GERHANA: MOMENTUM
MUHASABAH DAN SERUAN MENEGAKKAN SYARIAH DAN KHILAFAH
KHUTBAH PERTAMA
السَّلَامُ
عَلَيْكُمْ
وَرَحْمَةُ
اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْـحَمْدُ
لِلَّهِ
الَّذِي
هَدَانَا لِهٰذَا
وَمَا كُنَّا
لِنَهْتَدِيَ
لَوْلَا أَنْ
هَدَانَا
اللهُ.
أَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلٰهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ،
صَدَقَ
وَعْدَهُ،
وَنَصَرَ
عَبْدَهُ،
وَأَعَزَّ
جُنْدَهُ،
وَهَزَمَ
الْأَحْزَابَ
وَحْدَهُ،
وَهُوَ
الْقَائِلُ
سُبْحَانَهُ:
﴿وَمِنْ
اٰيٰتِهِ
الَّيْلُ
وَالنَّهَارُ
وَالشَّمْسُ
وَالْقَمَرُۗ
لَا
تَسْجُدُوْا
لِلشَّمْسِ
وَلَا
لِلْقَمَرِ
وَاسْجُدُوْا
لِلّٰهِ
الَّذِيْ
خَلَقَهُنَّ
اِنْ كُنْتُمْ
اِيَّاهُ
تَعْبُدُوْنَ﴾
[سورة
فُصِّلَتْ:
٣٧].
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ،
وَهُوَ
خَيْرُ
الْبَشَرِ،
وَصَاحِبُ
الْحَوْضِ
الْكَوْثَرِ،
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
الْمُطَهَّرِينَ،
وَعَلَى مَنْ
صَاحَبَهُ
وَآزَرَهُ وَوَقَّرَهُ،
وَعَلَى
التَّابِعِينَ
لَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
فِي كُلِّ
أَثَرٍ،
إِلَى يَوْمِ
الْمَحْشَرِ.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
اُوْصِيْنِيْ
نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ [سورة
آلِ
عِمْرَانَ: ١٠٢].
Hadirin jamaah shalat gerhana yang dimuliakan Allah,
Hari ini, sekali lagi Allah subhanahu wa ta’ala telah
menunjukkan kebesaran-Nya kepada kita, dengan terjadinya gerhana bulan.
Pertanda apakah ini? Tahukah kita, bahwa di zaman Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam hanya terjadi gerhana sekali?
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan, bahwa pada zaman
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya terjadi gerhana sekali. Itu
terjadi, persis setelah wafatnya putra Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam, yaitu Sayyidina Ibrahim. Orang kemudian menghubung-hubungkan wafatnya
putra Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu dengan gerhana yang
terjadi, padahal keduanya tidak ada kaitannya. Karena itu, Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إنَّ
الشَّمْسَ
وَالْقَمَرَ
آيَتَانِ مِنْ
آيَاتِ اللهِ
لاَ
تنْخَسِفَانِ
لِمَوتِ أَحَدٍ،
وَلاَ
لِحَيَاتِهِ،
فَإذَا
رَأَيْتُمْ
ذَلِكَ
فَادْعُوا
اللهَ
وَكَبَّرُوْا
وَصَلُّوْا
وَتَصَدَّقُوْا
“Sesungguhnya
matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah.
Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang.
Jika kamu melihat gerhana tersebut, maka berdo’alah kamu kepada Allah,
bertakbirlah kamu, kerjakanlah shalat, dan bersedekahlah.” [HR. Bukhari]
Hadirin
jamaah shalat gerhana yang dimuliakan Allah,
Memang benar, gerhana adalah tanda-tanda kebesaran Allah,
yang ditunjukkan kepada umat manusia, agar manusia menyadari siapa dirinya,
bahwa sehebat apapun dia, dengan segala kekuasaan dan apapun yang dimilikinya,
dia tetaplah manusia. Hanya kepada Allah, hendaknya manusia menyembah, dan
mengabdikan dirinya. Bukan kepada yang lain, baik kepada sesama manusia, maupun
kepada matahari dan bulan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَمِنْ
آيَاتِهِ
اللَّيْلُ
وَالنَّهَارُ
وَالشَّمْسُ
وَالْقَمَرُ
ۚ لَا
تَسْجُدُوا
لِلشَّمْسِ
وَلَا
لِلْقَمَرِ
وَاسْجُدُوا
لِلَّهِ
الَّذِي
خَلَقَهُنَّ
إِن كُنتُمْ
إِيَّاهُ
تَعْبُدُونَ
“Di antara
tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah terjadinya malam dan siang, terbitnya matahari
dan bulan. Maka, janganlah kalian sujud kepada matahari dan bulan, tetapi sujudlah
kepada Allah, Dzat yang Menciptakan semuanya itu, jika kalian benar-benar hanya
beribadah kepada-Nya.” (QS. Fushshilat [41]: 37)
Matahari dan bulan mempunyai orbitnya sendiri, dan
berputar, seolah-olah terjadi secara alami dengan sendirinya. Padahal, semuanya
itu tidak terjadi, kecuali atas kehendak dan pengaturan dari Allah subhanahu wa
ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَالشَّمْسُ
تَجْرِي
لِمُسْتَقَرٍّ
لَّهَا ۚ
ذَٰلِكَ
تَقْدِيرُ
الْعَزِيزِ
الْعَلِيمِ
“Matahari [juga
bulan] itu berjalan mengikuti tempat orbitnya. Itu merupakan ketentuan Dzat
yang Maha Perkasa lagi Maha Tahu.” (QS. Yâsin
[36]: 38)
Karena itu, terjadinya gerhana matahari dan bulan, sekali
lagi adalah tanda-tanda kekuasaan Allah. Dengan kata lain, jika Allah
berkehendak, kapan saja Allah subhanahu wa ta’ala bisa membolak-balik peredaran
matahari dan bulan, dan bahkan menghentikannya.
Hadirin
jamaah shalat gerhana yang dimuliakan Allah!
Gerhana
matahari dan bulan bukan hanya tanda-tanda kekuasaan Allah biasa, tetapi juga
merupakan tanda-tanda terjadinya Hari Kiamat. Ketika Hari Kiamat tiba nanti,
salah satu tandanya adalah terjadi gerhana, sebagaimana firman Allah subhanahu
wa ta’ala:
يَسْأَلُ
أَيَّانَ
يَوْمُ
الْقِيَامَةِ،
فَإِذَا
بَرِقَ
الْبَصَرُ،
وَخَسَفَ
الْقَمَرُ،
وَجُمِعَ
الشَّمْسُ
وَالْقَمَرُ،
يَقُولُ
الْإِنسَانُ
يَوْمَئِذٍ
أَيْنَ الْمَفَرُّ،
كَلَّا لَا
وَزَرَ،
إِلَىٰ رَبِّكَ
يَوْمَئِذٍ
الْمُسْتَقَرُّ
“Ia berkata,
“Bilakah Hari Kiamat itu?”, maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan
apabila bulan telah hilang cahayanya, dan ketika matahari dan bulan dikumpulkan
[mengalami gerhana], pada hari itu manusia berkata, “Ke manakah tempat
berlari?” Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmu
sajalah pada hari itu tempat kembali.” (QS. al-Qiyâmah
[75]: 6-12).
Itulah mengapa, saat terjadinya gerhana, sikap yang
ditunjukkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perasaan takut,
gemetar, dan bergegas, sambil mengangkat jubahnya, menuju ke rumah Allah.
Seolah-olah, langit dan bumi akan digulung, dan seolah Hari Kiamat telah tiba.
Dalam riwayat Imam Al-Bukhari, dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَإِذَا
رَأَيْتُمْ
شَيْئًا مِنْ
ذَلِكَ فَافْزَعُوْا
إِلَى
ذِكْرِهِ
وَدُعَائِهِ
وَاسْتِغْفَارِهِ
“Jika kalian
melihat sesuatu dari gerhana itu, maka bersegeralah kalian dengan gemetar
[penuh rasa takut] untuk mengingat-Nya, berdoa kepada-Nya dan meminta ampun
kepada-Nya.” (HR. Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz IV/184)
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga
bersabda:
وَاللَّهِ
لَوْ
تَعْلَمُوْنَ
مَا أَعْلَمُ
لَضَحِكْتُمْ
قَلِيلاً وَلَبَكَيْتُمْ
كَثِيرًا
“Demi Allah,
jika kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa
dan banyak menangis.” (HR Bukhari, No. 1044; Muslim, No.
901).
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
ditunjukkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala betapa dahsyatnya huru-hara Hari
Kiamat nanti, karena itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun banyak
menangis, meski pun Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diampuni
segala kesalahannya, baik yang telah, sedang maupun yang akan datang, tetapi
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memohon ampunan tak kurang
dari 100 kali dalam sehari semalam. Air mata Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
wa sallam pun tumpah, hingga membasahi lantai, untuk meminta ampunan dari
Rabb-nya.
Padahal, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
telah mengemban risalah-Nya dengan sempurna, menunaikan amanah, memberikan
nasihat kepada umatnya, berdakwah dan berjihad sepanjang hayatnya. Lalu
bagaimanakah dengan kita? Apa yang sudah kita lakukan untuk umat ini?
Apakah kita sudah mengemban dakwah, yang merupakan
risalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan segala
tantangannya? Kalaupun sudah, apakah kita sudah pernah mengalami cercaan dan
hinaan ketika mengemban dakwah seperti yang dialami oleh Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam? Sudah pernahkah kita mengalami gangguan fisik
saat kita mengemban dakwah, seperti yang dialami Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam saat beliau bergegas keluar dari Thaif kemudian orang-orang
bodoh Thaif melempari beliau dengan batu? Berapa buah batukah yang sudah
merajam tubuh kita saat kita mengemban dakwah?
Apakah kita juga sudah memberi nasihat kepada umat,
termasuk para pemimpinnya seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam? Ataukah kita justru takut dan gentar, lalu tidak memberi
nasihat kepada umat, tidak memberi nasihat kepada pemimpinnya, ketika kita
menghadapi pemimpin yang zalim dan kejam seperti sekarang, yang sangat anti
kepada Syariah kaffah, yang sangat tega melakukan kriminalisasi kepada para
pengemban dakwah yang ikhlas?
Apakah kita juga sudah berjihad, sebagaimana Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam? Apakah kita sudah pernah mengalami
luka-luka dalam berjihad, seperti yang pernah dialami Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam Perang Uhud misalnya? Sungguh, Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami luka yang cukup serius di Perang Uhud
ini. Gigi beliau patah, bibir bawahnya dan keningnya robek, dua mata besi telah
masuk melukai pipi beliau yang mulia, yang kemudian dicabut oleh Abu Ubaidah
bin Jarrah dengan giginya hingga copot karena sangat dalamnya besi tersebut
menancap pada wajah beliau. Sudahkah kita pernah berjihad seperti ini?
Sudahkah? Ataukah kita justru kita menjadi pengecut dan penakut ketika penguasa
yang sekuler menghapuskan kurikulum jihad dari sistem pendidikan kita?
Sesungguhnya kita harus melakukan muhasabah terhadap kita
sendiri. Mungkin saja selama ini kita kurang serius dalam mengemban dakwah dan
risalah Islam. Mungkin juga kita tak pernah memberi nasihat kepada umat,
termasuk para pemimpinnya, karena alasan takut rizki akan macet atau takut ajal
kita segera sampai kalau kita menasehati pemimpin yang zalim.
Apatah lagi berjihad, mungkin kita belum pernah terjun
sekali pun dalam medan jihad sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam.
Sikap lalai dalam menjalankan amanah mengemban dakwah,
menasehati umat, dan berjihad seperti ini, semuanya ini sungguh dapat
menghalangi kita untuk dapat masuk surga-Nya, dan justru dapat menyeret kita
masuk ke neraka-Nya. Betapa berat hisab kita kelak di hadapan-Nya.
Yang lebih parah lagi, kita mungkin belum merasa
bersalah, sehingga oleh karenanya, kita belum pernah bersungguh-sungguh memohon
ampunan dari-Nya, menginsafi dan menyesali kelemahan, kesalahan, dan dosa kita.
Kita mungkin belum pula berkomitmen untuk tak mengulangi semua kesalahan itu.
Wahai kaum Muslimin, jamaah sholat gerhana yang dirahmati Allah, maka
inilah saatnya!
Bersegeralah untuk mendapatkan ampunan Tuhanmu, dan
menggapai surga-Nya, yang luasnya seluas langit dan bumi. Firman Allah
subhanahu wa ta’ala:
وَسَارِعُوْٓا
اِلٰى
مَغْفِرَةٍ
مِّنْ رَّبِّكُمْ
وَجَنَّةٍ
عَرْضُهَا
السَّمٰوٰتُ
وَالْاَرْضُۙ
اُعِدَّتْ
لِلْمُتَّقِيْنَۙ
“Dan
bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya
seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran
[3]: 133).
Laksanakanlah amanah mengemban dakwah dengan
sungguh-sungguh, tegakkanlah nasehat kepada umat dan kepada para pemimpin yang
zalim yang menyimpang dari syariah Allah! Bersiaplah kalian untuk terjun ke
dalam medan jihad fi sabililah, jika saatnya tiba kelak ketika Amirul Mukminin
dalam negara Khilafah menyerukannya!
Segera tolonglah Allah dan Rasul-Nya. Tolonglah
agama-Nya. Tolonglah para pejuang yang memperjuangkan tegaknya agama-Nya agar
tegak di muka bumi ini dengan kaffah (tegak secara keseluruhan), termasuk para
pejuang yang memperjuangkan tegaknya syariah dan Khilafah.
Dengan cara seperti itulah, Allah subhanahu wa ta’ala
benar-benar akan memberikan ampunan kepada kita. Itulah yang akan meringankan
hisab kita di hadapan-Nya, di suatu hari yang ketika anak, harta dan jabatan
tak lagi berguna bagi kita. Fafirru ila-Llah! Berlarilah, segeralah menemui
Allah! WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
اْلقُرْآنِ
اْلعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيمِ
وَتَقَبَّلَ
اللهُ مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
العَلِيْمُ،
وَأَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
فَأسْتَغْفِرُ
اللهَ
العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْـحَمْدُ
لِلَّهِ
الَّذِي
أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ
بِالْهُدَىٰ
وَدِيْنِ
الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ
عَلَى
الدِّيْنِ
كُلِّهِ.
اَلْـحَمْدُ
لِلَّهِ
الَّذِي
كَرَّمَ هٰذِهِ
الْأُمَّةَ
بِشَرِيْعَتِهِ
الْكَامِلَةِ،
وَخَصَّهَا
بِنُبُوَّةِ
نَبِيِّهِ الْكَرِيْمَةِ.
أَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلٰهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
لَا نَبِيَّ
بَعْدَهُ،
أَرْسَلَهُ
بِرِسَالَتِهِ
الْقُدْسِيَّةِ
وَأَحْكَامِهِ
الشَّرِيْفَةِ
لِمُعَالَجَةِ
كُلِّ
مُشْكِلَةٍ
فِي
الْحَيَاةِ.
وَصَلَّى
اللهُ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا.
فَيَا
أَيُّهَا
الْمُؤْمِنُوْنَ،
تَمَسَّكُوْا
بِالْإِسْلَامِ
فِي كُلِّ
حِيْنٍ، وَاتَّقُوْا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ،
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
إِلَّا
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ: فَيَا
عِبَادَ
اللهِ، أُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِيَ
الْخَاطِئَةَ
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
بِسْمِ
اللهِ
الرَّحْمٰنِ
الرَّحِيْمِ،
اَلْـحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ،
حَمْدًا
يُوَافِي
نِعَمَهُ،
وَيُدَافِعُ
نِقَمَهُ،
وَيُكَافِئُ
مَزِيْدَهُ.
يَا
رَبَّنَا
لَكَ
الْـحَمْدُ
كَمَا يَنْبَغِي
لِجَلَالِ
وَجْهِكَ
وَعَظِيْمِ
سُلْطَانِكَ.
اللَّهُمَّ
يَا
رَبَّنَا،
زَلَّتْ
بِنَا الْأَقْدَامُ،
وَغَرِقْنَا
فِي لُجَجِ
الْمَعَاصِي
وَالْآثَامِ،
وَإِنَّا
مُقِرُّوْنَ
بِالْإِسَاءَةِ
عَلَى
أَنْفُسِنَا،
نَرْجُو
عَظِيْمَ
عَفْوِكَ
الَّذِي
عَفَوْتَ
بِهِ عَنِ
الْخَاطِئِيْنَ،
وَهَا نَحْنُ
بِبَابِكَ
وَاقِفُوْنَ،
وَمِنْ
عَذَابِكَ
خَائِفُوْنَ،
وَلِثَوَابِكَ
مُؤَمِّلُوْنَ.
قَدْ
تَعَرَّضْنَا
لِعَفْوِكَ
وَثَوَابِكَ،
فَارْحَمْ
خُضُوْعَنَا،
وَاجْبُرْ قُلُوْبَنَا،
وَاغْفِرْ
ذُنُوْبَنَا،
وَتُبْ
عَلَيْنَا.
اللَّهُمَّ
اخْتِمْ
لَنَا
بِالصَّالِحَاتِ
أَعْمَالَنَا،
وَعَافِنَا
وَاعْفُ عَنَّا،
وَسَامِحْنَا،
وَتَجَاوَزْ
عَنْ سَيِّئَاتِنَا،
وَأَبْدِلْ
سَيِّئَاتِنَا
حَسَنَاتٍ،
فَأَنْتَ
وَلِيُّ
ذٰلِكَ وَالْقَادِرُ
عَلَيْهِ،
وَأَنْتَ
أَهْلُ التَّقْوَى
وَأَهْلُ
الْمَغْفِرَةِ.
اللَّهُمَّ
قَدْ
دَعَوْنَاكَ
طَالِبِيْنَ،
وَرَجَوْنَاكَ
رَاغِبِيْنَ،
فَلَا تَرُدَّنَا
خَائِبِيْنَ
وَلَا
مَحْرُوْمِيْنَ،
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا،
وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ،
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
الْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ
تَقَبَّلْ
مِنَّا
صَالِحَ الْأَعْمَالِ،
وَاجْعَلْهَا
خَالِصَةً
لِوَجْهِكَ
الْكَرِيْمِ.
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا،
وَإِنْ لَمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا
لَا
تُؤَاخِذْنَا
إِنْ
نَسِيْنَا
أَوْ
أَخْطَأْنَا،
رَبَّنَا
وَلَا تَحْمِلْ
عَلَيْنَا
إِصْرًا
كَمَا
حَمَلْتَهُ عَلَى
الَّذِيْنَ
مِنْ
قَبْلِنَا،
رَبَّنَا
وَلَا
تُحَمِّلْنَا
مَا لَا
طَاقَةَ لَنَا
بِهِ،
وَاعْفُ
عَنَّا،
وَاغْفِرْ
لَنَا، وَارْحَمْنَا،
أَنْتَ
مَوْلَانَا،
فَانْصُرْنَا
عَلَى
الْقَوْمِ
الْكَافِرِيْنَ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً،
وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً،
وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ.
رَبَّنَا
تَقَبَّلْ
مِنَّا،
وَاسْتَجِبْ دُعَاءَنَا،
إِنَّكَ
أَنْتَ
السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ،
وَتُبْ
عَلَيْنَا
إِنَّكَ أَنْتَ
التَّوَّابُ
الرَّحِيْمُ.
وَسُبْحَانَكَ
رَبِّ
الْعِزَّةِ
عَمَّا يَصِفُوْنَ،
وَسَلَامٌ
عَلَى
الْمُرْسَلِيْنَ،
وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَالسَّلَامُ
عَلَيْكُمْ
وَرَحْمَةُ
اللهِ
وَبَرَكَاتُهُ.