Mewujudkan Kehidupan Berlimpah Keberkahan

Mewujudkan Kehidupan Berlimpah Keberkahan

بسم الله الرحمن الرحيم

MEWUJUDKAN KEHIDUPAN BERLIMPAH KEBERKAHAN

Khutbah Pertama

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

 

اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَتًا وَاَصِيْلاً، لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ هَذَ الْيَوْمِ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ وَحَرَّمَ عَلَيْهِمْ فِيْهِ الصِّياَمَ، اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ نَزَّلَ الْقُرْآنَ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّناَتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانَ خَيْرَ نِعَمٍ، نَحْمَدُهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَامِهِ وكَمَالِ اِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ.

اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهِ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَيْرَ اْلأَناَمِ.

 

اَللَّهُمَّ صَلِّيْ وَسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ وَدَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ وَمَنْ جاَهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ حَقًّ جِهاَدِهِ اِلِى دَارِ السَّلاَمِ.

 

فَيَا عِبَادَ اللهَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِياَّيَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِه الْكَرِيْمِ:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾.

اَمَّا بَعْدُ:

 

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

AlhamdulilLaahi Rabbil ‘aalamiin. Segala pujian hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Shawalat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Sayiduna Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam; beserta keluarga dan para sahabat beliau serta siapa saja yang mengikuti beliau hingga Hari Kiamat.

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Bulan Ramadhan telah kita lalui. Puasanya telah kita lewati. Semua ibadah dan ketaatan di dalamnya telah kita jalani.

 

Allah mensyariatkan puasa Ramadhan agar kita bertakwa. Para ulama telah menjelaskan makna takwa. Seperti yang dinyatakan oleh Imam an-Nawawi di dalam Syarh Shahih Muslim, takwa adalah melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Perintah dan larangan Allah itu termaktub di dalam al-Quran dan as-Sunnah. Itulah akidah dan syariah. Dengan ungkapan lain, takwa adalah mentaati dan menjalankan syariah atas dasar akidah Islam.

 

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menjamin siapa saja yang mengambil dan melaksanakan al-Quran dan as-Sunnah tidak akan tersesat. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, menuturkan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda saat Haji Wada’:

«تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ رَسُوْلِهِ»

“Telah aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh pada keduanya: Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR Malik, al-Hakim, ad-Daraquthni dan Ibnu ‘Abil Barr).

 

Allah subhanahu wa ta’ala juga telah memberikan jaminan di dalam firman-Nya:

﴿فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَىٰ﴾

Jika datang kepada kalian petunjuk dari Diri-Ku, maka siapa saja yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka (TQS Thaha [20]: 123).

 

Menurut Imam az-Zamaksyari di dalam tafsir Al-Kasyâf, yang dimaksud petunjuk (hudan) adalah al-Kitab dan syariah. Makna ayat ini, sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, yakni Allah menjamin orang yang mengikuti al-Quran tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akhirat. Celaka di akhirat adalah sanksi atas orang yang sesat di dunia dari jalan agama (Islam). Sebaliknya, siapa saja yang mengikuti Kitabullah, dengan melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya, niscaya akan selamat dari kesesatan dan dari sanksi-Nya.

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Saat ini kita memahami dan merasakan dengan jelas, bahwa pengaturan kehidupan bermasyarakat saat ini telah salah arah, juga menuju arah yang salah. Berjalan tidak sesuai dengan petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala di dalam al-Quran dan as-Sunnah.

 

Memang benar, sebagian ajaran Islam dapat dijalankan, khususnya dalam hal pribadi, keluarga dan sebagian transaksi ekonomi. Namun, juga jelas bahwa banyak hukum syariah ditinggalkan dan dicampakkan, khususnya yang berkaitan dengan pengelolaan politik, pemerintahan, pidana, ekonomi, sosial, pergaulan dan sebagainya. Semua itu menunjukkan bahwa pengaturan kehidupan bermasyarakat saat ini telah salah arah. Saat yang sama juga menuju ke arah yang salah karena makin menjauhi dan mencampakkan petunjuk Allah.

 

Secara faktual, banyak Undang-undang dan aturan hukum yang dirasakan lebih menguntungkan oligarkhi, kalau tidak boleh dikatakan dibuat atas pesanan oligarkhi. Contohnya Undang-undang Minerba, Omnibus Law Cipta Kerja, Undang-undan tentang penanganan Covid-19, dan lainnya. Kepentingan dan kemaslahatan rakyat terabaikan atau sengaja diabaikan. Rakyat diberi peran menanggung beban berat, sementara yang mereka rasakan hanya tetesan keuntungan dan kemaslahatan.

 

Negeri ini memang berlimpah dengan kekayaan alam. Namun, kekayaan alam itu dikuasai oleh swasta dalam negeri dan asing. Sebagian besar lahan perkebunan kelapa sawit juga dikuasai swasta. Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat, luas perkebunan kelapa sawit mencapai 15,08 juta hektare pada 2021. Mayoritas dimiliki oleh Perkebunan Besar Swasta (PBS) yaitu seluas 8,42 juta hektare atau 55,8%. Perkebunan Rakyat (PR) seluas 6,08 juta hektare atau 40,34%. Perkebunan Besar Negara (PBN) seluas 579,6 ribu hektare atau 3,84%
(Sumber:
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/01/31/luas-perkebunan-minyak-kelapa-sawit-nasional-capai-1508-juta-ha-pada-2021).

 

Utang Pemerintah dan utang sektor publik makin menggunung. Hingga akhir Februari 2022, utang Pemerintah pusat mencapai Rp 7.014,58 triliun atau 40,17 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Dengan jumlah utang itu, jika dibagi rata dengan 273,8 juta orang penduduk Indonsia per 31 Desember 2021, maka perorang menanggung utang Rp 25,6 juta.

 

Total utang yang ditanggung negara, yakni utang sektor publik yang terdiri dari utang Pemerintah Pusat, Bank Indonesia (BI) dan utang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) keuangan dan non-keuangan jauh lebih besar lagi. Menurut Statistik Utang Sektor Publik (SUSPI) oleh Bank Indonesia, pada kuartal ke-4 2021 total utang sektor publik mencapai Rp 13.448,8 triliun.

 

Masih banyak fakta lain yang menegaskan bahwa pengaturan negeri ini telah salah arah. Saat yang sama juga menuju arah yang salah. Terasa makin jauh dari tujuan kemerdekaan, yakni mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, sejahtera, aman dan tenteram. Terasa sekali, negeri ini justru makin tergadai pada oligarkhi dan asing. Beban rakyat pun makin berat.

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Allah subhanahu wa ta’ala telah memperingatkan akibat dari pengaturan kehidupan yang salah arah dan menuju arah yang salah. Dalam kelanjutan ayat di atas, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ﴾

Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, sungguh bagi dia penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkan dirinya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta (TQS Thaha [20]: 124).

 

Imam Ibnu Katsir di dalam Tafsîr Ibni Katsîr menjelaskan: “Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku,” yakni menyalahi perintah-Ku dan apa saja yang Aku turunkan kepada rasul-rasul-Ku, berpaling darinya dan melupakannya serta mengambil petunjuk dari selainnya, maka “bagi dia kehidupan yang sempit,” yakni di dunia, yaitu tidak ada ketenteraman untuk dirinya dan tidak ada kelapangan untuk dadanya.

 

Peringatan Allah dalam ayat ini nyata sangat terasa di negeri ini. Akibat pengaturan negeri yang salah arah dan menuju arah yang salah, berbagai kesempitan menimpa rakyat. Misalnya, utang Pemerintah yang menggunung membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Tahun ini Pemerintah harus membayar bunga utangnya saja sebesar Rp 405 triliun. Ini baru bunganya. Belum termasuk pokoknya. Anggaran untuk membayar bunga utang ini menghabiskan 20% dari APBN. Ini termasuk salah satu alokasi pengeluaran APBN yang terbesar.

 

Sebagian besar lahan kelapa sawit dikuasai swasta. Swasta tentu orientasinya mencari untung sebesar-besarnya. Industri minyak goreng dikuasai oleh 30-an perusahaan. Dari jumlah itu hanya 4-5 yang menguasai pasar. Negara, melalui BUMN, hanya menguasai maksimal 6% dari total lahan kelapa sawit. Di antara akibatnya, di negeri penghasil terbesar Crude Palm Oil (CPO) dan pemasok separuh kebutuhan dunia ini, krisis minyak goreng justru terjadi. Masyarakat harus membeli dengan harga mahal dan tak jarang langka. Lahan yang dikuasai swasta itu adalah milik negara yang dikuasai swasta dengan skema Hak Guna Usaha (HGU), tetapi nyatanya Pemerintah “tidak berdaya” untuk sekadar menjamin kemaslahatan rakyat atas minyak goreng. Meski total produksi CPO mencapai 51,3 juta ton pada 2021 dan diperkirakan naik menjadi 53,8 juta ton pada 2022, nyatanya pemenuhan kebutuhan minyak goreng yang hanya sebesar 5,06 juta ton atau 9% dari total produksi nasional CPO, tidak dapat dijamin.

 

Beban masyarakat juga makin berat. Pajak makin bertambah. Baik dari sisi macam maupun angkanya. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) baru saja dinaikkan menjadi 11%. Banyak barang yang sebelumnya tidak kena pajak, sekarang dipajaki, termasuk hasil pertanian. Membangun rumah sendiri dengan luas tertentu juga dikenai pajak.  Masih banyak fakta lain tetang sempitnya kehidupan di negeri ini.

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Berbagai kesempitan hidup itu merupakan akibat dari kemaksiatan berupa pengaturan kehidupan yang menyimpang dari petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berbagai kemaksiatan itu menyebabkan berbagai bentuk kerusakan (fasâd).

 

Dalam kondisi seperti itu, tentu kita tidak boleh hanya meratapi nasib dan berdiam diri. Sebaliknya, kita harus berusaha untuk menyelesaikan berbagai persoalan tersebut dan mengubah keadaan yang tidak selayaknya bagi umat Islam itu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sungguh Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (TQS ar-Ra’du [13]: 11).

 

Ketika pengaturan kehidupan oleh rezim dijalankan menyimpang dari tuntunan al-Quran, kita tidak boleh ikut meninggalkan al-Quran. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«أَلاَ إِنَّ رَحَى اْلإِسْلاَمِ دَائِرَةٌ فَدُورُوا مَعَ الْكِتَابِ حَيْثُ دَارَ، أَلاَ إِنَّ الْكِتَابَ وَالسُّلْطَانَ سَيَفْتَرِقَانِ فَلاَ تُفَارِقُوا الْكِتَابَ»

Ingatlah, poros Islam itu berputar. Karena itu berputarlah kalian bersama al-Kitab sebagaimana ia berputar. Ingatlah, al-Kitab dan kekuasaan akan berpisah. Karena itu janganlah kalian memisahkan diri dari al-Kitab (HR ath-Thabarani, Ahmad bin Mani’ dan Ibnu Rahawaih).

 

Jadi, yang harus kita lakukan adalah kembali merujuk pada al-Quran dan as-Sunnah, yakni kembali pada syariah. Allah subhanahu wa ta’ala  berfirman:

﴿ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ﴾

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (TQS ar-Rum [30]: 41).

 

Imam ath-Thabari di dalam Tafsîr ath-Thabarî menjelaskan: Supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka,” yakni agar Allah menimpakan kepada mereka sanksi sebagian perbuatan yang mereka lakukan dan kemaksiatan yang mereka perbuat. “Agar mereka kembali,” yakni supaya mereka kembali pada kebenaran serta kembali bertobat dan meninggalkan kemaksiatan kepada Allah.

 

Oleh karena itu, wahai kaum Muslimin, kita harus segera memperbaiki kondisi kehidupan yang salah arah dan menuju arah yang salah, yang berjalan selama ini. Kita harus segera mengubahnya menjadi pengaturan kehidupan yang benar arahnya dan menuju arah yang benar. Hal itu tidak lain dengan segera kita kembali pada petunjuk Allah, kembali pada al-Quran dan as-Sunnah. Tidak ada jalan lain untuk itu selain menerapkan syariah secara total, secara kâffah dalam semua aspek kehidupan, di bawah sistem Al-Khilâfah ar-Râsyidah ‘alâ minhâj an-nubuwwah. Dengan itu keberkahan akan dilimpahkan kepada kita dari segala sisi. Allah subhanahu wa ta’ala menjanjikan:

﴿وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ﴾

Andai penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi (TQS al-A’raf [7]: 96).

 

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan taufik dan hidayahnya kepada kita, menguatkan kita untuk menyempurnakan dan melanggengkan ketakwaan kita kepada-Nya. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala pun segera memberikan pertolongan-Nya dalam wujud penerapan syariah secara kâffah di bawah naungan Al-Khilâfah ar-Râsyidah yang mengikuti manhaj kenabian dalam waktu dekat. Amin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ آمِيْن.ْ

 

 

 

Khutbah Kedua

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ.

 

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.

 

الحمد لله الذي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ كَرَّمَ هَذهِ اِ مُةَّ بِشَريِعْتَهِ اِلكْاَملِة،ِ وخَصَّ بهِاَ بنِبُوُةِّ نَبِيِّهِ اِلْكَرِيِمَةِ.

 

اَشْهَدُ اَنَّ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَا بَعْدَهُ، اَرْسَلَهُ بِرِسَالَتِهِ الْقُدْسِيَّةِ وَاَحْكَامِهِ الشَّرِيْفَةِ لِمُعَالَجَةِ كُلِّ مُشْكِلَةِ الْحَيَاةِ.

 

فَيَا اَيُّهاَ الْمُؤْمِنُوْنَ، تَمَسَّكوا بِاْلإِسْلاَمِ فِي كُلِّ حِيْنٍ، وَ اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَ لاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَ أَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. اَمَّا بَعْدُ:

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh

Marilah kita berdoa, memohon dan bermunajat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengabulkan permohonan kita. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi kita kesabaran dan keikhlasan, menguatkan ketaatan kita, melanggengkan ketakwaan kita dan meneguhkan kita untuk tetap istiqamah di jalan-Nya.

 

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: ﴿إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾.

 

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلىَ آلِهِ وَذُرِيَّاتِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

 

اَللَّهُمَّ حَمْدًا شَاكِرِيْنَ حَمْدًا نَاعِمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَامَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ.

 

اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَ لِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَ صِغَارًا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الأَمْوَاتِ، إِنّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ، فَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

 

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنا، وَأَصْلِحْ لنا دُنْيَانا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لنا آخِرَتَنَا الَّتِي اِلَيْهَا مَعَادُنا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

 

اللّهُمَّ اجْعَلْ عَمَلَنَا عَمَلًا صَالِحًا مُتَقَبَّلًا, مُوَافِقًا بِأَحْكَامِكَ وَخَالِصًا لِوَجْهِكَ

اَللّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَكُلَّ أَعْمَالِنَا الصَّالِحَاتِ وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَاعْفُوْا عَنَّا تَقْصِرَاتَنَا وَارْحَمْنَا بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

 

اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ سَلَمَةً فِيْ الدِّيْنِ وَعَافِيَةً فِيْ الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِيْ الْعِلْمِ وَبَارَكَةً فِيْ الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ، اَللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِيْ سَكَرَةِ الْمَوْتِ وَنَجَاةً مِنَ النَّارِ وَعَفْوًا عِنْدَ الْحِسَابِ.

 

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَلاَ نَكْفُرُكَ، وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَخْلَعُ مَنْ يَفْجُرُكَ. اَللَّهُمَّ عَذِّبِ الْكَفَرَةَ الذِّيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ، وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ، وَيُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَاءَكَ.

اَللَّهُمَّ يَا مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ إِهْزِمِ الْيَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ وَصَلِيِبِّيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَرَأْسَمَالِيِيْنَ وَاَعْوَانَهُمْ وَاِشْتَرَاكِيِيْنَ وَشُيُوْعَهُمْ.

 

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَاقْتُلْ مَنْ قَاتَلَ وَقَتَلَ الْمُسْلِمِيْنَ

اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَالْمُنَافِقِيْنَ واَلْفَاسِقِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ

اَللَّهُمَّ ارْحَمْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

 

اَللَّهُمَّ أَنْجِزْ لَنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رَسُوْلِكَ بِعَوْدَةِ دَوْلَةِ الْخِلاَفَةِ الرَّاشِدَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ, وَاِجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

 

ربَنَّاَ ظَلمَنْاَ أنَفْسُناَ، واِنْ لمْ تَغَفْرِلْنَاَ وتَرَحْمنْاَ لَنَكُوْنَناَّ مِنَ الْخاَسِريِنَ،

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا اِنْ نَسِيْنَا اَوْ اَخْطَأْنِا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُوْا عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلاَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

 

رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، ربنا تقَبَّلْ منِاَّ وَاسْتَجِبْ دُعَائنَاَ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْع العْلَيِمْ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

 

وَسُبْحَانَكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.