PASCA RAMADHAN
KHUTBAH PERTAMA
اللّٰهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
النَّبِيِّ
الْأُمِّيِّ،
الصَّادِقِ
الْأَمِيْنِ،
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
حَسُنَ
إِسْلَامُهُمْ.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
أُوْصِيْ نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ، فَقَدْ
فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia,
hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah
dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa
tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad Shallallâhu ‘alaihi
wasallam.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita
kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Pesan Nabi Shallallâhu ‘alaihi
wasallam;
اِتَّقِ
اللهَ
حَيْثُمَا
كُنْتَ،
وَأَتْبِعِ
السَّيِّئَةَ
الْحَسَنَةَ
تَمْحُهَا،
وَخَالِقِ
النَّاسَ
بِخُلُقٍ
حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada.
Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan
menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang
baik.” (HR.
Tirmidzi).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Ramadhan telah berlalu. Berbagai kenikmatan dan
keutamaan yang Allah hamparkan sepanjang bulan itu kini sudah terhenti. Saatnya
kita membuktikan, apakah kita sukses menjalani Ramadhan atau justru kita tak
ada bedanya dengan sebelum-sebelumnya?
Setidaknya ada tiga kelompok manusia, pasca Ramadhan. Kelompok
pertama, adalah
Muslim yang sebelum dan sesudah Ramadhan sama saja. Sama-sama
mengabaikan ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Inilah yang disebut oleh
Allah Subhanahu wata’ala sebagai kelompok binatang ternak:
وَلَقَدْ
ذَرَأْنَا
لِجَهَنَّمَ
كَثِيْرًا
مِّنَ
الْجِنِّ
وَالْاِنْسِۖ
لَهُمْ قُلُوْبٌ
لَّا
يَفْقَهُوْنَ
بِهَاۖ
وَلَهُمْ
اَعْيُنٌ
لَّا
يُبْصِرُوْنَ
بِهَاۖ وَلَهُمْ
اٰذَانٌ لَّا
يَسْمَعُوْنَ
بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ
كَالْاَنْعَامِ
بَلْ هُمْ
اَضَلُّۗ
اُولٰۤىِٕكَ
هُمُ
الْغٰفِلُوْنَ
“Sungguh, Kami benar-benar telah menyediakan untuk Neraka Jahanam
kebanyakan makhluk dari kalangan jin dan manusia (karena kesesatan mereka). Mereka
memiliki hati yang tidak mereka gunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah).
Mereka memiliki mata yang tidak mereka gunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah).
Mereka pun memiliki telinga yang tidak mereka gunakan untuk mendengarkan
(ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi.
Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS. al-A’râf [7]: 179).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Kelompok kedua, Muslim yang sebelum
Ramadhan jauh dari Allah Subhanahu wata’ala, tapi ketika Ramadhan mereka
bersungguh-sungguh mengerjakan ibadah (shaum, tadarrus dan tarawih sepanjang
Ramadhan). Namun setelah Ramadhan, rangkaian amal shalih itu
kembali menghilang. Ulama salafus-shalih menyebut kelompok ini sebagai “Hamba
Ramadhan”. Mereka baru mau mendekati Allah hanya pada bulan Ramadhan saja. Imam
Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahulLaah berkata;
بِئْسَ
القَوْمُ لَا
يَعْرِفُوْنَ
اللَّهَ
إِلَّا فِي
رَمَضَانَ،
إِنَّ
الصَّالِحَ الَّذِي
يَتَعَبَّدُ
وَيَجْتَهِدُ
السَّنَةَ
كُلَّهَا
“Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal hak Allah, kecuali hanya pada bulan Ramadhan
saja. Sungguh seorang yang benar-benar shalih itu adalah orang yang istiqamah
beribadah dan bersungguh-sungguh (taat kepada Allah SWT) sepanjang tahun.” (Ibnu Rajab,
Lathaa'if al-Ma'aarif, hlm. 222).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Kelompok ketiga, adalah Muslim
yang sebelum Ramadhan memang sudah dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala.
Mereka taat menjalankan aturan Allah. Saat Ramadhan ketaatan mereka semakin
bertambah. Usai Ramadhan pun mereka tetap bekerja keras menjaga ketaatan
tersebut. Inilah golongan yang beruntung.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Seorang Muslim yang bertahan dalam ketakwaan usai
Ramadhan menunjukkan bahwa amal-amal ibadahnya selama bulan Ramadhan diterima.
Sebaliknya, jika ketakwaan ikut pudar bersama berakhirnya Ramadhan, itu tanda
amal-amalnya selama bulan Ramadhan tertolak. Setidaknya, itulah yang dinyatakan
oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, “Kembali berpuasa (yakni puasa sunnah pada
Bulan Syawal) setelah menunaikan puasa Ramadhan adalah salah satu tanda amalan
puasa Ramadhan itu diterima oleh Allah Subhanahu wata’ala. Sebabnya, jika Allah
menerima amalan seorang hamba, Allah akan memberi dia taufik untuk melakukan
amalan shalih selanjutnya setelah itu. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian
ulama;
ثَوَابُ
الْحَسَنَةِ
الْحَسَنَةُ
بَعْدَهَا،
فَمَنْ
عَمِلَ
حَسَنَةً
ثُمَّ أَتْبَعَهَا
بَعْدَهَا
بِحَسَنَةٍ،
كَانَ ذٰلِكَ
عَلَامَةً
عَلَى
قَبُولِ
الْحَسَنَةِ
الْأُولَى،
كَمَا أَنَّ
مَنْ عَمِلَ
حَسَنَةً
ثُمَّ
أَتْبَعَهَا
بِسَيِّئَةٍ،
كَانَ ذٰلِكَ
عَلَامَةَ
رَدِّ
الْحَسَنَةِ
وَعَدَمِ
قَبُولِهَا
“‘Imbalan (pahala) atas kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.’ Oleh
karena itu, siapa saja yang melakukan kebaikan, lalu dia ikuti dengan kebaikan
selanjutnya, maka itu tanda amalan kebaikan sebelumnya diterima oleh Allah Subhanahu
wata’ala. Sebaliknya, siapa saja yang melakukan kebaikan, lalu setelahnya malah
dia ikuti dengan kejelekan, maka itu tanda kebaikan tersebut tertolak dan tidak
diterima oleh Allah.” (Ibnu Rajab, Lathaa-if al-Ma’aarif, hlm. 388).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Oleh karena itu, mari kita rawat ketakwaan, buah
Ramadhan kita. Caranya;
Pertama, jadikan ridha
Allah sebagai tujuan tertinggi dalam hidup ini. Ingat pesan Nabi Shallallâhu ‘alaihi
wasallam:
مَنِ
الْتَمَسَ
رِضَاءَ
اللَّهِ
بِسَخَطِ النَّاسِ
كَفَاهُ
اللَّهُ
مُؤْنَةَ
النَّاسِ
وَمَنِ
الْتَمَسَ
رِضَاءَ
النَّاسِ بِسَخَطِ
اللَّهِ
وَكَلَهُ
اللَّهُ
إِلَى النَّاسِ
“Siapa saja yang mencari ridha Allah meski dia harus dimurkai oleh
manusia, maka Allah akan menjaga dirinya dari gangguan manusia. Siapa saja yang
mencari ridha manusia, tetapi dengan membuat Allah murka, maka Allah akan
menyerahkan dirinya kepada manusia.” (HR.
at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban).
Kedua, takutlah kepada
Allah Subhanahu wata’ala agar terjaga dari perbuatan maksiat.
Ketiga, terima Islam
secara kaaffah dan tidak memilah-milah aturan Allah Subhanahu wata’ala.
Ibadah yang khusyu’ serta berjuang demi tegaknya Islam di seluruh aspek
kehidupan.
Keempat, jangan
menunda-nunda pengerjaan amal shalih, terutama amal-amal yang wajib.
Kelima, berikan al-walaa’
(loyalitas) hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, serta al-baraa’ (berlepas
diri) dari orang-orang kafir.
Keenam, bersabarlah
dalam ketaatan. Sesungguhnya menjadi hamba Allah yang bertakwa akan menghadapi
berbagai ujian. Ingat pesan Nabi Shallallâhu ‘alaihi
wasallam:
يَأْتِي
عَلَى
النَّاسِ
زَمَانٌ
القَابِضُ
عَلَى
دِيْنِهِ
كَالْقَابِضِ
عَلَى الْجَمْر
“Akan datang kepada manusia suatu zaman saat orang yang berpegang teguh
pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR.
at-Tirmidzi).
Semoga kita semua menjadi hamba yang bertakwa, meski
Ramadhan telah tiada. Aamiin.
Demikianlah yang
dapat saya. Sebagai penutup, mari kita akhiri khutbah ini dengan berdoa
bersama. Semoga kita semua senantiasa dianugerahi kesehatan lahir dan batin,
serta keberkahan dunia dan akhirat. Semoga Allah memberi kita hidayah, inayah,
dan kekuatan, sehingga kita dapat menjadi bagian dari para dai yang selalu
bersungguh-sungguh menegakkan syariat Islam secara kaffah, meneladani Nabi
Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam hingga akhir hayat dalam keadaan husnul khâtimah.
Âmîn yâ Rabbal-‘âlamîn.[]
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ،
وَتَقَبَّلَ
مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلَاوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ
الْعَظِيْمَ
لِيْ
وَلَكُمْ،
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ
عَلَى
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَامْتِنَانِهِ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلٰهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أنَّ
سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى رِضْوَانِهِ.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا
اللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا
نَهَى،
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَنَّى
بِمَلَائِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ، وَعَلَى
أَنْبِيَائِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلَائِكَتِكَ
الْمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَالتَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
الْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللّٰهُمَّ
أَعِزَّ
الْإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ عِبَادَكَ
الْمُوَحِّدِيْنَ،
وَانْصُرْ مَنْ
نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
الْمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَأَعْلِ
كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ
يَا
مُنْـزِلَ
الْكِتَابِ
وَهَازِمَ
الْأَحْزَابِ،
اِهْزِمِ
الْيَهُوْدَ
وَأَعْوَانَهُمْ،
وَالصَّلِيْبِيِّيْنَ
وَأَنْصَارَهُمْ،
وَالرَّأْسُمَالِيِّيْنَ
وَإِخْوَانَهُمْ،
وَالْاِشْتِرَاكِيِّيْنَ
وَالشُّيُوْعِيِّيْنَ
وَأَشْيَاعَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ
نَجِّ
إِخْوَانَنَا
الْمُؤْمِنِيْنَ
الْمُسْتَضْعَفِيْنَ
فِي
فَلَسْطِيْنَ
وَفِي كُلِّ
مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ
انْصُرْ
إخْوَانَنَا
الْمُجَاهِدِيْنَ
فِي
سَبِيْلِكَ
عَلَى
أَعْدَائِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ
بِهَا
الْإِسْلَامَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ
بِهَا
الْكُفْرَ
وَاَهْلَهُ،
وَاجْعَلْنَا
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
لِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ يَا
أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَالْبَلاَءَ
وَالْوَبَاءَ
وَالزَّلَازِلَ
وَالْمِحَنَ،
وَسُوْءَ
الْفِتَنِ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا
خَاصَّةً
وَسَائِرِ بُلْدَانِ
الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً يَا
رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِى الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَا
وَإنْ لَمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالْإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشآءِ
وَالْمُنْكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
الْعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ.