Seruan Masjid

Khadimul Ummah wa Du'at

Akhlak dan Kebangkitan Umat – Tausiyah Ramadhan #5

AKHLAK DAN KEBANGKITAN UMAT

Rasulullah saw. bersabda: 

«إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ» 

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak. (HR Ahmad).

 

Dari hadits di atas, kita bisa memahamikan bahwa akhlak adalah karakter ciptaan (fabricated), bukan karakter bawaan (khîm). Karena Rasulullah saw dengan syariat yang dibawanya mampu merubah akhlak buruk menjadi baik pada manusia yang mengikuti ajarannya. Akhlak seorang Muslim berbeda dengan akhlak non-Muslim. Akhlak seorang Muslim dibentuk berdasarkan al-Quran (akidah dan syariat-Nya). Sebaliknya, akhlak non-Muslim dibentuk berdasarkan prinsip-prinsip non- Islam. Untuk itu, meskipun sama-sama jujur, kita tidak bisa menyatakan bahwa seorang kapitalis dan seorang Muslim sama-sama memiliki akhlak yang baik. Sebab, proses pembentukkan karakter dirinya tidaklah sama. Kejujuran seorang Muslim selalu didasarkan pada akidah dan syariat Islam. Dengan kata lain, kejujurannya adalah buah dari pelaksanaan ajaran-ajaran Islam, tidak dibentuk semata-mata karena jujur itu adalah nilai-nilai universal atau karena bermanfaat. 

Berbeda dengan kapitalis maupun sosialis. Kejujurannya tidak didasarkan pada prinsip-prinsip Islam, tetapi hanya didasarkan pada prinsip manfaat dan kemanusiaan belaka. Kejujurannya sama sekali tidak dibangun di atas prinsip ketakwaan kepada Allah Swt. Walhasil, akhlak seorang Muslim berbeda dengan akhlak orang kafir, meskipun penampakannya sama. 

Akhlak seorang Muslim merupakan refleksi dari pelaksanaan dirinya terhadap hukum-hukum syariat. Seseorang tidak disebut berakhlak Islam ketika nilai-nilai akhlak tersebut dilekatkan pada perbuatan-perbuatan yang diharamkan Allah Swt. Misalnya, pegawai bank yang senantiasa terlibat dalam transaksi ribawi tidak disebut berakhlak Islam meskipun ia terkenal jujur, disiplin, dan sopan. Sebab, ia telah melekatkan sifat-sifat akhlak pada perbuatan yang diharamkan Allah Swt. Anggota parlemen yang suka membuat aturan-aturan kufur juga tidak bisa disebut memiliki akhlak Islam meskipun ia terkenal jujur, amanah, dan seterusnya. Sebab, nilai-nilai akhlaknya telah melekat pada perbuatan haram. Walhasil, akhlak seorang Muslim harus dibentuk berdasarkan al-Quran al-Karim. Dengan kata lain, akhlak seorang Muslim adalah refleksi dari pelaksanaan hukum-hukum Allah Swt. 

 

Posisi Akhlak Dalam Syariah 

Ada sebagian kaum Muslim yang memahami, bahwa kebangkitan umat harus dimulai dari kebangkitan akhlak. Mereka mengajukan sebuah asumsi, “Jika setiap individu memiliki akhlak yang baik maka masyarakat pun akan menjadi baik. Kemunduran dan kebangkitan suatu masyarakat sangat ditentukan oleh kebangkitan dan kemunduran akhlaknya.” 

Mereka juga mengetengahkan dalil-dalil syariat untuk membangun argumentasi mereka. Dari al-Quran, mereka mengetengahkan surat al-Qalam ayat 4, sebagaimana dinukil di atas dan nash-nash yang senada. Dari as-Sunnah mereka juga berhujah dengan hadis yang berbicara tentang akhlak, sebagaimana yang juga dinukil di atas. 

Benar, akhlak merupakan salah satu bagian dari ajaran Islam. Namun demikian, kita tidak boleh memahami, bahwa akhlak yang dimaksud di sini sekadar sebagai nilai-nilai universal, yang terlepas sama sekali dengan konteks hukum syariat. Kejujuran, amanah, disiplin, rasa hormat, dan lain-lain merupakan nilai akhlak yang mulia. Semuanya adalah nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh umat manusia tanpa memperhatikan agama, ras, suku dan jenis kelamin. Kaum Kristen, Budha, Yahudi, Konghucu, dan kaum kapitalis pun sangat menjunjung tinggi nilai-nilai itu; bahkan berusaha untuk menerapkannya. Kaum Muslim juga menjunjung tinggi dan berusaha menerapkan nilai-nilai tersebut di dalam kehidupannya. 

Namun demikian, seorang Muslim tatkala hendak menerapkan nilai-nilai yang sangat mulia itu, bukan didorong oleh sebuah motivasi bahwa nilai-nilai tersebut adalah nilai universal, tetapi karena hal itu diperintahkan oleh Allah Swt. Seorang Muslim bersikap jujur, karena ia memang diperintahkan oleh Allah Swt., bukan karena jujur itu bermanfaat atau nilai universal. Dengan kata lain, akhlak seorang Muslim adalah refleksi dari pelaksanaan syariat-Nya. Sebab, seluruh perbuatan seorang Muslim wajib bersandar pada syariat Islam. Di sisi lain, seorang Muslim harus memahami, kapan ia jujur, dan kapan ia tidak boleh jujur. Tatkala melakukan jual-beli dengan orang lain, ia harus jujur dan amanah. Sebaliknya, ketika dalam peperangan melawan kaum kafir, ia tidak diperbolehkan jujur membeberkan kekuatan kaum Muslim. 

Kenyataan di atas menunjukkan bahwa akhlak merupakan bagian dari syariat Islam. Menurut pandangan Islam, akhlak bukan sekadar nilai universal yang berlaku di tengah-tengah manusia, tetapi sifat yang wajib dimiliki seorang Muslim, berdasarkan perintah dari Allah Swt. Dengan kata lain, akhlak adalah syariat Islam yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri.

 

Benarkah Akhlak Sebagai Pembangkit Umat?

Bantahan atas pendapat yang menyatakan bahwa kebangkitan umat atau persoalan mendasar umat adalah bagaimana membangkitkan akhlaknya dapat diperinci sebagai berikut:

Pertama, sebenarnya konteks yang hendak dikaji adalah kebangkitan umat atau kebangkitan masyarakat, bukan kebangkitan individu. Individu berbeda dengan masyarakat dari sisi karakter maupun penyusunnya. Atas dasar itu, cara membangkitkan individu berbeda dengan cara membangkitkan masyarakat atau umat. Akhlak adalah hukum syariat yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Oleh karena itu, akhlak adalah salah satu variabel penting untuk membangkitkan individu. 

Berbeda dengan konteks kebangkitan masyarakat. Untuk membahas kebangkitan masyarakat, kita harus memahami unsur-unsur penyusun masyarakat dan cara untuk mengubahnya. Begitu pula jika kita hendak mengubah individu, kita mesti memahami terlebih dulu unsur-unsur penyusun individu dan bagaimana cara membangkitkannya. 

Masyarakat sendiri tersusun atas manusia, pemikiran, perasaan,dan aturan yang diberlakukan di tengah-tengah masyarakat. Benar, manusia merupakan salah satu faktor penyusun masyarakat. Namun demikian, perubahan manusia tidak secara otomatis menghasilkan perubahan masyarakat maupun warna masyarakat. Sebab, masyarakat tidak hanya tersusun dari manusia belaka, tetapi juga tersusun oleh pemikiran, perasaan, dan aturan. Selain itu, faktor yang menentukan corak dan warna masyarakat bukanlah manusia sebagai individu, melainkan pemikiran dan aturan yang diterapkan. 

Para penganut agama Budha terkenal sebagai orang-orang yang menjunjung nilai-nilai akhlak, bahkan memiliki sifat-sifat akhlak yang mulia. Namun demikian, warna masyarakat yang tersusun dari orang-orang Budha dan agama Budha adalah masyarakat kufur, bukan masyarakat Islam. Ini menunjukkan, bahwa faktor yang menentukan corak dan warna masyarakat adalah pemikiran dan aturan yang diterapkan di dalamnya, bukan akhlak individunya. 

Masyarakat di negeri-negeri yang berpenduduk mayoritas Muslim yang terkenal jujur, amanah, dan berbudi pekerti luhur, disebut masyarakat yang tidak islami jika sistem aturan yang diberlakukan di negeri-negeri Islam tersebut adalah sistem aturan kufur. Negeri Baghdad ketika dikuasai bangsa Mongol tidak lagi disebut negara Islam, karena sistem yang diberlakukan setelah itu bukan lagi sistem Islam. Ini semua menunjukkan, bahwa perubahan akhlak individu tidak secara otomatis mengubah warna masyarakat. Bahkan, perubahan akhlak—sebagai nilai-nilai universal—sama sekali tidak berhubungan dengan perubahan warna masyarakat. 

Masyarakat Jahiliah sebelum Islam juga menjunjung nilai-nilai akhlak yang tinggi—menghargai tamu, perwira, dan sebagainya. Sifat-sifat akhlak ini tidak berubah ketika mereka berubah menjadi masyarakat Islam. Ini menunjukkan bahwa akhlak tidak berhubungan dengan perubahan warna masyarakat. 

Walhasil, jika konteks pembicaraan kita adalah mengubah warna atau corak masyarakat maka aktivitas perubahannya tidak boleh difokuskan hanya pada perubahan individunya belaka, namun harus difokuskan pada perubahan pemikiran dan aturan yang ada di tengah-tengah masyarakat. 

Di sisi yang lain, nilai-nilai akhlak—sebagai nilai universal—bukanlah nilai yang berdiri sendiri. Akan tetapi, ia selalu melekat pada perbuatan tertentu. Jujur adalah nilai akhlak. Namun, Anda tidak bisa mengetahui apakah seseorang itu jujur atau tidak, kecuali ketika ia melakukan suatu aktivitas tertentu. Jujur bisa melekat pada perbuatan apapun, halal maupun haram. Jujur bisa melekat pada seorang pegawai bank yang mengkonsumsi ribawi. Jujur juga bisa melekat pada anggota parlemen yang suka menelorkan aturan-aturan kufur. Namun demikian, jujur yang melekat pada perbuatan-perbuatan haram tersebut tidak memiliki nilai sama sekali. Bahkan, kita tidak boleh menyatakan bahwa orang tersebut berakhlak. Sebab, kejujurannya telah melekat pada perbuatan haram. 

Dedikasi yang tinggi, disiplin, dan amanah bisa saja melekat pada diri anggota pasukan perang yang menjadi pembela sistem kufur. Akan tetapi, kita tidak mungkin menyatakan orang-orang ini menjunjung tinggi nilai-nilai Islam. Bahkan, akhlak yang menempel pada sistem kufur semacam ini tidak memiliki arti sedikitpun dalam timbangan Islam. Yang terpenting adalah mengubah pemikiran dan sistem aturan yang berlaku di tengah-tengah masyarakat. Sedangkan akhlak hanyalah sekadar bagian dari aturan-aturan Allah Swt. yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Perubahan akhlak sama sekali tidak berkaitan dengan perubahan warna masyarakat.

Kedua, pernyataan di atas tidak berarti bahwa kita boleh meremehkan akhlak, atau menganggap bahwa akhlak bukanlah perkara penting jika dibandingkan dengan perkara-perkara yang lain. Al-Quran sendiri tidak menyebut kata khuluq di banyak tempat, kecuali pada surat al-Qalam ayat 4 dan asy-Syu’ara ayat 137. Selain itu, para fuqaha hanya mengkaji masalah-masalah yang berhubungan dengan hukum syariat. Mereka tidak pernah mengkaji akhlak dalam bab fikih tersendiri. Ini menunjukkan bahwa akhlak adalah bagian dari syariat Islam yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri. 

Ketiga, seandainya kita mencermati bangsa-bangsa yang saat ini mengalami kemajuan, kita bisa menyimpulkan, bahwa akhlak yang dimiliki oleh kaum Muslim tetap lebih tinggi dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain. Namun demikian, kaum Muslim tetap saja dalam posisi mundur. Mereka tertinggal jauh dengan bangsa-bangsa yang akhlaknya lebih rendah dibandingkan dengan mereka. 

Keempat, fakta juga telah menunjukkan bahwa propaganda-propaganda, seruan-seruan maupun buku-buku, selebaran, poster, dan lain-lain yang menyerukan akhlak sama sekali tidak memberikan pengaruh bagi kebangkitan kaum kaum Muslim. Umat Islam tetap mundur dari sisi ekonomi, politik, dan hukum. Ini juga membuktikan bahwa akhlak bukanlah asas atau dasar dari perubahan masyarakat. Ia juga bukan masalah utama bagi kaum Muslim.

Seluruh penjelasan di atas tidak boleh dipahami, bahwa tulisan ini meremehkan akhlak atau tidak menganggap penting masalah akhlak. Namun, di sini hanya ingin menjelaskan, bahwa akhlak bukanlah persoalan utama kaum Muslim, dan juga bukan asas dan dasar kebangkitan umat.

Ridha Terhadap Qodho – Tausiyah Ramadhan #4

TAUSIYAH RAMADHAN #4

RIDHA TERHADAP QODHO

Setiap ada musibah yang menimpa seorang muslim maka baginya akan diberikan pahala dari Allah SWT. Yang dimaksud dengan pahala di sini adalah pahala atas keridhannya terhadap qadha dari Allah dan kesabarannya; Juga bersyukur dan tidak mengadukan musibahnya kecuali kepada Allah. Hukum menerima qodho dengan ridha adalah wajib bagi setiap muslim. 

Dalil tentang kewajiban ridha menerima qadha adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim dan Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan Al-Hakim, ia menshahihkan hadits ini. Adz-Dzahabi juga menyetujuinya, dengan lafadz hadits:

«وَأَسْأَلُكَ الرِّضَاءَ بَعْدَ الْقَضَاءِ»

Dan aku meminta kepada-Mu, ya Allah, bisa ridha setelah menerima qadha.

 

Syara’ telah memuji seorang hamba yang berserah diri terhadap qadha, sebagaimana dijelaskan dalah hadits dari Abu Hurairah. Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda kepadaku:

»أَلاَ أُعَلِّمُكَ أَوْ أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ مِنْ كَنْزِ الْجَنَّةِ: 

لاَ حَوْلَ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَسْلَمَ عَبْدِي وَاسْتَسْلَمَ«

Aku akan memberitahumu satu kalimat yang datang dari bawah ‘Arasy dan dari gudangnya surga, yaitu, “Tiada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan (kekuasaan) Allah“. Allah berfirman, “Sungguh hamba-Ku telah tunduk dan berserah diri kepada-Ku.” (HR. Al-Hakim. Ia berkata, hadits ini shahih isnadnya, dan tidak tercatat adanya kecacatan, meski tidak ditakhrij oleh Bukhari dan Muslim. Ibnu Hajar berkata, hadits ini telah ditakhrij oleh Al-Hakim dengan sanad yang kuat)

 

Marah terhadap qadha Allah hukumnya haram. Al-Qirafi menuturkan dalam Al-Dakhirah adanya ijma (kesepakatan) atas keharaman marah terhadap qadha dari Allah. Yang dimaksud dengan ijma ini adalah ijma para Mujtahid. Lafadz ijmanya adalah “Marah terhadap qadha Allah hukumnya haram berdasarkan ijma.” Al-Qirafi telah membedakan antara qadha dan Al-Maqdhi. Beliau berkata; Jika ada seorang yang diuji dengan suatu penyakit, kemudian ia merasa sakit sebagai resiko dari tabiat suatu penyakit, maka hal seperti ini tidak dipandang sebagai sikap tidak ridha terhadap qadha, melainkan disebut tidak ridha terhadap Al-Maqdhi. Jika ia berkata, “Apa (gerangan) yang telah aku lakukan hingga aku ditimpa dengan musibah ini, dan apa dosaku. Padahal aku tidak layak mendapatkannya.” Maka yang seperti ini disebut tidak ridha terhadap qadha bukan terhadap Al-Maqdhi. 

Keharaman marah terhadap qadha ini ditunjukkan oleh hadits dari Mahmud bin Lubaid (sebagaimana telah disebutkan) bahwa Rasulullah bersabda:

»إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ، فَلَهُ الرِّضَى، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ «

Sesungguhnya jika Allah akan mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberikan ujian kepada mereka. Barangsiapa yang bersabar maka kesabaran itu bermanfaat baginya. Dan barangsiapa marah (tidak sabar) maka kemarahan itu akan kembali kepadanya. (HR. Ahmad dan AT-Tirmidzi. Ibnu Muflih berkata, Isnad hadits ini baik)

 

Ridha dan marah termasuk perbuatan manusia. Karena itu manusia akan diberi pahala atas perbuatannya dan akan disiksa atas kemarahannya. Sedangkan qadha sendiri tidak termasuk perbuatan manusia, sehingga manusia tidak akan diminta pertanggungjawaban atas terjadinya qadha, sebab bukan termasuk perbuatannya. Tetapi ia tetap akan ditanya tentang ridha dan marahnya terhadap qadha, karena hal itu termasuk perbuatannya. Allah berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلإِنْسَانِ إِلاَّ مَا سَعَى

Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. (TQS. An-Najm [53]: 39)

 

Qadha dari Allah ini akan menjadi penebus atas dosa-dosa seseorang, dan sebagai sarana dihapuskannya kesalahan. Dalilnya sangat banyak, di antaranya hadits dari Abdullah, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:

»…مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذَى شَوْكَةٍ فَمَا فَوْقَهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا «

Seorang muslim yang diuji dengan rasa sakit karena duri atau yang lebih dari itu, maka Allah pasti akan menebus kesalahan-kesalahannya kerana musibah itu, sebagaimana suatu pohon menggugurkan daunnya. (Mutafaq ‘alaih). 

 

Hadits yang lain adalah dari ‘Aisyah, ia berkata; Rasulullah saw. bersabda:

«لاَ تُصِيبُ الْمُؤْمِنَ شَوْكَةٌ فَمَا فَوْقَهَا إِلاَّ قَصَّ اللهُ بِهَا مِنْ خَطِيئَتِهِ»

Satu duri atau yang lebih dari itu, yang menimpa seorang mukmin, maka pasti dengan duri itu Allah akan mengurangi kesalahannya. Dalam satu riwayat dikatakan “naqushshu” artinya kami akan mengurangi. (Mutafaq ‘alaih). 

Hadits dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id, dari Nabi saw., bersabda:

»مَا يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلاَ نَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حَزَنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةٍ يُشَاكِهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ مِنْ خَطَايَاهُ «

Setiap musibah yang menimpa seorang mukmin, berupa sakit yang berterusan, sakit yang biasa, kebingungan, kesedihan, kegundahan hingga duri yang menusuknya, maka pasti musibah itu akan menjadi penghapus bagi kesalahan-kesalahannya. (Mutafaq ‘alaih). 

Dalam bab ini terdapat juga hadits senada dari Saad, Muawiyah, Ibnu Abbas, Jabir, Ummu Al-Ala, Abu bakar, Abdurrahman bin Azhar, Al-Hasan, Anas, Syadad, dan Abu Ubaidah ra.; dengan sanad-sanad ada yang baik dan ada yang shahih. Semuanya sampai kepada Nabi saw. (hadits marfu), yang isinya menyatakan bahwa “setiap ujian akan menggugurnya kesalahan”.

Hadits dari ‘Aisyah ra. sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:

«…مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُشَاكُ شَوْكَةً فَمَا فَوْقَهَا إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً، 

وَحَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً»

Seorang muslim yang tertusuk duri atau yang lebih dari itu, maka pasti Allah dengan musibah itu akan mengangkat satu derajat untuknya dan menggugurkan satu kesalahan darinya. 

Dalam riwayat lain dikatakan:

«إِلاَّ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً»

Maka pasti Allah dengan musibah itu akan mencatat satu kebaikan baginya.

Yang dimaksud dengan pahala di sini adalah pahala atas keridhannya terhadap qadha dari Allah dan kesabarannya; Juga bersyukur dan tidak mengadukan musibahnya kecuali kepada Allah. Banyak sekali hadits yang menjelaskan batasan ini, di antaranya hadits riwayat Muslim dari Shuhaib, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:

«عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَلَيْسَ ذَاكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ»

Aku kagum terhadap urusan orang yang beriman, karena seluruh urusannya merupakan kebaikan baginya. Jika mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka syukur adalah kebaikan baginya. Jika ditimpa kesulitan ia bersabar, maka sabar itu merupakan kebaikan baginya. Hal seperti ini tidak akan didapati pada seseorang kecuali orang yang beriman. 

 

Hadits riwayat Hakim, ia menshahihkannya yang disepakati oleh Adz-Dzahabi dari Abu Darda ra., ia berkata; aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:

«إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَا عِيسَى إِنِّي بَاعِثٌ مِنْ بَعْدِكَ أُمَّةً إِنْ أَصَابَهُمْ مَا يُحِبُّونَ حَمِدُوا اللهَ وَشَكَرُوا وَإِنْ أَصَابَهُمْ مَا يَكْرَهُونَ احْتَسَبُوا وَصَبَرُوا وَلاَ حِلْمَ وَلاَ عِلْمَ قَالَ يَا رَبِّ كَيْفَ هَذَا لَهُمْ وَلاَ حِلْمَ وَلاَ عِلْمَ قَالَ أُعْطِيهِمْ مِنْ حِلْمِي وَعِلْمِي»

Sesungguhnya Allah berfirman, “Wahai Isa!, sungguh aku akan mengirim suatu umat setelahmu. Jika mereka mendapatkan perkara yang disukai, pasti akan memuji kepada Allah. Jika mereka mendapatkan perkara yang tidak disukai, mereka akan ikhlas menerimanya dan bersabar menghadapinya, padahal mereka tidak memiliki kepandaian dan ilmu.” Isa berkata, “Wahai Tuhanku, bagaiman itu bisa terjadi?” Allah berfirman, “Aku memberikan kepada mereka sebagian dari kepandaian dan ilmu-Ku.” 

 

Hadits riwayat At-Thabrani dengan isnad yang sehat dari cacat, dari Ibnu Abbas ra., ia berkata; Rasulullah saw. bersabda: 

«من أصيب بمصيبة بماله أو في نفسه فكتمها ولم يشكها إلى الناس, كان حقا على الله أن يغفر له»

Siapa saja yang ditimpa musibah atas hartanya atau jiwanya, kemudian ia menyembunyikannya dan tidak mengadukan kepada manusia, maka Allah pasti akan mengampuninya. 

 

Hadits riwayat Bukhari dari Anas, ia berkata; aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:

«إِنَّ اللهَ قَالَ إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدِي بِحَبِيبَتَيْهِ فَصَبَرَ عَوَّضْتُهُ مِنْهُمَا الْجَنَّةَ»

Sesungguhnya Allah Swt. berfirman, “Jika Aku menguji hambaku dengan (kematian) kekasihnya kemudian ia bersabar, maka Aku akan menggatinya dengan Surga. 

 

Hadits riwayat Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda: 

«ما من مسلم يشاك شوكة فى الدنيا يحتسبها إلا قضى بها من خطاياه يوم القيامة»

Seorang muslim yang tertusuk duri di dunia, ia ikhlas menerimanya maka pasti ujian itu akan menjadi penyebab Allah melenyapkan kesalahan-kesalahnya di hari Kiamat.

Menguatkan Kesabaran – Tausiyah Ramadhan #3

TAUSIYAH RAMADHAN #3

MENGUATKAN KESABARAN

Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأَمْوَالِ وَالأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (TQS. Al-Baqarah [2]: 155-157)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (TQS. Al-Baqarah [2]: 153)

 

• Rasulullah saw. bersabda:

«إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ صَبَرَ فَلَهُ الصَّبْرُ وَمَنْ جَزِعَ فَلَهُ الْجَزَعُ»

Sesungguhnya Allah Azza wajalla jika mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa yang sabar, maka kesabaran itu bermanfaat baginya. Dan barangsiapa marah, maka kemarahan itu akan kembali kepadanya. (Telah ditakhrij oleh Imam Ahmad dari jalan Mahmud bin Labid)

 

• Dari Abu Malik Al-Asy’ari ra., ia berkata; Rasulullah saw. bersabda:

«…وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ…»

…Sabar adalah cahaya… (HR. Muslim)

 

• Dari Abu Said Al-Khudri ra., sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:

«…وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ»

Barangsiapa yang berusaha untuk sabar, maka Allah akan menjadikannya mampu bersabar. Tidak ada pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran. (Mutafaq ‘alaih)

• Dari ‘Aisyah ra., ia bekata; aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang penyakit thaun. Kemudian Rasulullah saw. memberitahukan kepadanya:

»أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ اللهُ رَحْمَةً 

لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا 

مُحْتَسِباً يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللهُ لَهُ، إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ «

Sesungguhnya thaun itu adalah siksa yang dikirim Allah kepada orang yang dikehendaki-Nya. Kemudian Allah menjadikannya rahmat bagi orang-orang yang beriman. Karena seorang hamba yang tinggal di negerinya yang tengah terjangkit thaun, lalu ia bersabar dan mengharap ridha Allah; ia meyakini bahwa tidak akan ada yang menimpanya kecuali perkara yang telah ditetapkan Allah, maka ia akan mendapatkan seperti pahala orang yang syahid. (HR. Bukhari)

 

 

Itulah sebagian dalil-dalil tentang keharusan bersabar ketika mendapat ujian. Akan tetapi kita perlu menelaah kesabaran lebih dalam lagi, untuk menghilangkan kesalahpahaman pada sebagaian kaum Muslim tentang fakta dan makna sabar. 

Ada yang beranggapan, jika seseorang membatasi diri dan menjauhkan diri dari manusia, meninggalkan kemunkaran dan para pelakunya; ia melihat keharaman sudah merajalela, hukum-hukum Allah tidak diamalkan, dan jihad telah ditinggalkan; pada kondisi seperti ini ia tidak mengambil sikap untuk menghadapinya, melainkan ia hanya beribadah ritual kepada Allah dan meninggalkan aktifitas nahi munkar; maka yang seperti ini oleh sebagian orang dianggap sebagai orang yang bersabar.

Atau mereka memahami sabar sekadar menolak penindasan atas dirinya saja. Ia menghindari hal-hal yang mengakibatkan akan ditangkap oleh musuh-musuh Allah, sehingga ia tidak berani mengatakan kebenaran, tidak berani beramal untuk menggapai ridha Allah. Bahkan ia tetap diam, mengurung diri di tempat ibadah. Ia berkata tentang dirinya, “Aku adalah orang yang bersabar.”

Sabar seperti itu bukanlah sabar yang pelakunya dijajikan surga oleh Allah Swt. seperti dalam firman-Nya:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (TQS. Az-Zumar [39]: 10)

 

Sikap seperti itu adalah kelemahan. Rasulullah saw. telah meminta perlindungan kepada Allah dari sifat tersebut. Beliau bersabda:

«أَعُوذُ بِالله مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَالْهَمِّ وَالْخَزَنِ وَغَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ»

وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ قَالَ فَفَعَلْتُ ذَلِكَ فَأَذْهَبَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ هَمِّي وَقَضَى عَنِّي دَيْنِي»

Aku berlindung kepada Allah dari sifat lemah, dan malas; dari sifat kikir, bingung, kesedihan, dilanda hutang, dan dari paksaan orang-orang kuat.

 

Sabar yang sebenarnya adalah ketika kita mengatakan yang hak dan melaksanakannya. Siap menanggung resiko penderitaan di jalan Allah karena mengatakan dan mengamalkan kebenaran, tanpa berpaling, bersikap lemah, atau lunak sedikit pun.

Sabar yang sebenarnya adalah sabar yang telah dijadikan Allah sebagai buah dari ketakwaan. Allah berfirman: 

إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. (TQS. Yusuf [12]: 90)

 

Sabar yang sebenarnya adalah mereka yang disertakan oleh Allah dengan para Mujahid. Allah berfirman: 

وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (TQS. Ali ‘Imran [3]: 146)

 

Sabar terhadap cobaan dan qadha adalah sesuatu yang akan menuntun menuju sikap konsisten, bukan sikap yang labil. Sabar yang akan mendorong untuk senantiasa berpegang teguh pada Kitab Allah, bukan melemparkannya dengan dalih beratnya cobaan. Sabar seperti ini adalah sabar yang akan semakin menambah kedekatan seorang hamba kepada Rabnya, bukan semakin jauh. Allah berfirman: 

فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (TQS. Al-Anbiya [21]: 87)

 

Kesabaran yang sebenarnya adalah kesabaran yang akan semakin memperkuat cita-cita dan akan mendekatkan ke jalan menuju Surga, yaitu seperti kesabaran Bilal bin Rabah, Khabab, dan keluarga Yasir. Sebagiamana sabda Rasul saw.: 

»صَبْرًا آلَ يَاسِرْ إِنَّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّةُ «

Sabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya yang dijanjikan bagi kalian adalah Surga.

 

Juga seperti kesabaran Khubaiab dan Zaid. Ia berkata: 

«والله لا أرضى أن يصاب محمد بشوكة وأنا سالم بأهلى»

Demi Allah, aku tidak suka Muhammad saw. ditimpa musibah walau hanya dengan duri, sementara aku selamat dengan keluargaku.

 

Juga seperti kesabaran orang-orang yang menghentikan orang yang dzalim tanpa merasa takut, di jalan Allah, terhadap cacian orang yang suka mencaci. Rasulullah saw. bersabda: 

«كلا والله لتأخذنا على يد الظالم وتأطرنه على الحق أطرا ولتقصرنه على الحق قصرا أوليضربن الله قلوب بعضكم ببعض وليلعنكم كما لعن بني إسرائيل»

Tidak, demi Allah, kalian harus menghentikan orang yang dzalim, kalian harus membelokan mereka (dari kedzaliman) menuju kebenaran, dan kalian harus menahan mereka dalam kebaikan atau Allah akan mengunci hati sebagian dari kalian disebabkan oleh sebagian yang lainnya dan Allah akan melaknat kalian sebagaimana telah melaknat Bani Israil. 

Juga seperti kesabaran para sahabat yang diberkati, juga kesabaran para sahabat yang diboikot, dan para sahabat yang hijrah ke Habsyah; dan kesabaran para sahabat yang ditangkap karena berpegang pada perkataan mereka: ”Tuhan kami adalah Allah”. 

Kesabaran yang hakiki juga harus seperti kesabaran kaum Muhajirin dan Anshar pada saat memerangi kaum Musyrik, bangsa Persia, dan Romawi. Seperti kesabaran sahabat yang ditawan, yaitu kelompok Abdullah bin Abi Hudzafah…; juga kesabaran para mujahidin yang berani dan jujur.

Kesabaran yang sebenarnya adalah kesabaran pada saat melaksanakan amar makruf nahi munkar, dan tidak lemah meskipun dihadapkan kepada berbagai penindasan di jalan Allah. 

Kesabaran yang sebenarnya adalah kesabaran pada saat menjadi tentara bersama pasukan kaum Muslim yang siap memerangi musuh-musuh Allah. 

Sabar yang sebenarnya adalah kesabaran yang sesuai dengan firman Allah: 

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأُمُورِ

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. (TQS. Ali ‘Imran [3]: 186)

 

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu. (TQS. Muhammad [47]: 31)

 

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأَمْوَالِ وَالأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (TQS. Al-Baqarah [2]: 155-157)

Ramadhan Bulan Alquran- Tausiyah Ramadhan #2

TAUSIYAH RAMADHAN #2
RAMADHAN BULAN AL QUR’AN

Tidak boleh dilupakan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur’an. Al Qur’an adalah kitab suci yang berasal dari Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang menjadi petunjuk, penjelas dan pembeda yang baik dan buruk dalam kehidupan manusia. Oleh karenanya sudah selayaknya Al-Quran menjadi penyiram hati bagi kaum Muslim umumnya, dan bagi para pengemban dakwah khususnya. Al-Quran selayaknya juga menjadi pengiring setiap langkah mereka. Mereka seharusnya dipimpin oleh Al-Quran menuju setiap kebaikan. Al-Quran pun akan mengangkat kedudukan mereka lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Mereka harus senantiasa memperhatikan Al-Quran di tengah malam dan di waktu penghujung siang; senantiasa membacanya, menghafalnya serta mengamalkannya. Sehingga mereka akan menjadi sebaik-baiknya pengikut dari generasi salaf (terdahulu) maupun generasi khalaf (belakangan).

Di bulan Ramadhan ini ramai kaum muslim membaca Al-Qur’an, mereka membacanya dalam setiap waktu kesempatan di bulan Ramadhan ini. Mereka di bulan ini sangat akrab dengan Al-Qur’an, mereka mendalami pelajaran tentang turunnya Al-Quran, tentang jaminan terpeliharanya, tentang petunjuknya, dan tentang keutamaan membacanya, serta tentang segala kebaikan yang sangat banyak kandungannya: 

Allah SWT berfirman :

 

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesunguhnya Kami telah menurunkan Al-Quran dan Kami pasti akan menjaganya. (TQS. Al-Hijr [15]: 9)

 

لاَ يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلاَ مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

Tidak datang padanya kebatilan dari sebelum dan sesudahnya, diturunkan dari Dzat yang Maha Bijak dan Terpuji.. (TQS. Fush Shilat [41]: 42)

 

إِنَّ هَذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. (TQS. Al-Isra [17]: 9)

 

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (TQS. Ibrahim [14]: 1)

 

أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (TQS. Ar Ra’d [13]: 28)

 

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلاَفًا كَثِيرًا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (TQS. An Nisa [4]: 82)

 

Rasulullah saw. bersabda : 

«خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ»

Orang yang terbaik diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya. (HR. Bukhari dari Utsman bin Affan r.a)

 

«مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ»

Barang siapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka dia akan mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan bahwa ألم (alif lam mim) adalah satu huruf. Akan tetapi Alif adalah satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim juga satu huruf. (HR. At-Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud, dan ini hadits shahih)

 

«الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ»

Orang yang mahir dengan Al-Quran akan bersam-sama dengan malaikat Safarah yang mulia dan senantiasa berbuat baik. Dan orang yang membaca Al-Quran tapi terbata-bata dan sangat berat baginya, ia akan mendapatkan dua pahala. (HR. Muslim dari ‘Aisyah, Ummul Mukminin. r.a)

 

 

»إِنَّ الَّذِي لَيْسَ فِي جَوْفِهِ شَيْءٌ مِنَ اْلقُرْآنِ كَالْبَيْتِ الْخَرِبِ «

 

Sesungguhnya orang yang dalam hatinya tidak ada Al-Quran sedikitpun bagaikan rumah yang akan roboh. (HR. At-Tirmudzi, Ia menshahihkannya. Dan ini adalah hadits shahih).

 

«اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِصَاحِبِهِ»

Bacalah Al-Quran, karena Al-Quran akan datang pada hari Kiamat kelak memberi syafa’at (pembelaan) bagi ahlinya. (HR. Muslim dalam kitab shahihnya. Dari Abu Umamah Al-Bahili ra.)

 

»الْقُرْآنُ شَافِعٌ مُشَفِّعٌ، وَمَاحِلٌ مُصَدَّقٌ، مَنْ جَعَلَهُ أَمَامَهُ قَادَهُ إِلَى 

الْجَنَّةِ وَمَنْ جَعَلَهُ خَلْفَهُ سَاقَهُ إِلَى النَّارِ «

 

Al-Quran adalah kitab yang menjadi pembela dan bisa diminta pembelaan, ia adalah kitab yang Maahil dan Mushaddaq. 1 Siapa saja yang menjadikan Al-Quran ada di depannya2 maka ia akan menuntunnya ke surga. Tapi siapa saja yang menjadikan Al-Quran di belakangnya3 maka ia akan menggiringnya ke neraka. (HR. Ibnu Hibban dalam kitab shihnya dari Jabir bin Abdullah ra. Dan riwayat imam Baihaqi dalam kitab Sya’bul Iman dari Jabir dari Ibnu Mas’ud ra. Ini adalah hadits Shahih)

 

«إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ»

Sesungguhnya Allah akan mengangkat (menuju kemuliaan, penj.) dengan Al-Quran ini kepada suatu kaum dan dengannya pula Allah akan menjatuhkan (menuju kehinaan, penj.) kepada kaum yang lain. (HR. Muslim)

 

Abu Dawud dan At-Tirmidzi telah mentakhrij hadits yang sahih bahwa Rasulullah bersabda : 

«يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا»

Kelak (di akhirat) akan dikatakan kepada Shahibul Quran (orang yang senantiasa bersama-sama dengan Al-Quran, penj.) bacalah, naiklah terus dan bacalah dengan perlahan-lahan (tartil) sebagaimana engakau telah membaca Al-Quran dengan tartil di dunia. Sesungguhnya tempatmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca. 4

 

«اقْرَءُوا الْقُرْآنَ وَاعْمَلُوْا بِهِ وَلاَ تَجْفُوا عَنْهُ وَلاَ تَغْلُوا فِيهِ وَلاَ تَأْكُلُوا وَلاَ تَسْتَكْثِرُوا بِهِ»

Bacalah Al-Quran dan amalkanlah isinya, janganlah kalian menolaknya, janganlah berlebih-lebihan di dalamnya (membaca dan mengamalkan). Janganlah makan (dari Al-Quran) dan janganlah menumpuk-numpuk harta dengannya. (HR. Ahmad, At-Thabrany, dan yang lainnya dari Abdurrahman bin Syibli ra. Ini adalah hadits shahih).

UPDATE INFORMASI TERBARU