HANYALAH ISLAM
KHUTBAH PERTAMA
اللّٰهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
النَّبِيِّ
الْأُمِّيِّ،
الصَّادِقِ
الْأَمِيْنِ،
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
حَسُنَ
إِسْلَامُهُمْ.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
أُوْصِيْ نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ، فَقَدْ
فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
اَفَحُكْمَ
الْجَاهِلِيَّةِ
يَبْغُوْنَۗ
وَمَنْ
اَحْسَنُ
مِنَ اللّٰهِ
حُكْمًا لِّقَوْمٍ
يُّوْقِنُوْنَࣖ ٥٠ (اَلْمَائِدَةُ)
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari
mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang
insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga
senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam.
Pertama dan paling
utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi
larangan-Nya. Pesan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam;
اِتَّقِ
اللهَ حَيْثُمَا
كُنْتَ، وَأَتْبِعِ
السَّيِّئَةَ
الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا،
وَخَالِقِ النَّاسَ
بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada.
Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan
menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang
baik.” (HR. Tirmidzi).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Sering kali manusia merasa sudah berada di jalan yang
benar karena memiliki kekuasaan, dukungan, dan program yang terlihat berpihak
kepada rakyat. Namun kebenaran sejati bukan diukur dari pidato dan klaim
semata, melainkan dari apakah aturan dan kebijakan yang dijalankan benar-benar
sesuai dengan hukum Allah Subhanahu wata’ala serta membawa keadilan bagi
masyarakat. Presiden Prabowo menegaskan bahwa pemerintahannya berada di jalan
yang benar, membela keadilan, memberantas kemiskinan, dan diridhai Tuhan. Akan
tetapi, fakta menunjukkan bahwa negeri ini masih dikelola dengan sistem
kapitalisme-sekuler, termasuk dalam praktik utang ribawi yang terus membesar.
Per akhir Maret 2026, utang Indonesia mencapai Rp.9.920,42
triliun atau sekitar 40,75% dari PDB. Pemerintah bahkan menganggarkan Rp.599,4
triliun hanya untuk membayar bunga utang. Laporan Indonesia Strategic and Economic Action
Institution (ISEAI) menyebut utang jatuh tempo tahun 2026 mencapai Rp.833,96 triliun, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia, yang disebut sebagai “tembok utang” (debt
wall). Ironisnya, besarnya utang tersebut belum mampu menurunkan
angka kemiskinan secara signifikan. Menurut catatan World Bank, jumlah warga
miskin Indonesia diperkirakan mencapai 57,2% dari total penduduk, sehingga
Indonesia berada di urutan kedua tingkat kemiskinan tertinggi di Asia Tenggara.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Kadang sebuah negara terlihat kuat dan berdaulat di
hadapan dunia, tetapi dari arah kebijakannya tampak semakin bergantung pada
kekuatan asing. Hal itu pula yang kini banyak disorot dari kedekatan Indonesia
dengan kepentingan Amerika Serikat melalui perjanjian dagang ART, kerja sama
militer MDCP, dan keikutsertaan dalam Board of Peace (BoP). Dalam ART,
Indonesia harus membebaskan bea masuk 99% produk AS, membeli produk Amerika
sekitar Rp.190 triliun, serta membeli pesawat Boeing hingga Rp.557 triliun.
Perjanjian ini dinilai lebih menguntungkan AS dan berpotensi mengganggu
kedaulatan Indonesia.
Sikap Indonesia terhadap Palestina juga makin
dipertanyakan. Presiden Prabowo menyatakan pengakuan Palestina harus disertai
jaminan keamanan bagi Israel, padahal Israel terus melakukan penjajahan dan
serangan ke Gaza. Indonesia juga bergabung dalam Board of Peace bentukan Donald
Trump yang tidak melibatkan Palestina, serta tidak mengecam serangan AS dan
Israel ke Iran maupun tewasnya empat prajurit TNI akibat serangan Israel di
Lebanon. Karena itu, banyak pihak menilai kebijakan tersebut tidak menunjukkan
keberpihakan yang tegas kepada umat dan rakyat tertindas.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Tidak semua yang dianggap baik oleh manusia otomatis
benar di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Jabatan, kekuasaan, dukungan rakyat,
bahkan pujian para ahli bukan ukuran utama kebenaran. Dalam Islam, ukuran benar
dan salah tetap harus dikembalikan kepada dua syarat utama.
Pertama: seorang hamba
dikatakan berada di atas kebenaran ketika mengimani Allah Subhanahu wata’ala
secara haq dan menjadikan-Nya satu-satunya Pembuat hukum kehidupan. Allah Subhanahu
wata’ala mengecam Ahlul Kitab karena menjadikan rahib dan pendeta mereka
sebagai pembuat hukum selain Allah:
اِتَّخَذُوْٓا
اَحْبَارَهُمْ
وَرُهْبَانَهُمْ
اَرْبَابًا
مِّنْ دُوْنِ
اللّٰهِ
”Mereka menjadikan para rahib dan para pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan
selain Allah” (QS. at-Taubah [9]: 31).
Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam menjelaskan bahwa
bentuk “menyembah” itu adalah ketika manusia mengikuti aturan yang menghalalkan
yang haram dan mengharamkan yang halal. Karena itu, seorang Muslim tidak boleh
meninggalkan hukum Allah lalu memakai hukum buatan manusia, termasuk dalam
perkara riba yang jelas diharamkan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
وَذَرُوْا
مَا بَقِيَ
مِنَ الرِّبٰوٓا
اِنْ
كُنْتُمْ
مُّؤْمِنِيْنَ
(278) فَاِنْ
لَّمْ
تَفْعَلُوْا
فَأْذَنُوْا
بِحَرْبٍ
مِّنَ
اللّٰهِ
وَرَسُوْلِهٖۚ...
”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan
tinggalkan sisa-sia riba (yang belum dipungut) jika kalian adalah kaum Mukmin.
Jika kalian tidak meninggalkan sisa-sisa riba itu maka ketahuilah bahwa Allah
dan Rasul-Nya akan memerangi kalian...” (QS. al-Baqarah [2]: 278-279).
Kedua: tanda seorang hamba
mendapat ridha Allah Subhanahu wata’ala adalah menerima dan menjalankan seluruh
aturan-Nya. Seorang penguasa dikatakan berada dalam kebenaran ketika menerapkan
syariah Islam dalam mengatur negara. Allah Subhanahu wata’ala bahkan menyebut
orang yang tidak berhukum dengan hukum-Nya sebagai kafir, zalim, atau fasik.
(QS. al-Mâidah: 44,45,47).
Termasuk kewajiban itu adalah tidak memberi jalan bagi
negara kafir untuk menguasai kaum Muslim, baik melalui utang, penguasaan sumber
daya alam, maupun perjanjian yang merugikan umat. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
وَلَنْ
يَّجْعَلَ
اللّٰهُ
لِلْكٰفِرِيْنَ
عَلَى
الْمُؤْمِنِيْنَ
سَبِيْلًا
“Allah tidak akan memberi jalan bagi orang kafir untuk menguasai kaum
Mukmin.” (QS. an-Nisâ’ [4]: 141).
Karena itu, seorang penguasa Muslim wajib meyakini bahwa
hanya syariah Islam yang mampu menghadirkan keberkahan dan keadilan bagi
rakyat. Tidak ada aturan yang lebih baik daripada hukum Allah Subhanahu
wata’ala. Firman-Nya:
اَفَحُكْمَ
الْجَاهِلِيَّةِ
يَبْغُوْنَۗ
وَمَنْ
اَحْسَنُ
مِنَ اللّٰهِ
حُكْمًا لِّقَوْمٍ
يُّوْقِنُوْنَ
”Apakah hukum
Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang
yang meyakini (agamanya)? “ (QS. al-Mâidah [5]: 50). Wallâhu a‘lam
bish-shawâb.[]
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ،
وَتَقَبَّلَ
مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلَاوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ
الْعَظِيْمَ
لِيْ
وَلَكُمْ،
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ
عَلَى
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَامْتِنَانِهِ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلٰهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أنَّ
سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى رِضْوَانِهِ.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا
اللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا
نَهَى،
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَنَّى
بِمَلَائِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ، وَعَلَى
أَنْبِيَائِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلَائِكَتِكَ
الْمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَالتَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
الْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللّٰهُمَّ
أَعِزَّ
الْإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ مَنْ
نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
الْمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَأَعْلِ
كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ
بِهَا
الْإِسْلَامَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ
بِهَا
الْكُفْرَ
وَاَهْلَهُ،
وَاجْعَلْنَا
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
لِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ يَا
أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَالْبَلاَءَ
وَالْوَبَاءَ
وَالزَّلَازِلَ
وَالْمِحَنَ،
وَسُوْءَ
الْفِتَنِ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا
خَاصَّةً
وَسَائِرِ بُلْدَانِ
الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً يَا
رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِى الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالْإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشآءِ
وَالْمُنْكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
الْعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ.