HAJI,
PERSATUAN UMAT, DAN KEJAYAAN ISLAM
KHUTBAH PERTAMA
اللّٰهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
النَّبِيِّ
الْأُمِّيِّ،
الصَّادِقِ
الْأَمِيْنِ،
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
حَسُنَ
إِسْلَامُهُمْ.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
أُوْصِيْ نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ، فَقَدْ
فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
اِنَّمَا
الْمُؤْمِنُوْنَ
اِخْوَةٌ
فَاَصْلِحُوْا
بَيْنَ
اَخَوَيْكُمْ
وَاتَّقُوا
اللّٰهَ
لَعَلَّكُمْ
تُرْحَمُوْنَࣖ ١٠ (اَلْحُجُرَاتُ)
Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamîn, segala puji bagi
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman
dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan
salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu
‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga
akhir zaman.
Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ
dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِه
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan
sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân
[3]: 102)
Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah
kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan
selamat di dunia dan akhirat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Sekarang kita berada di bulan suci Dzulhijjah 1447
Hijriyah. Kaum Muslim dari berbagai penjuru dunia sesaat lagi akan melaksanakan
puncak ibadah haji, dengan wukuf di Arafah pada 9 Dzulhijjah mendatang.
Ibadah haji mengandung makna mendalam tentang ketaatan
seorang hamba kepada Allah Subhanahu wata’ala. Seluruh rangkaian ibadah haji
mengajarkan bahwa seorang Muslim harus tunduk sepenuhnya pada perintah Allah Subhanahu
wata’ala.
Kisah Nabi Ibrahim ’alaihissalam, Siti Hajar, dan Nabi
Ismail ’alaihissalam menjadi fondasi spiritual ibadah haji yang menunjukkan
puncak ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Nabi Ibrahim ’alaihissalam
rela meninggalkan keluarganya di padang tandus Makkah. Ia bahkan bersedia
mengorbankan putranya karena ketaatan pada perintah Allah Subhanahu wata’ala.
Dari sinilah ibadah haji mengajarkan
bahwa keimanan sejati menuntut kepasrahan total pada kehendak Ilahi. Hal ini
sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala:
وَاَتِمُّوا
الْحَجَّ
وَالْعُمْرَةَ
لِلّٰهِ
”Sempurnakanlah oleh kalian ibadah haji dan umrah semata-mata karena Allah” (QS. al-Baqarah
[2]: 196).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Selain simbol ketaatan, Ibadah haji juga merupakan simbol
pengorbanan. Seorang Muslim yang berhaji harus mengorbankan harta, tenaga,
waktu dan kenyamanan demi memenuhi panggilan Allah Subhanahu wata’ala. Pakaian
ihram yang sederhana mengajarkan pelepasan atribut duniawi seperti status
sosial, kekayaan dan kebanggaan diri. Semua jamaah tampil setara di hadapan
Allah Subhanahu wata’ala. Nilai pengorbanan ini juga mengingatkan manusia bahwa
kehidupan dunia tidak boleh menjadikan seseorang sombong dan lalai dari tujuan
akhirat. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:
مَنْ حَجَّ
لِلَّهِ
فَلَمْ
يَرْفُثْ
وَلَمْ
يَفْسُقْ،
رَجَعَ
كَيَوْمِ
وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
”Siapa saja yang menunaikan ibadah haji semata-mata ikhlas karena Allah,
lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari
dilahirkan oleh ibunya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Hadits ini menunjukkan bahwa haji bukan sekadar
perjalanan fisik, tetapi juga proses penyucian jiwa melalui pengorbanan dan
keikhlasan.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Ibadah haji juga menjadi simbol persatuan umat Islam
sedunia. Jutaan Muslim dari berbagai negara, dengan ragam bahasa dan warna
kulit, berkumpul di Masjidil Haram dengan tujuan yang sama, yaitu beribadah
kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Dengan demikian ibadah haji juga harus dipahami sebagai
melting point (titik lebur) kaum Muslim dari berbagai penjuru dunia. Mereka
melebur menjadi satu tanpa lagi melihat suku bangsa, warna kulit, bahasa serta
status ekonomi dan sosialnya. Semua menghamba hanya pada Rabb Yang Satu, Allah Subhanahu
wata’ala.
Mereka menghadap kiblat yang sama. Mereka mengenakan
pakaian ihram yang sama. Mereka melaksanakan ritual yang sama. Tanpa membedakan
status sosial maupun kebangsaan.
Momentum ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama persaudaraan yang
menyatukan umat Muslim di seluruh dunia di atas dasar tauhid. Dalam hal ini,
Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
اِنَّمَا
الْمُؤْمِنُوْنَ
اِخْوَةٌ
فَاَصْلِحُوْا
بَيْنَ
اَخَوَيْكُمْ
وَاتَّقُوا
اللّٰهَ
لَعَلَّكُمْ
تُرْحَمُوْنَ
”Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara. Sebab itu, damaikanlah di antara
sesama saudara kalian itu, dan takutlah kepada Allah, supaya kalian mendapat
rahmat.” (QS. al-Hujurât [49]: 10).
Dengan demikian spirit ketaatan, pengorbanan, dan
persatuan yang terkandung dalam ibadah haji seharusnya tidak berhenti pada
dimensi ritual individual semata. Ia seharusnya juga melahirkan kesadaran
kolektif umat Islam dalam aspek sosial, politik dan peradaban. Momentum ini
menunjukkan bahwa Islam adalah fondasi persatuan Muslim seluruh dunia yang
melampaui batas etnis maupun nasionalisme sempit.
Marshall Hodgson dalam The Venture of Islam menjelaskan
bahwa salah satu kekuatan utama peradaban Islam klasik adalah kesadaran
kolektif umat sebagai satu komunitas global (ummah), yang terhubung oleh
akidah, hukum dan budaya intelektual yang sama. Kekuatan utama peradaban Islam
yang menyatukan negeri-negeri Muslim itulah Khilafah Islamiyah.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Sayang, kenyataan hari ini
menunjukkan hal yang sebaliknya. Persatuan umat Islam belum jadi kenyataan.
Umat terpecah belah. Derita umat terus berkepanjangan.
Karena itu ibadah haji seharusnya menjadi titik tolak
persatuan itu. Dengan jumlah populasi lebih dari dua miliar jiwa, umat Islam
sesungguhnya merupakan salah satu kekuatan demografis terbesar di dunia. Umat
ini juga hidup di tanah dengan kekayaan alam yang luar biasa dan letak
geopolitik yang strategis. Jika potensi tersebut disatukan dalam satu
kepemimpinan politik, maka umat Islam dapat menjadi kekuatan peradaban yang
disegani dunia. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
وَاعْتَصِمُوْا
بِحَبْلِ
اللّٰهِ
جَمِيْعًا
وَّلَا
تَفَرَّقُوْا
”Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah
bercerai-berai” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 103).
Persatuan menjadi kuncinya. Maka, mari jaga persatuan dan
ukhuwah di tengah berbagai perbedaan politik, organisasi, maupun mazhab.
Ingat, perjuangan memperbaiki kondisi
negeri harus dilakukan dengan semangat persaudaraan, dakwah, pendidikan, dan
kesadaran politik Islam. Hanya dengan itu benih-benih kejayaan Islam akan
tumbuh dan berkembang. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ،
وَتَقَبَّلَ
مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلَاوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ
الْعَظِيْمَ
لِيْ
وَلَكُمْ،
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ
عَلَى
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَامْتِنَانِهِ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلٰهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أنَّ
سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى رِضْوَانِهِ.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا
اللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا
نَهَى،
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَنَّى
بِمَلَائِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ، وَعَلَى
أَنْبِيَائِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلَائِكَتِكَ
الْمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَالتَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
الْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللّٰهُمَّ
أَعِزَّ
الْإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ مَنْ
نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
الْمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَأَعْلِ
كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ
بِهَا
الْإِسْلَامَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ
بِهَا
الْكُفْرَ
وَاَهْلَهُ،
وَاجْعَلْنَا
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
لِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ يَا
أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَالْبَلاَءَ
وَالْوَبَاءَ
وَالزَّلَازِلَ
وَالْمِحَنَ،
وَسُوْءَ
الْفِتَنِ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا
خَاصَّةً
وَسَائِرِ بُلْدَانِ
الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً يَا
رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِى الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالْإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشآءِ
وَالْمُنْكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
الْعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ.