KHUTBAH PERTAMA
اللّٰهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
النَّبِيِّ
الْأُمِّيِّ،
الصَّادِقِ
الْأَمِيْنِ،
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
حَسُنَ
إِسْلَامُهُمْ.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
أُوْصِيْ
نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
قُلْ
يٰعِبَادِيَ
الَّذِيْنَ
اَسْرَفُوْا
عَلٰٓى
اَنْفُسِهِمْ
لَا
تَقْنَطُوْا
مِنْ
رَّحْمَةِ
اللّٰهِۗ
اِنَّ
اللّٰهَ يَغْفِرُ
الذُّنُوْبَ
جَمِيْعًاۗ
اِنَّهٗ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ ٥٣
(اَلزُّمَرُ)
Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari
mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang
insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga
senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.
Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita
kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Pesan Nabi Muhammad
saw.;
اِتَّقِ
اللهَ حَيْثُمَا
كُنْتَ، وَأَتْبِعِ
السَّيِّئَةَ
الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا،
وَخَالِقِ النَّاسَ
بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada.
Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan
menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang
baik.” (HR. Tirmidzi).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Akhir-akhir ini isu LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan
Transgender) kembali menjadi
perbincangan hangat. Di banyak negara Barat, LGBT dipandang sebagai bagian dari
kebebasan individu dan hak asasi manusia. Pandangan ini lahir dari paham
liberalisme yang mengutamakan kebebasan manusia, sehingga ukuran benar dan
salah dianggap relatif selama tidak merugikan orang lain. Akibatnya, ajaran agama
sering dipandang hanya mengatur kehidupan pribadi. Cara pandang seperti ini pun
dinilai telah ikut memengaruhi sebagian masyarakat di Indonesia.
Di tengah kondisi tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI)
mendesak Pemerintah dan DPR segera menyusun aturan pidana khusus (lex
specialis) untuk menindak pelaku maupun pengkampanye gerakan LGBT. Wakil
Ketua Umum MUI, KH M. Cholil Nafis, menilai belum adanya aturan khusus membuat
penanganannya di daerah hanya sebatas pembinaan. Menurut beliau, sanksi yang
diberikan semestinya lebih berat daripada delik perzinaan karena dinilai
mengandung dua pelanggaran sekaligus, yakni perbuatan asusila dan penyimpangan
dari kodrat manusia. Namun, usulan tersebut ditentang oleh 37 LSM. Dalam
pernyataan tertulis pada Kamis (18 Juni 2026), Jaringan Masyarakat Sipil
menilai regulasi itu berpotensi mengkriminalisasi individu berdasarkan
identitas gender dan orientasi seksualnya, serta membatasi pihak-pihak yang
memperjuangkan hak asasi manusia (HAM).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Perilaku LGBT sering dibenarkan atas nama hak asasi
manusia (HAM). Pendukungnya menganggap orientasi seksual adalah hak pribadi
yang tidak boleh diatur oleh agama atau budaya. Bahkan, sejumlah negara Barat
telah melegalkan pernikahan sesama jenis. Ini menunjukkan betapa liberalisme
berkedok HAM telah menggeser standar moral masyarakat menuju kebebasan manusia
tanpa batas. Data Kementerian Kesehatan tahun 2022 mencatat sekitar 1.095.970
orang (0,44% penduduk) masuk kategori LGBT. Di Kota Bekasi tercatat 6.176
orang, sedangkan di Jawa Barat diperkirakan mencapai 300.198 orang.
Selain bertentangan dengan syariat Islam, perilaku LGBT
juga memiliki risiko kesehatan yang tinggi. Data Kementerian Kesehatan
menunjukkan sekitar 70–71% kasus baru HIV terjadi pada laki-laki, dengan
kelompok laki-laki yang berhubungan seksual dengan sesama laki-laki (MSM)
termasuk yang berisiko paling tinggi. WHO dan CDC (2024) juga menyebut hubungan
seksual anal tanpa perlindungan memiliki risiko penularan HIV dan infeksi HPV
yang lebih tinggi. Karena itu, larangan Islam terhadap perilaku tersebut
merupakan bagian dari penjagaan terhadap agama, kehormatan, keturunan, dan
kesehatan manusia.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Islam memiliki aturan yang tegas dalam menjaga kehormatan
dan keturunan manusia. Karena itu, hubungan seksual sesama jenis termasuk
perbuatan haram dan dosa besar. Allah Swt. mengecam perbuatan kaum Nabi Luth
dalam banyak ayat, di antaranya QS. al-A'râf [7]: 80–84, QS. Hûd [11]: 77–83, QS. asy-Syu'arâ [26]: 165–166, dan QS. an-Naml [27]: 54–55. Allah Swt. berfirman:
اِنَّكُمْ
لَتَأْتُوْنَ
الرِّجَالَ
شَهْوَةً
مِّنْ دُوْنِ
النِّسَاۤءِۗ
بَلْ اَنْتُمْ
قَوْمٌ
مُّسْرِفُوْنَ
”Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan
nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita. Bahkan kalian ini adalah
kaum yang melampaui batas” (QS. al-A’râf
[7]: 81).
Rasulullah saw.
juga bersabda:
مَنْ
وَجَدْتُمُوْهُ
يَعْمَلُ
عَمَلَ
قَوْمِ لُوْطٍ
فَاقْتُلُوا
الْفَاعِلَ
وَالْمَفْعُوْلَ
بِهِ
“Siapa saja di antara kalian yang mendapati orang yang
melakukan perbuatan liwaath maka bunuhlah pelaku dan pasangannya” (HR. Abu Dawud
dan at-Tirmidzi).
Berdasarkan dalil-dalil tersebut, jumhur ulama dari
mazhab Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali sepakat bahwa homoseksual (liwâth) merupakan dosa besar, sedangkan lesbian dan penyimpangan
seksual lainnya dikenai sanksi ta'zir yang ditetapkan oleh penguasa. Namun,
sanksi seperti ini sulit diterapkan dalam sistem sekuler yang memisahkan agama
dari kehidupan. Ketika banyak negara justru melegalkan LGBT atas nama HAM,
Islam tetap teguh mengharamkannya demi menjaga agama, akhlak, keturunan, dan
kemaslahatan manusia. Karena itu hanya dengan penerapan syariah Islam di bawah
naungan sistem pemerintahan Islam (Khilafah), persoalan LGBT dapat dituntaskan
mulai dari akarnya.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Sebesar apa pun dosa seseorang, pintu tobat selalu
terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari
barat. Karena itu, siapa pun yang pernah terjerumus dalam perilaku LGBT atau
kemaksiatan lainnya, segeralah kembali kepada Allah. Allah Swt. berfirman:
قُلْ
يٰعِبَادِيَ
الَّذِيْنَ
اَسْرَفُوْا
عَلٰٓى
اَنْفُسِهِمْ
لَا
تَقْنَطُوْا
مِنْ
رَّحْمَةِ
اللّٰهِۗ
اِنَّ
اللّٰهَ يَغْفِرُ
الذُّنُوْبَ
جَمِيْعًاۗ
اِنَّهٗ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
”Katakanlah, "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui
batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat
Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah
Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. az-Zumar
[39]: 53).
Allah Swt. juga berfirman:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوْا
تُوْبُوْٓا
اِلَى
اللّٰهِ
تَوْبَةً
نَّصُوْحًاۗ
عَسٰى
رَبُّكُمْ
اَنْ
يُّكَفِّرَ
عَنْكُمْ
سَيِّاٰتِكُمْ
وَيُدْخِلَكُمْ
جَنّٰتٍ
تَجْرِيْ
مِنْ
تَحْتِهَا
الْاَنْهٰرُ…
“Hai orang-orang yang beriman,
bertobatlah kalian dengan tobat yang sebenar-benarnya. Semoga Tuhan kalian
mengampuni dosa-dosa kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir
sungai-sungai di bawahnya...” (QS. At-Tahrîm
[66]: 8).
Rasulullah saw. bersabda:
كُلُّ
بَنِيْ آدَمَ
خَطَّاءٌ،
وَخَيْرُ
الْخَطَّائِيْنَ
التَّوَّابُوْنَ
“Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah dan
sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertobat” (HR. at-Tirmidzi
dan Ibnu Majah).
Bahkan beliau juga bersabda:
لَلَّهُ
أَشَدُّ فَرَحًا
بِتَوْبَةِ
أَحَدِكُمْ
مِنْ
أَحَدِكُمْ
بِضَالَّتِهِ
إِذَا
وَجَدَهَا
“Sungguh Allah sangat bergembira atas pertobatan salah
seorang di antara kalian melebihi kegembiraan salah seorang di antara kalian
yang menemukan kembali barangnya yang hilang” (HR. Muslim).
Ini menunjukkan betapa luas rahmat Allah bagi hamba yang
tulus kembali kepada-Nya.
Namun, jangan menunda tobat. Siapa yang terus-menerus
mempertahankan kemaksiatan dan enggan kembali kepada Allah, hendaklah takut
terhadap azab-Nya. Allah Swt. mengingatkan:
وَاتَّقُوا
اللّٰهَ
وَاعْلَمُوْٓا
اَنَّ اللّٰهَ
شَدِيْدُ
الْعِقَابِࣖ
“Bertakwalah kalian kepada Allah dan ketahuilah bahwa
Allah itu sangat keras hukuman-Nya” (QS. al-Baqarah
[2]: 196).
Semoga Allah menerima tobat kita, menjaga diri dan
keluarga kita dari segala bentuk penyimpangan, serta meneguhkan kita di atas
jalan Islam hingga akhir hayat. Âmîn. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ،
وَتَقَبَّلَ
مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلَاوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ
الْعَظِيْمَ
لِيْ
وَلَكُمْ،
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ
عَلَى
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَامْتِنَانِهِ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلٰهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أنَّ
سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى
رِضْوَانِهِ.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا
اللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ وَانْتَهُوْا
عَمَّا
نَهَى،
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ فِيْهِ
بِنَفْسِهِ
وَثَنَّى
بِمَلَائِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ، وَعَلَى
أَنْبِيَائِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلَائِكَتِكَ
الْمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ
اللّٰهُمَّ عَنِ
الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَعَنْ بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَالتَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
الْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللّٰهُمَّ
أَعِزَّ
الْإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ مَنْ
خَذَلَ
الْمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَأَعْلِ
كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ
بِهَا
الْإِسْلَامَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ
بِهَا
الْكُفْرَ
وَاَهْلَهُ،
وَاجْعَلْنَا
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
لِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَالْبَلاَءَ
وَالْوَبَاءَ
وَالزَّلَازِلَ
وَالْمِحَنَ،
وَسُوْءَ
الْفِتَنِ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا
إِنْدُوْنِيْسِيَا
خَاصَّةً وَسَائِرِ
بُلْدَانِ
الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً يَا رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِى
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
الْآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالْإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشآءِ
وَالْمُنْكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
الْعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ.