SAATNYA
UMAT BERSATU MEMBANGUN KEKUATAN GLOBAL
KHUTBAH PERTAMA
اللّٰهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
النَّبِيِّ
الْأُمِّيِّ،
الصَّادِقِ
الْأَمِيْنِ،
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
حَسُنَ
إِسْلَامُهُمْ.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
أُوْصِيْ نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ، فَقَدْ
فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari
mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang
insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga
senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam.
Pertama dan paling
utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi
larangan-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa
kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Di saat dunia dipenuhi kabar perang dan penderitaan,
ada satu hal yang patut kita pikirkan bersama: ke mana arah semua peristiwa
ini, dan siapa yang benar-benar dibela? Pada 28 Februari 2026, pecah perang
AS–Israel melawan Iran. Iran membalas dengan rudal dan drone hingga menutup
Selat Hormuz. Meski AS telah menghabiskan sekitar US$12 miliar (Rp203,8
triliun), kekuatannya tidak sepenuhnya efektif dan dukungan Eropa melemah.
Upaya damai di Islamabad gagal, bahkan serangan ke Lebanon, termasuk Beirut,
menewaskan 254 orang dan melukai lebih dari 1.165 orang.
Dalam gencatan senjata yang rapuh, perundingan tidak
menyentuh Palestina dan Gaza. Iran fokus pada kepentingannya, sementara
sebagian negara Muslim justru terlihat membantu pihak yang terdesak. Padahal
mereka punya kekuatan besar, namun tidak digunakan untuk membela umat.
Sementara itu, penderitaan di Al-Aqsha dan Gaza terus berlangsung. Maka
pertanyaannya: mengapa negara yang kuat diam, dan siapa sebenarnya yang dibela?
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Dengan berbagai
peristiwa dunia yang tengah terjadi, sudah saatnya kita melihat dengan jernih
dan mengambil pelajaran yang mendalam. Pertanyaannya sederhana: para penguasa
ini sebenarnya melindungi siapa? Apakah mereka benar-benar berdiri bersama
umat, atau justru menjadi pelindung kepentingan asing? Fakta menunjukkan bahwa
yang mereka jaga adalah stabilitas hegemoni Amerika, dan yang diselamatkan
adalah citra kekuatan besar yang mulai melemah. Sementara itu, umat kembali
dibiarkan menanggung penderitaan. Allah Subhanahu wata’ala telah mengingatkan dalam firman-Nya:
اَلْمُنٰفِقُوْنَ
وَالْمُنٰفِقٰتُ
بَعْضُهُمْ
مِّنْۢ
بَعْضٍۘ
يَأْمُرُوْنَ
بِالْمُنْكَرِ
وَيَنْهَوْنَ
عَنِ
الْمَعْرُوْفِ
وَيَقْبِضُوْنَ
اَيْدِيَهُمْۗ
نَسُوا اللّٰهَ
فَنَسِيَهُمْۗ
اِنَّ
الْمُنٰفِقِيْنَ
هُمُ
الْفٰسِقُوْنَ
“Kaum munafik laki-laki dan
perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama. Mereka menyuruh
kepada yang mungkar dan melarang dari yang makruf serta menggenggam tangannya
(kikir). Mereka telah melupakan Allah, maka Allah melupakan mereka.
Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.” (QS.
At-Taubah [9]: 67).
Umat Islam
sebenarnya memiliki potensi kekuatan yang sangat besar, baik dari sisi militer,
sumber daya alam—dengan sekitar 48% cadangan minyak dunia dan 17% cadangan
gas—maupun posisi geopolitik strategis seperti Selat Hormuz, Terusan Suez, dan
Selat Malaka. Namun, potensi ini belum digunakan untuk membela umat, bahkan
sering dimanfaatkan untuk menjaga kepentingan kekuatan besar. Inilah tragedi
umat saat ini: bukan karena tidak punya kekuatan, tetapi karena tidak adanya
kepemimpinan yang menyatukan sejak runtuhnya institusi politik Islam yang
dahulu mempersatukan kaum Muslim.
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Dengan begitu
panjangnya penderitaan umat, maka sangat penting bagi kita untuk melihat akar
persoalan dan arah jalan keluarnya.
Penjajahan atas
negeri-negeri Muslim oleh kekuatan Barat masih terus berlangsung hingga hari
ini, salah satunya karena umat terpecah dalam sekat nasionalisme. Akibatnya,
kekuatan besar yang dimiliki umat tidak pernah benar-benar digunakan untuk
melawan. Karena itu, umat Islam tidak boleh diam. Haram bagi kaum Muslim
berdiam diri, dan haram pula bagi para penguasa tunduk pada kepentingan
penjajah, seperti membuka pangkalan militer untuk AS, mendukung Israel, atau
bekerja sama dalam bidang strategis yang merugikan umat. Sejarah telah
menunjukkan bahwa kebangkitan tidak lahir dari penguasa yang tunduk, tetapi
dari umat yang sadar dan bangkit dengan kekuatannya sendiri.
Umat Islam
sejatinya memiliki potensi yang sangat besar. Jika seluruh kekuatan militer,
ekonomi, dan politik negeri-negeri Muslim disatukan di bawah kepemimpinan yang
independen, maka peta dunia akan berubah. Umat tidak lagi menjadi objek
permainan kekuatan global, tetapi menjadi penentu arah sejarah. Karena itu,
siklus ketergantungan kepada kekuatan asing harus diputus. Selama umat masih
bergantung pada penguasa yang terikat kepentingan luar, selama itu pula
penderitaan akan terus berulang. Allah Subhanahu wata’ala telah memberikan janji-Nya:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوْٓا
اِنْ تَنْصُرُوا
اللّٰهَ
يَنْصُرْكُمْ
وَيُثَبِّتْ
اَقْدَامَكُمْ
“Wahai orang-orang yang
beriman! Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian
dan meneguhkan kedudukan kalian.” (QS. Muhammad [47]: 7).
Agenda besar umat
Islam hari ini adalah menolong agama Allah dan menyatukan kekuatan mereka dalam
satu kepemimpinan yang mempersatukan. Persatuan adalah perintah Allah,
sebagaimana firman-Nya:
وَاعْتَصِمُوْا
بِحَبْلِ
اللّٰهِ
جَمِيْعًا
وَّلَا
تَفَرَّقُوْاۖ
“Berpeganglah kalian semuanya
pada tali (agama) Allah dan jangan bercerai-berai.” (QS. Âli Imrân [3]: 103).
Dalam sejarah,
ketika umat bersatu di bawah kepemimpinan Islam, mereka merasakan perlindungan
dan kekuatan. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا
الإِمَامُ
جُنَّةٌ،
يُقَاتَلُ مِنْ
وَرَائِهِ
وَيُتَّقَى
بِهِ
“Sesungguhnya Imam (Khalifah)
adalah perisai; kaum Muslim berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Khilafah bukan
sekadar konsep politik, tetapi kewajiban syar’i yang menentukan kemuliaan umat
Islam. Tanpanya, umat akan terus berada dalam kelemahan dan penindasan,
sebagaimana yang kita saksikan hari ini. ‘Izzah (kemuliaan) yang hilang
itu hanya akan kembali ketika umat bersatu di bawah kepemimpinan Islam dan
kembali kepada aturan Allah. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
وَلِلّٰهِ
الْعِزَّةُ
وَلِرَسُوْلِهٖ
وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ
“Kemuliaan itu hanyalah milik
Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Munâfiqûn [63]: 8). Wallâhu a‘lam
bish-shawâb.[]
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ،
وَتَقَبَّلَ
مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلَاوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ
الْعَظِيْمَ
لِيْ
وَلَكُمْ،
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ
عَلَى
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَامْتِنَانِهِ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلٰهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أنَّ
سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى رِضْوَانِهِ.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا
اللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا
نَهَى،
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَنَّى
بِمَلَائِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ، وَعَلَى
أَنْبِيَائِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلَائِكَتِكَ
الْمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَالتَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
الْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللّٰهُمَّ
أَعِزَّ
الْإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ عِبَادَكَ
الْمُوَحِّدِيْنَ،
وَانْصُرْ مَنْ
نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
الْمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَأَعْلِ
كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ
يَا
مُنْـزِلَ
الْكِتَابِ
وَهَازِمَ
الْأَحْزَابِ،
اِهْزِمِ
الْيَهُوْدَ
وَأَعْوَانَهُمْ،
وَالصَّلِيْبِيِّيْنَ
وَأَنْصَارَهُمْ،
وَالرَّأْسُمَالِيِّيْنَ
وَإِخْوَانَهُمْ،
وَالْاِشْتِرَاكِيِّيْنَ
وَالشُّيُوْعِيِّيْنَ
وَأَشْيَاعَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ
نَجِّ
إِخْوَانَنَا
الْمُؤْمِنِيْنَ
الْمُسْتَضْعَفِيْنَ
فِي
فَلَسْطِيْنَ
وَفِي كُلِّ
مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ
انْصُرْ
إخْوَانَنَا
الْمُجَاهِدِيْنَ
فِي
سَبِيْلِكَ
عَلَى
أَعْدَائِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ
بِهَا
الْإِسْلَامَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ
بِهَا
الْكُفْرَ
وَاَهْلَهُ،
وَاجْعَلْنَا
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
لِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ يَا
أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَالْبَلاَءَ
وَالْوَبَاءَ
وَالزَّلَازِلَ
وَالْمِحَنَ،
وَسُوْءَ
الْفِتَنِ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا
خَاصَّةً
وَسَائِرِ بُلْدَانِ
الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً يَا
رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِى الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَا
وَإنْ لَمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالْإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشآءِ
وَالْمُنْكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
الْعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ.