DENGAN IDEOLOGI ISLAM
KHUTBAH PERTAMA
اللهُمَّ
فَصَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
كَانَ
صَادِقَ
الْوَعْدِ وَكَانَ
رَسُوْلًا
نَبِيًّا، وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
يُحْسِنُوْنَ
إِسْلاَمَهُمْ
وَلَمْ
يَفْعَلُوْا
شَيْئًا
فَرِيًّا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
اُوْصِيْنِيْ
نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
وَمَنْ
اَعْرَضَ
عَنْ
ذِكْرِيْ
فَاِنَّ لَهٗ
مَعِيْشَةً
ضَنْكًا
وَّنَحْشُرُهٗ
يَوْمَ
الْقِيٰمَةِ
اَعْمٰى ١٢٤
(طٰهٰ)
Alhamdulillâhi
Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang
telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di
tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta
keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Bertakwalah kepada
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana
firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali
dalam keadaan muslim.”
(QS. Âli
Imrân
[3]: 102)
Sungguh takwa adalah
benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh,
hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Meski sudah delapan dekade
merdeka sejak Proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia belum sepenuhnya mencapai
cita-cita kemajuan, kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan. Realitasnya,
berbagai persoalan masih membelit negeri ini. Salah satunya adalah bentuk penjajahan
(al-isti’maar) modern yang, menurut Al-’Allamah asy-Syaikh al-Imam
al-Qadhi Taqiyuddin an-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir, bukan sekadar
warisan masa lalu, tetapi metode baku negara kapitalis Barat—terutama Amerika
Serikat—untuk menguasai negara lain. Penjajahan ini berlangsung melalui kontrol
menyeluruh di bidang ideologi, ekonomi, politik, budaya, hukum, dan pertahanan,
dengan tujuan mengeksploitasi negara yang menjadi targetnya.
Indonesia menjadi salah satu
korban nyata penjajahan modern ini. Meskipun setiap tahun merayakan
kemerdekaan, di sektor ekonomi sumber daya alam strategis seperti emas, minyak,
dan gas justru telah lama dikuasai dan dieksploitasi oleh perusahaan asing seperti
Freeport, Exxon Mobil, dan Newmont. Ironisnya, keberadaan mereka tidak hanya
dibiarkan, tetapi dilegalkan melalui berbagai undang-undang yang membuka jalan
bagi penguasaan kekayaan alam negeri oleh pihak asing.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Setelah lepas dari penjajahan
fisik, Indonesia justru terperangkap dalam penjajahan ideologi yang lebih
berbahaya, yakni ideologi Kapitalisme berakar sekulerisme. Meski tidak secara
langsung memakan korban jiwa, dominasi Kapitalisme global ini telah menimbulkan
penderitaan besar, baik bagi bangsa ini maupun umat manusia. Ironisnya,
pemikiran dan cara pandang penjajah tetap dipertahankan oleh para penguasa dan
elit politik. Akibat penjajahan ideologi ini, cita-cita para pejuang untuk
membebaskan Indonesia sepenuhnya dari pengaruh penjajah tak terwujud, karena
jejak penjajahan masih kuat mencengkeram negeri ini, diantaranya:
Pertama, bidang hukum dan perundang-undangan: hukum di Indonesia masih
sekuler, warisan Belanda tetap dilestarikan, bahkan pembuatan undang-undang
sering dipengaruhi asing.
Kedua, bidang ekonomi: negeri ini terjerat utang luar negeri hingga ribuan
triliun rupiah, sementara sumber daya alam dikuasai asing dan aseng.
Ketiga, bidang sosial dan budaya: budaya asing sekuler-liberal memicu
kerusakan moral seperti seks bebas, LGBT, pornografi, korupsi, judi online, dan
kekerasan.
Keempat, bidang politik: sistem demokrasi-sekuler yang diterapkan rawan
disusupi kepentingan asing melalui komprador, sehingga banyak regulasi justru
lebih pro-asing daripada pro-rakyat.
Dalam pandangan Islam,
kemerdekaan hakiki berarti terbebasnya manusia dari penghambaan kepada sesama
manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ,
Pencipta manusia dan seluruh alam semesta. Kemerdekaan bagi umat Islam bukan
sekadar hak yang harus diperjuangkan, tetapi misi utama risalah Islam itu
sendiri. Jika manusia masih tunduk pada ideologi atau hukum buatan manusia,
mereka masih berada dalam penjajahan. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ
berfirman:
اِتَّخَذُوْٓا
اَحْبَارَهُمْ
وَرُهْبَانَهُمْ
اَرْبَابًا
مِّنْ دُوْنِ
اللّٰهِ
”Mereka (Yahudi
dan Nasrani) telah menjadikan para pendeta mereka dan para rahib mereka sebagai
tuhan-tuhan selain Allah.” (QS. at-Taubah [9]: 31).
Ayat ini dijelaskan Rasulullah
Shallallâhu ‘alaihi wasallam kepada Adi bin Hatim, bahwa bentuk
penghambaan itu adalah menaati pendeta dan rahib dalam menghalalkan yang haram
dan mengharamkan yang halal (Ath-Thabari, Jaami’ al-Bayaan, 11/417).
Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi
wasallam juga menegaskan hakikat penghambaan dalam suratnya kepada penduduk
Najran:
أَمّا
بَعْدُ
فَإِنيّ
أَدْعُوكُمْ
إلَى عِبَادَةِ
الله مِنْ
عِبَادَةِ
الْعِبَاد وَأَدْعُوكُم
إلَى
وِلاَيَةِ
اللهِ مِنْ
وِلاَيَةِ
الْعِبَادِ
”Amma ba’du. Aku menyeru kalian untuk menghambakan diri kepada Allah dan
meninggalkan penghambaan kepada sesama hamba (manusia). Aku pun menyeru kalian
agar berada dalam kekuasaan Allah dan membebaskan diri kalian dari penguasaan
oleh sesama hamba (manusia).” (Ibnu Katsir, Al-Bidaayah wa
an-Nihaayah, 5/64). Inilah misi Islam untuk
mewujudkan kemerdekaan hakiki bagi seluruh manusia, yang menjadi pengobar
semangat para pejuang Islam meski menghadapi musuh yang kuat.
Misi tersebut tampak dalam
Perang Qadisiyah ketika Jenderal Rustum dari Persia bertanya kepada utusan
Panglima Saad bin Abi Waqash radhiyallâhu
’anhu, Rib’i bin ‘Amir ats-Tsaqafi,
tentang apa yang dibawa oleh kaum Muslim. Rib’i menjawab: ”Allah telah
mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan
kepada sesama manusia menuju penghambaan hanya kepada Tuhan manusia; dari dunia
yang sempit menuju akhirat yang luas; dan dari kezaliman agama-agama yang ada
menuju keadilan Islam...” (Ath-Thabari, Taariikh al-Umam wa
al-Muluuk, 2/401).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Peringatan kemerdekaan
seharusnya menjadi momentum renungan ideologis, bukan sekadar seremonial. Kita
harus sadar bahwa negeri ini belum benar-benar merdeka karena masih berada di
bawah pengaruh ideologi Kapitalisme-sekuler yang justru menambah penderitaan
rakyat. Solusinya adalah memperkuat landasan ideologi Islam dan meninggalkan
Kapitalisme-sekuler. Islam sebagai agama sekaligus ideologi membawa misi
tauhid, menjadikan negara merdeka dan berdaulat hanya dengan tunduk pada
perintah Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ. Allah menjanjikan keberkahan bagi
negeri yang beriman dan bertakwa, sebagaimana firman-Nya:
وَلَوْ
اَنَّ اَهْلَ
الْقُرٰٓى
اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا
لَفَتَحْنَا
عَلَيْهِمْ
بَرَكٰتٍ
مِّنَ
السَّمَاۤءِ
وَالْاَرْضِ
وَلٰكِنْ
كَذَّبُوْا
فَاَخَذْنٰهُمْ
بِمَا كَانُوْا
يَكْسِبُوْنَ
“Jika penduduk
negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka
berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami)
itu. Karena itu Kami menyiksa mereka disebabkan perbuatan mereka tersebut.” (QS. al-A’râf [7]: 96).
Sebaliknya, penerapan ideologi
buatan manusia yang lahir dari akal dan hawa nafsu, seperti
Kapitalisme-sekuler, hanya akan melanggengkan penjajahan, kesempitan hidup, dan
kezaliman, sebagaimana firman-Nya:
وَمَنْ
اَعْرَضَ
عَنْ
ذِكْرِيْ
فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً
ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ
يَوْمَ الْقِيٰمَةِ
اَعْمٰى
”Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran), sungguh bagi dia
kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkan dirinya pada Hari Kiamat dalam
keadaan buta.” (QS. Thâhâ [20]: 124).
Karena itu, negeri ini harus
segera kembali kepada hukum Allah dengan menerapkan syariah Islam secara
kaaffah dalam seluruh aspek kehidupan melalui institusi politik Islam, yaitu
Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah, yang akan mewujudkan kemerdekaan hakiki bagi
umat, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. WalLâhu
a’lam bi ash-shawâb. []
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
اْلقُرْآنِ
اْلعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيمِ
وَتَقَبَّلَ
اللهُ مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
العَلِيْمُ،
وَأَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
فَأسْتَغْفِرُ
اللهَ
العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ عَلىَ
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
اِلٰهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى
رِضْوَانِهِ،
اللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
اٰلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
اَيُّهَا
النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَـنَّى
بِمَلآ
ئِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلآئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِى
يآ اَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى
اَنْبِيآئِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلآئِكَةِ
اْلمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِي، وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَتَابِعِي
التَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ
اَلاَحْيآءَ
مِنْهُمْ
وَاْلاَمْوَاتِ،
اللّٰهُمَّ أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَاْلمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
اْلمُوَحِّدِيْنَ،
وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
اْلمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَاْلبَلاَءَ
وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ
وَاْلمِحَنَ،
وَسُوْءَ
اْلفِتْنَةِ
وَاْلمِحَنَ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا
اِنْدُونِيْسِيَّا
خآصَّةً
وَسَائِرِ
بُلْدَانِ
اْلمُسْلِمِيْنَ
عآمَّةً يَا رَبَّ
اْلعَالَمِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِناَ فِى
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
اْلآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَا
وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِاْلعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي
اْلقُرْبىَ
وَيَنْهَى
عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِ
وَاْلبَغْي
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
اْلعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلىَ
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ