TALBIYAH MENUJU
TEGAKNYA ISLAM KAAFFAH
KHUTBAH PERTAMA
اللّٰهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
النَّبِيِّ
الْأُمِّيِّ،
الصَّادِقِ
الْأَمِيْنِ،
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
حَسُنَ
إِسْلَامُهُمْ.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
أُوْصِيْ نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ، فَقَدْ
فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى: قُلْ
اِنَّمَآ
اَنَا۠
بَشَرٌ
مِّثْلُكُمْ
يُوْحٰٓى
اِلَيَّ
اَنَّمَآ
اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ
وَّاحِدٌۚ
فَمَنْ كَانَ
يَرْجُوْا لِقَاۤءَ
رَبِّهٖ
فَلْيَعْمَلْ
عَمَلًا صَالِحًا
وَّلَا
يُشْرِكْ
بِعِبَادَةِ
رَبِّهٖٓ
اَحَدًا ١١٠
(اَلْكَهْفُ)
Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamîn, segala puji bagi
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman
dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan
salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu
‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga
akhir zaman.
Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ
dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِه
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan
sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan
muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)
Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah
kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan
selamat di dunia dan akhirat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Ibadah haji bukan sekadar perjalanan jauh ke Tanah Suci,
tetapi juga perjalanan hati untuk mendekat kepada Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ.
Dalam ibadah ini, seseorang rela mengorbankan harta, tenaga, waktu, dan
kenyamanan demi menjalankan perintah-Nya. Karena itu, para jemaah haji disebut
sebagai tamu-tamu Allah (duyuuf ar-Rahmaan) dan dijanjikan ampunan dosa.
Harapan terbesar setiap Muslim tentu adalah meraih haji mabrur. Rasulullah ﷺ bersabda:
وَالْحَجُّ
الْمَبْرُوْرُ
لَيْسَ لَهُ
جَزَاءٌ
إِلاَّ
الْجَنَّةُ
”Haji mabrûr tidak lain pahalanya adalah surga” (HR al-Bukhari).
Haji mabrur hanya bisa diraih dengan niat yang ikhlas dan
ketaatan kepada Allah selama menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji.
Tujuannya harus mencari ridha Allah, bukan mencari gelar, pujian, atau sekadar
pamer kepada manusia. Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ berfirman:
وَاَتِمُّوا
الْحَجَّ
وَالْعُمْرَةَ
لِلّٰهِ
”Sempurnakanlah oleh kalian ibadah haji dan umrah semata-mata karena Allah” (QS. al-Baqarah
[2]: 196).
Karena itu, sangat rugi jika ibadah haji dicampuri riya
atau kepentingan duniawi. Dalam Hadits Qudsi, Allah berfirman:
أَنَا
أَغْنَى
الشُّرَكَاءِ
عَنِ
الشِّرْكِ،
مَنْ عَمِلَ
عَمَلاً
أَشْرَكَ
فِيْهِ
مَعِيْ غَيْرِيْ،
تَرَكْتُهُ
وَ شِرْكَهُ
”Aku adalah Tuhan Yang paling tidak membutuhkan sekutu dari segala bentuk
kesyirikan. Siapa saja yang mengerjakan suatu amal yang dicampuri dengan
perbuatan syirik kepada Diri-Ku, maka Aku tinggalkan dia bersama kesyirikannya” (HR. Muslim).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Terkadang kita melihat seseorang begitu khusyuk saat
berhaji, menangis di depan Ka’bah dan bersungguh-sungguh beribadah. Namun,
sepulang dari Tanah Suci, semangat taat itu perlahan hilang. Padahal haji
mabrur bukan hanya terlihat saat di Makkah, tetapi juga dari perubahan sikap
setelah kembali ke kehidupan sehari-hari.
Haji mabrur bukan hanya tentang khusyuk saat berada di
Tanah Suci, tetapi juga tentang ketaatan setelah pulang ke tanah air. Imam
Hasan al-Bashri berkata bahwa Haji mabrur ialah ketika pelakunya pulang dalam
keadaan zuhud terhadap dunia dan mencintai akhirat. Imam al-Ghazali juga
menjelaskan bahwa tanda haji mabrur ialah ia pulang dalam keadaan zuhud
terhadap dunia, mencintai akhirat dan bersiap bertemu Pemilik Ka‘bah setelah
berjumpa dengan Ka‘bah.
Karena itu, orang yang mendapat predikat haji mabrur
adalah mereka yang tetap taat kepada Allah, menjaga diri dari larangan-Nya, dan
menjalankan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ
أَطَاعَنِي
فَقَدْ
أَطَاعَ
اللَّهَ
وَمَنْ
عَصَانِي
فَقَدْ عَصَى
اللَّهَ
“Siapa saja yang mentaati aku berarti ia mentaati Allah. Siapa saja yang
membangkang kepada diriku berarti ia membangkang kepada Allah” (HR.
al-Bukhari).
Ibadah haji juga seharusnya menjadi momentum untuk
membangun semangat perjuangan umat. Saat berhaji, kaum Muslim bertemu saudara
seiman dari berbagai negara dan dapat melihat berbagai penderitaan umat Islam
di dunia. Dalam sejarah Indonesia, banyak tokoh yang pulang haji lalu menjadi
pelopor perjuangan melawan penjajahan, seperti KH. Wasyid, Haji Agus Salim, KH.
Ahmad Dahlan, dan KH. Hasyim Asy’ari. Bahkan pemerintah kolonial Belanda dahulu
sangat khawatir terhadap pengaruh para haji karena mereka dianggap membawa
semangat perjuangan Islam yang dapat melawan penjajahan.
Sayangnya, saat ini ibadah haji sering hanya dipahami
sebagai ritual semata tanpa menghadirkan perubahan sikap dan kepedulian
terhadap umat. Akibatnya, masih ada orang yang sudah berhaji tetapi tetap
berbuat zalim, korupsi, atau menjauh dari ajaran Islam. Karena itu Abdullah bin
Umar radhiyallahu ’anhu pernah berkata, “Memang banyak yang berangkat haji,
namun sedikit yang benar-benar berhaji.” Maksudnya, banyak orang
menjalankan ibadah haji, tetapi hanya sedikit yang benar-benar menjiwai makna
ketaatan dan perubahan diri setelahnya.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Ibadah haji sejatinya mengajarkan seorang Muslim untuk
tunduk dan taat sepenuhnya kepada Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ, bukan hanya
saat berada di Tanah Suci, tetapi juga dalam seluruh aspek kehidupan setelah
kembali ke tanah air.
Kalimat talbiyah yang terus dikumandangkan saat haji — ”Labbayk
Allaahumma labbayk, labbayka laa syariika laka labbayk, innal-hamda wan-ni‘mata
laka wal-mulk, laa syariika lak” — adalah bentuk jawaban atas panggilan
Allah sekaligus bukti ketundukan dan kepasrahan kepada-Nya. Seorang Muslim yang
memahami makna talbiyah akan berusaha menaati seluruh perintah Allah dan
menjauhi segala bentuk kesyirikan. Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ berfirman:
فَمَنْ
كَانَ
يَرْجُوْا
لِقَاۤءَ
رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ
عَمَلًا
صَالِحًا
وَّلَا يُشْرِكْ
بِعِبَادَةِ
رَبِّهٖٓ
اَحَدًا
”Siapa saja yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia
mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam
beribadah kepada Tuhannya” (QS. al-Kahfi
[24]: 110).
Karena itu, ketaatan kepada Allah tidak boleh hanya
dilakukan saat berhaji, tetapi harus terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari.
Jiwa yang benar-benar taat kepada Allah tentu tidak akan
tenang melihat ajaran Islam disingkirkan, sementara paham sekulerisme dan
liberalisme lebih diagungkan dalam kehidupan. Saat berhaji, kaum Muslim begitu
patuh menjalankan seluruh perintah Allah seperti ihram, thawaf, dan tahallul.
Karena itu, sepulang dari Tanah Suci mereka juga seharusnya tetap berani
menjaga ketaatan kepada Allah, membina keluarga agar taat kepada-Nya, serta
mengajak umat menjadikan syariah Islam sebagai pedoman hidup dan penjaga kemuliaan
umat Islam. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ،
وَتَقَبَّلَ
مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلَاوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ
الْعَظِيْمَ
لِيْ
وَلَكُمْ،
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ
عَلَى
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَامْتِنَانِهِ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلٰهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أنَّ
سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى رِضْوَانِهِ.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا
اللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا
نَهَى،
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَنَّى
بِمَلَائِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ، وَعَلَى
أَنْبِيَائِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلَائِكَتِكَ
الْمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَالتَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
الْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللّٰهُمَّ
أَعِزَّ
الْإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ مَنْ
نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
الْمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَأَعْلِ
كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ
بِهَا
الْإِسْلَامَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ
بِهَا
الْكُفْرَ
وَاَهْلَهُ،
وَاجْعَلْنَا
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
لِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ يَا
أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَالْبَلاَءَ
وَالْوَبَاءَ
وَالزَّلَازِلَ
وَالْمِحَنَ،
وَسُوْءَ
الْفِتَنِ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا
خَاصَّةً
وَسَائِرِ بُلْدَانِ
الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً يَا
رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِى الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالْإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشآءِ
وَالْمُنْكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
الْعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ.