TELADAN NABI ﷺ
DALAM MENYEJAHTERAKAN UMAT
KHUTBAH PERTAMA
اللهُمَّ
فَصَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
كَانَ
صَادِقَ
الْوَعْدِ وَكَانَ
رَسُوْلًا
نَبِيًّا، وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
يُحْسِنُوْنَ
إِسْلاَمَهُمْ
وَلَمْ
يَفْعَلُوْا
شَيْئًا
فَرِيًّا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
اُوْصِيْنِيْ
نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوْا
لَا تَأْكُلُوْٓا
اَمْوَالَكُمْ
بَيْنَكُمْ
بِالْبَاطِلِ
اِلَّآ اَنْ
تَكُوْنَ
تِجَارَةً
عَنْ تَرَاضٍ
مِّنْكُمْۗ
وَلَا تَقْتُلُوْٓا
اَنْفُسَكُمْۗ
اِنَّ
اللّٰهَ كَانَ
بِكُمْ
رَحِيْمًا ٢٩
(اَلنِّسَاءُ)
Alhamdulillâhi
Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang
telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di
tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta
keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Bertakwalah kepada
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana
firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali
dalam keadaan muslim.”
(QS. Âli
Imrân
[3]: 102)
Sungguh takwa adalah
benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh,
hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Kadang hidup menghadirkan
tekanan yang begitu berat hingga membuat seseorang kehilangan harapan. Belum
lama ini, seorang ibu di Kabupaten Bandung nekat bunuh diri setelah terlebih
dahulu meracuni dua anaknya karena depresi akibat kemiskinan dan masalah rumah
tangga. Tragedi ini menambah panjang daftar kasus serupa di Indonesia.
Sebelumnya, di Sukabumi, seorang anak meninggal dengan tubuh dipenuhi ratusan
cacing gelang. Ibunya adalah ODGJ, ayahnya menderita TBC, dan keluarga mereka
kesulitan berobat karena tak memiliki KK dan BPJS Kesehatan. Kasus-kasus ini
memperlihatkan betapa rapuhnya keluarga miskin ketika berhadapan dengan
keterbatasan ekonomi dan akses kesehatan.
Data menunjukkan angka bunuh
diri di Indonesia terus meningkat. Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas)
Bareskrim Polri mencatat, pada 2022 terdapat 887 kasus, naik menjadi 1.288 pada
2023, lalu 1.023 kasus pada 2024. Hingga Mei 2025, sudah tercatat 600 kasus.
Angka sebenarnya diduga jauh lebih tinggi karena underreporting diperkirakan mencapai 300%, menurut Indonesian Association for Suicide
Prevention (INASP). Kemiskinan menjadi faktor dominan, bahkan sering mendorong
terjadinya filisida maternal—ibu yang membunuh anaknya karena tak tega
melihat penderitaan akibat himpitan ekonomi.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Bunuh diri adalah perbuatan
terlarang dalam Islam. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman;
وَلَا
تَقْتُلُوْٓا
اَنْفُسَكُمْۗ
اِنَّ اللّٰهَ
كَانَ بِكُمْ
رَحِيْمًا
”Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri. Sesungguhnya Allâh Maha
Penyayang kepada kalian.” (QS. an-Nisâ’ [4]: 29).
Rasulullah Shallallâhu
‘alaihi wasallam pun memperingatkan;
مَنْ
قَتَلَ
نَفْسَهُ
بِشَيْءٍ فِي
الدُّنْيَا
عُذِّبَ بِهِ
يَوْمَ
الْقِيَامَةِ
”Siapa saja yang
melakukan bunuh diri dengan sesuatu, ia akan diazab dengan sesuatu itu pada
Hari Kiamat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Bahkan, Nabi Shallallâhu
‘alaihi wasallam menegaskan besarnya dosa membunuh anak karena takut
kesulitan hidup, sebagaimana sabdanya;
وَعَنْ
اِبْنِ
مَسْعُودٍ –
رضي الله عنه –
قَالَ
سَأَلْتُ
رَسُولَ
اَللَّهِ ﷺ أَيُّ
اَلذَّنْبِ
أَعْظَمُ؟
قَالَ: – أَنْ
تَجْعَلَ
لِلَّهِ
نِدًّا،
وَهُوَ
خَلَقَكَ. قُلْتُ
ثُمَّ أَيُّ؟
قَالَ: ثُمَّ
أَنْ تَقْتُلَ
وَلَدَكَ
خَشْيَةَ
أَنْ
يَأْكُلَ
مَعَكَ
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku pernah bertanya
kepada Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam, ”Dosa apakah yang
paling besar?” Beliau menjawab, ”Engkau menjadikan sekutu bagi Allah,
padahal Dialah yang menciptakan dirimu.” Aku bertanya lagi, ”Kemudian
apa?” Beliau menjawab, ”Engkau membunuh anakmu karena takut ia makan
bersama dirimu.” (Muttafaq ‘alayh).
Peringatan ini menunjukkan
besarnya cinta Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dan Rasul-Nya kepada umat
Islam. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam diutus dengan membawa
ajaran yang menuntun manusia pada ketenteraman dan kesejahteraan lahir-batin.
Beliau membangun masyarakat dan negara di atas akidah Islam yang kokoh,
sehingga lahir keyakinan teguh akan rezeki, sikap tawakal, dan optimisme.
Beliau bersabda;
لَا
تَيْئَسَا
مِنْ
الرِّزْقِ
مَا تَهَزَّزَتْ
رُءُوسُكُمَا
فَإِنَّ
الْإِنْسَانَ
تَلِدُهُ
أُمُّهُ
أَحْمَرَ
لَيْسَ
عَلَيْهِ
قِشْرٌ ثُمَّ
يَرْزُقُهُ
اللَّهُ
عَزَّ وَجَلَّ
”Janganlah kalian berputus asa dari rezeki Allah selama kepala kalian masih
bergerak. Sesungguhnya manusia itu dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan merah,
tidak memiliki apapun, lalu Allah 'Azza wa Jalla memberi dia rezeki.” (HR. Ibnu Majah).
Namun, dalam masyarakat yang
tidak berlandaskan akidah Islam, keyakinan akan rezeki mudah tercabut.
Akibatnya, kehidupan menjadi rapuh saat menghadapi kesempitan ekonomi. Padahal
Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan kesabaran
dalam kesulitan. Beliau sendiri sering menahan lapar dengan mengganjal perutnya
dengan batu atau berpuasa ketika tidak ada makanan di rumah.
Nabi Shallallâhu ‘alaihi
wasallam menekankan pentingnya bekerja keras, khususnya bagi kaum lelaki
sebagai penanggung jawab keluarga. Beliau bersabda;
لَأَنْ
يَأْخُذَ
أَحَدُكُمْ
حَبْلَهُ، فَيَأْتِيَ
بِحُزْمَةِ
الحَطَبِ
عَلَى ظَهْرِهِ،
فَيَبِيعَهَا،
فَيَكُفَّ
اللَّهُ بِهَا
وَجْهَهُ
خَيْرٌ لَهُ
مِنْ أَنْ
يَسْأَلَ
النَّاسَ
“Sungguh, seandainya salah seorang dari kalian mengambil seutas tali, lalu
memikul seikat kayu bakar di punggungnya, kemudian menjualnya, hal itu lebih
baik daripada meminta-minta kepada manusia...” (HR. al-Bukhari). Dengan
kerja keras, kehormatan diri tetap terjaga tanpa harus merendahkan diri dengan
meminta-minta.
Rasulullah Shallallâhu
‘alaihi wasallam juga menanamkan nilai kepedulian sosial. Beliau bersabda;
يَا
نِسَاءَ
الْمُسْلِمَاتِ
لَا تَحْقِرَنَّ
جَارَةٌ
لِجَارَتِهَا
وَلَوْ
فِرْسِنَ
شَاةٍ
“Wahai para wanita Muslimah, janganlah antar tetangga saling meremehkan
walaupun hanya dengan memberi kuku kambing.” (HR. al-Bukhari). Dalam
riwayat lain beliau menganjurkan memperbanyak kuah makanan agar bisa dibagi
kepada tetangga. Bahkan beliau mengingatkan keras;
ما آمَنَ
بي مَن باتَ
شَبْعانَ،
وجارُهُ جائِعٌ
إلى
جَنْبِهِ،
وهو يَعْلَمُ
بِهِ
“Tidak beriman kepadaku siapa saja yang tidur dalam keadaan kenyang,
sementara tetangganya kelaparan, padahal ia mengetahuinya” (HR. ath-Thabrani). Dengan teladan
ini, umat Islam diarahkan untuk membangun masyarakat yang saling peduli agar
tidak ada yang terpuruk dalam penderitaan.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Sebagai kepala negara,
Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam menjadi teladan dalam mengurus
umat. Beliau menegaskan;
فَالأَمِيرُ
الَّذِي
عَلَى
النَّاسِ
رَاعٍ وَهُوَ
مَسْئُولٌ
عَنْهُمْ
“Pemimpin manusia (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan bertanggung
jawab atas mereka” (Muttafaq ‘alayh).
Karena itu, beliau tidak
pernah menunda pelayanan kepada rakyat dan memperingatkan pejabat agar tidak
menutup diri dari kebutuhan umat. Sabda Beliau;
مَا مِنْ
إِمَامٍ
يُغْلِقُ
بَابَهُ
دُونَ ذَوِي
الْحَاجَةِ
وَالْخَلَّةِ
وَالْمَسْكَنَةِ
إِلَّا
أَغْلَقَ
اللَّهُ
أَبْوَابَ
السَّمَاءِ
دُونَ
خَلَّتِهِ
وَحَاجَتِهِ
وَمَسْكَنَتِهِ
“Tidak seorang pun pemimpin yang menutup pintunya untuk orang yang
membutuhkan, orang yang kekurangan dan orang miskin, kecuali Allah akan menutup
pintu langit dari kekurangan, kebutuhan dan kemiskinannya” (HR. at-Tirmidzi). Hal ini
menunjukkan bahwa kesejahteraan rakyat hanya bisa terjamin dengan peran aktif
negara yang berpihak kepada umat.
Wahai kaum Muslim! Musibah
kemiskinan, kesenjangan, dan keputusasaan hari ini adalah akibat dicampakkannya
Islam dari kehidupan, digantikan oleh sekulerisme dan kapitalisme yang
menafikan peran agama, memicu individualisme, dan membuat negara berpihak pada
oligarki. Akibatnya rakyat diperlakukan sekadar objek pajak, sementara pejabat
hidup dalam kemewahan. Penderitaan ini tidak akan selesai hanya dengan
pergantian figur pemimpin, tetapi hanya bisa dituntaskan dengan penerapan
syariah Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah, sebagaimana tuntunan
Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam dan para khalifah setelah
beliau. Hanya dengan itulah umat dapat meraih kesejahteraan dan ketenteraman
lahir maupun batin. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
اْلقُرْآنِ
اْلعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيمِ
وَتَقَبَّلَ
اللهُ مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
العَلِيْمُ،
وَأَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
فَأسْتَغْفِرُ
اللهَ
العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ عَلىَ
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
اِلٰهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى
رِضْوَانِهِ،
اللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
اٰلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
اَيُّهَا
النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَـنَّى
بِمَلآ
ئِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلآئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِى
يآ اَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى
اَنْبِيآئِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلآئِكَةِ
اْلمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِي، وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَتَابِعِي
التَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ
اَلاَحْيآءَ
مِنْهُمْ
وَاْلاَمْوَاتِ،
اللّٰهُمَّ أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَاْلمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
اْلمُوَحِّدِيْنَ،
وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
اْلمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَاْلبَلاَءَ
وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ
وَاْلمِحَنَ،
وَسُوْءَ
اْلفِتْنَةِ
وَاْلمِحَنَ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا
اِنْدُونِيْسِيَّا
خآصَّةً
وَسَائِرِ
بُلْدَانِ
اْلمُسْلِمِيْنَ
عآمَّةً يَا رَبَّ
اْلعَالَمِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِناَ فِى
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
اْلآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَا
وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِاْلعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي
اْلقُرْبىَ
وَيَنْهَى
عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِ
وَاْلبَغْي
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
اْلعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلىَ
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ