MEWUJUDKAN
IZZUL ISLAM WAL MUSLIMIN
KHUTBAH PERTAMA
اللّٰهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
النَّبِيِّ
الْأُمِّيِّ،
الصَّادِقِ
الْأَمِيْنِ،
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
حَسُنَ
إِسْلَامُهُمْ.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
أُوْصِيْ نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ، فَقَدْ
فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
اِنَّمَا
الْمُؤْمِنُوْنَ
اِخْوَةٌ
فَاَصْلِحُوْا
بَيْنَ
اَخَوَيْكُمْ
وَاتَّقُوا
اللّٰهَ
لَعَلَّكُمْ
تُرْحَمُوْنَࣖ ١٠ (اَلْحُجُرَاتُ)
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia,
hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah
dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa
tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad Shallallâhu ‘alaihi
wasallam.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita
kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Ingatlah, ketakwaan
menentukan derajat dan kedudukan kita di hadapan Allah, sebagaimana firman-Nya;
اِنَّ
اَكْرَمَكُمْ
عِنْدَ
اللّٰهِ
اَتْقٰىكُمْ
“Sesungguhnya
yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling
bertakwa” (QS. Al-Hujurât [49]: 13).
Allah juga
berfirman:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali
dalam keadaan muslim.”
(QS. Âli
Imrân
[3]: 102).
Sungguh takwa adalah
benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh,
hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Kondisi dunia Islam hari ini
tidak sedang baik-baik saja. Tengoklah betapa banyak kaum
Muslim di dunia saat ini. Jumlahnya hampir dua miliar manusia. Tapi pertanyaannya, mengapa banyak kaum Muslim di berbagai belahan dunia tertindas? Warga Gaza berjuang sendirian dan terus dijajah oleh Zionis Yahudi laknatullah dan didukung oleh negara kafir penjajah.
Darah kaum Muslim terus tertumpah di Myanmar, Xinjiang,
Kashmir hingga Sudan. Iran dibombardir oleh Amerika Serikat dan Zionis Yahudi
yang haus darah.
Pernahkah kita merenungkan sejenak: mengapa dunia Islam
seperti ini? Jawabnya adalah karena umat Islam saat ini tercerai-berai.
Terpecah-belah. Terpisah-pisah. Oleh batas-batas semu yang sengaja dibuat oleh
bangsa-bangsa kafir penjajah. Kita dipisahkan oleh negara-bangsa (nation-state)
dan nasionalisme sempit, yang sengaja diciptakan oleh negara-negara kafir
imperialis yang licik. Akibatnya, ketika satu negeri Muslim diserang, negeri
Muslim lainnya tidak mampu membela sebagai satu kekuatan. Padahal Allah Subhanahu
wata’ala telah menegaskan:
اِنَّمَا
الْمُؤْمِنُوْنَ
اِخْوَةٌ
”Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara” (QS.
al-Hujurât [49]: 10).
Persaudaraan dalam Islam tentu bukan sekadar ada di
kata-kata. Ia adalah ikatan akidah yang melampaui ras, bangsa dan batas negara.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Mengapa semua ini terjadi? Ini bukan karena kita
jumlahnya sedikit. Tidak sama sekali! Hanya saja, kita sungguh tak berdaya.
Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan keadaan ini
jauh sebelumnya:
يُوْشِكُ
الْأُمَمُ
أَنْ
تَدَاعَى
عَلَيْكُمْ
كَمَا
تَدَاعَى
الْأَكَلَةُ
إِلَى
قَصْعَتِهَا
“Hampir saja
bangsa-bangsa mengeroyok kalian sebagaimana orang-orang yang lapar berebut
hidangan makanan.” Para Sahabat bertanya, “Apakah karena saat itu kami berjumlah
sedikit?” Beliau menjawab, “Tidak. Bahkan saat itu kalian berjumlah banyak.
Akan tetapi, kalian seperti buih di lautan.” (HR. Abu Dawud).
Rasulullah SAW lalu menjelaskan akar penyebab
ketidakberdayaan ini. Itulah penyakit “al-Wahn” yang telah lama menjangkiti
umat ini. Al-Wahn memiliki arti:
حُبُّ
الدُّنْيَا
وَكَرَاهِيَةُ
الْمَوْتِ
“Cinta dunia dan takut mati” (HR. Abu
Dawud).
Ketika cinta dunia merasuk ke dalam jiwa, manusia mudah
tunduk kepada sesama manusia. Ketika cinta dunia masuk ke dalam hati-sanubari,
sebagian penguasa Muslim begitu mudah bersekutu dengan Amerika dan Zionis
Yahudi. Padahal Allah Subhanahu wata’ala telah memperingatkan sejak dini:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوْا
لَا تَتَّخِذُوا
الْيَهُوْدَ
وَالنَّصٰرٰٓى
اَوْلِيَاۤءَۘ
”Wahai orang-orang
yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman
setia(-mu)” (QS. al-Mâidah [5]: 51).
Karena itu, kaum Muslim tentu tidak selayaknya
menggantungkan harapan kepada lembaga-lembaga kafir internasional dan kekuatan
Kapitalisme global. Termasuk kepada lembaga-lembaga ilegal, seperti Board
of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian, yang jelas-jelas tak akan
berlaku adil. Apalagi BoP ini dipimpin oleh Donald Trump, seorang penjahat
internasional. Presiden dari sebuah negara imperialis global.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Ingat, umat Islam pernah memiliki sejarah yang
membanggakan. Saat itu kita memimpin dunia dengan penuh keadilan. Kapan itu?
Saat kaum Muslim sedunia memiliki kepemimpinan global yang menyatukan. Itulah
khilafah Islam. Tak ada negara musuh yang berani menyakiti umat ini. Saat itu,
darah kaum Muslim terpelihara. Tanah dan harta mereka benar-benar terjaga.
Kehormatan mereka pun tak ada yang berani menista.
Saat Khilafah masih berjaya, ia sanggup mengerahkan
ribuan tentaranya. Hanya untuk membela kehormatan seorang Muslimah. Itu terjadi
di era Khalifah al-Mu’tashim Billah. Saat itu Muslimah tersebut ditawan dan
dilecehkan oleh tentara Romawi di Amuriyah. Berita itu pun sampai ke telinga
sang Khalifah. Tanpa basa-basi, juga tanpa diplomasi, Khalifah al-Mu’tashim
Billah segera mengerahkan pasukan dalam jumlah besar untuk menyerbu Amuriyah.
Akhirnya, Muslimah itu berhasil dibebaskan. Bahkan wilayah yang dikuasai Romawi
itu pun sekaligus berhasil ditaklukkan. Tak kurang dari 30 ribu pasukan Romawi
tewas bergelimpangan. Sebanyak 30 ribu lainnya berhasil ditawan.(Ath-Thabari,
Taariikh al-Umam wa al-Muluuk, 8/631–634; Ibnu Katsir, Al-Bidaayah wa
an-Nihaayah, 10/325).
Pertanyaannya, adakah pemimpin yang seperti itu sekarang?
Sudah berapa kaum Muslim yang syahid? Lihatlah, saat ada genosida di Gaza, para
pemimpin dunia Islam hanya menonton dan menghitung jumlah korban. Diam seribu
bahasa. Tanpa merasa berdosa.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Itulah mengapa, kaum Muslim seluruh dunia harus bersatu,
jika ingin kembali berjaya. Umat ini akan kuat jika kita kembali pada ajaran
Islam secara sempurna. Yakni, menerapkan al-Quran sebagai pedoman hidup di
segala arena dan menjadikan Sunnah Nabi dijadikan petunjuk jalan kehidupan
dunia.
Sesungguhnya inilah yang Allah Subhanahu wata’ala kehendaki.
Sebagaimana yang telah dinyatakan dalam Kitab Suci:
وَاعْتَصِمُوْا
بِحَبْلِ
اللَّهِ
جَمِيْعًا
وَلَا
تَفَرَّقُوْا
"Berpeganglah
kalian semua pada tali (agama) Allah dan jangan bercerai-berai” (QS. Âli ’Imrân [3]: 103).
Tanpa persatuan dan kepemimpinan yang satu secara global,
umat Islam hanyalah kumpulan manusia yang lemah dan tak berdaya. Apalagi jika
harus berhadapan dengan kekuatan adidaya Amerika. Tanpa kepemimpinan Islam
level dunia, potensi kekuatan besar umat Islam yang luar biasa tak akan pernah
bisa berubah menjadi kekuatan adidaya.
Selain itu, yang patuh disadari, khilafah adalah tuntutan
dan kewajiban umat Islam sedunia. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam
telah sangat jelas bersabda:
مَنْ
مَاتَ
وَلَيْسَ فِي
عُنُقِهِ
بَيْعَةٌ
مَاتَ
مِيْتَةً
جَاهِلِيَّةً
”Siapa saja yang mati, sedangkan di lehernya tidak ada baiat (kepada
seorang khalifah), maka ia mati seperti mati jahiliyah” (HR. Muslim).
Tentu kita tak mau mati seperti itu. Maka, mengembalikan
kepemimpinan umat ada jalan yang harus kita lalui. Tinggalkan perbedaan.
Sungguh banyak persamaan yang bisa kita satukan, demi izzul Islam wal muslimin.
Semoga Allah mengabulkan. Aamiin.
Demikianlah yang
dapat saya. Sebagai penutup, mari kita akhiri khutbah ini dengan berdoa
bersama. Semoga kita semua senantiasa dianugerahi kesehatan lahir dan batin,
serta keberkahan dunia dan akhirat. Semoga Allah memberi kita hidayah, inayah,
dan kekuatan, sehingga kita dapat menjadi bagian dari para dai yang selalu
bersungguh-sungguh menegakkan syariat Islam secara kaffah, meneladani Nabi
Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam hingga akhir hayat dalam keadaan husnul khâtimah.
Âmîn yâ Rabbal-‘âlamîn.[]
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ،
وَتَقَبَّلَ
مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلَاوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ
الْعَظِيْمَ
لِيْ
وَلَكُمْ،
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ
عَلَى
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَامْتِنَانِهِ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلٰهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أنَّ
سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى رِضْوَانِهِ.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا
اللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا
نَهَى،
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَنَّى
بِمَلَائِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ، وَعَلَى
أَنْبِيَائِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلَائِكَتِكَ
الْمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَالتَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
الْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللّٰهُمَّ
أَعِزَّ
الْإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ عِبَادَكَ
الْمُوَحِّدِيْنَ،
وَانْصُرْ مَنْ
نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
الْمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَأَعْلِ
كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ
يَا
مُنْـزِلَ
الْكِتَابِ
وَهَازِمَ
الْأَحْزَابِ،
اِهْزِمِ
الْيَهُوْدَ
وَأَعْوَانَهُمْ،
وَالصَّلِيْبِيِّيْنَ
وَأَنْصَارَهُمْ،
وَالرَّأْسُمَالِيِّيْنَ
وَإِخْوَانَهُمْ،
وَالْاِشْتِرَاكِيِّيْنَ
وَالشُّيُوْعِيِّيْنَ
وَأَشْيَاعَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ
نَجِّ
إِخْوَانَنَا
الْمُؤْمِنِيْنَ
الْمُسْتَضْعَفِيْنَ
فِي
فَلَسْطِيْنَ
وَفِي كُلِّ
مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ
انْصُرْ
إخْوَانَنَا
الْمُجَاهِدِيْنَ
فِي
سَبِيْلِكَ
عَلَى
أَعْدَائِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ
بِهَا
الْإِسْلَامَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ
بِهَا
الْكُفْرَ
وَاَهْلَهُ،
وَاجْعَلْنَا
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
لِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ يَا
أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَالْبَلاَءَ
وَالْوَبَاءَ
وَالزَّلَازِلَ
وَالْمِحَنَ،
وَسُوْءَ
الْفِتَنِ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا
خَاصَّةً
وَسَائِرِ بُلْدَانِ
الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً يَا
رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِى الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَا
وَإنْ لَمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالْإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشآءِ
وَالْمُنْكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
الْعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ.