• “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta (tetap) menegakkan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kecuali hanya kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” At-Taubah: 18
Friday, 14 June 2024

KHUTBAH IED FITR 1439 H

Bagikan

Home Forums LAYANAN MASJID NASKAH KHUTBAH KHUTBAH IED FITR 1439 H

Viewing 1 post (of 1 total)
  • Author
    Posts
  • #1331
    admin
    Keymaster

    بسم الله الرحمن الرحيم

    MEWUJUDKAN TAKWA INDIVIDU, MASYARAKAT DAN NEGARA

     

     

    .x اَللهُ أَكْبَرُ 3 x اَللهُ أَكْبَرُ 3 x اَللهُ أَكْبَرُ 3

     

    اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ هُوَ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.

     

    اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ هَذَا الْيَوْمَ عِيْدًا لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَحَرَّمَ عَلَيْهِمْ فِيْهِ الصِّيَامْ، وَنَزَّلَ الْقُرْآنَ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتِ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانْ، وَ أَيَّدَ الْإِسْلَامَ فِيِ كُلِّ عَصْرٍ بِاْلإمَامِ اْلأَعْظَمِ، وَ أَقَامَهُ خَلِيْفَةً لِرَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ، فِي تَطْبِيْقِ دِيْنِهِ وَ شَرْعِهِ وَ حَمْلِ دَعْوَتِهِ كَافَةً  إِلَى اْلعَالَمْ.

     

    اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ، وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ خَاتِمَ اْلاَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، اَرْسَلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ.

     

    وَاُصَلِّي وَاُسَلِّمُ عَلَى قَائِدِناَ وَ قُدْوَتِنَا سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَ عَلَى اَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ، وَ مَنْ تَمَسَّكَ بِدِيْنِهِ، و مَنْ دَعَا اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ، وَ مَنْ جَاهَدَ فِي سَبِيْلِ اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ، وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمٍ لاَ يَنْفَعُ فِيْهِ مَالٌ وَلاَ بَنُوْنَ، اِلاَّ مَنْ اَتَا اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ.

     

    اَمَّا بَعْدُ، فَيَا اَيُّهاَ الْمُؤْمِنُوْنَ، تَمَسَّكوا بِاْلإِسْلاَمِ فِي كُلِّ حِيْنٍ، وَ اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَ لاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَ أَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

     

    AlLâhu akbar 3X wa lilLâhil hamd.

    Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

     

    Segenap pujian hanya milik Allah SWT. Dialah Zat Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dengan kemurahan-Nya, Dia mengutus Rasulullah Muhammad saw. untuk menyampaikan Islam. Islamlah satu-satunya petunjuk hidup bagi seluruh umat manusia. Islamlah yang menjadi rahmat bagi semua makhluk-Nya di jagat raya ini.

     

    Allahlah Tuhan Yang akan membangkitkan manusia di akhirat nanti. Saat itu harta kekayaan, kekuasaan, kedudukan, pangkat dan jabatan tidak berguna. Bahkan orangtua, anak dan istri tak lagi bisa diminati pertolongan. Saat itu wajah orang-orang kafir, zalim, fasik dan munafik tertunduk hina. Mereka diliputi rasa putus asa. Sebaliknya, saat itu wajah kaum beriman tampak berseri-seri. Mereka diliputi bahagia yang tiada tara.

     

    AlLâhu akbar 3X wa lilLâhil hamd.

    Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

     

    Hari ini kita merayakan Idul Fitri dengan penuh kegembiraan. Tentu, gembira bukan karena telah bebas dari ‘kungkungan’ puasa selama Ramadhan. Akan tetapi, kita gembira karena dua hal: Pertama, karena ada harapan akan berjumpa dengan Allah SWT di surga nanti. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw.:

     

    لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ :إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

    Bagi orang yang puasa ada dua kegembiraan: saat ia berbuka (termasuk berbuka saat Idul Fitri, pen.), ia bergembira, dan saat ia bertemu dengan Tuhannya, ia pun bergembira karena puasanya itu (HR al-Bukhari).

     

    Kedua, ada harapan akan memperoleh ampunan-Nya.  Demikian yang juga Rasulullah saw. tegaskan:

     

    مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

    Siapa saja yang mendirikan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap (ridha Allah SWT), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR al-Bukhari).

     

    AlLâhu akbar 3X wa lilLâhil hamd.

    Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

     

    Kita pun sepantasnya bergembira karena kaum Muslim hari ini sama-sama mengumandangkan kalimat takbir, tahlil dan tahmid secara serentak. Suara mereka membahana memenuhi jagat raya. Seruan takbîr, tahlîl dan tahmîd ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT. Dialah Yang telah memberikan hidayah, kekuatan dan kesabaran kepada kita semua. Dengan itu kita dapat menuntaskan shaum Ramadhan dengan sebaik-baiknya.

     

    Namun demikian, tentu kita tidak boleh melupakan nasib saudara-saudara kita yang masih sangat menyedihkan di berbagai negara. Di Irak dan Afganistan, saudara-saudara kita masih berada di bawah cengkeraman negara imperialis, Amerika dan sekutunya.

     

    Di Palestina, kaum Muslim masih dijajah. Selama puluhan tahun tanah mereka dirampas dan diduduki oleh kaum Yahudi Israel hingga kini. Sebagian penduduknya dibunuh. Sebagian lagi terusir. Mereka hidup menderita. Mereka terlunta-lunta hingga hari ini. Keadaan mereka selalu terancam. Mereka harus menghadapi kekejaman negara zionis sendirian, termasuk sepanjang bulan Ramadhan. Ironisnya, para penguasa di negeri-negeri Muslim hanya berdiam diri, seolah tak peduli.

     

    Keadaan memilukan juga dialami saudara-saudara kita di Cina. Di negara Komunis itu, umat Islam dari suku Uighur di Xinjiang menjadi korban kebrutalan suku Han. Suku ini didukung penuh oleh rezim Komunis, Cina.

     

    Nasib yang sama dialami saudara-saudara kita di Pattani Thailand, Moro Philipina Selatan, Kashmir, Rohingya di Miyanmar, Pakistan, Banglades dan lain-lain. Semua ini kian memperpanjang daftar penderitaan umat Islam hari ini.

     

    Adapun di dalam negeri, umat Islam terus-menerus ditekan dan disudutkan. Di antaranya melalui isu radikalisme dan terorisme yang kembali dimunculkan. Banyak ulama dikriminalisasi. Organisasi dakwahnya, seperti HTI, dibubarkan. Umatnya pun terus diawasi. Pihak-pihak yang membenci Islam berusaha dengan sekuat tenaga mengaitkan aksi terorisme dengan perjuangan dakwah menegakkan syariah Islam. Bahkan ada yang ingin membungkam dakwah Islam dengan memprovokasi penguasa agar menerapkan undang-undang represif seperti pada rezim otoriter sebelumnya.

     

    Alhasil, saat ini kita merayakan Hari Kemenangan justru dalam kekalahan di hampir semua lini kehidupan.

     

    AlLâhu akbar 3X wa lilLâhil hamd.

    Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

     

    Kekalahan demi kekalahan tentu tak selayaknya diderita oleh umat Islam. Semua ini tentu ironis. Ironis, di tengah suasana kita merayakan Hari Raya Idul Fitri, yang sering diidentikkan dengan Hari Kemenangan. Ironis, karena semua kondisi di atas justru bertentangan dengan julukan umat Islam sebagai umat terbaik (khayru ummah) (QS Ali Imran [3]: 110).

     

    Ironis, karena kondisi kekalahan umat Islam ini bertolak belakang dengan kondisi kaum Muslim generasi awal yang sama-sama melaksanakan shaum Ramadhan dan merayakan Hari Raya Idul Fitri. Faktanya, shaum Rasulullah saw. dan para Sahabat tidak hanya memberikan kemenangan kepada diri mereka secara individual dalam melawan hawa nafsu dan setan selama Ramadhan. Shaum mereka juga memberikan kemenangan kepada kaum Muslim secara kolektif dalam melawan musuh-musuh Islam. Mereka dan generasi gemilang sesudahnya justru sering mencatat prestasi yang gemilang pada bulan Ramadhan. Beberapa peperangan yang dimenangkan kaum Muslim seperti Perang Badar, Fath Makkah, atau Pembebasan Andalusia terjadi pada bulan Ramadhan.

     

    Pertanyaannya: Mengapa keadaan Islam dan umatnya saat ini seolah bertolak belakang dengan firman Allah SWT dan sabda Rasul-Nya di atas? Tidak lain, karena umat Islam hari ini kehilangan ketakwaan mereka secara kolektif. Inilah yang digambarkan Rasulullah saw dalam sabdanya:

    (( يُوْشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا)) فَقَالَ قَائِلٌ : وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِدٍ؟ قَالَ  : (( بَلْ أَنْتُمْ  يَوْمَئِدٍ كَثِيْرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعنَّ الله ُ مِنْ صُدُوْرِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ الله ُ فِي قُلُوْبِكُمْ الْوَهْنَ )) فَقَالَ قَائِلٌ : ياَ رَسُوْلَ اللهِ، وَمَا الْوَهْنُ؟  قَالَ  : (( حُبُّ الدُّنْيَا وَكرَاهِيَةُ الْمَوْتِ))

    ‘Ummat-ummat hampir saja mengerumuni kalian sebagaimana orang-orang yang kelaparan mengerumuni sebuah hidangan (lezat).’ Lalu seseorang bertanya : ‘Apakah kami ketika itu sedikit?’ Rasulullah  r  menjawab : ‘Justru kalian ketika itu berjumlah banyak. Akan tetapi keadaan kalian seperti buih di tengah lautan. Allah I benar-benar mencabut kehebatan kalian dari dada-dada musuh kalian dan Allah I lemparkan ke dalam hati-hati kalian sifat Wahn.’ Lalu orang tersebut bertanya lagi : ‘Wahai Rasulullah  apakah Wahn itu?’ Rasulullah  r menjawab : ‘(Wahn) adalah cinta dunia dan takut mati.’” [Hadits Shohih Riwayat Abu Dawud (4297), Ahmad (23037), dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul `Auliya (I/182)]

     

    Hadits itu menjelaskan, umat Islam kalah disebabkan karena rendahnya ketakwaan mereka. Seandainya takwa itu ada dalam dada mereka, niscaya mereka tidak akan cinta dunia berlebihan dan takut dengna kematian.

     

    Karena itu jelas, kemenangan hanya mungkin diraih oleh kaum Mukmin ketika benar-benar bertakwa. Shaum Ramadhan adalah salah satu sarana yang bisa mengantarkan kaum Muslim menjadi pribadi-pribadi bertakwa. Itulah yang Allah SWT tegaskan:

     

    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

    Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian shaum sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 183).

     

    AlLâhu akbar 3X wa lilLâhil hamd.

    Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

     

    Namun demikian, agar benar-benar menjadi Mukmin yang bertakwa secara paripurna, puasa Ramadhan saja tidaklah cukup. Faktanya, selain puasa Ramadhan, Allah SWT telah memerintahkan kaum Muslim banyak hal agar mereka benar-benar bertakwa (la’allakum tattqûn). Di antaranya: Pertama, Allah SWT memerintahkan kaum Muslim untuk melakukan totalitas ibadah (penghambaan/pengabdian) kepada Allah SWT. Inilah yang Allah SWT tegaskan:

     

    يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

    Hai manusia, beribadahlah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 21).

     

    Ibadah tentu bukan sekadar menjalankan ritualitas saja seperti shalat, shaum, zakat dan haji. Ibadah mencakup totalitas penghambaan/pengabdian kepada Allah SWT dengan menjalankan seluruh syariah-Nya. Inilah yang Allah SWT tegaskan  dalam firman-Nya:

     

    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

    Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka mengabdi (menghambakan diri) kepada-Ku (QS adz-Dzariyat [52]: 56).

     

    Mengomentari ayat di atas, Ibnu Hazm dalam kitab Al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwâ’ wa an-Nihal (3/80), menjelaskan bahwa maksud ayat di atas adalah agar mereka menjadi hamba (abdi) Allah SWT dengan melaksanakan semua hukum-Nya dan patuh pada apa saja yang telah Dia tetapkan atas mereka. Ibadah seperti inilah yang bisa mengantarkan setiap Muslim menjadi pribadi yang bertakwa.

     

    Kedua, Allah SWT memerintahkan kaum Muslim untuk menerapkan semua hukum Allah SWT, di antaranya hukum qishash. Inilah yang Allah SWT tegaskan:

     

    وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَاأُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

    Di dalam hukum qishash itu terdapat kehidupan, wahai kaum yang berakal, agar kalian bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 179).

     

    Jika hukum qishash yang menyangkut hak adami (manusia) saja wajib diterapkan, apalagi hudud yang menyangkut hak Allah—seperti hukum cambuk/rajam bagi pezina, hukum potong tangan bagi pencuri, dll. Semua itu tentu lebih wajib untuk diterapkan. Penerapan hukum qishash, juga semua hukum Allah SWT yang lain, pasti akan membuat orang takut untuk berbuat dosa dan kriminal. Inilah yang antara lain ditegaskan oleh Imam ath-Thabari dalam tafsirnya, Jâmi al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân (3/382). Singkatnya, penerapan hukum-hukum Allah SWT akan memaksa siapapun untuk menjadi orang yang bertakwa.

     

    Ketiga, Allah SWT memerintahkan kaum Muslim untuk hanya mengikuti jalan Islam, dan tidak mengikuti jalan-jalan selain Islam. Ini pula yang Allah SWT tegaskan:

     

    وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

    Sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Karena itu ikutilah jalan itu dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan lain karena bisa menceraiberaikan kalian dari jalan-Nya. Demikianlah kalian diperintahkan agar kalian bertakwa (QS al-An’am [6]: 153).

     

    Menurut Imam as-Samarqandi dalam kitab tafsirnya, Bahr al-‘Ulûm (1/495), ayat ini bermakna, bahwa Islam sebagai agama yang Allah ridhai adalah jalan yang lurus. Karena itu ikutilah jalan Islam. Janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain, yakni jalan kaum Yahudi dan Nasrani. Hanya dengan menetapi jalan Islam dan menjauhi jalan-jalan selain Islam, kita akan menjadi orang yang bertakwa.

     

    Sayang, banyak orang, meski mengaku memeluk Islam, tidak sepenuhnya mengambil jalan Islam. Dalam hal ibadah ritual mereka memang mengambil jalan Islam. Shalat mereka, shaum mereka, zakat mereka dan haji mereka tentu diambil dari hukum-hukum fikih Islam. Namun anehnya, dalam muamalah, mereka mengambil hukum-hukum di luar Islam. Dalam ekonomi dan bisnis, mereka merujuk pada teori-teori dan hukum-hukum ekonomi dan bisnis kapitalis Barat sekular yang diajarkan oleh para tokoh Yahudi seperti Adam Smith, David Ricardo, Keynes, dll. Dalam politik dan pemerintahan, mereka merujuk pada sistem demokrasi Barat sekular yang diambil dari ajaran para tokoh Kristen seperti Montesque, JJ Rousseu, Thomas Hobes, David Home dll. Dalam bidang sosial dan pendidikan, mereka pun mengacu pada teori-teori dan hukum-hukum pendidikan yang diajarkan oleh para pakar pendidikan dan ahli psikologi Barat sekular.

     

    Jelas, semua ini menjauhkan kaum Muslim dari ketakwaan hakiki kepada Allah SWT.

     

     

    AlLâhu akbar 3X wa lilLâhil hamd.

    Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

     

    Berbicara tentang takwa, Ibn Abi Dunya dalam Kitâb at-Taqwâ mengutip pernyataan Umar bin Abbdul Aziz ra., “Takwa kepada Allah itu bukan dengan sering shaum di siang hari, sering shalat malam, atau sering melakukan kedua-duanya. Akan tetapi, takwa kepada Allah itu adalah meninggalkan apa saja yang Allah haramkan dan melaksanakan apa saja yang Allah wajibkan.”

     

    Takwa seperti inilah yang bisa menjadikan diri kita meraih kedudukan yang paling mulia di sisi Allah, sebagaimana firman-Nya:

     

    إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

    Sungguh orang yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa (QS al-Hujurat [49]: 13).

     

    Dalam konteks ini pula, Syaikh Abdul Qadir Jailani pernah bertutur bahwa  kemuliaan seseorang ada dalam ketakwaannya, sementara kehinaannya ada dalam kemaksiatannya. Tentu kemaksiatan terbesar adalah keengganan manusia untuk berhukum dengan al-Quran. Inilah juga yang dikeluhkan oleh Rasulullah saw. Beliau bahkan mengadukan kepada Allah SWT kaumnya yang mengabaikan al-Quran, sebagaimana firman-Nya:

     

    وَقَالَ الرَّسُولُ يَارَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْءَانَ مَهْجُورًا

    Berkatalah Rasul, Tuhanku, sungguh kaumku telah menjadikan al-Quran ini suatu yang diabaikan.” (QS al-Furqan [25]: 30).

     

    Menurut mufassir ternama, Imam Ibnu Katsir dalam kitab Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm (2/631), di antara sikap mengabaikan al-Quran adalah tidak mengamalkan isinya dan tidak mau mengambil hukum-hukum yang ada di dalamnya. Padahal jelas, Allah SWT telah mengancam dengan keras siapapun yang berpaling dari al-Quran:

     

    وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

    Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran), sungguh bagi dia penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkan dirinya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta (QS Thaha [20]: 124).

     

    Atas dasar itu, kita harus segera kembali pada Islam secara kaffah. Inilah wujud ketakwaan hakiki kita.

     

    AlLâhu akbar 3X wa lilLâhil hamd.

    Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

     

    Lebih dari itu, kita harus menyadari bahwa ketakwaan harus diwujudkan tidak hanya dalam ranah individu belaka, tetapi juga harus direalisasikan pada ranah masyarakat dan negara. Inilah yang boleh disebut sebagai “ketakwaan kolektif”. Ketakwaan kolektif ini mewujud dalam bentuk masyarakat dan negara yang berdiri di atas akidah Islam dan yang menjadikan syariah Islam sebagai satu-satunya aturan kehidupan mereka. Ketakwaan kolektif ini hanya mungkin bisa diwujudkan dalam institusi negara yang menerapkan syariah Islam secara kâffah. Institusi negara itu tidak lain adalah Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Khilafah inilah yang pernah dipraktikan secara nyata oleh Khulafur Rasyidin ridwânulLâh ‘alayhim dulu.

     

    Sayang, hari ini khilafah dikriminalisasi. Orang atau organisasi yang mendakwahkan kewajiban menegakkan khilafah dipersekusi dengan tuduhan sepihak tanpa bukti. Padahal jelas. khilafah adalah ajaran Islam. Menurut Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitabnya, Ash-Shawâ’iq al-Muhriqah (hlm. 7), kewajiban menegakkan Khilafah bahkan telah menjadi Ijmak Sahabat. Menurut Imam al-Ghazali dalam kitabnya, Al-Mustashfâ (1/14), Ijmak Sahabat itu tidak bisa di-naskh (dihapuskan/dibatalkan).

     

    AlLâhu akbar 3X wa lilLâhil hamd.

    Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

     

    Selain wajib, kembalinya Khilafah adalah janji Allah SWT dan kabar gembira Rasulullah saw., sebagaimana sabda beliau:

     

    ثُمّ َكُوْنُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

    Kemudian akan datang kembali masa Khilafah yang mengikuti metode kenabian (HR Ahmad).

     

     

    Insya Allah, masa yang mulia itu akan segera tiba.

     

    AlLâhu Akbar 3X, WaliLlâhilhamd.

    Ma’âsyiral-Muslimîn RahimakumulLâh:

     

    Karena itu pada Hari Kemenangan ini sudah sepatutnya kita berjanji kepada Allah, Rasul-Nya dan kaum Muslim untuk mengerahkan segenap upaya, secara damai, demi tegaknya Khilafah agar syariah Islam secara kâffah bisa diterapkan.

     

    Marilah kita memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT agar menolong kita untuk mewujudkan cita-cita mulia ini. Dengan itu kaum Muslim merasakan kegembiraan nyata karena meraih kemenangan yang juga nyata. Inilah yang Allah SWT gambarkan dalam firman-Nya:

     

    وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ بِنَصْرِ اللهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

    Pada hari (kemenangan) itu bergembiralah kaum Mukmin karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang (QS ar-Rum [30]: 4-5).

     

    Hanya saja, Allah Yang Mahaadil telah menetapkan syarat bagi hamba-Nya yang ingin mendapat pertolongan-Nya. Allah SWT berfirman:

     

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

    Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian (QS Muhammad [47]: 7).

     

    Di dalam tafsirnya, Tasyîr al-Karîm ar-Rahmân fî Tafsîr al-Qur’ân al-Manân (1/782), Abdurrahman as-Sa’di  menjelaskan bahwa  amal praktis ‘menolong Allah’ adalah dengan menegakkan sekaligus mendakwahkan agama-Nya dan berjihad melawan musuh-musuh-Nya.

     

    Alhasil, yang dimaksud dengan ‘menolong Allah’ itu adalah dengan mempraktikkan totalitas ketakwaan kepada-Nya. Takwa inilah yang menjadi syarat bagi datangnya pertolongan Allah kepada hamba-Nya.

     

     

    AlLâhu Akbar 3X, WaliLlâhilhamd.

    Ma’âsyiral-Muslimîn RahimakumulLâh:

     

    Terakhir, pada kesempatan yang baik ini, marilah kita sama-sama berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT. Semoga Allah SWT segera menurunkan pertolongan-Nya untuk agama-Nya sehingga benar-benar terwujud kemenangan hakiki bagi umat-Nya.

     

    قال الله تعالى في القرآن العظيم، أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ اْلعَلِيْمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ، وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ، كَماَ صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ. وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي اْلعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

     

    Ya Allah, ya Tuhan kami, maafkanlah dosa-dosa kami, karena dalam shalat-shalat kami, termasuk pada Hari Raya Idul Fitri ini, Engkau kami besarkan dan kami agungkan. Namun di luar itu, Engkau acapkali kami kecilkan dan kami kerdilkan.

     

    Ya Allah, ya Tuhan kami, maafkanlah kesalahan-kesalahan kami, karena selama Ramadhan kami berusaha merendahkan dan menghinakan diri di hadapan-Mu; tunduk, patuh dan taat kepada-Mu. Namun di luar itu, kami acapkali menyombongkan diri di hadapan-Mu; kami sering ingkar dan membantah perintah-Mu.

     

    Ya Allah, ya Tuhan kami, maafkanlah kami. Setiap saat Engkau kami sucikan dan kami istimewakan dalam ritual ibadah-ibadah kami, termasuk selama Ramadhan dan Idul Fitri ini. Namun, di luar itu acapkali Engkau kami kotori dan kami cemari dengan dosa-dosa kami di dalam banyak aspek kehidupan kami.

     

    Ya Allah, ya Tuhan kami, maafkanlah kami. Syariah-Mu telah lama kami tanggalkan; perintah-larangan-Mu sudah lama kami tinggalkan; Kitab Suci-Mu telah lama kami campakkan; sunnah-sunnah Nabi-Mu pun telah lama kami lemparkan.

     

    Karena itu ya Allah, ya Tuhan kami, maafkan kami atas kebodohan, keangkuhan dan segala kemunafikan kami yang sesungguhnya tak terperi. Namun, hanya karena satu keyakinan, maaf-Mu tak terperikan, ampunan-Mu tak tergambarkan dan kasih-sayang-Mu tak terukurkan; kami bersimpuh di hadapan kebesaran-Mu dan bersujud di haribaan ketinggian-Mu; kami berharap gugurnya dosa-dosa kami dan hapusnya kesalahan-kesalahan kami.

     

    اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَ لِوَالِدَيْنَا وَ ارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَ صِغَارًا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الأَمْوَاتِ. إِنّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

     

    اللَّهُمَّ اصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنا، وَ اصْلِحْ لنا دُنْيَانا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَ اصْلِحْ لنا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنا، وَ اجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

     

    اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَلاَ نَكْفُرُكَ، وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَخْلَعُ مَنْ يَفْجُرُكَ. اَللَّهُمَّ عَذِّبِ الْكَفَرَةَ الذِّيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ، وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ، وَيُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَاءَكَ.

     

    اَللَّهُمَّ اَهْزِمْهُمْ وَدَمِّرْهُمْ، وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ، وَاجْعَلْ تَدْمِيْرَهُمْ فِيْ تَدْبِيْرِهِمْ. اَللَّهُمَّ اهْزِمْ جُيُوْشَ الْكُفَّارَ الْمُسْتَعْمِرِيْنَ، أَمْرِيْكَا وَ رُوْسِيَا وَحُلَفَاءِهَا الْمَلْعُوْنِيْنَ.

     

    اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةَ الرَّاشِدَةَ عَلَى مِنْهَاجِ نَبِيِّكَ، تُعِزُّ بِهَا دِيْنَكَ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَطُغْيَانَهُ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَيَاخَيْرَ النَّاصِرِيْنَ. و الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

     

    —o0o—

     

     

Viewing 1 post (of 1 total)
  • You must be logged in to reply to this topic.