KHUTBAH PERTAMA
اللهُمَّ
فَصَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
كَانَ
صَادِقَ
الْوَعْدِ وَكَانَ
رَسُوْلًا
نَبِيًّا، وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
يُحْسِنُوْنَ
إِسْلاَمَهُمْ
وَلَمْ
يَفْعَلُوْا
شَيْئًا
فَرِيًّا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
اُوْصِيْنِيْ
نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
وَلَا
تَأْكُلُوْٓا
اَمْوَالَكُمْ
بَيْنَكُمْ
بِالْبَاطِلِ
وَتُدْلُوْا
بِهَآ اِلَى
الْحُكَّامِ
لِتَأْكُلُوْا
فَرِيْقًا
مِّنْ
اَمْوَالِ
النَّاسِ
بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ
تَعْلَمُوْنَࣖ ١٨٨ (اَلْبَقَرَةُ)
Alhamdulillâhi
Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang
telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di
tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta
keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Bertakwalah kepada
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana
firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali
dalam keadaan muslim.”
(QS. Âli
Imrân
[3]: 102).
Sungguh takwa adalah
benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh,
hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Korupsi di Indonesia terus
merusak sendi kehidupan bangsa, sementara upaya menghadirkan instrumen hukum
yang tegas berupa Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset masih saja
terhambat di DPR. Publik sudah jenuh mendengar alasan klasik seperti “masih
perlu pendalaman”, “butuh sinkronisasi”, atau “belum ada
kesepahaman antar-fraksi”. Pada hakikatnya, semua ini mencerminkan
tarik-menarik kepentingan elit. Banyak pihak menilai bahwa RUU ini tidak
kunjung disahkan karena berpotensi menyentuh langsung urat nadi kekuasaan,
sebab jika dijalankan konsisten, ia akan menjadi alat ampuh untuk merampas aset
hasil korupsi, termasuk yang telah dialihkan melalui pencucian uang atau atas
nama keluarga dan kerabat.
Ketakutan terbesar DPR maupun
pemerintah adalah RUU ini bisa menjadi “senjata makan tuan”, menjerat
pejabat, pengusaha, atau sponsor politik dari kalangan oligarki. Karena itu
pembahasannya sengaja ditunda dan diperlambat. Meski begitu, ada juga
kekhawatiran bahwa RUU ini bisa disalahgunakan sebagai alat represif yang
justru menyasar rakyat kecil, terutama mereka yang menguasai aset turun-temurun
tanpa dokumen resmi. Karena itu, syarat mutlak yang harus dijaga adalah
memastikan RUU ini fokus pada aset hasil tindak pidana, khususnya korupsi dan
praktik kongkalikong penguasaan sumber daya alam oleh oligarki, bukan harta
masyarakat sah yang tak tercatat secara administratif.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Korupsi, suap, dan berbagai
bentuk perolehan harta haram telah menjadi penyakit kronis yang merusak tatanan
masyarakat. Islam sejak awal sudah memberikan aturan tegas dan adil dalam
menjaga harta umat. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:
وَلَا
تَأْكُلُوا
أَمْوَالَكُمْ
بَيْنَكُم
بِالْبَاطِلِ
وَتُدْلُوا
بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ
لِتَأْكُلُوا
فَرِيقًا
مِّنْ أَمْوَالِ
النَّاسِ
بِالْإِثْمِ
وَأَنتُمْ
تَعْلَمُونَ
”Janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan jalan yang batil.
Jangan pula kalian membawa (urusan) harta itu kepada hakim supaya kalian dapat
memakan sebagian harta orang lain dengan jalan dosa, padahal kalian mengetahui
(itu dosa).” (QS. al-Baqarah [2]: 188)
Rasulullah Shallallâhu
‘alaihi wasallam pun menegaskan:
مَنِ
اسْتَعْمَلْنَاهُ
عَلَى عَمَلٍ
فَرَزَقْنَاهُ
رِزْقًا
فَمَا أَخَذَ
بَعْدَ ذَلِكَ
فَهُوَ
غُلُولٌ
”Siapa saja yang kami angkat sebagai pegawai dalam suatu pekerjaan, lalu
kami beri dia suatu gaji, maka yang dia peroleh selain dari gaji adalah harta
haram.” (HR. Abu Dawud). Beliau juga bersabda:
لَعْنَةُ
اللهِ عَلَى
الرَّاشِي
وَالْمُرْتَشِي
“Laknat Allah atas penyuap dan penerima suap” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi).
Dengan demikian, Islam melarang segala bentuk manipulasi hukum dan
pengkhianatan terhadap amanah rakyat. Karena itu, harta haram wajib disita dan
dikembalikan kepada pemiliknya atau dikelola negara untuk kepentingan umat.
Islam juga telah menetapkan
mekanisme pencegahan korupsi yang jelas: pejabat negara digaji secara layak,
harta mereka diaudit sebelum dan sesudah menjabat, setiap tambahan harta yang
tidak wajar disita, serta pejabat dipantau langsung oleh Khalifah. Aturan ini
membuat hukum berfungsi sebagai pelindung rakyat, bukan alat untuk melegalkan
kezaliman sebagaimana kerap terjadi dalam sistem demokrasi hari ini.
Ketegasan ini tercermin dari
kepemimpinan Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ’anhu. Beliau tidak
pernah ragu menyita harta pejabat negara yang diperoleh secara tidak wajar.
Umar radhiyallahu ’anhu pernah menyita hadiah kepada Khalid bin al-Walid radhiyallahu
’anhu, menyita 12 ribu dirham yang dibawa pulang Abu Hurairah radhiyallahu
’anhu setelah menjabat gubernur Bahrain, serta sebagian harta Saad bin Abi
Waqqash radhiyallahu ’anhu yang dinilai berlebihan. Semua harta itu dimasukkan
ke Baitul Mal demi kemaslahatan umat. Sejarah ini menunjukkan bahwa sistem
Islam benar-benar mampu menutup ruang bagi pejabat untuk memperkaya diri lewat
jabatan, karena hukum ditegakkan tanpa pandang bulu.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Penguasaan sumberdaya alam
(SDA) oleh segelintir oligarki adalah bentuk perampasan hak rakyat yang paling
nyata. Dampaknya tidak hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga
menghancurkan lingkungan, memicu konflik agraria, dan menjerat rakyat dalam
kemiskinan struktural.
Karena itu, RUU Perampasan
Aset seharusnya tidak hanya menyasar koruptor perorangan, melainkan juga aset
korporasi yang selama ini menguasai emas, perak, migas, batubara, nikel, hutan
hingga laut melalui undang-undang dan izin yang mereka rancang bersama
politisi. Padahal Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam menegaskan:
المُسْلِمُونَ
شُرَكَاءُ
فِي ثَلاثٍ:
فِي الْكَلَإِ،
وَالْمَاءِ،
وَالنَّارِ
”Kaum Muslim
berserikat (memiliki hak bersama) dalam tiga perkara: padang gembalaan, air dan
api.” (HR. Abu Dawud dan Ibn Majah). Hadits ini menjadi dasar hukum bahwa
SDA vital merupakan milik umum (al-milkiyyah al-‘aammah) yang tidak boleh jatuh ke tangan individu, swasta, atau asing,
melainkan harus dikelola negara demi kemaslahatan rakyat.
Kenyataannya, UU Minerba, UU
Migas, UU Cipta Kerja, dan regulasi investasi justru memberi jalan lebar bagi
korporasi besar untuk menguasai SDA. Perampasan ini kerap dilakukan secara
“legal” maupun ilegal, mulai dari suap, manipulasi perizinan, hingga penguasaan
lahan rakyat secara zalim. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ
أَخَذَ
شِبْرًا مِنَ
الْأَرْضِ
ظُلْمًا
طُوِّقَهُ
يَوْمَ
الْقِيَامَةِ
مِنْ سَبْعِ
أَرَضِينَ
“Siapa saja yang mengambil sejengkal tanah
secara zalim, maka pada Hari Kiamat dia akan dikalungi dengan tujuh lapis bumi.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim). Maka,
dalam sistem Islam, negara wajib menarik kembali seluruh SDA yang termasuk
milik umum, mengelolanya secara langsung, dan memasukkan hasilnya ke Baitul Mal
untuk didistribusikan demi kesejahteraan rakyat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Tarik-ulur pembahasan RUU
Perampasan Aset menunjukkan bahwa persoalan utamanya bukan sekadar teknis,
melainkan terletak pada sistem dasarnya. Demokrasi membuat hukum tunduk pada
kepentingan manusia, sehingga mudah dipelintir, ditarik-ulur, dan dimanipulasi
oleh pihak yang berkuasa. Selama sistem ini dipertahankan, hukum sulit berpihak
pada rakyat dan mustahil menindak tegas korupsi maupun perampasan sumberdaya
alam oleh oligarki.
Solusi sejati bagi bangsa ini
bukanlah undang-undang setengah hati yang rawan dimanipulasi, melainkan
penerapan syariah Islam secara kaaffah dalam institusi pemerintahan
Islam (Khilafah). Dengan sistem ini, harta umat terjamin keamanannya, keadilan
bisa ditegakkan, dan praktik korupsi maupun penguasaan SDA oleh oligarki dapat
diberantas hingga ke akar-akarnya. WalLâhu
a’lam bi ash-shawâb. []
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
اْلقُرْآنِ
اْلعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيمِ
وَتَقَبَّلَ
اللهُ مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
العَلِيْمُ،
وَأَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
فَأسْتَغْفِرُ
اللهَ
العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ عَلىَ
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
اِلٰهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى
رِضْوَانِهِ،
اللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
اٰلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
اَيُّهَا
النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَـنَّى
بِمَلآ
ئِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلآئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِى
يآ اَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى
اَنْبِيآئِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلآئِكَةِ
اْلمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِي، وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَتَابِعِي
التَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ
اَلاَحْيآءَ
مِنْهُمْ
وَاْلاَمْوَاتِ،
اللّٰهُمَّ أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَاْلمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
اْلمُوَحِّدِيْنَ،
وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
اْلمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَاْلبَلاَءَ
وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ
وَاْلمِحَنَ،
وَسُوْءَ
اْلفِتْنَةِ
وَاْلمِحَنَ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا
اِنْدُونِيْسِيَّا
خآصَّةً
وَسَائِرِ
بُلْدَانِ
اْلمُسْلِمِيْنَ
عآمَّةً يَا رَبَّ
اْلعَالَمِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِناَ فِى
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
اْلآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَا
وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِاْلعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي
اْلقُرْبىَ
وَيَنْهَى
عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِ
وَاْلبَغْي
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
اْلعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلىَ
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ