MENYUSAHKAN RAKYATNYA
KHUTBAH PERTAMA
اللّٰهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
النَّبِيِّ
الْأُمِّيِّ،
الصَّادِقِ
الْأَمِيْنِ،
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
حَسُنَ
إِسْلَامُهُمْ.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
أُوْصِيْ نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ، فَقَدْ
فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
وَلَا
تَأْكُلُوْٓا
اَمْوَالَكُمْ
بَيْنَكُمْ
بِالْبَاطِلِ
وَتُدْلُوْا
بِهَآ اِلَى
الْحُكَّامِ
لِتَأْكُلُوْا
فَرِيْقًا
مِّنْ
اَمْوَالِ
النَّاسِ
بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ
تَعْلَمُوْنَࣖ ١٨٨
(اَلْبَقَرَةُ)
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari
mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang
insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga
senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam.
Pertama dan paling
utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi
larangan-Nya. Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa
kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Marilah kita merenung sejenak dengan hati yang jernih. Di
tengah tekanan global seperti gejolak energi, konflik kawasan, dan melemahnya
perdagangan dunia, kondisi fiskal negara kian berat. Rakyat pun merasakan
dampaknya: daya beli menurun, rupiah melemah, biaya produksi naik, dan PHK
meluas. Ironisnya, selain dibebani pajak, rakyat juga harus saling menanggung
kebutuhan melalui skema seperti BPJS. Kini muncul rencana pembentukan Lembaga
Pengelola Dana Umat (LPDU) dengan potensi dana umat hingga Rp 1.000 triliun per
tahun dari zakat, infak, sedekah, wakaf, dan lainnya. Pertanyaannya, mengapa
negara semakin bergantung pada dana rakyat untuk menjalankan kewajibannya?
Padahal, negeri ini tidak kekurangan potensi, melainkan lemah
dalam pengelolaan. Indonesia memiliki kekayaan SDA besar—nikel sekitar 21 juta
ton, batubara lebih dari 38,8 miliar ton, serta minerba yang pernah menyumbang
Rp 172 triliun dalam setahun. Namun, manfaatnya lebih banyak dinikmati
segelintir pihak, sementara rakyat hanya mendapat sedikit. Di sisi lain,
korupsi pada 2024 saja mencapai Rp 279,9 triliun, belum termasuk praktik
“legal” yang merugikan. Bahkan disebutkan, jika korupsi tambang diberantas,
tiap rakyat bisa memperoleh hingga Rp 20 juta per bulan. Ini menunjukkan,
masalah utama bukan kekurangan harta, tetapi kelalaian dalam amanah
pengelolaannya.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Memang benar, jika dicermati dengan jujur, kondisi ini
menunjukkan adanya kezaliman dalam pengelolaan urusan rakyat. Kekayaan alam
yang seharusnya menjadi milik bersama justru lebih banyak dinikmati segelintir
pihak, sementara rakyat tetap dibebani pajak dan berbagai pungutan, bahkan
berpotensi kembali dibebani melalui skema baru. Padahal dalam Islam, penguasa adalah
raa‘in (pengurus rakyat) yang wajib menjamin kebutuhan mereka.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الإمَامُ
رَاعٍ وَهُوَ
مَسْؤُوْلٌ عَنْ
رَعِيَّتِهِ
“Pemimpin (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab
atas rakyat yang dia urus” (HR. al-Bukhari
dan Muslim).
Artinya, sebagaimana dijelaskan para ulama, penguasa
wajib mengurusi seluruh kemaslahatan rakyat, bukan justru memindahkan beban itu
kepada mereka.
Para ulama juga menegaskan bahwa kepemimpinan adalah
amanah besar, bukan sekadar kekuasaan. Imam al-Mawardi menyatakan:
الإِمَامَةُ
مَوْضُوْعَةٌ
لِخِلاَفَةِ
النُّبُوَّةِ
فِي
حَرَاسَةِ
الدِّيْنِ
وَسِيَاسَةِ
الدُّنْيَا
“Imamah/Khilafah
(kepemimpinan negara) ditegakkan untuk melanjutkan fungsi kenabian dalam
menjaga agama dan mengatur urusan dunia.” (Al-Mawardi, Al-Ahkaam as-Sulthaaniyyah, hlm. 15).
Karena itu, penguasa wajib memastikan terpenuhinya
kebutuhan pokok rakyat—pangan, kesehatan, pendidikan, keamanan, dan pekerjaan.
Rakyat tidak boleh menanggung akibat dari salah urus, sebab setiap kelaparan,
kebutuhan yang terabaikan, dan kekayaan publik yang tidak dikelola dengan adil
akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Sejarah Islam pun memberikan gambaran nyata bagaimana
amanah ini dijalankan. Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. memikul sendiri
gandum untuk rakyat yang kelaparan, menegaskan bahwa penderitaan rakyat adalah
tanggung jawab langsung pemimpin. Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, kesejahteraan
bahkan merata hingga petugas zakat kesulitan menemukan penerima. Hal ini
terwujud karena pengelolaan kekayaan yang adil, pemberantasan korupsi,
kesederhanaan pemimpin, serta pengelolaan Baitul Mal yang sepenuhnya berpihak
kepada rakyat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Sebagai agama yang sempurna dan paripurna, Islam telah
memberikan solusi yang tegas agar negara tidak terus terbebani secara fiskal
dan rakyat tidak terus dipaksa menanggung beban yang bukan tanggung jawabnya.
Pertama, harta tidak boleh
berputar di kalangan orang kaya saja. Allah SWT berfirman:
كَيْ
لَا يَكُوْنَ
دُوْلَةً ۢ
بَيْنَ الْاَغْنِيَاۤءِ
مِنْكُمْۗ
“Agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di
antara kalian” (QS. al-Hasyr [59]: 7).
Karena itu, sumber daya alam strategis wajib dikelola
negara untuk kepentingan rakyat, bukan diserahkan kepada swasta atau asing.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُسْلِمُوْنَ
شُرَكَاءٌ فِي
ثَلاَثٍ: الْمَاءِ
وَالْكَلَأِ
وَالنَّارِ
“Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api” (HR. Abu Dawud),
yang mencakup seluruh sumber energi dan kebutuhan publik.
Kedua, pejabat negara
wajib hidup sederhana dan tidak bermewah-mewahan, sebagaimana dicontohkan
Khalifah Umar bin al-Khaththab ra., agar negara tidak terbebani fasilitas
berlebihan.
Ketiga, korupsi harus
diberantas total karena jelas haram. Allah SWT berfirman:
وَلَا
تَأْكُلُوْٓا
اَمْوَالَكُمْ
بَيْنَكُمْ
بِالْبَاطِلِ
“Janganlah kalian memakan harta sesama kalian dengan cara batil” (QS. al-Baqarah
[2]: 188). Dengan pengelolaan yang amanah dan bersih, kekayaan negara dapat
kembali kepada rakyat secara adil.
Keempat, riba wajib dihapus
karena diharamkan secara tegas (QS. al-Baqarah [2]: 275) dan merusak
ekonomi, bahkan dalam praktiknya negara dapat terbebani ratusan triliun rupiah
hanya untuk membayar bunga utang.
Kelima, penumpukan harta
harus dicegah. Allah SWT berfirman:
وَالَّذِيْنَ
يَكْنِزُوْنَ
الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ
وَلَا
يُنْفِقُوْنَهَا
فِيْ سَبِيْلِ
اللّٰهِۙ
فَبَشِّرْهُمْ
بِعَذَابٍ
اَلِيْمٍۙ
“Orang-orang yang menimbun emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan
Allah, maka kabarkan kepada mereka azab yang pedih” (QS. at-Taubah
[9]: 34). Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, kesejahteraan rakyat bukan
sekadar harapan, tetapi dapat benar-benar terwujud.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Karena itu, akar persoalan negeri ini bukanlah kekurangan
dana, melainkan siapa yang mengelola dan dengan aturan apa negara dijalankan.
Jika amanah berada di tangan yang benar dan pengelolaan dilakukan sesuai
syariat Islam, niscaya kekayaan negeri ini lebih dari cukup untuk
menyejahterakan seluruh rakyat. Namun sebaliknya, ketika amanah disia-siakan
dan aturan Allah diabaikan, maka sebesar apa pun kekayaan yang dimiliki tidak
akan pernah membawa keadilan dan kesejahteraan.
Maka ini bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi
persoalan amanah dan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Setiap kebijakan
akan dimintai hisab, setiap kelalaian akan dimintai jawaban. Sudah saatnya kita
menyadari bahwa keberkahan tidak lahir dari banyaknya harta, tetapi dari
ketaatan dalam mengelolanya. Allah SWT mengingatkan:
اِنَّ
اللّٰهَ لَا
يُغَيِّرُ
مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى
يُغَيِّرُوْا
مَا
بِاَنْفُسِهِمْۗ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka
mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d
[13]: 11). Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ،
وَتَقَبَّلَ
مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلَاوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ
الْعَظِيْمَ
لِيْ
وَلَكُمْ،
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ
عَلَى
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَامْتِنَانِهِ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلٰهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أنَّ
سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى رِضْوَانِهِ.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا
اللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا
نَهَى،
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَنَّى
بِمَلَائِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ، وَعَلَى
أَنْبِيَائِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلَائِكَتِكَ
الْمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَالتَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
الْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللّٰهُمَّ
أَعِزَّ
الْإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ عِبَادَكَ
الْمُوَحِّدِيْنَ،
وَانْصُرْ مَنْ
نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
الْمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَأَعْلِ
كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ
يَا
مُنْـزِلَ
الْكِتَابِ
وَهَازِمَ
الْأَحْزَابِ،
اِهْزِمِ
الْيَهُوْدَ
وَأَعْوَانَهُمْ،
وَالصَّلِيْبِيِّيْنَ
وَأَنْصَارَهُمْ،
وَالرَّأْسُمَالِيِّيْنَ
وَإِخْوَانَهُمْ،
وَالْاِشْتِرَاكِيِّيْنَ
وَالشُّيُوْعِيِّيْنَ
وَأَشْيَاعَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ
نَجِّ
إِخْوَانَنَا
الْمُؤْمِنِيْنَ
الْمُسْتَضْعَفِيْنَ
فِي
فَلَسْطِيْنَ
وَفِي كُلِّ
مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ
انْصُرْ
إخْوَانَنَا
الْمُجَاهِدِيْنَ
فِي
سَبِيْلِكَ
عَلَى
أَعْدَائِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ
بِهَا
الْإِسْلَامَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ
بِهَا
الْكُفْرَ
وَاَهْلَهُ،
وَاجْعَلْنَا
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
لِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ يَا
أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَالْبَلاَءَ
وَالْوَبَاءَ
وَالزَّلَازِلَ
وَالْمِحَنَ،
وَسُوْءَ
الْفِتَنِ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا
خَاصَّةً
وَسَائِرِ بُلْدَانِ
الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً يَا
رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِى الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَا
وَإنْ لَمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالْإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشآءِ
وَالْمُنْكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
الْعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ.