MENGOREKSI PENGUASA
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ
لِلّٰهِ
رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ،
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ
الَّذِيْ
أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ
بِالْهُدَى
وَدِيْنِ
الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ
عَلَى
الدِّيْنِ
كُلِّهِ وَلَوْ
كَرِهَ
الْمُشْرِكُوْنَ،
أَشْهَدُ أَنْ
لَا اِلٰهَ إِلَّا
اللّٰه
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
رَسُوْلُ
اللّٰه،
اَللّٰهُـمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ،
أَمَّا
بَعْدُ.
فَيَا
عِبَادَ
اللّٰه،
أُوْصِيْنِيِ
نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ، فَقَدْ
فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى: وَلْتَكُنْ
مِّنْكُمْ
اُمَّةٌ
يَّدْعُوْنَ
اِلَى
الْخَيْرِ
وَيَأْمُرُوْنَ
بِالْمَعْرُوْفِ
وَيَنْهَوْنَ
عَنِ
الْمُنْكَرِۗ
وَاُولٰۤىِٕكَ
هُمُ
الْمُفْلِحُوْنَ
١٠٤ (اٰلِ
عِمْرَانَ)
Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di
hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang
yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga
senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.
Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita
kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Allah Swt.
berfirman:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah
kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 102).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Kekuasaan tidak membuat seseorang menjadi ma’shum.
Seorang penguasa tetap manusia yang bisa keliru, sehingga kekuasaan bukan
alasan untuk kebal dari nasihat dan kritik. Pada Sabtu, 19 September 2026,
dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo,
Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH. Hasan Abdullah Sahal,
menyampaikan di hadapan Presiden Prabowo Subianto bahwa pemimpin harus hidup
sederhana dan tidak membuka ruang bagi “cari muka” hingga “cari jabatan”.
Beliau bahkan menegaskan, jika makanan, pakaian, kendaraan, atau rumahnya
melebihi apa yang dimiliki para santri, dirinya boleh diprotes, dikritik,
bahkan didemo. Pernyataan ini menegaskan prinsip kepemimpinan yang lebih luas:
pemegang amanah, termasuk penguasa, tidak semestinya menutup pintu kritik dan
koreksi.
Prinsip tersebut juga tercermin dalam pidato awal
Kekhalifahan Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra.:
فَإِنْ
أَحْسَنْتُ
فَأَعِيْنُوْنِيْ
وَإِنْ
أَسَأْتُ
فَقَوِّمُوْنِيْ
“Jika aku berbuat baik, bantulah aku. Jika aku berbuat
buruk, luruskanlah aku” (M. Husain Haikal, Hayaah Muhammad saw., 1/97).
Karena itu, penguasa tidak boleh menempatkan dirinya di
atas kebenaran. Kritik yang benar semestinya diterima dengan lapang dada,
sedangkan kritik yang keliru dapat dijawab dengan argumentasi.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Ulama tidak dimuliakan karena kedekatannya dengan
kekuasaan, tetapi karena ilmu, ketakwaan, dan keberaniannya menyampaikan
kebenaran. Karena itu, ulama bukanlah stempel kekuasaan yang membenarkan setiap
kebijakan penguasa tanpa pemeriksaan. Jika penguasa terbukti menyimpang, ulama
wajib mengoreksi dan meluruskannya. Allah Swt. berfirman:
وَلْتَكُنْ
مِّنْكُمْ
اُمَّةٌ
يَّدْعُوْنَ
اِلَى
الْخَيْرِ
وَيَأْمُرُوْنَ
بِالْمَعْرُوْفِ
وَيَنْهَوْنَ
عَنِ
الْمُنْكَرِۗ
وَاُولٰۤىِٕكَ
هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang
menyerukan kebajikan dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Mereka itulah
orang-orang yang beruntung” (QS. Âli ‘Imrân [3]:
104).
Perintah amar makruf nahi mungkar mencakup penguasa.
Rasulullah saw. juga bersabda,
الدِّيْنُ
النَّصِيْحَةُ
“Agama adalah nasihat”
Ketika para Sahabat bertanya, “Untuk siapa?”, beliau
menjawab:
لِلَّهِ
وَلِكِتَابِهِ
وَلِرَسُوْلِهِ
وَلِأَئِمَّةِ
الْمُسْلِمِيْنَ
وَعَامَّتِهِمْ
“Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum
Muslim dan seluruh kaum Muslim” (HR. Muslim).
Nasihat kepada pemimpin dapat berupa bimbingan,
peringatan, koreksi, dan ajakan menjalankan amanah sesuai syariah Allah Swt. (An-Nawawi,
Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim ibn al-Hajjaj, syarah Hadits No.55).
Kewajiban mengingkari kemungkaran juga ditegaskan
Rasulullah saw.:
مَنْ
رَأَى
مِنْكُمْ
مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ
بِيَدِهِ،
فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ
فَبِلِسَانِهِ،
فَإِنْ لَمْ
يَسْتَطِعْ
فَبِقَلْبِهِ،
وَذَلِكَ
أَضْعَفُ
الْإِيْمَانِ
“Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran,
hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya.
Jika tidak mampu, dengan hatinya. Yang demikian adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim).
Penguasa tidak dikecualikan dari kewajiban ini. Bahkan
Rasulullah saw. bersabda:
أَفْضَلُ
الْجِهَادِ
كَلِمَةُ حَقٍّ
عِنْدَ
سُلْطَانٍ
جَائِرٍ
“Jihad yang paling utama adalah menyatakan kebenaran di
hadapan penguasa zalim” (HR. Ahmad).
Hadits ini menunjukkan tingginya kedudukan keberanian
menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang melakukan kezaliman.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Ulama yang takut kepada Allah tidak akan gentar
menghadapi kekuasaan manusia. Sejarah Islam menunjukkan bahwa nasihat dan
koreksi terhadap penguasa merupakan bagian dari tradisi ulama salaf, bahkan
ketika syariah Islam diterapkan. Khalifah tetap manusia yang mungkin keliru
sehingga membutuhkan pengawasan dan nasihat.
Diriwayatkan, seorang Muslimah pernah mengoreksi Khalifah
Umar bin al-Khaththab ra. terkait pembatasan mahar yang dinilainya keliru (Al-Qurthubi,
Al-Jaami‘ li Ahkaam al-Qur’aan, 5/95; tafsir QS. an-Nisâ’ [4]: 20).
Imam Hasan al-Bashri rahimahullah juga dikenal berani
mengkritik Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi yang zalim. Demikian pula Sufyan
ats-Tsauri rahimahullah menentang Abu Ja‘far al-Manshur ketika menggunakan
Baitul Mal untuk membiayai dirinya dan para pengikutnya menunaikan haji. Abu
Muslim al-Khaulani bahkan pernah mengoreksi Khalifah Muawiyah karena
menghentikan bantuan kepada kaum Muslim, dengan mengingatkan bahwa harta
tersebut bukan milik pribadi penguasa (Al-Badri, Al-Islaam bayna
al-‘Ulamaa' wa al-Hukkaam, hlm. 101).
Ulama dan penguasa semestinya menjadi mitra dalam
menegakkan keadilan, bukan mitra dalam membenarkan kezaliman. Penguasa
membutuhkan ulama yang berilmu, jujur, dan berani menyampaikan kebenaran;
sementara ulama membutuhkan ruang untuk menasihati dan mengoreksi tanpa
kehilangan kebebasan menyampaikan perkara yang haq. Keduanya harus berorientasi
pada ridha Allah Swt. dan menyadari bahwa amanah kekuasaan maupun ilmu akan
dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Karena itu, kritik yang benar tidak
seharusnya dianggap ancaman dan nasihat yang ikhlas tidak semestinya dibalas
dengan penghinaan. Ulama tidak boleh meninggalkan amar makruf nahi mungkar
hanya karena yang dinasihati adalah penguasa.
Imam al-Ghazali rahimahullah bahkan mengingatkan eratnya
hubungan antara kerusakan rakyat, penguasa, dan ulama. Beliau berkata:
فَفَسَادُ
الرَّعَايَا
بِفَسَادِ الْمُلُوْكِ
وَفَسَادُ الْمُلُوْكِ
بِفَسَادِ الْعُلَمَاءِ
وَفَسَادُ الْعُلَمَاءِ
بِاسْتِيْلاَءِ
حُبِّ الْمَالِ
وَاْلجَاهِ
“Kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan para
penguasa. Kerusakan penguasa disebabkan oleh kerusakan para ulama. Kerusakan
ulama terjadi ketika mereka dikuasai oleh kecintaan terhadap harta dan
kedudukan” (Ihyaa’ ‘Uluum ad-Diin, 2/357). Karena
itu, ukuran keteguhan ulama bukanlah kedekatannya dengan penguasa, melainkan
keberaniannya tetap berpegang pada kebenaran; sementara kekuasaan harus
digunakan sebagai amanah untuk menegakkan keadilan dan melindungi rakyat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Dengan demikian, ulama memiliki tanggung jawab untuk
menasihati dan mengoreksi penguasa ketika terjadi kezaliman. Salah satu bentuk
kezaliman penguasa adalah ketika mereka tidak berhukum dengan hukum yang Allah
Swt. turunkan, sebagaimana firman-Nya:
وَمَنْ
لَّمْ
يَحْكُمْ
بِمَآ
اَنْزَلَ
اللّٰهُ
فَاُولٰۤىِٕكَ
هُمُ
الظّٰلِمُوْنَ
“Siapa saja yang tidak berhukum menurut wahyu yang telah
Allah turunkan, mereka itulah kaum yang zalim” (QS. al-Mâ’idah
[5]: 45).
Karena itu, ulama berkewajiban menyampaikan nasihat dan
mengingatkan penguasa agar menjalankan amanah sesuai syariah Islam. Sebab,
sebagaimana peringatan Imam al-Ghazali, kerusakan ulama dapat menjadi sebab
kerusakan penguasa ketika mereka dikuasai kecintaan terhadap harta dan
kedudukan hingga enggan menyampaikan kebenaran. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ،
وَتَقَبَّلَ
مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلَاوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ
الْعَظِيْمَ
لِيْ
وَلَكُمْ،
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ
عَلَى
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَامْتِنَانِهِ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلٰهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أنَّ
سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى
رِضْوَانِهِ.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا
اللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ وَانْتَهُوْا
عَمَّا
نَهَى،
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَنَّى
بِمَلَائِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى: إِنَّ
اللهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ، وَعَلَى
أَنْبِيَائِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلَائِكَتِكَ
الْمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَعَنْ بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَالتَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
الْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
اللّٰهُمَّ
أَعِزَّ
الْإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
الْمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَأَعْلِ
كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ
الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ
بِهَا
الْإِسْلَامَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ
بِهَا
الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ،
وَاجْعَلْنَا
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
لِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَالْبَلاَءَ
وَالْوَبَاءَ
وَالزَّلَازِلَ
وَالْمِحَنَ،
وَسُوْءَ
الْفِتَنِ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا
إِنْدُوْنِيْسِيَا
خَاصَّةً
وَسَائِرِ
بُلْدَانِ
الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً يَا
رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِى
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالْإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي
الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشآءِ
وَالْمُنْكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ الْعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ.