Seruan Masjid

Khadimul Ummah wa Du'at

HANYA DENGAN AL-QURAN UMAT MERAIH KEMBALI KEMULIAAN

HANYA DENGAN AL-QURAN UMAT MERAIH KEMBALI KEMULIAAN

HANYA DENGAN AL-QURAN UMAT MERAIH KEMBALI KEMULIAAN

HANYA DENGAN AL-QURAN

UMAT MERAIH KEMBALI KEMULIAAN

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

وَهٰذَا كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ مُبٰرَكٌ فَاتَّبِعُوْهُ وَاتَّقُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَۙ ۝١٥٥ (اَلأَنْعَامُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Sebagai penyempurna rukun khutbah, saya selaku khatib tidak bosan-bosannya mengingatkan diri saya pribadi dan seluruh jamaah untuk selalu mengokohkan iman serta meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam:

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman:

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

“Dan berbekallah kalian, dan sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal” (QS. Al-Baqarah [2]: 197).

Allah juga berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102).

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Di antara sekian banyak nikmat Allah Subhânahu wa Ta’âlâ, Ramadhan hadir sebagai bulan yang penuh cahaya dan makna, bulan yang di dalamnya Allah menurunkan petunjuk bagi seluruh manusia.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an; sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan yang batil)” (QS. al-Baqarah [2]: 185).

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm (1/498) menjelaskan bahwa pengkhususan Ramadhan dengan turunnya al-Qur’an adalah bentuk pemuliaan Allah, karena al-Qur’an merupakan sumber hidayah serta pembeda antara yang halal dan yang haram.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ juga berfirman:

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadar.” (QS. al-Qadar [97]: 1).

Ath-Thabari dalam Jaami’ al-Bayaan (24/531) menerangkan bahwa al-Qur’an diturunkan sekaligus ke Langit Dunia pada malam penetapan ketentuan Allah tersebut. Maka kemuliaan tertinggi Ramadhan terletak pada turunnya al-Qur’an: ketika ia diterapkan, umat meraih kemuliaan; ketika ditinggalkan, umat pun mengalami kemunduran.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Di tengah berbagai krisis dan kegelisahan hidup, al-Qur’an hadir bukan sekadar sebagai bacaan, tetapi sebagai mukjizat, pedoman, dan sumber keberkahan yang terjamin kebenarannya sepanjang zaman.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman:

قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَن يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ

“Katakanlah, andai seluruh manusia dan jin bergabung untuk membuat sesuatu yang serupa dengan al-Qur’an, mereka pasti tidak akan mampu melakukannya” (QS. al-Isrâ’ [17]: 88).

Al-Qurthubi menegaskan bahwa ayat ini menjadi dalil kemukjizatan al-Qur’an dari sisi lafaz, makna, hukum, dan berita gaibnya. (Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, 10/318). Allah juga menjamin penjagaannya:

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ

“Sungguh Kami telah menurunkan al-Qur’an dan Kami pula yang menjaganya.” (QS. al-Hijr [15]: 9). Abu Bakar al-Jazairi menjelaskan bahwa al-Qur’an dijaga dari penambahan, pengurangan, dan kebinasaan karena ia adalah hujjah Allah hingga Hari Kiamat (Aysar at-Tafaasiir, 2/275). Karena itu, tidak ada alasan bagi kaum Muslim meninggalkan al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Al-Qur’an juga merupakan kitab penuh keberkahan. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman:

وَهٰذَا كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ مُبٰرَكٌ فَاتَّبِعُوْهُ وَاتَّقُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَۙ

“(Al-Qur’an) ini adalah Kitab yang Kami turunkan lagi diberkahi. Maka, ikutilah dan bertakwalah agar kamu dirahmati.” (QS. al-An‘âm [6]: 155). Ath-Thabari menafsirkan mubârak sebagai banyak kebaikan dan manfaatnya, sehingga al-Qur’an harus dijadikan imam dan diamalkan. (Jâmi’ al-Bayân, 12/229). Sebaliknya Allah memperingatkan:

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى

“Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku maka baginya kehidupan yang sempit dan Kami bangkitkan ia pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thâhâ [20]: 124).

Al-Baghawi menjelaskan bahwa meski hidup dalam kelapangan dunia, orang yang berpaling dari al-Qur’an tetap berada dalam kesempitan hidup. (Ma‘aalim at-Tanziil, 5/301). Inilah pelajaran besar bagi umat: keberkahan terletak pada penerapan al-Qur’an, sementara menjauhinya hanya melahirkan kesempitan dan ketimpangan kehidupan.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Pada kompleksitas kehidupan modern, al-Qur’an hadir bukan sekadar sebagai bacaan spiritual, tetapi sebagai sistem hidup yang paripurna dan menyeluruh.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ

“Kami telah menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu” (QS. an-Nahl [16]: 89).

Mengutip Ibnu Mas‘ud, Ibnu Katsir dalam Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm (4/594) menegaskan bahwa al-Qur’an mencakup seluruh ilmu yang bermanfaat: hukum halal–haram, urusan agama, dunia, serta kebutuhan manusia. Dalam bidang ekonomi Allah berfirman:

 وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰوا

“Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba” (QS. al-Baqarah [2]: 275), serta:

كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةً ۢ بَيْنَ الْاَغْنِيَاۤءِ مِنْكُمْ

“…Agar harta itu tidak hanya beredar di kalangan orang-orang kaya saja” (QS. al-Hasyr [59]: 7). Namun ketika riba dilegalkan dan kekayaan hanya berputar pada segelintir pihak, keberkahan pun menjauh.

Dalam hukum dan pemerintahan Allah menegaskan:

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ

“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah” (QS. Yûsuf [12]: 40).

Ath-Thabari dalam Jâmi’ al-Bayân (13/44) menyatakan bahwa hukum tertinggi adalah hukum Allah, bukan hawa nafsu manusia. Allah juga berfirman:

وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

“Siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan maka mereka itulah orang-orang zalim” (QS. al-Mâ’idah [5]: 45).

Al-Qurthubi menjelaskan bahwa meninggalkan hukum Allah adalah bentuk kezaliman besar karena mengganti hukum adil dengan hawa nafsu.

Karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللَّهِ ، وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

“Aku tinggalkan pada kalian dua perkara; kalian tidak akan tersesat selama berpegang pada keduanya: Kitabullah dan Sunnahku.” (HR. Malik No.3337). Allah pun menegaskan:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُوْنَ حَتّٰى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ

“Demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan” (QS. an-Nisâ’ [4]: 65).

Ibnu Katsir (2/345) menegaskan kewajiban menjadikan Rasul dan syariah sebagai pemutus segala urusan. Maka keimanan kepada al-Qur’an harus dibuktikan dengan komitmen menerapkannya dalam seluruh aspek kehidupan.

Sejarah membuktikan bahwa ketika al-Qur’an diterapkan secara kaaffah, lahirlah kemakmuran, keadilan hukum, serta masyarakat yang aman dan damai; sebaliknya, ketika al-Qur’an disingkirkan, muncul kemiskinan struktural, ketimpangan sosial-ekonomi, korupsi sistemik, dan dekadensi moral. Karena itu, kemuliaan umat tidak akan terwujud selama tetap bertumpu pada sistem sekuler seperti kapitalisme-demokrasi; kemuliaan hanya akan kembali jika umat menjadikan al-Qur’an sebagai ideologi kehidupan, sistem hukum, dan dasar peradaban mereka. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan dalam khutbah Jum’at pada kesempatan kali ini. Ketahuilah bahwa segala kesempurnaan hanya milik Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ. Apa pun yang benar dari apa yang saya sampaikan adalah semata-mata berkat petunjuk-Nya melalui Rasul-Nya, maka marilah kita berpegang teguh kepadanya.

Sebagai penutup, mari kita akhiri khutbah ini dengan berdoa bersama. Semoga kita semua senantiasa dianugerahi kesehatan lahir dan batin, serta keberkahan dunia dan akhirat. Semoga Allah memberi kita hidayah, inayah, dan kekuatan, sehingga kita dapat menjadi bagian dari para dai yang selalu bersungguh-sungguh menegakkan syariat Islam secara kaffah, meneladani Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam hingga akhir hayat dalam keadaan husnul khâtimah. Âmîn yâ Rabbal-‘âlamîn.[]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ وَصَلِيْبِيِّيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ. اَللّٰهُمَّ نَجِّ إِخْوَانَنَا الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فَلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ عَلَى أَعْدَائِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَ اجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ بِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia
HARAM MENGIRIMKAN TENTARA DI BAWAH KOMANDO NEGARA KAFIR PENJAJAH

HARAM MENGIRIMKAN TENTARA DI BAWAH KOMANDO NEGARA KAFIR PENJAJAH

HARAM MENGIRIMKAN TENTARA DI BAWAH KOMANDO NEGARA KAFIR PENJAJAH

HARAM MENGIRIMKAN TENTARA

DI BAWAH KOMANDO NEGARA

KAFIR PENJAJAH

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

وَلَا تَرْكَنُوْٓا اِلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُۙ وَمَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ مِنْ اَوْلِيَاۤءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُوْنَ ۝١١٣ (هُوْدٌ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Sebagai penyempurna rukun khutbah, saya selaku khatib tidak bosan-bosannya mengingatkan diri saya pribadi dan seluruh jamaah untuk selalu mengokohkan iman serta meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam:

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).

Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

“Dan berbekallah kalian, dan sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal” (QS. Al-Baqarah [2]: 197).

Allah juga berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102).

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Di saat Ramadhan telah berjalan sepekan dan kaum Muslimin menahan lapar serta dahaga, penderitaan Gaza justru kian memuncak. Genosida yang telah menewaskan puluhan ribu jiwa diyakini belum mencapai puncaknya; kekerasan terus meningkat, termasuk penggunaan bom termobarik bersuhu sekitar 3500°C yang dilaporkan menewaskan ribuan orang hingga jasad hancur seketika. Serangan terbaru menewaskan sedikitnya 11 warga Palestina, termasuk 5 orang di kamp Jabalia, sementara kontrol atas Tepi Barat semakin diperluas. Ironisnya, semua ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump membentuk Dewan Perdamaian (BoP) yang memasukkan Israel tetapi tidak melibatkan Palestina; Indonesia pun bergabung dan berencana mengirim sekitar 8.000 personel pasukan “perdamaian”, padahal Trump dikenal pro-Israel, sehingga memunculkan pertanyaan syar’i tentang keabsahan mengirim pasukan Muslim di bawah komando negara yang mendukung penjajahan atas kaum Muslim.

Di tengah makin brutalnya serangan atas Gaza dan perluasan kontrol di Tepi Barat, BoP dipandang justru menjadi sarana penyelamatan penjajah: tawanan mereka harus dibebaskan, sementara senjata para pejuang Palestina—khususnya Hamas—dituntut dilucuti, yang berarti membuka jalan bagi pembantaian tanpa perlawanan. Hal ini menegaskan bahwa BoP dinilai bukan soal perdamaian, melainkan soal siapa yang mengatur dan mengendalikan Palestina—yakni Amerika Serikat sebagai pemegang hegemoni global. Karena itu negeri-negeri Muslim anggota BoP semestinya tidak mudah terperdaya oleh diksi “perdamaian” versi AS, sebab di baliknya dinilai tersimpan kepentingan dan kekuasaan imperialis yang menuntut kecermatan dalam membaca geopolitik dunia saat ini.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Dalam pandangan Islam haram bersekutu dengan negara kafir penjajah seperti AS, karena hal itu termasuk persekutuan dalam dosa dan kezaliman. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman:

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

”Tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan takwa. Jangan kalian tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. al-Mâidah [5]: 2).

Imam al-Qurthubi dalam Al-Jaami’ li Ahkaam al-Qur’aan menjelaskan bahwa larangan ini bersifat umum atas segala bentuk kolaborasi yang mengantarkan pada kezaliman (al-‘udwân). Karena itu, keterlibatan dalam struktur komando militer yang dipimpin negara kafir pendukung agresi berpotensi menjadi bentuk ta’aawun ‘alaa al-itsm (tolong-menolong dalam dosa).

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ juga memperingatkan:

وَلَا تَرْكَنُوْٓا اِلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُۙ وَمَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ مِنْ اَوْلِيَاۤءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُوْنَ

”Janganlah kalian cenderung kepada orang-orang zalim yang bisa mengakibatkan kalian disentuh oleh api neraka. Sekali-kali kalian tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan.” (QS. Hûd [11]: 113).

Keanggotaan negeri-negeri Muslim dalam aliansi semacam BoP dinilai sebagai bentuk kecenderungan kepada kezaliman, karena menempatkan mereka dalam orbit kepentingan geopolitik penjajah—baik melalui koordinasi militer, keamanan maupun kebijakan luar negeri—yang berpotensi mengikis independensi siyaasah syar’iyyah dan menggeser orientasi politik dari pembelaan umat tertindas menuju penyesuaian agenda hegemonik. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَعَانَ عَلَى خُصُومَةٍ بِظُلْمٍ فَقَدْ بَاءَ بِسَخَطٍ مِنَ اللَّهِ

”Siapa saja yang membantu dalam permusuhan dengan kezaliman, maka ia kembali dengan kemurkaan Allah.” (HR Abu Dawud).

Demikian pula bergabung dalam pasukan di bawah kepemimpinan negara kafir harbi dihukumi haram. Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani dalam Asy-Syakhshiyyah al-Islaamiyyah (1/219) menegaskan bahwa aliansi militer dengan negara kafir adalah batil dari asasnya, tidak sah secara syar’i, karena menjadikan kaum Muslim berperang di bawah kepemimpinan dan bendera kekufuran. Ia juga menafsirkan hadits

لاَ تَسْتَضِيْئُوْا بِنَارِ الْمُشْرِكِيْنِ

”Janganlah kalian meminta penerangan dari api kaum musyrik” (HR. Ahmad dan an-Nasa’i) sebagai larangan berperang bersama dan mengikuti kepemimpinan kaum musyrik; kata “api” (an-naar) merupakan kinaayah atas perang. Dengan demikian, berperang hanya dibenarkan di bawah kepemimpinan Muslim dan bendera Islam.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Keanggotaan negeri-negeri Muslim dalam struktur seperti BoP dinilai berpotensi menghilangkan kedaulatan efektifnya, yakni kedaulatan hukum syariah. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan:

 السِّيَادَةُ لِلشَّرْعِ، لاَ لِلشَّعْبِ

“Kedaulatan (hak membuat hukum) adalah milik syariah, bukan rakyat.” (Ad-Dawlah al-Islaamiyyah, hal. 222). Syaikh Abdul Qadim Zallum juga menyatakan bahwa Allah-lah satu-satunya Pembuat hukum dan manusia wajib menjalankan seluruh amal sesuai perintah dan larangan-Nya (Ad-Diimuqrathiyyah Nizhaam Kufr[in], hal. 32). Karena itu, keputusan politik luar negeri wajib tunduk pada syariah, bukan pada pragmatisme geopolitik; tunduk pada komando negara kafir harbi berarti mengikis independensi siyaasah syar’iyyah dan menunjukkan loyalitas politik yang terlarang. Dalam hal ini berlaku kaidah fikih:

الوَسِيْلَةُ إِلَى اْلحَراَمِ حَرَامٌ

”Sarana yang mengantarkan pada yang haram adalah haram.”

Dalam kerangka maqaashid asy-syarii‘ah, sebagaimana dirumuskan Imam asy-Syathibi dalam Al-Muwaafaqaat, syariah bertujuan menjaga agama (hifzhu ad-diin), jiwa (hifzhu an-nafs), serta—dalam konteks politik kontemporer—wilayah dan kedaulatan. Pengiriman pasukan Muslim di bawah komando kekuatan kafir penjajah dinilai berpotensi melemahkan perlindungan agama, mengancam keselamatan jiwa, merusak prinsip penjagaan wilayah, melemahkan ukhuwah islamiyah, serta mengaburkan batas antara al-haqq dan al-baathil. Jika secara empiris langkah tersebut memperkuat struktur ketidakadilan, maka ia bertentangan dengan tujuan fundamental syariah; karena itu, secara syar’i hukumnya haram. Semestinya negeri-negeri Muslim bersatu di bawah komando seorang khalifah dalam naungan Khilafah Islam yang menyerukan jihad fi sabilillah melawan penjajahan Zionis Yahudi yang didukung oleh negara agresor AS. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan dalam khutbah Jum’at pada kesempatan kali ini. Ketahuilah bahwa segala kesempurnaan hanya milik Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ. Apa pun yang benar dari apa yang saya sampaikan adalah semata-mata berkat petunjuk-Nya melalui Rasul-Nya, maka marilah kita berpegang teguh kepadanya.

Sebagai penutup, mari kita akhiri khutbah ini dengan berdoa bersama. Semoga kita semua senantiasa dianugerahi kesehatan lahir dan batin, serta keberkahan dunia dan akhirat. Semoga Allah memberi kita hidayah, inayah, dan kekuatan, sehingga kita dapat menjadi bagian dari para dai yang selalu bersungguh-sungguh menegakkan syariat Islam secara kaffah, meneladani Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam hingga akhir hayat dalam keadaan husnul khâtimah. Âmîn yâ Rabbal-‘âlamîn.[]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ وَصَلِيْبِيِّيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ. اَللّٰهُمَّ نَجِّ إِخْوَانَنَا الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فَلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ عَلَى أَعْدَائِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَ اجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ بِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia
AGAR PUASA MEWUJUDKAN TAKWA PARIPURNA

AGAR PUASA MEWUJUDKAN TAKWA PARIPURNA

AGAR PUASA MEWUJUDKAN TAKWA PARIPURNA

AGAR PUASA MEWUJUDKAN

TAKWA PARIPURNA

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ۝١٨٣ (اَلْبَقَرَةُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Sebagai penyempurna rukun khutbah, saya selaku khatib tidak bosan-bosannya mengingatkan diri saya pribadi dan seluruh jamaah untuk selalu mengokohkan iman serta meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam:

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).

Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

“Dan berbekallah kalian, dan sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal” (QS. Al-Baqarah [2]: 197).

Allah juga berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102).

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Alhamdulillah, kita telah berada pada Bulan Ramadhan 1447 H. Ramadhan adalah bulan yang senantiasa dirindukan. Bulan yang selalu diharap-harapkan kedatangannya. Bulan yang bahkan telah ditunggu-tunggu kehadirannya jauh-jauh hari sebelumnya. Tentu oleh siapa saja yang beriman, yang meyakini keutamaan dan keistimewaannya. Setidaknya, begitulah sikap generasi Muslim terdahulu. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, menukil pernyataan Mu’alla bin al-Fadhl, menggambarkan betapa kerinduan mereka terhadap Ramadhan sangat luar biasa. Dikatakan:

كَانُوا يَدْعُونَ اللَّهَ تَعَالَى سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ رَمَضَانَ، وَيَدْعُونَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَّبَّلَ مِنْهُمْ

”Mereka (generasi dulu) biasa berdoa kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan. Mereka pun berdoa enam bulan berikutnya agar amal-amal mereka  diterima.” (Ibnu Rajab, Lathaa-if al-Ma’aarif, 1/58).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat dirindukan oleh generasi Muslim terdahulu, karena besarnya keutamaan yang dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali menyebutkan sabda Nabi ﷺ:

لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِي رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي أَنْ يَكُونَ رَمَضَانُ سَنَةً كُلَّهَا

”Andai hamba-hamba Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ tahu keutamaan yang ada pada Bulan Ramadhan, umatku pasti berangan-angan agar Ramadhan itu terjadi sepanjang tahun.” (HR Ibnu Abi ad-Dunya; Ibnu Rajab, Lathaa-if al-Ma’aarif, 1/58).

Beliau ﷺ juga memberi kabar gembira bahwa Ramadhan adalah bulan penuh berkah, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, setan dibelenggu, dan di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan; siapa yang terhalang dari kebaikannya sungguh merugi. Sabda Beliau:


أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ. فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ. تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةَ، وَتُغَلَّقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ. لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Telah datang kepada kalian bulan yang diberkahi (Ramadhan). Allah telah mewajibkan atas kalian puasa di dalamnya. Pada Bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu Neraka Jahim ditutup dan setan-setan dibelenggu. Di sisi Allah ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang terhalang dari kebaikannya, sungguh dia merugi.” (HR. Ahmad dan an-Nasa’i). Karena itu kaum Muslim dianjurkan bergembira dan saling mengucapkan selamat atas kedatangannya. Bahkan Rasulullah ﷺ sejak Rajab telah berdoa:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

”Ya Allah, berkahilah kami pada Bulan Rajab dan Bulan Sya’ban, serta sampaikanlah ke Bulan Ramadhan.” (Ibnu Rajab, Lathaa-if al-Ma’aarif, 1/58).

Imam Ibnu al-Jauzi bahkan menyatakan:

تَاللهِ لَوْ قِيْلَ لِأَهْلِ الْقُبُوْرِ تَمنَّوْا لَتَمَنَّوُا يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ

”Demi Allah, seandainya penghuni kubur diminta berangan-angan, niscaya mereka berharap bisa bertemu Ramadhan walau hanya satu hari.” (Ibnu al-Jauzi, At-Tabshirah, 2/78).

Ramadhan hadir membawa harapan besar: ampunan, perubahan, dan kebangkitan jiwa menuju ketakwaan. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

”Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu pernah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah [2]: 183).

Namun takwa yang Allah kehendaki bukanlah takwa sesaat atau musiman yang hanya hidup di bulan Ramadhan lalu padam setelahnya, melainkan takwa yang terus menyala hingga akhir hayat. Karena itu Allah menegaskan:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 102).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Takwa adalah inti dari seluruh amal seorang Muslim, sebab dengannya seseorang menjaga hubungan dengan Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dan menata seluruh hidupnya dalam ketaatan. Para Sahabat memiliki pemahaman yang sangat mendalam tentang takwa. Di antara definisi indah tentang takwa adalah yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu:

التَّقْوَى: الخَوْفُ مِنَ اْلجَلِيْلِ؛ وَالْعَمَلُ بِالتَّنْزِيْلِ؛ وَالْقَنَاعَةُ بِالْقَلِيْلِ؛ وَاْلإِسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيْلِ

“Takwa adalah (1) Takut kepada Zat Yang Mahaagung, (2) Mengamalkan wahyu (al-Qur’an), (3) Merasa cukup dengan yang sedikit, dan (4) Mempersiapkan bekal untuk hari perjalanan (akhirat)” (Muhammad Shaqr, Dalîl al-Wâ’izh, 1/546). Salah satu tanda penting takwa adalah mengamalkan al-Qur’an, bukan hanya sebagian, tetapi secara utuh. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:

اَفَتُؤْمِنُوْنَ بِبَعْضِ الْكِتٰبِ وَتَكْفُرُوْنَ بِبَعْضٍۚ فَمَا جَزَاۤءُ مَنْ يَّفْعَلُ ذٰلِكَ مِنْكُمْ اِلَّا خِزْيٌ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ يُرَدُّوْنَ اِلٰٓى اَشَدِّ الْعَذَابِۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ

”Apakah kalian mengimani sebagian al-Kitab dan mengingkari  sebagian yang lain? Tidak ada balasan bagi siapa saja yang melakukan tindakan demikian, kecuali kehinaan dalam kehidupan di dunia, sementara di akhirat dia dilemparkan ke dalam azab yang sangat keras. Allah tidak lengah terhadap apa saja yang kalian kerjakan.” (QS. al-Baqarah [2]: 85).

Karena itu seorang Muslim tidak berhak membeda-bedakan hukum Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ. Semua hukum wajib diterima dan ditaati, tidak boleh hanya mengambil ibadah seperti shaum dan shalat tetapi menolak hukum Allah dalam muamalah, pemerintahan, ekonomi, pendidikan, sosial, termasuk hudud. Islam wajib dijalankan secara total, bukan sepotong-sepotong. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ menegaskan:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةًۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu adalah musuh nyata bagi kalian.” (QS. al-Baqarah [2]: 208).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Ramadhan adalah madrasah takwa, namun shaum Ramadhan dapat menjadi sia-sia jika dijalani tanpa kesungguhan dan tanpa meninggalkan dosa serta kemaksiatan. Rasulullah ﷺ mengingatkan:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

”Betapa banyak orang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali laparnya saja.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Bahkan beliau ﷺ menegaskan siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta (keji), maka Allah tidak butuh upayanya dalam meninggalkan makan dan minumnya, sebagaimana sabda Beliau:

مَن لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ والعَمَلَ بِهِ، فليسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ في أنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وشَرَابَهُ

”Siapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta (keji), maka Allah tidak butuh upayanya dalam meninggalkan makan dan minumnya.”  (HR. al-Bukhari).

Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi menahan diri dari segala maksiat: menjaga lisan, tangan, dan hati, serta meninggalkan transaksi haram dan segala bentuk kezaliman. Termasuk kezaliman terbesar adalah enggan berhukum dengan hukum Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ, sebagaimana firman-Nya:

وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

“Siapa yang tidak berhukum dengan wahyu Allah, mereka itulah orang-orang zalim” (QS. al-Mâ’idah [5]: 45). Bahkan Allah melarang condong kepada orang-orang zalim:

وَلَا تَرْكَنُوْٓا اِلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُۙ

“Janganlah kalian condong kepada orang-orang zalim, nanti kalian disentuh api neraka.” (QS. Hûd [11]: 113). Sebaliknya, takwa paripurna menuntut kita berpihak kepada keadilan, sebagaimana firman Allah:

 اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

”Sesungguhnya Allah menyuruh (kita) berlaku adil, berbuat kebajikan, memberi kepada kerabat; serta melarang dari perbuatan keji, mungkar dan lalim.” (QS. an-Nahl [16]: 90).

Karena itu marilah kita isi Ramadhan dengan amal kebajikan, memperbanyak al-Qur’an, majelis ilmu, sedekah, kepedulian sosial, dakwah, serta bersungguh-sungguh memperjuangkan syariah Allah dalam seluruh aspek kehidupan, sambil meninggalkan seluruh dosa, baik besar maupun kecil, semoga Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ menjadikan kita hamba-hamba yang benar-benar bertakwa. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan dalam khutbah Jum’at pada kesempatan kali ini. Ketahuilah bahwa segala kesempurnaan hanya milik Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ. Apa pun yang benar dari apa yang saya sampaikan adalah semata-mata berkat petunjuk-Nya melalui Rasul-Nya, maka marilah kita berpegang teguh kepadanya.

Sebagai penutup, mari kita akhiri khutbah ini dengan berdoa bersama. Semoga kita semua senantiasa dianugerahi kesehatan lahir dan batin, serta keberkahan dunia dan akhirat. Semoga Allah memberi kita hidayah, inayah, dan kekuatan, sehingga kita dapat menjadi bagian dari para dai yang selalu bersungguh-sungguh menegakkan syariat Islam secara kaffah, meneladani Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam hingga akhir hayat dalam keadaan husnul khâtimah. Âmîn yâ Rabbal-‘âlamîn.[]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ وَصَلِيْبِيِّيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ. اَللّٰهُمَّ نَجِّ إِخْوَانَنَا الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فَلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ عَلَى أَعْدَائِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَ اجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ بِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia
MARHABAN YAA RAMADHAAN: MULIA DENGAN TAKWA, BERKAH DENGAN SYARIAH

MARHABAN YAA RAMADHAAN: MULIA DENGAN TAKWA, BERKAH DENGAN SYARIAH

MARHABAN YAA RAMADHAAN: MULIA DENGAN TAKWA, BERKAH DENGAN SYARIAH

MARHABAN YAA RAMADHAAN:

MULIA DENGAN TAKWA, BERKAH DENGAN SYARIAH

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ۝١٨٣ (اَلْبَقَرَةُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Sebagai penyempurna rukun khutbah, saya selaku khatib tidak bosan-bosannya mengingatkan diri saya pribadi dan seluruh jamaah untuk selalu mengokohkan iman serta meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam:

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).

Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

“Dan berbekallah kalian, dan sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal” (QS. Al-Baqarah [2]: 197).

Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ juga berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102).

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Ramadhan akan segera menyapa kaum Muslim, sebuah bulan yang penuh keagungan dan keberkahan. Dari awal hingga akhir, ia dipenuhi keutamaan: rahmat, ampunan, serta pembebasan dari api neraka. Di dalamnya juga terdapat satu malam yang nilainya lebih mulia daripada seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar. Tidak ada bulan lain yang memiliki kemuliaan seperti ini selain Ramadhan. Maka sudah sepantasnya kita menyambutnya dengan hati yang tunduk, jiwa yang rindu ibadah, dan tekad untuk memperbaiki diri di hadapan Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ.

Shaum Ramadhan adalah rukun Islam yang menjadi penegak agama. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

”Islam dibangun di atas lima perkara: kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berhaji ke Baitullah; dan shaum Ramadan.” (HR. al-Bukhari).

Dalam hadits ini, Nabi ﷺ menyerupakan Islam sebagai bangunan kokoh yang berdiri di atas lima fondasi, sehingga meninggalkan shaum Ramadhan sama saja meruntuhkan agama. Karena itu Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ mewajibkan puasa dengan firman-Nya:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ

”...Siapa saja di antara kalian ada pada bulan itu (Ramadhan), hendaklah ia berpuasa. Siapa saja yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajib atas dirinya berpuasa sebanyak hari yang dia tinggalkan pada hari-hari yang lain...” (QS. al-Baqarah [2]: 185).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Ramadhan adalah syahrul maghfirah (bulan ampunan), momentum agung untuk membersihkan diri dari dosa dan kembali kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ. Shaum Ramadhan menjadi pelebur dosa selama seorang Muslim menjauhi dosa-dosa besar. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

”Shalat lima waktu, (shalat) Jumat ke Jumat berikutnya dan (puasa) Ramadhan ke Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim).

Bahkan, setiap hari di bulan Ramadhan Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ membebaskan hamba dari api neraka dan mengabulkan doa:

إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ، وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ

”Sesungguhnya pada setiap hari pada bulan Ramadan ada dari Allah pembebasan dari api neraka. Selama Ramadhan pula, jika setiap Muslim berdoa dengan suatu doa, Allah akan mengabulkan doanya.” (HR. Ahmad).

Di antara keistimewaan lainnya: Gerbang ar-Rayyaan, bau mulut yang menjadi wangi kesturi di akhirat, serta dua kebahagiaan: saat berbuka dan saat berjumpa dengan Allah kelak.

Namun sangat memprihatinkan jika ada Muslim yang mengabaikan shaum Ramadhan tanpa uzur syar’i, karena ia menyia-nyiakan peluang ampunan dan justru terjerumus dosa besar. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam menggambarkan siksa bagi orang yang merusak puasa:

فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِيْنَ بِعَرَاقِيْبِهِمْ، مُشَقَّقَةً أَشْدَاقُهُمْ، تَسِيْلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا، قُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ؟ قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِيْنَ يُفْطِرُوْنَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ

“Maka tiba-tiba aku melihat suatu kaum yang digantung pada urat tumit (kaki) mereka, mulut-mulut mereka robek, dan dari mulut mereka mengalir darah. Aku berkata: ‘Siapakah mereka itu?’ Ia menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang berbuka (membatalkan puasa) sebelum tiba waktu halal (boleh) berbuka puasa mereka.’” (HR. Muslim).

Karena itu, kemuliaan Ramadhan hanya diraih dengan takwa: menjaga puasa dengan ketaatan, menjauhi maksiat, dan memaksimalkan ibadah sebagai bukti tunduk kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Sungguh merugi jika ada Muslim yang tidak bersemangat menyambut Ramadhan, padahal Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ hanya meminta kita menahan diri sejenak dari kenikmatan duniawi seperti makan, minum, dan hubungan suami-istri. Namun balasannya sangat agung, yakni diangkat ke derajat mulia sebagai orang-orang bertakwa. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ 

”Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah [2]: 183).

Takwa adalah menjalankan seluruh perintah Allah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya, dan tidak ada kemuliaan yang lebih tinggi di sisi Allah kecuali takwa. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ menegaskan:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

”Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. al-Hujurât [49]: 13).

Dengan ketakwaan itulah kaum Muslim pernah memimpin dunia selama hampir 14 abad, hingga manusia berbondong-bondong masuk Islam dan bangsa-bangsa tunduk di bawah kepemimpinan Islam. Hal ini sejalan dengan janji Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam tentang kemenangan kalimat tauhid:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، قُولُوْا لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ تُفْلِحُوْا وَتَمْلِكُوْا بِهَا الْعَرَبَ وَتَذِلَّ لَكُمُ الْعَجَمُ، وَإِذَا آمَنْتُمْ كُنْتُمْ مُلُوكًا فِي الْجَنَّةِ

“Wahai manusia, ucapkanlah Lâ ilâha illâ Allâh, niscaya kalian akan beruntung, bangsa non-’Arab pun akan tunduk kepada kalian, dan jika kalian beriman, niscaya kalian akan menjadi raja-raja di surga.” (Dr. Said Ramadhan al-Buthiy, Fiqh as-Siirah, I/115).

Karena itu, jika kaum Muslim ingin kembali memimpin dunia, mereka harus kembali menjadi insan bertakwa dengan menjalankan syariah Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ secara total dalam seluruh aspek kehidupan.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Ramadhan mengajarkan bahwa ketaatan tidak boleh setengah-setengah. Jika shaum Ramadhan wajib ditunaikan sebagai syariah Islam, maka seluruh syariah Islam pun wajib diamalkan dan diterapkan, tanpa memilih aturan lain. Inilah hakikat takwa, dan takwa pasti mendatangkan keberkahan. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

”Andai penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. al-A’râf [7]: 96).

Para ulama menjelaskan bahwa keberkahan adalah tetapnya kebaikan dari Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dan keberlanjutannya, yang melahirkan kebahagiaan dunia serta limpahan pahala akhirat.

Syariah Islam menghadirkan kebaikan nyata bagi manusia:

Hukum tanpa tebang pilih, sebagaimana Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu pernah dikalahkan oleh seorang Yahudi di pengadilan melalui keputusan Qadhi Syuraikh;

Kesetaraan sosial tanpa membeda-bedakan suku, ras, atau status, sebagaimana Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar, serta memberi pelayanan negara yang sama bagi Muslim maupun non-Muslim dalam Khilafah.

Dalam ekonomi, syariah menjamin penghidupan layak, melarang harta berputar hanya di kalangan orang kaya, serta melarang individu/swasta/asing menguasai sumber daya alam vital seperti migas, tambang, hutan, dan fasilitas umum seperti laut, sungai, dan danau. Karena itu, jalan kemuliaan dan keberkahan dunia-akhirat adalah ketakwaan melalui penerapan syariah Islam secara kaffah. Maka jadikan Ramadhan ini sebagai langkah memantapkan hati untuk berpegang teguh pada Islam dan berjuang menegakkan hukum-hukum Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dalam naungan Khilafah, agar keberkahan dan kemuliaan benar-benar turun kepada umat. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan dalam khutbah Jum’at pada kesempatan kali ini. Ketahuilah bahwa segala kesempurnaan hanya milik Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ. Apa pun yang benar dari apa yang saya sampaikan adalah semata-mata berkat petunjuk-Nya melalui Rasul-Nya, maka marilah kita berpegang teguh kepadanya.

Sebagai penutup, mari kita akhiri khutbah ini dengan berdoa bersama. Semoga kita semua senantiasa dianugerahi kesehatan lahir dan batin, serta keberkahan dunia dan akhirat. Semoga Allah memberi kita hidayah, inayah, dan kekuatan, sehingga kita dapat menjadi bagian dari para dai yang selalu bersungguh-sungguh menegakkan syariat Islam secara kaffah, meneladani Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam hingga akhir hayat dalam keadaan husnul khâtimah. Âmîn yâ Rabbal-‘âlamîn.[]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ وَصَلِيْبِيِّيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ. اَللّٰهُمَّ نَجِّ إِخْوَانَنَا الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فَلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ عَلَى أَعْدَائِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَ اجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ بِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia

UPDATE INFORMASI TERBARU