PENDIDIKAN BERKUALITAS MELAHIRKAN PERADABAN EMAS

PENDIDIKAN BERKUALITAS MELAHIRKAN PERADABAN EMAS

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ ۝١٠٧ (اَلْأَنْبِيَاءُ) 

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Pesan Nabi Muhammad saw.;

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Kemajuan suatu bangsa bukan hanya diukur dari tingginya gedung atau pesatnya pembangunan, tetapi juga dari kualitas pendidikannya. Sebab, pendidikan adalah tempat lahirnya sumber daya manusia yang akan menentukan masa depan negeri. Namun, Indonesia justru dilaporkan termasuk negara dengan anggaran pendidikan terendah, yakni sekitar 1,3% dari PDB, berdasarkan kompilasi data UNESCO Institute for Statistics, World Bank, Geo Factbook, dan Seasia Stats. Di sisi lain, anggaran Perpustakaan Nasional dipangkas hampir separuh, dari Rp721 miliar pada 2025 menjadi Rp377,9 miliar pada 2026, sehingga distribusi buku, terutama ke daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), ikut berkurang. Padahal, meskipun APBN 2026 mengalokasikan Rp757,8 triliun untuk pendidikan, sebagian anggaran tersebut digunakan untuk program lintas sektor, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG), sehingga belum sepenuhnya diarahkan pada peningkatan mutu pendidikan.

Akibatnya, berbagai persoalan pendidikan masih belum terselesaikan. Banyak guru honorer masih menerima penghasilan yang jauh dari kebutuhan hidup layak. Selain itu, sekitar 980 ribu sekolah masih mengalami kerusakan sedang hingga berat. Di banyak daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T), guru dan siswa harus melewati jalan rusak, jembatan rapuh, bahkan medan yang berbahaya untuk mencapai sekolah. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa cita-cita mewujudkan Indonesia Emas 2045 memerlukan perhatian yang lebih besar terhadap pembangunan pendidikan sebagai fondasi kemajuan bangsa.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Jika pendidikan merupakan kunci kemajuan suatu bangsa, lalu bagaimana Islam memandangnya? Islam menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan manusia dan peradaban. Hal ini tampak sejak turunnya wahyu pertama yang memerintahkan membaca (QS. al-'Alaq [96]: 1–5). Allah Swt. juga memuliakan orang-orang yang berilmu. Firman-Nya:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ

"Katakanlah, apakah sama orang-orang yang berpengetahuan dengan orang-orang yang tidak berpengetahuan?" (QS. az-Zumar [39]: 9).

Allah Swt. juga berfirman:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat" (QS. al-Mujâdilah [58]: 11).

Islam bahkan mewajibkan umatnya menuntut ilmu. Allah Swt. berfirman:

فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ

“Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan tentang agama (Islam)” (QS. at-Taubah [9]: 122).

Rasulullah juga bersabda:

 طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

"Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim" (HR. Ibnu Majah).

Nilai-nilai tersebut diwujudkan dalam kebijakan negara sepanjang sejarah peradaban Islam dengan membangun masjid, madrasah, perpustakaan, rumah sakit pendidikan, serta pusat-pusat penerjemahan dan penelitian. Sejarawan George Makdisi dan Jonathan Lyons menjelaskan bahwa peradaban Islam berperan besar dalam menjaga, mengembangkan, dan mentransmisikan ilmu pengetahuan yang kemudian turut memengaruhi kebangkitan intelektual Eropa.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Sejarah membuktikan bahwa peradaban besar lahir dari penghormatan terhadap ilmu. Pada masa Kekhilafahan Islam, negara menjadikan pendidikan dan perpustakaan sebagai prioritas. Pada abad ke-10, Andalusia memiliki sekitar 20 perpustakaan umum, sementara Perpustakaan Cordova menyimpan sekitar 400 ribu judul buku. Bahkan, Darul Hikmah di Kairo memiliki sekitar 2 juta, dan Perpustakaan Tripoli di Syam lebih dari 3 juta judul buku. Sebaliknya, Perpustakaan Gereja Canterbury—yang termasuk terbesar di Eropa abad ke-14—hanya memiliki sekitar 1.800 judul buku.

Dukungan tersebut melahirkan tradisi membaca, menerjemahkan, meneliti, dan mengembangkan ilmu. Jonathan Bloom dan Sheila Blair mencatat bahwa tingkat literasi masyarakat Islam saat itu lebih tinggi daripada Eropa. Dari sinilah lahir ilmuwan-ilmuwan besar, seperti Ibnu Sina, al-Khawarizmi, Jabir bin Hayyan, Ibnu al-Haitsam, dan masih banyak lagi yang memberikan kontribusi besar bagi kemajuan ilmu pengetahuan.

Keunggulan peradaban Islam bahkan diakui oleh Montgomery Watt, yang menyatakan bahwa kemajuan Eropa tidak lepas dari sumbangsih peradaban Islam. Semua itu terjadi karena negara pada masa Kekhilafahan Islam menempatkan pendidikan, guru, ilmuwan, dan perpustakaan sebagai tanggung jawab utama dalam membangun peradaban.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Tujuan pendidikan dalam Islam bukan sekadar mencetak orang yang cerdas, tetapi membentuk kepribadian Islam yang berilmu, berakhlak, dan siap mengemban risalah dakwah. Allah Swt. berfirman:

 فَذَكِّرۡ إِنَّمَآ أَنتَ مُذَكِّرٌ

“Karena itu berilah peringatan, sesungguhnya engkau hanyalah pemberi peringatan” (QS. al-Ghâsyiyah [88]: 21).

Rasulullah juga bersabda:

 خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya” serta

 بَلِّغُوْا عَنِّيْ وَلَوْ آيَةً

“Sampaikan dariku walau satu ayat” (HR. al-Bukhari).

Dengan pendidikan seperti inilah lahir generasi yang menguasai sains dan teknologi sekaligus berdakwah, sehingga ilmu menjadi sarana mewujudkan kemaslahatan dan rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana firman Allah Swt.:

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

”Tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi alam semesta” (QS. al-Anbiyâ’ [29]: 107).

Karena itu, kaum Muslim tidak boleh menjauh dari petunjuk Allah. Allah Swt. telah mengingatkan,

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا

“Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit” (QS. Thâhâ [20]: 124).

Oleh sebab itu, pendidikan Islam harus diterapkan secara menyeluruh agar mampu melahirkan ulama yang menguasai tsaqafah Islam sekaligus ilmuwan yang unggul dalam sains dan teknologi. Hal itu hanya dapat terwujud melalui penerapan Islam secara kaffah dalam institusi Khilafah, sebagaimana yang pernah melahirkan peradaban Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia