KHUTBAH PERTAMA
اللهُمَّ
فَصَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
كَانَ صَادِقَ
الْوَعْدِ
وَكَانَ
رَسُوْلًا
نَبِيًّا، وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
يُحْسِنُوْنَ
إِسْلاَمَهُمْ
وَلَمْ
يَفْعَلُوْا
شَيْئًا
فَرِيًّا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ، اُوْصِيْنِيْ
نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
اَجَعَلْتُمْ
سِقَايَةَ
الْحَاۤجِّ
وَعِمَارَةَ
الْمَسْجِدِ
الْحَرَامِ
كَمَنْ اٰمَنَ
بِاللّٰهِ
وَالْيَوْمِ
الْاٰخِرِ وَجَاهَدَ
فِيْ
سَبِيْلِ
اللّٰهِۗ لَا
يَسْتَوٗنَ
عِنْدَ
اللّٰهِۗ
وَاللّٰهُ
لَا يَهْدِى
الْقَوْمَ
الظّٰلِمِيْنَۘ ١٩
(اَلتَّوْبَةُ)
Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman
dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan
salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu
‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga
akhir zaman.
Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan
sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah
kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)
Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah
kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan
selamat di dunia dan akhirat.
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Di tengah suasana spiritual
yang khusyuk, Kota Suci Makkah kembali dipenuhi jutaan umat Islam dari seluruh
penjuru dunia yang menunaikan ibadah haji. Ibadah ini bukan sekadar ritual
tahunan, melainkan perintah langsung dari Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ bagi
setiap Muslim yang mampu, sebagaimana firman-Nya;
وَلِلّٰهِ
عَلَى
النَّاسِ
حِجُّ
الْبَيْتِ
مَنِ
اسْتَطَاعَ
اِلَيْهِ
سَبِيْلًاۗ
”...(Di antara) kewajiban manusia kepada Allah adalah
melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu
melakukan perjalanan ke sana...”
(QS. Ali Imrân [3]: 97).
Haji juga menjadi puncak ketaatan seorang
hamba, dengan balasan yang agung: surga bagi haji yang mabrur, sebagaimana
sabda Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam;
الْحَجُّ
الْمَبْرُورُ
لَيْسَ لَهُ
جَزَاءٌ
إِلَّا
الْجَنَّةُ
”Haji yang mabrur
itu tidak ada balasan (bagi pelaku)-nya selain surga.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Selain sebagai bentuk ketaatan
total kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ, ibadah haji adalah simbol
persatuan umat Islam secara global. Umat dari berbagai ras, bahasa, dan status
sosial berkumpul, mengenakan pakaian ihram yang sama, serta melaksanakan ritual
yang sama kepada Tuhan yang sama. Sayangnya, semangat persatuan itu kerap
memudar saat para jamaah kembali ke negara masing-masing yang terpecah oleh batas-batas
nasionalisme. Padahal, semangat haji seharusnya menjadi titik tolak persatuan
ideologis umat Islam sedunia untuk menghadapi tantangan global seperti
penjajahan Barat dan pendudukan Palestina oleh entitas Zionis yang telah
berlangsung puluhan tahun.
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Ibadah haji seharusnya menjadi
momentum untuk menunjukkan solidaritas kepada sesama Muslim, khususnya
saudara-saudara kita di Palestina. Sebab penderitaan mereka adalah penderitaan
seluruh umat Islam. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَثَلُ
الْمُؤْمِنِينَ
فِي
تَوَادِّهِمْ
وَتَرَاحُمِهِمْ
وَتَعَاطُفِهِمْ
مَثَلُ
الْجَسَدِ
إِذَا
اشْتَكَى
مِنْهُ
عُضْوٌ تَدَاعَى
لَهُ سَائِرُ
الْجَسَدِ
بِالسَّهَرِ
وَالْحُمَّى
”Perumpamaan kaum
Mukmin dalam hal kasih-sayang, saling mencintai dan saling membantu adalah
seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit maka seluruh tubuh akan
merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim).
Sayangnya, momentum besar
seperti haji tidak dimanfaatkan oleh penguasa Saudi untuk menggalang dukungan
bagi Palestina, padahal ibadah ini dihadiri jutaan umat dari seluruh dunia dan
bisa menjadi platform solidaritas global.
Tragisnya, meski ratusan ribu
nyawa Muslim Palestina telah melayang dibantai entitas Yahudi, tak ada aksi
tegas dari penguasa Arab dan negeri-negeri Muslim. Padahal dalam Al-Qur’an,
Allah menegaskan bahwa membunuh satu jiwa tak berdosa sama saja dengan membunuh
seluruh umat manusia (QS. al-Mâidah [5]: 32). Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam pun bersabda: ”Kehancuran
dunia ini lebih ringan di sisi Allah dibandingkan dengan pembunuhan seorang
Muslim” (HR. an-Nasa’i). Bahkan
Ka’bah yang begitu agung tidak lebih mulia dibandingkan seorang Mukmin,
sebagaimana sabda Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam dalam riwayat
al-Baihaqi.
Sejarah Islam mencatat
bagaimana Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam dan para Khalifah
sesudahnya membela darah kaum Muslim hingga tuntas. Ketika satu Muslim dibunuh
oleh Yahudi Bani Qainuqa’ karena membela kehormatan seorang Muslimah, Nabi Shallallâhu
‘alaihi wasallam langsung memerangi dan mengusir mereka dari Madinah (Sîrah
Ibnu Hisyam, 3/9–11). Inilah keteladanan yang seharusnya diikuti para
penguasa Muslim hari ini. Jika belum mampu melancarkan jihad, setidaknya mereka
bisa menjadikan haji sebagai panggung untuk menyuarakan isu Palestina—melalui
deklarasi bersama, penggalangan dana, atau tekanan diplomatik. Namun, bahkan
langkah minimalis itu pun luput dilakukan.
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Pemerintah Saudi selama ini
mengklaim sebagai Pelayan Dua Kota Suci dan pelayan jamaah haji, namun
ironisnya Saudi juga menjadi “pelayan” dan mitra strategis Amerika Serikat,
negara yang justru menjadi pendukung utama penjajahan entitas Yahudi atas
Palestina. Bahkan saat AS terang-terangan mendukung genosida atas warga
Palestina, Saudi tetap memberikan kontrak pembelian senjata senilai ratusan
miliar dolar kepada AS. Ini menunjukkan bahwa prioritas Saudi lebih pada
hubungan politik-ekonomi dengan negara penjajah daripada membela saudara seiman
yang sedang dizalimi.
Padahal dalam pandangan
syariah, jihad untuk membela kaum Muslim yang tertindas jauh lebih utama
daripada sekadar melayani jamaah haji. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah Subhânahu
Wa Ta’âlâ yang artinya: ”Apakah kalian menganggap upaya memberi makan
dan minum orang yang berhaji serta membangun Masjid al-Haram sama (derajatnya)
seperti orang yang mengimani Allah dan Hari Akhir serta berjihad di jalan
Allah? Tidak sama di sisi Allah. Allah tidak memberikan hidayah kepada kaum
yang zalim” (QS. at-Taubah [9]: 19).
Ibn Asyur menafsirkan bahwa ayat ini
mencela orang yang menghindari jihad dengan alasan sibuk melayani jamaah haji.
Bahkan Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ mengancam:
إِلَّا
تَنفِرُوا۟ یُعَذِّبۡكُمۡ
عَذَابًا
أَلِیمࣰا
”Jika kalian tidak
berangkat berjihad maka Allah akan mengazab kalian dengan azab yang pedih...”
(QS. at-Taubah [9]: 39).
Ibadah haji seharusnya menjadi
momen kebangkitan umat, bukan sekadar ritual tahunan. Hanya dengan kesadaran
ideologis Islam dan institusi politik global yang menyatukan umat—yakni Khilâfah ‘alâ Minhâj an-Nubuwwah—persatuan sejati dan pembelaan atas darah kaum Muslim dapat terwujud.
Tanpa itu, penderitaan saudara-saudara kita di Palestina dan di tempat lain
akan terus berulang tanpa perlindungan dan pembelaan yang hakiki. WalLâhu
a’lam bi ash-shawâb. []
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
اْلقُرْآنِ
اْلعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيمِ
وَتَقَبَّلَ
اللهُ مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
العَلِيْمُ،
وَأَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
فَأسْتَغْفِرُ
اللهَ
العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ عَلىَ
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
اِلٰهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أنَّ
سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى
رِضْوَانِهِ،
اللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
اٰلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
اَيُّهَا
النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَـنَّى
بِمَلآ
ئِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلآئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِى
يآ اَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا صَلُّوْا
عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى
اَنْبِيآئِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلآئِكَةِ
اْلمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِي،
وَعَنْ
بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَتَابِعِي
التَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ
اَلاَحْيآءَ
مِنْهُمْ
وَاْلاَمْوَاتِ،
اللّٰهُمَّ أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَاْلمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
اْلمُوَحِّدِيْنَ،
وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
اْلمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ الدِّيْنِ،
وَاعْلِ
كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَاْلبَلاَءَ
وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ
وَاْلمِحَنَ،
وَسُوْءَ
اْلفِتْنَةِ
وَاْلمِحَنَ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا
اِنْدُونِيْسِيَّا
خآصَّةً
وَسَائِرِ
بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ
عآمَّةً يَا
رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِناَ فِى
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
اْلآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَا
وَإنْ لَمْ
تَغْفِرْ
لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِاْلعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي
اْلقُرْبىَ
وَيَنْهَى
عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِ
وَاْلبَغْي
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
اْلعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلىَ
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ