KEADILAN ZAKAT VS
KEZALIMAN PAJAK
KHUTBAH PERTAMA
اللهُمَّ
فَصَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
كَانَ
صَادِقَ
الْوَعْدِ وَكَانَ
رَسُوْلًا
نَبِيًّا، وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
يُحْسِنُوْنَ
إِسْلاَمَهُمْ
وَلَمْ
يَفْعَلُوْا
شَيْئًا
فَرِيًّا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
اُوْصِيْنِيْ
نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
اِنَّمَا
الصَّدَقٰتُ
لِلْفُقَرَاۤءِ
وَالْمَسٰكِيْنِ
وَالْعٰمِلِيْنَ
عَلَيْهَا
وَالْمُؤَلَّفَةِ
قُلُوْبُهُمْ
وَفِى الرِّقَابِ
وَالْغٰرِمِيْنَ
وَفِيْ سَبِيْلِ
اللّٰهِ
وَابْنِ
السَّبِيْلِۗ
فَرِيْضَةً
مِّنَ
اللّٰهِۗ
وَاللّٰهُ
عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ ٦٠
(اَلتَّوْبَةُ)
Alhamdulillâhi
Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang
telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di
tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta
keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Bertakwalah kepada
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana
firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali
dalam keadaan muslim.”
(QS. Âli
Imrân
[3]: 102)
Sungguh takwa adalah
benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh,
hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Menteri Keuangan Sri Mulyani
Indrawati menyebut pajak memiliki filosofi yang sejalan dengan zakat dan wakaf.
“Dalam setiap rezeki ada hak orang lain. Caranya, hak orang lain itu
diberikan. Ada yang melalui zakat, wakaf dan pajak. Pajak itu kembali pada yang
membutuhkan,” kata Sri Mulyani dalam Sarasehan Nasional Ekonomi Syariah
Refleksi Kemerdekaan RI 2025 di Jakarta, Rabu (13/8/2025).
Menurut Sri Mulyani, konsep
ini tercermin pada berbagai program Pemerintah yang dibiayai APBN. Misalnya,
Program Keluarga Harapan (PKH) yang memberikan manfaat kepada 10 juta keluarga
tidak mampu. Ada juga bantuan sosial sembako untuk 18,2 juta penerima.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Pernyataan Menkeu Sri Mulyani
yang menyamakan pajak dengan zakat dan wakaf jelas gegabah dan menyesatkan.
Zakat adalah ibadah harta yang Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ perintahkan
khusus bagi kaum Muslim dengan aturan tertentu, bukan atas semua rakyat. Allah Subhânahu
Wa Ta’âlâ berfirman:
وَمَآ
اُمِرُوْٓا
اِلَّا
لِيَعْبُدُوا
اللّٰهَ
مُخْلِصِيْنَ
لَهُ
الدِّيْنَ ەۙ
حُنَفَاۤءَ
وَيُقِيْمُوا
الصَّلٰوةَ
وَيُؤْتُوا
الزَّكٰوةَ
وَذٰلِكَ
دِيْنُ
الْقَيِّمَةِ
”Mereka tidak
disuruh kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada Dia
dalam (menjalankan) agama yang lurus, juga supaya mereka mendirikan shalat dan
menunaikan zakat. Yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah [98]: 5).
Rasulullah Shallallâhu
‘alaihi wasallam bersabda:
أَنَّ
اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِيْ
أَمْوَالِهِمْ
تُؤْخَذُ
مِنْ
أَغْنِيَائِهِمْ
وَتُرَدُّ
عَلَى
فُقَرَائِهِمْ
”Sesungguhnya
Allah telah mewajibkan atas mereka (kaum Muslim) zakat dalam harta mereka, yang
diambil dari kalangan kaya di antara mereka, lalu diberikan kepada kalangan
fakir mereka.” (HR. al-Bukhari).
Zakat memiliki hikmah sebagai
pembersih harta muzakki, sesuatu yang tidak ada pada pajak. Allah Subhânahu
Wa Ta’âlâ berfirman:
خُذْ مِنْ
اَمْوَالِهِمْ
صَدَقَةً
تُطَهِّرُهُمْ
وَتُزَكِّيْهِمْ
بِهَا...
”Ambillah zakat dari sebagian harta mereka,
yang dengan zakat itu kalian membersihkan dan mensucikan mereka...” (QS. at-Taubah [9]: 103).
Selain itu, zakat hanya boleh
diberikan kepada delapan ashnaf sebagaimana firman-Nya:
اِنَّمَا
الصَّدَقٰتُ
لِلْفُقَرَاۤءِ
وَالْمَسٰكِيْنِ
وَالْعٰمِلِيْنَ
عَلَيْهَا
وَالْمُؤَلَّفَةِ
قُلُوْبُهُمْ
وَفِى الرِّقَابِ
وَالْغٰرِمِيْنَ
وَفِيْ سَبِيْلِ
اللّٰهِ
وَابْنِ
السَّبِيْلِۗ
فَرِيْضَةً
مِّنَ
اللّٰهِۗ
وَاللّٰهُ
عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ
”Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk kaum fakir, kaum miskin, para
pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hati mereka, untuk (memerdekakan)
budak, untuk kaum yang berutang, untuk (jihad) fi sabilillah dan untuk mereka yang
sedang dalam perjalanan; sebagai suatu ketetapan yang telah Allah wajibkan.
Allah Mahatahu lagi Mahabijaksana.” (QS. at-Taubah [9]: 60).
Karena itu, zakat tidak boleh
dipakai untuk kepentingan pembangunan proyek negara atau membayar utang,
berbeda dengan pajak dalam sistem kapitalisme.
Zakat adalah fardhu ‘ain bagi
Muslim yang hartanya mencapai nisab dan haul, dengan objek harta yang telah
ditentukan syariah. Menolak zakat adalah dosa besar, sebagaimana sabda Nabi Shallallâhu
‘alaihi wasallam:
مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ ، مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ
“Siapa saja yang Allah beri harta, namun tidak mengeluarkan zakatnya, maka
pada Hari Kiamat harta tersebut akan dijelmakan dalam bentuk ular jantan ganas.” (HR. al-Bukhari). Bahkan
penolakan zakat dapat berkonsekuensi pada batalnya iman, sebagaimana keputusan
Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallâhu
’anhu memerangi kaum murtad karena
enggan menunaikan kewajiban ini.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Pajak sejatinya tidak memiliki
dasar dalam Islam. Setiap pungutan harta yang bertentangan dengan al-Qur’an dan
as-Sunnah adalah bentuk kezaliman. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:
وَلَا
تَأْكُلُوْٓا
اَمْوَالَكُمْ
بَيْنَكُمْ
بِالْبَاطِلِ...
”Janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan jalan yang batil...” (QS. al-Baqarah [2]: 188).
Imam Ibnu Katsir rahimahulLaah menjelaskan ayat ini sebagai larangan atas segala bentuk perampasan
harta, terlebih jika dilakukan penguasa terhadap rakyatnya. Rasulullah Shallallâhu
‘alaihi wasallam juga bersabda:
كُلُّ
الْمُسْلِمِ
عَلَى
الْمُسْلِمِ
حَرَامٌ
دَمُهُ
وَمَالُهُ
وَعِرْضُهُ
“Setiap Muslim atas Muslim yang lain
haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya” (HR. Muslim).
Pajak adalah kezaliman karena
dipungut dari seluruh rakyat tanpa membedakan kaya-miskin, agama, atau jenis
harta, bahkan dapat dinaikkan sesuai kepentingan penguasa. Saat ini, kenaikan
Pajak Bumi dan Bangunan (PBB-P2) di berbagai daerah mencapai 200–1000% akibat
kebijakan pemerintah pusat memangkas transfer ke daerah. Rakyat semakin
terbebani di tengah kondisi ekonomi sulit, daya beli menurun, pengangguran dan
PHK meningkat, serta kemiskinan bertambah. Sementara itu, pejabat negara,
komisaris BUMN, dan anggota DPR justru menikmati penghasilan fantastis hingga
ratusan juta rupiah per bulan ditambah berbagai tunjangan dan bonus besar.
Dalam Islam, pungutan pajak
atas harta rakyat adalah haram. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam
bersabda:
لَا
يَدْخُلُ
الْجَنَّةَ
صَاحِبُ
مَكْسٍ
”Tidak akan masuk surga pemungut
pajak (cukai).” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan al-Hakim).
Oleh karena itu, pajak tidak
bisa disamakan dengan zakat maupun wakaf. Islam telah menetapkan aturan jelas
dalam mengatur harta umat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Syariah Islam telah menetapkan
sumber pemasukan negara tanpa pajak, seperti pengelolaan sumber daya alam,
kepemilikan umum, serta harta hasil sitaan korupsi yang wajib dirampas negara.
Utang luar negeri ribawi jelas diharamkan karena menjadi alat penjajahan
ekonomi dan membebani APBN, sebagaimana Indonesia yang harus mengalokasikan
hampir Rp 600 triliun pada 2026 hanya untuk bunga utang. Dalam sistem Islam,
negara berkewajiban mengurus rakyat tanpa membeda-bedakan pusat dan daerah,
serta haram mengurangi pelayanan publik atau membebankannya kepada rakyat lewat
pajak dan iuran seperti BPJS. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam
bersabda: “Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan dia akan dimintai
pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Karena itu, penguasa harus
bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan rakyat dan hidup sederhana sebagaimana
rakyatnya, bukan bermewah-mewah di tengah penderitaan umat. Sistem Islam
meniscayakan pemimpin yang amanah, adil, dan bertanggung jawab penuh atas
kesejahteraan rakyat, bukan malah menindas mereka dengan pajak dan berbagai
beban ekonomi. Hanya dengan kembali pada syariah Islam secara kaffah, keadilan
dan kesejahteraan sejati dapat terwujud bagi seluruh umat. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
اْلقُرْآنِ
اْلعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيمِ
وَتَقَبَّلَ
اللهُ مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
العَلِيْمُ،
وَأَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
فَأسْتَغْفِرُ
اللهَ
العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ عَلىَ
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
اِلٰهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى
رِضْوَانِهِ،
اللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
اٰلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
اَيُّهَا
النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَـنَّى
بِمَلآ
ئِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلآئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِى
يآ اَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى
اَنْبِيآئِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلآئِكَةِ
اْلمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِي، وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَتَابِعِي
التَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ
اَلاَحْيآءَ
مِنْهُمْ
وَاْلاَمْوَاتِ،
اللّٰهُمَّ أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَاْلمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
اْلمُوَحِّدِيْنَ،
وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
اْلمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَاْلبَلاَءَ
وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ
وَاْلمِحَنَ،
وَسُوْءَ
اْلفِتْنَةِ
وَاْلمِحَنَ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا
اِنْدُونِيْسِيَّا
خآصَّةً
وَسَائِرِ
بُلْدَانِ
اْلمُسْلِمِيْنَ
عآمَّةً يَا رَبَّ
اْلعَالَمِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِناَ فِى
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
اْلآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَا
وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِاْلعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي
اْلقُرْبىَ
وَيَنْهَى
عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِ
وَاْلبَغْي
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
اْلعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلىَ
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ