SAATNYA UMAT BERSATU MEMBANGUN KEKUATAN GLOBAL

SAATNYA UMAT BERSATU MEMBANGUN KEKUATAN GLOBAL

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ ۝٧ (مُحَمَّدٌ) 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam.

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Di saat dunia dipenuhi kabar perang dan penderitaan, ada satu hal yang patut kita pikirkan bersama: ke mana arah semua peristiwa ini, dan siapa yang benar-benar dibela? Pada 28 Februari 2026, pecah perang AS–Israel melawan Iran. Iran membalas dengan rudal dan drone hingga menutup Selat Hormuz. Meski AS telah menghabiskan sekitar US$12 miliar (Rp203,8 triliun), kekuatannya tidak sepenuhnya efektif dan dukungan Eropa melemah. Upaya damai di Islamabad gagal, bahkan serangan ke Lebanon, termasuk Beirut, menewaskan 254 orang dan melukai lebih dari 1.165 orang.

Dalam gencatan senjata yang rapuh, perundingan tidak menyentuh Palestina dan Gaza. Iran fokus pada kepentingannya, sementara sebagian negara Muslim justru terlihat membantu pihak yang terdesak. Padahal mereka punya kekuatan besar, namun tidak digunakan untuk membela umat. Sementara itu, penderitaan di Al-Aqsha dan Gaza terus berlangsung. Maka pertanyaannya: mengapa negara yang kuat diam, dan siapa sebenarnya yang dibela?

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Dengan berbagai peristiwa dunia yang tengah terjadi, sudah saatnya kita melihat dengan jernih dan mengambil pelajaran yang mendalam. Pertanyaannya sederhana: para penguasa ini sebenarnya melindungi siapa? Apakah mereka benar-benar berdiri bersama umat, atau justru menjadi pelindung kepentingan asing? Fakta menunjukkan bahwa yang mereka jaga adalah stabilitas hegemoni Amerika, dan yang diselamatkan adalah citra kekuatan besar yang mulai melemah. Sementara itu, umat kembali dibiarkan menanggung penderitaan. Allah Subhanahu wata’ala telah mengingatkan dalam firman-Nya:

اَلْمُنٰفِقُوْنَ وَالْمُنٰفِقٰتُ بَعْضُهُمْ مِّنْۢ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوْفِ وَيَقْبِضُوْنَ اَيْدِيَهُمْۗ نَسُوا اللّٰهَ فَنَسِيَهُمْۗ اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ

Kaum munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama. Mereka menyuruh kepada yang mungkar dan melarang dari yang makruf serta menggenggam tangannya (kikir). Mereka telah melupakan Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah [9]: 67).

Umat Islam sebenarnya memiliki potensi kekuatan yang sangat besar, baik dari sisi militer, sumber daya alam—dengan sekitar 48% cadangan minyak dunia dan 17% cadangan gas—maupun posisi geopolitik strategis seperti Selat Hormuz, Terusan Suez, dan Selat Malaka. Namun, potensi ini belum digunakan untuk membela umat, bahkan sering dimanfaatkan untuk menjaga kepentingan kekuatan besar. Inilah tragedi umat saat ini: bukan karena tidak punya kekuatan, tetapi karena tidak adanya kepemimpinan yang menyatukan sejak runtuhnya institusi politik Islam yang dahulu mempersatukan kaum Muslim.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Dengan begitu panjangnya penderitaan umat, maka sangat penting bagi kita untuk melihat akar persoalan dan arah jalan keluarnya.

Penjajahan atas negeri-negeri Muslim oleh kekuatan Barat masih terus berlangsung hingga hari ini, salah satunya karena umat terpecah dalam sekat nasionalisme. Akibatnya, kekuatan besar yang dimiliki umat tidak pernah benar-benar digunakan untuk melawan. Karena itu, umat Islam tidak boleh diam. Haram bagi kaum Muslim berdiam diri, dan haram pula bagi para penguasa tunduk pada kepentingan penjajah, seperti membuka pangkalan militer untuk AS, mendukung Israel, atau bekerja sama dalam bidang strategis yang merugikan umat. Sejarah telah menunjukkan bahwa kebangkitan tidak lahir dari penguasa yang tunduk, tetapi dari umat yang sadar dan bangkit dengan kekuatannya sendiri.

Umat Islam sejatinya memiliki potensi yang sangat besar. Jika seluruh kekuatan militer, ekonomi, dan politik negeri-negeri Muslim disatukan di bawah kepemimpinan yang independen, maka peta dunia akan berubah. Umat tidak lagi menjadi objek permainan kekuatan global, tetapi menjadi penentu arah sejarah. Karena itu, siklus ketergantungan kepada kekuatan asing harus diputus. Selama umat masih bergantung pada penguasa yang terikat kepentingan luar, selama itu pula penderitaan akan terus berulang. Allah Subhanahu wata’ala telah memberikan janji-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (QS. Muhammad [47]: 7).

Agenda besar umat Islam hari ini adalah menolong agama Allah dan menyatukan kekuatan mereka dalam satu kepemimpinan yang mempersatukan. Persatuan adalah perintah Allah, sebagaimana firman-Nya:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ 

Berpeganglah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan jangan bercerai-berai.” (QS. Âli Imrân [3]: 103).

Dalam sejarah, ketika umat bersatu di bawah kepemimpinan Islam, mereka merasakan perlindungan dan kekuatan. Rasulullah bersabda:

إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ، يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai; kaum Muslim berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Khilafah bukan sekadar konsep politik, tetapi kewajiban syar’i yang menentukan kemuliaan umat Islam. Tanpanya, umat akan terus berada dalam kelemahan dan penindasan, sebagaimana yang kita saksikan hari ini. ‘Izzah (kemuliaan) yang hilang itu hanya akan kembali ketika umat bersatu di bawah kepemimpinan Islam dan kembali kepada aturan Allah. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَلِلّٰهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُوْلِهٖ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ

Kemuliaan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman.(QS. Al-Munâfiqûn [63]: 8). Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ، اِهْزِمِ الْيَهُوْدَ وَأَعْوَانَهُمْ، وَالصَّلِيْبِيِّيْنَ وَأَنْصَارَهُمْ، وَالرَّأْسُمَالِيِّيْنَ وَإِخْوَانَهُمْ، وَالْاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَالشُّيُوْعِيِّيْنَ وَأَشْيَاعَهُمْ. اَللّٰهُمَّ نَجِّ إِخْوَانَنَا الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فَلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ عَلَى أَعْدَائِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia