Tawakal Kepada Allah SWT – Tausiyah Ramadhan #28

TAWAKAL KEPADA ALLAH SWT

Ada beberapa perkara yang berkaitan dengan tawakal kepada Allah, yaitu:

Pertama: Tawakal berkaitan dengan masalah akidah. Yaitu meyakini Sang Pencipta, yaitu Allah, yang dijadikan tempat bersandar oleh setiap muslim ketika mencari kemanfaatan dan menolak kemudharatan. Orang yang mengingkari perkara ini berarti dia kafir.

Kedua: Setiap hamba wajib bertawakal kepada Allah dalam segala urusannya. Tawakal ini termasuk aktivitas hati, sehingga jika seorang hamba mengucapkannya tapi tidak meyakini dengan hatinya, maka ia tidak dipandang sebagai orang yang bertawakal.

Ketiga: Jika seorang hamba mengingkari dalil-dalil wajibnya tawakal yang qath’i (pasti), maka ia telah menjadi orang kafir.

Keempat: Tawakal kepada Allah bukan mengambil hukum kausalitas ketika beramal (al-akhdzu bil asbab). Keduanya adalah dua masalah yang berbeda. Dalil-dalilnya pun berbeda. Buktinya Rasulullah saw. senantiasa bertawakal kepada Allah dan pada saat yang sama beliau beramal dengan berpegang pada hukum kausalitas. Beliau telah memerintahkan para sahabat agar melakukan kedua perkara tersebut, baik yang ada dalam Al-Quran atau Al-Hadits. Beliau telah menyiapkan kekuatan yang mampu dilakukan seperti menggali sumu-sumur pada saat perang Badar, menggali parit pada saat perang Khandak. Beliau pernah meminjam baju besi dari Sofwan untuk berperang. Beliau menyebarkan mata-mata, memutuskan air dari Khaibar, dan mencari informasi tentang kaum Quraisy ketika melakukan perjalanan untuk menakhlukkan Makah. Beliau masuk Makah dengan muncul di antara dua perisai. Beliau pun pernah mengangkat beberapa sahabat sebagai pengawal beliau sebelum turunnya Firman Allah:

وَاللهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ

Dan Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. (TQS. Al-Maidah [5]: 67)

Begitu pula aktivitas-aktivitas beliau lainnya ketika berada di Madinah setelah berdirinya Daulah. Adapun ketika di Makah, beliau telah memerintahkan para sahabat untuk hijrah ke Habsyah. Beliau menerima perlindungan dari pamannya, Abu Thalib. Beliau tinggal di Syi’ib (lembah) selama masa pemboikotan. Pada malam hijrah, beliau memeritahkan Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat tidur beliau. Beliau tidur di gua Tsur selama tiga hari. Beliau pun menyewa penunjuk jalan dari Bani Dail. Semua itu menunjukkan bahwa beliau telah melakukan amal sesuai kaidah kausalitas. Tapi pada saat yang sama beliau pun tidak menafikan tawakal. Karena tidak ada hubungan antara tawakal dengan menggunakan kaidah kausalitas ketika beramal. Mencampur-adukkan antara keduanya akan menjadikan tawakal hanya sekedar formalitas belaka yang tidak ada dampaknya dalam kehidupan.

Dalil-dalil tentang kewajiban bertawakal antara lain:

• Firman Allah:

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

(Yaitu) orang-orang (yang menta’ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (TQS. Ali ‘Imran [3]: 173)

 

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لاَ يَمُوتُ

Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati… (TQS. Al-Furqan [25]: 58)

 

وَعَلَى اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (TQS. At-Taubah [9]: 51)

 

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ 

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. (TQS. Ali ‘Imran [3]: 159)

 

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. (TQS. At-Thalaq [65]: 3)

 

فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ 

Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. (TQS. Hud [11]: 123)

 

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah, “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung”. (TQS. At Taubah [9]: 129)

 

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَإِنَّ اللهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Barangsiapa yang tawakal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (TQS. Al-Anfal [8]: 40)

Dan masih banyak ayat-ayat yang lainnya yang menunjukkan wajibnya bertawakal. 

• Dari Ibnu Abbas ra., dalam hadits yang menceritakan tujuh puluh ribu golongan yang akan masuk surga tanpa dihisab dan tanpa disiksa terlebih dahulu, Rasulullah saw. bersabda:

«هُمْ الَّذِينَ لاَ يَرْقُونَ وَلاَ يَسْتَرْقُونَ وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ»

Mereka adalah orang-orang yang tidak suka membaca jampi-jampi dan minta dijampi. Mereka tidak menyandarkan keuntungan dan kerugian kepada suatu perkara pun (tathayyur) dan meraka senantiasa bertawakal kepada Tuhan-nya. ( Mutafaq ‘alaih)

 

• Dari Ibnu Abbas ra., sesungguhnya Rasulullah saw. ketika bangun malam untuk bertahajjud suka membaca:

«…اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ…»

….Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, hanya kepada-Mu aku beriman, hanya kepada-Mu aku bertawakal. (Mutafaq ‘alaih).

 

• Dari Abu Bakar ra., ia berkata; ketika kami berdua sedang ada di gua Tsur, aku melihat kaki-kaki kaum Musyrik, dan mereka ada di atas kami. Aku berkata, “Wahai Rasululullah, jika salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, maka pasti ia akan melihat kita.” Kemudian Rasulullah bersabda:

«مَا ظَنُّكَ يَا أَبَا بَكْرٍ بِاثْنَيْنِ اللهُ ثَالِثُهُمَا»

Wahai Abu Bakar, apa dugaanmu terhadap dua orang manusia, sementara Allah adalah yang ketiganya (untuk melindunginya, penj.). (Mutafaq ‘alaih)

 

• Dari Ummi Salmah ra., sesungguhnya Nabi saw. ketika akan keluar dari rumah, beliau suka membaca:

«بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ…»

Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada Allah… (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits ini hasan shahih. Iman nawawi dalam riyadhussalihin berkata, Hadits ini shahih).

 

• Dari Anas bin Malik sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: 

Jika seseorang akan keluar dari rumahnya kemudian membaca:

بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ باِللهِ

(Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan kekuasaan Allah). Maka akan dikatakan kepadanya, “Cukup bagimu, engkau sungguh telah diberi kecukupan, engkau pasti akan diberi petunjuk dan engkau pasti dipelihara.” Kemudian ada dua syaitan yang bertemu dan berkata salah satunya kepada yang lain, “Bagaimana engkau bisa menggoda seorang manusia yang telah diberi kecukupan, dipelihara, dan diberi petunjuk.” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya. Ia berkata dalam Al-Mukhtarah, hadits ini telah ditakhrij oleh Abu Daud dan An-Nasai; Isnadnya shahih) 

 

• Dari Umar bin Khathab bahwa Rasulullah saw. bersabda:

«لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا»

Jika kamu benar-benar bertawakal kepada Allah, pasti Allah akan memeberikan rizki kepadamu, sebagimana Allah telah memberikan rizki kepada burung. Burung itu pergi dengan perut kosong dan kembali ke sarangnya dengan perut penuh makanan. (HR. Al-Hakim; Ia berkata, hadits ini shahih isnadnya, dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya, dan dishahihkan oleh oleh Al-Maqdisi dalam Al-Mukhtarah).