Seruan Masjid

Khadimul Ummah wa Du'at

INGAT! DERITA GAZA  MASIH BELUM SIRNA

INGAT! DERITA GAZA MASIH BELUM SIRNA

INGAT! DERITA GAZA MASIH BELUM SIRNA

INGAT! DERITA GAZA

MASIH BELUM SIRNA

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗٓ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْۗ وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًاۗ ۝٣٦ (اَلْأَحْزَابُ) 

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Pesan Nabi Muhammad saw.;

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Pernahkah kita bertanya kepada diri kita sendiri, mengapa hari ini kita begitu mudah melupakan penderitaan saudara-saudara kita di Gaza? Apakah karena jaraknya yang jauh? Ataukah karena berita tentang mereka sudah tidak lagi memenuhi layar-layar media? Hingga awal Agustus ini, serangan Israel masih terus menggempur Kota Gaza, Deir al-Balah, dan Khan Younis. Sejak Oktober 2023, lebih dari 73 ribu warga Palestina telah gugur dan lebih dari 174 ribu lainnya terluka. Korbannya didominasi anak-anak, perempuan, lansia, dan warga sipil. PBB juga mencatat rata-rata 47 perempuan dan anak perempuan meninggal setiap hari, sementara sekitar 80 persen bangunan di Gaza telah hancur.

Di tengah tragedi kemanusiaan yang begitu memilukan ini, dunia seolah hanya mampu menyaksikan. Berbagai kecaman dari sejumlah negara belum mampu menghentikan agresi Israel. Keberadaan Board of Peace (BOP) pun tidak memberikan tindakan nyata untuk menghentikan genosida maupun pencaplokan wilayah Gaza. Karena itu, kita patut merenung, jika darah kaum Muslim terus tertumpah, kehormatan mereka terus dinodai, dan tanah mereka terus dirampas, apakah kita akan tetap menjadi penonton? Jangan sampai Gaza hanya kita ingat ketika menjadi berita, lalu kita lupakan ketika perhatian dunia beralih. Sebab, penderitaan mereka belum sirna, dan kepedulian umat tidak boleh ikut sirna.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Islam tidak mengajarkan kita menjadi penonton ketika saudara seiman dizalimi. Rasulullah saw. bersabda,

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ مَنْ كَانَ فِيْ حَاجَةِ أَخِيْهِ كَانَ اللَّهُ فِيْ حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

”Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzalimi saudaranya itu dan membiarkan dirinya. Siapa saja yang memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya. Siapa saja yang menghilangkan kesulitan dari seorang Muslim, Allah akan menghilangkan kesulitan dari dirinya pada Hari Kiamat. Siapa saja yang menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya pada Hari Kiamat” (HR Muslim).

 Karena itu, membela kaum Muslim yang tertindas merupakan bagian dari konsekuensi ukhuwah Islamiyah. Seandainya para pemimpin negeri-negeri Muslim bersatu mengambil langkah nyata terhadap Israel, tentu mereka memiliki kekuatan untuk memberi tekanan. Namun hingga kini hal itu belum terwujud. Padahal Allah Swt. berfirman:

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُّؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ يُوَاۤدُّوْنَ مَنْ حَاۤدَّ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَوْ كَانُوْٓا اٰبَاۤءَهُمْ اَوْ اَبْنَاۤءَهُمْ اَوْ اِخْوَانَهُمْ اَوْ عَشِيْرَتَهُمْۗ

"Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka" (QS. al-Mujâdalah [58]: 22).

Sebagai orang beriman, setiap persoalan harus diselesaikan dengan hukum Allah, bukan pertimbangan akal atau kepentingan politik. Allah Swt. berfirman,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗٓ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْۗ وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًاۗ

"Tidaklah patut bagi laki-laki dan perempuan Mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, mereka memiliki pilihan lain dalam urusan mereka" (QS. al-Ahzâb [33]: 36).

Terkait agresi dan genosida di Gaza, Al-Qur'an memerintahkan kaum muslimin untuk melakukan jihad defensif terhadap pihak yang menyerang, sebagaimana firman-Nya:

فَمَنِ اعْتَدٰى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوْا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدٰى عَلَيْكُمْۖ

"Siapa yang menyerang kalian, maka seranglah ia seimbang dengan serangannya terhadap kalian" (QS. al-Baqarah [2]: 194), serta,

وَاقْتُلُوْهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوْهُمْ وَاَخْرِجُوْهُمْ مِّنْ حَيْثُ اَخْرَجُوْكُمْ

”Perangilah mereka di mana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian" (QS. al-Baqarah [2]: 191).

Qadhi Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahulLâh dalam Asy-Syakhsiyyah al-Islâmiyyah Jilid 2 menjelaskan bahwa jihad menjadi fardu 'ain ketika negeri kaum Muslim diserang. Karena itu, berdiam diri, tidak menggerakkan jihad, maupun menjalin hubungan yang mengokohkan Israel merupakan perbuatan dosa besar yang pelakunya di ancam siksaan di Neraka

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Serulah para pemimpin Anda agar mengerahkan pasukan untuk berjihad fi sabilillah mengusir Israel! Wajib bagi para pemimpin Dunia Islam untuk membebaskan tanah Palestina dengan kekuatan militer. Sungguh mereka akan menghadap Allah Swt. dengan hisab yang amat berat atas sikap diam atau membatasi diri hanya dengan retorika kosong. Mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap darah Muslim yang tumpah di sana. Padahal mereka mempunyai kekuasaan dan kekuatan untuk menghentikan genosida di Gaza. Ya Allah, kami telah menyampaikan! Saksikanlah! Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia
NEGARA WAJIB MENJAMIN KEAMANAN RAKYAT

NEGARA WAJIB MENJAMIN KEAMANAN RAKYAT

NEGARA WAJIB MENJAMIN KEAMANAN RAKYAT

NEGARA WAJIB MENJAMIN KEAMANAN RAKYAT

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ۝١٠٢ (اٰلِ عِمْرَانَ) 

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Pesan Nabi Muhammad saw.;

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Berapa murah harga sebuah motor? Berapa mahal harga seekor ayam? Tentu tidak ada yang sebanding dengan nyawa manusia. Namun, belakangan ini kita justru sering menyaksikan seseorang kehilangan nyawanya bukan karena putusan pengadilan, melainkan karena amarah massa. Emosi mengalahkan akal sehat dan kerumunan merasa berhak menjadi hakim sekaligus eksekutor. Fenomena ini menjadi tanda bahwa bukan hanya angka kriminalitas yang patut dikhawatirkan, tetapi juga memudarnya penghormatan terhadap hukum dan kesucian nyawa manusia. Lantas, ke mana perginya akal sehat dan hukum ketika emosi sudah menguasai?

Di Morowali, seorang pria meninggal dunia setelah dikeroyok warga karena diduga hendak mencuri sepeda motor di depan minimarket. Juga di Tabanan, Bali, seorang pria juga tewas diamuk massa karena diduga mencuri ayam aduan. Peristiwa serupa banyak terjadi di tempat lain.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Kita sering mengira keamanan hanyalah urusan polisi atau aparat. Padahal, keamanan adalah nikmat besar yang menjadi syarat tegaknya kehidupan. Orang yang lapar masih bisa berharap mencari makan, tetapi orang yang hidup dalam ketakutan sulit beribadah, bekerja, belajar, bahkan melindungi keluarganya. Karena itu, Islam memandang keamanan sebagai hak dasar setiap warga negara. Allah Swt. berfirman:

الَّذِيْٓ اَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ ەۙ وَّاٰمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍࣖ

“Dialah Allah Yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan memberi mereka rasa aman dari ketakutan” (QS. Quraisy [106]: 4).

Nabi Ibrahim as. juga berdoa:

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا

“Ingatlah saat Ibrahim berkata, “Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman.” (QS. al-Baqarah [2]: 126).

Karena pentingnya keamanan, Islam tidak menyerahkan tanggung jawab ini kepada masyarakat semata, tetapi mewajibkan negara untuk menjaganya. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ ، فَكَأَنَّمَا حِيْزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Siapa yang pagi harinya merasa aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan telah dikumpulkan baginya seluruh kenikmatan dunia” (HR. at-Tirmidzi).

Beliau juga bersabda:

 الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Pemimpin adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Para ulama di antaranya ada Imam an-Nawawi yang menjelaskan bahwa penguasa wajib menjaga keamanan jiwa, harta, dan kehormatan rakyat. Al-Mawardi menegaskan keamanan adalah tugas utama negara, sedangkan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menekankan pentingnya aparat yang profesional agar masyarakat dapat hidup, bekerja, dan beribadah tanpa rasa takut.

Ketika negara gagal memberikan rasa aman, masyarakat sering terdorong mengambil tindakan sendiri. Padahal, Islam melarang main hakim sendiri karena penegakan hukum hanya boleh dilakukan oleh negara melalui qadhi dan aparat yang sah. Allah Swt. berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ بِالْقِسْطِ 

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kalian penegak keadilan” (QS. an-Nisâ’ [4]: 135).

Keadilan tidak mungkin ditegakkan dengan emosi massa, melainkan melalui proses hukum yang adil berdasarkan hukum Allah Swt. Rasulullah ﷺ juga bersabda:

 الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang Muslim adalah orang yang menjadikan kaum Muslim selamat dari gangguan lisan dan tangannya” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Karena itu, menyakiti, menganiaya, apalagi menghilangkan nyawa seseorang hanya berdasarkan dugaan merupakan kezaliman yang dilarang dalam Islam.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Keamanan tidak akan lahir hanya dari imbauan atau kemarahan massa. Keamanan membutuhkan sistem yang kuat, aparat yang profesional, dan hukum yang ditegakkan secara adil.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Muqaddimah ad-Dustuur menjelaskan bahwa kepolisian merupakan bagian dari negara yang bertugas menjaga ketertiban, melakukan patroli, mencegah kejahatan, dan memelihara keamanan masyarakat. Pada masa Khalifah Abu Bakar ra, Abdullah bin Mas’ud ra. pernah ditugaskan memimpin patroli malam. Adapun Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. sering turun langsung melakukan patroli pada malam hari. Ini menunjukkan bahwa menjaga keamanan merupakan kewajiban negara. Dalam pandangan Islam, jaminan keamanan dibangun di atas beberapa pilar utama.

Pertama, negara wajib menyediakan aparat keamanan yang memadai, profesional, jujur, dan responsif.

Kedua, negara wajib membangun sistem pengawasan yang efektif melalui patroli rutin dan koordinasi yang baik agar masyarakat merasa aman selama dua puluh empat jam.

Ketiga, negara wajib menerapkan sistem peradilan yang cepat, adil, dan bebas dari suap serta tebang pilih. Rasulullah ﷺ bersabda:

 وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

“Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya. Sungguh, andai Fathimah putri Muhammad mencuri, pasti akan aku potong tangannya” (HR. al-Bukhari).

Keempat, negara wajib menerapkan hukum pidana Islam sebagai zawaajir (pencegah kejahatan) sekaligus jawaabir (penebus dosa bagi pelaku yang telah menjalani hukuman). Allah Swt. berfirman:

 وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

“Dalam hukum qishaash itu terdapat jaminan kehidupan bagi kalian, wahai orang-orang yang berakal” (QS. al-Baqarah [2]: 179). Ketegasan hukum bukanlah kekerasan, melainkan perlindungan terhadap agama, jiwa, akal, harta, dan kehormatan manusia.

Selain penegakan hukum, Islam juga mengatasi akar kriminalitas melalui jaminan kebutuhan dasar rakyat, pembukaan lapangan pekerjaan, pengelolaan sumberdaya alam untuk kemaslahatan umum, dan distribusi kekayaan secara adil. Sejarah Khilafah menunjukkan bahwa keamanan dapat terwujud ketika syariah diterapkan secara konsisten dalam bidang akidah, pendidikan, ekonomi, sosial, dan peradilan.

Masyarakat bertakwa, kebutuhan hidup terjamin, aparat bekerja secara profesional, dan hukum ditegakkan tanpa pandang bulu. Karena itu, solusi Islam tidak berhenti pada penambahan patroli atau hukuman semata, tetapi mengembalikan fungsi negara sebagai pengurus rakyat yang menerapkan syariah Islam secara kaaffah dalam seluruh aspek kehidupan melalui institusi pemerintahan Islam, yaitu Khilafah. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia
PENDIDIKAN BERKUALITAS MELAHIRKAN PERADABAN EMAS

PENDIDIKAN BERKUALITAS MELAHIRKAN PERADABAN EMAS

PENDIDIKAN BERKUALITAS MELAHIRKAN PERADABAN EMAS

PENDIDIKAN BERKUALITAS MELAHIRKAN PERADABAN EMAS

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ ۝١٠٧ (اَلْأَنْبِيَاءُ) 

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Pesan Nabi Muhammad saw.;

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Kemajuan suatu bangsa bukan hanya diukur dari tingginya gedung atau pesatnya pembangunan, tetapi juga dari kualitas pendidikannya. Sebab, pendidikan adalah tempat lahirnya sumber daya manusia yang akan menentukan masa depan negeri. Namun, Indonesia justru dilaporkan termasuk negara dengan anggaran pendidikan terendah, yakni sekitar 1,3% dari PDB, berdasarkan kompilasi data UNESCO Institute for Statistics, World Bank, Geo Factbook, dan Seasia Stats. Di sisi lain, anggaran Perpustakaan Nasional dipangkas hampir separuh, dari Rp721 miliar pada 2025 menjadi Rp377,9 miliar pada 2026, sehingga distribusi buku, terutama ke daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), ikut berkurang. Padahal, meskipun APBN 2026 mengalokasikan Rp757,8 triliun untuk pendidikan, sebagian anggaran tersebut digunakan untuk program lintas sektor, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG), sehingga belum sepenuhnya diarahkan pada peningkatan mutu pendidikan.

Akibatnya, berbagai persoalan pendidikan masih belum terselesaikan. Banyak guru honorer masih menerima penghasilan yang jauh dari kebutuhan hidup layak. Selain itu, sekitar 980 ribu sekolah masih mengalami kerusakan sedang hingga berat. Di banyak daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T), guru dan siswa harus melewati jalan rusak, jembatan rapuh, bahkan medan yang berbahaya untuk mencapai sekolah. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa cita-cita mewujudkan Indonesia Emas 2045 memerlukan perhatian yang lebih besar terhadap pembangunan pendidikan sebagai fondasi kemajuan bangsa.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Jika pendidikan merupakan kunci kemajuan suatu bangsa, lalu bagaimana Islam memandangnya? Islam menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan manusia dan peradaban. Hal ini tampak sejak turunnya wahyu pertama yang memerintahkan membaca (QS. al-'Alaq [96]: 1–5). Allah Swt. juga memuliakan orang-orang yang berilmu. Firman-Nya:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ

"Katakanlah, apakah sama orang-orang yang berpengetahuan dengan orang-orang yang tidak berpengetahuan?" (QS. az-Zumar [39]: 9).

Allah Swt. juga berfirman:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat" (QS. al-Mujâdilah [58]: 11).

Islam bahkan mewajibkan umatnya menuntut ilmu. Allah Swt. berfirman:

فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ

“Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan tentang agama (Islam)” (QS. at-Taubah [9]: 122).

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

 طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

"Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim" (HR. Ibnu Majah).

Nilai-nilai tersebut diwujudkan dalam kebijakan negara sepanjang sejarah peradaban Islam dengan membangun masjid, madrasah, perpustakaan, rumah sakit pendidikan, serta pusat-pusat penerjemahan dan penelitian. Sejarawan George Makdisi dan Jonathan Lyons menjelaskan bahwa peradaban Islam berperan besar dalam menjaga, mengembangkan, dan mentransmisikan ilmu pengetahuan yang kemudian turut memengaruhi kebangkitan intelektual Eropa.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Sejarah membuktikan bahwa peradaban besar lahir dari penghormatan terhadap ilmu. Pada masa Kekhilafahan Islam, negara menjadikan pendidikan dan perpustakaan sebagai prioritas. Pada abad ke-10, Andalusia memiliki sekitar 20 perpustakaan umum, sementara Perpustakaan Cordova menyimpan sekitar 400 ribu judul buku. Bahkan, Darul Hikmah di Kairo memiliki sekitar 2 juta, dan Perpustakaan Tripoli di Syam lebih dari 3 juta judul buku. Sebaliknya, Perpustakaan Gereja Canterbury—yang termasuk terbesar di Eropa abad ke-14—hanya memiliki sekitar 1.800 judul buku.

Dukungan tersebut melahirkan tradisi membaca, menerjemahkan, meneliti, dan mengembangkan ilmu. Jonathan Bloom dan Sheila Blair mencatat bahwa tingkat literasi masyarakat Islam saat itu lebih tinggi daripada Eropa. Dari sinilah lahir ilmuwan-ilmuwan besar, seperti Ibnu Sina, al-Khawarizmi, Jabir bin Hayyan, Ibnu al-Haitsam, dan masih banyak lagi yang memberikan kontribusi besar bagi kemajuan ilmu pengetahuan.

Keunggulan peradaban Islam bahkan diakui oleh Montgomery Watt, yang menyatakan bahwa kemajuan Eropa tidak lepas dari sumbangsih peradaban Islam. Semua itu terjadi karena negara pada masa Kekhilafahan Islam menempatkan pendidikan, guru, ilmuwan, dan perpustakaan sebagai tanggung jawab utama dalam membangun peradaban.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Tujuan pendidikan dalam Islam bukan sekadar mencetak orang yang cerdas, tetapi membentuk kepribadian Islam yang berilmu, berakhlak, dan siap mengemban risalah dakwah. Allah Swt. berfirman:

 فَذَكِّرۡ إِنَّمَآ أَنتَ مُذَكِّرٌ

“Karena itu berilah peringatan, sesungguhnya engkau hanyalah pemberi peringatan” (QS. al-Ghâsyiyah [88]: 21).

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

 خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya” serta

 بَلِّغُوْا عَنِّيْ وَلَوْ آيَةً

“Sampaikan dariku walau satu ayat” (HR. al-Bukhari).

Dengan pendidikan seperti inilah lahir generasi yang menguasai sains dan teknologi sekaligus berdakwah, sehingga ilmu menjadi sarana mewujudkan kemaslahatan dan rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana firman Allah Swt.:

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

”Tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi alam semesta” (QS. al-Anbiyâ’ [29]: 107).

Karena itu, kaum Muslim tidak boleh menjauh dari petunjuk Allah. Allah Swt. telah mengingatkan,

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا

“Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit” (QS. Thâhâ [20]: 124).

Oleh sebab itu, pendidikan Islam harus diterapkan secara menyeluruh agar mampu melahirkan ulama yang menguasai tsaqafah Islam sekaligus ilmuwan yang unggul dalam sains dan teknologi. Hal itu hanya dapat terwujud melalui penerapan Islam secara kaffah dalam institusi Khilafah, sebagaimana yang pernah melahirkan peradaban Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia
MEMBASMI KORUPSI, BUTUH SOLUSI SYARI

MEMBASMI KORUPSI, BUTUH SOLUSI SYARI

MEMBASMI KORUPSI, BUTUH SOLUSI SYAR’I

MEMBASMI KORUPSI,

BUTUH SOLUSI SYAR’I

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:  اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًا ۢ بَصِيْرًا ۝٥٨ (اَلنِّسَاءُ) 

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Pesan Nabi Muhammad saw.;

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Pernahkah kita bertanya, mengapa korupsi di negeri ini seakan tidak pernah habis? Setiap kali satu kasus terbongkar, muncul lagi kasus yang baru. Yang lebih memprihatinkan, bukan hanya pelakunya yang berganti, tetapi bahkan orang yang selama ini dikenal sebagai pemberantas korupsi pun bisa terseret menjadi pelaku. Inilah kenyataan yang seharusnya membuat kita merenung: apakah yang sedang sakit hanya sistemnya, atau juga hati manusia?

Belum lama ini, seorang Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah, ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang. Ironisnya, sebelumnya ia dikenal berhasil membongkar berbagai kasus korupsi besar, seperti PT Timah, BTS 4G Kominfo, dan tata kelola MBG. Peristiwa ini semakin menunjukkan bahwa korupsi telah menjalar ke berbagai lapisan. Hingga Maret 2026, KPK telah menerima 5.080 laporan dugaan korupsi. Sejak awal tahun, sembilan kepala daerah menjadi tersangka, sementara sejumlah pejabat pusat juga terseret kasus korupsi, termasuk dugaan mark-up pengadaan 80 ribu kendaraan Koperasi Desa Merah Putih senilai Rp5,54 triliun. Peneliti BRIN, Siti Zuhro, bahkan menyebut kondisi ini sebagai "bencana luar biasa" karena mencerminkan merosotnya integritas dan berubahnya tujuan sebagian orang menjadi pejabat, bukan lagi untuk mengabdi kepada rakyat, melainkan memperkaya diri.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Lebih memprihatinkan lagi, korupsi juga dilakukan oleh aparat yang seharusnya menegakkan hukum. Data KPK mencatat, sepanjang 2010–2025 terdapat 31 hakim, 19 pengacara, 13 jaksa, dan 6 polisi yang terjerat korupsi. Bahkan Police Corruption Perceptions Index 2026 menempatkan Indonesia sebagai negara dengan persepsi korupsi polisi tertinggi di Asia Tenggara. Jika penegak hukum saja ikut korupsi, bagaimana mungkin pemberantasan korupsi berjalan? Ibarat membersihkan lantai dengan sapu yang kotor.

Ironisnya, di saat korupsi semakin parah, pemberantasannya justru melemah. Wewenang KPK dipangkas, RUU Perampasan Aset belum disahkan, dan KUHP 2026 tidak lagi menggolongkan korupsi sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary crime). Padahal kerugian negara akibat korupsi dan TPPU pada 2025 mencapai Rp300,86 triliun. Namun rata-rata koruptor di Indonesia hanya dihukum sekitar empat tahun penjara, sementara di China, pejabat yang menerima suap sekitar Rp260–270 miliar dapat dijatuhi hukuman mati. Maka, pantaskah korupsi diperlakukan sebagai kejahatan biasa?

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Lalu, apa sebenarnya akar korupsi? Banyak yang beranggapan korupsi terjadi karena gaji pejabat terlalu kecil. Karena itu, gaji hakim pun dinaikkan hingga 280 persen agar tidak mudah disuap. Namun, benarkah gaji menjadi penyebab utamanya? Faktanya, banyak pejabat bergaji puluhan juta rupiah tetap melakukan korupsi. Sebaliknya, ada petugas kebersihan KRL yang dengan jujur mengembalikan uang penumpang senilai sekitar Rp500 juta. Ini menunjukkan bahwa akar persoalannya bukan sekadar penghasilan, tetapi integritas.

Integritas sejati lahir dari iman dan takwa. Orang yang benar-benar takut kepada Allah akan berhati-hati terhadap setiap amanah dan harta yang bukan haknya. Rasulullah ﷺ pernah bersabda tentang seorang budak yang gugur dalam Perang Khaibar. Para sahabat mengira ia mati syahid, tetapi beliau bersabda:

كَلَّا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ ، إِنَّ الشَّمْلَةَ الَّتِي أَخَذَهَا يَوْمَ خَيْبَرَ مِنَ الْمَغَانِمِ، لَمْ تُصِبْهَا الْمَقَاسِمُ ، لَتَشْتَعِلُ عَلَيْهِ نَارًا

”Sekali-kali tidak! Demi Tuhan Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Sesungguhnya sehelai kain yang ia ambil dari rampasan perang yang belum dibagi pada Perang Khaibar benar-benar akan menyalakan api yang membakar dirinya”

Mendengar hal itu, para sahabat segera mengembalikan barang yang mereka ambil, hingga hanya berupa satu atau dua tali sandal.

Karena itu, solusi memberantas korupsi tidak cukup hanya dengan menaikkan gaji atau memperberat hukuman. Yang lebih mendasar adalah membangun ketakwaan sehingga lahir integritas yang kuat. Sebab orang yang bertakwa tidak akan mengambil sedikit pun yang bukan haknya. Itulah sebabnya Islam mengajarkan agar setiap jabatan diserahkan kepada orang yang memiliki ketakwaan sekaligus kapabilitas (kafâ'ah), sehingga amanah dapat dijalankan dengan jujur dan penuh tanggung jawab.

Setelah kita mengetahui akar persoalannya, kini muncul pertanyaan penting: bagaimana Islam memberikan solusi terhadap kejahatan korupsi?

Islam tidak hanya membangun keimanan dan ketakwaan, tetapi juga menetapkan aturan yang tegas. Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. pernah memeriksa kekayaan Abu Hurairah ra. ketika menjabat sebagai gubernur Bahrain. Setelah terbukti hartanya berasal dari usaha yang halal, modal dan gajinya tetap menjadi miliknya, sedangkan keuntungan usahanya diserahkan ke Baitul Mal. Rasulullah ﷺ juga pernah menegur dan mengumumkan kesalahan Ibnu Lutbiyyah, seorang petugas zakat yang menerima hadiah (gratifikasi), sebagai pelajaran bagi kaum Muslim.

Selain itu, syariah Islam memberikan sanksi yang tegas kepada pelaku korupsi. Bentuk hukumannya ditentukan oleh qadhi sesuai tingkat kejahatannya, mulai dari cambuk, penjara, hingga hukuman mati. Tujuannya bukan sekadar menghukum, tetapi melindungi harta rakyat, menjaga amanah jabatan, dan menutup pintu korupsi sejak awal.

Wahai kaum Muslim! Sesungguhnya korupsi di negeri ini sudah menjadi bencana luar biasa. Hal ini menunjukkan bahwa pergantian pejabat saja tidak cukup jika sistem yang melahirkannya tidak berubah. Karena itu, umat Islam wajib kembali menjadikan syariah sebagai pedoman dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam tata kelola pemerintahan dan penegakan hukum. Semoga Allah Swt. menganugerahkan kepada kita para pemimpin yang bertakwa, amanah, dan mampu menegakkan keadilan di tengah masyarakat. Âmîn. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

 

 

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia

UPDATE INFORMASI TERBARU