Seruan Masjid

Khadimul Ummah wa Du'at

MEWUJUDKAN IZZUL ISLAM WAL MUSLIMIN

MEWUJUDKAN IZZUL ISLAM WAL MUSLIMIN

MEWUJUDKAN IZZUL ISLAM WAL MUSLIMIN

MEWUJUDKAN IZZUL ISLAM WAL MUSLIMIN

 

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَࣖ ۝١٠ (اَلْحُجُرَاتُ) 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Ingatlah, ketakwaan menentukan derajat dan kedudukan kita di hadapan Allah, sebagaimana firman-Nya;

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa” (QS. Al-Hujurât [49]: 13).

Allah juga berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102).

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Kondisi dunia Islam hari ini tidak sedang baik-baik saja. Tengoklah betapa banyak kaum Muslim di dunia saat ini. Jumlahnya hampir dua miliar manusia. Tapi pertanyaannya, mengapa banyak kaum Muslim di berbagai belahan dunia tertindas? Warga Gaza berjuang sendirian dan terus dijajah oleh Zionis Yahudi laknatullah dan didukung oleh negara kafir penjajah. Darah kaum Muslim terus tertumpah di Myanmar, Xinjiang, Kashmir hingga Sudan. Iran dibombardir oleh Amerika Serikat dan Zionis Yahudi yang haus darah.

Pernahkah kita merenungkan sejenak: mengapa dunia Islam seperti ini? Jawabnya adalah karena umat Islam saat ini tercerai-berai. Terpecah-belah. Terpisah-pisah. Oleh batas-batas semu yang sengaja dibuat oleh bangsa-bangsa kafir penjajah. Kita dipisahkan oleh negara-bangsa (nation-state) dan nasionalisme sempit, yang sengaja diciptakan oleh negara-negara kafir imperialis yang licik. Akibatnya, ketika satu negeri Muslim diserang, negeri Muslim lainnya tidak mampu membela sebagai satu kekuatan. Padahal Allah Subhanahu wata’ala telah menegaskan:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ 

”Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara” (QS. al-Hujurât [49]: 10).

Persaudaraan dalam Islam tentu bukan sekadar ada di kata-kata. Ia adalah ikatan akidah yang melampaui ras, bangsa dan batas negara.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Mengapa semua ini terjadi? Ini bukan karena kita jumlahnya sedikit. Tidak sama sekali! Hanya saja, kita sungguh tak berdaya. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan keadaan ini jauh sebelumnya:

يُوْشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا

“Hampir saja bangsa-bangsa mengeroyok kalian sebagaimana orang-orang yang lapar berebut hidangan makanan.” Para Sahabat bertanya, “Apakah karena saat itu kami berjumlah sedikit?” Beliau menjawab, “Tidak. Bahkan saat itu kalian berjumlah banyak. Akan tetapi, kalian seperti buih di lautan.” (HR. Abu Dawud).

Rasulullah SAW lalu menjelaskan akar penyebab ketidakberdayaan ini. Itulah penyakit “al-Wahn” yang telah lama menjangkiti umat ini. Al-Wahn memiliki arti:

حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Cinta dunia dan takut mati” (HR. Abu Dawud).

Ketika cinta dunia merasuk ke dalam jiwa, manusia mudah tunduk kepada sesama manusia. Ketika cinta dunia masuk ke dalam hati-sanubari, sebagian penguasa Muslim begitu mudah bersekutu dengan Amerika dan Zionis Yahudi. Padahal Allah Subhanahu wata’ala telah memperingatkan sejak dini:

 يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى اَوْلِيَاۤءَۘ

”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(-mu)” (QS. al-Mâidah [5]: 51).

Karena itu, kaum Muslim tentu tidak selayaknya menggantungkan harapan kepada lembaga-lembaga kafir internasional dan kekuatan Kapitalisme global. Termasuk kepada lembaga-lembaga ilegal, seperti Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian, yang jelas-jelas tak akan berlaku adil. Apalagi BoP ini dipimpin oleh Donald Trump, seorang penjahat internasional. Presiden dari sebuah negara imperialis global.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Ingat, umat Islam pernah memiliki sejarah yang membanggakan. Saat itu kita memimpin dunia dengan penuh keadilan. Kapan itu? Saat kaum Muslim sedunia memiliki kepemimpinan global yang menyatukan. Itulah khilafah Islam. Tak ada negara musuh yang berani menyakiti umat ini. Saat itu, darah kaum Muslim terpelihara. Tanah dan harta mereka benar-benar terjaga. Kehormatan mereka pun tak ada yang berani menista.

Saat Khilafah masih berjaya, ia sanggup mengerahkan ribuan tentaranya. Hanya untuk membela kehormatan seorang Muslimah. Itu terjadi di era Khalifah al-Mu’tashim Billah. Saat itu Muslimah tersebut ditawan dan dilecehkan oleh tentara Romawi di Amuriyah. Berita itu pun sampai ke telinga sang Khalifah. Tanpa basa-basi, juga tanpa diplomasi, Khalifah al-Mu’tashim Billah segera mengerahkan pasukan dalam jumlah besar untuk menyerbu Amuriyah. Akhirnya, Muslimah itu berhasil dibebaskan. Bahkan wilayah yang dikuasai Romawi itu pun sekaligus berhasil ditaklukkan. Tak kurang dari 30 ribu pasukan Romawi tewas bergelimpangan. Sebanyak 30 ribu lainnya berhasil ditawan.(Ath-Thabari, Taariikh al-Umam wa al-Muluuk, 8/631–634; Ibnu Katsir, Al-Bidaayah wa an-Nihaayah, 10/325).

Pertanyaannya, adakah pemimpin yang seperti itu sekarang? Sudah berapa kaum Muslim yang syahid? Lihatlah, saat ada genosida di Gaza, para pemimpin dunia Islam hanya menonton dan menghitung jumlah korban. Diam seribu bahasa. Tanpa merasa berdosa.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Itulah mengapa, kaum Muslim seluruh dunia harus bersatu, jika ingin kembali berjaya. Umat ini akan kuat jika kita kembali pada ajaran Islam secara sempurna. Yakni, menerapkan al-Quran sebagai pedoman hidup di segala arena dan menjadikan Sunnah Nabi dijadikan petunjuk jalan kehidupan dunia.

Sesungguhnya inilah yang Allah Subhanahu wata’ala kehendaki. Sebagaimana yang telah dinyatakan dalam Kitab Suci:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوْا

"Berpeganglah kalian semua pada tali (agama) Allah dan jangan bercerai-berai” (QS. Âli ’Imrân [3]: 103).

Tanpa persatuan dan kepemimpinan yang satu secara global, umat Islam hanyalah kumpulan manusia yang lemah dan tak berdaya. Apalagi jika harus berhadapan dengan kekuatan adidaya Amerika. Tanpa kepemimpinan Islam level dunia, potensi kekuatan besar umat Islam yang luar biasa tak akan pernah bisa berubah menjadi kekuatan adidaya.

Selain itu, yang patuh disadari, khilafah adalah tuntutan dan kewajiban umat Islam sedunia. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam telah sangat jelas bersabda:

مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

”Siapa saja yang mati, sedangkan di lehernya tidak ada baiat (kepada seorang khalifah), maka ia mati seperti mati jahiliyah” (HR. Muslim).

Tentu kita tak mau mati seperti itu. Maka, mengembalikan kepemimpinan umat ada jalan yang harus kita lalui. Tinggalkan perbedaan. Sungguh banyak persamaan yang bisa kita satukan, demi izzul Islam wal muslimin. Semoga Allah mengabulkan. Aamiin.

Demikianlah yang dapat saya. Sebagai penutup, mari kita akhiri khutbah ini dengan berdoa bersama. Semoga kita semua senantiasa dianugerahi kesehatan lahir dan batin, serta keberkahan dunia dan akhirat. Semoga Allah memberi kita hidayah, inayah, dan kekuatan, sehingga kita dapat menjadi bagian dari para dai yang selalu bersungguh-sungguh menegakkan syariat Islam secara kaffah, meneladani Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam hingga akhir hayat dalam keadaan husnul khâtimah. Âmîn yâ Rabbal-‘âlamîn.[]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ، اِهْزِمِ الْيَهُوْدَ وَأَعْوَانَهُمْ، وَالصَّلِيْبِيِّيْنَ وَأَنْصَارَهُمْ، وَالرَّأْسُمَالِيِّيْنَ وَإِخْوَانَهُمْ، وَالْاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَالشُّيُوْعِيِّيْنَ وَأَشْيَاعَهُمْ. اَللّٰهُمَّ نَجِّ إِخْوَانَنَا الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فَلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ عَلَى أَعْدَائِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia
IDUL FITRI: MOMENTUM UNTUK MEWUJUDKAN KETAKWAAN DAN PERSATUAN HAKIKI DI BAWAH KEPEMIMPINAN ISLAM

IDUL FITRI: MOMENTUM UNTUK MEWUJUDKAN KETAKWAAN DAN PERSATUAN HAKIKI DI BAWAH KEPEMIMPINAN ISLAM

IDUL FITRI: MOMENTUM UNTUK MEWUJUDKAN KETAKWAAN DAN PERSATUAN HAKIKI DI BAWAH KEPEMIMPINAN ISLAM

IDUL FITRI:

MOMENTUM UNTUK MEWUJUDKAN KETAKWAAN DAN PERSATUAN HAKIKI

DI BAWAH KEPEMIMPINAN ISLAM

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

 اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً، لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ واللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ فَسَوَّى، وَقَدَّرَ فَهَدَى، وَجَعَلَ التَّقْوَى زَادًا لِمَنْ أَرَادَ النَّجَاةَ وَالْهُدَى. نَحْمَدُهُ حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ، وَنَسْتَغْفِرُهُ اسْتِغْفَارَ الْمُقَصِّرِيْنَ، وَنَسْتَعِيْنُهُ اسْتِعَانَةَ الْمُضْطَرِّيْنَ.

وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، الَّذِيْ جَعَلَ شَهْرَ رَمَضَانَ مِيْدَانًا لِتَزْكِيَةِ نُّفُوْسِ المُسْلِمِيْنَ، وَتَطْهِيْرِ قُلُوْبِهِمْ، وَتَقْوِيَةِ إِيْمَانِهِمْ وَطَاعَتِهِمْ، وَجَعَلَ يَوْمَ الْفِطْرِ يَوْمَ الْجَائِزَةِ لِلصَّائِمِيْنَ وَالْقَائِمِيْنَ. وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْأَمِيْنُ، أَرْسَلَهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، وَهَادِيًا لِلْحَائِرِيْنَ، وَإِمَامًا لِلْمُتَّقِيْنَ.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ الطَّاهِرِيْنَ، وَأَصْحَابِهِ الْمُكْرَمِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى هِيَ زَادُ الْقُلُوْبِ، وَنُوْرُ الدُّرُوْبِ، وَمِفْتَاحُ الْخَيْرَاتِ، وَسَبَبُ الْبَرَكَاتِ. وقَالَ اللهُ تَعَالَى:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ۝١٠٢ آلِ عِمْرَانَ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Idul Fitri rahimakumulLaah,

Alhamdulillah. Segala pujian milik Allah. Tuhan semesta alam. Semoga shalawat dan salam, Allah curahkan kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW; kepada keluarganya yang mulia, kepada para Sahabatnya yang utama, serta kepada siapa saja dari umatnya, yang tetap setia menjadikan beliau sebagai teladan kehidupan paripurna.

Jama’ah Idul Fitri rahimakumulLaah,

Hari ini adalah hari yang penuh dengan cahaya kemenangan. Tentu bagi kaum beriman. Hari ini langit dipenuhi takbir, bumi dipenuhi syukur, dan hati dipenuhi harapan.

Ramadhan baru saja berlalu. Seperti tamu agung yang lama dirindu. Ia meninggalkan jejak haru dan syahdu. Ia datang membawa aneka pahala. Lalu pergi meninggalkan pesan takwa. Demikian sebagaimana firman Allah SWT:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

”Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah [2]: 183).

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Idul Fitri rahimakumulLaah,

Demikianlah. Ramadhan adalah madrasah besar pembentuk takwa. Takwa tentu memiliki sejumlah tanda. Para ulama telah menjelaskan hakikat dan ciri-cirinya. Di antaranya, sebagaimana yang dinukil dari Imam Ali bin Abi Thalib ra.:

التَّقْوَى هِيَ الْخَوْفُ مِنَ الْجَلِيْلِ، وَالْعَمَلُ بِالتَّنْزِيْلِ، وَالْقَنَاعَةُ بِالْقَلِيْلِ، وَالِاسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيْلِ

”Takwa adalah takut kepada Tuhan Yang Mahaagung; mengamalkan al-Quran; merasa cukup dengan yang sedikit; dan mempersiapkan bekal (amal-amal shalih) untuk menghadapi hari saat digiring dan dikumpulkan (Hari Penghisaban).”

Dengan demikian takwa bukan sekadar rasa takut. Takwa adalah cara hidup. Takwa adalah ketika hati kita senantiasa tunduk dan jiwa kita selalu taat. Takwa adalah saat kita lebih khawatir berbuat dosa. Daripada takut miskin atau kehilangan dunia.

Lebih dari itu, takwa adalah ketika hidup kita diatur hanya oleh al-Quran yang mulia. Bukan oleh hawa nafsu manusia. Al-Quran ini tentu wajib kita amalkan secara keseluruhannya. Bukan hanya sebagiannya saja. Demikian sebagaimana yang Allah nyatakan dalam firman-Nya:

اَفَتُؤْمِنُوْنَ بِبَعْضِ الْكِتٰبِ وَتَكْفُرُوْنَ بِبَعْضٍۚ فَمَا جَزَاۤءُ مَنْ يَّفْعَلُ ذٰلِكَ مِنْكُمْ اِلَّا خِزْيٌ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ يُرَدُّوْنَ اِلٰٓى اَشَدِّ الْعَذَابِۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ

”Apakah kalian mengimani sebagian al-Kitab dan mengingkari sebagian yang lain? Tidak ada balasan bagi siapa saja yang berlaku demikian, kecuali kehinaan dalam kehidupan di dunia, sementara di akhirat dia dilemparkan ke dalam azab yang sangat menyiksa. Allah tidak lengah terhadap apa saja yang kalian kerjakan.” (QS. al-Baqarah [2]: 85).

Berdasarkan ayat ini, tak layak kita hanya mengamalkan kewajiban shalat, puasa dan ibadah-ibadah ritual lainnya. Lalu kita mencampakkan kewajiban untuk menerapkan hukum-hukum al-Quran dalam berbagai perkara lainnya; seperti politik/pemerintahan, ekonomi, pendidikan, sosial, hukum pidana. Demikian sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةًۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. al-Baqarah [2]: 208).

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Idul Fitri rahimakumulLaah,

Di tengah Idul Fitri yang sedang kita rayakan, sepatutnya kita melontarkan pertanyaan: Apakah takwa hanya urusan pribadi saja? Atau takwa cukup hanya tampak nyata dalam shalat, zakat, puasa dan ibadah ritual lainnya?

Al-Quran memberikan jawaban yang sangat lugas bagi yang punya akal. Takwa bukan hanya ibadah personal. Takwa juga harus hadir dalam kehidupan ekonomi, hukum, pemerintahan, pendidikan dan sosial. Allah SWT berfirman:

وَلَكُمْ فِى الْقِصَاصِ حَيٰوةٌ يّٰٓــاُولِى الْاَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

”Dalam hukum qishaash itu ada kehidupan bagi kalian, wahai orang-orang berakal, agar kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah [2]: 179).

Ayat ini menunjukkan bahwa penegakan hukum-hukum Allah SWT, di antaranya qishaash, juga merupakan jalan menuju takwa. Artinya, takwa tidak hanya lahir dari ibadah puasa. Takwa juga muncul dari tegaknya syariah Allah dalam kehidupan secara paripurna. Takwa tidak boleh berhenti pada diri kita. Ia juga harus mewujud nyata dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Idul Fitri rahimakumulLaah,

Takwa sejati pasti melahirkan kepedulian. Orang bertakwa tidak mungkin hidup tenang ketika saudaranya kelaparan. Orang bertakwa tidak mungkin hidup nyaman ketika saudaranya kesusahan atau mengalami penderitaan. Orang bertakwa tidak mungkin diam ketika menyaksikan ragam kezaliman. Inilah yang tersirat dalam al-Quran:

وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ ۝١٣٣

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ۝١٣٤

”Bersegeralah kalian menuju ampunan Tuhan kalian, juga menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi kaum yang memiliki ketakwaan, yakni: mereka yang menginfakkan harta mereka dalam kelapangan maupun kesempitan; yang bisa menahan amarah dan mudah memaafkan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Âli ’Imrân [3]: 133-134).

Ayat ini menunjukkan bahwa takwa selalu melahirkan kepedulian yang otentik. Bukan malah memunculkan sikap individualistik. Apalagi egoistik. Takwa harus menciptakan masyarakat yang penuh dengan kasih sayang dan sikap empatik. Rasulullah saw. bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَىٰ مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَىٰ لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

”Perumpamaan kaum Mukmin dalam cinta, kasih-sayang dan empati mereka adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Rasulullah saw. bahkan bersabda:

وَلَأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخٍ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ شَهْرًا

”Sungguh aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya lebih aku cintai daripada beritikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) selama sebulan lamanya.” (HR. ath-Thabarani)

 

 

Bayangkan. Itikaf di Masjid Nabawi adalah ibadah yang sangat mulia. Satu rakaat shalat di dalamnya setara dengan 1000 rakaat shalat di masjid-masjid selainnya. Namun demikian, membantu saudara-saudara dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, adalah jauh lebih utama dan lebih besar nilainya.

Karena itu mari kita ringankan beban sesama Muslim. Ada yang lapar, kita beri makan. Ada yang terlilit utang, kita bantu meski dengan sedikit uang. Ada yang bersedih, kita hibur dan kita buat senang. Ingat, di dalam negeri pun, di Sumatra, misalnya, saudara-saudara kita yang sudah lebih dari tiga bulan lalu tinggal di tenda-tenda sangat darurat akibat rumah-rumah mereka hancur terkena bencana, hingga saat ini masih sangat membutuhkan uluran tangan kita. Bukankah membahagiakan sesama juga menjadi jalan takwa menuju surga dan ridha Allah SWT?

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Idul Fitri rahimakumulLaah,

Idul Fitri sejatinya bukan sekadar hari perayaan. Ia juga sekaligus hari perenungan. Hari ketika kita menengok Dunia Islam yang luas. Hari saat hati kita seharusnya bertanya dengan nada cemas: Mengapa umat Islam yang jumlahnya hampir dua miliar masih banyak yang tertindas? Mengapa saudara-saudara kita di Gaza terus dibombardir dan terus mengalami kekerasan? Mengapa darah kaum Muslim terus tertumpah di Myanmar, Xinjiang, Kashmir hingga Sudan? Mengapa jeritan mereka seolah tidak mampu mengguncang dunia dan saudara seiman? Bahkan, di dalam negeri, mengapa duka Sumatra dan sejumlah wilayah lain akibat bencana belum bisa kita hapuskan?

Mengapa semua penderitaan umat ini terus terjadi? Padahal jumlah umat Islam sangat besar dan tersebar di berbagai negeri. Padahal negeri-negeri Muslim memiliki kekayaan alam yang melimpah di sana-sini. Padahal tentara mereka—jika digabungkan—berjumlah jutaan personel, yang tentunya siap untuk mati, demi meraih surga-Nya yang abadi?

Jawabannya adalah karena umat Islam saat ini tercerai-berai. Terpecah-belah. Terpisah-pisah. Oleh batas-batas semu yang sengaja dibuat oleh bangsa-bangsa kafir penjajah. Kita dipisahkan oleh negara-bangsa (nation-state) dan nasionalisme sempit, yang sengaja diciptakan oleh negara-negara kafir imperialis yang licik. Akibatnya, ketika satu negeri Muslim diserang, negeri Muslim lainnya tidak mampu membela sebagai satu kekuatan. Padahal Allah SWT telah menegaskan:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ

”Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara” (QS. al-Hujurât [49]: 10).

Persaudaraan dalam Islam tentu bukan sekadar ada di kata-kata. Ia adalah ikatan akidah yang melampaui ras, bangsa dan batas negara.

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Idul Fitri rahimakumulLaah,

Harus diakui bahwa dunia hari ini sedang menyaksikan berbagai tragedi kemanusiaan yang amat parah. Negeri-negeri Muslim diserang dari berbagai arah. Iran baru saja dibombardir oleh Amerika Serikat dan Zionis Yahudi yang haus darah. Penindasan di banyak tempat pun terus dilakukan oleh bangsa-bangsa kafir penjajah. Palestina hanyalah salah satunya. Genosida Gaza adalah puncaknya.

Gaza hancur-lebur. Ribuan Muslim di sana gugur. Ribuan lainnya terusir dan dibuat lapar. Menyusul Tepi Barat yang juga sudah lama diincar. Semua itu dilakukan oleh anjing-anjing Zionis Yahudi yang bengis dan amoral. Semua itu didukung penuh oleh Amerika Serikat sebagai gembong kriminal internasional. Ironisnya, semua kengerian yang menimpa umat Islam itu pun disaksikan langsung oleh para penguasa Muslim yang sudah lama kehilangan rasa malu dan legitimasi moral.

Mengapa semua ini terjadi? Apakah karena jumlah umat Islam sedikit dan tak berarti? Tidak sama sekali! Bahkan umat Islam hari ini amat banyak jumlahnya. Lebih dari dua miliar jiwa. Hanya saja, mereka sungguh tak berdaya. Rasulullah SAW telah memperingatkan keadaan ini jauh sebelumnya:

يُوْشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا

“Hampir saja bangsa-bangsa mengeroyok kalian sebagaimana orang-orang yang lapar berebut hidangan makanan.” Para Sahabat bertanya, “Apakah karena saat itu kami berjumlah sedikit?” Beliau menjawab, “Tidak. Bahkan saat itu kalian berjumlah banyak. Akan tetapi, kalian seperti buih di lautan.” (HR. Abu Dawud).

Rasulullah SAW lalu menjelaskan akar penyebab ketidakberdayaan ini. Itulah penyakit “al-Wahn” yang telah lama menjangkiti umat ini. Al-Wahn memiliki arti:

حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Cinta dunia dan takut mati” (HR. Abu Dawud).

Ketika cinta dunia merasuk ke dalam jiwa, manusia mudah tunduk kepada sesama manusia. Ketika cinta dunia masuk ke dalam hati-sanubari, sebagian penguasa Muslim begitu mudah bersekutu dengan Amerika dan Zionis Yahudi. Padahal Allah SWT telah memperingatkan sejak dini:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى اَوْلِيَاۤءَۘ

”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil sebagai pemimpin kalian dari kalangan Yahudi dan Nasrani (QS. al-Mâidah [5]: 51).

Karena itu kaum Muslim tentu tidak selayaknya menggantungkan harapan kepada lembaga-lembaga kafir internasional dan kekuatan Kapitalisme global. Termasuk kepada lembaga-lembaga ilegal, seperti Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian, yang jelas-jelas tak akan berlaku adil. Apalagi BoP ini dipimpin oleh Donald Trump, seorang penjahat internasional. Presiden dari sebuah negara imperial. Itulah Amerika Serikat sebagai pengusung utama ideologi Kapitalisme global. Sejak tahun 1798-2022, Amerika Serikat telah melakukan 469 kali intervensi militer ke berbagai negara secara brutal. Baik dengan atau tanpa legitimasi internasional. Seperti menduduki dan menjajah Afganistan; menciptakan kekacauan di Libya, Somalia, Sudan, Yaman, Suriah, dll; serta menyerang dan menduduki Irak dengan tudingan palsu memiliki senjata pemusnal massal.

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Idul Fitri rahimakumulLaah,

Karena itu Idul Fitri sesungguhnya bukan sekadar hari perayaan. Ia harus menjadi hari kesadaran. Hari ketika kita menyadari bahwa umat ini pernah memiliki sejarah yang membanggakan. Hari saat kita memahami bahwa umat ini pernah memimpin dunia dengan penuh keadilan. Hari manakala kita mengerti bahwa umat ini pernah menjadi pelindung bagi bangsa-bangsa yang tertindas dan menjadi korban kezaliman.

Dulu, saat umat Islam sedunia memiliki kepemimpinan global yang menyatukan, mereka menjadi umat yang disegani dan diperhitungkan. Tak mudah bagi musuh-musuh mereka untuk melecehkan dan menistakan. Sebabnya, kaum Muslim selama berabad-abad lamanya berada dalam naungan dan perlindungan Khilafah Islam.

Saat Khilafah masih ada, darah kaum Muslim terpelihara. Tanah dan harta mereka benar-benar terjaga. Kehormatan mereka pun tak ada yang berani menista.

Saat Khilafah masih berjaya, ia sanggup mengerahkan ribuan tentaranya. Hanya untuk membela kehormatan seorang Muslimah. Itu terjadi di era Khalifah al-Mu’tashim Billah. Saat itu Muslimah tersebut ditawan dan dilecehkan oleh tentara Romawi di Amuriyah. Berita itu pun sampai ke telinga sang Khalifah. Tanpa basa-basi, juga tanpa diplomasi, Khalifah al-Mu’tashim Billah segera mengerahkan pasukan dalam jumlah besar untuk menyerbu Amuriyah. Akhirnya, Muslimah itu berhasil dibebaskan. Bahkan wilayah yang dikuasai Romawi itu pun sekaligus berhasil ditaklukkan. Tak kurang dari 30 ribu pasukan Romawi tewas bergelimpangan. Sebanyak 30 ribu lainnya berhasil ditawan (Ath-Thabari, Taariikh al-Umam wa al-Muluuk, 8/631–634; Ibnu Katsir, Al-Bidaayah wa an-Nihaayah, 10/325).

Saat Khilafah masih berdiri, kaum Muslim begitu disegani dan ditakuti. Bahkan oleh Kerajaan Romawi. Pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid, misalnya. Sang Khalifah dikenal sebagai penguasa Muslim yang sangat tegas dan berwibawa. Ketika Kaisar Romawi Timur (Bizantium) saat itu, Nikephoros I, mengirim surat yang bernada meremehkan dan menolak membayar upeti (jizyah), Khalifah Harun ar-Rasyid segera membalas dengan surat bernada keras dan penuh ancaman, “Dari Harun, Amirul Mukminin, kepada Nikephoros, Anjing Romawi! Aku telah membaca suratmu. Jawabannya adalah apa yang akan segera kamu lihat! Bukan apa yang akan kamu dengar.” Segera setelah itu, sang Khalifah mengerahkan ribuan pasukannya untuk menyerang Romawi. Akhirnya, Romawi pun kalah dan kembali tunduk pada kekuasaan Khilafah (Al-Khathib al-Baghdadi, Taariikh Baghdaad, 8/364; Ibnu Katsir, Al-Bidaayah wa an-Nihaayah, 10/184).

Pada era Khilafah pula kaum Muslim berhasil menaklukkan Konstantinopel. Simbol kedigdayaan Romawi Timur. Bahkan ia ditaklukkan hanya oleh seorang pemimpin muda yang amat belia, namun dipuji oleh Rasulullah SAW sebagai sebaik-baiknya ksatria. Demikian sebagaimana sabdanya:

فَلَنِعْمَ الْأَمِيْرُ أَمِيْرُهَا، وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ

“Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin (penaklukan Konstantinopel) dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan tersebut.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim).

Pada era Khilafah pula, pemimpin umat Islam senantiasa memimpin dengan keteguhan. Pada masa Sultan Abdul Hamid II, penguasa Khilafah Utsmaniyah, misalnya, Theodor Herzl, tokoh Zionis Yahudi, pernah mau menyuap sang Khalifah dengan uang yang sangat besar jumlahnya. Tentu agar Yahudi diberi hak atas tanah Palestina. Jawaban Khalifah sangat tegas dan penuh wibawa, “Aku tidak akan menyerahkan walau sejengkal tanah Palestina! Ia bukan milikku. Ia adalah milik umat Islam!” (Muhammad Harb, Abdul Hamid II, Akhir as-Salaathiin al-Utsmaaniyyiin al-Kibaar, hlm. 123–125).

Pada masa Khilafah Utsmaniyah pula, Prancis pernah diancam oleh Sultan Abdul Hamid II. Sang Sultan mengultimatum Prancis agar segera menghentikan rencana pementasan drama berjudul “Mahomet” karya Henri de Bornier di Prancis. Pasalnya, drama tersebut menghina kemuliaan Baginda Nabi saw. Isi ancaman itu tegas: Jika penghinaan kepada Rasulullah saw. tetap dilakukan, opsi militer (jihad) sangat terbuka! Prancis pun takut. Akhirnya, Prancis membatalkan rencana pementasan drama tersebut. (Stanford J. Shaw, History of the Ottoman Empire and Modern Turkey, 1/287).

Bahkan hanya pada era Khilafah pula, penguasa Muslim pernah dengan gagah menghadapi Amerika. Pada abad ke-18, Amerika pernah terpaksa membayar upeti (jizyah) kepada Khilafah Utsmaniyah agar kapal-kapal mereka bisa melintas dengan aman di Afrika Utara (Aljazair, Tripoli, Tunis). Amerika mengakui hal ini secara resmi dalam perjanjian internasional. (Treaty of Tripoli [1796], Pasal 10) (Frank Lambert, The Barbary Wars, hlm. 45–52).

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Idul Fitri rahimakumulLaah,

Semua kecemerlangan Khilafah ini jelas bukan dongeng yang meninabobokan. Ini adalah fakta sejarah yang tak terbantahkan. Fakta-fakta ini membuktikan satu keniscayaan: Khilafah bukan sekadar simbol. Ia adalah institusi pemerintahan Islam global. Sepanjang sejarahnya, Khilafah mampu memelihara kemuliaan Islam serta melindungi kehormatan dan darah kaum Muslim.

Akan tetapi, sejarah kejayaan kaum Muslim yang membanggakan itu tidak akan kembali hanya dengan nostalgia. Ia hanya akan kembali ketika umat Islam kembali pada ajaran Islam secara sempurna. Ia hanya akan datang lagi saat al-Quran dijadikan pedoman hidup di segala arena. Saat Sunnah Nabi dijadikan petunjuk jalan kehidupan dunia. Juga saat umat Islam kembali bersatu dalam persaudaraan yang nyata. Di bawah kepemimpinan Islam sedunia. Khilafah namanya. Bukan persatuan dan persaudaraan yang hanya sebatas retorika. Di bawah naungan nation-state atau negara-bangsa.

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Idul Fitri rahimakumulLaah,

Mengapa kaum Muslim dulu begitu kuat dan disegani? Karena dulu mereka berada dalam naungan satu kepemimpinan duniawi. Yang menyatukan umat Islam dari berbagai negeri. Sesungguhnya inilah yang Allah SWT kehendaki. Sebagaimana yang telah dinyatakan dalam Kitab Suci:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوْا

"Berpeganglah kalian semua pada tali (agama) Allah dan jangan bercerai-berai” (QS. Âli ’Imrân [3]: 103).

Agar persatuan kaum Muslim sedunia saat ini tak hanya sebatas retorika, mereka tentu memerlukan kembali satu kepemimpinan Islam level dunia. Itulah Khilafah yang senantiasa dirindukan kembali kehadirannya. Tanpa kehadiran kembali Khilafah, umat Islam hanyalah kumpulan manusia yang lemah dan tak berdaya. Apalagi jika harus berhadapan dengan kekuatan adidaya Amerika. Tanpa kepemimpinan Islam level dunia, potensi kekuatan besar umat Islam yang luar biasa tak akan pernah bisa berubah menjadi kekuatan adidaya.

Sejarah Islam menunjukkan bahwa persatuan dan persaudaraan hakiki umat Islam hanya ada di bawah naungan Khilafah. Di bawah satu kepemimpinan Khilafah, umat bisa menghimpun seluruh sumberdaya ekonomi yang melimpah, kekuatan militer yang tangguh, dan pengaruh politik yang tak bisa dipandang remeh. Saat tegak kembali Khilafah, umat Islam bisa kembali menegakkan kepala dengan gagah. Dunia pun bakal kembali tunduk secara sukarela dan pasrah. Musuh-musuh Islam juga tak berani membuat ulah. Inilah yang telah diisyaratkan oleh Rasulullah SAW:

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

”Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai (pelindung). Orang-orang berperang di belakang dia dan berlindung kepada dirinya” (HR. Muslim).

Maknanya, kata Imam an-Nawawi rahimahulLaah:

أَيْ: كَالسِّتْرِ؛ لِأَنَّهُ يَمْنَعُ الْعَدُوَّ مِنْ أَذَى الْمُسْلِمِيْنَ...وَيَحْمِي بَيْضَةَ الْإِسْلَامِ

”(Imam/Khalifah itu) seperti pelindung. Sebabnya, ia menghalangi musuh untuk menyakiti kaum Muslim...serta melindungi kemuliaan Islam” (An-Nawawi, Syarh an-Nawawi ‘alaa Muslim, 6/315).

Hadits ini menggambarkan betapa pentingnya kepemimpinan Islam. Betapa urgennya Khalifah sebagai perisai dan tameng yang menjaga kaum Muslim, sekaligus sebagai permersatu seluruh kekuatan umat Islam.

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Idul Fitri rahimakumulLaah,

Selain kebutuhan kita, Khilafah adalah tuntutan dan kewajiban umat Islam sedunia. Rasulullah SAW telah sangat jelas bersabda:

مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً (رواه مسلم)

”Siapa saja yang mati, sedangkan di lehernya tidak ada baiat (kepada seorang khalifah), maka ia mati seperti mati jahiliah” (HR. Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa membaiat seorang khalifah atau mewujudkan Khilafah bukanlah sekadar pilihan. Ia adalah kewajiban syar‘i yang sangat besar bagi umat Islam. Inilah yang ditegaskan oleh para ulama sepanjang sejarah Islam. Hal ini karena, sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam al-Mawardi rahimahulLaah dalam Al-Ahkaam as-Sulthaaniyah:

الْإِمَامة مَوْضُوْعَةٌ لِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِيْ حِرَاسَةِ الدِّيْنِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا

Imamah (Khilafah) ditetapkan sebagai pengganti fungsi Kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia (Al-Mawardi, Al-Ahkaam as-Sulthaaniyyah, hlm. 3).

Imam an-Nawawi rahimahulLaah juga tegas menyatakan:

أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ نَصْبُ خَلِيْفَةٍ

”Para ulama telah berijmak bahwa wajib atas kaum Muslim mengangkat seorang khalifah” (An-Nawawi, Syarh Shahiih Muslim, 12/201).

Bahkan menurut Imam al-Haitami rahimahulLaah:

أَنَّ الصَّحَابَةَ رِضْوَانُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ أَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّ نَصْبَ اْلإِمَامِ بَعْدَ اِنْقِرَاضِ زَمَنِ النُّبُوَّةِ وَاجِبٌ، بَلْ جَعَلُوْهُ أَهَّمَ الْوَاجِبَاتِ حَيْثُ اِشْتَغَلُّوْا بِهِ عَنْ دَفْنِ رَسُوْلِ اللهِ

”Sungguh para Sahabat—semoga Allah SWT meridhai mereka—seluruhnya telah berijmak bahwa mengangkat imam (khalifah) setelah masa kenabian berakhir adalah kewajiban. Bahkan mereka menjadikan kewajiban ini sebagai kewajiban paling urgen. Buktinya, mereka mendahulukan memilih dan mengangkat khalifah seraya menunda sementara pemakaman Rasulullah SAW” (Al-Haitami, ash-Shawaa’iq al-Muhriqah, 1/25).

Di antara fungsi Khilafah yang paling menonjol—yang tidak mungkin diperankan oleh para penguasa sekuler dalam sistem demokrasi saat ini—adalah sebagaimana ditegaskan oleh Dr. Mahmud al-Khalidi saat mendefiniskan Khilafah:

اَلْخِلاَفَةُ هِيَ رِئَاسَةٌ عَامَّةٌ لِلْمُسْلِمِيْنَ جَمِيْعًا فِي الْعَالَمِ لِإِقَامَةِ أَحْكَامِ الشَّرْعِ وَحَمْلِ الدَّعْوَةِ اْلإِسْلاَمِيَّةِ إِلَى الْعَالَمِ

”Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum Muslim sedunia untuk menegakkan hukum-hukum syariah dan mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia” (Al-Khalidi, Al-Qawaa’id li Nizhaam al-Hukmi fii al-Islaam, hlm. 226).

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Idul Fitri rahimakumulLaah,

Alhasil, marilah kita menjadikan Idul Fitri ini sebagai momentum untuk memperbaiki diri, menjadikan kita lebih peduli, serta mempererat persatuan dan persaudaraan Islam yang hakiki. Marilah kita berjuang agar kehidupan umat kembali diatur oleh syariah Allah di semua lini. Di bawah naungan sistem pemerintahan Islam sejati. Itulah Khilafah Islam yang berjalan di atas manhaj Nabi SAW, yang kehadirannya benar-benar dinanti dan dirindui.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ بِالْقَرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ.

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ كَرَّمَ هَذِهِ الأُمَّةَ بِشَرِيْعَتِهِ الْكَامِلَةِ، وَخَصَّ بِهَا بِنُبُوَّةِ نَبِيِّهِ الْكَرِيْمَةِ، و اَعَزّهَا بِالْخِلَافَةِ الرَّاشِدَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ الَّذِيْ أَعَزَّ الْإِسْلَامَ بِنُصْرَتِهِ، وَرَفَعَ الْحَقَّ بِشَرِيْعَتِهِ، وَكَشَفَ زَيْفَ الْبَاطِلِ بِنُوْرِ هِدَايَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُصْطَفَى؛ حَامِلَ الرِّسَالَةِ وَلِوَاءِ الْهُدَى، وَقَائِدَ مَسِيْرَةِ الْأُمَّةِ فِي الدِّيْنِ وَالْحَيَاةِ الدُّنْيَا.

صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَا بيْنهمَا.

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Idul Fitri rahimakumulLaah,

Idul Fitri adalah hari kemenangan. Namun, kemenangan sejati bukan hanya karena kita telah menyelesaikan puasa Ramadhan. Kemenangan sejati adalah saat kita semua kembali pada ajaran Islam. Saat al-Quran bukan hanya dijadikan bacaan, tetapi juga amalkan dan diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Saat Sunnah Rasulullah SAW bukan hanya dijadikan bahan kajian, tetapi juga dijadikan pedoman kehidupan. Juga saat persatuan dan persaudaraan Islam bukan hanya sekadar slogan, tetapi benar-benar mewujud dalam kenyataan.

Untuk itu, pada khutbah yang terakhir ini, marilah kita sama-sama berdoa dan memohon dengan penuh pengharapan; kepada Allah Tuhan semesta alam. Semoga Allah SWT menjadikan Idul Fitri kali ini sebagai momentum kebangkitan umat Islam di akhir zaman. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

 

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ سَلِّمْنَا وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَعَافِنَا وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَانْصُرْنَا وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَقِنَا وَإِيَّاهُمْ شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فِلَسْطِيْنَ، وَفِي السُّوْدَانِ، وَفِيْ سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَفِيْ كُلِّ أَرْضٍ يُظْلَمُ فِيْهَا الْمُسْلِمُوْنَ.

اللّٰهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ، وارْفَعِ الظُّلْمَ عَنْهُمْ، وَاحْفَظْ دِمَاءَهُمْ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى مَنْ عَادَاهُمْ.

اَللَّهُمَّ أَقِمْ لَنَا خِلَافَةً رَاشِدَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، اَلَّتِيْ تُطَبِّقُ شَرِيْعَتَكَ كَافَّةً، وَتَجْمَعُ بِهَا شَمْلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَتَحْمِيْ بِهَا دِمَاءَهُمْ وَأَعْرَاضَهُمْ، وَتَحْمِلُ رِسَالَةَ الْإِسْلَامِ بِالدَّعْوَةِ وَالْجِهَادِ إِلَى الْعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا، وَلِوَالِدِيْنَا، وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا، وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيْزُ، يَا غَفَّارُ، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. 

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

-----

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، فَاذْكُرُوا اللّٰهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia
MENJADI MANUSIA BARU PASCA RAMADHAN

MENJADI MANUSIA BARU PASCA RAMADHAN

MENJADI MANUSIA BARU PASCA RAMADHAN

MENJADI MANUSIA BARU

PASCA RAMADHAN

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى ۝١٢٤ (طٰهٰ) 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Bersyukur kepada Allah atas nikmat dan karunia-Nya, yang telah memberikan kita kemampuan menjalankan ibadah shaum Ramadhan, yang terus memberikan kita rezeki yang tak pernah putus. Shalawat dan salam semoga Allah curahkan kepada junjungan alam Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Marilah kita tingkatkan iman dan takwa kita kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ, sebagaimana sabda Rasulullah;

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman:

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

“Dan berbekallah kalian, dan sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal” (QS. Al-Baqarah [2]: 197).

Allah juga berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102).

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Hari ini kita kaum Muslim patut bergembira. Setelah satu bulan lamanya berpuasa, Allah perintahkan kita berbuka. Inilah hari raya kita, selain hari raya Idul Adha.

Kita terlahir kembali sebagai manusia baru. Ibarat siklus hidup kupu-kupu, kita baru saja menjalani masa kepompong. Begitu siklus kepompong ini selesai, muncullah kupu-kupu dengan warna yang indah. Beda dengan ulat dan kepompong itu sendiri yang kelihatan menjijikkan bagi sebagian orang.

Maka, pasca Ramadhan terlahir jutaan umat Islam yang semakin meningkat ketakwaannya kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ, sesuai firman-Nya,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183).

Takwa bukan ditandai dengan hidangan mewah. Bukan pula dengan baju baru dan kendaraan baru. Tapi, takwa bermakna melindungi diri dari murka dan azab Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Caranya dengan menjalankan perintah Allah Subhânahu wa Ta’âlâ dan menjauhi segala larangan-Nya. Itulah pengertian takwa.

Pertanyaannya adalah, apakah kita benar-benar telah menjadi orang yang bertakwa? Untuk mengetahuinya, mari kita lihat bagaimana sikap dan ketaatan kita terhadap berbagai perintah dan larangan Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Misalnya, ketika Allah Subhânahu wa Ta’âlâ memerintahkan kita berpuasa, kita telah mampu menaati dan mengamalkan kewajiban tersebut. Selanjutnya, bagaimana sikap dan ketaatan kita terhadap perintah Allah Subhânahu wa Ta’âlâ yang lain? Seperti dalam firman-Nya,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِى الْقَتْلٰىۗ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh,..” (QS. Al-Baqarah [2]: 178).

Bagaimana sikap kita terhadap hal itu? Apakah kita siap untuk menaatinya? Atau, justru mengabaikannya dan tidak peduli terhadap kewajiban tersebut? Padahal hikmah dari diwajibkannya menjalankan qishash tersebut juga sama dengan pengamalan puasa, yaitu agar kita menjadi orang yang bertakwa.

وَلَكُمْ فِى الْقِصَاصِ حَيٰوةٌ يّٰٓــاُولِى الْاَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

“Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 179).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Saat ini, kita menyaksikan masih banyak perintah Allah Subhânahu wa Ta’âlâ yang belum diamalkan dan berbagai larangan Allah yang masih dilanggar, terutama syariah Islam yang berkaitan dengan pengaturan kehidupan bermasyarakat dan bernegara, baik dalam bidang pemerintahan, ekonomi, sosial, hukum pidana, pendidikan, politik luar negeri dan lain sebagainya.

Belum diamalkannya syariah Islam secara kaffah dalam kehidupan kita inilah yang menyebabkan kehidupan kaum muslimin saat ini terpuruk, terjajah, hancur dan tertindas. Palestina teraniaya. Iran diserang. Penguasa Muslim malah berwala’ atau memberikan loyalitasnya kepada penjajah, Amerika dan Israel.

Di tengah-tengah kita, kehidupan masyarakat masih berat. Kekayaan alam milik rakyat malah diserahkan kepada para konglomerat. Pergaulan muda-mudi makin rusak. Korupsi kian merajalela, kerusakan lingkungan yang semakin parah, dan sebagainya.

Sadarlah, pangkal keterpurukan ini adalah karena umat Islam telah banyak menyimpang dari aturan Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Keadaan itu telah diterangkan oleh Allah Subhânahu wa Ta’âlâ,

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى

“Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkan dia pada Hari Kiamat nanti dalam keadaan buta.” (QS. Thâhâ [20]: 124)

Menurut Imam Ibnu Katsir makna “berpaling dari peringatan-Ku” (وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ) adalah;

أَيْ: خَالَفَ أَمْرِيْ، وَمَا أَنْزَلْتُهُ عَلَى رَسُولِيْ، أَعْرَضَ عَنْهُ وَتَنَاسَاهُ وَأَخَذَ مِنْ غَيْرِهِ هُدَاهُ

“Menyalahi perintah-Ku dan apa yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku, melupakannya dan mengambil petunjuk dari selainnya.” (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, V/323). Sedangkan penghidupan yang sempit tidak lain adalah kehidupan yang semakin miskin, sengsara, menderita, terjajah, teraniaya, tertindas dan sebagainya, sebagaimana yang kita saksikan dan rasakan sekarang ini di dunia Islam.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Berakhirnya Ramadhan, harus menjadi momentum untuk membuktikan diri, bahwa kita adalah umat yang layak dan berhak untuk disebut sebagai umat yang bertakwa di hadapan Allah Subhânahu wa Ta’âlâ, yakni yang siap tunduk secara total kepada syariat-Nya.

Dengan begitu, maka kita pantas mendapatkan pertolongan Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Karena itu, mari kita terus berikhtiar dalam perjuangan untuk mengubah keadaan dunia yang sebelumnya jauh dari aturan Islam, berubah menuju keadaan yang tunduk dan patuh pada aturan Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Inilah perubahan menuju diterapkannya syariah Islam secara kaffah. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةًۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 208).

Perubahan itu harus diupayakan sendiri oleh umat Islam, semuanya. Apakah Anda rakyat, birokrat, dan juga pejabat. Semua wajib mewujudkan takwa yang hakiki. Tidak boleh diam dan acuh tak acuh terhadap perubahan ke arah tegaknya Islam. Ingat, perubahan itu bersifat aktif. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman;

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’du [13]: 11).

Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita sehingga kita terus berjuang mewujudkan ketakwaan secara nyata. Aamiin.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan dalam khutbah Jum’at pada kesempatan kali ini. Ketahuilah bahwa segala kesempurnaan hanya milik Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ. Apa pun yang benar dari apa yang saya sampaikan adalah semata-mata berkat petunjuk-Nya melalui Rasul-Nya, maka marilah kita berpegang teguh kepadanya.

Sebagai penutup, mari kita akhiri khutbah ini dengan berdoa bersama. Semoga kita semua senantiasa dianugerahi kesehatan lahir dan batin, serta keberkahan dunia dan akhirat. Semoga Allah memberi kita hidayah, inayah, dan kekuatan, sehingga kita dapat menjadi bagian dari para dai yang selalu bersungguh-sungguh menegakkan syariat Islam secara kaffah, meneladani Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam hingga akhir hayat dalam keadaan husnul khâtimah. Âmîn yâ Rabbal-‘âlamîn.[]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ وَصَلِيْبِيِّيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ. اَللّٰهُمَّ نَجِّ إِخْوَانَنَا الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فَلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ عَلَى أَعْدَائِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَ اجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ بِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia
UMAT TERPECAH, MUSUH DATANG DARI SEGALA ARAH

UMAT TERPECAH, MUSUH DATANG DARI SEGALA ARAH

UMAT TERPECAH, MUSUH DATANG DARI SEGALA ARAH

UMAT TERPECAH,

MUSUH DATANG DARI SEGALA ARAH

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى اَوْلِيَاۤءَۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ ۝٥١ (اَلْمَائِدَةُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Sebagai penyempurna rukun khutbah, saya selaku khatib tidak bosan-bosannya mengingatkan diri saya pribadi dan seluruh jamaah untuk selalu mengokohkan iman serta meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam:

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman:

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

“Dan berbekallah kalian, dan sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal” (QS. Al-Baqarah [2]: 197).

Allah juga berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102).

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Di tengah kekhusyukan Ramadhan, dunia kembali diguncang kabar duka dari negeri-negeri Muslim. Pada akhir Februari, Amerika Serikat bersama Zionis Israel melancarkan operasi militer ke Iran yang dinamakan “Operation Lion’s Roar” dan “Operation Epic Fury.” Serangan udara di Teheran menghancurkan sejumlah bangunan dan menewaskan warga sipil, termasuk ratusan anak-anak sekolah dasar. Dalam serangan itu, pemimpin spiritual Iran, Ayatullah Ali Khamenei, juga dilaporkan tewas.

Pada saat yang sama, Israel juga melancarkan serangan ke Beirut, Libanon, bahkan menggunakan bom fosfor putih yang terlarang. Hampir 400 penduduk, termasuk anak-anak, meninggal dunia dan lebih dari seribu lainnya menjadi korban. Peristiwa ini menjadi renungan bagi kita: ketika kita beribadah dengan tenang di bulan Ramadhan, ada saudara-saudara kita yang masih hidup dalam penderitaan dan peperangan.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Peristiwa serangan militer Amerika Serikat bersama Zionis Israel ke Iran memberikan sejumlah pelajaran penting bagi kaum Muslim.

Pertama, serangan ini menunjukkan upaya AS untuk terus mengokohkan hegemoni mereka di Timur Tengah, terutama dalam melindungi anak tirinya, Zionis Israel. Iran dituduh mengembangkan senjata nuklir sehingga dianggap sebagai ancaman bagi Israel.

Kedua, AS ingin menegaskan dominasi kepemilikan senjata nuklir di dunia. Mereka gencar mengkampanyekan pembatasan senjata nuklir atas nama perdamaian, padahal kenyataannya AS sendiri memiliki sekitar 3.700 rudal dan pangkalan nuklir dari total 12.241 hulu ledak nuklir global, sementara Israel diperkirakan memiliki sekitar 90 hulu ledak nuklir dan persediaan plutonium yang cukup untuk memproduksi ratusan senjata nuklir.

Ketiga, operasi militer ini juga menjadi tekanan politik terhadap Iran agar tetap berada dalam orbit kepentingan Amerika di Timur Tengah. Meski sering tampak berseberangan, selama bertahun-tahun Iran kerap terlibat dalam konfigurasi politik kawasan yang juga menguntungkan agenda AS. Karena itu, alasan ancaman nuklir Iran seringkali dipandang mengada-ada, apalagi sejak perjanjian tahun 2015 yang mengizinkan Iran melakukan pengayaan nuklir hingga batas tertentu. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa sekutu sejati AS hanyalah Zionis Israel. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ telah memperingatkan dalam firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى اَوْلِيَاۤءَۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ

” Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(-mu). Sebagian mereka menjadi teman setia bagi sebagian yang lain. Siapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS al-Mâidah [5]: 51).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Peristiwa serangan Amerika Serikat dan Israel ini seharusnya menjadi pelajaran penting bagi kaum Muslim tentang kondisi umat saat ini. Umat yang jumlahnya lebih dari dua miliar jiwa ternyata tetap rapuh dan tidak memiliki pelindung yang mampu menjaga negeri-negeri Muslim dari agresi negara-negara Barat. Satu per satu negeri Muslim dihancurkan tanpa perlindungan yang nyata. Keadaan ini telah diperingatkan oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam:

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ، فَقَالَ قَائِلٌ : وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ ؟ قَالَ : بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ ، فَقَالَ قَائِلٌ : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ ؟ قَالَ : حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Hampir saja bangsa-bangsa (kafir) saling mengajak untuk memerangi kalian, sebagaimana orang-orang yang akan makan saling mengajak menuju piring besar mereka.” Seorang Sahabat bertanya, “Apakah disebabkan dari sedikitnya kita pada hari itu?” Beliau menjawab, “Tidak. Bahkan pada hari itu kalian banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan. Allah menghilangkan rasa gentar dari dada musuh terhadap kalian. Allah menimpakan wahn di dalam hati kalian.” Seorang Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud).

Penyakit inilah yang banyak menjangkiti para penguasa negeri-negeri Muslim sehingga mereka justru bersekutu dengan musuh umat. Padahal Allah Subhânahu wa Ta’âlâ telah memperingatkan:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوْا بِطَانَةً مِّنْ دُوْنِكُمْ لَا يَأْلُوْنَكُمْ خَبَالًا

” Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil teman kepercayaan dari orang-orang di luar kalangan (agama)-mu (karena) mereka tidak henti-hentinya (mendatangkan) kemudaratan bagimu.” (QS. Âli ’Imrân [3]: 118).

Serangan ini juga menunjukkan bahwa berbagai janji perdamaian seperti Board of Peace hanyalah ilusi, sebab yang dijaga hanyalah kepentingan Israel dan Amerika. Karena itu umat tidak boleh berharap kepada pihak luar Islam, tetapi harus kembali kepada persatuan umat dan saling melindungi sebagaimana sabda Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

”Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Dia tidak menzalimi dan tidak membiarkan saudaranya dianiaya orang lain. Siapa saja yang memenuhi hajat saudaranya, Allah akan memenuhi hajatnya. Siapa saja yang melapangkan kesusahan seorang Muslim, Allah akan melapangkan kesukarannya pada Hari Kiamat. Siapa saja yang menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya pada Hari Kiamat” (HR. Muttafaq ‘alayh).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Jika kita merenungkan keadaan umat hari ini, jelas bahwa kekuatan sejati umat Islam terletak pada persatuan. Dengan jumlah lebih dari dua miliar jiwa dan wilayah yang membentang di titik-titik strategis dunia—seperti Selat Hormuz, Terusan Suez, dan Selat Malaka—persatuan umat Muslim akan melahirkan kekuatan militer dan pengaruh geopolitik yang sangat besar, bahkan mampu menandingi negara-negara besar.

Namun persatuan semacam ini tidak mungkin terwujud tanpa tegaknya Khilafah Islamiyah, yaitu institusi yang menyatukan seluruh wilayah kaum Muslim. Sejarah membuktikan bagaimana para khalifah mampu melindungi umat, seperti Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq yang menumpas gerakan kemurtadan dan ancaman Romawi, serta Khalifah Harun ar-Rasyid yang menjaga kehormatan kaum Muslim dari ancaman Raja Nikephoros I dari Romawi.

Karena itu, wahai kaum Muslim, sudah seharusnya kita menyadari bahwa solusi atas berbagai serangan terhadap umat bukanlah bergantung kepada kekuatan dunia luar, tetapi pada persatuan umat di bawah kepemimpinan Islam yang satu. Tanpa persatuan dan kepemimpinan yang menyatukan kaum Muslim, negeri-negeri Islam akan terus terpecah dan lemah di hadapan kekuatan besar dunia. Maka pertanyaannya, apakah kita masih akan berdiam diri, sementara solusi yang jelas telah ada—yaitu bersatu dalam ukhuwah Islamiyah dan berusaha menegakkan kembali kepemimpinan Islam yang menyatukan umat? WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan dalam khutbah Jum’at pada kesempatan kali ini. Ketahuilah bahwa segala kesempurnaan hanya milik Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ. Apa pun yang benar dari apa yang saya sampaikan adalah semata-mata berkat petunjuk-Nya melalui Rasul-Nya, maka marilah kita berpegang teguh kepadanya.

Sebagai penutup, mari kita akhiri khutbah ini dengan berdoa bersama. Semoga kita semua senantiasa dianugerahi kesehatan lahir dan batin, serta keberkahan dunia dan akhirat. Semoga Allah memberi kita hidayah, inayah, dan kekuatan, sehingga kita dapat menjadi bagian dari para dai yang selalu bersungguh-sungguh menegakkan syariat Islam secara kaffah, meneladani Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam hingga akhir hayat dalam keadaan husnul khâtimah. Âmîn yâ Rabbal-‘âlamîn.[]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ وَصَلِيْبِيِّيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ. اَللّٰهُمَّ نَجِّ إِخْوَانَنَا الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فَلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ عَلَى أَعْدَائِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَ اجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ بِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia

UPDATE INFORMASI TERBARU