Seruan Masjid

Khadimul Ummah wa Du'at

HARAM MERUSAK ALAM

HARAM MERUSAK ALAM

cropped-dmdi-logo-warna.png

HARAM MERUSAK ALAM

HARAM MERUSAK ALAM!

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ۝٤١ (اَلرُّوْمُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Raja Ampat, yang kerap disebut sebagai “surga terakhir di bumi,” kini menghadapi ancaman serius akibat eksploitasi sumber daya alam. Kampanye “Save Raja Ampat” mencuat sebagai bentuk protes terhadap kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh aktivitas pertambangan nikel di kawasan tersebut. Dalam Indonesia Critical Mineral Conference & Expo 2025 yang dihadiri peserta internasional di Jakarta (3/6/2025), Greenpeace dan Masyarakat Adat Papua menyuarakan penolakan terhadap dampak buruk hilirisasi industri nikel yang merusak ekosistem laut, hutan tropis, dan kehidupan sosial masyarakat adat.

Menurut data Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), terdapat 380 Izin Usaha Pertambangan (IUP) nikel yang mencakup area seluas 983.300,48 hektar di berbagai wilayah Indonesia. Sayangnya, alih-alih membawa kesejahteraan, aktivitas pertambangan justru meningkatkan kemiskinan dan merusak lingkungan. Indonesia bahkan tercatat sebagai negara dengan tingkat kerusakan hutan tropis akibat industri tambang tertinggi di dunia, menyumbang 58,2 persen dari total deforestasi yang terjadi di 26 negara, terutama pada periode 2010–2014 dan terus berlanjut hingga kini. Kebijakan pemerintah yang membuka akses tambang di wilayah konservasi dinilai sebagai bentuk penyerahan kedaulatan sumber daya alam kepada oligarki, yang berarti mempertaruhkan masa depan negeri ini.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Deforestasi besar-besaran di Indonesia merupakan akibat langsung dari sistem ekonomi Kapitalisme yang menjadikan tanah dan sumber daya alam sebagai komoditas. Dalam sistem ini, negara hanya berperan sebagai fasilitator kepentingan pemilik modal, sementara rakyat terpinggirkan. Oligarki—hasil dari Kapitalisme—mengendalikan kebijakan melalui lobi, politik, dan media, sehingga kawasan konservasi seperti Raja Ampat pun dikorbankan demi tambang nikel dan memenuhi permintaan pasar global baterai kendaraan listrik.

Kerusakan ekologis akibat sistem ini mencakup deforestasi, pencemaran lingkungan, perubahan iklim, dan eksploitasi laut serta keanekaragaman hayati. Korporasi besar menguasai lahan luas, menggusur masyarakat adat dan petani kecil, serta merusak lingkungan melalui proyek infrastruktur. Dengan dukungan kekuasaan politik, mereka bebas membentuk undang-undang, meloloskan izin, dan menghindari sanksi. Akibatnya, ketimpangan ekonomi meningkat, konflik agraria meluas, pembela lingkungan dikriminalisasi, dan krisis iklim global semakin memburuk.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Kapitalisme melalui tangan oligarki terus menciptakan kerusakan ekologi dan memiskinkan rakyat. Sistem ini menjadikan sumber daya alam sebagai komoditas demi keuntungan segelintir elite. Atas nama investasi dan transisi hijau, eksploitasi dilakukan besar-besaran seperti tambang nikel di Raja Ampat yang justru merusak lingkungan dan mengusik kehidupan masyarakat lokal. Padahal Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ telah melarang manusia berbuat kerusakan setelah Allah memperbaikinya;

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ

Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi sesudah bumi itu Allah perbaiki. Berdoalah kalian kepada Dia dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sungguh rahmat Allah amat dekat dengan kaum yang berbuat baik (QS. al-A’râf [7]: 56).

 

Ironisnya, jargon pembangunan berkelanjutan hanya menjadi kedok eksploitasi yang sesungguhnya. Allah telah memperingatkan: “Telah tampak kerusakan di darat dan laut disebabkan karena ulah tangan manusia...” (QS. ar-Rûm [30]: 41).

Berbagai bencana ekologis seperti banjir, kekeringan, pencemaran, hingga kebakaran hutan merupakan konsekuensi dari kemaksiatan manusia yang menyalahi aturan Allah, terutama dalam pengelolaan sumber daya alam. Dalam sistem Kapitalisme, pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) diserahkan kepada oligarki, bukan untuk kesejahteraan rakyat, tetapi untuk keuntungan segelintir pihak. Kerusakan ini menjadi bentuk peringatan dari Allah agar manusia kembali kepada syariah-Nya dan bertobat. Kunci penyelamatan ekologi terletak pada sistem yang benar sesuai petunjuk syariat.

Islam memandang sumber daya alam strategis seperti tambang sebagai milik umum (milkiyyah ‘âmmah) yang tidak boleh dimiliki swasta atau asing. Negara wajib mengelolanya untuk kepentingan seluruh rakyat. Sabda Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam;

الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ : فِي الْمَاءِ وَالْكَلَإِ وَالنَّارِ ، وَثَمَنُهُ حَرَامٌ

”Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api; dan harganya adalah haram.” (HR. Ibnu Majah No.2472).

 

Hadits ini menunjukkan bahwa SDA adalah milik bersama dan tidak boleh diprivatisasi. Dalam sistem Islam, negara bertindak sebagai pengelola dan pelindung, bukan mitra bisnis korporasi.

Islam menetapkan bahwa manusia adalah khalifah di bumi (QS. al-Baqarah [2]: 30) dan wajib memakmurkannya tanpa merusaknya (QS. Hûd [11]: 61). Negara Islam (Khilafah) akan mengelola hasil tambang seperti nikel melalui lembaga negara dan menyalurkannya ke Baitul Mal untuk kemaslahatan publik, bukan kepada investor. Inilah sistem pengelolaan SDA yang adil dan lestari: dikelola negara sesuai syariah, untuk rakyat, dan menjaga keberlanjutan lingkungan.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Dengan demikian, hanya sistem Islamlah yang mampu mengelola sumber daya alam secara adil dan berkelanjutan. Dalam Islam, sumber daya strategis seperti tambang adalah milik umum (milkiyyah ‘âmmah) yang wajib dikelola oleh negara untuk kemaslahatan umat, bukan diserahkan kepada swasta atau asing. Khalifah sebagai râ’in bertanggung jawab penuh atas pengelolaan kekayaan alam ini dan tidak boleh menjadikannya sebagai ladang bisnis bersama korporasi. Hasil tambang disalurkan ke Baitul Mal untuk pelayanan publik

Eksploitasi tambang nikel di Raja Ampat mencerminkan kerusakan sistem Kapitalisme yang gagal menjaga amanah bumi. Selama sistem ini tetap menguasai tata kelola negara, kerusakan akan terus berlanjut. Karena itu, sudah saatnya umat meninggalkan sistem kufur ini dan menerapkan sistem Islam secara kâffah. Inilah bentuk keimanan dan ketakwaan yang hakiki, yang akan mengundang keberkahan dari Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ;

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

”Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. Karena itu Kami menghukum mereka karena perbuatan mereka itu” (QS. al-A’râf [7]: 96). WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

KETAATAN KEPADA ALLAH SWT MENUNTUT PERJUANGAN DAN PENGORBANAN

KETAATAN KEPADA ALLAH SWT MENUNTUT PERJUANGAN DAN PENGORBANAN

cropped-dmdi-logo-warna.png

KETAATAN KEPADA ALLAH SWT MENUNTUT PERJUANGAN DAN PENGORBANAN

KETAATAN KEPADA ALLAH SWT

MENUNTUT PERJUANGAN DAN PENGORBANAN

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ

 اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ اللهُ أكْبَرُ، الله أكبر وَللهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحَّدَنَا بِعِيْدِهِ كَأُمَّةٍ وَاحِدَةٍ، مِنْ غَيْرِ الأُمَم، وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ.

 

أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ، اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ.

 

الَلَّهُمَّ صَلِّ وَاُسَلِّمُ عَلَى حَبِيْبِناَ المُصْطَفَى، الَّذِّي بَلَّغَ الرِّسَالَةْ، وَأَدَّى الأَمَانَةْ، وَنَصَحَ الأُمَّةْ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ، وَجاَهَدَ فِيْ اللهِ حَقَّ جِهاَدِهِ.

 

اَمَّا بَعْدُ: عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. فَإِنَّ اللهَ سُبحَانَهُ وَتَعَالىَ يَقُوْلُ فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: ﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ﴾ [آل عمران: 102]

 

اَللهُ أَكْبَر، اَللهُ أَكْبَر، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّهِ الْحَمْدُ.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Segala pujian milik Allah, Tuhan semesta alam. Dialah Tuhan Yang telah menghantarkan kita pada hari yang penuh dengan keagungan. Inilah Yawm an-Nahr. Hari Raya Kurban. Inilah hari saat kaum Muslim diperintahkan untuk menunaikan shalat Idul Adha, menggemakan kalimat takbir dan melaksanakan ibadah kurban.

Karena itu berbahagialah. Sungguh, inilah hari yang penuh kemuliaan dari Allah Pencipta alam. Inilah salah satu dari dua hari terbaik untuk semua insan yang beriman. Inilah hari yang agung. Keagungan Hari Raya Kurban ini disabdakan langsung oleh Baginda Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam:

أَعظمُ الأيَّامِ عِنْدَ اللَهِ يَوْمُ النَّحْرِ

“Hari yang paling agung di sisi Allah adalah Hari Raya Kurban.” (HR Abu Dawud).

 

Ma’âsyiral-Muslimîn rahimakumulLâh,

Hari ini, lebih dari tiga juta kaum Muslim dari segenap penjuru dunia, berkumpul di Tanah Suci. Tentu untuk melaksanakan perintah berhaji. Lisan mereka selalu basah dengan rangkaian doa dan kalimat talbiyah: “Labayk AlLaahumma labayk”. Adapun jiwa dan raga mereka tunduk pada Rabb Ka’bah untuk melaksanakan ibadah.

Sudah seharusnya kaum Muslim bersatu dalam pelaksanaan Idul Adha sebagaimana bersatu dalam pelaksanaan ibadah haji. Di mana-mana kalimat takbir, tahlil dan tahmid berkumandang tiada henti. Semesta berguncang karena gema talbiyah di segenap penjuru bumi. Demikianlah seperti yang pernah terjadi pada masa Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam, Khulafa ar-Rasyidin serta generasi terbaik umat ini. Alangkah indahnya jika persatuan umat ini kembali terwujud hari ini. Mereka bersatu tanpa dibatasi oleh suku, bangsa, bahasa dan batas-batas negeri. Dengan begitu akan terwujud ukhuwah Islamiyah yang sejati dan persatuan umat yang hakiki.

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Ma’âsyiral-Muslimîn rahimakumulLâh,

Setiap kali perayaan Hari Raya Kurban, kita selalu diingatkan dengan keteladanan KhaliilulLaah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan keluarganya. Tentu karena begitu besarnya keteladanan mereka sehingga Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ pun memuji mereka. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:

 

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْهِمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُو اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّ فَاِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ

”Sungguh pada mereka itu (Ibrahim dan keluarganya) ada teladan yang baik bagi kalian; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Akhir. Siapa saja yang berpaling, sungguh Allah, Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. al-Mumtahanah [60]: 6).

 

Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok hamba Allah yang menghabiskan seluruh hidupnya dalam perjuangan di jalan-Nya. Ia menegakkan kalimat tauhid secara nyata. Ia menentang keyakinan dan pemahaman batil kaumnya. Hal itu ia sampaikan secara terbuka. Ia tak pernah menutup-nutupi kebenaran yang memang seharusnya ia nyatakan. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:

إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ (٥٢) قَالُواْ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا لَهَا عَٰبِدِينَ (٥٣) قَالَ لَقَدۡ كُنتُمۡ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمۡ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ (٥٤)

(Ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, "Patung-patung apakah ini, yang kalian kelilingi (dengan penuh penghormatan)?" Mereka menjawab, "Kami mendapati bapak-bapak kami menyembah patung-patung ini." Ibrahim berkata, "Sungguh kalian dan bapak-bapak kalian berada dalam kesesatan yang nyata!"

(QS. al-Anbiyâ’ [21]: 52-54).

 

Nabi Ibrahim ‘alaihis salam sanggup berhadapan dengan penguasa kufur dan zalim. Ia menyampaikan dakwah tauhid ini secara terbuka dan terangan-terangan. Padahal risiko yang ia hadapi amatlah besar. Namun, Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ senantiasa menolong hamba-Nya yang beriman dan senantiasa bersabar. Demikian sebagaimana firman-Nya:

قَالُوْا حَرِّقُوْهُ وَانْصُرُوْٓا اٰلِهَتَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ فٰعِلِيْنَ (٦٨) قُلْنَا يٰنَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ (٦٩)

Mereka berkata, "Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kalian jika kalian benar-benar hendak bertindak." Kami berfirman, "Hai api! Jadilah engkau dingin dan selamatkanlah Ibrahim!"

(QS. al-Anbiyâ’ [21]: 68-69).

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Ma’âsyiral-Muslimîn rahimakumulLâh,

Nabiyullah Ibrahim ‘alaihis salam juga memberikan keteladanan berupa ketaatan kepada Allah tanpa keraguan. Ketika Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ memerintahkan dirinya untuk meninggalkan sanak-keluarganya di negeri yang kering dan tandus, maka perintah itu ia laksanakan tanpa kebimbangan. Pada saat itu istrinya, Hajar, bertanya tentang tindakan suaminya, "Ibrahim, ke mana engkau pergi? Mengapa engkau meninggalkan kami di lembah yang tidak berpenghuni dan tanpa apa pun?" Ia mengulangi pertanyaannya berkali-kali. Namun, Ibrahim ‘alaihis salam tidak menoleh kepada istrinya itu. Akhirnya, Hajar bertanya, "Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk melakukan ini?" Ibrahim ‘alaihis salam baru menjawab, "Ya." Mendengar jawaban itu, Hajar pun berkata, "Kalau begitu, Dia tidak akan menyia-nyiakan kami."

Setelah itu Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berdoa sambil mengangkat tangannya:

رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجْعَلْ أَفْـِٔدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهْوِىٓ إِلَيْهِمْ وَٱرْزُقْهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ (٣٧)

“Wahai Tuhan kami, sungguh aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tandus, dekat rumah-Mu yang suci, wahai Tuhan kami, agar mereka melaksanakan shalat. Karena itu jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki berupa buah-buahan agar mereka bersyukur.” (QS. Ibrâhim [14]: 37).

 

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Ma’âsyiral-Muslimîn rahimakumulLâh,

Puncak ketaatan dan pengorbanan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah ketika Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ memerintahkan penyembelihan putra tercintanya, Ismail ‘alaihis salam Namun, dengan keyakinan dan keikhlasan, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Ismail ‘alaihis salam melaksanakan perintah Allah tersebut tanpa sedikut pun kebimbangan. Karena itu Allah pun membalas pengorbanan mereka dengan penuh penghargaan. Demikian sebagaimana firman-Nya:

قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ (١٠٥) إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ (١٠٦)

”Sungguh kamu telah membenarkan mimpi itu. Sungguh demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. ash-Shâffât [37]: 105-106).

 

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Ma’âsyiral-Muslimîn rahimakumulLâh,

Sebagaimana keteladanan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, maka setiap Muslim yang mengharapkan ridha Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ seharusnya mengerahkan ketaatan penuh kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ. Ia akan berusaha untuk bersungguh-sungguh menjalankan seluruh perintah Rabb-nya. Tak akan memisahkan satu hukum Allah dengan satu hukum-Nya yang lain. Tak akan pula mengunggulkan satu hukum Allah di atas hukum-Nya yang lain. Sebabnya, ia ingat dengan firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ:

أَفَتُؤۡمِنُونَ بِبَعۡضِ ٱلۡكِتَٰبِ وَتَكۡفُرُونَ بِبَعۡضٖۚ فَمَا جَزَآءُ مَن يَفۡعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمۡ إِلَّا خِزۡيٞ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰٓ أَشَدِّ ٱلۡعَذَابِۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ (٨٥)

”Apakah kalian mengimani sebagian al-Kitab dan mengingkari sebagian lainnya? Tidak ada balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada Hari Kiamat mereka dikembalikan pada siksaan yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kalian perbuat.” (QS. al-Baqarah [2]: 85).

 

Karena itu apa alasan yang akan disampaikan di akhirat di hadapan Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ ketika seorang Muslim membatasi ketaatan hanya pada ibadah atau aspek akhlak saja? Atau hanya dalam urusan muamalah saja? Pada saat yang sama ia menolak untuk menaati hukum-hukum Allah yang lain? Ia menolak syariah Allah dalam bidang ekonomi, politik, hukum, pemerintahan, jihad, dan lain-lain? Mengapa kaum Muslim begitu sempurna melaksanakan hukum pengurusan jenazah, misalnya, tetapi berani mengabaikan aturan Islam dalam kehidupan? Seolah-olah aturan agama ini ditujukan hanya untuk mengurus orang mati saja.

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Ma’âsyiral-Muslimîn rahimakumulLâh,

Ketaatan kita kepada Allah tak akan sempurna tanpa perjuangan menegakkan agama-Nya. Demikian sebagaimana yang dicontohkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam Ia tak pernah berhenti berjuang menegakkan kalimatulLaah sekalipun berhadapan dengan kekuasaan zalim. Ia pun tidak menyembunyikan dakwah dan kebenaran yang ia emban. Secara terbuka ia menyampaikan dakwah kepada kaumnya, termasuk kepada para penguasa tiran.

Ketaatan kepada Allah jelas membutuhkan pengorbanan. Semata-mata demi kemuliaan Islam. Demikianlah seperti Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang rela berpisah dengan keluarganya. Bahkan ia rela mengorbankan putranya di jalan Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ.

Sejarah juga mencatat bagaimana para Sahabat Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam berlomba-lomba berkorban dalam perjuangan menegakkan Islam. Mereka mengorbankan harta bahkan jiwa dan raga mereka di jalan Allah dengan penuh kerelaan. Sungguh mereka telah berjual-beli dengan Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan penuh kesungguhan. Demikian sebagaimana yang Allah firmankan:

إِنَّ ٱللَّهَ ‌ٱشۡتَرَىٰ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَنفُسَهُمۡ وَأَمۡوَٰلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلۡجَنَّةَۚ يُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ فَيَقۡتُلُونَ وَيُقۡتَلُونَۖ (١١١)

”Sungguh Allah telah membeli dari kaum Mukmin diri dan harta mereka dengan bayaran surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh.”

(QS. at-Taubah [9]: 111).

 

Demikian tingginya semangat perjuangan dan pengorbanan kaum Muslim pada masa Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam, sampai diriwayatkan pada Perang Tabuk para Sahabat Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam yang dhuafa menangis bercucuran air mata karena tidak bisa ikut serta dalam peperangan karena ketiadaan harta sebagai perbekalan.

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Ma’âsyiral-Muslimîn rahimakumulLâh,

Betapa sering kita membatasi diri dalam amal dan pengorbanan, lalu merasa puas dengan apa yang telah kita lakukan. Diri ini enggan berjuang dan berkorban saat dirasa akan merugikan harta, kedudukan atau keluarga. Sungguh ironis. Kita mengklaim cinta pada agama, tetapi enggan berjuang dan berkorban dengan pengorbanan terbaik dan terbesar untuk kemuliaan agama kita.

Ada orang yang mau berjuang dan berkorban untuk peribadatan, tetapi enggan berjuang dan berkorban demi tegaknya kehidupan Islam, melalui penegakan hukum-hukum Allah dalam naungan Khilafah Islam. Padahal perkara itu dinamakan oleh para ulama sebagai taaj al-furuudh atau mahkota kewajiban agama. Akibat ketiadaan kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah Islam, umat merasakan derita luar biasa. Kriminalitas merajalela. Premanisme berkuasa. Korupsi makin menggila. Sumberdaya alam dikuasai oleh pihak swasta dan asing secara semena-mena. Bahkan umat saat ini kesulitan walau untuk sekadar mendapatkan jaminan makanan halal saja.

Sebab itu, seharusnya firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dalam ayat di atas menampar kita. Dimanakah letak pengorbanan kita untuk agama kita tercinta? Pantaskah kita mendapat kedudukan orang bertakwa? Atau jangan-jangan kita tergolong kaum yang fasik secara nyata? Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:

قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ وَإِخۡوَٰنُكُمۡ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَٰلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٞ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ ‌تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٖ فِي سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ

Katakanlah, "Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya dan tempat tinggal yang kalian sukai itu lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan (azab)-Nya. Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS. at-Taubah [9]: 24).

 

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Ma’âsyiral-Muslimîn rahimakumulLâh,

Di tengah perayaan Idul Adha ini, kita juga masih terus menyaksikan penderitaan saudara seiman di Gaza. Militer Yahudi masih terus melakukan genosida terhadap mereka. Diperkirakan hari ini jumlah korban meninggal mencapai 54 ribu jiwa. Saat ini juga ada hampir dua juta penduduk Gaza berada dalam kelaparan akibat blokade oleh kaum zionis Yahudi secara membabi-buta.

Namun, yang paling memilukan, Dunia Islam hanya menjadi penonton. Tak ada satu pun penguasa negeri Muslim yang tergerak memberikan pertolongan. Sebaliknya, sejumlah pemimpin Arab justru mengirimkan uang setara ribuan triliun rupiah ke negeri penyokong zionis Yahudi, yakni Amerika Serikat. Para pemimpin Dunia Islam sengaja mengabaikan panggilan jihad demi mengusir para penjajah dari tanah air mereka. Padahal Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ telah memerintahkan mereka:

وَاقۡتُلُوۡهُمۡ حَيۡثُ ثَقِفۡتُمُوۡهُمۡ وَاَخۡرِجُوۡهُمۡ مِّنۡ حَيۡثُ اَخۡرَجُوۡكُمۡ‌ وَالۡفِتۡنَةُ اَشَدُّ مِنَ الۡقَتۡلِۚ

”Bunuhlah mereka di mana saja kalian temui mereka dan usirlah mereka dari mana mereka telah mengusir kalian. Fitnah (kekufuran/kemusyrikan) itu lebih kejam daripada pembunuhan.” (QS. al-Baqarah [2]: 191).

 

Para pemimpin Dunia Islam, terutama para penguasa Arab, masih bersemangat menggelar ibadah haji. Namun, mereka enggan berjihad membebaskan Gaza dan mengusir kaum Yahudi. Padahal kewajiban jihad itu telah nyata dan telah diserukan tanpa henti.

Sebab itu, semakin nyata bahwa umat ini membutuhkan institusi pemerintahan Islam global. Itulah Khilafah Islam. Khilafah inilah yang akan melanjutkan kehidupan Islam. Khilafah inilah yang akan menegakkan hukum-hukum Allah dan menyebarluaskan Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad. Khilafah ini pula yang akan menyatukan umat Islam di seluruh dunia. Di dalam naungan Khilafahlah umat Islam sedunia akan bahu-membahu dan tolong-menolong di antara sesama mereka. Di bawah satu kepemimpinan global, Khilafah Islam, umat Islam sedunia akan sanggup membebaskan diri mereka dan saudara-saudara mereka dari segala derita akibat penjajahan bangsa-bangsa lain. Semua ini sebagai wujud nyata dari pelaksanaan sabda Baginda Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam:

 الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

”Seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya seperti satu bangunan. Sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.”
(HR Muslim).

 

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ. آمِيْن.

 

 

 

 

 

KHUTBAH KEDUA

 

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ؛ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ: اَللهُ أَكْبَرُ، وللهِ الْحَمْدُ.

 

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.

 

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ كَرَّمَ هَذهِ الأُمَّةَ بِشَرِيْعَتِهِ الْكَامِلَةِ، وَخَصَّ بِهَا بِنُبُوَّةِ نَبِيِّهِ الْكَرِيْمَةِ، وَاَعَزَّهَا بِالْخِلَافَةِ الرَّاشِدَةِ. عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّا بَعْدَهُ. اَرْسَلَهُ بِرِسَالَتِهِ الْقُدْسِيَّةِ، وَاَحْكَامِهِ الشَّرِيْفَةِ، لِمُعَالَجَةِ كُلِّ مُشْكِلَةِ الْحَيَاةِ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَذُرِّيَاتِهِ وَأَصْحَابِهِ، صَلاَةً تَجْلِبُ الْخَيْرَ وَالفَلاَحَ وَرِضْوَانَهُ، فِي  الدِّيْنِ والدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

 

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا اَيُّهاَ الْمُؤْمِنُوْنَ، تَمَسَّكوا بِاْلإِسْلاَمِ فِي كُلِّ حِيْنٍ، وَ اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَ لاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَ أَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّهِ الْحَمْدُ

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Akhirnya, marilah kita memohon kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ. Semoga Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ mengabulkan seluruh permohonan kita. Semoga Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ memberi kita kesabaran dan keikhlasan. Semoga Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ menguatkan kita untuk berperan penting dalam upaya menciptakan persatuan kaum Muslim, juga dalam menjalankan ketaatan secara kaaffah dengan mengamalkan dan menerapkan semua syariah-Nya.

 

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعَا إِلَى اللهِ بِدَعْوَةِ اْلإِسْلاَمِ، وَمَنْ تَمَسَّكَ بِسُنَّةِ رَسُوْلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحسْاَنٍ اِلى يَوْمِ الدِّيْنِ.

 

اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، أَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا اِنْ نَّسِيْنَآ أَوْ اَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَاِفِرِيْنَ.

 

اَللَّهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ وَصَلِيْبِيِّيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ.

 

 اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَ اجْعَلْناَ مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ بِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

 

اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا دُعَائَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

 

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

اللهُ أَكْبَرْ اللهُ أَكْبَرْ اللهُ أَكْبَرْ وَللهِ الْحَمْدُ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

HAJI DAN PERSATUAN HAKIKI

HAJI DAN PERSATUAN HAKIKI

cropped-dmdi-logo-warna.png

HAJI DAN PERSATUAN HAKIKI

HAJI DAN PERSATUAN HAKIKI

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

اَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاۤجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِۗ لَا يَسْتَوٗنَ عِنْدَ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَۘ ۝١٩ (اَلتَّوْبَةُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Di tengah suasana spiritual yang khusyuk, Kota Suci Makkah kembali dipenuhi jutaan umat Islam dari seluruh penjuru dunia yang menunaikan ibadah haji. Ibadah ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan perintah langsung dari Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ bagi setiap Muslim yang mampu, sebagaimana firman-Nya;

وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًاۗ

”...(Di antara) kewajiban manusia kepada Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu melakukan perjalanan ke sana...”

(QS. Ali Imrân [3]: 97).

 Haji juga menjadi puncak ketaatan seorang hamba, dengan balasan yang agung: surga bagi haji yang mabrur, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam;

 

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

”Haji yang mabrur itu tidak ada balasan (bagi pelaku)-nya selain surga.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

 

Selain sebagai bentuk ketaatan total kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ, ibadah haji adalah simbol persatuan umat Islam secara global. Umat dari berbagai ras, bahasa, dan status sosial berkumpul, mengenakan pakaian ihram yang sama, serta melaksanakan ritual yang sama kepada Tuhan yang sama. Sayangnya, semangat persatuan itu kerap memudar saat para jamaah kembali ke negara masing-masing yang terpecah oleh batas-batas nasionalisme. Padahal, semangat haji seharusnya menjadi titik tolak persatuan ideologis umat Islam sedunia untuk menghadapi tantangan global seperti penjajahan Barat dan pendudukan Palestina oleh entitas Zionis yang telah berlangsung puluhan tahun.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Ibadah haji seharusnya menjadi momentum untuk menunjukkan solidaritas kepada sesama Muslim, khususnya saudara-saudara kita di Palestina. Sebab penderitaan mereka adalah penderitaan seluruh umat Islam. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

”Perumpamaan kaum Mukmin dalam hal kasih-sayang, saling mencintai dan saling membantu adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit maka seluruh tubuh akan merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim).

 

Sayangnya, momentum besar seperti haji tidak dimanfaatkan oleh penguasa Saudi untuk menggalang dukungan bagi Palestina, padahal ibadah ini dihadiri jutaan umat dari seluruh dunia dan bisa menjadi platform solidaritas global.

Tragisnya, meski ratusan ribu nyawa Muslim Palestina telah melayang dibantai entitas Yahudi, tak ada aksi tegas dari penguasa Arab dan negeri-negeri Muslim. Padahal dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa membunuh satu jiwa tak berdosa sama saja dengan membunuh seluruh umat manusia (QS. al-Mâidah [5]: 32). Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam pun bersabda: ”Kehancuran dunia ini lebih ringan di sisi Allah dibandingkan dengan pembunuhan seorang Muslim” (HR. an-Nasa’i). Bahkan Ka’bah yang begitu agung tidak lebih mulia dibandingkan seorang Mukmin, sebagaimana sabda Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam dalam riwayat al-Baihaqi.

Sejarah Islam mencatat bagaimana Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam dan para Khalifah sesudahnya membela darah kaum Muslim hingga tuntas. Ketika satu Muslim dibunuh oleh Yahudi Bani Qainuqa’ karena membela kehormatan seorang Muslimah, Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam langsung memerangi dan mengusir mereka dari Madinah (Sîrah Ibnu Hisyam, 3/9–11). Inilah keteladanan yang seharusnya diikuti para penguasa Muslim hari ini. Jika belum mampu melancarkan jihad, setidaknya mereka bisa menjadikan haji sebagai panggung untuk menyuarakan isu Palestina—melalui deklarasi bersama, penggalangan dana, atau tekanan diplomatik. Namun, bahkan langkah minimalis itu pun luput dilakukan.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Pemerintah Saudi selama ini mengklaim sebagai Pelayan Dua Kota Suci dan pelayan jamaah haji, namun ironisnya Saudi juga menjadi “pelayan” dan mitra strategis Amerika Serikat, negara yang justru menjadi pendukung utama penjajahan entitas Yahudi atas Palestina. Bahkan saat AS terang-terangan mendukung genosida atas warga Palestina, Saudi tetap memberikan kontrak pembelian senjata senilai ratusan miliar dolar kepada AS. Ini menunjukkan bahwa prioritas Saudi lebih pada hubungan politik-ekonomi dengan negara penjajah daripada membela saudara seiman yang sedang dizalimi.

Padahal dalam pandangan syariah, jihad untuk membela kaum Muslim yang tertindas jauh lebih utama daripada sekadar melayani jamaah haji. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang artinya: ”Apakah kalian menganggap upaya memberi makan dan minum orang yang berhaji serta membangun Masjid al-Haram sama (derajatnya) seperti orang yang mengimani Allah dan Hari Akhir serta berjihad di jalan Allah? Tidak sama di sisi Allah. Allah tidak memberikan hidayah kepada kaum yang zalim” (QS. at-Taubah [9]: 19). Ibn Asyur menafsirkan bahwa ayat ini mencela orang yang menghindari jihad dengan alasan sibuk melayani jamaah haji. Bahkan Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ mengancam:

إِلَّا تَنفِرُوا۟ یُعَذِّبۡكُمۡ عَذَابًا أَلِیمࣰا

”Jika kalian tidak berangkat berjihad maka Allah akan mengazab kalian dengan azab yang pedih...”

(QS. at-Taubah [9]: 39).

Ibadah haji seharusnya menjadi momen kebangkitan umat, bukan sekadar ritual tahunan. Hanya dengan kesadaran ideologis Islam dan institusi politik global yang menyatukan umat—yakni Khilâfah ‘alâ Minhâj an-Nubuwwah—persatuan sejati dan pembelaan atas darah kaum Muslim dapat terwujud. Tanpa itu, penderitaan saudara-saudara kita di Palestina dan di tempat lain akan terus berulang tanpa perlindungan dan pembelaan yang hakiki. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

AWAS, PRODUK HARAM BERSERTIFIKAT HALAL

AWAS, PRODUK HARAM BERSERTIFIKAT HALAL

cropped-dmdi-logo-warna.png

AWAS, PRODUK HARAM BERSERTIFIKAT HALAL

AWAS, PRODUK HARAM

BERSERTIFIKAT HALAL

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًاۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ۝١٦٨ (اَلْبَقَرَةُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Belum lama ini, publik dikejutkan oleh temuan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terkait sembilan produk pangan olahan yang terbukti mengandung unsur babi (porcine) berdasarkan uji DNA dan/atau peptida spesifik porcine. Yang mengkhawatirkan, tujuh di antaranya telah bersertifikat halal. BPJPH pun menjatuhkan sanksi berupa penarikan dari peredaran, sementara dua produk lainnya yang tidak bersertifikat halal terbukti memberikan data tidak akurat saat registrasi. BPOM telah mengeluarkan peringatan keras dan memerintahkan penarikan batch produk tersebut dari pasar.

Kasus ini mencerminkan lemahnya sistem pengawasan dan pengaruh sistem ekonomi kapitalisme-sekuler yang dominan saat ini. Dalam sistem ini, urusan bisnis dipisahkan dari nilai-nilai agama, sehingga pertimbangan halal dan haram sering diabaikan. Fokus utama hanya pada keuntungan materi dan akumulasi kapital, tanpa memperhatikan dampaknya terhadap kepercayaan dan kebutuhan konsumen Muslim.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Temuan 9 produk makanan yang terbukti mengandung babi menunjukkan bahwa potensi beredarnya makanan haram di tengah masyarakat Muslim Indonesia masih tinggi. Ini sangat memprihatinkan, mengingat Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia yang seharusnya menjamin kehalalan produk pangan. Padahal, Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ secara tegas mengharamkan konsumsi babi dalam firman-Nya:

قُلْ لَّآ اَجِدُ فِيْ مَآ اُوْحِيَ اِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلٰى طَاعِمٍ يَّطْعَمُهٗٓ اِلَّآ اَنْ يَّكُوْنَ مَيْتَةً اَوْ دَمًا مَّسْفُوْحًا اَوْ لَحْمَ خِنْزِيْرٍ فَاِنَّهٗ رِجْسٌ اَوْ فِسْقًا اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖۚ

Katakanlah, "Aku tidak menemukan dalam wahyu yang telah diwahyukan kepada diriku sesuatu yang diharamkan untuk dimakan oleh seseorang, kecuali makanan itu adalah bangkai, darah yang mengalir dan  daging babi—karena sesungguhnya semua itu kotor—atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah.” (QS. al-An’âm [6]: 145).

Sebaliknya, Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ memerintahkan agar manusia hanya memakan yang halal dan baik (halâlan thayyiban), sebagaimana dalam Firman-Nya :

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًاۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

”Hai sekalian manusia, makanlah yang halal dan baik (halaal[an] thayyib[an]) dari apa saja yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian.”

(QS. al-Baqarah [2]: 168).

 

Dalam Islam, makanan halal adalah yang diperbolehkan syariat (tidak mengandung babi, darah, bangkai, khamr, dan disembelih atas nama Allah), sedangkan makanan thayyib adalah yang bersih, sehat, dan tidak membahayakan tubuh maupun lingkungan. Makanan yang dikonsumsi tidak hanya mempengaruhi kesehatan jasmani, tetapi juga berpengaruh pada spiritualitas dan keberkahan hidup. Oleh karena itu, menghindari makanan haram merupakan bentuk ketakwaan seorang Muslim, dan seluruh lapisan masyarakat wajib bersinergi dalam mencegah peredaran makanan haram.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Ada beberapa dampak buruk akibat mengkonsumsi makanan haram: Pertama, makanan haram menjadi penghalang terkabulnya doa. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik... bagaimana mungkin doanya dikabulkan jika makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dikenyangkan dengan yang haram?” (HR. Muslim).

Kedua, makanan haram menggelapkan hati dan mendorong kepada kemaksiatan. Jika tubuh dibangun dari makanan haram, maka akhlak cenderung rusak. Makanan haram juga membuka pintu pengaruh setan, sebagaimana firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dalam QS. al-Mâidah [5]: 90 yang menyebut khamar, berjudi, dan praktik keharaman lainnya sebagai perbuatan setan yang harus dijauhi.

Ketiga, konsumsi makanan haram merusak amal ibadah dan bisa membawa kepada siksa neraka. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Setiap daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram maka azab neraka lebih layak bagi dirinya.” (HR. ath-Thabarani).

Dalam Islam, akal adalah amanah yang harus dijaga karena dari akal muncul kesadaran beragama dan tanggung jawab. Zat haram seperti alkohol dapat merusak akal dan memicu kerusakan sosial. Karena itulah Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ mewajibkan kaum Muslim untuk menjaga diri dengan hanya mengkonsumsi makanan yang halal dan baik demi kesehatan lahir-batin serta keberkahan hidup.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Selama negeri ini masih menganut sistem kapitalisme-sekuler yang mengabaikan hukum halal-haram, kaum Muslim akan terus menghadapi persoalan serius, termasuk dalam menjamin kehalalan makanan. Akar masalah di negeri ini bersifat sistemik. Karena itu solusinya juga harus bersifat sistemik, yakni dengan menerapkan sistem Islam yang berlandaskan wahyu Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ Dalam Islam, penguasa (khalifah) bertanggung jawab penuh atas pemeliharaan urusan rakyatnya, termasuk menjamin kehalalan makanan dan minuman sebagai bagian dari menjaga agama dan jiwa. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda;

الإِمَامُ رَاعٍ وَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

”Imam (kepala negara) adalah pemelihara dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.”

(HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dalam sistem pemerintahan Islam (Khilafah), kehalalan produk makanan dijamin melalui mekanisme pengawasan ketat, termasuk terhadap barang impor, pasar, dan distribusi. Khalifah tidak akan menjalin kerjasama yang membuka celah peredaran produk haram. Sejarah membuktikan, seperti pada masa kekhalifahan Islam, Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. pernah menolak untuk menerima daging yang berasal dari hewan yang tidak disembelih secara syar’i, serta memiliki institusi seperti Qadhi Hisbah yang independen untuk mengawasi pasar.

Hanya sistem Islam yang secara menyeluruh menjadikan halal-haram sebagai standar dan menjamin keberkahan hidup, karena sistem ini bersumber dari wahyu Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dan dilaksanakan dalam ketaatan kepada-Nya dan Rasul-Nya. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

UPDATE INFORMASI TERBARU