Seruan Masjid

Khadimul Ummah wa Du'at

LGBT HARAM DAN DOSA BESAR!

LGBT HARAM DAN DOSA BESAR!

LGBT HARAM DAN DOSA BESAR!

LGBT HARAM DAN DOSA BESAR!

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:  

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ۝٥٣ (اَلزُّمَرُ) 

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Pesan Nabi Muhammad saw.;

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Akhir-akhir ini isu LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) kembali menjadi perbincangan hangat. Di banyak negara Barat, LGBT dipandang sebagai bagian dari kebebasan individu dan hak asasi manusia. Pandangan ini lahir dari paham liberalisme yang mengutamakan kebebasan manusia, sehingga ukuran benar dan salah dianggap relatif selama tidak merugikan orang lain. Akibatnya, ajaran agama sering dipandang hanya mengatur kehidupan pribadi. Cara pandang seperti ini pun dinilai telah ikut memengaruhi sebagian masyarakat di Indonesia.

Di tengah kondisi tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak Pemerintah dan DPR segera menyusun aturan pidana khusus (lex specialis) untuk menindak pelaku maupun pengkampanye gerakan LGBT. Wakil Ketua Umum MUI, KH M. Cholil Nafis, menilai belum adanya aturan khusus membuat penanganannya di daerah hanya sebatas pembinaan. Menurut beliau, sanksi yang diberikan semestinya lebih berat daripada delik perzinaan karena dinilai mengandung dua pelanggaran sekaligus, yakni perbuatan asusila dan penyimpangan dari kodrat manusia. Namun, usulan tersebut ditentang oleh 37 LSM. Dalam pernyataan tertulis pada Kamis (18 Juni 2026), Jaringan Masyarakat Sipil menilai regulasi itu berpotensi mengkriminalisasi individu berdasarkan identitas gender dan orientasi seksualnya, serta membatasi pihak-pihak yang memperjuangkan hak asasi manusia (HAM).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Perilaku LGBT sering dibenarkan atas nama hak asasi manusia (HAM). Pendukungnya menganggap orientasi seksual adalah hak pribadi yang tidak boleh diatur oleh agama atau budaya. Bahkan, sejumlah negara Barat telah melegalkan pernikahan sesama jenis. Ini menunjukkan betapa liberalisme berkedok HAM telah menggeser standar moral masyarakat menuju kebebasan manusia tanpa batas. Data Kementerian Kesehatan tahun 2022 mencatat sekitar 1.095.970 orang (0,44% penduduk) masuk kategori LGBT. Di Kota Bekasi tercatat 6.176 orang, sedangkan di Jawa Barat diperkirakan mencapai 300.198 orang.

Selain bertentangan dengan syariat Islam, perilaku LGBT juga memiliki risiko kesehatan yang tinggi. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sekitar 70–71% kasus baru HIV terjadi pada laki-laki, dengan kelompok laki-laki yang berhubungan seksual dengan sesama laki-laki (MSM) termasuk yang berisiko paling tinggi. WHO dan CDC (2024) juga menyebut hubungan seksual anal tanpa perlindungan memiliki risiko penularan HIV dan infeksi HPV yang lebih tinggi. Karena itu, larangan Islam terhadap perilaku tersebut merupakan bagian dari penjagaan terhadap agama, kehormatan, keturunan, dan kesehatan manusia.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Islam memiliki aturan yang tegas dalam menjaga kehormatan dan keturunan manusia. Karena itu, hubungan seksual sesama jenis termasuk perbuatan haram dan dosa besar. Allah Swt. mengecam perbuatan kaum Nabi Luth dalam banyak ayat, di antaranya QS. al-A'râf [7]: 80–84, QS. Hûd [11]: 77–83, QS. asy-Syu'arâ [26]: 165–166, dan QS. an-Naml [27]: 54–55. Allah Swt. berfirman:

اِنَّكُمْ لَتَأْتُوْنَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِّنْ دُوْنِ النِّسَاۤءِۗ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُوْنَ

”Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita. Bahkan kalian ini adalah kaum yang melampaui batas” (QS. al-A’râf [7]: 81).

 

 Rasulullah saw. juga bersabda:

مَنْ وَجَدْتُمُوْهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوْطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُوْلَ بِهِ

“Siapa saja di antara kalian yang mendapati orang yang melakukan perbuatan liwaath maka bunuhlah pelaku dan pasangannya” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Berdasarkan dalil-dalil tersebut, jumhur ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali sepakat bahwa homoseksual (liwâth) merupakan dosa besar, sedangkan lesbian dan penyimpangan seksual lainnya dikenai sanksi ta'zir yang ditetapkan oleh penguasa. Namun, sanksi seperti ini sulit diterapkan dalam sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Ketika banyak negara justru melegalkan LGBT atas nama HAM, Islam tetap teguh mengharamkannya demi menjaga agama, akhlak, keturunan, dan kemaslahatan manusia. Karena itu hanya dengan penerapan syariah Islam di bawah naungan sistem pemerintahan Islam (Khilafah), persoalan LGBT dapat dituntaskan mulai dari akarnya.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Sebesar apa pun dosa seseorang, pintu tobat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari barat. Karena itu, siapa pun yang pernah terjerumus dalam perilaku LGBT atau kemaksiatan lainnya, segeralah kembali kepada Allah. Allah Swt. berfirman:

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

”Katakanlah, "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. az-Zumar [39]: 53).

Allah Swt. juga berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًاۗ عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يُّكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ…

“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kalian dengan tobat yang sebenar-benarnya. Semoga Tuhan kalian mengampuni dosa-dosa kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya...” (QS. At-Tahrîm [66]: 8).

Rasulullah saw. bersabda:

كُلُّ بَنِيْ آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

“Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertobat” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Bahkan beliau juga bersabda:

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ أَحَدِكُمْ مِنْ أَحَدِكُمْ بِضَالَّتِهِ إِذَا وَجَدَهَا

“Sungguh Allah sangat bergembira atas pertobatan salah seorang di antara kalian melebihi kegembiraan salah seorang di antara kalian yang menemukan kembali barangnya yang hilang” (HR. Muslim).

Ini menunjukkan betapa luas rahmat Allah bagi hamba yang tulus kembali kepada-Nya.

Namun, jangan menunda tobat. Siapa yang terus-menerus mempertahankan kemaksiatan dan enggan kembali kepada Allah, hendaklah takut terhadap azab-Nya. Allah Swt. mengingatkan:

وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِࣖ

“Bertakwalah kalian kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah itu sangat keras hukuman-Nya” (QS. al-Baqarah [2]: 196).

Semoga Allah menerima tobat kita, menjaga diri dan keluarga kita dari segala bentuk penyimpangan, serta meneguhkan kita di atas jalan Islam hingga akhir hayat. Âmîn. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia
SOLUSI ISLAM MENGATASI PHK DAN PENGANGGURAN

SOLUSI ISLAM MENGATASI PHK DAN PENGANGGURAN

SOLUSI ISLAM MENGATASI PHK DAN PENGANGGURAN

SOLUSI ISLAM MENGATASI

PHK DAN PENGANGGURAN

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:  يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَخُوْنُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ وَتَخُوْنُوْٓا اَمٰنٰتِكُمْ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ۝٢٧ (اَلْأَنْفَالُ) 

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di bulan mulia, Muharram. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Pesan Nabi Muhammad saw.;

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Di antara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada seorang hamba adalah adanya pekerjaan yang halal untuk menafkahi keluarga. Namun hari-hari ini, tidak sedikit saudara-saudara kita yang harus menghadapi ujian kehilangan pekerjaan akibat gelombang PHK. Ujian ini bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut ketenangan rumah tangga dan masa depan keluarga.

Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa sepanjang Januari–November 2025 hampir 80 ribu pekerja terkena PHK. Sementara itu, pada Januari–Mei 2026 sudah lebih dari 23 ribu pekerja kehilangan pekerjaan di 34 provinsi, dengan Jawa Barat menjadi yang tertinggi, yakni sekitar 5.044 orang (Kompas.com, 26 Juni 2026). Padahal, jumlah pengangguran di Indonesia telah mencapai sekitar 7,24 juta orang (BPS, Mei 2026). Pemerintah memang mengklaim program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi menyerap 1,4 juta tenaga kerja dan telah membentuk Satgas Penanganan PHK serta menyiapkan berbagai langkah perlindungan bagi pekerja. Namun, upaya tersebut belum menjawab kenyataan bahwa jutaan orang masih menganggur, sehingga muncul pertanyaan: apakah kebijakan-kebijakan ini benar-benar menyelesaikan akar persoalan PHK, atau hanya meredam dampaknya untuk sementara?

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Islam mengajarkan kita untuk mencari akar persoalan, bukan sekadar mengatasi dampaknya. Maraknya PHK dan tingginya pengangguran berakar pada sistem ekonomi kapitalisme, yang menjadikan negara hanya sebagai regulator, sementara sektor-sektor strategis dikuasai pemilik modal. Akibatnya, ketika investor menutup atau memindahkan usahanya, negara tidak memiliki kendali yang cukup untuk mencegah PHK massal.

Selain itu, banyak sumber daya alam yang menjadi milik rakyat (seperti minyak, gas, batubara, nikel, emas, tembaga, timah, bauksit, hasil laut, hutan, serta kekayaan alam lainnya dalam jumlah yang luar biasa) justru dikelola pihak swasta/asing. Dampaknya, penerimaan negara dari SDA dalam APBN 2025 hanya sekitar Rp290,08 triliun, jauh di bawah penerimaan pajak yang mencapai Rp2.387,2 triliun. Akibatnya, ruang fiskal negara terbatas dan sulit membuka lapangan kerja serta menjamin kesejahteraan rakyat, sementara ketergantungan pada pajak terus meningkat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Islam bukan hanya mengajarkan kita untuk mengidentifikasi akar persoalan, tetapi juga memberikan solusi yang nyata. Dalam Islam, pemerintah adalah râ'in (pengurus rakyat), sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

"Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus" (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Karena itu, negara tidak boleh membiarkan rakyat terjerat kemiskinan, pengangguran, dan kesulitan ekonomi. Hal ini juga tampak dalam kisah seorang laki-laki yang meminta bantuan kepada Rasulullah ﷺ. Beliau tidak sekadar memberinya makanan, tetapi membantunya memiliki kapak agar dapat bekerja dan memperoleh penghasilan sendiri (HR. Abu Dawud). Hadits ini menunjukkan bahwa negara wajib membantu rakyat agar mampu bekerja, bukan membiarkan mereka hidup dalam ketergantungan. Karena itu Islam menetapkan:

Pertama, negara wajib membuka lapangan kerja seluas-luasnya melalui pembangunan industri manufaktur dan industri hilir sehingga kekayaan alam diolah menjadi produk bernilai tinggi yang mampu menyerap jutaan tenaga kerja.

Kedua, sumber daya alam yang menjadi milik umum haram diserahkan kepada swasta atau asing, berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:

المُسْلِمُوْنَ شُرَكَاءُ فِيْ ثَلَاثٍ فِي المَاءِ وَالْكَلَإِ وَالنَّارِ، وَثَمَنُهُ حَرَامٌ

”Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api. Dan harganya adalah haram” (HR. Ibnu Majah). Keuntungan pengelolaannya wajib dikembalikan untuk kemaslahatan rakyat.

Ketiga, negara wajib meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan yang bermutu agar tenaga kerja memiliki kemampuan dan daya saing yang tinggi.

Keempat, negara wajib memberikan perhatian besar pada sektor pertanian, peternakan, dan perikanan melalui dukungan sarana produksi sehingga mampu menciptakan banyak lapangan kerja.

Kelima, negara tidak boleh membiarkan kekayaan hanya beredar di kalangan orang kaya, sebagaimana firman Allah SWT:

كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةً ۢ بَيْنَ الْاَغْنِيَاۤءِ مِنْكُمْ

"Agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian" (QS. Al-Hasyr [59]: 7).

Keenam, negara wajib melarang penimbunan harta, sesuai firman Allah SWT:

وَالَّذِيْنَ يَكْنِزُوْنَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُوْنَهَا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِۙ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ اَلِيْمٍ

"Orang-orang yang menimbun emas dan perak serta tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka beritakanlah kepada mereka azab yang pedih" (QS. At-Taubah [9]: 34), agar harta terus berputar dalam kegiatan ekonomi yang produktif.

Ketujuh, bagi keluarga yang terdampak PHK, negara wajib menjamin kebutuhan pokok mereka hingga pencari nafkah kembali memperoleh pekerjaan. Dengan demikian, persoalan PHK dan pengangguran tidak cukup diselesaikan melalui satgas, bantuan sementara, atau perubahan regulasi ketenagakerjaan semata. Islam menawarkan solusi yang menyeluruh melalui penerapan syariat secara kaffah, sehingga negara benar-benar menjalankan fungsinya sebagai pengurus rakyat dan mampu mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Pada akhirnya keberhasilan sebuah sistem ekonomi bukan diukur dari tingginya angka pertumbuhan ekonomi, tetapi dari sejauh mana rakyat dapat bekerja, hidup layak, dan merasakan keadilan. Untuk mewujudkan hal itu diperlukan peran negara yang mengatur kehidupan dengan syariah Islam. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Mawardi:

 الإِمَامَةُ مَوْضُوْعَةٌ لِخِلاَفَةِ النُّبُوَّةِ فِيْ حَرَاسَةِ الدِّيْنِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا

"Imamah (Khilafah) ditetapkan sebagai pengganti tugas kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia." Karena itu, agama dan kekuasaan tidak boleh dipisahkan. Imam al-Ghazali menegaskan:

 الدِّيْنُ وَالسُّلْطَانُ تَوْأَمَانِ

"Agama (Islam) dan kekuasaan adalah dua saudara kembar."

Islam memerlukan kekuasaan agar seluruh syariahnya dapat diterapkan, sementara kekuasaan memerlukan syariah agar mampu mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ melalui berdirinya Daulah Islam di Madinah, kemudian dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin dan para khalifah sesudahnya. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia
SOLUSI ISLAM MENGATASI KRISIS ENERGI

SOLUSI ISLAM MENGATASI KRISIS ENERGI

SOLUSI ISLAM MENGATASI KRISIS ENERGI

SOLUSI ISLAM

MENGATASI KRISIS ENERGI

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:  يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ۝١٠٢ (آلِ عِمْرَانَ) 

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di bulan mulia, Muharram. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Pesan Nabi Muhammad saw.;

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Listrik adalah kebutuhan dasar rakyat yang sangat vital. Saat listrik padam berjam-jam, rumah tangga terganggu, usaha merugi, dan banyak aktivitas masyarakat terhambat. Itulah yang terjadi belakangan ini. Pada Mei lalu hampir seluruh wilayah Sumatera mengalami blackout berjam-jam, bahkan ada yang nyaris 24 jam. Setelah itu, Jawa, Madura, dan Bali juga mengalami pemadaman bergilir. PLN mengakui penyebab utamanya adalah pasokan batubara ke PLTU yang tersendat karena produsen lebih tertarik menjual ke pasar ekspor. Hingga kini belum ada kepastian kapan krisis listrik ini berakhir, sementara rakyat terus menanggung dampaknya tanpa jaminan kompensasi.

Ironisnya, krisis listrik ini terjadi di negeri yang sangat kaya batubara. Pada 2025 Indonesia memproduksi sekitar 790 juta ton batubara, tetapi PLN tetap kesulitan mendapatkan pasokan untuk pembangkit listrik. Padahal kebutuhan batubara PLN sangat besar setiap tahun, sementara stok di sejumlah PLTU bahkan sempat berada pada level yang mengkhawatirkan. Salah satu penyebab utamanya adalah harga batubara untuk kebutuhan dalam negeri hanya sekitar 70 dolar AS per ton, jauh di bawah harga pasar dunia yang mencapai 121 dolar AS per ton. Akibatnya, para pengusaha tambang lebih memilih menjual batubara ke pasar ekspor daripada memasok ke PLN. Inilah yang kemudian mengganggu pasokan batubara ke PLTU dan berujung pada krisis listrik.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Kaum muslimin rahimakumullah, krisis listrik yang terjadi hari ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan buah dari liberalisasi tambang dan kelistrikan. Sejak UU No. 11 Tahun 1967, sektor tambang dibuka lebar bagi swasta dan asing, lalu berbagai perubahan aturan makin mengokohkan dominasi mereka hingga BUMN kini hanya menguasai sekitar 5–10% sektor batubara. Liberalisasi juga masuk ke sektor listrik melalui pembangkit listrik swasta dan diperkuat oleh UU No. 30 Tahun 2009, yang membuat swasta bisa menjual listrik ke PLN dengan skema Take or Pay, sehingga PLN tetap harus membayar meski listrik belum dipakai.

Akibatnya, negara lemah mengendalikan pasokan batubara dan beban keuangan PLN makin berat, sementara oligarki yang dekat dengan kekuasaan justru diuntungkan. Inilah watak kapitalisme: kekayaan alam dan layanan vital seperti listrik dikuasai pemilik modal, sedangkan rakyat yang akhirnya menanggung akibatnya.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Kaum muslimin rahimakumullah, Islam tidak membiarkan kebutuhan vital rakyat seperti tambang dan listrik dikuasai segelintir pihak demi keuntungan. Islam menetapkan bahwa tambang dengan deposit besar serta sumber energi yang menjadi hajat hidup orang banyak termasuk kepemilikan umum (milkiyyah ‘âmmah) yang wajib dikelola negara, bukan diserahkan kepada swasta. Rasulullah saw. bersabda:

المُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ فِي المَاءِ وَالْكَلَإِ وَالنَّارِ، وَثَمَنُهُ حَرَامٌ

”Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api. Dan harganya adalah haram” (HR. Ibnu Majah).

Karena itu, tambang besar seperti batubara haram diprivatisasi, sebab hasilnya harus dikembalikan untuk kemaslahatan seluruh rakyat.

Prinsip ini juga tampak dari hadits riwayat Abu Dawud, ketika Rasulullah saw. menarik kembali pemberian tambang garam kepada Abyadh bin Hammal ra. setelah diketahui tambang itu memiliki deposit besar. Ini menunjukkan bahwa tambang besar adalah milik umum yang tidak boleh dikuasai individu. Jika dikelola negara, hasilnya akan menjadi pemasukan sangat besar bagi kas negara.

Sebagai gambaran, nilai ekspor batubara Indonesia Januari–November 2025 mencapai 22,17 miliar dolar AS atau sekitar Rp395 triliun. Dana sebesar itu bisa dipakai untuk membangun 1.300–2.000 sekolah berstandar tinggi atau hingga 500 rumah sakit grade A-B, bukan justru dinikmati segelintir korporasi.

Begitu pula sektor kelistrikan, dalam Islam ia termasuk milik umum yang wajib dikelola negara demi memenuhi kebutuhan rakyat di seluruh pelosok negeri, baik melalui PLTU, geothermal, maupun PLTN. Negara tidak boleh menjadikan layanan listrik sebagai ladang keuntungan, tetapi wajib menyediakan dengan biaya murah, bahkan gratis jika memungkinkan. Jika terjadi pemadaman akibat kelalaian negara hingga menimbulkan kerusakan dan kerugian bagi rakyat, negara wajib bertanggung jawab. Rasulullah saw. bersabda:

 الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan bertanggung jawab atas urusan rakyatnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Dari seluruh uraian ini menjadi jelas bahwa krisis listrik yang menimpa negeri ini bukanlah sekadar gangguan teknis, melainkan buah dari tata kelola yang rusak karena dibangun di atas asas kapitalisme-liberalisme. Selama tambang dan listrik diserahkan kepada kepentingan swasta dan oligarki, selama itu pula rakyat akan terus menjadi korban. Sebaliknya, Islam telah menetapkan bahwa tambang dan energi adalah milik umum yang wajib dikelola negara untuk kemaslahatan rakyat. Dengan penerapan syariah Islam secara kaffah, negara akan mampu mengurus kebutuhan listrik rakyat secara menyeluruh, dari penguasaan sumber daya hingga distribusinya, tanpa tunduk pada tekanan para pemilik modal.

Karena itu, wahai kaum muslimin, sudah saatnya kita menyadari bahwa solusi hakiki atas persoalan ini bukan sekadar ganti kebijakan atau ganti penguasa, tetapi kembali kepada hukum Allah SWT secara total dalam seluruh aspek kehidupan. Hanya dengan syariah Islam yang ditegakkan secara kaffah dalam institusi Khilafah, negeri ini akan benar-benar berdaulat, kekayaan alam terjaga untuk umat, dan rakyat terlayani dengan adil. Inilah jalan yang wajib diperjuangkan: agar kaum Muslim tidak terus-menerus hidup di bawah sistem yang melahirkan kerusakan, tetapi kembali hidup dalam naungan aturan Allah Yang Mahaadil dan Mahasempurna. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia
HIJRAH, MOMENTUM UNTUK MEMBANGUN KEMBALI PERADABAN ISLAM

HIJRAH, MOMENTUM UNTUK MEMBANGUN KEMBALI PERADABAN ISLAM

HIJRAH, MOMENTUM UNTUK MEMBANGUN KEMBALI PERADABAN ISLAM

HIJRAH, MOMENTUM UNTUK MEMBANGUN KEMBALI PERADABAN ISLAM

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:  اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَࣖ ۝٥٠ (اَلْمَائِدَةُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamîn, segala puji bagi Allah Swt. yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw., beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Swt. dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِه وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Alhamdulillah, kita kembali memasuki Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Setiap datangnya tahun baru Hijriah, umat Islam selalu mengenang peristiwa Hijrah Rasulullah saw. dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi merupakan titik balik besar dalam sejarah Islam dan umat manusia. Karena pentingnya peristiwa ini, Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. menjadikannya sebagai awal Kalender Islam. Beliau berkata;

الْهِجْرَةُ فَرَّقَتْ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ فَأَرِّخُوا بِهَا

"Hijrah telah memisahkan antara yang haq dan yang batil. Karena itu jadikanlah hijrah sebagai dasar penanggalan" (Ibnu Hajar, Fath al-Baari, 7/268).

Sebelum hijrah, kaum Muslim sudah memiliki akidah yang kuat, memahami halal dan haram, serta berkepribadian Islam. Namun, mereka belum memiliki kekuatan politik yang mampu melindungi agama dan umat sehingga masih mengalami penindasan di Makkah. Setelah hijrah ke Madinah, keadaan berubah secara besar-besaran. Islam tidak lagi hanya menjadi keyakinan spiritual, tetapi juga tampil sebagai sistem yang mengatur kehidupan masyarakat. Dari Madinah lahir masyarakat baru, negara baru, dan peradaban Islam yang kemudian berkembang menjadi kekuatan besar dunia selama berabad-abad.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Jika kita melihat sejarah Islam, hijrah Rasulullah saw. ke Madinah membawa perubahan yang sangat besar bagi umat Islam. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi menjadi awal terbentuknya masyarakat, negara, dan peradaban Islam yang kuat. Secara syar'i, hijrah bermakna meninggalkan segala yang dilarang Allah, sebagaimana sabda Rasulullah saw.,

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

”Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang telah Allah larang" (HR. al-Bukhari). Adapun dalam makna khusus, para ulama menjelaskan bahwa hijrah adalah perpindahan dari negeri kufur menuju negeri yang memungkinkan Islam ditegakkan, sebagaimana dicontohkan oleh Hijrah Rasulullah saw. dari Makkah ke Madinah.

Pasca Hijrah Rasulullah saw. ke Madinah, setidaknya ada lima perubahan yang tampak dibandingkan dengan saat beliau di Makkah.

Pertama, terbentuknya ukhuwah Islamiyah yang mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshar sehingga ikatan akidah mengalahkan ikatan suku dan kabilah. Allah Swt. berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ

"Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara" (QS. al-Hujurât [49]: 10).

Kedua, terbentuknya kekuatan ekonomi umat melalui penghapusan riba, monopoli, dan praktik ekonomi yang zalim, serta penerapan distribusi harta yang adil. Allah Swt. berfirman:

كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةً ۢ بَيْنَ الْاَغْنِيَاۤءِ مِنْكُمْۗ

"Agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian" (QS. al-Hasyr [59]: 7).

Hasilnya, Madinah tumbuh menjadi pusat ekonomi yang kuat dan mandiri.

Ketiga, diterapkannya syariah Islam secara menyeluruh dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari keluarga, perdagangan, peradilan hingga pemerintahan. Allah Swt. berfirman:

ثُمَّ جَعَلْنٰكَ عَلٰى شَرِيْعَةٍ مِّنَ الْاَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ

”Kemudian Kami menjadikan engkau (Muhammad) berada di atas suatu syariah dalam urusan itu. Karena itu ikutilah syariah tersebut dan jangan mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak tahu” (QS. al-Jâtsiyah [45]: 18).

Keempat, terbentuknya kekuatan militer yang disegani sehingga kaum Muslim yang sebelumnya tertindas mampu mempertahankan diri, memenangkan berbagai peperangan, dan akhirnya menaklukkan Makkah. Setelah itu, kekuasaan Islam terus berkembang hingga menjangkau berbagai wilayah dunia.

Kelima, tersebarnya dakwah Islam secara massif ke seluruh penjuru dunia. Dari Madinah, Rasulullah saw. mengirimkan surat kepada para raja dan penguasa untuk mengajak mereka kepada Islam. Allah Swt. berfirman:

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا كَاۤفَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًا

"Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan kepada seluruh manusia sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan" (QS. Saba' [34]: 28). Dengan demikian, hijrah menjadi titik awal lahirnya persatuan umat, kekuatan ekonomi, penerapan syariah, kekuatan negara, dan penyebaran Islam ke seluruh dunia.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Sebagai penutup, mari kita ambil pelajaran dari peristiwa hijrah dan mengaitkannya dengan kondisi umat Islam saat ini. Meskipun jumlah kaum Muslim mencapai lebih dari dua miliar jiwa, pengaruh dan kekuatannya belum sebanding dengan jumlah tersebut. Di berbagai belahan dunia, masih ada umat Islam yang mengalami penindasan, ketergantungan dalam bidang ekonomi, teknologi, keamanan, dan pangan, serta terpecah ke dalam banyak negara yang sering tidak bersatu dalam menghadapi persoalan umat.

Di sisi lain, banyak negeri Muslim menerapkan sistem kehidupan yang berasal dari luar Islam, seperti kapitalisme, sekularisme, dan demokrasi, sementara syariah Islam tidak diterapkan secara menyeluruh. Padahal Allah Swt. telah mengingatkan:

اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَࣖ

"Apakah sistem hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Sistem hukum siapakah yang lebih baik daripada sistem hukum Allah bagi kaum yang meyakini?" (QS. al-Mâidah [5]: 50).

Karena itu, pelajaran terbesar dari hijrah adalah bahwa kebangkitan umat tidak cukup dengan mengenang sejarah, tetapi harus diwujudkan melalui persatuan umat, penerapan ajaran Islam secara kaffah, dan upaya menghadirkan kembali kehidupan Islam yang mampu menjaga kemuliaan dan kesejahteraan umat.

Di tengah berbagai krisis yang melanda dunia saat ini—baik krisis ekonomi, moral, lingkungan maupun kemanusiaan—Islam menawarkan solusi yang menyatukan nilai ruhani dan materi, dunia dan akhirat, keadilan dan kemajuan. Hijrah Rasulullah saw. telah membuktikan bahwa ketika Islam diterapkan secara nyata, lahirlah peradaban besar yang membawa perubahan bagi dunia.

Karena itu, momentum Tahun Baru Hijriah hendaknya tidak berhenti pada seremoni tahunan semata, tetapi menjadi dorongan untuk berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik: dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari kelemahan menuju kekuatan, dan dari perpecahan menuju persatuan. Dengan semangat hijrah inilah umat Islam diharapkan kembali menjadi umat terbaik yang menghadirkan rahmat bagi seluruh manusia. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia

UPDATE INFORMASI TERBARU