MELINDUNGI RAKYAT DARI BENCANA
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلّٰهِ
رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ،
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ
الَّذِيْ
أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ
بِالْهُدَى
وَدِيْنِ
الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ
عَلَى
الدِّيْنِ
كُلِّهِ وَلَوْ
كَرِهَ
الْمُشْرِكُوْنَ،
أَشْهَدُ أَنْ
لَا اِلٰهَ إِلَّا
اللّٰه
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
رَسُوْلُ
اللّٰه،
اَللّٰهُـمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ،
أَمَّا
بَعْدُ.
فَيَا
عِبَادَ
اللّٰه،
أُوْصِيْنِيِ
نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ، فَقَدْ
فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى: كُلُّ
نَفْسٍ
ذَاۤىِٕقَةُ
الْمَوْتِۗ
وَنَبْلُوْكُمْ
بِالشَّرِّ
وَالْخَيْرِ
فِتْنَةًۗ
وَاِلَيْنَا
تُرْجَعُوْنَ ٣٥
(اَلْأَنْبِيَاءُ)
Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia,
hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah
dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa
tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.
Pertama dan paling
utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi
larangan-Nya. Allah Swt. berfirman:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa
kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Hari-hari ini sebagian negeri kita terbakar. Kalimantan,
Papua bahkan di Jawa, api menghanguskan apapun di atasnya. Ribuan hektar hutan
dan lahan lenyap, tersisa abu.
Sementara di Bumi
Flores pada 15 Agustus 2026 diguncang gempa dengan magnitudo 7,7 T. Rumah dan
bangunan hancur. Ribuan orang terpaksa mengungsi.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Bencana alam seperti gempa bumi, banjir, longsor dan
kebakaran merupakan musibah. Musibah tersebut adalah ujian dari Allah Swt. bagi
umat manusia. Allah Swt. berfirman:
كُلُّ
نَفْسٍ
ذَاۤىِٕقَةُ
الْمَوْتِۗ
وَنَبْلُوْكُمْ
بِالشَّرِّ
وَالْخَيْرِ
فِتْنَةًۗ
وَاِلَيْنَا
تُرْجَعُوْنَ
“Setiap yang
bernyawa akan merasakan kematian. Kami menguji kamu dengan keburukan dan
kebaikan sebagai cobaan. Kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.” (QS.
al-Anbiyâ’ [21]: 35).
Islam mewajibkan kita mengimani bahwa semua musibah
adalah ketetapan Allah Swt. Islam juga menuntut kita agar senantiasa ridha dan
bersabar terhadap ketetapan tersebut. Dengan kesabaran tersebut Allah Swt. akan
menggugurkan dosa-dosa pada diri mereka. Sabda Nabi saw.:
مَا
يُصِيبُ
الْمُسْلِمَ
مِنْ نَصَبٍ
وَلَا وَصَبٍ
وَلَا هَمٍّ
وَلَا حُزْنٍ
وَلَا أَذًى وَلَا
غَمٍّ حَتَّى
الشَّوْكَةِ
يُشَاكُهَا
إِلَّا
كَفَّرَ
اللهُ بِهَا
مِنْ خَطَايَاهُ
”Tidaklah seorang Muslim ditimpa kepayahan, penyakit, kegelisahan,
kesedihan, gangguan dan kesusahan hingga duri yang menusuk dirinya melainkan
Allah akan menghapus dosa-dosanya dengan sebab itu.” (HR. Muttafaq
’alayh).
Akan tetapi, bersabar bukan berarti berdiam diri. Kaum
Muslim dituntut untuk berikhtiar guna mengubah keadaan menuju kondisi yang
lebih baik. Allah Swt. berfirman:
اِنَّ
اللّٰهَ لَا
يُغَيِّرُ
مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى
يُغَيِّرُوْا
مَا
بِاَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya
Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada
pada diri mereka.” (QS. ar-Ra’du [13]: 11).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Negeri kita memang berada di kawasan bencana. Karenanya,
mestinya persiapan menghadapi hal itu menjadi suatu keharusan. Termasuk
menyiapkan anggaran yang cukup. Namun faktanya, anggaran kebencanaan malah
dipangkas. Wajar jika kita lihat bagaimana pasca bencana di berbagai daerah,
penanganannya tidak tuntas. Inilah ironi yang terjadi negeri ini.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Jika kita kembali
kepada ajaran Islam, Islam menetapkan Negara adalah penanggung jawab urusan
masyarakat, termasuk dalam pencegahan dan penanggulangan pasca bencana.
Rasulullah saw. bersabda:
فَالأَمِيرُ
الَّذِي
عَلَى
النَّاسِ
رَاعٍ وَهُوَ
مَسْئُولٌ
عَنْهُمْ
”Pemimpin yang mengurus banyak orang itu ibarat penggembala; ia akan
ditanya tentang urusan mereka.” (HR Muttafaq
’alayh).
Negara juga harus melakukan mitigasi bencana secara
menyeluruh. Melalaikan potensi bencana adalah haram karena sama dengan
menghadapkan rakyat pada situasi berbahaya. Rasulullah saw. bersabda:
لَا
ضَرَرَ وَلَا
ضِرَارَ،
مَنْ ضَارَّ
ضَرَّهُ
اللَّهُ،
وَمَنْ
شَاقَّ شَقَّ
اللَّهُ عَلَيْهِ
”Janganlah membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain. Siapa
saja yang membahayakan orang lain, niscaya Allah akan menimpakan bahaya kepada
dirinya. Siapa saja yang mempersulit orang lain, niscaya Allah akan mempersulit
dirinya.” (HR. al-Baihaqi, al-Hakim dan ad-Daruquthni).
Langkah yang wajib dilakukan oleh Negara dalam menghadapi
berbagai potensi bencana adalah sebagai berikut: Pertama, Negara wajib
membangun sistem peringatan dini seperti memasang dan memelihara sistem
pemantauan gempa, tsunami, aktivitas gunung api, cuaca ekstrem, dan banjir.
Dengan itu masyarakat memperoleh informasi secepat mungkin ketika ancaman
muncul.
Kedua, Negara wajib menata
tata ruang berbasis risiko bencana. Negara harus mencegah pembangunan pemukiman,
sekolah, rumah sakit, atau fasilitas vital di kawasan yang sangat rawan
bencana. Pengendalian tata ruang merupakan kunci mengurangi korban dan kerugian
Ketiga, Negara wajib
membangun infrastruktur mitigasi seperti merancang bangunan tahan gempa,
tanggul dan sistem drainase pengendali banjir, normalisasi sungai, sabo dam
(semacam bendungan) untuk menahan lahar gunung berapi, juga membangun jalur dan
tempat evakuasi yang memadai.
Keempat, Negara wajib
mencegah pengrusakan lingkungan seperti pembalakan hutan secara liar, termasuk
pembakaran hutan. Hal ini telah diharamkan berdasarkan sabda Nabi saw.:
مَنْ
قَطَعَ
سِدْرَةً فِي
فَلَاةٍ
يَسْتَظِلُّ بِهَا
ابْنُ
السَّبِيلِ
وَالْبَهَائِمُ
عَبَثًا
وَظُلْمًا
بِغَيْرِ
حَقٍّ
يَكُونُ لَهُ
فِيهَا
صَوَّبَ
اللَّهُ
رَأْسَهُ فِي النَّارِ
”Siapa saja yang menebang pohon bidara yang menaungi ibnu sabil dan
hewan-hewan ternak secara serampangan, zalim dan dengan cara yang tidak
dibenarkan, maka Allah akan menuangkan air panas pada kepalanya di neraka.” (HR. Abu Dawud).
Kelima,
Negara wajib mengedukasi dan simulasi kebencanaan kepada masyarakat. Dengan itu
masyarakat terlatih dalam menghadapi berbagai bencana sehingga dapat melakukan
penyelamatan diri.
Keenam, Negara wajib
memastikan pemulihan pasca bencana berjalan sampai tuntas. Berbagai
infrastruktur yang vital harus segera dibangun agar kehidupan masyarakat dapat
kembali normal. Negara juga harus menjamin pemenuhan kebutuhan hidup warga
terdampak bencana seperti sandang, pangan dan hunian. Termasuk menjamin
pencaharian warganya.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Inilah pandangan Islam. Sangat berbeda dengan sistem yang
berlaku kapitalis-sekuler dalam penanganan bencana.
Dalam Islam, nyawa manusia bukanlah angka statistik. Ia
amat berharga di mata Allah Swt. Itulah sebabnya para khalifah bekerja keras
melindungi rakyatnya saat tertimpa bencana. Saat Madinah dilanda kelaparan
hebat, Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. memerintahkan para gubernur di Irak,
Syam dan Mesir untuk menyuplai bantuan pangan ke Madinah. Akhirnya, krisis
pangan itu dapat diselesaikan oleh Khalifah Umar ra. dan para pejabatnya.
Walhasil, kebutuhan umat akan penegakkan syariah Islam
dan Khilafah sudah amat mendesak. Ini adalah kewajiban agama yang wajib
ditunaikan dengan segera. Hanya dengan syariah Islam dan keberadaan Khilafah
rakyat akan terjaga dan terlindungi dengan nyata. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ،
وَتَقَبَّلَ
مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلَاوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ
الْعَظِيْمَ
لِيْ
وَلَكُمْ،
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ
عَلَى
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَامْتِنَانِهِ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلٰهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أنَّ
سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى
رِضْوَانِهِ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا
اللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا
نَهَى،
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَنَّى
بِمَلَائِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى
أَنْبِيَائِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلَائِكَتِكَ
الْمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ
اللّٰهُمَّ
عَنِ
الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَالتَّابِعِيْنَ
لَهُمْ بِإِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
الْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
اللّٰهُمَّ
أَعِزَّ
الْإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
الْمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَأَعْلِ
كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ
بِهَا
الْإِسْلَامَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ
بِهَا
الْكُفْرَ
وَاَهْلَهُ،
وَاجْعَلْنَا
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
لِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ يَا
أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَالْبَلاَءَ
وَالْوَبَاءَ
وَالزَّلَازِلَ
وَالْمِحَنَ،
وَسُوْءَ
الْفِتَنِ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا
خَاصَّةً
وَسَائِرِ بُلْدَانِ
الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً يَا
رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِى الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالْإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشآءِ
وَالْمُنْكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
الْعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ.



