DI BAWAH KOMANDO NEGARA
KAFIR PENJAJAH
KHUTBAH PERTAMA
اللهُمَّ
فَصَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
كَانَ
صَادِقَ
الْوَعْدِ وَكَانَ
رَسُوْلًا
نَبِيًّا، وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
يُحْسِنُوْنَ
إِسْلاَمَهُمْ
وَلَمْ
يَفْعَلُوْا
شَيْئًا
فَرِيًّا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
اُوْصِيْنِيْ
نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
Alhamdulillâhi
Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang
telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di
tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta
keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Sebagai penyempurna rukun khutbah, saya selaku khatib
tidak bosan-bosannya mengingatkan diri saya pribadi dan seluruh jamaah untuk
selalu mengokohkan iman serta meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi
wasallam:
اِتَّقِ
اللهَ
حَيْثُمَا
كُنْتَ،
وَأَتْبِعِ
السَّيِّئَةَ
الْحَسَنَةَ
تَمْحُهَا،
وَخَالِقِ
النَّاسَ
بِخُلُقٍ
حَسَنٍ
“Bertakwalah
kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan
perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan
bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).
Allah Subhânahu
Wa Ta’âlâ berfirman:
وَتَزَوَّدُوْا
فَاِنَّ
خَيْرَ
الزَّادِ التَّقْوٰىۖ
وَاتَّقُوْنِ
يٰٓاُولِى
الْاَلْبَابِ
“Dan
berbekallah kalian, dan sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku
wahai orang-orang yang berakal” (QS. Al-Baqarah [2]: 197).
Allah juga
berfirman:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali
dalam keadaan muslim.”
(QS. Âli
Imrân
[3]: 102).
Sungguh takwa adalah
benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh,
hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Di saat Ramadhan telah berjalan sepekan dan kaum Muslimin
menahan lapar serta dahaga, penderitaan Gaza justru kian memuncak. Genosida
yang telah menewaskan puluhan ribu jiwa diyakini belum mencapai puncaknya;
kekerasan terus meningkat, termasuk penggunaan bom termobarik bersuhu sekitar
3500°C yang dilaporkan menewaskan ribuan orang hingga jasad hancur seketika.
Serangan terbaru menewaskan sedikitnya 11 warga Palestina, termasuk 5 orang di
kamp Jabalia, sementara kontrol atas Tepi Barat semakin diperluas. Ironisnya,
semua ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump membentuk Dewan Perdamaian
(BoP) yang memasukkan Israel tetapi tidak melibatkan Palestina; Indonesia pun
bergabung dan berencana mengirim sekitar 8.000 personel pasukan “perdamaian”,
padahal Trump dikenal pro-Israel, sehingga memunculkan pertanyaan syar’i
tentang keabsahan mengirim pasukan Muslim di bawah komando negara yang
mendukung penjajahan atas kaum Muslim.
Di tengah makin brutalnya serangan atas Gaza dan
perluasan kontrol di Tepi Barat, BoP dipandang justru menjadi sarana
penyelamatan penjajah: tawanan mereka harus dibebaskan, sementara senjata para
pejuang Palestina—khususnya Hamas—dituntut dilucuti, yang berarti membuka jalan
bagi pembantaian tanpa perlawanan. Hal ini menegaskan bahwa BoP dinilai bukan
soal perdamaian, melainkan soal siapa yang mengatur dan mengendalikan
Palestina—yakni Amerika Serikat sebagai pemegang hegemoni global. Karena itu
negeri-negeri Muslim anggota BoP semestinya tidak mudah terperdaya oleh diksi
“perdamaian” versi AS, sebab di baliknya dinilai tersimpan kepentingan dan
kekuasaan imperialis yang menuntut kecermatan dalam membaca geopolitik dunia
saat ini.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Dalam pandangan Islam haram bersekutu dengan negara kafir
penjajah seperti AS, karena hal itu termasuk persekutuan dalam dosa dan
kezaliman. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman:
وَتَعَاوَنُوْا
عَلَى
الْبِرِّ
وَالتَّقْوٰىۖ
وَلَا
تَعَاوَنُوْا
عَلَى
الْاِثْمِ
وَالْعُدْوَانِ
”Tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan takwa. Jangan kalian
tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. al-Mâidah
[5]: 2).
Imam al-Qurthubi dalam Al-Jaami’ li Ahkaam al-Qur’aan
menjelaskan bahwa larangan ini bersifat umum atas segala bentuk kolaborasi yang
mengantarkan pada kezaliman (al-‘udwân). Karena itu, keterlibatan dalam
struktur komando militer yang dipimpin negara kafir pendukung agresi berpotensi
menjadi bentuk ta’aawun ‘alaa al-itsm (tolong-menolong dalam dosa).
Allah Subhânahu wa Ta’âlâ juga memperingatkan:
وَلَا
تَرْكَنُوْٓا
اِلَى
الَّذِيْنَ
ظَلَمُوْا
فَتَمَسَّكُمُ
النَّارُۙ
وَمَا لَكُمْ
مِّنْ دُوْنِ
اللّٰهِ مِنْ
اَوْلِيَاۤءَ
ثُمَّ لَا
تُنْصَرُوْنَ
”Janganlah kalian cenderung kepada orang-orang zalim yang bisa
mengakibatkan kalian disentuh oleh api neraka. Sekali-kali kalian tidak
mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kalian tidak akan diberi
pertolongan.” (QS. Hûd [11]: 113).
Keanggotaan negeri-negeri Muslim dalam aliansi semacam
BoP dinilai sebagai bentuk kecenderungan kepada kezaliman, karena menempatkan
mereka dalam orbit kepentingan geopolitik penjajah—baik melalui koordinasi
militer, keamanan maupun kebijakan luar negeri—yang berpotensi mengikis
independensi siyaasah syar’iyyah dan menggeser orientasi politik dari
pembelaan umat tertindas menuju penyesuaian agenda hegemonik. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ
أَعَانَ
عَلَى
خُصُومَةٍ
بِظُلْمٍ
فَقَدْ بَاءَ
بِسَخَطٍ
مِنَ اللَّهِ
”Siapa saja yang membantu dalam permusuhan dengan kezaliman, maka ia
kembali dengan kemurkaan Allah.” (HR Abu Dawud).
Demikian pula bergabung dalam pasukan di bawah
kepemimpinan negara kafir harbi dihukumi haram. Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani
dalam Asy-Syakhshiyyah al-Islaamiyyah (1/219) menegaskan bahwa aliansi militer
dengan negara kafir adalah batil dari asasnya, tidak sah secara syar’i, karena
menjadikan kaum Muslim berperang di bawah kepemimpinan dan bendera kekufuran.
Ia juga menafsirkan hadits
لاَ
تَسْتَضِيْئُوْا
بِنَارِ
الْمُشْرِكِيْنِ
”Janganlah kalian meminta penerangan dari api kaum musyrik” (HR. Ahmad dan
an-Nasa’i) sebagai larangan berperang bersama dan mengikuti
kepemimpinan kaum musyrik; kata “api” (an-naar) merupakan kinaayah atas
perang. Dengan demikian, berperang hanya dibenarkan di bawah kepemimpinan
Muslim dan bendera Islam.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Keanggotaan negeri-negeri Muslim dalam struktur seperti
BoP dinilai berpotensi menghilangkan kedaulatan efektifnya, yakni kedaulatan
hukum syariah. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan:
السِّيَادَةُ
لِلشَّرْعِ،
لاَ
لِلشَّعْبِ
“Kedaulatan (hak
membuat hukum) adalah milik syariah, bukan rakyat.” (Ad-Dawlah
al-Islaamiyyah, hal. 222). Syaikh Abdul Qadim Zallum juga menyatakan bahwa
Allah-lah satu-satunya Pembuat hukum dan manusia wajib menjalankan seluruh amal
sesuai perintah dan larangan-Nya (Ad-Diimuqrathiyyah Nizhaam Kufr[in], hal.
32). Karena itu, keputusan politik luar negeri wajib tunduk pada syariah, bukan
pada pragmatisme geopolitik; tunduk pada komando negara kafir harbi berarti
mengikis independensi siyaasah syar’iyyah dan menunjukkan loyalitas politik
yang terlarang. Dalam hal ini berlaku kaidah fikih:
الوَسِيْلَةُ
إِلَى
اْلحَراَمِ
حَرَامٌ
”Sarana yang mengantarkan pada yang haram adalah haram.”
Dalam kerangka maqaashid asy-syarii‘ah,
sebagaimana dirumuskan Imam asy-Syathibi dalam Al-Muwaafaqaat, syariah
bertujuan menjaga agama (hifzhu ad-diin), jiwa (hifzhu an-nafs),
serta—dalam konteks politik kontemporer—wilayah dan kedaulatan. Pengiriman
pasukan Muslim di bawah komando kekuatan kafir penjajah dinilai berpotensi
melemahkan perlindungan agama, mengancam keselamatan jiwa, merusak prinsip
penjagaan wilayah, melemahkan ukhuwah islamiyah, serta mengaburkan batas antara
al-haqq dan al-baathil. Jika secara empiris langkah tersebut
memperkuat struktur ketidakadilan, maka ia bertentangan dengan tujuan
fundamental syariah; karena itu, secara syar’i hukumnya haram. Semestinya
negeri-negeri Muslim bersatu di bawah komando seorang khalifah dalam naungan
Khilafah Islam yang menyerukan jihad fi sabilillah melawan penjajahan Zionis
Yahudi yang didukung oleh negara agresor AS. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.
Demikianlah yang
dapat saya sampaikan dalam khutbah Jum’at pada kesempatan kali ini. Ketahuilah
bahwa segala kesempurnaan hanya milik Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ. Apa pun
yang benar dari apa yang saya sampaikan adalah semata-mata berkat petunjuk-Nya
melalui Rasul-Nya, maka marilah kita berpegang teguh kepadanya.
Sebagai penutup,
mari kita akhiri khutbah ini dengan berdoa bersama. Semoga kita semua
senantiasa dianugerahi kesehatan lahir dan batin, serta keberkahan dunia dan
akhirat. Semoga Allah memberi kita hidayah, inayah, dan kekuatan, sehingga kita
dapat menjadi bagian dari para dai yang selalu bersungguh-sungguh menegakkan
syariat Islam secara kaffah, meneladani Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam hingga akhir hayat dalam keadaan husnul khâtimah.
Âmîn yâ Rabbal-‘âlamîn.[]
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
اْلقُرْآنِ
اْلعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيمِ
وَتَقَبَّلَ
اللهُ مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
العَلِيْمُ،
وَأَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
فَأسْتَغْفِرُ
اللهَ
العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ عَلىَ
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
اِلٰهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى
رِضْوَانِهِ،
اللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
اٰلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
اَيُّهَا
النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَـنَّى
بِمَلآ
ئِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلآئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِى
يآ اَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى
اَنْبِيآئِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلآئِكَةِ
اْلمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِي، وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَتَابِعِي
التَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ
اَلاَحْيآءَ
مِنْهُمْ
وَاْلاَمْوَاتِ،
اللّٰهُمَّ أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَاْلمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
اْلمُوَحِّدِيْنَ،
وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
اْلمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ
يَا
مُنْـزِلَ
الْكِتَابِ
وَمُهْزِمَ
اْلأَحْزَابِ
اِهْزِمِ
اْليَهُوْدَ
وَاَعْوَانَهُمْ
وَصَلِيْبِيِّيْنَ
وَاَنْصَارَهُمْ
وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ
وَاِخْوَانَهُمْ
وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ
وَشُيُوْعِيِّيْنَ
وَاَشْيَاعَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ
نَجِّ
إِخْوَانَنَا
الْمُؤْمِنِيْنَ
الْمُسْتَضْعَفِيْنَ
فِي
فَلَسْطِيْنَ
وَفِي كُلِّ
مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ
انْصُرْ
إخْوَانَنَا
الْمُجَاهِدِيْنَ
فِي
سَبِيْلِكَ
عَلَى
أَعْدَائِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
دَوْلَةَ
الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ بِهَا
اْلإِسْلاَمَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ بِهَا
الْكُفْرَ
وَاَهْلَهُ،
وَ اجْعَلْنَا
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
بِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَاْلبَلاَءَ
وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ
وَاْلمِحَنَ،
وَسُوْءَ
اْلفِتْنَةِ
وَاْلمِحَنَ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا
اِنْدُونِيْسِيَّا
خآصَّةً
وَسَائِرِ
بُلْدَانِ
اْلمُسْلِمِيْنَ
عآمَّةً يَا رَبَّ
اْلعَالَمِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِناَ فِى
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
اْلآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَا
وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِاْلعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي
اْلقُرْبىَ
وَيَنْهَى
عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِ
وَاْلبَغْي
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
اْلعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلىَ
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ