Seruan Masjid

Khadimul Ummah wa Du'at

HAJI, PERSATUAN UMAT, DAN KEJAYAAN ISLAM

HAJI, PERSATUAN UMAT, DAN KEJAYAAN ISLAM

HAJI, PERSATUAN UMAT, DAN KEJAYAAN ISLAM

HAJI, PERSATUAN UMAT, DAN KEJAYAAN ISLAM

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَࣖ ۝١٠ (اَلْحُجُرَاتُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamîn, segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِه وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Sekarang kita berada di bulan suci Dzulhijjah 1447 Hijriyah. Kaum Muslim dari berbagai penjuru dunia sesaat lagi akan melaksanakan puncak ibadah haji, dengan wukuf di Arafah pada 9 Dzulhijjah mendatang.

Ibadah haji mengandung makna mendalam tentang ketaatan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wata’ala. Seluruh rangkaian ibadah haji mengajarkan bahwa seorang Muslim harus tunduk sepenuhnya pada perintah Allah Subhanahu wata’ala.

Kisah Nabi Ibrahim ’alaihissalam, Siti Hajar, dan Nabi Ismail ’alaihissalam menjadi fondasi spiritual ibadah haji yang menunjukkan puncak ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Nabi Ibrahim ’alaihissalam rela meninggalkan keluarganya di padang tandus Makkah. Ia bahkan bersedia mengorbankan putranya karena ketaatan pada perintah Allah Subhanahu wata’ala. Dari sinilah ibadah haji  mengajarkan bahwa keimanan sejati menuntut kepasrahan total pada kehendak Ilahi. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَاَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلّٰهِ

”Sempurnakanlah oleh kalian ibadah haji dan umrah semata-mata karena Allah” (QS. al-Baqarah [2]: 196).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Selain simbol ketaatan, Ibadah haji juga merupakan simbol pengorbanan. Seorang Muslim yang berhaji harus mengorbankan harta, tenaga, waktu dan kenyamanan demi memenuhi panggilan Allah Subhanahu wata’ala. Pakaian ihram yang sederhana mengajarkan pelepasan atribut duniawi seperti status sosial, kekayaan dan kebanggaan diri. Semua jamaah tampil setara di hadapan Allah Subhanahu wata’ala. Nilai pengorbanan ini juga mengingatkan manusia bahwa kehidupan dunia tidak boleh menjadikan seseorang sombong dan lalai dari tujuan akhirat. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:

 مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

”Siapa saja yang menunaikan ibadah haji semata-mata ikhlas karena Allah, lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari dilahirkan oleh ibunya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa haji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga proses penyucian jiwa melalui pengorbanan dan keikhlasan.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Ibadah haji juga menjadi simbol persatuan umat Islam sedunia. Jutaan Muslim dari berbagai negara, dengan ragam bahasa dan warna kulit, berkumpul di Masjidil Haram dengan tujuan yang sama, yaitu beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Dengan demikian ibadah haji juga harus dipahami sebagai melting point (titik lebur) kaum Muslim dari berbagai penjuru dunia. Mereka melebur menjadi satu tanpa lagi melihat suku bangsa, warna kulit, bahasa serta status ekonomi dan sosialnya. Semua menghamba hanya pada Rabb Yang Satu, Allah Subhanahu wata’ala.

Mereka menghadap kiblat yang sama. Mereka mengenakan pakaian ihram yang sama. Mereka melaksanakan ritual yang sama. Tanpa membedakan status sosial maupun kebangsaan. 

Momentum ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama persaudaraan yang menyatukan umat Muslim di seluruh dunia di atas dasar tauhid. Dalam hal ini, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

”Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara. Sebab itu, damaikanlah di antara sesama saudara kalian itu, dan takutlah kepada Allah, supaya kalian mendapat rahmat.” (QS. al-Hujurât [49]: 10).

Dengan demikian spirit ketaatan, pengorbanan, dan persatuan yang terkandung dalam ibadah haji seharusnya tidak berhenti pada dimensi ritual individual semata. Ia seharusnya juga melahirkan kesadaran kolektif umat Islam dalam aspek sosial, politik dan peradaban. Momentum ini menunjukkan bahwa Islam adalah fondasi persatuan Muslim seluruh dunia yang melampaui batas etnis maupun nasionalisme sempit.

Marshall Hodgson dalam The Venture of Islam menjelaskan bahwa salah satu kekuatan utama peradaban Islam klasik adalah kesadaran kolektif umat sebagai satu komunitas global (ummah), yang terhubung oleh akidah, hukum dan budaya intelektual yang sama. Kekuatan utama peradaban Islam yang menyatukan negeri-negeri Muslim itulah Khilafah Islamiyah.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

        Sayang, kenyataan hari ini menunjukkan hal yang sebaliknya. Persatuan umat Islam belum jadi kenyataan. Umat terpecah belah. Derita umat terus berkepanjangan.

Karena itu ibadah haji seharusnya menjadi titik tolak persatuan itu. Dengan jumlah populasi lebih dari dua miliar jiwa, umat Islam sesungguhnya merupakan salah satu kekuatan demografis terbesar di dunia. Umat ini juga hidup di tanah dengan kekayaan alam yang luar biasa dan letak geopolitik yang strategis. Jika potensi tersebut disatukan dalam satu kepemimpinan politik, maka umat Islam dapat menjadi kekuatan peradaban yang disegani dunia. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا

”Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 103).

Persatuan menjadi kuncinya. Maka, mari jaga persatuan dan ukhuwah di tengah berbagai perbedaan politik, organisasi, maupun mazhab. Ingat,  perjuangan memperbaiki kondisi negeri harus dilakukan dengan semangat persaudaraan, dakwah, pendidikan, dan kesadaran politik Islam. Hanya dengan itu benih-benih kejayaan Islam akan tumbuh dan berkembang. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia
JALAN KEBENARAN ITU HANYALAH ISLAM

JALAN KEBENARAN ITU HANYALAH ISLAM

JALAN KEBENARAN ITU HANYALAH ISLAM

JALAN KEBENARAN ITU

HANYALAH ISLAM

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَࣖ ۝٥٠ (اَلْمَائِدَةُ) 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam.

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Pesan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam;

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Sering kali manusia merasa sudah berada di jalan yang benar karena memiliki kekuasaan, dukungan, dan program yang terlihat berpihak kepada rakyat. Namun kebenaran sejati bukan diukur dari pidato dan klaim semata, melainkan dari apakah aturan dan kebijakan yang dijalankan benar-benar sesuai dengan hukum Allah Subhanahu wata’ala serta membawa keadilan bagi masyarakat. Presiden Prabowo menegaskan bahwa pemerintahannya berada di jalan yang benar, membela keadilan, memberantas kemiskinan, dan diridhai Tuhan. Akan tetapi, fakta menunjukkan bahwa negeri ini masih dikelola dengan sistem kapitalisme-sekuler, termasuk dalam praktik utang ribawi yang terus membesar.

Per akhir Maret 2026, utang Indonesia mencapai Rp.9.920,42 triliun atau sekitar 40,75% dari PDB. Pemerintah bahkan menganggarkan Rp.599,4 triliun hanya untuk membayar bunga utang. Laporan Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) menyebut utang jatuh tempo tahun 2026 mencapai Rp.833,96 triliun, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia, yang disebut sebagai “tembok utang” (debt wall). Ironisnya, besarnya utang tersebut belum mampu menurunkan angka kemiskinan secara signifikan. Menurut catatan World Bank, jumlah warga miskin Indonesia diperkirakan mencapai 57,2% dari total penduduk, sehingga Indonesia berada di urutan kedua tingkat kemiskinan tertinggi di Asia Tenggara.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Kadang sebuah negara terlihat kuat dan berdaulat di hadapan dunia, tetapi dari arah kebijakannya tampak semakin bergantung pada kekuatan asing. Hal itu pula yang kini banyak disorot dari kedekatan Indonesia dengan kepentingan Amerika Serikat melalui perjanjian dagang ART, kerja sama militer MDCP, dan keikutsertaan dalam Board of Peace (BoP). Dalam ART, Indonesia harus membebaskan bea masuk 99% produk AS, membeli produk Amerika sekitar Rp.190 triliun, serta membeli pesawat Boeing hingga Rp.557 triliun. Perjanjian ini dinilai lebih menguntungkan AS dan berpotensi mengganggu kedaulatan Indonesia.

Sikap Indonesia terhadap Palestina juga makin dipertanyakan. Presiden Prabowo menyatakan pengakuan Palestina harus disertai jaminan keamanan bagi Israel, padahal Israel terus melakukan penjajahan dan serangan ke Gaza. Indonesia juga bergabung dalam Board of Peace bentukan Donald Trump yang tidak melibatkan Palestina, serta tidak mengecam serangan AS dan Israel ke Iran maupun tewasnya empat prajurit TNI akibat serangan Israel di Lebanon. Karena itu, banyak pihak menilai kebijakan tersebut tidak menunjukkan keberpihakan yang tegas kepada umat dan rakyat tertindas.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Tidak semua yang dianggap baik oleh manusia otomatis benar di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Jabatan, kekuasaan, dukungan rakyat, bahkan pujian para ahli bukan ukuran utama kebenaran. Dalam Islam, ukuran benar dan salah tetap harus dikembalikan kepada dua syarat utama.

Pertama: seorang hamba dikatakan berada di atas kebenaran ketika mengimani Allah Subhanahu wata’ala secara haq dan menjadikan-Nya satu-satunya Pembuat hukum kehidupan. Allah Subhanahu wata’ala mengecam Ahlul Kitab karena menjadikan rahib dan pendeta mereka sebagai pembuat hukum selain Allah:

اِتَّخَذُوْٓا اَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ

”Mereka menjadikan para rahib dan para pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah” (QS. at-Taubah [9]: 31).

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam menjelaskan bahwa bentuk “menyembah” itu adalah ketika manusia mengikuti aturan yang menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Karena itu, seorang Muslim tidak boleh meninggalkan hukum Allah lalu memakai hukum buatan manusia, termasuk dalam perkara riba yang jelas diharamkan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَذَرُوْا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبٰوٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ (278) فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا فَأْذَنُوْا بِحَرْبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖۚ...

”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan tinggalkan sisa-sia riba (yang belum dipungut) jika kalian adalah kaum Mukmin. Jika kalian tidak meninggalkan sisa-sisa riba itu maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi kalian...” (QS. al-Baqarah [2]: 278-279).

Kedua: tanda seorang hamba mendapat ridha Allah Subhanahu wata’ala adalah menerima dan menjalankan seluruh aturan-Nya. Seorang penguasa dikatakan berada dalam kebenaran ketika menerapkan syariah Islam dalam mengatur negara. Allah Subhanahu wata’ala bahkan menyebut orang yang tidak berhukum dengan hukum-Nya sebagai kafir, zalim, atau fasik. (QS. al-Mâidah: 44,45,47).

Termasuk kewajiban itu adalah tidak memberi jalan bagi negara kafir untuk menguasai kaum Muslim, baik melalui utang, penguasaan sumber daya alam, maupun perjanjian yang merugikan umat. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

 وَلَنْ يَّجْعَلَ اللّٰهُ لِلْكٰفِرِيْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ سَبِيْلًا

“Allah tidak akan memberi jalan bagi orang kafir untuk menguasai kaum Mukmin.” (QS. an-Nisâ’ [4]: 141).

Karena itu, seorang penguasa Muslim wajib meyakini bahwa hanya syariah Islam yang mampu menghadirkan keberkahan dan keadilan bagi rakyat. Tidak ada aturan yang lebih baik daripada hukum Allah Subhanahu wata’ala. Firman-Nya:

اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ

”Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)? “ (QS. al-Mâidah [5]: 50). Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia
MEMBANGUN PERADABAN EMAS HANYA DENGAN PENDIDIKAN ISLAM

MEMBANGUN PERADABAN EMAS HANYA DENGAN PENDIDIKAN ISLAM

MEMBANGUN PERADABAN EMAS HANYA DENGAN PENDIDIKAN ISLAM

MEMBANGUN PERADABAN EMAS HANYA DENGAN PENDIDIKAN ISLAM

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ ۝٥٦ (اَلذَّارِيَاتُ) 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam.

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Pesan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam;

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026 seharusnya menjadi momentum harapan, namun realitas pendidikan nasional masih menyisakan kecemasan dan ironi struktural. Kebijakan efisiensi anggaran melalui Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2025 memangkas belanja negara hingga ratusan triliun rupiah dan berdampak pada sektor pendidikan, diperparah oleh program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berpotensi menekan ruang fiskal. Di sisi lain, kesejahteraan guru—terutama honorer—masih jauh dari layak, mempengaruhi kualitas pengajaran dan motivasi profesional. Data Kementerian Pendidikan juga menunjukkan masih banyak sekolah dengan infrastruktur rusak dan fasilitas terbatas, mencerminkan ketimpangan akses pendidikan yang belum terselesaikan secara sistemik.

Di tengah kondisi tersebut, arah kebijakan pendidikan tinggi yang cenderung berorientasi pada kebutuhan pasar—seperti wacana penutupan program studi yang tidak terserap industri—berisiko mereduksi esensi pendidikan sebagai pembentuk peradaban dan karakter. Visi Indonesia Emas 2045 pun terancam menjadi ilusi jika problem mendasar tidak segera diatasi, termasuk pengurangan anggaran perpustakaan yang melemahkan budaya literasi, ketimpangan distribusi guru, serta masih banyaknya ruang kelas rusak. Lebih mengkhawatirkan, meningkatnya kasus kekerasan, perundungan, dan pelecehan seksual di lingkungan pendidikan menunjukkan krisis moral yang serius. Jika dibiarkan, pendidikan akan kehilangan peran utamanya dalam membentuk manusia berilmu, berakhlak, dan bermartabat—fondasi utama bagi kemajuan bangsa.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Dengan berbagai problem pendidikan modern, Islam menawarkan paradigma yang lebih komprehensif dengan menempatkan ilmu sebagai kewajiban sekaligus jalan kemuliaan. Hal ini ditegaskan dalam hadits Nabi ﷺ:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah).

Al-Qur’an juga menegaskan kemuliaan orang berilmu:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ

”Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan di antara kalian beberapa derajat” (QS .al-Mujâdilah [58]: 11).

Lebih dari itu, tujuan pendidikan dalam Islam tidak sekadar melahirkan tenaga ahli, tetapi membentuk kepribadian Islam (syakhshiyyah islaamiyyah) yang utuh. Arah ini sejalan dengan tujuan penciptaan manusia, yakni beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

”Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku” (QS. adz-Dzâriyât [51]: 56).

Dengan demikian, pendidikan harus melahirkan manusia yang menjadikan seluruh aktivitasnya sebagai bentuk pengabdian kepada Allah.

Selain itu, Islam memuliakan guru dan mewajibkan negara mendukung pendidikan secara optimal. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا، وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

”Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, bahkan semut di lubangnya dan ikan di laut, semuanya mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia” (HR. at-Tirmidzi).

Hadits ini menunjukkan tingginya kedudukan guru. Negara pun bertanggung jawab menyediakan sistem pendidikan yang berkualitas, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

 الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

”Imam (pemimpin negara) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Sejarah membuktikan hal ini melalui lembaga seperti Baitul Hikmah yang didukung negara dan melahirkan ulama serta ilmuwan besar.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Di tengah dominasi peradaban global saat ini, Islam mengarahkan pendidikan bukan sekadar untuk transfer ilmu, tetapi juga membangun kekuatan umat agar mandiri, berpengaruh, dan terbebas dari ketergantungan ekonomi maupun teknologi. Tujuan ini ditegaskan dalam firman Allah Subhanahu wata’ala:

 وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن قُوَّةٍ

”Persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian mampu” (QS. al-Anfâl [8]: 60).

Dengan landasan yang kokoh, sistem pendidikan Islam diyakini mampu melahirkan kekuatan peradaban yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga berdaulat secara politik dan ekonomi.

Fakta sejarah membuktikan bahwa pada era Kekhalifahan Islam, umat Islam menjadi pusat inovasi dan peradaban dunia. Kontribusi ini bahkan diakui oleh para pemikir Barat seperti Montgomery Watt yang menyatakan bahwa kemajuan Eropa tidak lepas dari peran peradaban Islam, serta Jacques C. Reister yang menegaskan dominasi Islam selama berabad-abad dalam ilmu dan peradaban. Bahkan mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, dalam pidatonya (5 Juli 2009) mengakui bahwa Islam telah membawa “lentera ilmu” yang membuka jalan bagi Renaisans dan Pencerahan di Eropa. Ini menunjukkan bahwa integrasi iman, ilmu, dan kekuasaan dalam Islam mampu melahirkan peradaban unggul yang diakui dunia.

Oleh karena itu, jika Indonesia ingin mewujudkan peradaban emas sekaligus menjadi negara kuat dan berpengaruh, diperlukan perubahan mendasar dalam sistem pendidikan. Islam menawarkan paradigma yang tidak hanya membentuk individu berilmu, tetapi juga membangun kekuatan peradaban. Karena itu, penerapan sistem pendidikan Islam dalam naungan pemerintahan yang berasaskan akidah Islam—sebagaimana pada era Kekhilafahan—menjadi jalan strategis untuk melahirkan peradaban maju, mandiri, dan bermartabat. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia
SOLUSI ISLAM MENGATASI PERBURUHAN

SOLUSI ISLAM MENGATASI PERBURUHAN

SOLUSI ISLAM MENGATASI PERBURUHAN

SOLUSI ISLAM

MENGATASI PERBURUHAN

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ۝١٠٢ (آلِ عِمْرَانَ) 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam.

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Pesan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam;

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Setiap 1 Mei, Hari Buruh Internasional kembali mengingatkan pada persoalan ketenagakerjaan di Indonesia yang belum terselesaikan. Data BPS per November 2025 mencatat sekitar 7,35 juta pengangguran dengan TPT 4,74%, menunjukkan masih banyak usia produktif belum mendapat pekerjaan layak. Kondisi ini memicu tekanan mental akibat ketidakpastian ekonomi dan sempitnya lapangan kerja. Bahkan yang bekerja pun belum sejahtera, seperti guru honorer dengan gaji ratusan ribu rupiah. Di sisi lain, gelombang PHK di sektor tekstil, manufaktur, hingga start-up serta konflik upah terus memperlihatkan rapuhnya kondisi perburuhan.

Masalah ini bukan sekadar teknis, tetapi bersifat sistemik. Dalam kapitalisme, negara cenderung hanya menjadi regulator yang berpihak pada pasar, sementara buruh diposisikan sebagai faktor produksi yang ditekan demi keuntungan. Akibatnya, buruh bergantung penuh pada upah untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup, memicu konflik antara tuntutan upah layak dan kemampuan perusahaan. Akar persoalan terletak pada lemahnya peran negara dalam menjamin kebutuhan dasar, beban hidup yang dialihkan ke individu, serta hubungan kerja yang semata-mata bersifat ekonomi tanpa landasan keadilan.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Sebagai solusi atas problem perburuhan yang terus berulang, Islam menawarkan konsep hubungan kerja yang jelas dan berkeadilan. Dalam fikih, hubungan buruh–majikan disebut akad ijârah, yaitu ‘aqd[un] ‘alaa manfa’at[in] bi ‘iwadh[in] (akad atas manfaat/jasa dengan imbalan), sebagaimana dijelaskan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Kitab Ash-Syakhshiyyah al-Islaamiyyah Jilid II. Artinya, objek akad adalah jasa, bukan kehidupan buruh. Upah merupakan kompensasi atas manfaat yang diberikan, sehingga majikan wajib membayar sesuai kesepakatan tanpa menunda atau mengurangi hak. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَعْطُوا الْأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ

”Berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibnu Majah).

Berbeda dengan kapitalisme, Islam menempatkan negara sebagai penanggung jawab utama kesejahteraan rakyat. Rasulullah ﷺ bersabda:

الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

”Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan bertanggung jawab atas pengurusan mereka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Karena itu, negara wajib menjamin kebutuhan pokok serta menyediakan layanan publik yang layak, sehingga beban hidup tidak sepenuhnya ditanggung individu atau buruh.

Secara praktis, Islam menetapkan berbagai mekanisme untuk mengatasi pengangguran dan membuka lapangan kerja:

Pertama, ihyaa-ul mawaat (menghidupkan lahan terlantar) berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

مَنْ أَحْيَا أَرْضًا مَيْتَةً فَهِيَ لَهُ

“Siapa saja yang menghidupkan tanah mati (terlantar) maka tanah tersebut adalah miliknya” (HR. al-Bukhari), yang relevan dengan data ±7,8–12 juta hektar lahan terlantar yang dapat dioptimalkan.

Kedua, negara memberikan bantuan atau pinjaman modal usaha tanpa riba kepada rakyat, agar pelaku usaha kecil memiliki akses permodalan yang adil dan mampu membuka usaha serta menciptakan lapangan kerja.

Ketiga, pengelolaan sumber daya alam oleh negara sebagai milik umum ditujukan untuk kemakmuran rakyat, sehingga dapat membuka banyak lapangan kerja sekaligus menjadi sumber pendapatan negara.

Keempat, negara membuka akses laut seluas-luasnya bagi nelayan tanpa monopoli, serta melindungi mereka agar dapat mencari nafkah dengan aman dan optimal.

Kelima, pembangunan sektor riil berbasis kebutuhan masyarakat dilakukan agar tercipta lapangan kerja yang stabil dan tidak bergantung pada fluktuasi pasar global.

Keenam, negara berperan aktif menyelesaikan konflik ketenagakerjaan secara adil sekaligus menjamin tersedianya lapangan kerja, sehingga tidak boleh ada pengangguran yang dibiarkan. Dengan mekanisme ini, negara tidak boleh membiarkan pengangguran, tetapi wajib memastikan setiap individu yang mampu bekerja memiliki akses terhadap pekerjaan yang layak.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Islam menawarkan solusi kaaffah (menyeluruh) dalam mengatur kehidupan, termasuk persoalan ketenagakerjaan, dengan menjadikan syariah sebagai landasan utama. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَاَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ

“Hukumilah manusia berdasarkan wahyu yang telah Allah turunkan” (QS. al-Mâidah [5]: 49).

Penerapan hukum Allah akan menghadirkan keadilan hakiki, sementara berpaling darinya justru membawa kesempitan hidup, sebagaimana firman-Nya:

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا

”Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran) maka bagi dia kehidupan yang sempit...” (QS. Thâhâ [20]: 124).

Islam juga menegaskan larangan segala bentuk kezaliman, termasuk dalam hubungan kerja. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَ

“Celakalah bagi orang-orang yang curang” (QS. al-Muthaffifîn [83]: 1).

Meski ayat ini terkait kecurangan dalam jual beli, para ulama menjelaskan bahwa maknanya mencakup semua bentuk pengurangan hak, termasuk upah pekerja. As-Sa’di menyatakan bahwa siapa pun yang menuntut haknya wajib pula menunaikan hak orang lain dalam seluruh muamalah, termasuk dalam urusan upah dan pekerjaan.

Di sisi lain, Islam menegaskan peran negara sebagai pengurus utama urusan rakyat. Imam al-Mawardi dalam Al-Ahkaam as-Sulthaaniyyah menyatakan:

وَالإِمَامُ مَوْضُوعٌ لِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِي حِرَاسَةِ الدِّينِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا

”Imam (kepala negara) diangkat untuk menggantikan fungsi kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia.”

Pengaturan ini mencakup pemenuhan kebutuhan hidup rakyat, termasuk memastikan tersedianya pekerjaan dan kehidupan yang layak. Dengan demikian, penerapan syariah secara menyeluruh menjadi kunci terwujudnya keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.

Islam menawarkan solusi mendasar dan menyeluruh atas segala problem kehidupan. Termasuk masalah perburuhan. Dengan penerapan syariah Islam dalam naungan institusi pemerintahan Islam (Khilafah), masalah perburuhan akan terselesaikan dengan baik, kesejahteraan rakyat akan terjamin dan keadilan benar-benar akan terwujud. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia

UPDATE INFORMASI TERBARU