NEGARA WAJIB MENJAMIN KEAMANAN RAKYAT

NEGARA WAJIB MENJAMIN KEAMANAN RAKYAT

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ۝١٠٢ (اٰلِ عِمْرَانَ) 

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Pesan Nabi Muhammad saw.;

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Berapa murah harga sebuah motor? Berapa mahal harga seekor ayam? Tentu tidak ada yang sebanding dengan nyawa manusia. Namun, belakangan ini kita justru sering menyaksikan seseorang kehilangan nyawanya bukan karena putusan pengadilan, melainkan karena amarah massa. Emosi mengalahkan akal sehat dan kerumunan merasa berhak menjadi hakim sekaligus eksekutor. Fenomena ini menjadi tanda bahwa bukan hanya angka kriminalitas yang patut dikhawatirkan, tetapi juga memudarnya penghormatan terhadap hukum dan kesucian nyawa manusia. Lantas, ke mana perginya akal sehat dan hukum ketika emosi sudah menguasai?

Di Morowali, seorang pria meninggal dunia setelah dikeroyok warga karena diduga hendak mencuri sepeda motor di depan minimarket. Juga di Tabanan, Bali, seorang pria juga tewas diamuk massa karena diduga mencuri ayam aduan. Peristiwa serupa banyak terjadi di tempat lain.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Kita sering mengira keamanan hanyalah urusan polisi atau aparat. Padahal, keamanan adalah nikmat besar yang menjadi syarat tegaknya kehidupan. Orang yang lapar masih bisa berharap mencari makan, tetapi orang yang hidup dalam ketakutan sulit beribadah, bekerja, belajar, bahkan melindungi keluarganya. Karena itu, Islam memandang keamanan sebagai hak dasar setiap warga negara. Allah Swt. berfirman:

الَّذِيْٓ اَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ ەۙ وَّاٰمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍࣖ

“Dialah Allah Yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan memberi mereka rasa aman dari ketakutan” (QS. Quraisy [106]: 4).

Nabi Ibrahim as. juga berdoa:

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا

“Ingatlah saat Ibrahim berkata, “Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman.” (QS. al-Baqarah [2]: 126).

Karena pentingnya keamanan, Islam tidak menyerahkan tanggung jawab ini kepada masyarakat semata, tetapi mewajibkan negara untuk menjaganya. Rasulullah bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ ، فَكَأَنَّمَا حِيْزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Siapa yang pagi harinya merasa aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan telah dikumpulkan baginya seluruh kenikmatan dunia” (HR. at-Tirmidzi).

Beliau juga bersabda:

 الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Pemimpin adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Para ulama di antaranya ada Imam an-Nawawi yang menjelaskan bahwa penguasa wajib menjaga keamanan jiwa, harta, dan kehormatan rakyat. Al-Mawardi menegaskan keamanan adalah tugas utama negara, sedangkan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menekankan pentingnya aparat yang profesional agar masyarakat dapat hidup, bekerja, dan beribadah tanpa rasa takut.

Ketika negara gagal memberikan rasa aman, masyarakat sering terdorong mengambil tindakan sendiri. Padahal, Islam melarang main hakim sendiri karena penegakan hukum hanya boleh dilakukan oleh negara melalui qadhi dan aparat yang sah. Allah Swt. berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ بِالْقِسْطِ 

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kalian penegak keadilan” (QS. an-Nisâ’ [4]: 135).

Keadilan tidak mungkin ditegakkan dengan emosi massa, melainkan melalui proses hukum yang adil berdasarkan hukum Allah Swt. Rasulullah juga bersabda:

 الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang Muslim adalah orang yang menjadikan kaum Muslim selamat dari gangguan lisan dan tangannya” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Karena itu, menyakiti, menganiaya, apalagi menghilangkan nyawa seseorang hanya berdasarkan dugaan merupakan kezaliman yang dilarang dalam Islam.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Keamanan tidak akan lahir hanya dari imbauan atau kemarahan massa. Keamanan membutuhkan sistem yang kuat, aparat yang profesional, dan hukum yang ditegakkan secara adil.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Muqaddimah ad-Dustuur menjelaskan bahwa kepolisian merupakan bagian dari negara yang bertugas menjaga ketertiban, melakukan patroli, mencegah kejahatan, dan memelihara keamanan masyarakat. Pada masa Khalifah Abu Bakar ra, Abdullah bin Mas’ud ra. pernah ditugaskan memimpin patroli malam. Adapun Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. sering turun langsung melakukan patroli pada malam hari. Ini menunjukkan bahwa menjaga keamanan merupakan kewajiban negara. Dalam pandangan Islam, jaminan keamanan dibangun di atas beberapa pilar utama.

Pertama, negara wajib menyediakan aparat keamanan yang memadai, profesional, jujur, dan responsif.

Kedua, negara wajib membangun sistem pengawasan yang efektif melalui patroli rutin dan koordinasi yang baik agar masyarakat merasa aman selama dua puluh empat jam.

Ketiga, negara wajib menerapkan sistem peradilan yang cepat, adil, dan bebas dari suap serta tebang pilih. Rasulullah bersabda:

 وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

“Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya. Sungguh, andai Fathimah putri Muhammad mencuri, pasti akan aku potong tangannya” (HR. al-Bukhari).

Keempat, negara wajib menerapkan hukum pidana Islam sebagai zawaajir (pencegah kejahatan) sekaligus jawaabir (penebus dosa bagi pelaku yang telah menjalani hukuman). Allah Swt. berfirman:

 وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

“Dalam hukum qishaash itu terdapat jaminan kehidupan bagi kalian, wahai orang-orang yang berakal” (QS. al-Baqarah [2]: 179). Ketegasan hukum bukanlah kekerasan, melainkan perlindungan terhadap agama, jiwa, akal, harta, dan kehormatan manusia.

Selain penegakan hukum, Islam juga mengatasi akar kriminalitas melalui jaminan kebutuhan dasar rakyat, pembukaan lapangan pekerjaan, pengelolaan sumberdaya alam untuk kemaslahatan umum, dan distribusi kekayaan secara adil. Sejarah Khilafah menunjukkan bahwa keamanan dapat terwujud ketika syariah diterapkan secara konsisten dalam bidang akidah, pendidikan, ekonomi, sosial, dan peradilan.

Masyarakat bertakwa, kebutuhan hidup terjamin, aparat bekerja secara profesional, dan hukum ditegakkan tanpa pandang bulu. Karena itu, solusi Islam tidak berhenti pada penambahan patroli atau hukuman semata, tetapi mengembalikan fungsi negara sebagai pengurus rakyat yang menerapkan syariah Islam secara kaaffah dalam seluruh aspek kehidupan melalui institusi pemerintahan Islam, yaitu Khilafah. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia