• “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta (tetap) menegakkan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kecuali hanya kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” At-Taubah: 18
Friday, 14 June 2024

Idul Fitri dan Keniscayaan Perubahan ke Arah Islam

Idul Fitri dan Keniscayaan Perubahan ke Arah Islam
Bagikan
dmdi-logo-warna

بسم الله الرحمن الرحيم

IDUL FITRI DAN KENISCAYAAN PERUBAHAN KE ARAH ISLAM

KHUTBAH PERTAMA

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

 

اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً. لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ. اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

 

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ هَذَا الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَحَرَّمَ عَلَيْهِمْ فِيْهِ الصِّياَمَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ نَزَّلَ الْقُرْآنَ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّناَتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانَ. نَحْمَدُهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ وكَمَالِ اِحْسَانِهِ، وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ.

 

اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

 

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَذُرِّيَّتِهِ الْكِراَمِ، وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ وَدَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَة الإِسْلاَم، وَمَنْ جاَهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ حَقًّ جِهاَدِهِ اِلِى دَارِ السَّلاَمِ.

 

فَيَا عِبَادَ اللهَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِياَّيَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِه الْكَرِيْمِ: ﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾.

اَمَّا بَعْدُ:

 

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

 

Alhamdulillah. Sudah selayaknya kita banyak bersyukur. Kepada Zat Yang Mahaluhur. Atas segala nikmat-Nya yang tak terukur. Sudah sepantasnya kita memuji. Kepada Zat Yang Mahasuci. Atas segala karunia-Nya yang tak pernah berhenti. Demikianlah sebagaimana firman-Nya:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

Jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah maka kalian tidak akan mampu menghitungnya… (TQS an-Nahl [16]: 18).

 

Pada hari ini pun, nikmat dan karunia Allah yang amat besar sama-sama kita rasakan. Kita baru saja menuntaskan ibadah puasa Ramadhan. Kemudian dilanjutkan dengan Idul Fitri yang saat ini sedang kita rayakan. Nikmat dan karunia-Nya tentu makin besar kita rasakan, saat puasa benar-benar mewujudkan ketakwaan. Tak hanya saat  Ramadhan, tetapi juga di luar Ramadhan sepanjang tahun.

 

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

 

Kita telah sama-sama paham. Hikmah dari pelaksanaan puasa Ramadhan adalah terwujudnya takwa pada diri kita. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa (TQS al-Baqarah [2]: 183).

 

Menurut Syaikh Abu Bakar al-Jazairi dalam Aysar at-Tafaasiir (I/80), frasa “agar kalian bertakwadalam ayat di atas bermakna, “agar dengan shaum itu Allah subhanahu wa ta’ala mempersiapkan kalian untuk bisa menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.”

 

Jika hikmah dari puasa adalah takwa, tentu idealnya kaum Muslim menjadi orang-orang yang taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala tak hanya pada bulan Ramadhan saja. Juga tidak hanya dalam tataran ritual dan individual semata. Ketakwaan kaum Muslim sejatinya terlihat juga di luar bulan Ramadhan sepanjang tahun. Juga dalam seluruh tataran kehidupan mereka. Demikianlah seharusnya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ

Bertakwalah kamu dalam segala keadaanmu (HR ahmad dan at-Tirmidzi).

 

Karena itu bukan takwa namanya jika seseorang biasa melakukan shalat, melaksanakan shaum Ramadhan atau bahkan menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Namun, di sisi lain ia biasa memakan riba, melakukan suap dan korupsi, mengabaikan urusan masyarakat, menzalimi rakyat dan enggan terikat dengan syariah Islam di luar yang terkait dengan ibadah ritual.

 

Orang bertakwa pun akan selalu berupaya menjauhi kesyirikan. Ia tidak akan pernah menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala dengan makhluk-Nya, baik dalam konteks ‘aqidah maupun ibadah. Termasuk tidak meyakini dan menjalankan hukum apapun selain hukum-Nya. Sebabnya, hal itu pun bisa dianggap sebagai bentuk kesyirikan, sebagaimana firman-Nya:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani telah menjadikan para pendeta dan para rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah (TQS at-Taubah [9]: 31).

 

Terkait ayat ini, ada sebuah peristiwa menarik. Sebagaimana dinukil oleh Imam ath-Thabari di dalam Jaami’ al-Bayaan fii Ta’wiil al-Qur’aan (10/210), juga oleh Imam al-Baghawi di dalam Ma’aalim at-Tanziil (4/39), diriwayatkan bahwa saat Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat ini, datanglah Adi bin Hatim kepada beliau dengan maksud hendak masuk Islam. Saat Adi bin Hatim—yang ketika itu masih beragama Nasrani—mendengar ayat tersebut, ia kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, kami (kaum Nasrani) tidak pernah menyembah para pendeta kami.”

 

Namun, Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membantah pernyataan Adi bin Hatim sembari bertanya dengan pertanyaan retoris, “Bukankah  para pendeta kalian biasa menghalalkan apa yang telah Allah haramkan dan mengharamkan apa yang telah Allah halalkan? Lalu kalian pun menaati mereka?”

 

Jawab Adi bin Hatim, “Benar, wahai Rasulullah.”

Beliau tegas menyatakan, “Itulah bentuk penyembahan mereka kepada para pendeta mereka.”

 

Saat ini posisi para pendeta dan para rahib itu diperankan pula oleh para penguasa maupun wakil rakyat dalam sistem demokrasi. Pasalnya, merekalah saat ini yang biasa membuat hukum. Mereka telah banyak menghalalkan apa yang telah Allah haramkan. Mereka pun telah banyak mengharamkan apa yang telah Allah halalkan. Contoh: Di negeri ini riba telah lama dilegalkan (dihalalkan). Bahkan Pemerintah menjadi pelaku riba yang utama. Di antaranya melalui utang dengan bunga tinggi. Padahal jelas, riba telah diharamkan secara tegas oleh Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana firman-Nya:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba… (TQS al-Baqarah [2]: 275).

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan menyatakan:

« دِرْهَمُ رِبَا أَشَدُّ عَلَى اللهِ مِنْ سِتِّ وَ ثلاَثِيْنَ زَنِيَّةً »

Satu dirham riba lebih berat dosanya di sisi Allah daripada 36 kali berzina (HR al-Baihaqi).

 

Tentu masih banyak contoh lain yang membuktikan betapa banyak Undang-undang yang dibuat oleh Pemerintah dan DPR selama ini bertabrakan dengan ketentuan syariah Islam.

 

Padahal akibat penerapan hukum buatan manusia yang nyata-nyata bertentangan dengan syariah Islam, berbagai kerugian dan kemadaratan menimpa kita. Sudah lama kita menyaksikan, bahkan merasakan secara langsung, realitas keterpurukan umat Islam di berbagai bidang. Semua adalah akibat langsung dari keberpalingan umat ini dari syariah Islam.

 

Misalnya, akibat utang ribawi yang keterlaluan, kini bila dibagi rata, tiap orang Indonesia harus menanggung utang negara sebesar Rp 24 juta rupiah. Sementara itu pungutan pajak makin membebani rakyat kebanyakan. Di sisi lain skandal keuangan ratusan triliun justru membelit Kementerian Keuangan.

 

Tragisnya lagi, kekayaan negeri ini tidak memberi kemakmuran yang adil pada rakyatnya, bahkan banyak orang kesulitan hidup walau sekedar mendapatkan makanan bergizi. FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian) mencatatat Indonesia adalah negara dengan jumlah warga dengan gizi buruk tertinggi di Asia Tenggara. Ada sekitar 17 juta lebih orang Indonesia menderita gizi buruk.

 

Sementara itu nasib umat Muslim di belahan dunia lain masih menderita; penjajahan Palestina oleh Zionis Israel makin menjadi-jadi. Nasib tragis Muslim Uighur di Xinjiang Cina masih terus terjadi. Derita Muslim di India dan di berbagai negeri Muslim yang lain juga tak pernah berhenti.

 

Semua keterpurukan dan derita umat ini sejatinya membuat kita prihatin. Keprihatinan kita seharusnya membangkitkan ghiirah (semangat) kita untuk melakukan perubahan. Tentu bukan sekadar perubahan, tetapi perubahan yang pasti yakni ke arah Islam.

 

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

 

Berbicara tentang perubahan, kita perlu merenungkan kembali ayat tentang perintah puasa Ramadhan. Puasa Ramadhan jelas mengajari kita agar berubah. Tidak sekadar berubah, tetapi berubah ke arah ketakwaan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa (TQS al-Baqarah [2]: 183).

 

Tidak sekadar perubahan ke arah ketakwaan secara individual, tetapi perubahan ke arah ketakwaan secara kolektif. Sebabnya, ketakwaan kolektiflah yang memungkinkan negeri ini bisa meraih keberkahan dari langit dan bumi, sebagaimana firman-Nya:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

Jika penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan membukakan untuk mereka keberkahan dari langit dan bumi… (TQS al-A’raf [7]: 96).

 

Bentuk nyata ketakwaan kolektif, khususnya di negeri ini, adalah penegakan syariah Islam secara kaaffah. Hanya dengan penegakan syariah Islam secara kaaffah negeri ini akan berubah ke arah yang jauh lebih baik. Sebabnya jelas, syariah Islam adalah solusi untuk segala persoalan kehidupan.

 

Namun demikian, yang kita inginkan tentu tidak sekadar perubahan ke arah ketakwaan kolektif secara nasional, tetapi juga perubahan ke arah tatanan Islam kaffah secara mendunia. Sebabnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan membawa risalah Islam memang untuk mewujudkan rahmat bagi umat manusia. Sebagaimana firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ   

Tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) kecuali untuk mewujudkan rahmat bagi seluruh alam (TQS al-Anbiya’ [21]: 107).

 

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahi makumulLâh.

 

Perubahan menuju Islam adalah keniscayaan, bukan mimpi kosong. Sesungguhnya Allah telah mengutus RasulNya untuk memenangkan Islam di atas agama dan ideologi batil lainnya. Firman Allah:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai. (TQS At-Taubah [9]: 33)

 

Memang, berbagai upaya dilakukan oleh musuh-musuh Allah untuk memadamkan cahaya agama ini. Sebutan fundamentalisme atau radikalisme dikarang agar umat menolak agama Allah dan memusuhi agamanya sendiri. Lalu mereka tawarkan paham yang mengaburkan ajaran agama seperti moderasi beragama. Namun demikan semua usaha itu dipastikan akan gagal, bahkan sudah gagal, karena Allah Ta’ala telah menetapkan kemuliaan agamaNya.

يُرِيْدُوْنَ لِيُطْفِـُٔوْا نُوْرَ اللّٰهِ بِاَفْوَاهِهِمْۗ وَاللّٰهُ مُتِمُّ نُوْرِهٖ وَلَوْ كَرِهَ الْكٰفِرُوْنَ

Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya. (TQS Ash-Shaff [61]: 8)

 

Hal yang menambah keyakinan kita terhadap kebenaran agama ini, adalah kita menyaksikan ideologi sekulerisme-kapitalisme tengah membusuk dan menuju jurang kehancuran. Umat manusia terancam kehidupan dan keamanannya. WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) melaporkan setiap 40 detik terjadi satu kasus bunuh diri di seluruh dunia, setiap 60 detik terjadi satu pembunuhan, dan setiap 100 detik satu orang terbunuh dalam konflik bersenjata.

 

Sebagai tambahan, di AS (Amerika Serikat) saja warganya dicekam ketakutan terjadinya penembakan massal yang menyasar warga sipil. Di awal tahun 2023 saja sudah terjadi 138 kali penembakan massal yang dilakukan warga AS terhadap warganya sendiri. Sementara itu setiap dua menit satu warga Amerika menjadi korban kekerasan seksual.

 

Negara-negara yang menganut ideologi sekulerisme-kapitalisme juga mengalami krisis nilai-nilai keluarga. Banyak pria dan wanita menganut paham childfree, mereka juga tidak mau menikah, bahkan juga tidak mau lagi melakukan hubungan seksual. Hingga akhirnya populasi warganya terus menyusut dengan drastis. Inilah sebagian kerusakan yang telah diingatkan Allah subhanahu wa ta’ala:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (TQS Ar-Rum [30]: 41)

 

Karenanya menjadi kewajiban bagi kita untuk melakukan perubahan menuju Islam. Ini adalah perintah agama dan sekaligus suatu keniscayaan. Sesungguhnya perubahan itu tidak akan terjadi kecuali umat ini melakukan perubahan itu sendiri.

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ 

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. (TQS Ar-Ra’du [13]: 11)

 

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

 

Momentum Hari Raya Idul Fitri insya Allah telah melahirkan kembali banyak umat Islam yang memiliki kadar keimanan dan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang tinggi. Ini menjadi modal bagi terbitnya fajar kemenangan Islam di muka bumi ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih di antara kalian, bahwa Dia benar-benar akan memberi mereka kekuasaan di muka bumi, sebagaimana Dia pernah memberikan kekuasaan itu kepada orang-orang sebelum mereka (TQS an-Nur [24]: 55).

 

Semoga setelah merayakan hari kemenangan ini, yakni Hari Raya Idul Fitri, sebagai kemenangan personal, kita bisa segera merayakan kemenangan kolektif umat. Tentu dengan tegaknya Islam. Tak hanya di negeri ini, tetapi di seluruh penjuru bumi. Demikian sebagaimana sabda Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا

Sungguh Allah pernah melipat bumi untukku. Lalu aku melihat bagian timur dan baratnya. Sungguh tampak bahwa kekuasaan umatku akan mencapai seluruh bagian bumi yang telah diperlihatkan kepadaku (HR Muslim).

 

Sebagaimana kita ketahui, sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kekuasaan umat Islam tidak lain adalah Khilafah. Khilafahlah—untuk kedua kalinya—yang insya Allah akan menaklukkan seluruh dunia dengan kekuasaannya. Khilafah pula yang akan kembali menyebarluaskan Islam ke berbagai penjuru dunia sehingga benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia.

«تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ  فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ»

“Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan yang zhalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya.  Kemudian akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR Ahmad, Abu Dawud al-Thayalisi dan al-Bazzar).

 

 

BarakalLaah lii wa lakum.

 

 

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ.

 

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.

 

الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ كَرَّمَ هَذهِ الْأُمَّةَ بِشَريِعْتَهِ الْكَامِلَةِ الْخَالِدَةِ، وخَصَّ بهِاَ بِالنُّبُوَّةِ الْعَظِيْمَةِ الْكَرِيِمَةِ.

 

وَاَشْهَدُ اَنَّ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ، الَّذِي اَرْسَلَهُ اللهُ بِرِسَالَتِهِ الْقُدْسِيَّةِ ، وَأَحْكَامِهِ الطَّاهِرَةِ ، لِمُعَالَجَةِ جَمِيْعِ مَشَاكِلِ الْإِنْسَانِ فِي الْحَيَاةِ.

 

فَيَا اَيُّهاَ الْمُؤْمِنُوْنَ، تَمَسَّكوا بِاْلإِسْلاَمِ فِي كُلِّ حِيْنٍ، وَ اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَ لاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. اَمَّا بَعْدُ:

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

 

Pada khutbah yang terakhir ini, marilah kita berdoa, memohon dan bermunajat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Semoga Allah mengabulkan permohonan kita. Semoga Allah memberi kita kesabaran dan keikhlasan. Semoga Allah menguatkan ketaatan kita, melanggengkan ketakwaan kita dan meneguhkan kita untuk tetap istiqamah di jalan-Nya. Dengan begitu Allah subhanahu wa ta’ala memberikan pertolongan-Nya kepada kita sehingga kita benar-benar meraih kemenangan sejati. Dengan tegaknya Islam di muka bumi.

 

 

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: ﴿إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾.

 

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلىَ آلِهِ وَذُرِيَّاتِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

 

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ، حَمْدَ المُتَنَعِّمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ، وَلَكَ الشُّكْرُ، كَمَا يَنْبَغِيْ لِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ، وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ.

 

اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَ لِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، فَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

 

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنا، وَأَصْلِحْ لنا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي اِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

 

اللّهُمَّ اجْعَلْ عَمَلَنَا صَالِحًا مُتَقَبَّلًا ، مُوَافِقًا لِأَحْكَامِكَ وَخَالِصًا لِوَجْهِكَ

اَللّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَكُلَّ صَالِحَاتِ أَعْمَالِنَا وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَاعْفُ عَنَّا فِي تَقْصِيْرَاتِنَا وَارْحَمْنَا بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

 

اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ سَلَامَةً فِيْ الدِّيْنِ، وَعَافِيَةً فِيْ الْجَسَدِ، وَزِيَادَةً فِيْ الْعِلْمِ، وَبَرَكَةً فِيْ الرِّزْقِ، وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ، وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ، وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ. اَللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِيْ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ، وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ، وَالعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ.

 

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ، وَنُؤْمِنُ بِكَ وَلاَ نَكْفُرُكَ، وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ. اللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدْ ، وَلَكَ نُصَلِّي وَنَسْجُدُ ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ ، نَرْجُو رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ ، إِنَّ عَذَابَكَ الْجِدَّ بِالْكُفَّارِ مُلْحِقٌ ، اَللَّهُمَّ عَذِّبِ الْكَفَرَةَ الذِّيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ، وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ، وَيُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَاءَكَ.

 

اَللَّهُمَّ يَا مُنْزِلَ الْكِتَابِ، وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ، اِهْزِمِ الْيَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ، وَالصَّلِيْبِيِّيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ، وَالرَّأْسَمَالِيِّيْنَ وَاَعْوَانَهُمْ، وَالْاِشْتَرَاكِيِّيْنَ وَأَشْيَاعَهُمْ.

 

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَاقْتُلْ مَنْ قَاتَلَ الْمُسْلِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَالْمُنَافِقِيْنَ واَلْفَاسِقِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَنَا أَعْدَاءَ الدِّيْنَ.

 

اَللَّهُمَّ ارْحَمْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

 

اَللَّهُمَّ أَنْجِزْ لَنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رَسُوْلِكَ، بِعَوْدَةِ دَوْلَةِ الْخِلاَفَةِ الرَّاشِدَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ، وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا، بِإِذْنِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

 

ربَنَّاَ ظَلمَنْاَ أنَفْسُناَ، واِنْ لمْ تَغَفْرِلْنَاَ وتَرَحْمنْاَ، لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخاَسِريِنَ،

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا اِنْ نَسِيْنَا اَوْ اَخْطَأْنِا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا، وَاغْفِرْ لَنَا، وَارْحَمْنَا، اَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

 

رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، ربنا تقَبَّلْ منِاَّ وَاسْتَجِبْ دُعَاءَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العْلَيِمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

 

وَسُبْحَانَكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

SebelumnyaBuah Ramadhan: Taat SyariahSesudahnyaKembali Fitrah, Kembali ke Syariah
No Comments

Tulis komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *