MENUNTUT PERJUANGAN
DAN PENGORBANAN
KHUTBAH PERTAMA
اَلسَّلَامُ
عَلَيْكُمْ
وَرَحْمَةُ
اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَللهُ
أَكْبَرُ،
اَللهُ
أَكْبَرُ،
اَللهُ
أَكْبَرُ
اَللهُ
أَكْبَرُ،
اَللهُ
أَكْبَرُ،
اَللهُ
أَكْبَرُ
اَللهُ
أَكْبَرُ،
اَللهُ
أَكْبَرُ،
اَللهُ أَكْبَرُ،
وَللهِ
الْحَمْدُ
اَللهُ
اَكْبَرُ
كَبِيْرًا
وَالْحَمْدُ
ِللهِ
كَثِيْرًا
وَسُبْحَانَ
اللهِ بُكْرَةً
وَاَصِيْلاً،
لاَ إِلَهَ
إِلاًّ
اللَّهُ
وَلاَ
نَعْبُدُ إِلاَّ
إِيَّاهُ
مُخْلِصِينَ
لَهُ الدِّينَ
وَلَوْ
كَرِهَ
الْكَافِرُونَ،
لاَ إِلَهَ
إِلاَّ
اللَّهُ
وَحْدَهُ
صَدَقَ وَعْدَهُ
وَنَصَرَ
عَبْدَهُ
وَهَزَمَ
الأَحْزَابَ
وَحْدَهُ،
لاَ إِلَهَ
إِلاًّ اللَّهُ
اللهُ
أكْبَرُ،
الله أكبر
وَللهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ
ِللهِ
الَّذِيْ
جَعَلَ
الْيَوْمَ
عِيْداً
لِلْمُسْلِمِيْنَ،
وَوَحَّدَنَا
بِعِيْدِهِ
كَأُمَّةٍ
وَاحِدَةٍ،
مِنْ غَيْرِ
الأُمَم،
وَنَشْكُرُهُ
عَلَى
كَمَالِ
إِحْسَانِهِ
وَهُوَ ذُو
الْجَلاَلِ
وَاْلإِكْراَمِ.
أَشْهَدُ
اَنْ لاَ
اِلَهَ
اِلاَّ
أَنْتَ وَحْدَكَ
لاَشَرِيْكَ
لَكَ،
اللَّهُمَّ
مَالِكَ
الْمُلْكِ
تُؤْتِي
الْمُلْكَ
مَن تَشَاء
وَتَنزِعُ
الْمُلْكَ
مِمَّن
تَشَاء
وَتُعِزُّ
مَن تَشَاء
وَتُذِلُّ
مَن تَشَاء
بِيَدِكَ
الْخَيْرُ
إِنَّكَ
عَلَىَ كُلِّ
شَيْءٍ
قَدِيرٌ
وَأَشْهَدُ
اَنَّ
مُحَمَّداً
عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ.
الَلَّهُمَّ
صَلِّ
وَاُسَلِّمُ
عَلَى حَبِيْبِناَ
المُصْطَفَى،
الَّذِّي
بَلَّغَ الرِّسَالَةْ،
وَأَدَّى
الأَمَانَةْ،
وَنَصَحَ
الأُمَّةْ،
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَمَنْ دَعاَ
اِلَى اللهِ
بِدَعْوَتِهِ،
وَجاَهَدَ
فِيْ اللهِ
حَقَّ
جِهاَدِهِ.
اَمَّا
بَعْدُ:
عِبَادَ
اللهِ،
أُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِيْ
وَإِيَّايَ
بِتَقْوَى
اللهِ فَقَدْ
فَازَ المُتَّقُوْنَ. فَإِنَّ اللهَ
سُبحَانَهُ
وَتَعَالىَ يَقُوْلُ
فِيْ كِتَابِهِ
الْكَرِيْمِ: ﴿يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
حَقَّ تُقَاتِهِ
وَلَا تَمُوْتُنَّ
إِلَّا وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ﴾ [آل
عمران: 102]
اَللهُ
أَكْبَر،
اَللهُ
أَكْبَر،
اَللهُ أَكْبَرُ،
وَلِلّهِ
الْحَمْدُ.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Segala pujian milik Allah, Tuhan semesta
alam. Dialah Tuhan Yang telah menghantarkan kita pada hari yang penuh dengan
keagungan. Inilah Yawm an-Nahr. Hari Raya
Kurban. Inilah hari saat kaum Muslim diperintahkan untuk menunaikan shalat Idul
Adha, menggemakan kalimat takbir dan melaksanakan ibadah kurban.
Karena itu berbahagialah. Sungguh,
inilah hari yang penuh kemuliaan dari Allah Pencipta alam. Inilah salah satu
dari dua hari terbaik untuk semua insan yang beriman. Inilah hari yang agung. Keagungan Hari Raya Kurban ini disabdakan langsung oleh
Baginda Nabi Shallallâhu ‘alaihi
wasallam:
أَعظمُ
الأيَّامِ
عِنْدَ
اللَهِ
يَوْمُ النَّحْرِ
“Hari yang paling
agung di sisi Allah adalah Hari Raya Kurban.” (HR Abu Dawud).
Ma’âsyiral-Muslimîn rahimakumulLâh,
Hari ini, lebih dari tiga juta kaum
Muslim dari segenap penjuru dunia, berkumpul di Tanah Suci.
Tentu untuk melaksanakan perintah berhaji. Lisan mereka selalu basah dengan
rangkaian doa dan kalimat talbiyah: “Labayk AlLaahumma labayk”.
Adapun jiwa dan raga mereka tunduk pada Rabb Ka’bah untuk melaksanakan
ibadah.
Sudah seharusnya kaum Muslim bersatu
dalam pelaksanaan Idul Adha sebagaimana bersatu dalam pelaksanaan ibadah haji. Di mana-mana kalimat takbir, tahlil dan tahmid
berkumandang tiada henti. Semesta berguncang karena
gema talbiyah di segenap penjuru bumi. Demikianlah
seperti yang pernah terjadi pada masa Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam, Khulafa
ar-Rasyidin serta generasi terbaik umat ini. Alangkah indahnya jika persatuan
umat ini kembali terwujud hari ini. Mereka bersatu tanpa dibatasi oleh suku,
bangsa, bahasa dan batas-batas negeri. Dengan begitu akan terwujud ukhuwah Islamiyah
yang sejati dan persatuan umat yang hakiki.
اللَّهُ
أَكْبَرُ،
اللَّهُ
أَكْبَرُ،
اللَّهُ
أَكْبَرُ،
وَلِلَّهِ
الْحَمْدُ
Ma’âsyiral-Muslimîn rahimakumulLâh,
Setiap kali perayaan Hari Raya Kurban,
kita selalu diingatkan dengan keteladanan KhaliilulLaah Nabi Ibrahim ‘alaihis
salam dan keluarganya. Tentu karena begitu
besarnya keteladanan mereka sehingga Allah Subhânahu Wa
Ta’âlâ pun memuji mereka. Allah Subhânahu Wa
Ta’âlâ berfirman:
لَقَدْ
كَانَ لَكُمْ
فِيْهِمْ
اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
لِّمَنْ
كَانَ
يَرْجُو
اللّٰهَ وَالْيَوْمَ
الْاٰخِرَۗ
وَمَنْ
يَّتَوَلَّ فَاِنَّ
اللّٰهَ هُوَ
الْغَنِيُّ
الْحَمِيْدُ
”Sungguh pada mereka itu (Ibrahim dan keluarganya) ada
teladan yang baik bagi kalian; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala)
Allah dan (keselamatan pada) Hari Akhir. Siapa saja yang berpaling, sungguh
Allah, Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. al-Mumtahanah [60]: 6).
Nabi Ibrahim ‘alaihis
salam adalah sosok hamba Allah yang
menghabiskan seluruh hidupnya dalam perjuangan di jalan-Nya. Ia menegakkan
kalimat tauhid secara nyata. Ia menentang keyakinan dan pemahaman batil
kaumnya. Hal itu ia sampaikan secara terbuka. Ia tak pernah menutup-nutupi
kebenaran yang memang seharusnya ia nyatakan. Allah Subhânahu Wa
Ta’âlâ berfirman:
إِذۡ قَالَ
لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ
مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ
ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ
لَهَا عَٰكِفُونَ
(٥٢) قَالُواْ
وَجَدۡنَآ
ءَابَآءَنَا
لَهَا عَٰبِدِينَ
(٥٣) قَالَ
لَقَدۡ
كُنتُمۡ
أَنتُمۡ
وَءَابَآؤُكُمۡ
فِي ضَلَٰلٖ
مُّبِينٖ (٥٤)
(Ingatlah) ketika
Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, "Patung-patung apakah ini,
yang kalian kelilingi (dengan penuh penghormatan)?" Mereka menjawab,
"Kami mendapati bapak-bapak kami menyembah patung-patung ini."
Ibrahim berkata, "Sungguh kalian dan bapak-bapak kalian berada dalam
kesesatan yang nyata!"
(QS. al-Anbiyâ’ [21]: 52-54).
Nabi Ibrahim ‘alaihis
salam sanggup berhadapan dengan penguasa
kufur dan zalim. Ia menyampaikan dakwah tauhid ini secara terbuka dan
terangan-terangan. Padahal risiko yang ia hadapi amatlah besar. Namun, Allah Subhânahu Wa
Ta’âlâ senantiasa menolong hamba-Nya yang
beriman dan senantiasa bersabar. Demikian sebagaimana firman-Nya:
قَالُوْا
حَرِّقُوْهُ
وَانْصُرُوْٓا
اٰلِهَتَكُمْ
اِنْ
كُنْتُمْ
فٰعِلِيْنَ (٦٨)
قُلْنَا
يٰنَارُ
كُوْنِيْ
بَرْدًا
وَّسَلٰمًا عَلٰٓى
اِبْرٰهِيْمَ
(٦٩)
Mereka berkata, "Bakarlah dia dan bantulah
tuhan-tuhan kalian jika kalian benar-benar hendak bertindak." Kami
berfirman, "Hai api! Jadilah engkau dingin dan selamatkanlah
Ibrahim!"
(QS. al-Anbiyâ’ [21]: 68-69).
اللَّهُ
أَكْبَرُ، اللَّهُ
أَكْبَرُ، اللَّهُ
أَكْبَرُ،
وَلِلَّهِ
الْحَمْدُ
Ma’âsyiral-Muslimîn rahimakumulLâh,
Nabiyullah Ibrahim ‘alaihis
salam juga memberikan keteladanan berupa
ketaatan kepada Allah tanpa keraguan. Ketika Allah Subhânahu Wa
Ta’âlâ memerintahkan dirinya untuk
meninggalkan sanak-keluarganya di negeri yang kering dan tandus, maka perintah
itu ia laksanakan tanpa kebimbangan. Pada saat itu istrinya, Hajar, bertanya
tentang tindakan suaminya, "Ibrahim,
ke mana engkau pergi? Mengapa engkau meninggalkan kami di lembah yang tidak
berpenghuni dan tanpa apa pun?" Ia mengulangi pertanyaannya
berkali-kali. Namun, Ibrahim ‘alaihis salam tidak menoleh kepada istrinya itu. Akhirnya, Hajar
bertanya, "Apakah Allah yang
memerintahkanmu untuk melakukan ini?" Ibrahim ‘alaihis
salam baru menjawab, "Ya." Mendengar jawaban itu, Hajar pun berkata, "Kalau begitu, Dia tidak akan
menyia-nyiakan kami."
Setelah itu Nabi
Ibrahim ‘alaihis salam berdoa sambil
mengangkat tangannya:
رَّبَّنَآ
إِنِّىٓ
أَسْكَنتُ
مِن ذُرِّيَّتِى
بِوَادٍ
غَيْرِ ذِى
زَرْعٍ عِندَ
بَيْتِكَ
ٱلْمُحَرَّمِ
رَبَّنَا
لِيُقِيمُوا
ٱلصَّلَوٰةَ
فَٱجْعَلْ
أَفْـِٔدَةً
مِّنَ
ٱلنَّاسِ
تَهْوِىٓ
إِلَيْهِمْ
وَٱرْزُقْهُم
مِّنَ
ٱلثَّمَرَٰتِ
لَعَلَّهُمْ
يَشْكُرُونَ (٣٧)
“Wahai Tuhan kami, sungguh aku telah
menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tandus, dekat rumah-Mu yang
suci, wahai Tuhan kami, agar mereka melaksanakan shalat. Karena itu
jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka
rezeki berupa buah-buahan agar mereka bersyukur.” (QS. Ibrâhim [14]: 37).
اللَّهُ
أَكْبَرُ،
اللَّهُ
أَكْبَرُ،
اللَّهُ
أَكْبَرُ،
وَلِلَّهِ
الْحَمْدُ
Ma’âsyiral-Muslimîn rahimakumulLâh,
Puncak ketaatan dan pengorbanan Nabi
Ibrahim ‘alaihis salam adalah ketika Allah Subhânahu Wa
Ta’âlâ memerintahkan penyembelihan putra
tercintanya, Ismail ‘alaihis salam Namun, dengan
keyakinan dan keikhlasan, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Ismail ‘alaihis salam melaksanakan perintah Allah tersebut tanpa sedikut pun
kebimbangan. Karena itu Allah pun membalas pengorbanan mereka dengan penuh
penghargaan. Demikian sebagaimana firman-Nya:
قَدۡ
صَدَّقۡتَ
ٱلرُّءۡيَآۚ
إِنَّا كَذَٰلِكَ
نَجۡزِي
ٱلۡمُحۡسِنِينَ
(١٠٥) إِنَّ
هَٰذَا
لَهُوَ
ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ
ٱلۡمُبِينُ (١٠٦)
”Sungguh kamu telah
membenarkan mimpi itu. Sungguh demikianlah Kami memberikan balasan kepada
orang-orang yang berbuat baik. Sungguh ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. ash-Shâffât [37]: 105-106).
اللَّهُ
أَكْبَرُ،
اللَّهُ
أَكْبَرُ،
اللَّهُ
أَكْبَرُ،
وَلِلَّهِ
الْحَمْدُ
Ma’âsyiral-Muslimîn rahimakumulLâh,
Sebagaimana keteladanan Nabi Ibrahim ‘alaihis
salam, maka setiap Muslim yang mengharapkan ridha Allah Subhânahu Wa
Ta’âlâ seharusnya mengerahkan ketaatan penuh
kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ.
Ia akan berusaha untuk
bersungguh-sungguh menjalankan seluruh perintah Rabb-nya. Tak akan
memisahkan satu hukum Allah dengan satu hukum-Nya yang lain. Tak akan pula
mengunggulkan satu hukum Allah di atas hukum-Nya yang lain. Sebabnya, ia ingat
dengan firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ:
أَفَتُؤۡمِنُونَ
بِبَعۡضِ ٱلۡكِتَٰبِ
وَتَكۡفُرُونَ
بِبَعۡضٖۚ
فَمَا جَزَآءُ
مَن يَفۡعَلُ
ذَٰلِكَ
مِنكُمۡ إِلَّا
خِزۡيٞ فِي
ٱلۡحَيَوٰةِ
ٱلدُّنۡيَاۖ
وَيَوۡمَ
ٱلۡقِيَٰمَةِ
يُرَدُّونَ
إِلَىٰٓ أَشَدِّ
ٱلۡعَذَابِۗ
وَمَا
ٱللَّهُ
بِغَٰفِلٍ
عَمَّا
تَعۡمَلُونَ (٨٥)
”Apakah kalian mengimani sebagian
al-Kitab dan mengingkari sebagian lainnya? Tidak ada balasan bagi orang yang
berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia,
dan pada Hari Kiamat mereka dikembalikan pada siksaan yang sangat berat. Allah
tidak lengah dari apa yang kalian perbuat.” (QS. al-Baqarah [2]: 85).
Karena itu apa
alasan yang akan disampaikan di akhirat di hadapan Allah Subhânahu Wa
Ta’âlâ ketika seorang Muslim membatasi
ketaatan hanya pada ibadah atau aspek akhlak saja? Atau hanya dalam urusan
muamalah saja? Pada saat yang sama ia menolak untuk menaati hukum-hukum Allah
yang lain? Ia menolak syariah Allah dalam bidang ekonomi, politik, hukum,
pemerintahan, jihad, dan lain-lain? Mengapa kaum Muslim begitu sempurna melaksanakan
hukum pengurusan jenazah, misalnya, tetapi berani mengabaikan aturan Islam
dalam kehidupan? Seolah-olah aturan agama ini ditujukan hanya untuk mengurus
orang mati saja.
اللَّهُ
أَكْبَرُ،
اللَّهُ
أَكْبَرُ،
اللَّهُ
أَكْبَرُ،
وَلِلَّهِ
الْحَمْدُ
Ma’âsyiral-Muslimîn rahimakumulLâh,
Ketaatan kita
kepada Allah tak akan sempurna tanpa perjuangan menegakkan agama-Nya. Demikian
sebagaimana yang dicontohkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam Ia tak pernah berhenti
berjuang menegakkan kalimatulLaah sekalipun berhadapan dengan kekuasaan
zalim. Ia pun tidak menyembunyikan dakwah dan kebenaran yang ia emban. Secara
terbuka ia menyampaikan dakwah kepada kaumnya, termasuk kepada para penguasa tiran.
Ketaatan kepada
Allah jelas membutuhkan pengorbanan. Semata-mata demi kemuliaan Islam.
Demikianlah seperti Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang rela berpisah dengan keluarganya. Bahkan ia rela
mengorbankan putranya di jalan Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ.
Sejarah juga
mencatat bagaimana para Sahabat Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi
wasallam berlomba-lomba
berkorban dalam perjuangan menegakkan Islam. Mereka mengorbankan harta bahkan
jiwa dan raga mereka di jalan Allah dengan penuh kerelaan. Sungguh mereka telah
berjual-beli dengan Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan penuh kesungguhan. Demikian sebagaimana yang
Allah firmankan:
إِنَّ
ٱللَّهَ ٱشۡتَرَىٰ
مِنَ
ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
أَنفُسَهُمۡ
وَأَمۡوَٰلَهُم
بِأَنَّ
لَهُمُ ٱلۡجَنَّةَۚ
يُقَٰتِلُونَ
فِي سَبِيلِ
ٱللَّهِ فَيَقۡتُلُونَ
وَيُقۡتَلُونَۖ
(١١١)
”Sungguh Allah
telah membeli dari kaum Mukmin diri dan harta mereka dengan bayaran surga untuk
mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh.”
(QS. at-Taubah [9]:
111).
Demikian tingginya
semangat perjuangan dan pengorbanan kaum Muslim pada masa Nabi Shallallâhu ‘alaihi
wasallam, sampai
diriwayatkan pada Perang Tabuk para Sahabat Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi
wasallam yang dhuafa
menangis bercucuran air mata karena tidak bisa ikut serta dalam peperangan
karena ketiadaan harta sebagai perbekalan.
اللَّهُ
أَكْبَرُ،
اللَّهُ
أَكْبَرُ،
اللَّهُ
أَكْبَرُ،
وَلِلَّهِ
الْحَمْدُ
Ma’âsyiral-Muslimîn rahimakumulLâh,
Betapa sering kita
membatasi diri dalam amal dan pengorbanan, lalu merasa puas dengan apa yang
telah kita lakukan. Diri ini enggan berjuang dan berkorban saat dirasa akan
merugikan harta, kedudukan atau keluarga. Sungguh ironis. Kita mengklaim cinta
pada agama, tetapi enggan berjuang dan berkorban dengan pengorbanan terbaik dan
terbesar untuk kemuliaan agama kita.
Ada orang yang mau
berjuang dan berkorban untuk peribadatan, tetapi enggan berjuang dan berkorban
demi tegaknya kehidupan Islam, melalui penegakan hukum-hukum Allah dalam
naungan Khilafah Islam. Padahal perkara itu dinamakan oleh para ulama sebagai taaj al-furuudh atau mahkota kewajiban
agama. Akibat ketiadaan kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah Islam, umat
merasakan derita luar biasa. Kriminalitas merajalela. Premanisme berkuasa.
Korupsi makin menggila. Sumberdaya alam dikuasai oleh pihak swasta dan asing
secara semena-mena. Bahkan umat saat ini kesulitan walau untuk sekadar
mendapatkan jaminan makanan halal saja.
Sebab itu,
seharusnya firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dalam ayat di atas menampar kita. Dimanakah letak
pengorbanan kita untuk agama kita tercinta? Pantaskah kita mendapat kedudukan
orang bertakwa? Atau jangan-jangan kita tergolong kaum yang fasik secara nyata?
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:
قُلۡ
إِن كَانَ
ءَابَآؤُكُمۡ
وَأَبۡنَآؤُكُمۡ
وَإِخۡوَٰنُكُمۡ
وَأَزۡوَٰجُكُمۡ
وَعَشِيرَتُكُمۡ
وَأَمۡوَٰلٌ
ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا
وَتِجَٰرَةٞ
تَخۡشَوۡنَ
كَسَادَهَا
وَمَسَٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ
أَحَبَّ
إِلَيۡكُم
مِّنَ ٱللَّهِ
وَرَسُولِهِۦ
وَجِهَادٖ
فِي سَبِيلِهِۦ
فَتَرَبَّصُواْ
حَتَّىٰ
يَأۡتِيَ
ٱللَّهُ
بِأَمۡرِهِۦۗ
وَٱللَّهُ
لَا يَهۡدِي
ٱلۡقَوۡمَ
ٱلۡفَٰسِقِينَ
Katakanlah,
"Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian,
istri-istri kalian, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan,
perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya dan tempat tinggal yang kalian
sukai itu lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di
jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan (azab)-Nya. Allah tidak
memberikan petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS. at-Taubah [9]: 24).
اللَّهُ
أَكْبَرُ،
اللَّهُ
أَكْبَرُ،
اللَّهُ
أَكْبَرُ،
وَلِلَّهِ
الْحَمْدُ
Ma’âsyiral-Muslimîn rahimakumulLâh,
Di tengah perayaan Idul Adha ini, kita
juga masih terus menyaksikan penderitaan saudara seiman di Gaza. Militer Yahudi
masih terus melakukan genosida terhadap mereka. Diperkirakan hari ini jumlah
korban meninggal mencapai 54 ribu jiwa. Saat ini juga ada
hampir dua juta penduduk Gaza berada dalam kelaparan akibat blokade oleh kaum
zionis Yahudi secara membabi-buta.
Namun, yang paling
memilukan, Dunia Islam hanya menjadi penonton. Tak ada satu pun penguasa negeri
Muslim yang tergerak memberikan pertolongan. Sebaliknya, sejumlah pemimpin Arab
justru mengirimkan uang setara ribuan triliun rupiah ke negeri penyokong zionis
Yahudi, yakni Amerika Serikat. Para pemimpin Dunia Islam sengaja mengabaikan
panggilan jihad demi mengusir para penjajah dari tanah air mereka. Padahal
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ telah
memerintahkan mereka:
وَاقۡتُلُوۡهُمۡ
حَيۡثُ
ثَقِفۡتُمُوۡهُمۡ
وَاَخۡرِجُوۡهُمۡ
مِّنۡ حَيۡثُ
اَخۡرَجُوۡكُمۡ
وَالۡفِتۡنَةُ
اَشَدُّ مِنَ
الۡقَتۡلِۚ
”Bunuhlah mereka di mana saja kalian temui mereka dan
usirlah mereka dari mana mereka telah mengusir kalian. Fitnah
(kekufuran/kemusyrikan) itu lebih kejam daripada pembunuhan.” (QS. al-Baqarah [2]: 191).
Para pemimpin Dunia
Islam, terutama para penguasa Arab, masih bersemangat menggelar ibadah haji.
Namun, mereka enggan berjihad membebaskan Gaza dan mengusir kaum Yahudi.
Padahal kewajiban jihad itu telah nyata dan telah diserukan tanpa henti.
Sebab itu, semakin
nyata bahwa umat ini membutuhkan institusi pemerintahan Islam global. Itulah
Khilafah Islam. Khilafah inilah yang akan melanjutkan kehidupan Islam. Khilafah
inilah yang akan menegakkan hukum-hukum Allah dan menyebarluaskan Islam ke
seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad. Khilafah ini pula yang akan
menyatukan umat Islam di seluruh dunia. Di dalam naungan Khilafahlah umat Islam
sedunia akan bahu-membahu dan tolong-menolong di antara sesama mereka. Di bawah
satu kepemimpinan global, Khilafah Islam, umat Islam sedunia akan sanggup
membebaskan diri mereka dan saudara-saudara mereka dari segala derita akibat
penjajahan bangsa-bangsa lain. Semua ini sebagai wujud nyata dari
pelaksanaan sabda Baginda Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam:
الْمُؤْمِنُ
لِلْمُؤْمِنِ
كَالْبُنْيَانِ
يَشُدُّ
بَعْضُهُ
بَعْضًا
”Seorang Mukmin
dengan Mukmin lainnya seperti satu bangunan. Sebagiannya menguatkan sebagian
yang lain.”
(HR Muslim).
اللَّهُ
أَكْبَرُ،
اللَّهُ أَكْبَرُ،
اللَّهُ
أَكْبَرُ،
وَلِلَّهِ
الْحَمْدُ
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ
فِيْ الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
اْلآيَاتِ
وَذِكْرِ
الْحَكِيْمِ،
وَتَقَبَّلَ
اللهُ مِنِّيْ
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ
إِنَّهُ هُوَ
السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ،
وَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
أَقُوْلُ قَوْلِ
هَذَا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ. آمِيْن.
KHUTBAH KEDUA
اَللهُ
أَكْبَرُ،
اَللهُ
أَكْبَرُ،
اَللهُ
أَكْبَرُ؛ اَللهُ
أَكْبَرُ،
اَللهُ
أَكْبَرُ،
اَللهُ
أَكْبَرُ:
اَللهُ
أَكْبَرُ،
وللهِ
الْحَمْدُ.
اللهُ
أَكْبَرُ
كَبِيْرًا
وَالْحَمْدُ
للهِ
كَثِيْرًا،
وَسُبْحَانَ
اللهِ
بُكْرَةً
وَأَصِيْلاً.
لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ،
صَدَقَ
وَعْدَهُ،
وَنَصَرَ
عَبْدَهُ،
وَأَعَزَّ
جُنْدَهُ
وَهَزَمَ الأَحْزَابَ
وَحْدَهُ. لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ،
اللهُ
أَكْبَرُ،
اللهُ
أَكْبَرُ
وَللهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ كَرَّمَ هَذهِ
الأُمَّةَ بِشَرِيْعَتِهِ الْكَامِلَةِ، وَخَصَّ
بِهَا بِنُبُوَّةِ نَبِيِّهِ
الْكَرِيْمَةِ،
وَاَعَزَّهَا
بِالْخِلَافَةِ
الرَّاشِدَةِ.
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ.
اَشْهَدُ اَنْ
لَا اِلَهَ
اِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ. وَأَشْهَدُ
اَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
لَا نَبِيَّا
بَعْدَهُ. اَرْسَلَهُ
بِرِسَالَتِهِ
الْقُدْسِيَّةِ،
وَاَحْكَامِهِ
الشَّرِيْفَةِ،
لِمُعَالَجَةِ
كُلِّ
مُشْكِلَةِ
الْحَيَاةِ. صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ وَذُرِّيَاتِهِ
وَأَصْحَابِهِ،
صَلاَةً تَجْلِبُ
الْخَيْرَ وَالفَلاَحَ
وَرِضْوَانَهُ،
فِي
الدِّيْنِ
والدُّنْيَا
وَالْآخِرَةِ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا
اَيُّهاَ
الْمُؤْمِنُوْنَ،
تَمَسَّكوا
بِاْلإِسْلاَمِ
فِي كُلِّ
حِيْنٍ، وَ
اتَّقُوْا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ،
وَ لاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ وَ
أَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
اَللهُ
أَكْبَرُ،
اَللهُ
أَكْبَرُ،
اَللهُ
أَكْبَرُ،
وَلِلّهِ
الْحَمْدُ
Ma’asyiral Muslimin
rahimakumullah
Akhirnya, marilah
kita memohon kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ.
Semoga Allah Subhânahu Wa
Ta’âlâ mengabulkan seluruh permohonan kita.
Semoga Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ memberi kita kesabaran dan keikhlasan. Semoga Allah Subhânahu Wa
Ta’âlâ menguatkan kita untuk berperan penting
dalam upaya menciptakan persatuan kaum Muslim, juga dalam menjalankan ketaatan
secara kaaffah dengan mengamalkan dan menerapkan semua syariah-Nya.
إِنَّ
اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ،
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اَللّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى
آلِهِ وَ
أَصْحَابِهِ
وَمَنْ دَعَا
إِلَى اللهِ
بِدَعْوَةِ اْلإِسْلاَمِ،
وَمَنْ
تَمَسَّكَ
بِسُنَّةِ
رَسُوْلِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُ بِإِحسْاَنٍ
اِلى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اللّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَارْحَمْهُمَا
كَمَا
رَبَّيَانَا
صِغَارًا، أَللّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَاِنْ لَمْ
تَغْفِرْلَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّا
مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا لاَ
تُؤَاخِذْنَا
اِنْ
نَّسِيْنَآ
أَوْ
اَخْطَأْنَا
رَبَّنَا
وَلاَ تَحْمِلْ
عَلَيْنَآ
اِصْرًا
كَمَا
حَمَلْتَهُ عَلَى
الَّذِيْنَ
مِنْ
قَبْلِنَا
رَبَّنَا وَلاَ
تُحَمِّلْنَا
مَالاَ
طَاقَةَ
لَنَا بِهِ
وَاعْفُ
عَنَّا
وَاغْفِرْلَنَا
وَارْحَمْنَا
اَنْتَ
مَوْلاَنَا
فَانْصُرْنَا
عَلَى
الْقَوْمِ
الْكَاِفِرِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
يَا
مُنْـزِلَ
الْكِتَابِ
وَمُهْزِمَ
اْلأَحْزَابِ
اِهْزِمِ
اْليَهُوْدَ
وَاَعْوَانَهُمْ
وَصَلِيْبِيِّيْنَ
وَاَنْصَارَهُمْ
وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ
وَاِخْوَانَهُمْ
وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ
وَشُيُوْعِيِّيْنَ
وَاَشْيَاعَهُمْ.
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ
بِهَا
اْلإِسْلاَمَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ
بِهَا
الْكُفْرَ
وَاَهْلَهُ،
وَ
اجْعَلْناَ
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
بِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ
يَا اَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
تَقَبَّلْ
مِنَّا
دُعَائَنَا
إِنَّكَ
أَنْتَ
السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ
وَتُبْ
عَلَيْنَا
اِنَّكَ
اَنْتَ
التَّوَّابُ
الرَّحِيْمُ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا حَسَنَةً
وَفِي
اْلآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ،
وَسُبْحَانَ
رَبِّكَ
رَبِّ
الْعِزَّةِ
عَمَّا
يَصِفُوْنَ
وَسَلاَمٌ
عَلَى
الْمُرْسَلِيْنَ
وَالْحَمْدُ
للهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
اللهُ
أَكْبَرْ
اللهُ أَكْبَرْ
اللهُ
أَكْبَرْ
وَللهِ
الْحَمْدُ
وَالسَّلَامُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ
اللهِ وَبَرَكَاتُهُ