MEMBANGUN
PERADABAN EMAS HANYA DENGAN PENDIDIKAN ISLAM
KHUTBAH PERTAMA
اللّٰهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
النَّبِيِّ
الْأُمِّيِّ،
الصَّادِقِ
الْأَمِيْنِ،
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
حَسُنَ
إِسْلَامُهُمْ.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
أُوْصِيْ نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ، فَقَدْ
فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
وَمَا
خَلَقْتُ
الْجِنَّ
وَالْاِنْسَ
اِلَّا
لِيَعْبُدُوْنِ ٥٦
(اَلذَّارِيَاتُ)
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari
mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang
insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga
senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam.
Pertama dan paling
utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi
larangan-Nya. Pesan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam;
اِتَّقِ
اللهَ حَيْثُمَا
كُنْتَ، وَأَتْبِعِ
السَّيِّئَةَ
الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا،
وَخَالِقِ النَّاسَ
بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada.
Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan
menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang
baik.” (HR. Tirmidzi).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Peringatan Hari
Pendidikan Nasional 2 Mei 2026 seharusnya menjadi momentum harapan, namun
realitas pendidikan nasional masih menyisakan kecemasan dan ironi struktural.
Kebijakan efisiensi anggaran melalui Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2025
memangkas belanja negara hingga ratusan triliun rupiah dan berdampak pada
sektor pendidikan, diperparah oleh program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG)
yang berpotensi menekan ruang fiskal. Di sisi lain, kesejahteraan guru—terutama
honorer—masih jauh dari layak, mempengaruhi kualitas pengajaran dan motivasi
profesional. Data Kementerian Pendidikan juga menunjukkan masih banyak sekolah
dengan infrastruktur rusak dan fasilitas terbatas, mencerminkan ketimpangan
akses pendidikan yang belum terselesaikan secara sistemik.
Di tengah kondisi
tersebut, arah kebijakan pendidikan tinggi yang cenderung berorientasi pada
kebutuhan pasar—seperti wacana penutupan program studi yang tidak terserap
industri—berisiko mereduksi esensi pendidikan sebagai pembentuk peradaban dan
karakter. Visi Indonesia Emas 2045 pun terancam menjadi ilusi jika problem
mendasar tidak segera diatasi, termasuk pengurangan anggaran perpustakaan yang
melemahkan budaya literasi, ketimpangan distribusi guru, serta masih banyaknya
ruang kelas rusak. Lebih mengkhawatirkan, meningkatnya kasus kekerasan,
perundungan, dan pelecehan seksual di lingkungan pendidikan menunjukkan krisis
moral yang serius. Jika dibiarkan, pendidikan akan kehilangan peran utamanya
dalam membentuk manusia berilmu, berakhlak, dan bermartabat—fondasi utama bagi
kemajuan bangsa.
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Dengan berbagai
problem pendidikan modern, Islam menawarkan paradigma yang lebih komprehensif
dengan menempatkan ilmu sebagai kewajiban sekaligus jalan kemuliaan. Hal ini
ditegaskan dalam hadits Nabi ﷺ:
طَلَبُ
الْعِلْمِ
فَرِيْضَةٌ
عَلَى كُلِّ
مُسْلِمٍ
”Menuntut ilmu
itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah).
Al-Qur’an juga
menegaskan kemuliaan orang berilmu:
يَرْفَعِ
اللّٰهُ
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ
وَالَّذِيْنَ
اُوْتُوا
الْعِلْمَ
دَرَجٰتٍۗ
”Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan di antara kalian beberapa derajat” (QS .al-Mujâdilah [58]: 11).
Lebih dari itu,
tujuan pendidikan dalam Islam tidak sekadar melahirkan tenaga ahli, tetapi
membentuk kepribadian Islam (syakhshiyyah islaamiyyah) yang utuh. Arah
ini sejalan dengan tujuan penciptaan manusia, yakni beribadah kepada Allah Subhanahu
wata’ala, sebagaimana firman-Nya:
وَمَا
خَلَقْتُ
الْجِنَّ
وَالْاِنْسَ
اِلَّا
لِيَعْبُدُوْنِ
”Tidaklah Aku
menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku” (QS. adz-Dzâriyât [51]: 56).
Dengan demikian,
pendidikan harus melahirkan manusia yang menjadikan seluruh aktivitasnya
sebagai bentuk pengabdian kepada Allah.
Selain itu, Islam
memuliakan guru dan mewajibkan negara mendukung pendidikan secara optimal.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
وَأَهْلَ
السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ،
حَتَّى
النَّمْلَةَ
فِي
جُحْرِهَا،
وَحَتَّى
الْحُوتَ،
لَيُصَلُّونَ
عَلَى
مُعَلِّمِ
النَّاسِ
الْخَيْرَ
”Sesungguhnya
Allah, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, bahkan semut di lubangnya
dan ikan di laut, semuanya mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada
manusia” (HR. at-Tirmidzi).
Hadits ini
menunjukkan tingginya kedudukan guru. Negara pun bertanggung jawab menyediakan
sistem pendidikan yang berkualitas, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
الإِمَامُ
رَاعٍ وَهُوَ
مَسْؤُولٌ
عَنْ رَعِيَّتِهِ
”Imam (pemimpin
negara) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas pengurusan
rakyatnya” (HR.
al-Bukhari dan Muslim).
Sejarah
membuktikan hal ini melalui lembaga seperti Baitul Hikmah yang didukung negara
dan melahirkan ulama serta ilmuwan besar.
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Di tengah
dominasi peradaban global saat ini, Islam mengarahkan pendidikan bukan sekadar
untuk transfer ilmu, tetapi juga membangun kekuatan umat agar mandiri,
berpengaruh, dan terbebas dari ketergantungan ekonomi maupun teknologi. Tujuan
ini ditegaskan dalam firman Allah Subhanahu wata’ala:
وَأَعِدُّواْ
لَهُم مَّا ٱسۡتَطَعۡتُم
مِّن قُوَّةٍ
”Persiapkanlah
untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian mampu” (QS. al-Anfâl [8]: 60).
Dengan landasan
yang kokoh, sistem pendidikan Islam diyakini mampu melahirkan kekuatan
peradaban yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga berdaulat
secara politik dan ekonomi.
Fakta sejarah
membuktikan bahwa pada era Kekhalifahan Islam, umat Islam menjadi pusat inovasi
dan peradaban dunia. Kontribusi ini bahkan diakui oleh para pemikir Barat
seperti Montgomery Watt yang menyatakan bahwa kemajuan Eropa tidak lepas dari
peran peradaban Islam, serta Jacques C. Reister yang menegaskan dominasi Islam
selama berabad-abad dalam ilmu dan peradaban. Bahkan mantan Presiden Amerika
Serikat, Barack Obama, dalam pidatonya (5 Juli 2009) mengakui bahwa Islam telah
membawa “lentera ilmu” yang membuka jalan bagi Renaisans dan Pencerahan di
Eropa. Ini menunjukkan bahwa integrasi iman, ilmu, dan kekuasaan dalam Islam
mampu melahirkan peradaban unggul yang diakui dunia.
Oleh karena itu,
jika Indonesia ingin mewujudkan peradaban emas sekaligus menjadi negara kuat
dan berpengaruh, diperlukan perubahan mendasar dalam sistem pendidikan. Islam
menawarkan paradigma yang tidak hanya membentuk individu berilmu, tetapi juga
membangun kekuatan peradaban. Karena itu, penerapan sistem pendidikan Islam
dalam naungan pemerintahan yang berasaskan akidah Islam—sebagaimana pada era
Kekhilafahan—menjadi jalan strategis untuk melahirkan peradaban maju, mandiri,
dan bermartabat. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ،
وَتَقَبَّلَ
مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلَاوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ
الْعَظِيْمَ
لِيْ
وَلَكُمْ،
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ
عَلَى
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَامْتِنَانِهِ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلٰهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أنَّ
سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى رِضْوَانِهِ.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا
اللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا
نَهَى،
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَنَّى
بِمَلَائِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ، وَعَلَى
أَنْبِيَائِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلَائِكَتِكَ
الْمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَالتَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
الْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللّٰهُمَّ
أَعِزَّ
الْإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ مَنْ
نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
الْمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَأَعْلِ
كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ
بِهَا
الْإِسْلَامَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ
بِهَا
الْكُفْرَ
وَاَهْلَهُ،
وَاجْعَلْنَا
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
لِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ يَا
أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَالْبَلاَءَ
وَالْوَبَاءَ
وَالزَّلَازِلَ
وَالْمِحَنَ،
وَسُوْءَ
الْفِتَنِ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا
خَاصَّةً
وَسَائِرِ بُلْدَانِ
الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً يَا
رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِى الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالْإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشآءِ
وَالْمُنْكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
الْعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ.