالصَّلِيْبِيِّيْنَ وَأَنْصَارَهُمْ، وَالرَّأْسُمَالِيِّيْنَ وَإِخْوَانَهُمْ، وَالْاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَالشُّيُوْعِيِّيْنَ وَأَشْيَاعَهُمْ. اَللّٰهُمَّ نَجِّ إِخْوَانَنَا الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فَلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ عَلَى أَعْدَائِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia
PENGUASA HARAM MENYUSAHKAN RAKYATNYA

PENGUASA HARAM MENYUSAHKAN RAKYATNYA

PENGUASA HARAM MENYUSAHKAN RAKYATNYA

PENGUASA HARAM

MENYUSAHKAN RAKYATNYA

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَآ اِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَࣖ ۝١٨٨ (اَلْبَقَرَةُ) 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam.

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Marilah kita merenung sejenak dengan hati yang jernih. Di tengah tekanan global seperti gejolak energi, konflik kawasan, dan melemahnya perdagangan dunia, kondisi fiskal negara kian berat. Rakyat pun merasakan dampaknya: daya beli menurun, rupiah melemah, biaya produksi naik, dan PHK meluas. Ironisnya, selain dibebani pajak, rakyat juga harus saling menanggung kebutuhan melalui skema seperti BPJS. Kini muncul rencana pembentukan Lembaga Pengelola Dana Umat (LPDU) dengan potensi dana umat hingga Rp 1.000 triliun per tahun dari zakat, infak, sedekah, wakaf, dan lainnya. Pertanyaannya, mengapa negara semakin bergantung pada dana rakyat untuk menjalankan kewajibannya?

Padahal, negeri ini tidak kekurangan potensi, melainkan lemah dalam pengelolaan. Indonesia memiliki kekayaan SDA besar—nikel sekitar 21 juta ton, batubara lebih dari 38,8 miliar ton, serta minerba yang pernah menyumbang Rp 172 triliun dalam setahun. Namun, manfaatnya lebih banyak dinikmati segelintir pihak, sementara rakyat hanya mendapat sedikit. Di sisi lain, korupsi pada 2024 saja mencapai Rp 279,9 triliun, belum termasuk praktik “legal” yang merugikan. Bahkan disebutkan, jika korupsi tambang diberantas, tiap rakyat bisa memperoleh hingga Rp 20 juta per bulan. Ini menunjukkan, masalah utama bukan kekurangan harta, tetapi kelalaian dalam amanah pengelolaannya.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Memang benar, jika dicermati dengan jujur, kondisi ini menunjukkan adanya kezaliman dalam pengelolaan urusan rakyat. Kekayaan alam yang seharusnya menjadi milik bersama justru lebih banyak dinikmati segelintir pihak, sementara rakyat tetap dibebani pajak dan berbagai pungutan, bahkan berpotensi kembali dibebani melalui skema baru. Padahal dalam Islam, penguasa adalah raa‘in (pengurus rakyat) yang wajib menjamin kebutuhan mereka. Rasulullah ﷺ bersabda:

الإمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Pemimpin (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Artinya, sebagaimana dijelaskan para ulama, penguasa wajib mengurusi seluruh kemaslahatan rakyat, bukan justru memindahkan beban itu kepada mereka.

Para ulama juga menegaskan bahwa kepemimpinan adalah amanah besar, bukan sekadar kekuasaan. Imam al-Mawardi menyatakan:

الإِمَامَةُ مَوْضُوْعَةٌ لِخِلاَفَةِ النُّبُوَّةِ فِي حَرَاسَةِ الدِّيْنِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا

“Imamah/Khilafah (kepemimpinan negara) ditegakkan untuk melanjutkan fungsi kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia.” (Al-Mawardi, Al-Ahkaam as-Sulthaaniyyah, hlm. 15).

Karena itu, penguasa wajib memastikan terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat—pangan, kesehatan, pendidikan, keamanan, dan pekerjaan. Rakyat tidak boleh menanggung akibat dari salah urus, sebab setiap kelaparan, kebutuhan yang terabaikan, dan kekayaan publik yang tidak dikelola dengan adil akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Sejarah Islam pun memberikan gambaran nyata bagaimana amanah ini dijalankan. Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. memikul sendiri gandum untuk rakyat yang kelaparan, menegaskan bahwa penderitaan rakyat adalah tanggung jawab langsung pemimpin. Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, kesejahteraan bahkan merata hingga petugas zakat kesulitan menemukan penerima. Hal ini terwujud karena pengelolaan kekayaan yang adil, pemberantasan korupsi, kesederhanaan pemimpin, serta pengelolaan Baitul Mal yang sepenuhnya berpihak kepada rakyat.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Sebagai agama yang sempurna dan paripurna, Islam telah memberikan solusi yang tegas agar negara tidak terus terbebani secara fiskal dan rakyat tidak terus dipaksa menanggung beban yang bukan tanggung jawabnya.

Pertama, harta tidak boleh berputar di kalangan orang kaya saja. Allah SWT berfirman:

كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةً ۢ بَيْنَ الْاَغْنِيَاۤءِ مِنْكُمْۗ

“Agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian” (QS. al-Hasyr [59]: 7).

Karena itu, sumber daya alam strategis wajib dikelola negara untuk kepentingan rakyat, bukan diserahkan kepada swasta atau asing. Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُسْلِمُوْنَ شُرَكَاءٌ فِي ثَلاَثٍ: الْمَاءِ وَالْكَلَأِ وَالنَّارِ

“Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api” (HR. Abu Dawud), yang mencakup seluruh sumber energi dan kebutuhan publik.

Kedua, pejabat negara wajib hidup sederhana dan tidak bermewah-mewahan, sebagaimana dicontohkan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra., agar negara tidak terbebani fasilitas berlebihan.

Ketiga, korupsi harus diberantas total karena jelas haram. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

“Janganlah kalian memakan harta sesama kalian dengan cara batil” (QS. al-Baqarah [2]: 188). Dengan pengelolaan yang amanah dan bersih, kekayaan negara dapat kembali kepada rakyat secara adil.

Keempat, riba wajib dihapus karena diharamkan secara tegas (QS. al-Baqarah [2]: 275) dan merusak ekonomi, bahkan dalam praktiknya negara dapat terbebani ratusan triliun rupiah hanya untuk membayar bunga utang.

Kelima, penumpukan harta harus dicegah. Allah SWT berfirman:

وَالَّذِيْنَ يَكْنِزُوْنَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُوْنَهَا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِۙ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ اَلِيْمٍۙ

“Orang-orang yang menimbun emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka kabarkan kepada mereka azab yang pedih” (QS. at-Taubah [9]: 34). Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, kesejahteraan rakyat bukan sekadar harapan, tetapi dapat benar-benar terwujud.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Karena itu, akar persoalan negeri ini bukanlah kekurangan dana, melainkan siapa yang mengelola dan dengan aturan apa negara dijalankan. Jika amanah berada di tangan yang benar dan pengelolaan dilakukan sesuai syariat Islam, niscaya kekayaan negeri ini lebih dari cukup untuk menyejahterakan seluruh rakyat. Namun sebaliknya, ketika amanah disia-siakan dan aturan Allah diabaikan, maka sebesar apa pun kekayaan yang dimiliki tidak akan pernah membawa keadilan dan kesejahteraan.

Maka ini bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi persoalan amanah dan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Setiap kebijakan akan dimintai hisab, setiap kelalaian akan dimintai jawaban. Sudah saatnya kita menyadari bahwa keberkahan tidak lahir dari banyaknya harta, tetapi dari ketaatan dalam mengelolanya. Allah SWT mengingatkan:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11). Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ، اِهْزِمِ الْيَهُوْدَ وَأَعْوَانَهُمْ، وَالصَّلِيْبِيِّيْنَ وَأَنْصَارَهُمْ، وَالرَّأْسُمَالِيِّيْنَ وَإِخْوَانَهُمْ، وَالْاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَالشُّيُوْعِيِّيْنَ وَأَشْيَاعَهُمْ. اَللّٰهُمَّ نَجِّ إِخْوَانَنَا الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فَلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ عَلَى أَعْدَائِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia
MERAWAT KETAKWAAN PASCA RAMADHAN

MERAWAT KETAKWAAN PASCA RAMADHAN

MERAWAT KETAKWAAN PASCA RAMADHAN

MERAWAT KETAKWAAN

PASCA RAMADHAN

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ۝١٠٢ (آلِ عِمْرَانَ) 

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Pesan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam;

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Ramadhan telah berlalu. Berbagai kenikmatan dan keutamaan yang Allah hamparkan sepanjang bulan itu kini sudah terhenti. Saatnya kita membuktikan, apakah kita sukses menjalani Ramadhan atau justru kita tak ada bedanya dengan sebelum-sebelumnya?

Setidaknya ada tiga kelompok manusia, pasca Ramadhan. Kelompok pertama, adalah  Muslim yang sebelum dan sesudah Ramadhan sama saja. Sama-sama mengabaikan ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Inilah yang disebut oleh Allah Subhanahu wata’ala sebagai kelompok binatang ternak:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ

“Sungguh, Kami benar-benar telah menyediakan untuk Neraka Jahanam kebanyakan makhluk dari kalangan jin dan manusia  (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka gunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah). Mereka memiliki mata yang tidak mereka gunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah). Mereka pun memiliki telinga yang tidak mereka gunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS. al-A’râf [7]: 179).


Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Kelompok kedua, Muslim yang sebelum Ramadhan jauh dari Allah Subhanahu wata’ala, tapi ketika Ramadhan mereka bersungguh-sungguh mengerjakan ibadah (shaum, tadarrus dan tarawih sepanjang Ramadhan). Namun setelah Ramadhan, rangkaian amal shalih itu kembali menghilang. Ulama salafus-shalih menyebut kelompok ini sebagai “Hamba Ramadhan”. Mereka baru mau mendekati Allah hanya pada bulan Ramadhan saja. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahulLaah berkata;

بِئْسَ القَوْمُ لَا يَعْرِفُوْنَ اللَّهَ إِلَّا فِي رَمَضَانَ، إِنَّ الصَّالِحَ الَّذِي يَتَعَبَّدُ وَيَجْتَهِدُ السَّنَةَ كُلَّهَا

“Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal hak Allah, kecuali hanya pada  bulan Ramadhan saja. Sungguh seorang yang benar-benar shalih itu adalah orang yang istiqamah beribadah dan bersungguh-sungguh (taat kepada Allah SWT) sepanjang tahun.” (Ibnu Rajab, Lathaa'if al-Ma'aarif, hlm. 222).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Kelompok ketiga, adalah Muslim yang sebelum Ramadhan memang sudah dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala. Mereka taat menjalankan aturan Allah. Saat Ramadhan ketaatan mereka semakin bertambah. Usai Ramadhan pun mereka tetap bekerja keras menjaga ketaatan tersebut. Inilah golongan yang beruntung.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Seorang Muslim yang bertahan dalam ketakwaan usai Ramadhan menunjukkan bahwa amal-amal ibadahnya selama bulan Ramadhan diterima. Sebaliknya, jika ketakwaan ikut pudar bersama berakhirnya Ramadhan, itu tanda amal-amalnya selama bulan Ramadhan tertolak. Setidaknya, itulah yang dinyatakan oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, “Kembali berpuasa (yakni puasa sunnah pada Bulan Syawal) setelah menunaikan puasa Ramadhan adalah salah satu tanda amalan puasa Ramadhan itu diterima oleh Allah Subhanahu wata’ala. Sebabnya, jika Allah menerima amalan seorang hamba, Allah akan memberi dia taufik untuk melakukan amalan shalih selanjutnya setelah itu. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama;

ثَوَابُ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا، فَمَنْ عَمِلَ حَسَنَةً ثُمَّ أَتْبَعَهَا بَعْدَهَا بِحَسَنَةٍ، كَانَ ذٰلِكَ عَلَامَةً عَلَى قَبُولِ الْحَسَنَةِ الْأُولَى، كَمَا أَنَّ مَنْ عَمِلَ حَسَنَةً ثُمَّ أَتْبَعَهَا بِسَيِّئَةٍ، كَانَ ذٰلِكَ عَلَامَةَ رَدِّ الْحَسَنَةِ وَعَدَمِ قَبُولِهَا

“‘Imbalan (pahala) atas kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.’ Oleh karena itu, siapa saja yang melakukan kebaikan, lalu dia ikuti dengan kebaikan selanjutnya, maka itu tanda amalan kebaikan sebelumnya diterima oleh Allah Subhanahu wata’ala. Sebaliknya, siapa saja yang melakukan kebaikan, lalu setelahnya malah dia ikuti dengan kejelekan, maka itu tanda kebaikan tersebut tertolak dan tidak diterima oleh Allah.” (Ibnu Rajab, Lathaa-if al-Ma’aarif, hlm. 388).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Oleh karena itu, mari kita rawat ketakwaan, buah Ramadhan kita. Caranya;

Pertama, jadikan ridha Allah sebagai tujuan tertinggi dalam hidup ini. Ingat pesan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam:

مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ

“Siapa saja yang mencari ridha Allah meski dia harus dimurkai oleh manusia, maka Allah akan menjaga dirinya dari gangguan manusia. Siapa saja yang mencari ridha manusia, tetapi dengan membuat Allah murka, maka Allah akan menyerahkan dirinya kepada manusia.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Kedua, takutlah kepada Allah Subhanahu wata’ala agar terjaga dari perbuatan maksiat.

Ketiga, terima Islam secara kaaffah dan tidak memilah-milah aturan Allah Subhanahu wata’ala. Ibadah yang khusyu’ serta berjuang demi tegaknya Islam di seluruh aspek kehidupan.

Keempat, jangan menunda-nunda pengerjaan amal shalih, terutama amal-amal yang wajib.

Kelima, berikan al-walaa’ (loyalitas) hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, serta al-baraa’ (berlepas diri) dari orang-orang kafir.

Keenam, bersabarlah dalam ketaatan. Sesungguhnya menjadi hamba Allah yang bertakwa akan menghadapi berbagai ujian. Ingat pesan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ القَابِضُ عَلَى دِيْنِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْر

“Akan datang kepada manusia suatu zaman saat orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. at-Tirmidzi).

Semoga kita semua menjadi hamba yang bertakwa, meski Ramadhan telah tiada. Aamiin.

Demikianlah yang dapat saya. Sebagai penutup, mari kita akhiri khutbah ini dengan berdoa bersama. Semoga kita semua senantiasa dianugerahi kesehatan lahir dan batin, serta keberkahan dunia dan akhirat. Semoga Allah memberi kita hidayah, inayah, dan kekuatan, sehingga kita dapat menjadi bagian dari para dai yang selalu bersungguh-sungguh menegakkan syariat Islam secara kaffah, meneladani Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam hingga akhir hayat dalam keadaan husnul khâtimah. Âmîn yâ Rabbal-‘âlamîn.[]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ، اِهْزِمِ الْيَهُوْدَ وَأَعْوَانَهُمْ، وَالصَّلِيْبِيِّيْنَ وَأَنْصَارَهُمْ، وَالرَّأْسُمَالِيِّيْنَ وَإِخْوَانَهُمْ، وَالْاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَالشُّيُوْعِيِّيْنَ وَأَشْيَاعَهُمْ. اَللّٰهُمَّ نَجِّ إِخْوَانَنَا الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فَلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ عَلَى أَعْدَائِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia

UPDATE INFORMASI TERBARU