Seruan Masjid

Khadimul Ummah wa Du'at

HARTA KORUPTOR WAJIB DISITA

HARTA KORUPTOR WAJIB DISITA

HARTA KORUPTOR WAJIB DISITA

HARTA KORUPTOR WAJIB DISITA

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَآ اِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَࣖ ۝١٨٨ (اَلْبَقَرَةُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102).

 

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Korupsi di Indonesia terus merusak sendi kehidupan bangsa, sementara upaya menghadirkan instrumen hukum yang tegas berupa Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset masih saja terhambat di DPR. Publik sudah jenuh mendengar alasan klasik seperti “masih perlu pendalaman”, “butuh sinkronisasi”, atau “belum ada kesepahaman antar-fraksi”. Pada hakikatnya, semua ini mencerminkan tarik-menarik kepentingan elit. Banyak pihak menilai bahwa RUU ini tidak kunjung disahkan karena berpotensi menyentuh langsung urat nadi kekuasaan, sebab jika dijalankan konsisten, ia akan menjadi alat ampuh untuk merampas aset hasil korupsi, termasuk yang telah dialihkan melalui pencucian uang atau atas nama keluarga dan kerabat.

Ketakutan terbesar DPR maupun pemerintah adalah RUU ini bisa menjadi “senjata makan tuan”, menjerat pejabat, pengusaha, atau sponsor politik dari kalangan oligarki. Karena itu pembahasannya sengaja ditunda dan diperlambat. Meski begitu, ada juga kekhawatiran bahwa RUU ini bisa disalahgunakan sebagai alat represif yang justru menyasar rakyat kecil, terutama mereka yang menguasai aset turun-temurun tanpa dokumen resmi. Karena itu, syarat mutlak yang harus dijaga adalah memastikan RUU ini fokus pada aset hasil tindak pidana, khususnya korupsi dan praktik kongkalikong penguasaan sumber daya alam oleh oligarki, bukan harta masyarakat sah yang tak tercatat secara administratif.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Korupsi, suap, dan berbagai bentuk perolehan harta haram telah menjadi penyakit kronis yang merusak tatanan masyarakat. Islam sejak awal sudah memberikan aturan tegas dan adil dalam menjaga harta umat. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

”Janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan jalan yang batil. Jangan pula kalian membawa (urusan) harta itu kepada hakim supaya kalian dapat memakan sebagian harta orang lain dengan jalan dosa, padahal kalian mengetahui (itu dosa).” (QS. al-Baqarah [2]: 188)

 

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam pun menegaskan:

مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ

”Siapa saja yang kami angkat sebagai pegawai dalam suatu pekerjaan, lalu kami beri dia suatu gaji, maka yang dia peroleh selain dari gaji adalah harta haram.” (HR. Abu Dawud). Beliau juga bersabda:

لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي

“Laknat Allah atas penyuap dan penerima suap” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi). Dengan demikian, Islam melarang segala bentuk manipulasi hukum dan pengkhianatan terhadap amanah rakyat. Karena itu, harta haram wajib disita dan dikembalikan kepada pemiliknya atau dikelola negara untuk kepentingan umat.

Islam juga telah menetapkan mekanisme pencegahan korupsi yang jelas: pejabat negara digaji secara layak, harta mereka diaudit sebelum dan sesudah menjabat, setiap tambahan harta yang tidak wajar disita, serta pejabat dipantau langsung oleh Khalifah. Aturan ini membuat hukum berfungsi sebagai pelindung rakyat, bukan alat untuk melegalkan kezaliman sebagaimana kerap terjadi dalam sistem demokrasi hari ini.

Ketegasan ini tercermin dari kepemimpinan Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ’anhu. Beliau tidak pernah ragu menyita harta pejabat negara yang diperoleh secara tidak wajar. Umar radhiyallahu ’anhu pernah menyita hadiah kepada Khalid bin al-Walid radhiyallahu ’anhu, menyita 12 ribu dirham yang dibawa pulang Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu setelah menjabat gubernur Bahrain, serta sebagian harta Saad bin Abi Waqqash radhiyallahu ’anhu yang dinilai berlebihan. Semua harta itu dimasukkan ke Baitul Mal demi kemaslahatan umat. Sejarah ini menunjukkan bahwa sistem Islam benar-benar mampu menutup ruang bagi pejabat untuk memperkaya diri lewat jabatan, karena hukum ditegakkan tanpa pandang bulu.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Penguasaan sumberdaya alam (SDA) oleh segelintir oligarki adalah bentuk perampasan hak rakyat yang paling nyata. Dampaknya tidak hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga menghancurkan lingkungan, memicu konflik agraria, dan menjerat rakyat dalam kemiskinan struktural.

Karena itu, RUU Perampasan Aset seharusnya tidak hanya menyasar koruptor perorangan, melainkan juga aset korporasi yang selama ini menguasai emas, perak, migas, batubara, nikel, hutan hingga laut melalui undang-undang dan izin yang mereka rancang bersama politisi. Padahal Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam menegaskan:

المُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلاثٍ: فِي الْكَلَإِ، وَالْمَاءِ، وَالنَّارِ

”Kaum Muslim berserikat (memiliki hak bersama) dalam tiga perkara: padang gembalaan, air dan api.” (HR. Abu Dawud dan Ibn Majah). Hadits ini menjadi dasar hukum bahwa SDA vital merupakan milik umum (al-milkiyyah al-‘aammah) yang tidak boleh jatuh ke tangan individu, swasta, atau asing, melainkan harus dikelola negara demi kemaslahatan rakyat.

Kenyataannya, UU Minerba, UU Migas, UU Cipta Kerja, dan regulasi investasi justru memberi jalan lebar bagi korporasi besar untuk menguasai SDA. Perampasan ini kerap dilakukan secara “legal” maupun ilegal, mulai dari suap, manipulasi perizinan, hingga penguasaan lahan rakyat secara zalim. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَخَذَ شِبْرًا مِنَ الْأَرْضِ ظُلْمًا طُوِّقَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ سَبْعِ أَرَضِينَ

“Siapa saja yang mengambil sejengkal tanah secara zalim, maka pada Hari Kiamat dia akan dikalungi dengan tujuh lapis bumi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Maka, dalam sistem Islam, negara wajib menarik kembali seluruh SDA yang termasuk milik umum, mengelolanya secara langsung, dan memasukkan hasilnya ke Baitul Mal untuk didistribusikan demi kesejahteraan rakyat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Tarik-ulur pembahasan RUU Perampasan Aset menunjukkan bahwa persoalan utamanya bukan sekadar teknis, melainkan terletak pada sistem dasarnya. Demokrasi membuat hukum tunduk pada kepentingan manusia, sehingga mudah dipelintir, ditarik-ulur, dan dimanipulasi oleh pihak yang berkuasa. Selama sistem ini dipertahankan, hukum sulit berpihak pada rakyat dan mustahil menindak tegas korupsi maupun perampasan sumberdaya alam oleh oligarki.

Solusi sejati bagi bangsa ini bukanlah undang-undang setengah hati yang rawan dimanipulasi, melainkan penerapan syariah Islam secara kaaffah dalam institusi pemerintahan Islam (Khilafah). Dengan sistem ini, harta umat terjamin keamanannya, keadilan bisa ditegakkan, dan praktik korupsi maupun penguasaan SDA oleh oligarki dapat diberantas hingga ke akar-akarnya. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

SOLUSI ISLAM  MENGATASI PERSOALAN EKONOMI

SOLUSI ISLAM MENGATASI PERSOALAN EKONOMI

SOLUSI ISLAM MENGATASI PERSOALAN EKONOMI

SOLUSI ISLAM

MENGATASI PERSOALAN EKONOMI

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ ۝٩٦ (اَلْأَعْرَافُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

 

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

 

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Di tengah upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi, Menteri Keuangan Purbaya menarik dana Rp200 triliun dari Bank Indonesia untuk disalurkan melalui perbankan sebagai kredit dunia usaha. Kebijakan ini dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang saat ini hanya 5,12 persen, sementara target pemerintah Prabowo mencapai 8 persen. Namun, para ekonom menilai langkah tersebut tidak menyentuh akar masalah karena menyalurkan dana ke bank tidak otomatis menyelesaikan kompleksitas ekonomi nasional. Berbagai indikator makro menunjukkan rapuhnya sistem ekonomi kapitalisme: daya beli masyarakat lemah, konsumsi rumah tangga lesu, rupiah terus melemah, dan gelombang PHK massal menekan sektor manufaktur maupun digital. Akibatnya, sekitar 9 juta orang terlempar dari kelas menengah dan bergeser ke kelompok rentan miskin. Bahkan, menurut standar Bank Dunia, 60,3 persen penduduk Indonesia kini masuk kategori miskin atau rentan miskin.

 

Lebih jauh, beban ekonomi kian berat dengan utang pemerintah jatuh tempo sekitar Rp800 triliun ditambah bunga lebih dari Rp500 triliun, sementara pajak yang tinggi menambah tekanan rakyat. Kondisi ini menggambarkan kerapuhan sistem kapitalisme yang bertumpu pada utang ribawi dan beban pajak, tetapi gagal menghadirkan kesejahteraan. Di sisi lain, kekayaan sumber daya alam yang seharusnya menopang perekonomian justru masih dikuasai pihak asing dan aseng, ini semakin mempersempit ruang pemulihan ekonomi dalam negeri.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Pertumbuhan ekonomi sering dijadikan indikator utama keberhasilan negara, padahal angka ini bersifat agregat dan tidak selalu mencerminkan kondisi riil masyarakat. Secara teknis, pertumbuhan dihitung dari peningkatan total barang dan jasa, terutama konsumsi rumah tangga, tanpa membedakan kontribusi antar kelompok pendapatan. Akibatnya, meski sebagian kecil masyarakat meningkatkan belanja, mayoritas yang daya belinya menurun tetap tersamarkan dalam data. Paradoks pun muncul: ekonomi makro tampak tumbuh, sementara di tingkat mikro kesenjangan dan kemiskinan justru memburuk. Karena itu, pertumbuhan tidak bisa dijadikan satu-satunya tolok ukur. Diperlukan indikator lain yang lebih inklusif, seperti tingkat kemiskinan, ketimpangan pendapatan (Indeks Gini), serta akses terhadap layanan dasar.

 

Sayangnya, dimensi ini diabaikan pemerintah yang tetap mengandalkan model fiskal neoliberal. Menteri Keuangan bersikeras menggelontorkan Rp200 triliun dari pajak rakyat ke sektor keuangan dengan efektivitas yang belum jelas. Risiko besar pun mengintai, sebab dana itu bisa saja terserap di instrumen spekulatif atau justru mengalir untuk proyek-proyek oligarki, bukan untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat secara merata dan berkelanjutan.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, ulama dan pemikir Islam abad ke-20, menegaskan bahwa persoalan utama ekonomi bukan pada jumlah kekayaan, tetapi distribusinya. Dalam An-Nizhaam al-Iqtishaadi fi al-Islaam, beliau menjelaskan pembagian kepemilikan menjadi tiga: individu (milkiyyah fardhiyyah), umum (milkiyyah ‘aammah), dan negara (milkiyyah ad-dawlah). Konsep ini menutup celah privatisasi sumber daya strategis, karena aset publik seperti air, listrik, dan tambang wajib dikelola negara untuk rakyat. Hal ini sesuai sabda Rasulullah ﷺ:

اَلْمُسْلِمُوْنَ شُركَاَءُ فِيْ ثَلاَثٍ: فِيْ الْكَلَإِ، وَالْمَاءِ، وَالنَّارِ

“Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: padang rumput, air dan api” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Majah).

 

Dalam pandangan Islam, kesejahteraan diukur dari pemenuhan hak-hak dasar setiap warga, bukan sekadar pertumbuhan konsumsi agregat.

 

Distribusi kekayaan dalam Islam adalah tujuan utama kebijakan ekonomi. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

 كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةً ۢ بَيْنَ الْاَغْنِيَاۤءِ مِنْكُمْۗ 

”Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian.” (QS. al-Hasyr [59]: 7).

 

Islam melarang penimbunan harta dan riba, karena riba menciptakan ketimpangan dan instabilitas. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

اَلَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبٰوا لَا يَقُوْمُوْنَ اِلَّا كَمَا يَقُوْمُ الَّذِيْ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطٰنُ مِنَ الْمَسِّۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْٓا اِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبٰواۘ وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ

”Orang-orang yang memakan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti orang yang kerasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian disebabkan mereka berpendapat bahwa jual-beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.” (QS. al-Baqarah [2]: 275).

 

Sebaliknya, Islam mendorong agar harta terus berputar melalui muamalah riil, zakat, infak, sedekah, hibah, dan wakaf. Sistem keuangan Islam ditopang oleh Baitul Mal serta penggunaan dinar dan dirham yang memiliki nilai intrinsik stabil, sehingga lebih kokoh dibanding sistem kapitalis ribawi.

 

Islam juga menawarkan solusi praktis berbasis keadilan, seperti akad syirkah mudharabah yang menekankan kerja sama, bukan eksploitasi. Negara berkewajiban menjamin kebutuhan dasar rakyat (pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan) dan menciptakan lapangan kerja. Misalnya, lahan terlantar dapat diambil negara lalu didistribusikan kepada yang mampu menggarapnya, disertai dukungan berupa izin usaha yang mudah, modal, subsidi pertanian, pengembangan SDM, hingga dorongan industri. Dengan demikian, sistem ekonomi Islam bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan, tetapi menghadirkan keadilan sosial, keberkahan, dan kesejahteraan merata.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Dengan landasan iman dan takwa, penerapan sistem ekonomi Islam akan menghadirkan keberkahan hidup, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala :

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

”Andai penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. Karena itu Kami menyiksa mereka disebabkan perbuatan mereka itu.” (QS. al-A’râf [7]: 96).

 

Karena itu, di tengah ketidakpastian global dan kompleksitas ekonomi nasional, sudah saatnya pemikiran ekonomi Islam khususnya dari ulama besar seperti Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dijadikan solusi fundamental, yang hanya dapat diwujudkan secara sempurna melalui institusi Khilafah dengan penerapan syariah Islam secara kaaffah. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

TELADAN NABI ﷺ DALAM MENYEJAHTERAKAN UMAT

TELADAN NABI ﷺ DALAM MENYEJAHTERAKAN UMAT

TELADAN NABI ﷺ DALAM MENYEJAHTERAKAN UMAT

TELADAN NABI ﷺ DALAM MENYEJAHTERAKAN UMAT

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْۗ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا ۝٢٩ (اَلنِّسَاءُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Kadang hidup menghadirkan tekanan yang begitu berat hingga membuat seseorang kehilangan harapan. Belum lama ini, seorang ibu di Kabupaten Bandung nekat bunuh diri setelah terlebih dahulu meracuni dua anaknya karena depresi akibat kemiskinan dan masalah rumah tangga. Tragedi ini menambah panjang daftar kasus serupa di Indonesia. Sebelumnya, di Sukabumi, seorang anak meninggal dengan tubuh dipenuhi ratusan cacing gelang. Ibunya adalah ODGJ, ayahnya menderita TBC, dan keluarga mereka kesulitan berobat karena tak memiliki KK dan BPJS Kesehatan. Kasus-kasus ini memperlihatkan betapa rapuhnya keluarga miskin ketika berhadapan dengan keterbatasan ekonomi dan akses kesehatan.

Data menunjukkan angka bunuh diri di Indonesia terus meningkat. Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Bareskrim Polri mencatat, pada 2022 terdapat 887 kasus, naik menjadi 1.288 pada 2023, lalu 1.023 kasus pada 2024. Hingga Mei 2025, sudah tercatat 600 kasus. Angka sebenarnya diduga jauh lebih tinggi karena underreporting diperkirakan mencapai 300%, menurut Indonesian Association for Suicide Prevention (INASP). Kemiskinan menjadi faktor dominan, bahkan sering mendorong terjadinya filisida maternal—ibu yang membunuh anaknya karena tak tega melihat penderitaan akibat himpitan ekonomi.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Bunuh diri adalah perbuatan terlarang dalam Islam. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman;

 وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا 

”Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri. Sesungguhnya Allâh Maha Penyayang kepada kalian.” (QS. an-Nisâ’ [4]: 29).

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam pun memperingatkan;

مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ فِي الدُّنْيَا عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

”Siapa saja yang melakukan bunuh diri dengan sesuatu, ia akan diazab dengan sesuatu itu pada Hari Kiamat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Bahkan, Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam menegaskan besarnya dosa membunuh anak karena takut kesulitan hidup, sebagaimana sabdanya;

وَعَنْ اِبْنِ مَسْعُودٍ – رضي الله عنه – قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اَللَّهِ ﷺ أَيُّ اَلذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: – أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا، وَهُوَ خَلَقَكَ. قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:  Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam, ”Dosa apakah yang paling besar?” Beliau menjawab, ”Engkau menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dialah yang menciptakan dirimu.” Aku bertanya lagi, ”Kemudian apa?” Beliau menjawab, ”Engkau membunuh anakmu karena takut ia makan bersama dirimu.” (Muttafaq ‘alayh).

Peringatan ini menunjukkan besarnya cinta Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dan Rasul-Nya kepada umat Islam. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam diutus dengan membawa ajaran yang menuntun manusia pada ketenteraman dan kesejahteraan lahir-batin. Beliau membangun masyarakat dan negara di atas akidah Islam yang kokoh, sehingga lahir keyakinan teguh akan rezeki, sikap tawakal, dan optimisme. Beliau bersabda;

لَا تَيْئَسَا مِنْ الرِّزْقِ مَا تَهَزَّزَتْ رُءُوسُكُمَا فَإِنَّ الْإِنْسَانَ تَلِدُهُ أُمُّهُ أَحْمَرَ لَيْسَ عَلَيْهِ قِشْرٌ ثُمَّ يَرْزُقُهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ

”Janganlah kalian berputus asa dari rezeki Allah selama kepala kalian masih bergerak. Sesungguhnya manusia itu dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan merah, tidak memiliki apapun, lalu Allah 'Azza wa Jalla memberi dia rezeki.” (HR. Ibnu Majah).

Namun, dalam masyarakat yang tidak berlandaskan akidah Islam, keyakinan akan rezeki mudah tercabut. Akibatnya, kehidupan menjadi rapuh saat menghadapi kesempitan ekonomi. Padahal Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan kesabaran dalam kesulitan. Beliau sendiri sering menahan lapar dengan mengganjal perutnya dengan batu atau berpuasa ketika tidak ada makanan di rumah.

Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam menekankan pentingnya bekerja keras, khususnya bagi kaum lelaki sebagai penanggung jawab keluarga. Beliau bersabda;

لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ، فَيَأْتِيَ بِحُزْمَةِ الحَطَبِ عَلَى ظَهْرِهِ، فَيَبِيعَهَا، فَيَكُفَّ اللَّهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ

“Sungguh, seandainya salah seorang dari kalian mengambil seutas tali, lalu memikul seikat kayu bakar di punggungnya, kemudian menjualnya, hal itu lebih baik daripada meminta-minta kepada manusia...” (HR. al-Bukhari). Dengan kerja keras, kehormatan diri tetap terjaga tanpa harus merendahkan diri dengan meminta-minta.

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam juga menanamkan nilai kepedulian sosial. Beliau bersabda;

يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لَا تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ

“Wahai para wanita Muslimah, janganlah antar tetangga saling meremehkan walaupun hanya dengan memberi kuku kambing.” (HR. al-Bukhari). Dalam riwayat lain beliau menganjurkan memperbanyak kuah makanan agar bisa dibagi kepada tetangga. Bahkan beliau mengingatkan keras;

ما آمَنَ بي مَن باتَ شَبْعانَ، وجارُهُ جائِعٌ إلى جَنْبِهِ، وهو يَعْلَمُ بِهِ

“Tidak beriman kepadaku siapa saja yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan, padahal ia mengetahuinya” (HR. ath-Thabrani). Dengan teladan ini, umat Islam diarahkan untuk membangun masyarakat yang saling peduli agar tidak ada yang terpuruk dalam penderitaan.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Sebagai kepala negara, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam menjadi teladan dalam mengurus umat. Beliau menegaskan;

فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ

“Pemimpin manusia (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan bertanggung jawab atas mereka” (Muttafaq ‘alayh).

Karena itu, beliau tidak pernah menunda pelayanan kepada rakyat dan memperingatkan pejabat agar tidak menutup diri dari kebutuhan umat. Sabda Beliau;

مَا مِنْ إِمَامٍ يُغْلِقُ بَابَهُ دُونَ ذَوِي الْحَاجَةِ وَالْخَلَّةِ وَالْمَسْكَنَةِ إِلَّا أَغْلَقَ اللَّهُ أَبْوَابَ السَّمَاءِ دُونَ خَلَّتِهِ وَحَاجَتِهِ وَمَسْكَنَتِهِ

“Tidak seorang pun pemimpin yang menutup pintunya untuk orang yang membutuhkan, orang yang kekurangan dan orang miskin, kecuali Allah akan menutup pintu langit dari kekurangan, kebutuhan dan kemiskinannya” (HR. at-Tirmidzi). Hal ini menunjukkan bahwa kesejahteraan rakyat hanya bisa terjamin dengan peran aktif negara yang berpihak kepada umat.

Wahai kaum Muslim! Musibah kemiskinan, kesenjangan, dan keputusasaan hari ini adalah akibat dicampakkannya Islam dari kehidupan, digantikan oleh sekulerisme dan kapitalisme yang menafikan peran agama, memicu individualisme, dan membuat negara berpihak pada oligarki. Akibatnya rakyat diperlakukan sekadar objek pajak, sementara pejabat hidup dalam kemewahan. Penderitaan ini tidak akan selesai hanya dengan pergantian figur pemimpin, tetapi hanya bisa dituntaskan dengan penerapan syariah Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah, sebagaimana tuntunan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam dan para khalifah setelah beliau. Hanya dengan itulah umat dapat meraih kesejahteraan dan ketenteraman lahir maupun batin. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Khutbah Gerhana Bulan 1447H/2025

Khutbah Gerhana Bulan 1447H/2025

KHUTBAH GERHANA BULAN 1447H/2025

GERHANA: MOMENTUM MUHASABAH DAN SERUAN MENEGAKKAN SYARIAH DAN KHILAFAH

 

KHUTBAH PERTAMA

 

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْـحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، وَهُوَ الْقَائِلُ سُبْحَانَهُ:

﴿وَمِنْ اٰيٰتِهِ الَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُۗ لَا تَسْجُدُوْا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَهُنَّ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ﴾ [سورة فُصِّلَتْ: ٣٧].

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَهُوَ خَيْرُ الْبَشَرِ، وَصَاحِبُ الْحَوْضِ الْكَوْثَرِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ الْمُطَهَّرِينَ، وَعَلَى مَنْ صَاحَبَهُ وَآزَرَهُ وَوَقَّرَهُ، وَعَلَى التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ فِي كُلِّ أَثَرٍ، إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرِ.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ [سورة آلِ عِمْرَانَ: ١٠٢].

 

Hadirin jamaah shalat gerhana yang dimuliakan Allah,

Hari ini, sekali lagi Allah subhanahu wa ta’ala telah menunjukkan kebesaran-Nya kepada kita, dengan terjadinya gerhana bulan. Pertanda apakah ini? Tahukah kita, bahwa di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya terjadi gerhana sekali?

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan, bahwa pada zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya terjadi gerhana sekali. Itu terjadi, persis setelah wafatnya putra Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Sayyidina Ibrahim. Orang kemudian menghubung-hubungkan wafatnya putra Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu dengan gerhana yang terjadi, padahal keduanya tidak ada kaitannya. Karena itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لاَ تنْخَسِفَانِ لِمَوتِ أَحَدٍ، وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللهَ وَكَبَّرُوْا وَصَلُّوْا وَتَصَدَّقُوْا

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika kamu melihat gerhana tersebut, maka berdo’alah kamu kepada Allah, bertakbirlah kamu, kerjakanlah shalat, dan bersedekahlah.” [HR. Bukhari]

 Hadirin jamaah shalat gerhana yang dimuliakan Allah,

Memang benar, gerhana adalah tanda-tanda kebesaran Allah, yang ditunjukkan kepada umat manusia, agar manusia menyadari siapa dirinya, bahwa sehebat apapun dia, dengan segala kekuasaan dan apapun yang dimilikinya, dia tetaplah manusia. Hanya kepada Allah, hendaknya manusia menyembah, dan mengabdikan dirinya. Bukan kepada yang lain, baik kepada sesama manusia, maupun kepada matahari dan bulan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah terjadinya malam dan siang, terbitnya matahari dan bulan. Maka, janganlah kalian sujud kepada matahari dan bulan, tetapi sujudlah kepada Allah, Dzat yang Menciptakan semuanya itu, jika kalian benar-benar hanya beribadah kepada-Nya.” (QS. Fushshilat [41]: 37)

Matahari dan bulan mempunyai orbitnya sendiri, dan berputar, seolah-olah terjadi secara alami dengan sendirinya. Padahal, semuanya itu tidak terjadi, kecuali atas kehendak dan pengaturan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

“Matahari [juga bulan] itu berjalan mengikuti tempat orbitnya. Itu merupakan ketentuan Dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Tahu.” (QS. Yâsin [36]: 38)

Karena itu, terjadinya gerhana matahari dan bulan, sekali lagi adalah tanda-tanda kekuasaan Allah. Dengan kata lain, jika Allah berkehendak, kapan saja Allah subhanahu wa ta’ala bisa membolak-balik peredaran matahari dan bulan, dan bahkan menghentikannya.

 

Hadirin jamaah shalat gerhana yang dimuliakan Allah!

Gerhana matahari dan bulan bukan hanya tanda-tanda kekuasaan Allah biasa, tetapi juga merupakan tanda-tanda terjadinya Hari Kiamat. Ketika Hari Kiamat tiba nanti, salah satu tandanya adalah terjadi gerhana, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

يَسْأَلُ أَيَّانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ، فَإِذَا بَرِقَ الْبَصَرُ، وَخَسَفَ الْقَمَرُ، وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ، يَقُولُ الْإِنسَانُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ الْمَفَرُّ، كَلَّا لَا وَزَرَ، إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمُسْتَقَرُّ

“Ia berkata, “Bilakah Hari Kiamat itu?”, maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan ketika matahari dan bulan dikumpulkan [mengalami gerhana], pada hari itu manusia berkata, “Ke manakah tempat berlari?” Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali.” (QS. al-Qiyâmah [75]: 6-12).

Itulah mengapa, saat terjadinya gerhana, sikap yang ditunjukkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perasaan takut, gemetar, dan bergegas, sambil mengangkat jubahnya, menuju ke rumah Allah. Seolah-olah, langit dan bumi akan digulung, dan seolah Hari Kiamat telah tiba. Dalam riwayat Imam Al-Bukhari, dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَافْزَعُوْا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ

“Jika kalian melihat sesuatu dari gerhana itu, maka bersegeralah kalian dengan gemetar [penuh rasa takut] untuk mengingat-Nya, berdoa kepada-Nya dan meminta ampun kepada-Nya.” (HR. Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz IV/184)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا

“Demi Allah, jika kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR Bukhari, No. 1044; Muslim, No. 901).

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah ditunjukkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala betapa dahsyatnya huru-hara Hari Kiamat nanti, karena itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun banyak menangis, meski pun Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diampuni segala kesalahannya, baik yang telah, sedang maupun yang akan datang, tetapi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memohon ampunan tak kurang dari 100 kali dalam sehari semalam. Air mata Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tumpah, hingga membasahi lantai, untuk meminta ampunan dari Rabb-nya.

Padahal, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengemban risalah-Nya dengan sempurna, menunaikan amanah, memberikan nasihat kepada umatnya, berdakwah dan berjihad sepanjang hayatnya. Lalu bagaimanakah dengan kita? Apa yang sudah kita lakukan untuk umat ini?

Apakah kita sudah mengemban dakwah, yang merupakan risalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan segala tantangannya? Kalaupun sudah, apakah kita sudah pernah mengalami cercaan dan hinaan ketika mengemban dakwah seperti yang dialami oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam? Sudah pernahkah kita mengalami gangguan fisik saat kita mengemban dakwah, seperti yang dialami Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau bergegas keluar dari Thaif kemudian orang-orang bodoh Thaif melempari beliau dengan batu? Berapa buah batukah yang sudah merajam tubuh kita saat kita mengemban dakwah?

Apakah kita juga sudah memberi nasihat kepada umat, termasuk para pemimpinnya seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ataukah kita justru takut dan gentar, lalu tidak memberi nasihat kepada umat, tidak memberi nasihat kepada pemimpinnya, ketika kita menghadapi pemimpin yang zalim dan kejam seperti sekarang, yang sangat anti kepada Syariah kaffah, yang sangat tega melakukan kriminalisasi kepada para pengemban dakwah yang ikhlas?

Apakah kita juga sudah berjihad, sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam? Apakah kita sudah pernah mengalami luka-luka dalam berjihad, seperti yang pernah dialami Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Perang Uhud misalnya? Sungguh, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami luka yang cukup serius di Perang Uhud ini. Gigi beliau patah, bibir bawahnya dan keningnya robek, dua mata besi telah masuk melukai pipi beliau yang mulia, yang kemudian dicabut oleh Abu Ubaidah bin Jarrah dengan giginya hingga copot karena sangat dalamnya besi tersebut menancap pada wajah beliau. Sudahkah kita pernah berjihad seperti ini? Sudahkah? Ataukah kita justru kita menjadi pengecut dan penakut ketika penguasa yang sekuler menghapuskan kurikulum jihad dari sistem pendidikan kita?

Sesungguhnya kita harus melakukan muhasabah terhadap kita sendiri. Mungkin saja selama ini kita kurang serius dalam mengemban dakwah dan risalah Islam. Mungkin juga kita tak pernah memberi nasihat kepada umat, termasuk para pemimpinnya, karena alasan takut rizki akan macet atau takut ajal kita segera sampai kalau kita menasehati pemimpin yang zalim.

Apatah lagi berjihad, mungkin kita belum pernah terjun sekali pun dalam medan jihad sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sikap lalai dalam menjalankan amanah mengemban dakwah, menasehati umat, dan berjihad seperti ini, semuanya ini sungguh dapat menghalangi kita untuk dapat masuk surga-Nya, dan justru dapat menyeret kita masuk ke neraka-Nya. Betapa berat hisab kita kelak di hadapan-Nya.

Yang lebih parah lagi, kita mungkin belum merasa bersalah, sehingga oleh karenanya, kita belum pernah bersungguh-sungguh memohon ampunan dari-Nya, menginsafi dan menyesali kelemahan, kesalahan, dan dosa kita. Kita mungkin belum pula berkomitmen untuk tak mengulangi semua kesalahan itu.

 

Wahai kaum Muslimin, jamaah sholat gerhana yang dirahmati Allah, maka inilah saatnya!

Bersegeralah untuk mendapatkan ampunan Tuhanmu, dan menggapai surga-Nya, yang luasnya seluas langit dan bumi. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 133).

 

Laksanakanlah amanah mengemban dakwah dengan sungguh-sungguh, tegakkanlah nasehat kepada umat dan kepada para pemimpin yang zalim yang menyimpang dari syariah Allah! Bersiaplah kalian untuk terjun ke dalam medan jihad fi sabililah, jika saatnya tiba kelak ketika Amirul Mukminin dalam negara Khilafah menyerukannya!

Segera tolonglah Allah dan Rasul-Nya. Tolonglah agama-Nya. Tolonglah para pejuang yang memperjuangkan tegaknya agama-Nya agar tegak di muka bumi ini dengan kaffah (tegak secara keseluruhan), termasuk para pejuang yang memperjuangkan tegaknya syariah dan Khilafah.

Dengan cara seperti itulah, Allah subhanahu wa ta’ala benar-benar akan memberikan ampunan kepada kita. Itulah yang akan meringankan hisab kita di hadapan-Nya, di suatu hari yang ketika anak, harta dan jabatan tak lagi berguna bagi kita. Fafirru ila-Llah! Berlarilah, segeralah menemui Allah! WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْـحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ.
اَلْـحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَرَّمَ هٰذِهِ الْأُمَّةَ بِشَرِيْعَتِهِ الْكَامِلَةِ، وَخَصَّهَا بِنُبُوَّةِ نَبِيِّهِ الْكَرِيْمَةِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، أَرْسَلَهُ بِرِسَالَتِهِ الْقُدْسِيَّةِ وَأَحْكَامِهِ الشَّرِيْفَةِ لِمُعَالَجَةِ كُلِّ مُشْكِلَةٍ فِي الْحَيَاةِ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا.

فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، تَمَسَّكُوْا بِالْإِسْلَامِ فِي كُلِّ حِيْنٍ، وَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ الْخَاطِئَةَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْـحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ، وَيُدَافِعُ نِقَمَهُ، وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ.
يَا رَبَّنَا لَكَ الْـحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ.

اللَّهُمَّ يَا رَبَّنَا، زَلَّتْ بِنَا الْأَقْدَامُ، وَغَرِقْنَا فِي لُجَجِ الْمَعَاصِي وَالْآثَامِ، وَإِنَّا مُقِرُّوْنَ بِالْإِسَاءَةِ عَلَى أَنْفُسِنَا، نَرْجُو عَظِيْمَ عَفْوِكَ الَّذِي عَفَوْتَ بِهِ عَنِ الْخَاطِئِيْنَ، وَهَا نَحْنُ بِبَابِكَ وَاقِفُوْنَ، وَمِنْ عَذَابِكَ خَائِفُوْنَ، وَلِثَوَابِكَ مُؤَمِّلُوْنَ.

قَدْ تَعَرَّضْنَا لِعَفْوِكَ وَثَوَابِكَ، فَارْحَمْ خُضُوْعَنَا، وَاجْبُرْ قُلُوْبَنَا، وَاغْفِرْ ذُنُوْبَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا.

اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِالصَّالِحَاتِ أَعْمَالَنَا، وَعَافِنَا وَاعْفُ عَنَّا، وَسَامِحْنَا، وَتَجَاوَزْ عَنْ سَيِّئَاتِنَا، وَأَبْدِلْ سَيِّئَاتِنَا حَسَنَاتٍ، فَأَنْتَ وَلِيُّ ذٰلِكَ وَالْقَادِرُ عَلَيْهِ، وَأَنْتَ أَهْلُ التَّقْوَى وَأَهْلُ الْمَغْفِرَةِ.

اللَّهُمَّ قَدْ دَعَوْنَاكَ طَالِبِيْنَ، وَرَجَوْنَاكَ رَاغِبِيْنَ، فَلَا تَرُدَّنَا خَائِبِيْنَ وَلَا مَحْرُوْمِيْنَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا، وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صَالِحَ الْأَعْمَالِ، وَاجْعَلْهَا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا، وَاغْفِرْ لَنَا، وَارْحَمْنَا، أَنْتَ مَوْلَانَا، فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا، وَاسْتَجِبْ دُعَاءَنَا، إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

وَسُبْحَانَكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

 

UPDATE INFORMASI TERBARU