CARA
ISLAM MEMBERANTAS KEJAHATAN SEKSUAL
KHUTBAH PERTAMA
اللّٰهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
النَّبِيِّ
الْأُمِّيِّ،
الصَّادِقِ
الْأَمِيْنِ،
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
حَسُنَ
إِسْلَامُهُمْ.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
أُوْصِيْ نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ، فَقَدْ
فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
وَلَا
تَقْرَبُوا
الزِّنٰىٓ
اِنَّهٗ كَانَ
فَاحِشَةًۗ
وَسَاۤءَ
سَبِيْلًا ٣٢
(اَلْإِسْرَاءُ)
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari
mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang
insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga
senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam.
Pertama dan paling
utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi
larangan-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa
kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Kerusakan besar
tidak muncul tiba-tiba, tetapi berawal dari hal kecil yang diabaikan hingga
batas benar dan salah kabur, rasa malu memudar, dan amanah ditinggalkan.
Dampaknya kini nyata: kejahatan seksual marak di lingkungan pendidikan, dari
kampus hingga sekolah dan pesantren, dengan pelaku mulai dari mahasiswa hingga
guru, kepala sekolah, bahkan guru besar dan pengelola pondok, menunjukkan tidak
ada tempat yang benar-benar aman.
Data 2025
mencatat 6.767 kasus dengan 5.832 korban perempuan; di ranah digital meningkat
dari 940 kasus (2020) menjadi 1.846 kasus (2025). Di satuan pendidikan,
kekerasan seksual mendominasi 57,65%, melampaui perundungan (22,31%) dan
kekerasan fisik (18,89%). Lebih memilukan, pelaku sering orang terdekat,
termasuk keluarga sendiri, hingga menyebabkan korban hamil—peringatan serius
bahwa kerusakan moral telah meluas dan menuntut perbaikan bersama.
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Selama akar
persoalan tidak disentuh, upaya yang ada hanya menjadi solusi semu. Hal ini
terlihat pada maraknya kekerasan seksual di tanah air; negara dinilai belum
mampu melindungi warga meski telah ada UU No. 12 Tahun 2022 (UU TPKS).
Faktanya, kasus terus terjadi, sanksi masih diperdebatkan—dari kebiri hingga
alasan HAM—dan hukuman penjara dinilai ringan, rata-rata sekitar 87 bulan (7
tahun 3 bulan) untuk pemerkosaan, menunjukkan pendekatan yang masih kuratif dan
belum memberi efek jera.
Akar masalahnya
adalah cara pandang yang merendahkan perempuan sebagai objek pemuas nafsu dalam
ideologi kapitalisme-sekuler, yang diperkuat media dan tingginya akses
pornografi, bahkan mendorong sebagian perempuan mengeksploitasi diri dengan
narasi “my body is my right”, sehingga kekerasan seksual terus meningkat
dan korban pun semakin banyak.
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Solusi yang
tuntas tidak hanya menghukum akibat, tetapi juga menutup seluruh pintu yang
mengarah kepada kerusakan sejak dari akarnya.
Pertama, Islam sebagai sebuah ideologi memberikan solusi yang
menyeluruh terhadap kejahatan seksual, mulai dari aspek preventif hingga
kuratif, dengan menjadikan iman dan takwa sebagai fondasi utama dalam interaksi
pria dan wanita. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
وَالْمُؤْمِنُوْنَ
وَالْمُؤْمِنٰتُ
بَعْضُهُمْ
اَوْلِيَاۤءُ
بَعْضٍۘ
يَأْمُرُوْنَ
بِالْمَعْرُوْفِ
وَيَنْهَوْنَ
عَنِ الْمُنْكَرِ
”Kaum Mukmin,
lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain.
Mereka melakukan amar makruf nahi mungkar” (QS. at-Taubah [9]: 71).
Nabi Shallallâhu
‘alaihi wasallam juga bersabda:
اِتَّقُوا
اللهَ فِـي
النِّسَـاءِ
”Bertakwalah pada
Allah dalam urusan kaum perempuan...” (HR Muslim). Serta sabdanya :
إِنَّمَا
النِّسَاءُ
شَقَائِقُ
الرِّجَالِ
”Perempuan itu
saudara kandung laki-laki” (HR Abu Dawud).
Dengan landasan
ini, pria dan wanita menjaga kehormatan diri, dan tidak ada ruang bagi
pornografi karena diharamkan serta merusak interaksi.
Kedua, Islam juga menetapkan aturan preventif yang jelas
dalam menjaga interaksi, yaitu kewajiban menutup aurat dan menjaga pandangan
bagi laki-laki dan perempuan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
قُلْ
لِّلْمُؤْمِنِيْنَ
يَغُضُّوْا
مِنْ اَبْصَارِهِمْ
وَيَحْفَظُوْا
فُرُوْجَهُمْۗ
ذٰلِكَ
اَزْكٰى
لَهُمْۗ
اِنَّ
اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ
بِمَا
يَصْنَعُوْنَ
”Katakanlah
kepada kaum Mukmin, ”Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara
kemaluan mereka. Yang demikian adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya
Allah Mahatahu atas apa saja yang mereka perbuat.” (QS. an-Nûr [24]: 30).
Aturan ini bukan
untuk mendiskreditkan perempuan, tetapi untuk menjaga kemuliaan dan mencegah
timbulnya kejahatan.
Ketiga, Islam melarang segala bentuk interaksi yang membuka
peluang maksiat seperti khalwat (berdua-duaan pria-wanita tanpa mahram), pergaulan bebas, serta aktivitas yang merusak
seperti pesta dan klub malam.
Keempat, Islam mengharamkan perbuatan mendekati zina dan
perzinaan sekalipun dilakukan dengan consent (mau sama mau), sebagaimana
firman Allah:
وَلَا
تَقْرَبُوا
الزِّنٰىٓ
اِنَّهٗ كَانَ
فَاحِشَةًۗ
وَسَاۤءَ
سَبِيْلًا
”Janganlah kalian
mendekati zina. Sesungguhnya zina itu perbuatan keji dan jalan yang buruk” (QS. al-Isrâ’ [17]: 32), sekaligus
menghalalkan pernikahan sebagai jalan yang sah.
Kelima, Dari sisi kuratif, Islam menetapkan sanksi tegas
untuk memberi efek jera. Pelaku pelecehan dikenai sanksi ta’zir seperti
penjara, cambuk, atau pengasingan.
Pelaku
pemerkosaan dikenai hukuman cambuk 100 kali jika belum menikah atau rajam
hingga mati jika sudah menikah, dengan tambahan sanksi bila disertai kekerasan.
Korban wajib dilindungi dan direhabilitasi oleh negara. Hukum ini berlaku bagi
laki-laki maupun perempuan tanpa diskriminasi. Sementara itu, hukuman kebiri
tidak dibenarkan dalam Islam, sebagaimana Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam
menolak praktik tersebut dalam hadits riwayat Imam al-Bukhari. Dengan sistem
ini, Islam tidak hanya menghukum pelaku, tetapi juga menutup seluruh celah
terjadinya kejahatan sejak awal.
Tentu saja
pemberantasan tindak kejahatan seksual tidak mungkin bisa dilakukan dalam
sistem liberalisme-sekulerisme seperti hari ini. Semua hanya bisa dilakukan
dengan pemberlakuan syariah Islam secara kaaffah dalam institusi
pemerintahan Islam (Khilafah). Keberadaan Khalifah dalam sistem Khilafah akan
menjadi junnah (perisai) yang melindungi rakyatnya. Wallâhu a‘lam
bish-shawâb.[]
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ،
وَتَقَبَّلَ
مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلَاوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ
الْعَظِيْمَ
لِيْ
وَلَكُمْ،
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ
عَلَى
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَامْتِنَانِهِ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلٰهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أنَّ
سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى رِضْوَانِهِ.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا
اللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا
نَهَى،
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَنَّى
بِمَلَائِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ، وَعَلَى
أَنْبِيَائِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلَائِكَتِكَ
الْمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَالتَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
الْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللّٰهُمَّ
أَعِزَّ
الْإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ مَنْ
نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
الْمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَأَعْلِ
كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ
بِهَا
الْإِسْلَامَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ
بِهَا
الْكُفْرَ
وَاَهْلَهُ،
وَاجْعَلْنَا
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
لِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ يَا
أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَالْبَلاَءَ
وَالْوَبَاءَ
وَالزَّلَازِلَ
وَالْمِحَنَ،
وَسُوْءَ
الْفِتَنِ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا
خَاصَّةً
وَسَائِرِ بُلْدَانِ
الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً يَا
رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِى الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالْإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشآءِ
وَالْمُنْكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
الْعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ.