PHK DAN PENGANGGURAN
KHUTBAH PERTAMA
اللّٰهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
النَّبِيِّ
الْأُمِّيِّ،
الصَّادِقِ
الْأَمِيْنِ،
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
حَسُنَ
إِسْلَامُهُمْ.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
أُوْصِيْ
نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوْا
لَا تَخُوْنُوا
اللّٰهَ
وَالرَّسُوْلَ
وَتَخُوْنُوْٓا
اَمٰنٰتِكُمْ
وَاَنْتُمْ
تَعْلَمُوْنَ ٢٧
(اَلْأَنْفَالُ)
Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia,
hari Jumat. Di bulan mulia, Muharram. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama
orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta
salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.
Pertama dan paling
utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi
larangan-Nya. Pesan Nabi Muhammad saw.;
اِتَّقِ
اللهَ حَيْثُمَا
كُنْتَ، وَأَتْبِعِ
السَّيِّئَةَ
الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا،
وَخَالِقِ النَّاسَ
بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan
buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya.
Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Di antara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada
seorang hamba adalah adanya pekerjaan yang halal untuk menafkahi keluarga.
Namun hari-hari ini, tidak sedikit saudara-saudara kita yang harus menghadapi
ujian kehilangan pekerjaan akibat gelombang PHK. Ujian ini bukan sekadar
persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut ketenangan rumah tangga dan masa
depan keluarga.
Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa
sepanjang Januari–November 2025 hampir 80 ribu pekerja terkena PHK. Sementara
itu, pada Januari–Mei 2026 sudah lebih dari 23 ribu pekerja kehilangan
pekerjaan di 34 provinsi, dengan Jawa Barat menjadi yang tertinggi, yakni sekitar
5.044 orang (Kompas.com, 26 Juni 2026). Padahal, jumlah pengangguran di
Indonesia telah mencapai sekitar 7,24 juta orang (BPS, Mei 2026). Pemerintah
memang mengklaim program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi menyerap 1,4
juta tenaga kerja dan telah membentuk Satgas Penanganan PHK serta menyiapkan
berbagai langkah perlindungan bagi pekerja. Namun, upaya tersebut belum
menjawab kenyataan bahwa jutaan orang masih menganggur, sehingga muncul
pertanyaan: apakah kebijakan-kebijakan ini benar-benar menyelesaikan akar
persoalan PHK, atau hanya meredam dampaknya untuk sementara?
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Islam mengajarkan kita untuk mencari akar persoalan,
bukan sekadar mengatasi dampaknya. Maraknya PHK dan tingginya pengangguran
berakar pada sistem ekonomi kapitalisme, yang menjadikan negara hanya sebagai
regulator, sementara sektor-sektor strategis dikuasai pemilik modal. Akibatnya,
ketika investor menutup atau memindahkan usahanya, negara tidak memiliki
kendali yang cukup untuk mencegah PHK massal.
Selain itu, banyak sumber daya alam yang menjadi milik
rakyat (seperti minyak, gas, batubara, nikel, emas, tembaga, timah, bauksit,
hasil laut, hutan, serta kekayaan alam lainnya dalam jumlah yang luar biasa)
justru dikelola pihak swasta/asing. Dampaknya, penerimaan negara dari SDA dalam
APBN 2025 hanya sekitar Rp290,08 triliun, jauh di bawah penerimaan pajak yang
mencapai Rp2.387,2 triliun. Akibatnya, ruang fiskal negara terbatas dan sulit
membuka lapangan kerja serta menjamin kesejahteraan rakyat, sementara
ketergantungan pada pajak terus meningkat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Islam bukan hanya mengajarkan kita untuk mengidentifikasi
akar persoalan, tetapi juga memberikan solusi yang nyata. Dalam Islam,
pemerintah adalah râ'in (pengurus rakyat), sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
الإِمَامُ
رَاعٍ وَهُوَ
مَسْؤُوْلٌ
عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas
rakyat yang dia urus" (HR. al-Bukhari
dan Muslim).
Karena itu, negara tidak boleh membiarkan rakyat terjerat
kemiskinan, pengangguran, dan kesulitan ekonomi. Hal ini juga tampak dalam
kisah seorang laki-laki yang meminta bantuan kepada Rasulullah ﷺ. Beliau tidak sekadar memberinya makanan, tetapi
membantunya memiliki kapak agar dapat bekerja dan memperoleh penghasilan
sendiri (HR. Abu Dawud). Hadits ini menunjukkan bahwa negara wajib
membantu rakyat agar mampu bekerja, bukan membiarkan mereka hidup dalam
ketergantungan. Karena itu Islam menetapkan:
Pertama, negara wajib
membuka lapangan kerja seluas-luasnya melalui pembangunan industri manufaktur
dan industri hilir sehingga kekayaan alam diolah menjadi produk bernilai tinggi
yang mampu menyerap jutaan tenaga kerja.
Kedua, sumber daya alam
yang menjadi milik umum haram diserahkan kepada swasta atau asing, berdasarkan
sabda Rasulullah ﷺ:
المُسْلِمُوْنَ
شُرَكَاءُ
فِيْ ثَلَاثٍ
فِي المَاءِ
وَالْكَلَإِ
وَالنَّارِ،
وَثَمَنُهُ
حَرَامٌ
”Kaum Muslim
berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api. Dan harganya adalah
haram” (HR. Ibnu Majah). Keuntungan pengelolaannya
wajib dikembalikan untuk kemaslahatan rakyat.
Ketiga, negara wajib
meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan yang bermutu agar
tenaga kerja memiliki kemampuan dan daya saing yang tinggi.
Keempat, negara wajib
memberikan perhatian besar pada sektor pertanian, peternakan, dan perikanan
melalui dukungan sarana produksi sehingga mampu menciptakan banyak lapangan
kerja.
Kelima, negara tidak boleh
membiarkan kekayaan hanya beredar di kalangan orang kaya, sebagaimana firman
Allah SWT:
كَيْ
لَا يَكُوْنَ
دُوْلَةً ۢ
بَيْنَ الْاَغْنِيَاۤءِ
مِنْكُمْ
"Agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja
di antara kalian" (QS. Al-Hasyr [59]: 7).
Keenam, negara wajib
melarang penimbunan harta, sesuai firman Allah SWT:
وَالَّذِيْنَ
يَكْنِزُوْنَ
الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ
وَلَا
يُنْفِقُوْنَهَا
فِيْ سَبِيْلِ
اللّٰهِۙ
فَبَشِّرْهُمْ
بِعَذَابٍ
اَلِيْمٍ
"Orang-orang yang menimbun emas dan perak serta tidak menginfakkannya
di jalan Allah, maka beritakanlah kepada mereka azab yang pedih" (QS. At-Taubah
[9]: 34), agar harta terus berputar dalam kegiatan ekonomi yang produktif.
Ketujuh, bagi keluarga yang
terdampak PHK, negara wajib menjamin kebutuhan pokok mereka hingga pencari
nafkah kembali memperoleh pekerjaan. Dengan demikian, persoalan PHK dan
pengangguran tidak cukup diselesaikan melalui satgas, bantuan sementara, atau
perubahan regulasi ketenagakerjaan semata. Islam menawarkan solusi yang
menyeluruh melalui penerapan syariat secara kaffah, sehingga negara benar-benar
menjalankan fungsinya sebagai pengurus rakyat dan mampu mewujudkan
kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Pada akhirnya keberhasilan sebuah sistem ekonomi bukan
diukur dari tingginya angka pertumbuhan ekonomi, tetapi dari sejauh mana rakyat
dapat bekerja, hidup layak, dan merasakan keadilan. Untuk mewujudkan hal itu
diperlukan peran negara yang mengatur kehidupan dengan syariah Islam.
Sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Mawardi:
الإِمَامَةُ
مَوْضُوْعَةٌ
لِخِلاَفَةِ
النُّبُوَّةِ
فِيْ
حَرَاسَةِ
الدِّيْنِ
وَسِيَاسَةِ
الدُّنْيَا
"Imamah (Khilafah) ditetapkan sebagai pengganti tugas kenabian dalam
menjaga agama dan mengatur urusan dunia." Karena itu, agama
dan kekuasaan tidak boleh dipisahkan. Imam al-Ghazali menegaskan:
الدِّيْنُ
وَالسُّلْطَانُ
تَوْأَمَانِ
"Agama (Islam) dan kekuasaan adalah dua saudara kembar."
Islam memerlukan kekuasaan agar seluruh syariahnya dapat
diterapkan, sementara kekuasaan memerlukan syariah agar mampu mewujudkan
keadilan dan kesejahteraan. Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ melalui berdirinya Daulah Islam di Madinah, kemudian
dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin dan para khalifah sesudahnya. Wallâhu
a‘lam bish-shawâb.[]
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ،
وَتَقَبَّلَ
مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلَاوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ
الْعَظِيْمَ
لِيْ
وَلَكُمْ،
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ
عَلَى
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَامْتِنَانِهِ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلٰهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أنَّ
سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى رِضْوَانِهِ.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا
اللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ وَانْتَهُوْا
عَمَّا
نَهَى،
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ فِيْهِ
بِنَفْسِهِ
وَثَنَّى
بِمَلَائِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ، وَعَلَى
أَنْبِيَائِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلَائِكَتِكَ
الْمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَعَنْ بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَالتَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
الْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللّٰهُمَّ
أَعِزَّ
الْإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ مَنْ
نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
الْمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَأَعْلِ
كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ
بِهَا
الْإِسْلَامَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ
بِهَا
الْكُفْرَ
وَاَهْلَهُ،
وَاجْعَلْنَا
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
لِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ يَا
أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَالْبَلاَءَ
وَالْوَبَاءَ
وَالزَّلَازِلَ
وَالْمِحَنَ،
وَسُوْءَ
الْفِتَنِ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا
خَاصَّةً
وَسَائِرِ
بُلْدَانِ
الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً يَا رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِى
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
الْآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالْإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشآءِ
وَالْمُنْكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
الْعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ.