MENGATASI PERBURUHAN
KHUTBAH PERTAMA
اللّٰهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
النَّبِيِّ
الْأُمِّيِّ،
الصَّادِقِ
الْأَمِيْنِ،
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
حَسُنَ
إِسْلَامُهُمْ.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
أُوْصِيْ نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ، فَقَدْ
فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari
mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang
insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga
senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam.
Pertama dan paling
utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi
larangan-Nya. Pesan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam;
اِتَّقِ
اللهَ حَيْثُمَا
كُنْتَ، وَأَتْبِعِ
السَّيِّئَةَ
الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا،
وَخَالِقِ النَّاسَ
بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada.
Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan
menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang
baik.” (HR. Tirmidzi).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Setiap 1 Mei,
Hari Buruh Internasional kembali mengingatkan pada persoalan ketenagakerjaan di
Indonesia yang belum terselesaikan. Data BPS per November 2025 mencatat sekitar
7,35 juta pengangguran dengan TPT 4,74%, menunjukkan masih banyak usia
produktif belum mendapat pekerjaan layak. Kondisi ini memicu tekanan mental
akibat ketidakpastian ekonomi dan sempitnya lapangan kerja. Bahkan yang bekerja
pun belum sejahtera, seperti guru honorer dengan gaji ratusan ribu rupiah. Di
sisi lain, gelombang PHK di sektor tekstil, manufaktur, hingga start-up serta
konflik upah terus memperlihatkan rapuhnya kondisi perburuhan.
Masalah ini bukan
sekadar teknis, tetapi bersifat sistemik. Dalam kapitalisme, negara cenderung
hanya menjadi regulator yang berpihak pada pasar, sementara buruh diposisikan
sebagai faktor produksi yang ditekan demi keuntungan. Akibatnya, buruh
bergantung penuh pada upah untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup, memicu
konflik antara tuntutan upah layak dan kemampuan perusahaan. Akar persoalan
terletak pada lemahnya peran negara dalam menjamin kebutuhan dasar, beban hidup
yang dialihkan ke individu, serta hubungan kerja yang semata-mata bersifat
ekonomi tanpa landasan keadilan.
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Sebagai solusi
atas problem perburuhan yang terus berulang, Islam menawarkan konsep hubungan
kerja yang jelas dan berkeadilan. Dalam fikih, hubungan buruh–majikan disebut
akad ijârah, yaitu ‘aqd[un] ‘alaa manfa’at[in] bi ‘iwadh[in] (akad atas manfaat/jasa dengan imbalan), sebagaimana
dijelaskan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Kitab Ash-Syakhshiyyah
al-Islaamiyyah Jilid II. Artinya, objek akad adalah jasa, bukan kehidupan
buruh. Upah merupakan kompensasi atas manfaat yang diberikan, sehingga majikan
wajib membayar sesuai kesepakatan tanpa menunda atau mengurangi hak. Rasulullah
ﷺ bersabda:
أَعْطُوا
الْأَجِيرَ
أَجْرَهُ
قَبْلَ أَنْ
يَجِفَّ عَرَقُهُ
”Berikanlah upah
pekerja sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibnu Majah).
Berbeda dengan
kapitalisme, Islam menempatkan negara sebagai penanggung jawab utama
kesejahteraan rakyat. Rasulullah ﷺ bersabda:
الإِمَامُ
رَاعٍ وَهُوَ
مَسْؤُوْلٌ
عَنْ
رَعِيَّتِهِ
”Imam (kepala
negara) adalah pengurus rakyat dan bertanggung jawab atas pengurusan mereka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Karena itu,
negara wajib menjamin kebutuhan pokok serta menyediakan layanan publik yang
layak, sehingga beban hidup tidak sepenuhnya ditanggung individu atau buruh.
Secara praktis,
Islam menetapkan berbagai mekanisme untuk mengatasi pengangguran dan membuka
lapangan kerja:
Pertama, ihyaa-ul mawaat (menghidupkan lahan
terlantar) berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
مَنْ
أَحْيَا
أَرْضًا
مَيْتَةً
فَهِيَ لَهُ
“Siapa saja yang
menghidupkan tanah mati (terlantar) maka tanah tersebut adalah miliknya” (HR. al-Bukhari), yang relevan dengan data
±7,8–12 juta hektar lahan terlantar yang dapat dioptimalkan.
Kedua, negara memberikan bantuan atau pinjaman modal usaha
tanpa riba kepada rakyat, agar pelaku usaha kecil memiliki akses permodalan
yang adil dan mampu membuka usaha serta menciptakan lapangan kerja.
Ketiga, pengelolaan sumber daya alam oleh negara sebagai
milik umum ditujukan untuk kemakmuran rakyat, sehingga dapat membuka banyak
lapangan kerja sekaligus menjadi sumber pendapatan negara.
Keempat, negara membuka akses laut seluas-luasnya bagi
nelayan tanpa monopoli, serta melindungi mereka agar dapat mencari nafkah
dengan aman dan optimal.
Kelima, pembangunan sektor riil berbasis kebutuhan
masyarakat dilakukan agar tercipta lapangan kerja yang stabil dan tidak
bergantung pada fluktuasi pasar global.
Keenam, negara berperan aktif menyelesaikan konflik
ketenagakerjaan secara adil sekaligus menjamin tersedianya lapangan kerja,
sehingga tidak boleh ada pengangguran yang dibiarkan. Dengan mekanisme ini,
negara tidak boleh membiarkan pengangguran, tetapi wajib memastikan setiap
individu yang mampu bekerja memiliki akses terhadap pekerjaan yang layak.
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Islam menawarkan
solusi kaaffah (menyeluruh) dalam mengatur kehidupan, termasuk persoalan
ketenagakerjaan, dengan menjadikan syariah sebagai landasan utama. Allah Subhanahu
wata’ala berfirman:
وَاَنِ
احْكُمْ
بَيْنَهُمْ
بِمَآ
اَنْزَلَ
اللّٰهُ
“Hukumilah
manusia berdasarkan wahyu yang telah Allah turunkan” (QS. al-Mâidah [5]: 49).
Penerapan hukum
Allah akan menghadirkan keadilan hakiki, sementara berpaling darinya justru
membawa kesempitan hidup, sebagaimana firman-Nya:
وَمَنْ
اَعْرَضَ
عَنْ
ذِكْرِيْ
فَاِنَّ لَهٗ
مَعِيْشَةً
ضَنْكًا
”Siapa saja yang
berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran) maka bagi dia kehidupan yang sempit...” (QS. Thâhâ [20]: 124).
Islam juga
menegaskan larangan segala bentuk kezaliman, termasuk dalam hubungan kerja.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
وَيْلٌ
لِّلْمُطَفِّفِيْنَ
“Celakalah bagi
orang-orang yang curang”
(QS. al-Muthaffifîn [83]: 1).
Meski ayat ini
terkait kecurangan dalam jual beli, para ulama menjelaskan bahwa maknanya
mencakup semua bentuk pengurangan hak, termasuk upah pekerja. As-Sa’di
menyatakan bahwa siapa pun yang menuntut haknya wajib pula menunaikan hak orang
lain dalam seluruh muamalah, termasuk dalam urusan upah dan pekerjaan.
Di sisi lain,
Islam menegaskan peran negara sebagai pengurus utama urusan rakyat. Imam
al-Mawardi dalam Al-Ahkaam as-Sulthaaniyyah menyatakan:
وَالإِمَامُ
مَوْضُوعٌ
لِخِلَافَةِ
النُّبُوَّةِ
فِي حِرَاسَةِ
الدِّينِ
وَسِيَاسَةِ
الدُّنْيَا
”Imam (kepala
negara) diangkat untuk menggantikan fungsi kenabian dalam menjaga agama dan
mengatur urusan dunia.”
Pengaturan ini
mencakup pemenuhan kebutuhan hidup rakyat, termasuk memastikan tersedianya
pekerjaan dan kehidupan yang layak. Dengan demikian, penerapan syariah secara
menyeluruh menjadi kunci terwujudnya keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh
masyarakat.
Islam menawarkan
solusi mendasar dan menyeluruh atas segala problem kehidupan. Termasuk masalah
perburuhan. Dengan penerapan syariah Islam dalam naungan institusi pemerintahan
Islam (Khilafah), masalah perburuhan akan terselesaikan dengan baik, kesejahteraan
rakyat akan terjamin dan keadilan benar-benar akan terwujud. Wallâhu a‘lam
bish-shawâb.[]
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ،
وَتَقَبَّلَ
مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلَاوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ
الْعَظِيْمَ
لِيْ
وَلَكُمْ،
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ
عَلَى
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَامْتِنَانِهِ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلٰهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أنَّ
سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى رِضْوَانِهِ.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا
اللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا
نَهَى،
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَنَّى
بِمَلَائِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ، وَعَلَى
أَنْبِيَائِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلَائِكَتِكَ
الْمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَالتَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
الْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللّٰهُمَّ
أَعِزَّ
الْإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ مَنْ
نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
الْمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَأَعْلِ
كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ
بِهَا
الْإِسْلَامَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ
بِهَا
الْكُفْرَ
وَاَهْلَهُ،
وَاجْعَلْنَا
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
لِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ يَا
أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَالْبَلاَءَ
وَالْوَبَاءَ
وَالزَّلَازِلَ
وَالْمِحَنَ،
وَسُوْءَ
الْفِتَنِ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا
خَاصَّةً
وَسَائِرِ بُلْدَانِ
الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً يَا
رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِى الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالْإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشآءِ
وَالْمُنْكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
الْعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ.