Seruan Masjid

Khadimul Ummah wa Du'at

Hikmah Maulid Nabi ﷺ:  MENELADANI METODE PERUBAHAN POLITIK ALA RASULULLAH ﷺ

Hikmah Maulid Nabi ﷺ: MENELADANI METODE PERUBAHAN POLITIK ALA RASULULLAH ﷺ

cropped-dmdi-logo-warna.png

Hikmah Maulid Nabi ﷺ: MENELADANI METODE PERUBAHAN POLITIK ALA RASULULLAH ﷺ

Hikmah Maulid Nabi ﷺ:

MENELADANI METODE PERUBAHAN POLITIK ALA RASULULLAH ﷺ

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَࣖ ۝٥٠ (اَلْمَائِدَةُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam tidak hanya menjadi momen ritual dengan lantunan shalawat dan doa, tetapi juga kesempatan untuk merenungi hikmah besar dari kelahiran beliau. Salah satu hikmah yang sering terlupakan adalah bagaimana kelahiran Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam menjadi titik balik peradaban: dari masyarakat jahiliyah yang penuh kegelapan menuju masyarakat Islam yang mulia dan bermartabat.

Pertanyaannya, apakah kita benar-benar siap meneladani metode beliau dalam melakukan perubahan politik hari ini? Ataukah kita masih menaruh harapan pada metode sekuler seperti demokrasi yang terbukti hanya melahirkan janji-janji tanpa realisasi, atau pada people power yang sering berujung pada anarkisme dan menelan korban?

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Kitab Mawlîd al-Barzanjî karya Syaikh Ja‘far al-Barzanji mengisahkan peristiwa besar saat Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam lahir: cahaya menerangi istana Romawi di Syam, pilar Kisra retak, menara runtuh, api Persia padam, danau Sawah mengering, serta Wadi Samawah mengalirkan air. Semua fenomena itu bukan sekadar kosmik, melainkan isyarat politik bahwa kelahiran Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam adalah ancaman nyata bagi imperium Romawi dan Persia. Beliau lahir membawa misi perubahan global: meruntuhkan tatanan kufur dan membangun peradaban Islam.

Seruan beliau di Pasar Dzil Majaz,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُوْلُوْا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تُفْلِحُوْا

”Hai manusia, ucapkanlah “Lâ ilâha illalLâh,” niscaya kalian beruntung!” (HR Ahmad).

Seruan ini bukan hanya dakwah tauhid, tetapi juga deklarasi politik bahwa perubahan sejati berawal dari pengakuan terhadap kedaulatan Allah. Saat Perang Khandaq, Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam menubuwatkan jatuhnya Syam, Persia, dan Yaman ketika memukul batu besar. Sejarah membuktikan nubuwat itu pada masa Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ’anhu, ketika dua imperium besar benar-benar ditundukkan dan Islam berdiri sebagai peradaban global.

Berbeda dengan metode Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam, banyak orang modern berharap perubahan lewat people power. Indonesia pasca-1998 adalah contoh nyata: rezim Orde Baru tumbang, tetapi sistem tetap sama. Demokrasi sekuler tetap dipertahankan sehingga korupsi merajalela, oligarki menguat, kekayaan alam dikuasai asing, pajak mencekik, utang meningkat, rakyat miskin, dan keadilan makin sulit ditegakkan. Sebab yang jatuh hanya rezim, bukan sistemnya.

Padahal, akar kerusakan ada pada demokrasi yang menempatkan kedaulatan di tangan manusia. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:

اِنِ الْحُكْمُ اِلَّا لِلّٰهِ

”Otoritas membuat hukum itu ada pada Allah” (QS. Yûsuf [12]: 40).

Bahkan Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ telah menegaskan:

وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

”Siapa saja yang tidak berhukum dengan wahyu yang telah Allah turunkan, mereka itulah pelaku kezaliman.” (QS. al-Mâidah [5]: 45).

Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ juga telah mengingatkan:

اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ

”Apakah sistem hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi kaum yang yakin?” (QS. al- Mâidah [5]: 50).

Jelaslah, demokrasi adalah sistem hukum jahiliyah karena menempatkan kedaulatan (hak membuat hukum) di tangan manusia. Karena itu, perubahan sejati hanya mungkin terwujud dengan mengganti sistem kufur itu menuju sistem Islam yang dicontohkan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Islam memiliki metode perubahan politik yang jelas sebagaimana dicontohkan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam Beliau tidak pernah menyerukan revolusi massa untuk menggulingkan rezim Quraisy, melainkan menempuh tiga tahapan dakwah yang terarah:

(1) Tatsqîf (pembinaan), yaitu membina para Sahabat dengan fikrah Islam agar iman mereka kokoh dan siap berjuang;

(2) Tafâ‘ul ma‘a al-Ummah (interaksi dengan masyarakat), yaitu mendakwahkan Islam secara terbuka sambil membongkar kebusukan sistem kufur hingga opini umum berpihak pada Islam; dan (3) Thalab an-Nushrah (menggalang dukungan) dari ahlul quwwah (pemilik kekuasaan) untuk menegakkan pemerintahan Islam.

Ketiga tahapan ini beliau tempuh tanpa kekerasan apalagi people power yang cenderung anarkis. Melalui tahapan terakhir, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam berhasil memperoleh kekuasaan secara damai di Madinah ketika ahlul quwwah dan mayoritas penduduknya menyerahkan kekuasaan secara sukarela. Dari situlah Daulah Islam pertama berdiri, bukan hanya mengganti rezim, melainkan menumbangkan seluruh sistem jahiliyah dan menggantinya dengan sistem Islam yang melahirkan peradaban agung selama berabad-abad.

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Setiap peristiwa besar dalam sejarah Islam selalu menyimpan pelajaran berharga, termasuk momentum Maulid Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam yang bukan sekadar perayaan lahirnya seorang utusan, tetapi juga awal dari perubahan besar peradaban manusia. Dari sinilah kita diajak untuk menengok kembali bagaimana Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam menempuh jalan perjuangan politik yang agung dan penuh hikmah.

Baiat ‘Aqabah Kedua menjadi landasan tegaknya Daulah Islam pertama di Madinah, sebagaimana ditegaskan al-Mubarakfuri dalam Ar-Rahīq al-Makhtūm. Perubahan yang ditempuh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bukan sebatas pergantian rezim, melainkan transformasi total dari masyarakat jahiliyah menuju peradaban Islam yang adil. Sebaliknya, people power modern hanya melahirkan euforia sesaat tanpa menyentuh akar persoalan, karena sistem rusak tetap dipertahankan. Maka, jawaban atas problem umat hari ini bukanlah demokrasi atau gerakan massa, melainkan mengikuti metode dakwah Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam untuk menegakkan Islam secara kaffah melalui Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah.

Para ulama Ahlus Sunnah telah bersepakat bahwa menegakkan Khilafah adalah kewajiban syar’i, bukan pilihan politik. Imam al-Mawardi menegaskan bahwa Imamah ditetapkan sebagai pengganti kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia (Al-Ahkâm as-Sulthâniyyah, hal. 5). Imam an-Nawawi juga menegaskan kewajiban ini berdasarkan syariah, bahkan menyatakan batil pandangan yang menolaknya (Syarh an-Nawawi ‘alâ Muslim, 12/205). Karena itu, Peringatan Maulid Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam seharusnya memotivasi umat untuk sungguh-sungguh meneladani perjuangan beliau, menempuh tharîqah nabawiyyah, dan membangun kembali sistem politik Islam. Hanya dengan cara inilah Maulid Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam benar-benar bermakna sebagai momentum perubahan peradaban. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

PEJABAT BERLIMPAH HARTA,  RAKYAT MAKIN MENDERITA

PEJABAT BERLIMPAH HARTA, RAKYAT MAKIN MENDERITA

cropped-dmdi-logo-warna.png

PEJABAT BERLIMPAH HARTA, RAKYAT MAKIN MENDERITA

PEJABAT BERLIMPAH HARTA,

RAKYAT MAKIN MENDERITA

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةًۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ۝٢٠٨ (اَلْبَقَرَةُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Di tengah kondisi bangsa yang penuh tantangan, ketika rakyat kecil masih berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari, muncul kabar yang mengusik nurani publik: kenaikan gaji dan tunjangan para pejabat negara, khususnya anggota DPR. Alih-alih menunjukkan sikap empati dan solidaritas di masa sulit, justru mereka menikmati penghasilan yang luar biasa. Anggota DPR disebut menerima Rp3 juta per hari atau sekitar Rp100 juta per bulan—bahkan ada pemberitaan yang menyebut angka sesungguhnya mencapai Rp230 juta per bulan—ditambah lagi pajak penghasilan mereka ditanggung negara. Kondisi serupa juga terlihat pada pejabat negara lainnya, seperti menteri, wakil menteri, hingga komisaris BUMN yang bisa mengantongi miliaran rupiah per tahun. Fakta ini terasa begitu ironis, mengingat seluruh pendapatan tersebut bersumber dari pajak rakyat yang kehidupannya kian terhimpit.

Tak heran jika gelombang kritik publik semakin deras, bahkan menyeruak seruan pembubaran DPR. Rakyat mempertanyakan sejauh mana para wakil rakyat telah benar-benar membela kepentingan mereka, terlebih saat tingkah laku di parlemen kerap menimbulkan kontroversi, seperti aksi joget-joget yang dianggap menciderai wibawa lembaga. Tingginya gaji dan tunjangan jelas tak sebanding dengan kinerja, sebab faktanya angka kemiskinan dan pengangguran tetap tinggi, sementara praktik korupsi di kalangan pejabat masih marak. Fenomena ini semakin menguatkan anggapan bahwa jabatan publik lebih sering dijadikan bancakan kekuasaan ketimbang amanah untuk menyejahterakan rakyat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

        Politik demokrasi dikenal sebagai sistem yang mahal, sebab untuk merebut kursi DPR dibutuhkan modal politik yang sangat besar. Tidak mengherankan bila banyak pejabat berupaya mengembalikan modal tersebut, baik secara legal dengan menaikkan gaji dan tunjangan, maupun secara ilegal melalui praktik suap dan korupsi. Bahkan, korupsi hari ini bukan lagi sebatas miliaran rupiah, melainkan sudah mencapai triliunan hingga ratusan triliun. Jabatan akhirnya dijadikan bancakan untuk menumpuk pundi-pundi kekayaan, meski dengan cara-cara haram sekalipun.

Hal ini menunjukkan bahwa demokrasi sebagai sistem sekuler tidak mengenal batas halal dan haram, melainkan hanya sebatas bagi-bagi kursi kekuasaan. Akibatnya, negeri ini kian dikuasai segelintir elit oligarki yang hanya mementingkan kepentingan mereka sendiri, sementara rakyat ditinggalkan setelah pemilu usai. Demokrasi pada akhirnya melahirkan praktik politik penuh intrik, proyek, dan gaya hidup mewah para pejabat, kontras dengan penderitaan rakyat yang makin terpuruk.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

        Hidup bermewah-mewah dan bermegah-megahan merupakan sikap tercela dalam Islam, terlebih jika dilakukan oleh para pemimpin dan penguasa. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan tegas mencela perbuatan ini dalam firman-Nya:

اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُۙ ۝١ حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَۗ ۝٢ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَۙ ۝٣ ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ ۝٤ كَلَّا لَوْ تَعْلَمُوْنَ عِلْمَ الْيَقِيْنِۗ ۝٥ لَتَرَوُنَّ الْجَحِيْمَۙ ۝٦ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِيْنِۙ ۝٧ ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَىِٕذٍ عَنِ النَّعِيْمِࣖ ۝٨

”Bermegah-megahan telah melalaikan kalian hingga kalian masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu. Kelak kalian akan mengetahui (akibat perbuatan kalian itu). Janganlah begitu. Kelak kalian akan mengetahui. Janganlah begitu. Jika kalian mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kalian benar-benar akan melihat Neraka Jahim. Sesungguhnya kalian benar-benar akan melihatnya dengan kasatmata. Kemudian kalian pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kalian megah-megahkan di dunia itu).” (QS. at-Takâtsur [102]: 1-8)

Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ juga memperingatkan bahwa salah satu penyebab kehancuran suatu negeri adalah ketika para pemimpinnya hidup mewah namun menentang syariah-Nya:

وَاِذَآ اَرَدْنَآ اَنْ نُّهْلِكَ قَرْيَةً اَمَرْنَا مُتْرَفِيْهَا فَفَسَقُوْا فِيْهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنٰهَا تَدْمِيْرًا

”Jika Kami hendak membinasakan suatu negeri maka Kami memerintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Karena itu sudah sepantasnya berlaku terhadap mereka perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami menghancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. al-Isrâ’ [17]: 16). Ayat ini menegaskan bahwa kemewahan yang disertai kedurhakaan para pemimpin akan mendatangkan murka Allah dan berakhir dengan kehancuran negeri tersebut.

 

Sejarah umat terdahulu pun membuktikan adanya empat faktor utama yang mendatangkan azab Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ. Pertama, ketidaktaatan terhadap syariah Allah. Kedua, kehidupan mewah para pemimpin sementara rakyat hidup dalam kemiskinan. Ketiga, beragam bentuk kezaliman penguasa kepada rakyat. Keempat, pengingkaran terhadap dakwah para utusan Allah dengan cara memusuhi dan menghina mereka. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan umat-umat terdahulu dihancurkan dan dibinasakan.

Saat ini, bentuk penyimpangan itu terwujud dalam penerapan sistem kapitalisme demokrasi sekuler yang memisahkan pemerintahan dari hukum Allah. Sistem ini menjauhkan negeri dari keberkahan dan ridha-Nya. Lebih parah lagi, ajakan para pendakwah agar negeri ini kembali pada syariah justru ditolak, bahkan mereka dituduh sebagai radikal. Padahal Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى

”Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran), sesungguhnya bagi dia kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkan dirinya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta (QS. Thâhâ [20]: 124). Ayat ini menjadi peringatan keras bahwa berpaling dari hukum Allah hanya akan membawa kesempitan hidup di dunia dan azab di akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Dalam Islam, kekuasaan adalah amanah yang sangat berat dan harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ. Karena itu para ulama terdahulu menolak jabatan bukan karena haram, melainkan karena memahami beratnya tanggung jawab tersebut. Berbeda dengan sistem demokrasi sekuler yang menjauhkan agama dari kehidupan, di mana jabatan diperebutkan mati-matian demi ambisi duniawi. Dalam Islam, penguasa justru menjadikan kekuasaan sebagai wasilah untuk menegakkan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Hal ini sebagaimana ucapan Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallâhu ’anhu. yang menegaskan dirinya hanya mengambil harta umat seperlunya dengan cara yang baik, serta meminta rakyat meluruskan jika ia salah. (Ibnu Saad, Thabaqaat al-Kubraa, 3/278).

Begitu pula Khalifah Umar bin Abdul Aziz radhiyallâhu ’anhu mengingatkan para pejabatnya bahwa kekuasaan bukanlah santapan untuk dinikmati, melainkan amanah yang kelak bisa menjadi kehinaan di akhirat, kecuali bagi yang menunaikannya dengan benar (Ibnu Abdil Hakam, Siirah ‘Umar bin Abdu al-‘Aziiz, hal. 59). Pandangan ini menunjukkan bahwa dalam Islam, kekuasaan dipahami sebagai amanah agung, bukan sebagai jalan untuk memperkaya diri dan bermegah-megahan.

Karena itu bangsa ini harus menyadari bahwa sumber masalahnya adalah penerapan ideologi kapitalisme sekuler. Solusinya adalah kembali kepada syariah Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang akan menuntaskan seluruh problem rakyat. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ telah memerintahkan:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةًۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian (QS. al-Baqarah [2]: 208).

Penerapan syariah Islam secara kaaffah hanya dapat diwujudkan melalui institusi pemerintahan Islam, yakni Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

KEADILAN ZAKAT VS KEZALIMAN PAJAK

KEADILAN ZAKAT VS KEZALIMAN PAJAK

cropped-dmdi-logo-warna.png

KEADILAN ZAKAT VS KEZALIMAN PAJAK

KEADILAN ZAKAT VS KEZALIMAN PAJAK

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاۤءِ وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْعٰمِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالْغٰرِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَابْنِ السَّبِيْلِۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ ۝٦٠ (اَلتَّوْبَةُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut pajak memiliki filosofi yang sejalan dengan zakat dan wakaf. “Dalam setiap rezeki ada hak orang lain. Caranya, hak orang lain itu diberikan. Ada yang melalui zakat, wakaf dan pajak. Pajak itu kembali pada yang membutuhkan,” kata Sri Mulyani dalam Sarasehan Nasional Ekonomi Syariah Refleksi Kemerdekaan RI 2025 di Jakarta, Rabu (13/8/2025).

Menurut Sri Mulyani, konsep ini tercermin pada berbagai program Pemerintah yang dibiayai APBN. Misalnya, Program Keluarga Harapan (PKH) yang memberikan manfaat kepada 10 juta keluarga tidak mampu. Ada juga bantuan sosial sembako untuk 18,2 juta penerima.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Pernyataan Menkeu Sri Mulyani yang menyamakan pajak dengan zakat dan wakaf jelas gegabah dan menyesatkan. Zakat adalah ibadah harta yang Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ perintahkan khusus bagi kaum Muslim dengan aturan tertentu, bukan atas semua rakyat. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ

”Mereka tidak disuruh kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada Dia dalam (menjalankan) agama yang lurus, juga supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah [98]: 5).

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِيْ أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ

”Sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas mereka (kaum Muslim) zakat dalam harta mereka, yang diambil dari kalangan kaya di antara mereka, lalu diberikan kepada kalangan fakir mereka.” (HR. al-Bukhari).

Zakat memiliki hikmah sebagai pembersih harta muzakki, sesuatu yang tidak ada pada pajak. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:

خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا...

”Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, yang dengan zakat itu kalian membersihkan dan mensucikan mereka...” (QS. at-Taubah [9]: 103).

Selain itu, zakat hanya boleh diberikan kepada delapan ashnaf sebagaimana firman-Nya:

 اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاۤءِ وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْعٰمِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالْغٰرِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَابْنِ السَّبِيْلِۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ 

”Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk kaum fakir, kaum miskin, para pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hati mereka, untuk (memerdekakan) budak, untuk kaum yang berutang, untuk (jihad) fi sabilillah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan; sebagai suatu ketetapan yang telah Allah wajibkan. Allah Mahatahu lagi Mahabijaksana.” (QS. at-Taubah [9]: 60).

Karena itu, zakat tidak boleh dipakai untuk kepentingan pembangunan proyek negara atau membayar utang, berbeda dengan pajak dalam sistem kapitalisme.

Zakat adalah fardhu ‘ain bagi Muslim yang hartanya mencapai nisab dan haul, dengan objek harta yang telah ditentukan syariah. Menolak zakat adalah dosa besar, sebagaimana sabda Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam:

مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ ، مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ

“Siapa saja yang Allah beri harta, namun tidak mengeluarkan zakatnya, maka pada Hari Kiamat harta tersebut akan dijelmakan dalam bentuk ular jantan ganas.” (HR. al-Bukhari). Bahkan penolakan zakat dapat berkonsekuensi pada batalnya iman, sebagaimana keputusan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallâhu ’anhu memerangi kaum murtad karena enggan menunaikan kewajiban ini.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Pajak sejatinya tidak memiliki dasar dalam Islam. Setiap pungutan harta yang bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah adalah bentuk kezaliman. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ...

”Janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan jalan yang batil...” (QS. al-Baqarah [2]: 188).

Imam Ibnu Katsir rahimahulLaah menjelaskan ayat ini sebagai larangan atas segala bentuk perampasan harta, terlebih jika dilakukan penguasa terhadap rakyatnya. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

“Setiap Muslim atas Muslim yang lain haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya” (HR. Muslim).

Pajak adalah kezaliman karena dipungut dari seluruh rakyat tanpa membedakan kaya-miskin, agama, atau jenis harta, bahkan dapat dinaikkan sesuai kepentingan penguasa. Saat ini, kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB-P2) di berbagai daerah mencapai 200–1000% akibat kebijakan pemerintah pusat memangkas transfer ke daerah. Rakyat semakin terbebani di tengah kondisi ekonomi sulit, daya beli menurun, pengangguran dan PHK meningkat, serta kemiskinan bertambah. Sementara itu, pejabat negara, komisaris BUMN, dan anggota DPR justru menikmati penghasilan fantastis hingga ratusan juta rupiah per bulan ditambah berbagai tunjangan dan bonus besar.

Dalam Islam, pungutan pajak atas harta rakyat adalah haram. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ صَاحِبُ مَكْسٍ

”Tidak akan masuk surga pemungut pajak (cukai).” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan al-Hakim).

Oleh karena itu, pajak tidak bisa disamakan dengan zakat maupun wakaf. Islam telah menetapkan aturan jelas dalam mengatur harta umat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Syariah Islam telah menetapkan sumber pemasukan negara tanpa pajak, seperti pengelolaan sumber daya alam, kepemilikan umum, serta harta hasil sitaan korupsi yang wajib dirampas negara. Utang luar negeri ribawi jelas diharamkan karena menjadi alat penjajahan ekonomi dan membebani APBN, sebagaimana Indonesia yang harus mengalokasikan hampir Rp 600 triliun pada 2026 hanya untuk bunga utang. Dalam sistem Islam, negara berkewajiban mengurus rakyat tanpa membeda-bedakan pusat dan daerah, serta haram mengurangi pelayanan publik atau membebankannya kepada rakyat lewat pajak dan iuran seperti BPJS. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Karena itu, penguasa harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan rakyat dan hidup sederhana sebagaimana rakyatnya, bukan bermewah-mewah di tengah penderitaan umat. Sistem Islam meniscayakan pemimpin yang amanah, adil, dan bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan rakyat, bukan malah menindas mereka dengan pajak dan berbagai beban ekonomi. Hanya dengan kembali pada syariah Islam secara kaffah, keadilan dan kesejahteraan sejati dapat terwujud bagi seluruh umat. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

MENYEMPURNAKAN KEMERDEKAAN DENGAN IDEOLOGI ISLAM

MENYEMPURNAKAN KEMERDEKAAN DENGAN IDEOLOGI ISLAM

cropped-dmdi-logo-warna.png

MENYEMPURNAKAN KEMERDEKAAN DENGAN IDEOLOGI ISLAM

MENYEMPURNAKAN KEMERDEKAAN

DENGAN IDEOLOGI ISLAM

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى ۝١٢٤ (طٰهٰ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Meski sudah delapan dekade merdeka sejak Proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia belum sepenuhnya mencapai cita-cita kemajuan, kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan. Realitasnya, berbagai persoalan masih membelit negeri ini. Salah satunya adalah bentuk penjajahan (al-isti’maar) modern yang, menurut Al-’Allamah asy-Syaikh al-Imam al-Qadhi Taqiyuddin an-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir, bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi metode baku negara kapitalis Barat—terutama Amerika Serikat—untuk menguasai negara lain. Penjajahan ini berlangsung melalui kontrol menyeluruh di bidang ideologi, ekonomi, politik, budaya, hukum, dan pertahanan, dengan tujuan mengeksploitasi negara yang menjadi targetnya.

Indonesia menjadi salah satu korban nyata penjajahan modern ini. Meskipun setiap tahun merayakan kemerdekaan, di sektor ekonomi sumber daya alam strategis seperti emas, minyak, dan gas justru telah lama dikuasai dan dieksploitasi oleh perusahaan asing seperti Freeport, Exxon Mobil, dan Newmont. Ironisnya, keberadaan mereka tidak hanya dibiarkan, tetapi dilegalkan melalui berbagai undang-undang yang membuka jalan bagi penguasaan kekayaan alam negeri oleh pihak asing.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Setelah lepas dari penjajahan fisik, Indonesia justru terperangkap dalam penjajahan ideologi yang lebih berbahaya, yakni ideologi Kapitalisme berakar sekulerisme. Meski tidak secara langsung memakan korban jiwa, dominasi Kapitalisme global ini telah menimbulkan penderitaan besar, baik bagi bangsa ini maupun umat manusia. Ironisnya, pemikiran dan cara pandang penjajah tetap dipertahankan oleh para penguasa dan elit politik. Akibat penjajahan ideologi ini, cita-cita para pejuang untuk membebaskan Indonesia sepenuhnya dari pengaruh penjajah tak terwujud, karena jejak penjajahan masih kuat mencengkeram negeri ini, diantaranya:

Pertama, bidang hukum dan perundang-undangan: hukum di Indonesia masih sekuler, warisan Belanda tetap dilestarikan, bahkan pembuatan undang-undang sering dipengaruhi asing.

Kedua, bidang ekonomi: negeri ini terjerat utang luar negeri hingga ribuan triliun rupiah, sementara sumber daya alam dikuasai asing dan aseng.

Ketiga, bidang sosial dan budaya: budaya asing sekuler-liberal memicu kerusakan moral seperti seks bebas, LGBT, pornografi, korupsi, judi online, dan kekerasan.

Keempat, bidang politik: sistem demokrasi-sekuler yang diterapkan rawan disusupi kepentingan asing melalui komprador, sehingga banyak regulasi justru lebih pro-asing daripada pro-rakyat.

Dalam pandangan Islam, kemerdekaan hakiki berarti terbebasnya manusia dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ, Pencipta manusia dan seluruh alam semesta. Kemerdekaan bagi umat Islam bukan sekadar hak yang harus diperjuangkan, tetapi misi utama risalah Islam itu sendiri. Jika manusia masih tunduk pada ideologi atau hukum buatan manusia, mereka masih berada dalam penjajahan. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:

اِتَّخَذُوْٓا اَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ

”Mereka (Yahudi dan Nasrani) telah menjadikan para pendeta mereka dan para rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah.” (QS. at-Taubah [9]: 31).

 

Ayat ini dijelaskan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam kepada Adi bin Hatim, bahwa bentuk penghambaan itu adalah menaati pendeta dan rahib dalam menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal (Ath-Thabari, Jaami’ al-Bayaan, 11/417).

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam juga menegaskan hakikat penghambaan dalam suratnya kepada penduduk Najran:

أَمّا بَعْدُ فَإِنيّ أَدْعُوكُمْ إلَى عِبَادَةِ الله مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَاد وَأَدْعُوكُم إلَى وِلاَيَةِ اللهِ مِنْ وِلاَيَةِ الْعِبَادِ

”Amma ba’du. Aku menyeru kalian untuk menghambakan diri kepada Allah dan meninggalkan penghambaan kepada sesama hamba (manusia). Aku pun menyeru kalian agar berada dalam kekuasaan Allah dan membebaskan diri kalian dari penguasaan oleh sesama hamba (manusia).” (Ibnu Katsir, Al-Bidaayah wa an-Nihaayah, 5/64). Inilah misi Islam untuk mewujudkan kemerdekaan hakiki bagi seluruh manusia, yang menjadi pengobar semangat para pejuang Islam meski menghadapi musuh yang kuat.

Misi tersebut tampak dalam Perang Qadisiyah ketika Jenderal Rustum dari Persia bertanya kepada utusan Panglima Saad bin Abi Waqash radhiyallâhu ’anhu, Rib’i bin ‘Amir ats-Tsaqafi, tentang apa yang dibawa oleh kaum Muslim. Rib’i menjawab: ”Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan hanya kepada Tuhan manusia; dari dunia yang sempit menuju akhirat yang luas; dan dari kezaliman agama-agama yang ada menuju keadilan Islam...” (Ath-Thabari, Taariikh al-Umam wa al-Muluuk, 2/401).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Peringatan kemerdekaan seharusnya menjadi momentum renungan ideologis, bukan sekadar seremonial. Kita harus sadar bahwa negeri ini belum benar-benar merdeka karena masih berada di bawah pengaruh ideologi Kapitalisme-sekuler yang justru menambah penderitaan rakyat. Solusinya adalah memperkuat landasan ideologi Islam dan meninggalkan Kapitalisme-sekuler. Islam sebagai agama sekaligus ideologi membawa misi tauhid, menjadikan negara merdeka dan berdaulat hanya dengan tunduk pada perintah Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ. Allah menjanjikan keberkahan bagi negeri yang beriman dan bertakwa, sebagaimana firman-Nya:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ 

“Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. Karena itu Kami menyiksa mereka disebabkan perbuatan mereka tersebut.” (QS. al-A’râf [7]: 96).

 

Sebaliknya, penerapan ideologi buatan manusia yang lahir dari akal dan hawa nafsu, seperti Kapitalisme-sekuler, hanya akan melanggengkan penjajahan, kesempitan hidup, dan kezaliman, sebagaimana firman-Nya:

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى 

”Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran), sungguh bagi dia kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkan dirinya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thâhâ [20]: 124).

 

Karena itu, negeri ini harus segera kembali kepada hukum Allah dengan menerapkan syariah Islam secara kaaffah dalam seluruh aspek kehidupan melalui institusi politik Islam, yaitu Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah, yang akan mewujudkan kemerdekaan hakiki bagi umat, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

UPDATE INFORMASI TERBARU