BERSERTIFIKAT HALAL
KHUTBAH PERTAMA
اللهُمَّ
فَصَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
كَانَ
صَادِقَ
الْوَعْدِ
وَكَانَ
رَسُوْلًا
نَبِيًّا، وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
يُحْسِنُوْنَ
إِسْلاَمَهُمْ
وَلَمْ
يَفْعَلُوْا
شَيْئًا
فَرِيًّا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
اُوْصِيْنِيْ
نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
يٰٓاَيُّهَا
النَّاسُ
كُلُوْا
مِمَّا فِى الْاَرْضِ
حَلٰلًا
طَيِّبًاۖ
وَّلَا تَتَّبِعُوْا
خُطُوٰتِ
الشَّيْطٰنِۗ
اِنَّهٗ لَكُمْ
عَدُوٌّ
مُّبِيْنٌ ١٦٨
(اَلْبَقَرَةُ)
Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman
dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan
salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu
‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga
akhir zaman.
Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan
sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah
kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)
Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah
kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan
selamat di dunia dan akhirat.
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Belum lama ini, publik
dikejutkan oleh temuan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) dan
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terkait sembilan produk pangan olahan
yang terbukti mengandung unsur babi (porcine) berdasarkan uji DNA dan/atau
peptida spesifik porcine. Yang mengkhawatirkan, tujuh di antaranya telah
bersertifikat halal. BPJPH pun menjatuhkan sanksi berupa penarikan dari
peredaran, sementara dua produk lainnya yang tidak bersertifikat halal terbukti
memberikan data tidak akurat saat registrasi. BPOM telah mengeluarkan
peringatan keras dan memerintahkan penarikan batch produk tersebut dari pasar.
Kasus ini mencerminkan
lemahnya sistem pengawasan dan pengaruh sistem ekonomi kapitalisme-sekuler yang
dominan saat ini. Dalam sistem ini, urusan bisnis dipisahkan dari nilai-nilai
agama, sehingga pertimbangan halal dan haram sering diabaikan. Fokus utama
hanya pada keuntungan materi dan akumulasi kapital, tanpa memperhatikan
dampaknya terhadap kepercayaan dan kebutuhan konsumen Muslim.
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Temuan 9 produk makanan yang
terbukti mengandung babi menunjukkan bahwa potensi beredarnya makanan haram di
tengah masyarakat Muslim Indonesia masih tinggi. Ini sangat memprihatinkan,
mengingat Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia yang
seharusnya menjamin kehalalan produk pangan. Padahal, Allah Subhânahu Wa
Ta’âlâ secara tegas mengharamkan konsumsi babi dalam firman-Nya:
قُلْ لَّآ
اَجِدُ فِيْ
مَآ
اُوْحِيَ
اِلَيَّ
مُحَرَّمًا
عَلٰى
طَاعِمٍ
يَّطْعَمُهٗٓ
اِلَّآ اَنْ
يَّكُوْنَ
مَيْتَةً
اَوْ دَمًا
مَّسْفُوْحًا
اَوْ لَحْمَ
خِنْزِيْرٍ
فَاِنَّهٗ
رِجْسٌ اَوْ
فِسْقًا
اُهِلَّ
لِغَيْرِ
اللّٰهِ بِهٖۚ
Katakanlah,
"Aku tidak menemukan dalam wahyu yang telah diwahyukan kepada diriku
sesuatu yang diharamkan untuk dimakan oleh seseorang, kecuali makanan itu
adalah bangkai, darah yang mengalir dan
daging babi—karena sesungguhnya semua itu kotor—atau binatang yang
disembelih atas nama selain Allah.” (QS. al-An’âm [6]: 145).
Sebaliknya, Allah Subhânahu
Wa Ta’âlâ memerintahkan agar manusia hanya memakan yang halal dan baik (halâlan
thayyiban), sebagaimana dalam Firman-Nya :
يٰٓاَيُّهَا
النَّاسُ
كُلُوْا
مِمَّا فِى الْاَرْضِ
حَلٰلًا
طَيِّبًاۖ
وَّلَا تَتَّبِعُوْا
خُطُوٰتِ
الشَّيْطٰنِۗ
اِنَّهٗ لَكُمْ
عَدُوٌّ
مُّبِيْنٌ
”Hai sekalian manusia, makanlah yang
halal dan baik (halaal[an] thayyib[an]) dari apa saja yang terdapat di bumi,
dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan karena sesungguhnya setan
itu adalah musuh yang nyata bagi kalian.”
(QS. al-Baqarah [2]: 168).
Dalam Islam, makanan halal
adalah yang diperbolehkan syariat (tidak mengandung babi, darah, bangkai, khamr,
dan disembelih atas nama Allah), sedangkan makanan thayyib adalah yang bersih,
sehat, dan tidak membahayakan tubuh maupun lingkungan. Makanan yang dikonsumsi
tidak hanya mempengaruhi kesehatan jasmani, tetapi juga berpengaruh pada
spiritualitas dan keberkahan hidup. Oleh karena itu, menghindari makanan haram
merupakan bentuk ketakwaan seorang Muslim, dan seluruh lapisan masyarakat wajib
bersinergi dalam mencegah peredaran makanan haram.
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Ada beberapa dampak buruk
akibat mengkonsumsi makanan haram: Pertama, makanan haram
menjadi penghalang terkabulnya doa. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam
bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang
baik... bagaimana mungkin doanya dikabulkan jika makanannya haram, minumannya
haram, pakaiannya haram dan dikenyangkan dengan yang haram?” (HR. Muslim).
Kedua, makanan haram menggelapkan hati dan mendorong kepada kemaksiatan. Jika
tubuh dibangun dari makanan haram, maka akhlak cenderung rusak. Makanan haram
juga membuka pintu pengaruh setan, sebagaimana firman Allah Subhânahu Wa
Ta’âlâ dalam QS. al-Mâidah [5]: 90 yang menyebut khamar, berjudi, dan praktik keharaman lainnya sebagai
perbuatan setan yang harus dijauhi.
Ketiga, konsumsi makanan haram merusak amal ibadah dan bisa membawa kepada
siksa neraka. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Setiap
daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram maka azab neraka lebih layak bagi
dirinya.” (HR. ath-Thabarani).
Dalam Islam, akal adalah
amanah yang harus dijaga karena dari akal muncul kesadaran beragama dan
tanggung jawab. Zat haram seperti alkohol dapat merusak akal dan memicu
kerusakan sosial. Karena itulah Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ mewajibkan
kaum Muslim untuk menjaga diri dengan hanya mengkonsumsi makanan yang halal dan
baik demi kesehatan lahir-batin serta keberkahan hidup.
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Selama negeri ini masih
menganut sistem kapitalisme-sekuler yang mengabaikan hukum halal-haram, kaum
Muslim akan terus menghadapi persoalan serius, termasuk dalam menjamin
kehalalan makanan. Akar masalah di negeri ini bersifat sistemik. Karena itu
solusinya juga harus bersifat sistemik, yakni dengan menerapkan sistem Islam
yang berlandaskan wahyu Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ Dalam Islam, penguasa
(khalifah) bertanggung jawab penuh atas pemeliharaan urusan rakyatnya, termasuk
menjamin kehalalan makanan dan minuman sebagai bagian dari menjaga agama dan
jiwa. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda;
الإِمَامُ
رَاعٍ وَ
مَسْؤُوْلٌ
عَنْ رَعِيَّتِهِ
”Imam (kepala negara) adalah
pemelihara dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim).
Dalam sistem pemerintahan
Islam (Khilafah), kehalalan produk makanan dijamin melalui mekanisme pengawasan
ketat, termasuk terhadap barang impor, pasar, dan distribusi. Khalifah tidak
akan menjalin kerjasama yang membuka celah peredaran produk haram. Sejarah
membuktikan, seperti pada masa kekhalifahan Islam, Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. pernah
menolak untuk menerima daging yang berasal dari hewan yang tidak disembelih
secara syar’i, serta memiliki institusi seperti Qadhi Hisbah yang independen
untuk mengawasi pasar.
Hanya sistem Islam yang secara
menyeluruh menjadikan halal-haram sebagai standar dan menjamin keberkahan
hidup, karena sistem ini bersumber dari wahyu Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ
dan dilaksanakan dalam ketaatan kepada-Nya dan Rasul-Nya. WalLâhu a’lam bi
ash-shawâb. []
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
اْلقُرْآنِ
اْلعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيمِ
وَتَقَبَّلَ
اللهُ مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
العَلِيْمُ،
وَأَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
فَأسْتَغْفِرُ
اللهَ
العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ عَلىَ
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
اِلٰهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى
رِضْوَانِهِ،
اللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
اٰلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
اَيُّهَا
النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَـنَّى
بِمَلآ
ئِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلآئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِى
يآ اَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى
اَنْبِيآئِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلآئِكَةِ
اْلمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِي،
وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَتَابِعِي
التَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ
اَلاَحْيآءَ
مِنْهُمْ
وَاْلاَمْوَاتِ،
اللّٰهُمَّ أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَاْلمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
اْلمُوَحِّدِيْنَ،
وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
اْلمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَاْلبَلاَءَ
وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ
وَاْلمِحَنَ،
وَسُوْءَ
اْلفِتْنَةِ
وَاْلمِحَنَ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا
اِنْدُونِيْسِيَّا
خآصَّةً
وَسَائِرِ
بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ
عآمَّةً يَا
رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِناَ فِى
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
اْلآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَا
وَإنْ لَمْ
تَغْفِرْ
لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِاْلعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي
اْلقُرْبىَ
وَيَنْهَى
عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِ
وَاْلبَغْي
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
اْلعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلىَ
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ